Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Kisah Pengalamannya …………

Wanita di sisi Kartosoewirjo ….

MATAHARI sudah lingsir ke ufuk barat ketika orang tua itu merebahkan diri di gubuknya. Keris “Ki Dongkol”, terselit di pinggang. Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, ketika itu 57 tahun, “Imam  Negara Islam Indonesia” itu merasa amat lapar, sementara luka di sebelah kakinya akibat tembakan semakin parah. Kencing manis yang sudah lama diidapnya juga makin mendera tubuhnya yang mulai rapuh.

Hutan di sekitar perbukitan Rakutak di kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung itu, mulai gelap tatkala Letda Suhanda dari Batalyon 328 Kujang berhasil menyergap persembunyian “Panglima Tertinggi Tentara Islam Indonesia” itu. Sore itu, 3 Juni 1962, Kartosuwiryo pun menyerah setelah bertahan 13 tahun sebagai pemberontak di hutan-hutan lebat Jawa Barat.

Dengan tenang ditandatanganinya seruan menyerah kepada seluruh anak buahnya, lalu menyalami Letda Suhanda. Sejak itu sekitar 200 pengawalnya yang bersenjata lengkap, kucar kacir. Demikian pula Dewi Siti Kalsum, istrinya, tak diketahui tempat persembunyiannya. Dewi, ketika itu 55 tahun, memang sudah beberapa bulan terpisah dari induk pasukan yang mengawal suaminya. “Selama di hutan itu saya hanya makan buah-buahan, daun-daunan dan minum air sungai,” tutur Dewi, kini 75 tahun (saat tahun 1980 – pen), pekan lalu di rumahnya di Kampung Suffah, Desa Cisitu, Kecamatan Malangbong, Garut.

Begitu mendengar suaminya menyerah, ia pun turun menuju Garut, menyerahkan diri. Disusul pula tujuh anaknya. Setelah diinterogasi beberapa hari di Bandung, Dewi pulang ke Cisitu. Untunglah ia masih berhak atas tanah warisan yang cukup luas, peninggalan orangtuanya, Kiai Ardiwisastera, salah seorang ulama terkemuka dan tokoh PSII di Garut. Ia kembali bertani, menanam padi dan jagung. Sekarang ia tinggal sendirian di sebuah rumah kecil berdinding papan di tepi jalan yang menghubungkan Malangbong – Wado – Sumedang.

Tapi ia tidak merasa kesepian, sebab semua anak dan 11 cucunya tinggal di desa itu. Bahkan Ika dan Danti, dua putrinya yang sudah berkeluarga, sering menjenguk. Untuk “membunuh waktu”, nenek tua itu membuat minuman dari air jeruk dibungkus plastik kecil, dijual di beberapa warung di desa itu. Dalam usianya yang sudah uzur sekarang ini, wanita tamatan HIS met de Quran Muhammadiah Garut itu mengaku sangat gemar membaca koran.

Barangkali karena selama 13 tahun di hutan dulu itu ia tak pernah membaca. Sering-sering koran-koran bekas pun ia lalap habis. Dewi tak mampu menjelaskan alasannya bersusah-payah mengikuti suaminya keluar-masuk hutan dulu. “Karena apa, ya, saya sendiri tidak tahu. Kalau disebut karena cinta misalnya, Bapak itu sebetulnya orangnya kan jelek,” ujarnya dengan nada suara datar tapi lancar.

Tapi sejak di zaman penjajahan dulu, sebagai istri orang pergerakan, Dewi selalu berpindah-pindah mengikuti suaminya, mondar-mandir antara Jakarta – Bandung – Yogyakarta, menumpang di rumah kenalan atau tinggal di rumah kontrakan. Belum lagi bila sang suami sebentar-sebentar berurusan dengan rumah tahanan. “Kalau Bapak ditahan, saya pulang ke kampung. Juga kalau saya mau melahirkan,” tutur Dewi lagi.

Sesungguhnya Dewi melahirkan 12 anak, tapi lima di antaranya meningal Kecuali tiga anaknya yang paling kecil yang lahir di tengah hutan, yaitu Ika Kartika, Komalasari dan Sardjono, anak-anaknya yang lain lahir di rumah. Mereka itu (sulung, meninggal ketika masih bayi), Tjukup (tertembak dan meninggal di hutan pada usia 16 tahun, 1951), Dodo Muhammad Darda, Rochmat (meninggal pada usia 10 tahun karena sakit), Sholeh (meninggal ketika masih bayi), Tahmid, Abdullah (meninggal ketika masih bayi), Tjutju (lumpuh), Danti. Karena itu ketika suaminya pada 1949 mulai memasuki hutan (mula-mula karena menentang Perjanjian Renville), Dewi pun dengan setia selalu menyertai.

Kartosuwiryo, suaminya itu, mula-mula dikenal sebagai orang pergerakan, penentang penjajah Belanda, tapi belakangan juga melawan RI. Sebagai perempuan, Dewi mula-mula takut juga hidup di dalam hutan dengan keadaan yang menyeramkan. Apalagi ketika itu ia masih menggendong Danti yang baru berusia 40 hari. Ketika itu memang ia masih sempat memikirkan masa depan anak-anaknya. Ia pun mengaku sering tercenung sedih. Tapi suaminya, Kartosuwiryo yang memang dikaguminya selalu menghibur: “Kok sedih amat sih?” Dan biasanya Dewi lantas bisa tenteram.

Dari hari ke hari, ia pun terbiasa tidur di rumput basah, di akar kayu yang dingin, berjalan kaki berharihan dengan perut kosong. Ketika itu ratusan ribu pengikut Kartosuwiryo masuk hutan pula, diikuti oleh istri dan anak-anak mereka. Maka sebagai istri sang pemimpin, Dewi pun harus pula membina kehidupan masyarakat di tengah hutan itu. Ia memberi semacam kursus PKK kepada istri-istri pengikutnya, mulai dari jahit-menjahit pakaian dengan tangan, sampai mengajar anak-anak menulis dan membaca huruf Latin dan mengaji Al Quran.

Kini, untuk meng-ongkosi hidupnya, Dewi bertani di tanah peninggalan Kiai Ardiwisastera. Areal tanah seluruhnya 6 ha, termasuk bekas lokasi Institut Suffah, pesantren yang didirikan Kartosuwiryo di zaman penjajahan dulu. Di sanalah dulu Kartoswiryo juga melatih prajurit-prajuritnya memakai senjata api. Tapi batu-batu bata bekas reruntuhan pesantren terkenal, yang pada 1948 dihancurkan antara Belanda itu, kini juga dijual Dewi sebagai bahan bangunan. “Sebenarnya meskipun hanya tinggal batu belaka, memiliki kenang-kenangan yang sangat berarti bagi saya. Apa boleh buat, saya butuh uang untuk menyekolahkan Sardjono,” katanya dengan amat tenang.

Sardjono, putra bungsunya itu, sekarang duduk di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Kakak-kakak Sardjono, setelah menyerah pada 1962, hanya sempat mengikuti kursus-kursus. Sebab selama di hutan mereka tentu saja tidak sempat mengikuti pendidikan formal. Beberapa tahun lalu memang masih ada tokoh-tokoh bekas DI/TII anak buah suaminya yang berkunjung dan memberinya sekadar uang. Tapi belakangan tidak lagi, terutama sejak 1977, ketika anaknya, Dodo Muhammad Darda dan belakangan Tahmid, ditangkap lagi karena mengikuti gerakan Adah Djaelani yang berusaha membangkitkan kembali “Negara Islam Indonesia” yang pernah diproklamasikan oleh Kartosuwiryo di Malangbong pada 7 Agustus 1949.

Adah Djaelani kini sedang diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena aktivitas gerakannya itu. “Mereka sudah tidak ada yang datang lagi ke mari. Lebaran pun tidak bersilaturahmi,” kata Dewi. “Barangkali mereka takut,” tambahnya. Maklum, penangkapan-penangkapan terhadap bekas-bekas DI/TII memang mulai gencar lagi. Meskipun enggan bicara soal politik, Si nenek menilai kebangkitan kembali gerakan DI/TII di tahun-tahun 70-an sebagai tidak sesuai dengan pesan “Imam” Kartosuwiryo.

Sebelum menjalani eksekusi pada bulan September 1962 di sebuah teluk di pantai Jakarta, Kartosuwiryo sempat mengucapkan sebuah wasiat di hadapan istri dan anak-anaknya di sebuah rumah tahanan militer di Jakarta. Menurut Dewi, ketika itu suaminya antara lain berkata, “tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun.” Dewi menangis.

Karto pun yang mencoba tegar, akhirnya mengusap air matanya. Menurut Dewi, sebagian besar bekas anak buah suaminya sudah mendengar wasiat yang harus dipatuhi itu. Mengapa belakangan muncul Jamaah Darul Islam yang dipimpin Adah Djaelani? “Di sinilah sulitnya anak-anak itu. Mereka rupanya tidak minta petunjuk Tuhan. Mereka tidak berpikir matang-matang. Mereka itu semberono sekali, padahal Bapak sudah berpesan tidak ada lagi perjuangan seperti itu,” kata Dewi seperti mengeluh.

Tapi diakuinya ada sebagian bekas prajurit Kartosuwiryo yang mematuhi wasiat tersebut. Pendapat seperti itu keluar dari mulut seorang wanita yang sudah berkeriput, dengan urat-urat yang menonjol di kaki dan tangannya sebagai tanda penderitaan yang panjang. Warna putih sudah pula menyergap segenap rambutnya. Meski begitu kulitnya masih tampak kuning, dan bersih, melantunkan bekas-bekas kecantikannya. Dan si nenek berusia tigaperempat abad ini masih berusaha berjalan tegak, mengunyah nasi keras atau daging meskipun jajaran gigi depannya sudah rampal. Orang tua ini memang tampak segar, barangkali lantaran ra1in minum ramuan jamu dari dedaunan dan akar-akaran.

Sejak masih gadis, bahkan ketika hidupnya morat-marit karena berkelana belasan tahun di hutan, ia tetap minum jamu bikinannya sendiri dengan resep tertentu. “Rasanya pahit sekali, tapi khasiatnya bagus,” katanya. Ia mengaku pikirannya pun masih jernih. Dewi lahir dari keluarga yang berkecukupan. Dan rupanya ia sangat dekat dan terkesan dengan sikap hidup ayahnya, Ardiwisastera. Pada usia 8 tahun, ia pernah diajak ibunya, Raden Rubu Aisyah, berjalan kaki belasan kilometer ke Tarogong menengok ayahnya di rumah tahanan. Pengalaman ini agaknya sangat membekas di hatinya. Ketika itu, 1916, terjadi keributan di Cimareme, Garut. Beberapa kiai memelopori pembangkangan terhadap kewajiban menjual padi kepada pemerintah Hindia Belanda. Akhirnya Haji Sanusi dari Cimareme, ditembak mati disusul penangkapan besar-besaran terhadap para kiai, termasuk ayah Dewi — berikut beberapa santrinya.

Dua belas tahun kemudian, ketika Dewi, yang manis berusia 20 tahun, muncullah seorang pemuda dari kota di rumah Dewi. Ia pintar bicara, penuh daya tarik. Ia memang sangat terkenal karena Sekretaris pribadi “singa podium” H. Oemar Said Tjokroaminoto. Tiada lain dialah Maridjan, ketika itu 23 tahun. Bukan tanpa alasan kalau Maridjan mampir ke rumah Kiai Ardiwisastera yang juga tokoh SI di Garut itu. Ia memang sedang mengumpulkan sumbangan dari para warga SI untuk membiayai keberangkatan Haji Agoes Salim, tokoh SI lainnya yang juga sangat terkenal ketika itu, untuk ke Negeri Belanda memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tapi di rumah itu Maridjan tidak hanya menerima sumbangan uang, melainkan juga seorang istri. Maridjan-Dewi menikah tahun itu juga, 1929. Bagi Maridjan, gadis yang dipanggilnya Wiwi ini ada “pertalian darah” dengan sebagai sama-sama keturunan Aria Penangsang — tokoh dari kawasan Jipang dalam sejarah Kerajaan Demak di abad ke-15 yang terlibat dan terbunuh dalam perebutan kekuasaan setelah pamor Demak merosot.

“Semula saya bakal mantu Haji Agoes Salim,” cerita Maridjan pada Ateng Djaelani, tokoh DI yang lain. Karena konon Salim kalah berdebat dengan Maridjan, semuanya batal. Maridjan, tokoh SI dan pemimpin redaksi surat kabar Fadjar Asia itu sangat mengesankan mertuanya. Bisa maklum, sebab anak kelahiran Cepu (Jawa Tengah) ini — yang pernah 4 tahun di Sekolah Tinggi Kedokteran NIS Surabaya — menguasai soal-soal kemasyarakatan. Ia banyak membaca buku-buku mengenai sosialisme dan komunisme, mungkin diperoleh dari pamannya Mas Marco Kartodikromo, jurnalis terkenal saat itu. Sebaliknya sang menantu pun memanfaatkan pengaruh mertuanya sampai sang menantu berhasil mendirikan pesantren yang diberinya nama Institut Suffah — selanjutnya sebagai basis menentang penjajah dan kemudian basis pembentukan DI/TII setelah proklamasi kemerdekaan. Ardiwisastera sendiri belakangan mengikuti jejak menantunya bertualang di hutan dan meninggal pertengahan 1950, sekitar Gunung Galunggung. Yang sangat mengesankan dari kehidupan Dewi sekarang ialah sikapnya yang begitu tenang, bahkan cenderung diam. Riwayat hidupnya yang lebih banyak dilumuri duka derita itu diceritakan nyaris tanpa emosi.

Sumber Majalah Tempo Edisi 05 Maret 1983

Quote :

Anda bukan orang biasa, jika karena membaca pertanyaan ini, hati Anda bergetar dan ada yang menepuk dada Anda dari dalam: “Kira-kira, Anda akan diingat oleh sejarah Indonesia – sebagai apa?” (Mario Teguh)

About these ads

30 comments on “Kisah Pengalamannya …………

  1. Padly
    Juni 10, 2010

    “tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun.”

    Berarti wacana Negara Islam sdh selesai Kopral?

    —————-
    Kopral Cepot : Dari “Jabal” ke “City” juragan … jangan bawa cara Jabal di kota ;)

    • Padly
      Juni 15, 2010

      Gimana kamsudnya Kopral,? ora mudeng aku.

      • Kopral Cepot
        Juni 15, 2010

        itu kata “seperti ini” pada “sifat perjuangan” bukan pada “cita2 perjuangan”. jadi kalimat “tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun” sy pahami perjuangan dalam masa “fi waqtil harbi” dengan cara berjuang “qital” dan di “jabal” …..

        btw … ini menurut sy, entah menurut yg dimaksud ibu Dewi saat itu.

        Semangat always ;)

        • Padly
          Juni 15, 2010

          Ok… Sudah paham maksudnya. Hatur tararengkyu!

  2. Blog Keluarga
    Juni 11, 2010

    Akhirnya membaca sejarah lagi di sini… Salam.. dan juga akhirnya mengenal sosk Dewi ini… kalo sekarang keadaanya gimna sob???

    ————
    Kopral Cepot : Sudah meninggal juragan … itu wawancara tahun 1983 saat beliau sudah berusia 75 tahun.

  3. wardoyo
    Juni 12, 2010

    Amazing… sebuah catatan sejarah yang indah.
    Salut untuk bung kopral.

  4. chanskynovsky
    Juni 12, 2010

    kere,,lebih hebat dari wanita2 pejuang lainnya spt kartini, dewi sartika dll

    nice post gan

  5. majorprad
    Juni 14, 2010

    Posting yang menggetarkan Kop…

    “…Ardiwisastera sendiri belakangan mengikuti jejak menantunya bertualang di hutan dan meninggal pertengahan 1950, sekitar Gunung Galunggung.”

    Betapa hebatnya sang menantu. Dahsyat! Kalau zaman sekarang sih menantu ikut mertua. Prinsip ABS (Asal Bapak Senang). Beda dengan Kisah Pak Maridjan Sang “Pemimpin kepala batu”. Mertua pun turut serta berjuang membebaskan masyarakat dari belenggu penjajahan.

    Batu itu keras. Enggan bercampur dan berkompromi dengan penjajah.
    Menanti sosok Pemimpin kepala batu ala Pak Maridjan.

    Salam Perubahan! :D

    • Galang
      Juni 15, 2010

      komen yang menggugah ;)

    • wardoyo
      Juni 20, 2010

      Sikap “kepala batu” dari Mr. Maridjan barangkali diturunkan dari moyangnya yang hebat – Aryo Penangsang. Lugas, welas asih terhadap keluarga dan teguh pendirian… hmmm.
      Jadi merenung lagi.

      • Galang
        Juni 20, 2010

        butuh terus menerus merenung ;)

        • majorprad
          Juni 22, 2010

          merenung dengan perbuatan :)

  6. Ping-balik: Kisah Pengalamannya ………… | membangunkan negeri

  7. Usup Supriyadi
    Juni 18, 2010

    dari awal hingga akhir memang memberikan sebuah gambaran seorang wanita yang luar biasa. dan jujur sekali, mengatakan suaminya, jelek! :mrgreen:

    terus terang, saya tersentak dengan qoute terakhir dari Mario Teguh… jadi kepikiran, sebagai apa ya ??? hm…..semoga yang baik-baik dah… (loe yang nentuan sup!) iya…

  8. Asep Mulyana
    Juni 24, 2010

    Kang Cepot anu kasep. kaleresan uyut abdi urang nagreg. kapungkurteh nuju usum goromolan uyut abdi kantos ditewak ku goromolan teras anjeunna dipaksa nyaksian rahayat anu dipareuncitan ku goromolan. ti saprak harita uyut teh soak teras ngiring ngungsi kalampung dugi ka ayeuna teu kersa uih ka nagreg. Patarosan abdi ari goromolan sareng DI/TII teh sami atanapi henteu, upami sami naha atuh tega meuncitan jeung ngarampok rahayat anu keur di belana. Hatur tengkyu ….

    • aep tea
      Desember 8, 2011

      pun bapa alm nyarios antara DI/TII sareng TNI aya pihak nu ngadu domba nyaeta PKI ,tah PKI teh ngadurukan rompok sareng meuncitan rakyat supados rayat ngabenci DI/TII….. wallahu alam bisawab.

  9. Pemuda Katipu Seluruh jiwa raga
    Juni 26, 2010

    Subhanalloh bu dewi begitu tabahnya … pribadi godogan suaminya pak Maridjan … jadi tertarik biografi dan sepak terjang kisah pak maridjan .. the true story of SMK .. sok ah bisa disajikan g k cepot ? (nice post)

  10. nbasis
    Juni 30, 2010

    DI/TII lama (orisinal) dan DI/TII baru. Itu mungkin yang belum ditulis Kopral

    ————–
    Kopral Cepot : lagie ancer2 kesana ;)

  11. gunil
    September 24, 2011

    Mudah-mudahan apa yang ku baca ini membuat diri semakin semangat untukmenorehkan sebuah kisah hidup yang menjadi sejarah

  12. asep
    Desember 8, 2011

    DI/TII -NII-NKA perjuangan pisiknya sdh berahir 1962 , tetapi idiologinya takan mati akan muncul dng nama lain…..walahu alam bisawab

  13. hasbi muhammad azzam
    Januari 3, 2012

    perjuangan demi tegaknya kalimat Alloh takan berakhir sampai hari qiamat

  14. Ujang lana
    Juli 16, 2012

    Tragis, tp buat trenyuh. Smga alloh membalasnya tntang jrih kringat yg d prasnya dmi trcpai tujuan.

  15. Suara Hati
    September 5, 2012

    Subhannalloh.. Ya Allah S.W.T. engkau pasti memberi maksud dari segala ujian dan takdir ini.. semoga hamba istiqomah dan hati hamba tidak pernah berpaling dari kalimat syahadat yang sebenar-benarnya syahadat.. ya Allah S.W.T seandainya sejarah sebenar-benarnya sejarah terungkap dan Engkau membukakan hati mereka maka hilanglah ladang amal yang sangat besar dalam perjuangan untuk menegakkan kalimat Alllah untuk hamba..

    bismillahirrahmanirrohimm….

    • ASEP
      September 7, 2012

      ahirnya datang juga sebuah buku yang mengungkap fakta sejarah setelah 50 th mengendap ,HARI TERAHIR KARTOSUWIRYO

  16. ra Wa Liang Mieng
    September 7, 2012

    sebenarnya ini hanya sebuah kisah ” intermezo ” jauh dari kutub pandang sejarah. bolehlah hanya sebagai obat penat , pelepas lelah atau bisa dibilang sebagai saingan ” humorologic ” nya bung kopral cepot ….yaa bolehlah .

    begini ceritanya sejarahnya : saya punya pendamping hidup atau teman hidup yang aslinya orang priangan tepatnya lokasi tanah airnya antara singaparna dengan kota garut. konon disitu itu adalah basis markasnya perjuangan di/tii . lepas dari itu semuanya yang berkaitan dengan cerita yang akan saya kemukakan ini dalam hal ini berhubungan dengan istri dari seorang petinggi militer di/tii yang berpangkat mayor. bisa jadi adalah tangan kanan smk dalam operasi militernya. tidak heran bila waktu terjadi peristiwa di/tii rumahnya dijaga dan dikepung pasukan dari kodam siliwangi.

    tapi ” aneh dan heranya ” meskipun rumah selalu dikepung dan dijaga ( tentu saja diawasi ) sang istri selalu hamil padahal sang mayor ( komandan militernya smk ) ada dalam perlawanan dan didalam hutan . sampai sekarang inipun masih menjadi kanya tanda – tanya ” kok bisa hamil terus yaa padahal rumah selalu diawasi dan dikepung dan sang istri diikuti kemana perginya ” BENAR2 INI KISAH NYATA DAN REALITA …….saya ingin jawaban dari bung kopral secara logika dan masuk akal ( tentu saja saya juga punya jawabanya ).

  17. pepep
    Februari 8, 2013

    menarik sekali tulisannya, sedikit koreksi.. gunung yang dimaksud Rakutak adalah gunung yang terletak di Bandung Selatan antara Pacet dan Paseh… bukan di Cicalengka.. perbukitan yang dimaksud itu adalah perbukitan gunung Sanggar, Geber dan Rakutak.. lembahan yang dimaksud di sini adalah lembahan Neeleum..

  18. pepep
    Februari 8, 2013

    eh mas’e mau tanya satu kali lagi…
    apa initulisan diambil langsung dari tempo apa adanya atau disarikan kembali??

    thanks ya..

  19. remotepc
    Februari 8, 2013

    no komen

  20. Dedi Kusdinar
    Oktober 18, 2013

    Saya salut sekali pada ibu dewi yang setia menemani suaminya.
    zaman sekarang masih ada ga ya?

  21. Yan
    Januari 12, 2014

    Abi orng babakan desa cisitu kec malangbong. .

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Lasjkar Rakjat oleh gploes September 19, 2014
    mau nanya nih siapa 4 organisasi pemuda stelah indonesia merdeka
    gploes
  • Komentar di Sang Raja Tanpa Mahkota : Hidup Dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto oleh Lila sepang (HOS Tjokroaminoto) September 18, 2014
    Halo kopral cepot. Saya lila sepang tjokroaminoto, salah satu perwakilan keluarga besar HOS Tjokroaminoto. Pertama2 menghaturkan terima kasih atas artikel mengenai eyang kami tercinta. Saat ini kami sekeluarga sdg mengumpulkan semua bahan ttg beliau serta browse smw artikel yg ada. Mohon boleh memberi sedikit input. Tgl lahir beliau ya g benar adalah 16 Agus […]
    Lila sepang (HOS Tjokroaminoto)
  • Komentar di Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih oleh Bhatara Simatupang September 17, 2014
    Mmng kalo kita brbicara sejarah Bangsa Batak baik tokoh maupun adat selalu trbentur dgn Agama. Dr literatur sejarah yg saya baca karangan Lance Castle - Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera ; TAPANULI, d situ d singgung ttng ajaran dan agama yg d jalankan SM RAJA XII agama "PARMALIM" tp coba kita telaah dari segi dan turunan Bahasa dari […]
    Bhatara Simatupang
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh Borpati September 17, 2014
    Benar adanya dan saya sependapat bahwa Sisingamangaraja tidak menganut agama mana pun (tidak: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha). Tidak juga agama atau kepercayaan PARMALIM. Perlu dicatat bahwa Istilah "agama/Kepercayaan PARMALIM" baru muncul pasca Sisingamangaraja XII, bersendikan ajaran BATAK asli dan kepercayaan Batak Asli yang dijalankan o […]
    Borpati

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: