Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Kartosoewirjo Vs Alex Kawilarang

AWAL 1950. Satu batalion Siliwangi bersenjata lengkap mengepung rapat sebuah rumah di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Pasukan bersiaga di segenap penjuru. Semua senapan teracung ke arah rumah itu. Di situlah diduga tinggal salah satu perwira Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, Haji Syarif alias Ghozin.

Tak menunggu lama, perintah tembak berkumandang. Peluru pun berhamburan. Sang target utama, Ghozin, malah luput dan berhasil melarikan diri. Hanya istri dan pembantu Ghozin yang bisa dibekuk.

Aneh. Kolonel Alex Evert Kawilarang, Panglima Tentara Teritorium III/Siliwangi, yang dua hari kemudian datang memeriksa, menaruh syak. “Harusnya seekor ayam pun tidak akan bisa kabur,” kata Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu “Imam” Darul Islam, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Alex meminta semua anggota pasukan yang terlibat pertempuran itu diperiksa. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan beberapa anggota pasukan Siliwangi punya hubungan kerabat dengan tokoh Darul Islam. Hubungan kerabat itulah yang membuat prajurit Siliwangi terkesan ragu melawan tentara Kartosoewirjo.

“Cerita itu tidak benar,” kata Kolonel (Purnawirawan) Suhanda, 82 tahun, mantan Komandan Kompi C Batalion 328 Kujang. Anak buah Suhanda, yakni Sersan Mayor (Purnawirawan) Dana, 68 tahun, juga ragu akan kesaksian Sardjono. Dua belas tahun setelah peristiwa pengepungan itu, Juni 1962, Kompi C berhasil menangkap Kartosoewirjo.

Tentara Islam ini memang liat dan ulet. Persenjataannya ala kadarnya dan pasokan logistik pun ekstraseret. Mereka bertahan bergerilya, dari gunung ke gunung, selama belasan tahun.

Dana mengakui keuletan Tentara Islam. Tapi ada juga faktor lain. “Fokus TNI terpecah karena banyak pemberontakan lain di luar Jawa,” ujar Dana.

Pada awal pemberontakan Tentara Islam, semula pasukan Siliwangi belum menemukan taktik yang jitu. Kolonel Alex menilai pasukan yang dipakai untuk menumpas tentara Kartosoewirjo terlalu besar. “Mobilitasnya jadi kurang. Lamban sekali,” kata Alex dalam biografinya. Alex mengakui kesulitannya menundukkan Kartosoewirjo kendati di awal pemeberontakan dia sempat berjanji akan menumpas Darul Islam dalam waktu enam bulan saja. Dia kemudian meminta pasukannya membentuk tim patroli dalam jumlah lebih kecil, tapi lebih gesit. “Cukup satu peleton saja, tapi harus terus bergerak, baik siang maupun malam.”

Patroli dalam tim-tim kecil ini pun kurang memadai menghadang pasukan Kartosoewirjo. Sebagian warga Priangan yang mendukung Kartosoewirjo memberikan tempat persembunyian bagi Tentara Islam. Alex menganalisis situasi pihak lawan menguasai medan dan didukung sebagian rakyat. Strategi yang dibutuhkan, menurut Alex, adalah strategi antigerilya.

Alex sudah kenyang pengalaman dalam perang gerilya dari penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan. Dia melatih anak buahnya berbagai jurus antigerilya, terutama hinderlaag (penghadangan), juga menentukan gevechtstelling atau posisi tempur. Strategi inilah yang akhirnya mematahkan perlawanan Tentara Islam.

Dua peneliti, Cornelis van Dijk dan Karl D. Jackson, punya sejumlah teori kenapa perlawanan Tentara Islam Indonesia bisa bertahan lama, bahkan jauh lebih lama dibanding Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Permesta, yang digerakkan sejumlah tokoh politik dan perwira militer.

Dukungan rakyat terhadap Darul Islam memang lebih kuat ketimbang respons masyarakat terhadap PRRI, yang elitis. Pada akhir 1960-an, Jackson meneliti 19 desa di Jawa Barat. Kesimpulannya, enam desa memihak Darul Islam, tujuh desa condong ke Pemerintah Republik, dan sisanya hanya mengikuti “arah angin”.

Harus diakui pula bahwa Kartosoewirjo lihai merengkuh simpati masyarakat dengan simbol Islam yang digunakannya.

About these ads

4 comments on “Kartosoewirjo Vs Alex Kawilarang

  1. 'nBASIS
    Agustus 19, 2010

    Berjanji mampu menumpas dalam tempoh 6 bulan, dan akhirnya limit waktu terlewati. ‘nBASIS curiga pengertian kedua istilah ini inderlaag dan gevechtstelling dalam pengertian bagaimana implementasinya di tangan Alex Kawilarang: apakah juga dimaksudkan pembumihangusan basis sosial pendukung dengan penuh kekejaman agar menjadi peringatan kepada yang lain (masyarakat sipil) seperti biasa dilakukan oleh pasukan-pasukan penakluk dalam hampir semua pertempuran? Data Cornelis van Dijk dan Karl D. Jackson terkait dengan itu.
    Kopral berpihak di mana antara Sardjono atau Suhanda dan Dana dalam peristiwa pengepungan dan pemborbardiran rumah Gozhin? Jangan-jangan bukan cuma hubungan darah di antara anggota pasukan penyerbu itu dengan Gzhin dan para pentolan lainnya. Malah dimungkinkan pula Kartosuwirjo sudah menanam orang-orangnya yang idiologis di sekitar Alex Kawilarang. Itu sebabnya pasukan diperkecil. Jadi strategi anti gerilya yang ada dalam pikiran Alex Kawilarang itu justru memastikan tak ada orang infiltran dalam tim inti.
    Entahlah ya.

  2. Ping-balik: Kartosoewirjo Vs Alex Kawilarang | TERLARANG

  3. toko herbal online
    Oktober 3, 2014

    terimkasih untuk postingannya..
    oia gan ini tuh cerita nyata? aku ga pernah denger soalnya berita tentang ini…
    terimakasih ;)

  4. Ping-balik: film indonesia vs belanda

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: