Peringatan dari Wiji Thukul

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/di sana bersemayam kemerdekaan/apabila engkau memaksa diam/aku siapkan untukmu: pemberontakan! >>(Wiji Thukul)

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Wiji Thukul


Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Wiji Thukul

About these ads

23 pemikiran pada “Peringatan dari Wiji Thukul

  1. Ulasan Daniel Dhakhedai dalam “Cendekiawan dan Kekuasaan” mengenai puisi “Bunga dan Tembok” ini sangat bagus. Saya kira, Wiji pun tak mengira, Daniel mampu mengulas puisinya sedalam itu. :)

  2. Assalaamu ‘alaikum wr.wb

    Tidak bermaksud su’udhzan, hanya melihat fenomena yang ada
    apa yang ditulis wiji thukul dalam “peringatan”, saat ini memang ada indikasi kearah sana dimana saaat ini sering kita saksikan tatkala penguasa berpidato rakyatnya malah pergi entah kemana, atau memang rakyatnya mendengarkan pidato tapi tak ada satupun omongan penguasa yang diikutinya. Atau masih ingat gak ketika sang penguasa menegur salah seorang kepala daerah yang mengantuk dan memaksanya harus mendengarkan isi pidatonya ?
    Dan tentunya masih banyak lagi…

    Maaf Jenderal (kang cepot sudah saya nobatkan sebagi jenderal, masih Ingat ?)
    Sekali lagi maaf jenderal… saya tidak akan mengungkap fakta semuanya
    karena kalau saya ungkap nanti dituduh subversif :shock:

    ———–
    Kopral Cepot : Pokonamah buat pak Guru … hidup persib :lol:

  3. Membaca kisah Widji Thukul membuat saya sedih sekaligus bangga.
    Orang besar sekaligus dikecilkan.
    Sampai saat ini, apakah keluarga Widji Thukul mendapat perhatian yang layak?
    Semoga petuah-petuah dari Widji Thukul (??), Alm. Pramoedya, Alm. WS Rendra, dapat mengalir dan ‘diterima’ baik oleh generasi saat ini dan mendatang.

  4. Jangan tanyakan mengapa seseorang membencimu sebelum kamu tanyakan dirimu sendiri mengapa kamu peduli akan hal itu.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s