Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Kenang-kenangan Institut Suffah

JAGUNG, kelapa, ilalang, dan perdu-perduan liar. Kalau Anda datang ke Desa Bojong, Malangbong, Jawa Barat, tak terlihat bahwa di kebun itu pernah ada sebuah pesantren. Padahal di situlah, dulu, Kartosoewirjo mendirikan Institut Suffah, pesantren yang mengajarkan agama, politik, dan kemiliteran.

Di Malangbonglah awal Kartosoewirjo mempelajari Islam. Ia berguru kepada mertuanya, Ajengan Ardiwisastra, Kiai Mustafa Kamil dari Tasikmalaya, juga Kiai Yusuf Tauziri dari Wanaraja, yang boleh dibilang sangat berpengaruh terhadap sikap religius Kartosoewirjo.

Keakraban Kartosoewirjo dengan Kiai Yusuf Tauziri terjalin antara 1931 dan 1938, saat sang Kiai duduk dalam Dewan Sentral Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Kiai Yusuf kemudian menjadi salah seorang penasihat Kartosoewirjo. Kadang Yusuf, yang berkecenderungan berat ke tasawuf, dianggap bertanggung jawab atas kegemaran Kartosoewirjo pada mistik. Bahkan beberapa peneliti mengatakan Kiai Yusuf sebenarnya pemimpin spiritual yang sesungguhnya dari gerakan Darul Islam pada tahap permulaan. Ia membantu gerakan itu dari segi keuangan dan militer.

Pada 1936, dalam Kongres PSII di Batavia, Kartosoewirjo terpilih sebagai wakil ketua partai. Kongres ke-22 PSII itu menjadi momentum penting dalam karier politik Kartosoewirjo. Pada 1938, dalam kongres partai yang ke-24, diputuskan akan didirikan suatu lembaga pendidikan kader di Malangbong dengan nama Suffah PSII. Rencananya, lembaga yang bertujuan menjadi sarana pendidikan politik bagi kaum muslim ini akan dibuka pada 20 Februari 1939 di bawah pimpinan Kartosoewirjo sendiri sebagai Wakil Ketua PSII.

Namun rencana itu tak berjalan mulus. Pada 1939 terjadi perpecahan dalam tubuh PSII. Puncaknya, dalam kongres partai ke-25 di Palembang, Januari 1940, Kartosoewirjo yang berseberangan dengan para petinggi partai akhirnya dipecat melalui keputusan Dewan Eksekutif PSII. Ia juga dituduh telah menyalahgunakan dana partai.

Bersama Kiai Yusuf Tauziri, ia kemudian membentuk Komite Pembela Kebenaran (KPK) PSII, yang menurut dia merupakan kelanjutan yang sebenarnya dari PSII.

Pada 24 Maret 1940, Kartosoewirjo mendirikan Institut Suffah yang sempat tertunda. Nama itu diambil dari bahasa Arab, suffah, yang berarti “menyucikan diri”. Menempati area perbukitan sekitar empat hektare milik Ardiwisastra, lembaga pendidikan ini berada di sekitar jalan raya Malangbong-Blubur Limbangan. Tempatnya terpencil dari keramaian kota, di tengah-tengah kebun kelapa, dan masuk beberapa meter dari jalan raya.

Lembaga itu mirip pesantren. Siswanya menetap di sana. Selain mendapat pengajaran ilmu pengetahuan umum dan pendidikan agama, para siswa dididik ilmu politik. Kartosoewirjo sendiri mengajar bahasa Belanda, ilmu falak (astronomi), dan ilmu tauhid kepada siswanya yang berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dalam masa pendudukan Jepang, KPK-PSII-nya Kartosoewirjo di Malangbong dibubarkan Jepang. Meski begitu, Kartosoewirjo tetap memfungsikan Institut Suffah. Tapi dengan fokus pendidikan kemiliteran, karena saat itu Jepang getol memberi pelatihan militer. Siswa yang dilatih kemiliteran di Suffah lalu menjadi laskar Islam, Hizbullah dan Sabilillah, yang menurut sejumlah sejarawan kelak menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat.

Dalam perjalanannya, Institut Suffah berujung tragis. Pada 1948, bangunan lembaga itu dihancurkan tentara Belanda, dan hanya menyisakan puing-puing batu bata. Belakangan batu bata reruntuhan itu pun dijual istri Kartosoewirjo, Dewi Siti Kalsum, untuk membiayai pendidikan putra bungsunya, Sardjono. “Meski memiliki kenang-kenangan yang sangat berarti, apa boleh buat saya butuh uang untuk menyekolahkan Sardjono,” kata Dewi, seperti dikutip majalah ini edisi 5 Maret 1983.

Kini bekas Institut Suffah yang berada di belakang rumah Sardjono di Desa Bojong, Malangbong, itu tak sedikit pun menyisakan jejak kejayaan pesantren yang didirikan Kartosoewirjo.

2 Comments on “Kenang-kenangan Institut Suffah

  1. Suara Bawah Tanah
    Agustus 18, 2010

    Nice post..DI/TII masih jadi anak haram sejarah Indonesia..

  2. 'nBASIS
    Agustus 19, 2010

    Oh, dulu juga ada KPK. Dibubarkan ya (olh pihak asing: Jepang). ha ha
    Pak Sardjono di mana sekarang? Beliau utang kepada sejarah untuk bangun kembali Institut Suffah itu. Kopral Cepot bisa bantu beliaulah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Jejak Soeharto : Petualangan Politik Seorang Jenderal Godean oleh komeng chipasir Mei 28, 2012
    inget masa soeharto,rakyat ga ada yang perang saudara......walau korup tapi adem ayem,bahkan malaysia pun takut buat geser patok perbatasan
    komeng chipasir
  • Komentar di Mengintip Lobi Israel di Indonesia oleh Muhamad Ab Mei 28, 2012
    mengapa umat muslim anti Yahudi? zeonis sudah menguasai dunia,Yahudi telah membuktikan kekuasannya pada dunia,dimana negara timur tegah yang mayoritas negara muslim,tidak sanggup menentang kebijakan israel malah tunduk pada israel. Palestina tidak akan bebas dari belengku Israel Yahudi.apa bila Umat muslim tidak tunduk pada Israel.zionisme telah kuasai Indon […]
    Muhamad Ab
  • Komentar di Islam dan Pancasila : Betulkah Bersahabat ? oleh David Mei 28, 2012
    Saya mahasiswa & beragama Islam. Pancasila lah yg baik utk dasar negara yg majemuk serta multikultur seperti Indonesia. Bukan Islam, sebab pd realitanya Islam egois & fasis.
    David
  • Komentar di Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~ oleh xdiablo Mei 28, 2012
    "Maka didirikanlah Persatuan Perjuangan Priangan, suatu persatuan perjuangan untuk memertahankan kemerdekaan." Susah ya cari orang asli sunda/bandung yg jadi pejuang.... Persatuan Perjuangan Priangan didirikan oleh pejuang dari Minang, sedangkan Darul Islam didirikan oleh pejuang dari Jawa..... Moh. Toha yg disebut pahlawan dari sunda juga sampai s […]
    xdiablo

Ter-apresiasi..