“…tegas terhadap kaum penyangkal Tuhan tapi saling kasih-mengasihi di antara sesamanya. Kamu lihat mereka membungkuk dan bersujud demi mendapatkan ridha Allah. … (Orang-orang seperti ini) bagaikan benih, yang menumbuhsuburkan cecabang dan rerantingnya, lalu menjadikannya kukuh, membesar, berdiri tegak atas batangnya, sehingga menggembirakan penanamnya….“- al-fath : 29

Di zamannya, bentuk masjid itu tak lazim. Atapnya datar, tanpa kubah, tanpa mahkota. Tiga bagian dindingnya hanya sekat kayu yang tinggi dan dapat dibuka lebar. Keadaan itu membuat suasana masjid jadi teduh. Apalagi malam, ketika lampu yang posisinya diatur begitu rupa untuk memberi efek cahaya tertentu, menyala temaram. Hanya di tempat imam lampu disengaja menyorot keras. Demikian sederhana, dan hening.

Masjid itu bernama Salman  dibangun 1963. Arsiteknya Ir. Ahmad Noe’man. Tapi siapa sangka bila kemudian hari masjid itu berperan pada perkembangan Islam di Indonesia — setidaknya mendorong bangkitnya semangat keislaman di kampus dan kalangan anak muda dalam periode 1980-an . Ya, Noe’man dan para pendiri yang lain waktu itu baru cuma bikin masjid di lingkungan yang disebut “sekuler” itu. Tapi di Institut Teknologi Bandung (ITB) ada  Prof. Ahmad Sadali, kakak Noe’man, Prof. T.M. Soelaeman, Dr. Ir. Imaduddin Abdul Rahiem, Ir. A.M. Luthfi, dan sejumlah nama lainnya.

Peran Salman mencuat di tangan kombinasi Sadali yang kalem dan Imaduddin yang berapi-api. Rektor ITB Prof. Doddy Tisnaamidjaja waktu itu sangat menyokong Salman. Ia sesekali jadi khatib di sana. Namun, yang membuat banyak menarik minat kalangan muda ke Salman adalah Bang Imad begitu Imaduddin akrab dipanggil.

Tahun 1974, Bang Imad melontarkan arena Latihan Mujahid Dakwah (LMD). Sekitar 50 mahasiswa digembleng di Ruang Serba Guna. Mereka diharapkan sebagai kader dakwah yang tangguh. LMD segera jadi api bangkitnya semangat keislaman di kampus-kampus. Yang lolos seleksi itu (dari IQ sampai motivasi) lalu masuk base camp di masjid. Selama tujuh hari suntuk, mereka tak berhubungan dengan dunia luar. Membaca koran bahkan tidak. Peserta diajak mengkhitmati Quran, Surah Al-Fath (ayat 27-29) yang mengisyaratkan titik balik kemenangan dakwah Islam melalui Perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dan kaum jahiliyah Quraisy di tahun ke-6 Hijri.

Peserta lalu disuruh menyantap habis berbagai materi, di antaranya sumber nilai Islam, Quran dan Sunnah, Nilai Dasar Islam, nilai-nilai dasar perjuangan yang milik HMI, Himpunan Mahasiswa Islam. Hasilnya segera tampak. Mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa berdatangan ke Salman. Alumni LMD mulai meramaikan Islam di kampus masing-masing. Ini terjadi pada tahun 1976-1977.

Di IPB, Badan Kerohanian Islam (BKI) bangkit, walau belum punya masjid. Di Jakarta, Masjid Arief Rahman Hakim (ARH) jadi basis kegiatan keislaman mahasiswa UI — walau kemudian memunculkan Fahmi Basya yang membuat tafsir Quran One Million Fenomena. Kondisi serupa merebak di UGM Yogya, pada Jamaah Salahuddin. Semangat keislaman itu melebar pula ke ITS dan Unair, yang hampir seluruhnya lewat anggota HMI.

Sejak 1978 masjid-masjid kampus tumbuh menjamur, bahkan tak sepi dari jemaah. Kegiatan serta halaqah, pengkajian Islam, berjalan lancar. Sekitar tahun itulah Islam, yang tanpa berkait pada organisasi ekstra misalnya HMI, mulai diterima di tengah mahasiswa. Sedang masjid di luar kampus juga dijubeli kalangad muda.

Gelombang baru ini juga ditandai dengan ramainya penerbitan buku agama. Kehadiran Pustaka Salman, Mizan, dan puluhan penerbit lain, memberi napas baru pada penerbitan buku-buku agama yang selama ini dikuasai PT Bulan Bintang, Al-Ma’arif, atau Bina Ilmu. Tiba-tiba saja pasar buku Indonesia dipenuhi terjemahan karya Maududi, Maryam Jameelah, Sayyid Quthub, Yusuf Qardhawi, Ali Syariati, Muthahhari, Zianuddin Sardar, serta banyak buku tasawuf.

Sejumlah fenomena itu agaknya menjadi bukti terhadap keislaman yang berbeda warna dengan sebelumnya. Keislaman kaum muda kali itu bukan seperti yang dianut kaum tradisionalis yang hanya mengharuskan umatnya salat, puasa, mengaji, patuh pada kiai. Keislaman telah membuat mereka, sebagai pemeluknya, bangga.

Tak bisa dipungkiri geliat dakwah di kampus di awal tahun 1980-an tidak terlepas dari peran andil yang besar dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) . DDII memiliki agenda khusus untuk melakukan pembinaan masjid kampus di seluruh Indonesia. Masjid kampus diyakini sebagai wadah komunitas mahasiswa Islam yang dapat memadukan antara sains modern dengan nilai-nilai Islam. Pada tahun 1974 DDII meluncurkan program yang disebut dengan Bina Masjid Kampus, yang dirintis dengan mengkader penggerak dakwah oleh PHI (Panitia Haji Indonesia) dengan instrukturnya antara lain : M. Natsir, K.H. E.Z. Muttaqien, Dr. Rasyidi, Osman Raliby, Zainal Abidin Ahmad dll. Alumni PHI yang pertama diantaranya Bang Imad, A.M.Lutfi, Endang Saefudin Anshari, Ahmad Noe’man dll. Dari alumni PHI pertama selanjutnya menyelenggarakan kegiatan training yang sama di masjid kampus seluruh Indonesia.

Sosok Bang Imad

Bang Imad! Nama lengkapnya adalah Muhammad Imaduddin Abdulrahim. Ia lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, pada 21 April 1931/ 3 Zulhijjah 1349H. Ayahnya, Haji Abdulrahim, adalah seorang ulama yang juga tokohMasyumi di Sumatera Utara. Sedangkan ibunya, Syaifiatul Akmal, seorang wanita yang merupakan cucu dari sekretaris Sultan Langkat.

“Pak Ahmad Sadali boleh berwibawa dan santun, demikian juga Pak Ahmad Noe’man. Pak Endang Syaifuddin memang putra almarhum Syaifuddin Anshari yang terkenal, Pak Rusyad Nurdin amat kebapakan, dan Pak Miftah Farid adalah dai muda yang witty. Ada juga Bang Armahedi Mahzar, Bang Aldy Anwar, dan Bang Ammar Haryono (penggagas dan pendiri Penerbit Pustaka Salman), yang memiliki pemikiran-pemikiran filosofis yang tidak biasa. Tapi yang menonjol di antara semua itu adalah kejujuran, ketegasan, keberanian, dan kecerdasan dosen jurusan elektro asal Medan ini” kenang Haidar Bagir Direktur Utama Penerbit Mizan/aktif di Masjid Salman pada 1976-1981.

Bang Imad dibesarkan dalam tradisi pendidikan Islam yang kuat. Sejak kecil ayahnya sendiri yang langsung mengajarnya al-Qur’an, berupa tajwid dan tafsir setiap usai shalat subuh.Dalam mengkaji al-Qur’an, ayahnya sering menyelipkan berbagai cerita tentang tokoh-tokoh besar Islam. Cara itu sangat membekas dalam diri Bang Imad, sehingga membentuk semangat perjuangan Islam. Ayahnya juga menyediakan banyak buku dan majalah keislaman di rumah sebagai sumber bacaan baginya. Sementara ibunya berulang-ulang mengingatkan, “Imaduddin” itu berarti ‘penegak tiang agama’. Ia mengingatkan, agar anaknya selalu menegakkan shalat.

Didikan kuat sejak kecil, berbekas dalam diri Imaduddin, sehingga tidaklah mengherankan, sedari muda Imaduddin telah memiliki ghirah keislaman yang menyala-nyala. Semangat ini kemudian membawanya berkecimpung dalam berbagai kegiatan dakwah dan perjuangan Islam.

Meskipun aktif dalam kegiatan Islam sejak muda, Imaduddin tidak meneruskan pendidikannya dalam bidang ilmu-ilmu keislaman. Ia justru memilih kuliahTeknik Elektro di ITB. Pilihan ini didukung oleh ketekunan dan kecerdasannya semasa di bangku sekolah.Sejak HIS hingga SMA ia selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya. Demikianlah yang diajarkan ayahnya untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqulkhairat).

Program yang paling dikenal oleh para mahasiswa di seluruh Indonesia yang tak bisa dilepaskan dari kiprah Bang Imad adalah LMD (Latihan Mujahid Dakwah), sebuah pelatihan keisalaman yang dilaksanakan selama 3-5 hari yang bermula di laksanakan di Masjid Salman ITB selanjutnya menyebar ke setiap kampus di Indonesia. LMD bertujuan untuk mencetak kader-kader yang siap terjun dalam dakwah yang saat itu dikenal dengan “Islamisasi Kampus”.

Dr.Ir. Hermawan K.Dipojopo.M.Sc.EE (Ketua Umum Badan Pelaksana Yayasan SALMAN) mengungkapkan pengalamannya masa mahasiswa ketika mengikuti LMD ketiga yang sebagian besar ditangani oleh Bang ‘Imad beserta Drs. Miftah Faridl (sekarang K.H. Dr. Miftah Faridl) : “ Hari pertama, yaitu acara pembukaan, saya terhenyak dengan pernyataan Bang ‘Imad, “ Nasi yang saudara makan itu berasal dari infaq dan sedekah umat, dan saudara akan mempertanggungjawabkannya di akherat nanti. Oleh karena itu, jika Saudara tidak sanggup, lebih baik segera mengundurkan diri saja secepatnya dari kegiatan ini”. Kegiatan ini berlangsung lima hari dan diakhir acara setiap peserta dibaiat untuk taat kepada Allah SWT dan Rosul-Nya serta berjanji untuk senantiasa berusaha menegakan nilai-nilai ajaran Islam. Bagi mereka yang tidak bersedia dibaiat, dipersilahkan mengundurkan diri . Agaknya pengalaman Bapak Dipo memberikan gambaran bagaimana kuatnya sikap militansi Islam yang ditanamkan Bang ‘Imad terhadap para mahasiswa peserta LMD yang dampaknya masih membekas pada setiap alumni LMD khususnya yang masih komitmen terhadap perjuangan Islam.

Pengarang Inggris peraih hadiah Nobel Sastra, Vadiadhar Surajprasad Naipaul, ketika merekam dinamika gerakan Islam di Indonesia melukiskan pemimpin Islam sejati dalam imajinasi Imaduddin sebagai sosok pemimpin who lived according to the Quran, …who could stand in for the Prophet, …who knew the Prophet’s deeds so well that he would order affairs as the Prophet himself might have ordered them.” (lihat Among the Believers: An Islamic Journey, New York-Knopf, 1981)

Dua tahun lalu, pada 2 Agustus 2008, Bang Imad dipanggil Allah SWT. Bang Imad telah berjasa besar dalam upaya mendekatkan antara sains dengan Islam, antara pribadi saintis Muslim dengan Islam itu sendiri. Bang Imad telah melakukan rintisan besar dalam dunia dakwah di kampus.

Bagi kalangan aktivis gerakan Islam dan intelektual Muslim, kepergian Bang Imad panggilan akrab sang cendekiawan jelas kehilangan besar. Dr Imaduddin salah satu tokoh utama yang mewakili generasi baru intelektual Muslim yang muncul sejak dekade 1970-an, suatu lapisan kelompok terpelajar yang di kemudian hari memberi kontribusi besar bagi terbentuknya struktur baru masyarakat Muslim Indonesia, sekaligus membawa pengaruh signifikan terhadap dinamika sosial-politik di pentas nasional.

Jejak hari ini !!

Di masa lalu, lahir generasi baru, yang memiliki bobot dan kualitas memadai, dan mereka telah mengarahkan potensi mereka pada perubahan. Mereka mendirikan perkumpulan-perkumpulan dengan tujuan dan misi yang sangat jelas, yaitu meninggikan kalimah tauhid, dan bercita-cita menegakkan Islam.

Kerja Bang Imad memang belum selesai. Itu adalah tugas kita selaku generasi  berikutnya untuk mewujudkan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta.

Rasulullah saw.  bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran tanpa terganggu oleh orang yang menghinakan dan menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Muslim)

Terakhir, sebuah puisi dari Muhammad  Iqbal yang dibacakan oleh Bang Imad pada tengah malam di hari terakhir LMD berjudul Syikwa wa Jawab-i Syikwa :

– harapan kepada pemuda-

Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup membangunkan zaman yang baru memperbaru kekuatan iman

Menjalankan pelita hidayat menyebarkan ajaran khatamul-anbiya menancapkan  di tengah medan pokok ajaran Ibrahim

Api ini akan hidup kembali dan membakar … jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu

Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu

Cahaya pagi telah terhampar bersih

Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu
Bersedialah dari sekarang
Tegaklah untuk menetapkan engkau ada
Denganmulah Nur Tauhid akan
disempurnakan kembali
Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih
tersimpan dalam kuntum yang akan mekar
Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu

Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini
Agar harum-harum narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu
Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad

Sumber tulisan :

  1. Memoar perjalanan Dr. M. Imaddudin Abdul Rahim, Amich Alhumami
  2. Bang Imad Wafat, Gigih Priyandoko
  3. Bermula dari masjid salman, Arsip Majalah Tempo
  4. Jazakumullah, Abang, Haidar Bagir, Arsip Majalah Tempo
  5. Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia, Serbasejarah

Sumber gambar dari  google