Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Kronologi Peristiwa 27 Juli 1996 ; Mengingat yang lupa …

Tabur Bunga Memperingati Peristiwa 27 Juli 1996

Tabur Bunga Memperingati Peristiwa 27 Juli 1996

Peringatan Peristiwa 27 Juli 1996 akan digelar di bekas Gedung Kantor Sekretariat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (27/7). Selain tabur bunga, acara juga akan diwarnai mimbar bebas untuk menyuarakan aspirasi para peserta aksi.

Ketua Penyelenggara Peringatan Peristiwa 27 Juli, Sandra Lestari, mengatakan, acara itu dibuat untuk mengenang kembali para korban peristiwa yang terjadi 13 tahun lalu. Kegiatan tersebut akan diikuti anggota forum komunikasi para korban dan keluarga korban yang datang dari berbagai daerah antara lain di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. (Liputan6 .com)

Berikut Kronologi Peristiwa 27 Juli 1996

Pukul 01.00
Di Markas PDI ada sekitar 300 orang yang berjaga — suatu kebiasaan yang mereka lakukan sejak Kongres Medan lalu. Di luar pagar, ada sekitar 50 orang. Satgas dan simpatisan Mega mulai terlelap dan sebagian ada yang main catur di pinggir pelataran kantor dan juga di Jalan Diponegoro dengan beralaskan terpal.

Pukul 03.00
Para pendukung Mega mulai mencium sesuatu bakal terjadi, setelah patroli mobil polisi berkali-kali melintas. Sebagian dari mereka mencoba memantau keadaan dari jembatan kereta api Cikini.

Pukul 05.00
Serombongan pasukan berbaju merah — kaus PDI — bergerak menuju Diponegoro 58. Konon mereka diangkut dengan delapan truk.

Pukul 06.15
Pasukan berkaus merah tadi akhirnya sampai di depan Kantor PDI dan kedatangan mereka disambut para pendukung Mega dengan lemparan batu. Pasukan merah tadi pun membalas dengan batu dan lontaran api. Maka, spanduk yang menutupi hampir semua bagian depan Kantor PDI terbakar ludes. Bentrok fisik pun tak terhindarkan. Sebuah sumber mengatakan ada empat orang tewas, tapi angka ini belum dikonfirmasi.

Semua jalan menuju ke arah Diponegoro sudah diblokir oleh kesatuan polisi. Perempatan Matraman menuju ke Jalan Proklamasi ditutup dengan seng-seng Dinas Pekerjaan Umum yang sedang dipakai dalam pembangunan jembatan layang Pramuka-Jalan Tambak.

Massa sudah berkumpul di depan Bank BII Megaria. Sedang di samping pos polisi sudah nongkrong dua mobil anti huru-hara dan empat mobil pemadam kebakaran persis di depan DPP PDI. Polisi anti huru-hara terlihat ketat di belakang mobil anti huru-hara dan di depan Kantor PDI.

Pukul 09.15
Di samping Kantor PDI (dan PPP) terlihat massa — yang tampaknya bukan dari PDI — sedang baku lempar batu dengan ABRI yang bertameng dan bersenjatakan pentungan. Jerit dan teriak terdengar. Massa terus melempar pasukan dengan batu. Salah seorang massa yang ikut aksi lempar batu, ketika ditanya apa mereka pendukung Megawati, spontan menjawab, “Kami semua di sini rakyat”.

Pukul 09. 24
Massa di belakang Gedung SMP 8 dan 9, di samping Kantor PDI dan PPP, mulai terdesak mundur ketika ada bantuan pasukan yang tadinya hanya berjaga-jaga di bawah jembatan kereta api. Mereka dipukul mundur sampai di belakang Gedung Proklamasi. Tiga wartawan foto mulai membidik massa yang lari tunggang langgang, Sedang salah seorang wartawan foto mendekati pasukan loreng dan berusaha mengambil gambar. Tiba-tiba seorang wartawan foto — yang belakangan diketahui bernama Sukma dari majalah mingguan Ummat — terlihat dipukuli pasukan loreng dan diseret bajunya (Lihat berita KOMPAS, 29 Juli 1996, Red). Dari sana Sukma — dengan menarik bajunya — dibawa ke belakang Gedung SMP 8 dan 9 Jakarta, tempat pasukan loreng berkumpul yang berjarak 300 meter dari tempat pertama pemukulan.

Pukul 09. 35
Massa di depan Megaria yang diblokade pasukan polisi anti huru-hara, melempar batu ketika mobil ambulans dari Sub Dinas Kebakaran Jakarta yang meluncur dari kantor DPP PDI mencoba menerobos kerumanan massa dan polisi di depan Bank BII di pertigaan Megaria. Massa yang berada di depan gedung bioskop Megaria dan Bank BII, berteriak-teriak dan bernyanyi, “Mega pasti menang, pasti menang, pasti menang”.

Pukul 09. 45
Wartawan dalam dan luar negeri, yang sedari pagi berkumpul di depan pos polisi, mulai dihalau oleh pasukan anti huru-hara menuju kerumunan massa di depan Bank BII.

Saat itu juga terlihat kepulan asap hitam membubung dari DPP PDI. Salah seorang satgas PDI pro Mega mengatakan bahwa sebagian Kantor PDI sempat dibakar dan arsip-arsip di dalam kantor sudah dimusnahkan. Korban tewas dari PDI pro Megawati yang berada di DPP diperkirakan empat orang. Sekitar 300 orang luka parah, 50 orang diantaranya dari cabang-cabang Jawa Timur yang tengah berjaga-jaga di Kantor PDI.

Jalan Diponegoro di depan DPP PDI mulai dibersihkan dari batu-batu dan bekas kebakaran. Seonggok bangkai mobil dan motor yang terbakar juga disiram dan berada persis di depan pintu masuk Kantor PDI.

Pukul 11. 30
Ribuan massa terus bertambah dan terpisah letaknya di tiga tempat. Yaitu di depan Bioskop Megaria, di depan BII, serta di depan Telkom, persis di depan jalan tempat Proyek Apartemen Menteng. Mereka menjadi satu kerumunan besar di pos polisi di bawah jembatan kereta api layang. Belum lagi massa dari arah Selatan di bawah jembatan layang kereta api yang sebelumnya dipukul mundur, sudah mulai bergerak maju dan menjadi satu kembali dengan massa besar tadi.

Mimbar bebas pun digelar. Helikopter polisi terus memantau massa yang mulai mengadakan mimbar bebas. Dipandu aktivis pemuda, mimbar bebas menjadi ajang umpatan pada aparat keamanan, dan sanjungan untuk Mega. “Mega pasti menang, pasti menang, pasti menang…..,” terus terdengar. Massa yang masih di dalam pagar lintasan kereta api mulai merobohkan pagar besi, lantas menyatu dengan massa peserta mimbar bebas.

Pukul 11. 40
Massa yang berada di dalam pagar lintasan kereta api mulai melempar batu ke arah aparat yang sudah berjaga-jaga di depan SMP 8 dan 9 Jakarta. Terdengar dari kejauhan massa di mimbar bebas terus berteriak mengecam aparat berseragam loreng. Batu-batu yang beterbangan membuat wartawan berlindung di belakang blokade polisi dan sebagian lagi menyelamatkan diri dengan berlindung di mobil anti huru-hara.

Pihak kepolisian Jakarta Pusat berusaha menenangkan massa yang melempari pasukan dari Yon Kavaleri VII dan Yon Armed 7 Jayakarta. Massa yang terus bergerak membuat pasukan berseragam loreng bertahan di sekitar Jalan Pegangsaan Timur.

Di depan pos polisi, massa yang terus bertambah jumlahnya memenuhi pentas mimbar bebas. Massa di depan bioskop Metropole Megaria merobohkan pagar besi pembatas jalan dan bergabung menyaksikan mimbar bebas. Salah seorang tampak berdiri di tengah lingkaran massa dengan membawa tongkat berbendera Merah Putih yang dikibarkan setengah tinggi tongkat. Dia berteriak, “Kita di sini menjadi saksi sejarah. Kawan-kawan kita mati di dalam Kantor PDI. Kita harus menunggu komando langsung dari Ibu Mega,” teriaknya lantang. Yang lain menyanyikan, “Satu komando….. satu tindakan.” Kemudian ada doa bersama untuk mereka yang tewas.

Pukul 12. 40
Pihak keamanan meminta utusan mimbar bebas untuk bersama-sama pihak keamanan masuk melihat situasi di dalam Kantor PDI. Lima orang akhirnya dipilih, sementara mimbar bebas terus berjalan.

Pukul 12. 45
Bantuan polisi dari satuan Sabhara Polda Metro Jaya mulai berdatangan memenuhi jalan depan Kantor PDI. Sedang lima orang utusan di bawah pimpinan Drs. Abdurrahman Saleh, bekas pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, masuk ke dalam kantor DPP yang porak poranda. Sekitar lima menit berada di dalam Kantor PDI, lima utusan tadi ke luar. Salah seorang wakil utusan, ketika ditanya TEMPO Interaktif tentang bagaimana kondisi di dalam kantor DPP, mengatakan, “Di dalam tidak ada apa-apa; darah berceceran di semua ruangan.” Orang ini bercerita sambil menahan tangis; matanya sarat air mata, sambil membawa jaket merah PDI bernama dada Nico Daryanto, mantan Sekretaris Jenderal PDI, dan satu spanduk merah.

Kelima utusan tersebut didaulat naik ke atas mobil anti huru-hara untuk melaporkan keadaan di dalam gedung. Baru beberapa kata terucap dari utusan tadi, sebuah batu melayang entah darimana dan mengenai tangan seorang utusan yang berdiri di atas mobil anti huru-hara. Akhirnya, laporan keadaan Kantor PDI berhenti sampai di situ.

Pukul 13. 52
Pengacara Megawati, RO Tambunan, berpidato di depan Kantor PDI. Dia mengatakan, “Kita menduduki Kantor DPP karena Megawati adalah pimpinan yang syah. Negara ini adalah negara hukum, jadi tunggu proses hukum selesai,” katanya keras. Yang dimaksud Tambunan adalah proses hukum berupa tuntutan Megawati ke alamat Soerjadi dan sejumlah pejabat pemerintah di pengadilan yang sampai kini masih disidangkan, sehingga status Kantor PDI belum diputuskan.

Menurut RO Tambunan, Kapolres Jakarta Pusat sudah berjanji tidak seorang pun diperkenankan masuk, termasuk kubu Soerjadi. Barang-barang tak satu pun boleh keluar dari dalam kantor; pihak pengacara akan mendaftar barang-barang DPP. “Ini negara hukum, kita harus turuti perintah hukum,” ujar Tambunan.

Pukul 14. 05
Soetardjo Soerjogoeritno, salah satu pimpinan DPP PDI yang pro Megawati, tiba-tiba terlihat berjalan mendekati Kantor PDI. Sesaat kemudian Soerjogoeritno bicara dengan Kapolres Jakarta Pusat soal status Kantor PDI.

Massa yang mencoba mendekati Soerjogoeritno dihalau anggota Brimob yang bersiaga dengan anjing pelacak. Tapi, melihat ribuan orang, dua anjing herder itu tak berani bergerak mengejar massa. Massa makin berani. “Kami ini manusia, kok dikasih anjing,” kata seseorang marah. Siang itu pula setumpuk koran Terbit yang memberitakan Kantor DPP PDI Diserbu, ramai-ramai dirobek-robek.

Pukul 14. 29
Hujan batu terjadi. Massa yang di berada depan pos polisi melempari barikade polisi anti huru-hara. Satuan anti kerusuhan itu terpaksa mundur dan berlindung dari hujan batu. Mobil anti huru-hara yang tetap nongkrong di bawah jembatan layang dilempari batu bertubi-tubi. Dua lapis barisan polisi dan tentara bergerak maju. Dengan tameng dan tongkat mereka merangsek maju menghalau massa. Maka, ribuan orang itu beringsut mundur ke arah Salemba.

Ada sekitar seratus orang yang berlindung di dalam gedung Kedutaan Besar Palestina, persis di depan Kantor PDI. Di samping Kantor PDI, di Kantor PPP, terlihat puluhan wartawan berkumpul. Sementara itu, polisi dan tentara mengejar massa sampai di depan Rumah Sakit Cipto (RSCM). Beberapa orang terlihat dipentung dengan rotan. Seorang siswa STM 1 Jakarta, menangis di depan bioskop Megaria — lengannya patah ketika menangkis pukulan dan pentungan petugas. Di depan Megaria itu suasananya gaduh, ambulans meraung-raung terus menerus. Korban-korban yang bocor kepalanya dan luka-luka diseret ke depan Kantor PDI dan menjadi bidikan foto wartawan.

Pukul 15. 00
Enam buah panser mulai berdatangan di depan pos polisi Megaria. Persis di depan Rumah Sakit Cipto (RSCM), sebuah bus tingkat dibakar massa. Tak jauh dari bus yang terbakar, satu lagi bus PPD nomor trayek 40, disiram bensin dan dibakar dengan sebuah korek api. Terbakarlah bus jurusan Kampung Rambutan-Kota itu.

Pukul 15. 37
Persis di depan Fakultas Kedokteran UI Salemba, sebuah bus Patas PPD nomor trayek 2, habis terbakar. Ribuan massa mulai mencabuti rambu-rambu lalu lintas dan menghancurkan lampu lalu-lintas di pertigaan Salemba. Asrama Kowad — yaitu gedung Persit Kartika Candra Kirana — merupakan gedung pertama yang diamuk massa. Pertama-tama dengan lemparan batu dari luar, kemudian massa masuk ke halaman, dan membakar gedung tersebut. Sebuah kendaraan jip yang diparkir di halaman dibakar massa, menimbulkan api yang besar.

Wisma Honda yang terletak di sebelah Barat gedung Persit, tak luput dari lemparan batu. Tapi, beberapa jam kemudian, gedung Honda itu pun habis dilalap si jago merah. Massa kemudian bergerak ke arah Selatan dan membakar Gedung Departemen Pertanian yang berlantai delapan. Sebuah sedan Mercy juga dibakar habis.

Pukul 15. 55
Massa terus bergerak ke arah Matraman. Maka, beberapa gedung pun jadi korban amukan api yang disulut massa. Pertama-tama gedung Bank Swansarindo Internasional. Api yang berasal dari karpet lantai dan korden jendela kaca itu dengan cepat merambat ke atas gedung berlantai lima ini. Show room Auto 2000 yang berada disebelahnya juga tidak luput dari amukan massa dan dibakar beserta mobil yang dipamerkan di dalamnya. Selanjutnya Bank Mayapada juga dibakar massa.

Ribuan massa terus bergerak ke arah Matraman. Dengan tembakan ke udara, massa mulai tercerai-berai. Sebagian ke arah Pramuka, sebagian lagi ke arah Proyek Perdagangan Senen. Sebelumnya, seorang polisi kelihatan memegangi kepalanya yang bocor kena lemparan batu. Dia berkata kepada seorang rekannya yang berseragam loreng, “Bapak yang bawa senjata ke depan saja Pak.”

Pukul 16. 19
Massa rupanya melempari Bank BHS di Jalan Matraman. Kelihatan api mulai menyala di samping gedung BHS, tetapi tidak sampai menyentuh gedung bank itu karena sepasukan tentara berbaret hitam dengan tronton pengangkut pasukan segera tiba.

Sedangkan jalan Salemba Raya terlihat gelap. Asap hitam tebal dari gedung Bank Mayapada dan Auto 2000 membubung ke udara. Massa yang bergerak ke arah Salemba inilah yang kemudian membakar gedung Darmex, Gedung Telkom, terus sampai ke arah Senen. Namun mereka dihalau panser tentara dan gagal mencapai Senen.

Pukul 16. 33
Tiga panser didatangkan ke perempatan Matraman. Panser ini berhasil membubarkan massa yang merusak semua rambu-rambu lalu lintas.

Pukul 19.00
Massa di Jalan Proklamasi mulai berkerumun. Tak lama kemudian mereka membakar toko Circle K, Studio SS Foto, dan beberapa bangunan lagi. Aksi dikabarkan berlangsung sampai pukul 01.00 dinihari.

(mis/Sumber: TEMPO Interaktif, edisi 23/01 – 10/Agustus/1996)

Meski 13 tahun sudah berlalu peristiwa ini ternyata masih menyisakan kepedihan bagi para korban. Selain beban psikologis umumnya mereka mengalami trauma karena sempat mengalami kekerasan fisik dari aparat atau pihak lawan. Karena itu mereka menyesalkan ketidakseriusan pemerintah mengusut tuntas kasus tersebut.

About these ads

15 comments on “Kronologi Peristiwa 27 Juli 1996 ; Mengingat yang lupa …

  1. Saka
    Juli 27, 2009

    pertamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxxxxxxxxxx :lol:

    • Saka
      Juli 27, 2009

      yes yes yes… nu boga imah kacolongan :mrgreen:

      • Saka
        Juli 27, 2009

        jadi kesimpulana naon kang? geuning kaos beureum jeung kaos beureum silih lempar batu..?!!!

        ————–
        Kopral Cepot : Kesimpulannya … lupa lupa lupa lupa lagi kaosnya … ingat ingat ingat cuman ingat beureumnya (merah=marah) :D

      • kopral cepot
        Juli 27, 2009

        gening geus aya komeng deui …. teu kaharti Kang Saka bisa ngabongohan :lol:

  2. tforce2009
    Juli 27, 2009

    Buktikan IndonesiaMu
    aio dukung Pulau Komodo sebagai new7wonders
    klik disini

  3. dasir
    Juli 27, 2009

    Ngeri banget kang..aku msh sd waktu itu jd g mau ngikutin berita yg serem2
    Ayo dukung P.Komodo jd new 7 wonders!!

  4. itempoeti
    Juli 27, 2009

    salah satu lagi kebiadaban Soeharto dan rezim Orde Baru…

  5. itempoeti
    Juli 27, 2009

    salah satu lagi bukti kebiadaban Soeharto dan rezim Orde Baru…

  6. Odol Gigi
    Juli 27, 2009

    Wah, jadi guru sejarah di skolahku mo gag? Soalny kopral cepot pinter bngt seh…

  7. Ping-balik: Peringatan dari Wiji Thukul | Update Blog Terbaru

  8. Mulyana
    Agustus 1, 2009

    Terima kasih, mengingatkan saya pada kenangan kelam masa silam, waktu itu saya terlibat kerusuhan…-maklum, darah muda begitu menggelegak, saya beserta kira2 100 orang dari jawa tengah (saya sma di pemalang, jateng) bermaksud memberi dukungan pada megawati.

    Yah, kini itu jadi sejarah! Dan megawati ternyata tak seperti apa yang diidealkan saya waktu itu,

    ——————
    Kopral Cepot : Waah Kang Mulyana ternyata saksi sejarah … saluuuut ..

  9. Non Roti
    Agustus 13, 2009

    Sedih banget sama tragedi kemanusiaan ini. Saya sendiripun baru tahu waktu tanggal 27 Juli 2009 yang lalu melalui tayangan Metro TV (maklum tahun 1998 saya masih berumur 9 tahun). Di sana ada korban-korban yang selamat. Saya sampai menangis menonton acara itu. Saya berharap kasusnya bisa tertuntaskan dan mencapai hasil akhir yang memuaskan pihak korban.

  10. yudha mulya utama
    Desember 5, 2009

    menyedihkan mengingat PDI perjuangan yg dulu pro mega yg ditimpa..di injak oleh pasukan ORBA kala itu.
    smp skrg tidak ada keadilan.penyelesaian yg baik.
    semoga darah ini menjadi saksi kebiadaban ORBA yg tak th malu.

  11. Hasprabu
    Juli 27, 2013

    ini waktoe kita orang diingetken akan kedjadian daripada sedjarah 27 Djoeli 1996. Semoga kaoem moeda tiadalah tiroe akan hal jang boeroek itoe.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: