Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Islam dan Pancasila : Betulkah Bersahabat ?

Sebuah tulisan Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif  yang dimuat  di koran Republika (kolom Resonansi), edisi Selasa 15 Mei 2012 yang berjudul ” Saat Islam dan Pancasila Sudah Bersahabat (1)” menarik untuk dibahas sebagai wacana pemikiran dan mengingat akan masa lalu tentang relasi Islam dan Pancasila sebagai sebuah Ideologi. Tulisan lengkapnya saya copy paste disini :

Saat Islam dan Pancasila Sudah Bersahabat (1)

Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif

Saat bala tentara Jepang masih punya kekuasaan di Indonesia sekitar 2,5 bulan sebelum proklamasi kemerdekaan, pertarungan sengit antara Islam dan Pancasila untuk diusulkan sebagai dasar filosofi negara telah terjadi. Medan pertarungan itu adalah dalam sidang-sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan).

Islam diwakili tokoh-tokoh puncak kelompok santri, seperti Agus Salim, KH Wachid Hasjim, Ki Bagus Hadikusumo, KH Sanoesi, Kahar Muzakkir, sedangkan di pihak Pancasila muncul Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, dan para pemimpin nasionalis lainnya. Sekiranya Ketua BPUPK Dr KRT Radjiman Widiodiningrat tidak menanyakan tentang dasar filosofi negara yang mau merdeka, kita tidak tahu apakah negara Indonesia akan punya dasar atau tidak.

Yang paling serius menjawab tantangan Radjiman itu adalah Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 yang terkenal itu. Pidato inilah yang menjadi sumber Pancasila itu, tidak yang lain. Pancasila yang sekarang ini, sekalipun bersumber dari Bung Karno, perumusannya telah mengalami perubahan, tetapi bilangan silanya tetap lima.

Perdebatan antara golongan santri dan nasionalis pada Juni itu kemudian menghasilkan sebuah titik temu dalam bentuk Piagam Jakarta, tertanggal 22 Juni 1945, dengan sila-silanya sebagai berikut:

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Piagam ini hanya berumur 57 hari sebab pada 18 Agustus 1945, demi persatuan bangsa maka atribut “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya“ yang terdapat pada sila pertama dihapus dan posisinya digantikan oleh ungkapan “Yang Maha Esa“ sehingga bunyi lengkapnya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa“. Pancasila rumusan 18 Agustus inilah yang kita gunakan sekarang.

Dalam perkembangan selanjutnya, golongan santri rupanya tidak terlalu bahagia dengan Pancasila 18 Agustus itu, apalagi dengan Pancasila UUD 1949/UUDS 1950. Dalam sidang-sidang Majelis Konstituante, 1956-1959, ketidakbahagiaan itu mereka lontarkan kembali dengan menggugat rumusan ini dan mengajukan Islam sebagai dasar negara berhadapan dengan Pancasila.

Gugatan ini sepenuhnya benar secara konstitusional karena UUDS 1950 memang membuka pintu untuk itu. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, pergulatan tentang dasar negara dalam majelis pembuat UUD ini berjalan sangat alot karena tidak satu pihak pun yang berhasil mengegolkan usulannya sebagaimana yang diminta oleh UUDS. Kesulitan konstitusional inilah kemudian yang “memaksa“ Bung Karno untuk mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang terkenal itu. Dengan dekrit ini, Pancasila 18 Agustus dan UUD 1945 dikukuhkan kembali dan Majelis Konstituante dibubarkan. Akibatnya, suhu politik menjadi sangat panas ketika itu ditambah lagi sangat panas ketika itu ditambah lagi dengan maraknya pergolakan daerah yang mengkristal dalam bentuk PRRI/Permesta sejak 1958 yang telah menguras energi bangsa Indonesia.

Ironisnya, Dekrit 5 Juli juga dipakai Bung Karno untuk melaksanakan sistem Demokrasi Terpimpin (1959-1966) yang minus demokrasi itu, tetapi kemudian berakhir dengan sebuah malapetaka nasional. Kekuasaan Bung Karno pun tidak bisa bertahan untuk kemudian digantikan oleh era Demokrasi Pancasila (1966-1998) dengan Presiden Soeharto sebagai penguasa tunggal.

Pada era inilah, petarungan Islam dan Pancasila memasuki tahap terakhir dengan segala masalah dan dinamika politik yang menyertainya.

Ringkasnya, sejak itu Pancasila sebagai dasar negara secara formal konstitusional telah sangat mantap. Jika masih ada pihak-pihak yang menggugat Pancasila, kekuatan mereka hanyalah berupa riak-riak kecil yang tidak akan mengubah dasar filosofi konstitusi Indonesia.

Dalam ungkapan lain, Islam dan Pancasila telah sangat bersahabat. Pertarungan selama bertahun-tahun sebelumnya telah berakhir untuk tidak diulang lagi. Semua pihak sekarang sudah sama-sama menyadari bahwa mempertentangkan Islam dan Pancasila seperti yang pernah terjadi, ditengok dari kacamata kedewasaan berbangsa adalah sebuah keteledoran sejarah dari negara yang berusia sangat muda ketika itu.

*****

Mengingat Riwayat Tujuh Kata

Dalam tulisan diatas Syafi’i Ma’arif menyampaikan : “demi persatuan bangsa maka atribut “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya“ yang terdapat pada sila pertama dihapus” , pertanyaanya apa betul pencoretan “tujuh kata” itu “demi persatuan bangsa” ? Fakta historis bahwa tarik ulur perdebatan pencoretan tujuh kata itu tidaklah sederhana dan bahkan dalam bukunya, “Islam dan Politik, Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin” (1959-1965), (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif juga mencatat, bahwa pada 18 Agustus 1945, Soekarno sebenarnya sangat kewalahan menghadapi Ki Bagus. Akhirnya melalui Hatta yang menggunakan jasa Teuku Mohammad Hasan, Ki Bagus dapat dilunakkan sikapnya, dan setuju mengganti “tujuh kata” dengan “Yang Maha Esa”.

Dalam biografi Hidup itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 tahun, yang ditulis Lukman Harun, tertera pada hari dan saat bersamaan, 18 Agustus 1945, Bung Karno minta Kasman melobi Hadikusumo. Bung Karno mengatakan kepada anggota PPKI itu, yang juga tokoh Muhammadiyah dan Masyumi, usaha yang sama telah dicoba lewat Hasan, tapi tak berhasil. Baru setelah Kasman berbicara dengan Hadikusumo, sebagai sesama Muhammadiyah. persetujuan penghapusan tujuh kata itu dicapai. Mana yang benar? Hasan mengaku pernah menghubungi Kasman. beberapa tahun lalu, untuk menjelaskan soal ini. Menurut Hasan. Kasman berkata, ”Benar, Saudara meyakinkan dia (Ki Bagus Hadikusumo) dalam bahasa Indonesia, saya meyakinkan dia dalam bahasa Jawa.”

Masih terngiang ucapan Kasman Singodimejo dalam sebuah perbincangan bahwa beliau merasa turut bersalah karena dengan bahasa Jawa yang halus Beliau menyampaikan kepada Ki Bagus Hadikusumo tokoh Muhammadiyah yang teguh pendiriannya itu untuk sementara menerima usulan dihapusnya 7 kata itu. Kasman terpengaruh oleh janji Soekarno dalam ucapannya, “Bahwa ini adalah UUD sementara, UUD darurat, Undang-undang Kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk. Apa yang tuan-tuan dari golongan Islam inginkan silahkan perjuangkan disitu.

Ini artinya bahwa kalangan Islam tetap menginginkan Islam sebagai dasar negara. Kasman berpikir, yang penting merdeka dulu. Lalu meminta Ki Bagus Hadikusumo bersabar menanti enam bulan lagi. Namun enam bulan kemudian Soekarno tidak menepati janji. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak pernah terbentuk. Pemilu yang pertama baru dilaksanakan 10 tahun sesudah proklamasi (1955). (Lihat “Riwayat Tujuh Kata“)

Lalu siapa yang menginginkan “pencoretan tujuh kata” demi persatuan bangsa ? Belakangan diketahui, para aktivis Kristen lah yang  sibuk kasak-kusuk melakukan konsolidasi dan lobi-lobi politik untuk meminta penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Kesimpulan ini didasarkan pada pernyataan Soekarno yang mengatakan bahwa malam hari usai proklamasi kemerdekaan RI, ia mendapat telepon dari sekelompok mahasiswa Prapatan 10, yang mengatakan bahwa pada siang hari pukul 12.00 WIB (tanggal 17 Agustus), tiga orang anggota PPKI asal Indonesia Timur, Dr Sam Ratulangi, Latuharhary, dan I Gusti Ketut Pudja mendatangi asrama mereka dengan ditemani dua orang aktivis. Kepada mahasiswa, mereka keberatan dengan isi Piagam Jakarta. Kalimat dalam Piagam Jakarta, bagi mereka sangat menusuk perasaan golongan Kristen.

Latuharhary sengaja mengajak Dr Sam Ratulangi, I Gusti Ktut Pudja, dan dua orang aktivis asal Kalimantan Timur, agar seolah-olah suara mereka mewakili masyarakat Indonesia wilayah Timur. Mereka juga sengaja melempar isu ini ke kelompok mahasiswa yang memang mempunyai kekuatan menekan, dan berharap isu ini juga menjadi tanggungjawab mahasiswa.

Mahasiswa lalu menghubungi Hatta, yang kemudian mengundang para mahasiswa untuk datang menemuinya pukul 17.00 WIB. Hadir dalam pertemuan itu aktivis Prapatan 10, Piet Mamahit, dan Imam Slamet. Setelah berdialog, Hatta kemudian menyetujui usul perubahan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Setelah dari Hatta, malam itu juga para mahasiswa menelepon Soekarno untuk menyatakan keberatan dari tokoh Kristen Indonesia Timur.

Singkat kata, keesokan harinya Soekarno dan Hatta mengadakan rapat dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di Pejambon Jakarta. Agenda sidang dibatasi hanya membahas perubahan penting dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 45. Rapat yang diagendakan berlangsung pukul 09.30 WIB mundur menjadi pukul 11.30 WIB. Belakangan diketahui, mulur-nya rapat tersebut disebabkan terjadinya perdebatan yang sengit dalam lobi-lobi yang dilakukan untuk menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Lobi-lobi yang digagas Hatta terjadi antara Kasman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusumo, Teuku Muhammad Hassan, dan KH A Wahid Hasyim. Pertemuan dengan Hatta berlangsung sengit dan tegang.

Saking sengit dan tegangnya pertemuan itu, sampai-sampai Soekarno memilih tak melibatkan diri dalam lobi tersebut. Soekarno terkesan menghindar dan canggung dengan kegigihan Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum Muhammadiyah ketika itu, dalam mempertahankan seluruh kesepakatan Piagam Jakarta. Soekarno kemudian hanya mengirim seorang utusan untuk turut dalam lobi yang bernama Teuku Muhammad Hassan.

Siapa orang yang paling bertanggungjawab dalam penghapusan tujuh kata tersebut? R.M.A.B Kusuma dalam buku Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945: Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidik Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan (Jakarta: Badan Penerbit PH-UI, 2004) mengatakan,

”Bung Hatta adalah orang yang paling bertanggungjawab terhapuskannya ”tujuh kata” dari Piagam Jakarta. Beliau konsisten mengikuti ajaran yang dianutnya. Beliau menghapus ”tujuh kata” tanpa berunding dengan tokoh-tokoh Islam yang menyusun ”perjanjian luhur” Piagam Jakarta, yakni: K.H Wachid Hasjim, K.H Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso. Beliau hanya berunding dengan Ki Bagus Hadikusumo yang bukan penyusun Piagam Jakarta dengan janji bahwa hal itu akan dibahas lagi di sidang MPR yang akan dibentuk. Pertimbangan beliau hanya didasarkan pada pendapat orang Jepang yang mengaku utusan dari Indonesia Timur. Beliau tidak menyatakan berunding dengan utusan Indonesia Timur yang resmi, yakni D.G Ratulangie, M.r J. Latuharhary, Andi Pangeran Petta Rani, Andi Sultan Daeng Raja, dan Mr Ketut Pudja.”

Dalam buku tersebut Kusuma juga mengatakan, ikhtiar penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang dilakukan Hatta, yang mengaku mendapat desakan dari kelompok Kristen di Indonesia Timur, tak lain makin memperlihatkan sikap dan keyakinan politik Hatta yang sekular, yang berusaha memisahkan ”urusan agama” dan ”urusan negara”. Hatta, kata Kusuma, bahkan tidak pernah mengucapkan kata-kata yang identik dengan Islam, seperti Allah subhana wa Ta’ala, Alhamdulillah, dan sebagainya.

Islam dan Pancasila : Betulkah Bersahabat ?

 “Jikalau dulu pada tanggal 18 Agustus 1945 kami golongan Islam telah di-fait-a-compli-kan dengan suatu janji dan/atau harapan dengan menantikan waktu 6 bulan, menantikan suatu Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membuat Undang-undang Dasar yang baru dan yang permanen, Saudara Ketua, janganlah kami golongan Islam di Dewan Konstituante sekarang ini di-fait-a-compli-kan lagi dengan anggapan-anggapan semacam: Undang-undang Dasar Sementara dan Dasar Negara tidak boleh dirubah, tidak boleh diganti, tidak boleh diganggu gugat! Sebab fait-a-compli semacam itu sekali ini, Saudara Ketua, hanya akan memaksa dada meledak!

Paragraf diatas adalah kutipan  Pidato Mr Kasman Singodimejo di Majelis Konsituante “Menuntut pelaksanaan Gentlement Agreement” yang dijanjikan “Soekarno” (lihat ” Mitos Konstituante“) yang tetap teguh mencinta-citakan Islam sebagai dasar negara. Sehingga menjadi pertanyaan pula atas tulisan Syafi’i Ma’arif : “Kesulitan konstitusional inilah kemudian yang “memaksa“ Bung Karno untuk mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang terkenal itu“. Betulkah Dekrit 5 Juli 1959 sebagai “kesulitan konstitusional” ataukah “keteguhan” pendirian Bung Karno yang tidak menginginkan Islam sebagai dasar negara? ….

Paragraf penutup (yang mungkin masih bersambung) dari tulisan Syafi’i Ma’arif diatas : “Dalam ungkapan lain, Islam dan Pancasila telah sangat bersahabat. Pertarungan selama bertahun-tahun sebelumnya telah berakhir untuk tidak diulang lagi. Semua pihak sekarang sudah sama-sama menyadari bahwa mempertentangkan Islam dan Pancasila seperti yang pernah terjadi, ditengok dari kacamata kedewasaan berbangsa adalah sebuah keteledoran sejarah dari negara yang berusia sangat muda ketika itu“. Betulkah Islam dan Pancasila telah sangat bersahabat?

Kiranya Cerita Kasman Singodimejo dalam memoirnya Hidup itu Perjuangan: 75 Tahun Kasman Singodimejo, memberi sedikit jawaban sejarah. Beliau menceritakan, kedatangannya ke Gedung Pejambon Jakarta dan diminta sebagai anggota tambahan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah atas permintaan Soekarno. Padahal, ketika itu ia sedang bertugas di Jawa barat. Sebagai Panglima Tentara saat itu, ia ditugaskan mengamankan senjata dan mesiu untuk tidak jatuh ke tangan Jepang.

Setelah sukses melobi Ki Bagus Hadikusumo dan rapat memutuskan penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut, malam harinya Kasman gelisah tak bisa tidur. Kepada keluarganya ia tak bicara, diam membisu:

”Alangkah terkejut saya waktu mendapat laporan dari Cudhanco Latief Hendraningrat, bahwa balatentara Dai Nippon telah mengepung Daidan, dan kemudian merampas semua senjata dan mesiu yang ada di Daidan.Selesai laporan, maka Latief Hendraningrat hanya dapat menangis seperti anak kecil, dan menyerahkan diri kepada saya untuk dihukum atau diampuni. Nota bene, Latief sebelum itu, bahkan sebelum memberi laporannya telah meminta maaf terlebih dahulu.

Ya apa mau dibuat! Saya pun tak dapat berbuat apa-apa. Saya mencari kesalah pada diri saya sendiri sebelum menunjuk orang lain bersalah. Ini adalah pelajaran Islam. Memang saya ada bersalah, mengapa saya sebagai militer kok ikut-ikutan berpolitik dengan memenuhi panggilan Bung Karno!?

….malamnya tanggal (18 Agustus malam menjelang 19 Agustus 1945) itu sengaja saya membisu. Kepada keluargapun saya tidak banyak bicara, sayapun lelah, letih sekali hari itu, lagi pula kesal di hati. Siapa yang harus saya marahi?”

Kasman mengatakan, ada dua kehilangan besar dalam sejarah bangsa ini ketika itu. Pertama, penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Kedua, hilangnya sejumlah senjata dan lain-lainnya yang sangat vital pada waktu itu.

Kasman menyadari dirinya terlalu praktis dan tidak berpikir jauh dalam memandang Piagam Jakarta. Ia hanya terbuai dengan janji Soekarno yang mengatakan bahwa enam bulan lagi akan ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat yang akan dapat memperbaiki kembali semua itu. Padahal dalam waktu enam bulan, mustahil untuk melakukan sidang perubahan di tengah kondisi yang masih bergolak. Meski Kasman telah mengambil langkah keliru, namun niat di hatinya sesungguhnya sangat baik, ingin bangsa ini bersatu. “Sayalah yang bertanggung jawab dalam masalah ini, dan semoga Allah mengampuni dosa saya,” kata Kasman sambil menetaskan air mata, seperti diceritakan tokoh Muhammadiyah Lukman Harun, saat Kasman mengulang cerita peristiwa tanggal 18 Agustus itu.

Seolah ingin mengobati rasa bersalah penyesalannya pada peristiwa 18 Agustus 1945, pada sidang di Majelis Konstituante 2 Desember 1957, Kasman tak lagi sekadar menjadi “Singodimejo” tetapi berubah menjadi “Singa di Podium” yang menuntut kembalinya tujuh kata dalam Piagam Jakarta dan menolak Pancasila sebagai dasar negara.

Meminjam istilah Syafi’i Ma’arif tentang “sejarah kesengajaan” dan “sejarah kecelakaan”, maka bila mungkin sekarang terjadi “persahabatan” Islam dan Pancasila dalam konteks sejarah adalah sebuah “persahabatan kecelakaan” bukan “persahabatan kesengajaan” …. dan sangat mungkin untuk perbaikan demi masa depan. Maka pertarungan ideologi seyogyanya tak perlulah tuk di akhiri dan biarlah masa depan menemukan jalannya sendiri…….

Tambahan Referensi :  Peristiwa 18 Agustus 1945 : Pengkhianatan Kelompok Sekular Menghapus Piagam Jakarta, Oleh: Artawijaya

About these ads

28 comments on “Islam dan Pancasila : Betulkah Bersahabat ?

  1. Citro Mduro
    Mei 17, 2012

    Waktu dulu untuk merumuskan sebuah aturan membutuhkan waktu yang lama dan perdebatan yang luar biasa. Meskipun terjadi perdebatan yang alat, hasilnya juga bisa dirasakan manfaatnya secara umum dan aturan bersifat global

    sementara saat ini begitu mudah melahirkan sebuah aturan dan tidak lama aturan tersebut akan segera berubah

    • anonymus
      Mei 18, 2012

      hehe..betul..skg bwt aturan cepat kluar klo ada duit yg masuk

  2. imamoedin BTK
    Mei 18, 2012

    rambut sama hitam isi kepala berbeda-beda , yang tersebut nama2 kesemuanya beragama islam .tapi anehnya masih belum ada kesepakatan satu kata dalam bersikap-berbuat dan bertindak .kejadian 67tahun yang lalu tentunya , sekarang sa’at reformasi ini ( dilihat dari peta politik sa’at ini ) sebenarnya masih ada kesempatan untuk mengembalikan ” piagam jakarta ” pada posisi semula . coba kita ” camkan ” presidenya pernah dari partai yang berjurusan islam , begitu juga dengan lembaga semisal mpr dari partai berhaluan islam .pertanya’anya adalah ” mengapa tidak terfikirkan untuk ” piagam jakarta ” yang milik kita semua .
    bolehlah saya katakan : bahwasanya sekarang inilah sa’atnya agama berbicara – piagam jakarta siapa takut – ” piagam jakarta , siapa takut “.

  3. dennydublin
    Mei 18, 2012

    SEPAKAT DENGAN YANG DI-SHARE SAUDARA imamoedin BTK -HIMBAUAN SAYA ( TIDAK NGGURUI ) UNTUK BAPAK2 -IBU2 YANG MERASAKAN EMPUKNYA KURSI YANG ADA DI LEMBAGA EKSEKUTIF MAUPUN YUDIKATIFNYA DI NEGARA YANG KITA SAMA2 TEMPATI . SPESIFIK ( YANG TERSENTUH KALBUNYA ) BAGI MUSLIM ” DENGAN SARAN imamoedin BTK KESEMUANYA SENDI2 KEHIDUPAN AKAN MENJADIKAN LEBIH BAIK DARI SEKARANG INI ” — ALLAH HU AKBAR !!!

  4. doktertoeloes malang
    Mei 18, 2012

    setuju … sepakat … acc ….akur …. cocok ……alangkah indahnya hidup ini. sa’atnya ” piagam jakarta memberikan kontribusinya ” .

  5. Tidak terlalu bagus

  6. atmokanjeng
    Mei 18, 2012

    ALLAHU AKBAR!!
    mari kita berdo’a agar sejarah Indonesia menemukan cita-cita dan kedamaiannya dalam pelukan Islam.
    Bukan saja karena Islam paling banyak dianut oleh warganya, tapi karena kemerdekaan Indonesia sejatianya adalah Karunia Ilahi.

  7. amat – sangat – terlalu super istimewa — thank’s

  8. raja politik
    Mei 19, 2012

    sama dan sebangun dengan ” doktertoeloes malang “

  9. trias politika
    Mei 19, 2012

    ALLAH HU AKBAR …..ALLAH HU AKBAR…….ALLAH HU AKBAR …….ALLAH HU AKBAR …….. ALLAH HU AKBAR ……ALLAH HU AKBAR ……mari kita semua serukan … ALLAH HU AKBAR …..ALLAH HU AKBAR …!!!!!!

  10. mulia
    Mei 20, 2012

    Allahu Akbar…. semoga cita cita para terdahulu bisa di ingat kembali oleh kita, untuk kita realisasikannya… amiin,

  11. doktertoeloes malang
    Mei 21, 2012

    ” Hilang – lenyapnya tujuh kata pada sila pertama .. piagam jakarta .. melebihi dari

    kemisteriusan hilang – lenyapnya .. super semar yang supersamar .. ITU “

  12. doktertoeloes malang
    Mei 21, 2012

    ……… ALLAHU AKBAR …….!!!

  13. ” setubuh dengan komentar doktertoeloes malang bahwasanya kemisteriusan

    hilangnya tujuhkata itu MELEBIHI daripada misterius hilangnya supersemar “.

  14. therapi - diagnose
    Mei 25, 2012

    Sepakat ………..ALLAHU AKBAR ……ALLAHU AKBAR …….ALLAHU AKBAR….!!!

  15. Ping-balik: Islam dan Pancasila : Betulkah Bersahabat ? (2) « Biar sejarah yang bicara …….

  16. David
    Mei 28, 2012

    Saya mahasiswa & beragama Islam. Pancasila lah yg baik utk dasar negara yg majemuk serta multikultur seperti Indonesia. Bukan Islam, sebab pd realitanya Islam egois & fasis.

    • gie
      Mei 29, 2012

      membuat intisari yang tidak apik;
      Saya mahasiswa & beragama Islam, Islam egois & fasis.

      kesimpulan yang tidak apik:
      Saya egois & fasis.

    • nurullah ronggo
      Maret 19, 2013

      nama david ngaku islam…sini loh..halal darah lo tu

  17. danny
    Juni 1, 2012

    saudara-saudaraku, jangan lah terjebak romantisme sejarah…..Pancasila disejajarkan dengan Islam jelas beda (ga pantes lah). jauuuuh bagai bumi dan langit….tapi inilah kenyataannya bahwa PANCASILA MENANG dan ISLAM KALAH ..tafakurilah

  18. rio vay
    Juni 9, 2012

    yg jadi pertanyaan, apakah Pancasila juga akan lebih kekal dan tahan lama, atau justru Islam yang lebih kekal dan tahan lama di dunia ini? pancasila memang diterapkan di Indonesia, tapi banyak yg jadi Pancasila KTP alias ngaku pancasila tapi kepribadian jauh dari sifat Pancasila. sepertinya Islam suatu saat jadi pedoman umum, Islam gak hanya ajarkan shalat, potong tangan, hukum mati. banyak hadis2 yng juga engatur cara sikap dan tatakrama, bahkan prinsip bekerja diajarkan dlm Al Qur’an, sistem tenaga kerja atau dalam hal mengupah juga ada dalam Islam (bisa dicheck di google).
    Perlu diketahui di dalam Kitab Al Qur’an, sekitar 2/3 isinya tentang ilmu pengetahuan, ibadah juga oke tapi ilmu pengetahuan juga harus dikuasai

  19. Kios
    November 9, 2012

    Sungguh menarik uraiannya, semoga kerukunan antar umat beragama terjaga dibawah naungan pancasila yang berbineka ini.

  20. trisna
    November 11, 2012

    Jika berbicara aspek agama mesti berpikir kembali sejarah qt mengusung berbeda beda tetap satu jua,, hendaknya qt berpikir dengan negara konstitusi tat kala ,a3 ngerubah tatanan konstitusi menjadi serikat, bearti merubah sejarah terbentuk indonseia, menciderai sejarah yg selama ini qt cinti, berkat pahlawan itulah qt bisa bersatu, tat kala qt ingin merubah berarti merubah fundamental norm, sama saja melawan negara,, yg qt banggakan, cinta indonesia yg bermajemuk dalam kesatuan negara republik indonesia, Pancasila

    • nurullah ronggo
      Maret 19, 2013

      mauan di boongin sejarah…apa kamu ga tau klo kemerdekaan kita itu emang hadiah dari jepang…
      kita ga pernah menang lawan jepang.
      kapan sejarahnya jepang ngaku kalah ama indonesia.

      aturan perang pada waktu itu. jepang harus menyerahkan seluruh jajahannya pada belanda dan sekutu.

      hal ini di buktikan dengan campur tangan belanda dalam pemerintahan indonesia

      lihat perjanjian linggarjati,, apa belanda mengakui secara de jure?
      negara merdeka adalah negara yg diakui secara de facto dan de jure oleh negara lain

  21. lha wong sudah jelas2 begitu apanya lagi dengan tujuh kata yang hilang misterius

    – perso’alan tidak akan selesai tanpa melihat ” kronologis” kekecewa’an bagian ter-

    besar / mayoritas dari penghuni negara ini. apa perlu dijlentrehkan ( lagi ) ????

  22. faruq
    September 25, 2013

    sedih ane bacanya

  23. surur
    Desember 29, 2013

    Kullu Nafsin dzaaiqotul maut,,,Garuda Pancasila kan buatan manusia PASTI akan mati juga…!!!

  24. Nyala
    Oktober 28, 2014

    Meski tanggal 18 Agustus 45 menjadi hari yang kelam bagi Islamis, dengan dihapuskannya 7 kata dari Piagam Jakarta, namun itu hanya berlangsung hingga 5 Juli 59. Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 59, kita tidak hanya kembali ke UUD45, tetapi secara otomatis juga kembali ke Piagam Jakarta, sebab dekrit menyebutkan “Piagam Jakarta bertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan merupakan suatu rangkaian-kesatuan dengan Konstitusi tersebut”. Artinya Piagam Jakarta dan UUD 45 adalah hal yang tidak terpisahkan dan tidak bertentangan. Posisi Piagam Jakarta juga sangat kokoh, siapapun yang menggugatnya, berarti juga menggugat UUD 45. Piagam Jakarta tetap dapat menjadi dasar Islamis dalam bernegara, hanya saja banyak yang belum menyadari hal itu. Islamis sudah menang dari pencoretan 7 kata.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: