R.E.V.O.L.U.S.I

Mengurus perut tinggi sejengkal Kerja badan terjungkal-jungkal Tak terurus hati sekepal Bikin syetan tertawa terpingkal Inikah revolusi mental? Lebih dari 50 tahun, kata revolusi sepertinya telah terkubur dalam kosa kata bahasa Indonesia. Setidaknya suatu kata yang dihindari malah mungkin ditakuti. Dalam tulisan sejarah nasional, kata revolusi untuk menggambarkan dinamika sejarah pasca proklamasi 17-8-1945 tidak dipakaiLanjutkan membaca “R.E.V.O.L.U.S.I”

Indonesia Duaribuempatlima

“Kita ini hanyalah pelaksana rencana Tuhan YME, Allah SWT, Sang Maha Pemilik Rencana Besar dan Rencana Maha Mulia. Tugas kita setiap hari, bahkan setiap tarikan nafas kita adalah menyusun rencana pribadi kita, rencana keluarga kita, masyarakat se-desa, se-kabupaten/kota, se-provinsi, se-negara bahkan tugas se-generasi kita untuk kemudian mensinergi-positifkan pelaksanaan rencana tersebut agar selalu sejalan dengan rencanaLanjutkan membaca “Indonesia Duaribuempatlima”

G.I.A.T

“Adalah mustahil menulis persoalan besar tanpa hidup dalam persoalan besar itu, menjadi pemimpin agung tanpa menjadi manusia agung. Manusia harus menemukan dalam dirinya sendiri rasa tanggung jawab yang besar terhadap dunia, yang berarti tanggung jawab terhadap sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri” (Vaclav Havel : Mantan Presiden Republik Chek) Sang maestro motivator jaman kiwariLanjutkan membaca “G.I.A.T”

Ideologi Negara Versus Ideologi Rakyat

Sejatinya tidak ada dikotomi antara ideologi negara dengan ideologi rakyat , karena negara adalah rakyat dan rakyat adalah negara. Ideologi adalah “Cita-cita Moral Bangsa” yang mengkonstruksi pikiran suatu bangsa yang berisi preskripsi moral bagi bangsa tersebut untuk tercapainya cita-cita yang diinginkan bersama. Dalam pidato presiden SBY pada PADA ACARA MEMPERINGATI PIDATO BUNG KARNO 1 JUNILanjutkan membaca “Ideologi Negara Versus Ideologi Rakyat”