Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Peringatan dari Wiji Thukul

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/di sana bersemayam kemerdekaan/apabila engkau memaksa diam/aku siapkan untukmu: pemberontakan! >>(Wiji Thukul)

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Wiji Thukul


Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Wiji Thukul

About these ads

22 comments on “Peringatan dari Wiji Thukul

  1. itempoeti
    Juli 27, 2009

    ada satu puisi Wiji Thukul yang kemudian dijadikan lagu oleh kawan2 gerakan. kalau gak salah judulnya “Darah Juang”…

  2. itempoeti
    Juli 27, 2009

    horeeee pertamaaaaaxxx sekaligus keduuuuaaaaxxx…. :D

    • KangBoed
      Juli 27, 2009

      kacugaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxxxxxxxxzzzzzzzzzzz

  3. KangBoed
    Juli 27, 2009

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk sahabatku

  4. BaNi MusTajaB
    Juli 27, 2009

    Wiji Thukul….dimanakah kau berada? Semoga Tuhan senantiasa memberimu naungan yang indah.

  5. nirwan
    Juli 27, 2009

    Ulasan Daniel Dhakhedai dalam “Cendekiawan dan Kekuasaan” mengenai puisi “Bunga dan Tembok” ini sangat bagus. Saya kira, Wiji pun tak mengira, Daniel mampu mengulas puisinya sedalam itu. :)

  6. Odol Gigi
    Juli 27, 2009

    Wiji tukul sopo toh mas?

    • haniifa
      Juli 29, 2009

      Yang jelas beliau suka gosok gigi, bung.. :mrgreen:

      #Auto respond#

  7. alamendah
    Juli 27, 2009

    maaf,

    mau nitip pesen buat semuanya; ikutan vote di sini: Jadikan Pulau Komodo Sebagai 7 Keajaiban Dunia Jangan sampai kita kehilangan ‘Borobudur’ lagi! (he.. he..)

  8. Bisnis Online
    Juli 28, 2009

    kapan negeri ini bisa damai yach ?

  9. dasir
    Juli 28, 2009

    Salam sohib,trmksh atas kunjungannya kang..nuhun kalo telat..

  10. Ping-balik: Peringatan dari Wiji Thukul | Update Blog Terbaru

  11. masblankon
    Juli 28, 2009

    Wiji Thukul … wongdeso … ideologi kuto
    Thukul Arwana … wongdeso … rezeki kuto :P

    • haniifa
      Juli 29, 2009

      sampean wong kuto… tapi mirip buto :mrgreen:

      #auto respond#

  12. abifasya
    Juli 28, 2009

    Assalaamu ‘alaikum wr.wb

    Tidak bermaksud su’udhzan, hanya melihat fenomena yang ada
    apa yang ditulis wiji thukul dalam “peringatan”, saat ini memang ada indikasi kearah sana dimana saaat ini sering kita saksikan tatkala penguasa berpidato rakyatnya malah pergi entah kemana, atau memang rakyatnya mendengarkan pidato tapi tak ada satupun omongan penguasa yang diikutinya. Atau masih ingat gak ketika sang penguasa menegur salah seorang kepala daerah yang mengantuk dan memaksanya harus mendengarkan isi pidatonya ?
    Dan tentunya masih banyak lagi…

    Maaf Jenderal (kang cepot sudah saya nobatkan sebagi jenderal, masih Ingat ?)
    Sekali lagi maaf jenderal… saya tidak akan mengungkap fakta semuanya
    karena kalau saya ungkap nanti dituduh subversif :shock:

    ———–
    Kopral Cepot : Pokonamah buat pak Guru … hidup persib :lol:

  13. celotehanakbangsa
    Juli 29, 2009

    Semoga semangat dan ideologis wiji thukul takkan pernah padam di Hati dan hidup Juragan Kopral..

    Salam Anak Bangsa..
    Salam Perubahan..

  14. haniifa
    Juli 29, 2009

    Mantafs…
    Wilu jeung Enjing nuju siang @kang Kopral Cepot

  15. nusantaraku
    Agustus 7, 2009

    Membaca kisah Widji Thukul membuat saya sedih sekaligus bangga.
    Orang besar sekaligus dikecilkan.
    Sampai saat ini, apakah keluarga Widji Thukul mendapat perhatian yang layak?
    Semoga petuah-petuah dari Widji Thukul (??), Alm. Pramoedya, Alm. WS Rendra, dapat mengalir dan ‘diterima’ baik oleh generasi saat ini dan mendatang.

  16. Kom
    Desember 29, 2009

    Beliau tdk pernah padam dihati saya

  17. Ping-balik: Cukup satu kata : L A W A N « Biar sejarah yang bicara ……..

  18. Haerul
    Oktober 6, 2010

    Hidup Rakyat…………………
    ajari penguasa dengan perlawanan

  19. Ahmad Zayyinul Khasan
    Mei 9, 2014

    “Bicararalah karena diam adalah suatu bentuk kejahatan yang nyata

    Salam Perjuangan,,,,,,!!!!!!!”.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: