Mereka terus mengarah melakukan aksi terorisme, mereka ingin kembali berdirinya negara Islam, suatu yang sudah rampung dalam sejarah bangsa,” kata Presiden SBY.

Presiden menegaskan, kelompok teroris yang hendak mengubah dasar negara dan konstitusi itu pasti tidak akan dikehendaki rakyat. Presiden juga mendapat informasi bahwa para teroris itu menolak demokrasi. “Tiba-tiba mereka menggunakan Aceh, sebagai satu basis, baik untuk latihan pengorganisasian, maupun rencana,” kata Presiden menegaskan. Presiden menyampaikan hal itu di Bandara Halim Perdanakusumah, Senin (17/5), sebelum melakukan kunjungan kenegaraan ke Singapura dan Malaysia. (sumber)

Pernyataan Presiden SBY bahwa ” keinginan berdirinya negara Islam, sesuatu yang sudah rampung dalam sejarah bangsa” seperti sebuah quisioner guru saya di SD Inpres yang ketika akan meninggalkan anak muridnya selalu memberi PR dengan sistem belajar CBSA “Cul Budak Sina Anteng”. Setidaknya ada dua statment yang beliau sampaikan menjelang “meninggalkan tanah air” selain tentang “isu terorisme” juga berkenaan sanggahan tentang sekretariat gabungan atau setgab parpol koalisi. Pernyataan yang beliau tinggalkan buat anak bangsa  untuk beradu argumen, pro dan kontra, berdebat tanpa ujung pangkal dalam panggung seleberita politica.

Sebenarnya saya kurang begitu tertarik atau setidaknya belum ada mood untuk menuliskan tentang “teroris“,  selain karena peristiwa kemarin hanyalah sebuah “dagelan opera van java” tapi yang lebih penting adalah belum menemukan secara jelas dan tegas keterkaitan “teroris” dengan “cita-cita berdirinya negara Islam” kecuali hanyalah sebuah slogan, aku-akuan atau dugaan-dugaan saja.

Ingat, nilai-nilai Dienul Islam, yang wajib ditegakkan dan praktekkan justru menuntut pengamalan secara radikal (mendasar), progresif dan terbuka. Sebab konsepsi Islam dengan Al Qur’an sebagai tuntunannya bukanlah sekedar sebuah retorika dan kamuflase peradaban atas nama cinta dan kasih sayang yang semu. Penjabaran Islam sebagai sebuah way of life menuntut untuk dapat diamalkan dan dikembangkan secara kongkrit, tegas dan berwibawah di atas nilai-nilai Al-Haq secara total dan berani. Artinya penggunaan cara-cara “teroris” keluar dari cara-cara manhaj perjuangan Islam.

Karakteristik perjuangan yang memiliki spirit jihad Darul Islam yang radikal dan ideologis, umumnya mengandung beberapa unsur: (1) ideologi; (2) imam & kewarganegaraan; (3) tuntutan hukum dan kemerdekaan. Maka selain dari nilai-nilai itu semua dapat dikita kategorikan sebagai “aksi krisis sosial-politik di tubuh RI yang secara keji mengorbankan anak bangsanya sendiri demi ambisi kekuasaan para pemimpinnya. Begitulah kira-kira pendapat haroqiyin yang secara rasional argumentatif bisa saya terima.

Sebagai lulusan SD Inpres justru  “adrenalin sejarah” saya sedikit terusik atas pernyataan bahwa “negara Islam sudah rampung dalam sejarah bangsa“. Pernyataan yang tentu harus saya sistematikakan dalam dua  pertanyaan besar :

  1. Bila sekarang yang dimaksud adalah “teroris” yang ingin kembali mendirikan negara Islam lalu siapa dalam sejarah bangsa Indonesia yang menginginkan berdirinya negara Islam? Apakah mereka juga disebut sebagai “teroris” ?
  2. Sejak kapan keinginan berdirinya negara Islam dikatakan “selesai” atawa rampung?

Pengertian sejarah yang saya pahami dari kata syajarah, yang berarti pohon yang tumbuh dalam ruang dan waktu, sehingga realitas sejarah sendiri terus-menerus mengalir tanpa sekat-sekat, adapun pembabakan waktu adalah hasil konseptualisasi sejarawan, suatu rasionalisasi agar sejarah bisa terjelaskan dan terpahami. Sehingga jelas tidak ada kata “selesai” atau “rampung” dalam sejarah hidup manusia maupun bangsa.

Tak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sejarah bangsa Indonesia diwarnai oleh lahirnya ideologi-ideologi yang menjadi kekuatan perjuangan baik saat melawan penjajahan Belanda, Jepang maupun saat bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan dan lahirnya sebuah negara. Kekuatan ideologi politik Islam, Komunisme dan Nasionalisme yang “diusung” para pendiri bangsa. Ideologi inilah yang mengalir pada anak cucu negeri dalam aliran sejarah bangsa Indonesia, adalah menjadi hak dari anak negeri sekarang untuk mewarisi ideologi para pendahulunya.

Menjawab pertanyaan point (1)  Bila sekarang yang dimaksud adalah “teroris” yang ingin kembali mendirikan negara Islam lalu siapa dalam sejarah bangsa Indonesia yang menginginkan berdirinya negara Islam? Apakah mereka juga disebut sebagai “teroris” ?

Apakah Ki Bagoes Hadikoesoemo pemimpin Muhammadiyah, beliau termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI yang dalam sidang-sidang BPUPKI menyuarakan Islam Sebagai Dasar Negara disebut sebagai “teroris”. Atau apakah M. Natsir yang dalam sidang Majelis Konstituante yang menyuarakan Islam Sebagai Dasar Negara disebut sebagai “teroris”. Ataukah SM. Kartosoewirjo yang memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia yang disebut sebagai “teroris”. Ataukah juga Tengku Daud Beureueh yang merupakan pewaris pejuang Islam Aceh yang memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia di wilayah Aceh dan sekitarnya.

Ingat, dalam sidang Majelis Konstituante, M. Natsir yang diberi kesempatan berpidato atas nama Masyumi mengatakan, “Bukan semata-mata karena umat Islam adalah golongan terbanyak di kalangan rakyat Indonesia seluruhnya, kami memajukan Islam sebagai dasar negara kita. Tetapi berdasarkan keyakinan kami, ajaran-ajaran Islam dapat mengatur mengenai ketatanegaraan dan masyarakat serta dapat menjamin hidup keragaman atas saling menghargai antra berbagai golongan di dalam negara.” Dengan bahasa indah, Natsir mengatakan bahwa Islam itu, “Kalaupun besar tidak melanda, kalaupun tinggi malah melindungi.”

Natsir menambahkan, dasar negara haruslah sesuatu yang sudah mengakar di masyarakat. Realitas sejarah, ujar Natsir, membuktikan bahwa Islam sebagai agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia cukup mengakar di masyarakat. Islam, terangnya, mempunyai sumber yang jelas yang berasal dari wahyu. Tidak seperti Pancasila yang mempunyai banyak tafsiran, tergantung pada pandangan filosofis seseorang.

Senada dengan Natsir, Buya Hamka yang juga ikut dalam sidang Konstituante mengatakan, “Islam adalah dasar yang asli di tanah air kita. Dan pribadi sejati bangsa Indonesia,” tegasnya. Malah, kata Hamka, “Pancasila tidak mempunyai dasar sejarah di Indonesia.” Hamka menjelaskan, sejak abad 19 perjuangan umat Islam untuk kemerdekaan dilatarbelakangi oleh perjuangan untuk menegakkan suatu negara berdasarkan Islam. Perang yang digelorakan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, dan lain-lain untuk mengusir kolonial Belanda, kata Hamka, untuk mewujudkan cita-cita negara Islam. “Kamilah yang meneruskan mereka,” tegas Hamka sambil menyebut orang yng mengkhianati ruh nenek moyang pemimpin terdahulu adalah orang yang menukar perjuangan mereka (para pahlawan –red) dengan Pancasila.

Jadi samakah para pejuang ideologis dengan teroris ? 😉

Lanjut kepertanyaan point (2) Sejak kapan keinginan berdirinya negara Islam dikatakan “selesai” atawa rampung?

Francis Fukuyama dalam tesisnya, The End of History, yang dirilis pada tahun 1989 menyatakan: Kapitalisme adalah ideologi paripurna dan tidak ada lagi pertarungan ideologi. Pasalnya ideologi-ideologi besar dunia yang menjadi kompetitor Kapitalisme telah runtuh dan mati. Bila tesis Fukuyama yang menjadi rujukannya maka apa yang dikatakan Presiden SBY bahwa negara Islam sudah “selesai” bisa dimaklumi. Tapi apakah tesis Fukuyama itu benar ??

Tesis Fukuyama tidak saja salah, tetapi juga menutupi-nutupi kebobrokan ideologi Kapitalisme. Fakta menunjukkan dengan sangat jelas, betapa ideologi ini telah menimbulkan sejumlah dampak buruk dan destruktif bagi kehidupan manusia, terutama penduduk Dunia Ketiga. Hampir di seluruh aspek kehidupan, ideologi ini telah memurukkan manusia ke dalam kebinasaan dan kehancuran.

Masyarakat dunia telah sepakat, bahwa Kapitalisme adalah biang kerok malapetaka kemanusiaan. Ini diungkap oleh para pemikir dengan ungkapan-ungkapan yang berbeda. A. Sorokin, misalnya, mengatakan adanya The Crisis of Our Age. Sayyed Hosen Nasser menyebutnya sebagai nestapa manusia modern. Penyebutan ini merujuk pada adanya alienasi, seperti yang digambarkan oleh Eric Fromm. Demikian pula, telah terjadi kekosongan ruhani seperti yang digambarkan oleh Luis Leahy dalam bukunya, Esai Filsafat untuk Masa Kini (1991), atau telah terjadi ‘gersang psikologis’ sebagaimana dalam pandangan Carl Gustave Jung.(sumber)

Propaganda bahwa “pertarungan ideologi telah berakhir” yang dihembuskan pemikir-pemikir kapitalis jelas merupakan propaganda politis yang ditujukan untuk melanggengkan dominasi ideologi mereka atas dunia, sekaligus untuk menghambat suksesi menuju paradigma dan sistem dunia yang lain. Apalagi masyarakat dunia sudah merasakan dampak buruk akibat diterapkannya ideologi ini atas mereka. Dunia sekarang membutuhkan ideologi alternatif untuk mengganti ideologi Kkapitalisme yang telah terbukti bobrok dan destruktif. Untuk itu, mereka berusaha mati-matian mempertahan-kan ideologi rusak ini dengan cara mempropagandakan jargon “perang ideologi telah berakhir”.

Perang antara kebenaran dan kebatilan sudah menjadi semacam takdir sejarah yang tidak mungkin dihapuskan dari kehidupan manusia. Bahkan sampai kapanpun, keduanya akan saling menghancurkan, mengalahkan, dan berusaha memenangkan dirinya atas yang lain. Kebenaran tidak mungkin bisa bersanding dengan kebatilan. Begitu juga sebaliknya; kebatilan tidak mungkin bisa disandingkan dengan kebenaran. Keduanya juga berusaha terus-menerus menanamkan pengaruh-pengaruhnya ke dalam benak manusia, dan berupaya menyeret sebanyak-banyaknya manusia agar rela menjadi pejuang dan pengikut setianya. Lahirlah kemudian kubu kebenaran dan kubu kebatilan. Keduanya akan terus bertarung dan menyebarkan pengaruh-pengaruhnya hingga Hari Kiamat, seperti halnya kebenaran dan kebatilan itu sendiri bertarung dan berperang.

Dalam konteks pertarungan ideologi, Islam telah menempatkan Kapitalisme dan Sosialisme ke dalam kebatilan, dan wajib untuk diperangi. Pasalnya, kedua ideologi tersebut bertentangan dengan Islam. Bahkan keduanya adalah musuh sejati bagi Islam dan kaum Muslim. Mengakhiri perang melawan ideologi Kapitalisme dan sosialisme sama artinya telah meninggalkan kewajiban syariah. Seorang Mukmin tidak diperkenankan berdiam diri atau tidak turut terjun secara langsung dalam perang ideologi tersebut. Sebaliknya, ia wajib menerjunkan dirinya ke dalam kancah perang ideologi hingga Islam dimenangkan oleh Allah Swt.

Patut mendapat apresiasi atas apa yang dihasilkan oleh Kongres Umat Islam Indonesia ke V yang diselenggarakan oleh MUI yang menghasilkan “Deklarasi Jakarta 2010”, diantara isi deklarasi dinyatakan “Peserta Kongres Umat Islam memandang pentingnya kepemimpinan umat sebagai perwujudan perjuangan menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar dalam rangka menegakkan Syariat Islam pada seluruh sendi kehidupan bangsa dan negara“. Meskipun tentunya pernyataan diatas bisa debatle tetapi cermin ideologi Islam yang menginginkan berdirinya Negara Islam sejatinya adalah agar terwujudnya kepemimpinan umat yang mampu menegakan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh melingkupi seluruh sendi kehidupan bangsa dan negara.

Dalam refleksi pembelajaran sejarah saya menukil sebuah pernyataan heroik :“Kaum muslimin di Indonesia, adalah cucu-cucu keturunan para da’i ulama dari poros Khilafah Islamiyah, keturunan para sultan pemberani yang dengan kekuatan aqidahnya mampu mengganti sistem kerajaan Hindu-Budha menjadi kesultanan Islam yang mulia, anak cucu Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, Tuanku Imam Bonjol, dan para pejuang pembela Islam mulai dari Sabang hingga merauke yang bahagia gugur sebagai syuhada. Semoga doa dan harapan para ulama dan pejuang terdahulu mulai tumbuh, bersemi dan terkabul pada generasi saat ini”.

Maka renungkanlah bahwa sejarah tidak pernah titik, dia adalah koma yang terus mengalir dalam ruang dan waktu menuju titik persinggahan yang dimuliakan Dzat Ilahi Rabbi ” Fatah dan Falah“.

Teori tentang “assassination” versi mumbai adalah sikap paranoid penguasa yang bermimpi akan adanya generasi Musa, Thalut dan Daud yang  akan menggulingkan kekuasaan dengan cara merencanakan pembunuhan para penguasa, sehingga dengan membabi buta membunuh “anak-anak laki-laki” yang sejatinya mereka bukan Musa, bukan Thalut ataupun Daud. Mereka anak-anak bangsa yang menjadi korban “paranormal” lingkaran istana dan rakyat disuguhi bau amis darah atas nama “teroris yang marah”. Sementara generasi Musa akan datang pada masanya 😉

Wallahu’alam

Hatur tararengkyu dan tetap semangat 😉