Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Biarkan “Perang Bubat” Berlanjut

gajah madaUMUMNYA sejarah “Perang Bubat” yang diungkapkan dalam bentuk novel atau prosa liris, hampir sama, menceritakan tentang gagalnya pernikahan Dyah Pitaloka (Citraresmi) dengan Hayam Wuruk akibat pengkhianatan Mahapatih Gajah Mada. Tokoh Gajah Mada menjadi sosok yang dibenci urang Sunda karena Gajah Mada dianggap berkhianat kepada rajanya, Prabu Hayam Wuruk.

Dengan tipu daya untuk menyulut amarah Linggabuwana, Gajah Mada meminta agar Pitaloka – yang tadinya akan dijadikan permaisuri Hayam Wuruk, agar diserahkan sebagai upeti. Gajah Madalah yang mengobarkan api peperangan, ketika hati Maharaja Linggabuwana (ayah Pitaloka) terluka, merasa dihina dan direndahkan, lalu memilih untuk melawan karena tidak mau menyerahkan putrinya sebagai upeti. Peperangan yang tak seimbang itu, tentu saja lebih merupakan sebuah pembantaian. Maharaja Linggabuwana, permaisuri, dan pasukan pengawalnya gugur di Bubat. Sementara Pitaloka memilih bunuh diri demi harga diri. Satu-satunya pengawal yang berhasil lolos adalah Pitar. Kisah tragis itu membuat banyak urang Sunda yang kanyenyerian, sakit hati, dan perasaan itu tetap terpelihara, hingga sekarang.

Menurut arkeolog lulusan Uiversitas Indonesia, Dr. Agus Aris Munandar, umumnya cerita tentang Perang Bubat yang mengilhami para penulis fiksi sejarah, bersumber dari buku Kidung Sunda. Akan tetapi, salah seorang pengarang yang paling banyak menulis fiksi berdasarkan peristiwa dalam sejarah Sunda, Yoseph Iskandar, termasuk novelnya mengenai Perang Bubat, menyebut sumbernya berdasarkan naskah “Pangeran Wangsakerta”.

Ketika berlangsung “Dialog Budaya Sekitar Perang Bubat” di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan, Jawa Timur, tanggal 30 September lalu, Dr. Agus Aris Munandar menyampaikan tafsir baru mengenai Perang Bubat. Menurut Agus, rencana pernikahan Hayam Wuruk dengan Pitaloka bukanlah atas prakarsa Ratu Sepuh Tribhuwanatunggadewi. Pernikahan itu justru telah direncanakan Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuwana. Gajah Mada menginginkan pernikahan itu, sebab niatnya untuk mempersatukan Sunda dengan Majapahit akan terwujud tanpa harus melalui peperangan. Hal yang sama juga diharapkan oleh Maharaja Linggabuwana karena pernikahan itu akan membuat wilayah Kerajaan Sunda semakin luas.

mbahmadaLalu kenapa Gajah Mada berkhianat? Inilah yang dianggap sebagai tafsir baru Agus. Ternyata tanpa sepengetahuan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, diam-diam orang tua Hayam Wuruk (Cakradara/ Tribhuwanatunggadewi) telah menjodohkan Hayam Wuruk dengan Padukasori, putri Kudamerta/Rajadewi Maharasasa. Rajadewi adalah adik Tribhuwanatunggadewi. Kudamerta yang mendengar Gajah Mada telah melamar Pitaloka sebagai permaisuri Hayam Wuruk, berhasil memengaruhi Ratu Sepuh Tribhuwanatunggadewi untuk menggagalkan pernikahan tersebut. Gajah Mada terpaksa mengikuti kemauan orang tua Hayam Wuruk, mengubah posisi Pitaloka yang tadinya sebagai permaisuri, menjadi selir. Sikap Gajah Mada tersebut dirasakan Maharaja Linggabuwana sebagai penghinaan padahal Gajah Mada sendiri merasa sedih harus berbuat seperti itu. Maharaja memilih untuk berperang daripada menyerahkan putrinya sebagai selir. Maka terjadilah Perang Bubat. Akibatnya, menurut Agus, “Gajah Mada disalahkan oleh sejarah”.

Dalam Dialog Budaya di Trowulan, saya mempertanyakan tentang sebutan Perang Bubat, karena ada yang berpendapat, yang terjadi di Bubat itu bukanlah perang, tetapi lebih layak disebut pembantaian terhadap Raja Sunda bersama pengawalnya – sebab jumlah pasukan Gajah Mada dan pengawal Raja Sunda tidak berimbang. Akan tetapi menurut Agus, dalam semua naskah kuno, selalu disebut adanya Pabubat atau Perang Bubat. Sementara itu, wartawan senior Her Suganda lebih suka menyebutnya sebagai “Peristiwa Bubat”.

Dalam “Dialog Budaya Sekitar Perang Bubat” yang berlangsung tanggal 21 Oktober di Hotel Preanger, Agus menyampaikan tafsir barunya itu di hadapan sejumlah tokoh Sunda. Reaksinya, ada yang bisa mendengarkan dan memahami tafsir baru tersebut, tetapi ada juga yang tetap meyakini Gajah Mada sebagai tokoh yang telah berkhianat, dengan segala kelicikannya untuk menaklukkan Sunda.

Karakter kepemimpinan

Ketika saya menulis prosa liris yang diberi judul “Citraresmi – Riwayat Menyayat Perang Bubat” (diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama), saya mengungkapkan peristiwa di Bubat itu seperti yang diyakini umumnya masyarakat Sunda selama ini. Tidak ada tafsir baru seperti Dr. Agus.

Kalaupun boleh disebut sebagai tafsir baru, melalui buku tersebut saya lebih menitikberatkan terhadap karakteristik tokoh-tokoh utama dalam Peristiwa Bubat itu, sebab dengan cara seperti itu kita akan lebih jernih “memahami” sepak terjang mereka.

Tokoh utama yang saya maksud adalah Gajah Mada, Hayam Wuruk, Pitaloka, Maharaja Linggabuwana, dan Bunisora Suradipati. Dalam prolog buku tersebut, saya ungkapkan seperti ini:

“Siapakah yang bersalah?
ketika masing-masing punya jawaban
untuk mewujudkan keinginan
Hayam Wuruk yang bijaksana
tapi kurang berani mewujudkan keinginan
Gajah Mada yang setia mengabdi pada negri
tapi terikat dan termakan sumpah sendiri
Maharaja Linggabuwana yang tulus dan lurus
tapi tak mampu membaca rekaperdaya
Citraresmi yang cantik dan berbakti
tapi terlalu setia mengikuti kata hati
Masing-masing memang punya alasan
untuk memilih yang terbaik
berbakti bagi negri

Biarkan sejarah bicara
apa adanya
mari kita buka kembali
lembaran silam yang kelam
dengan hati yang bening”.

Dalam buku prosa liris tentang Peristiwa Bubat itu, saya mempertajam “mahadaya cinta” antara Hayam Wuruk dan Pitaloka, termasuk mendramatisasi kematian Raja Sunda dan Pitaloka, sehingga akan tergambar sikap Gajah Mada yang “menghalalkan segala cara” untuk mewujudkan sumpah amukti palapanya.

Akan tetapi, Gajah Mada adalah seorang perwira tangguh yang punya prinsip harus “selalu menang dalam perang”. Prinsip itu ia dedikasikan untuk kehormatan raja dan kejayaan negeri. Dari sisi ini, sesungguhnya kita harus bisa memahami karakter Gajah Mada. Ketika Hayam Wuruk bersikukuh ingin menjemput Raja Sunda dan Pitaloka dengan upacara kebesaran, Gajah Mada juga berusaha keras untuk menggagalkannya. Saya mencoba mengungkapkannya secara imajinatif melalui sebuah ratapan permohonan:

“Tolonglah hamba, Paduka
jangan biarkan hamba melanggar sumpah
yang akan menodai pengabdian
pada kebesaran raja dan negara
selama ini hamba tak pernah memohon balas jasa
dan tak pernah menuntut apa pun
karena pengabdian hamba lakukan
dengan ketulusan hati nurani
demi kejayaan negri
tapi hanya untuk kali ini saja
izinkan hamba untuk memohon
Paduka tak usah menyambut ke Tegal Bubat
biarkan hamba yang datang
menyambut tamu agung
calon prameswari baginda, Puteri Citraresmi”.

Hayam Wuruk akhirnya luluh, dan Gajah Mada diam-diam mengerahkan ribuan pasukannya menuju Bubat. Ia meminta Raja Sunda agar menyerahkan Pitaloka jadi upeti. Lalu terjadilah Peristiwa Bubat itu.

Maharaja Linggabuwana, saya gambarkan sebagai raja yang berpikiran lurus, tidak “punya pikir rangkepan”, tidak bisa membaca rekaperdaya. Ketika diingatkan oleh adiknya Bunisora Suradipati agar jangan pergi ke Majapahit, jangan mau menyerahkan Pitaloka untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk, sebab kalau Raja datang untuk menyerahkan putrinya, berarti ia telah melanggar adat Karuhun. Menurut Bunisora, semestinya Hayam Wuruk yang datang ke Kerajaan Sunda untuk menikah dengan Pitaloka. Peringatan Bunisora malah ditentang oleh Linggabuwana, meskipun dalam hatinya ia merasa telah melakukan sesuatu yang tidak semestinya.

Saya sangat tertarik mengungkapkan karakter Bunisora, yang saya anggap lebih pantas disebut sebagai “Bapak Bangsa”. Terbukti setelah Peristiwa Bubat, calon raja yang masih kecil, Niskala Wastukancana (adik Pitaloka) dididik oleh Bunisora, dipersiapkan untuk menjadi seorang raja yang kelak memang menjadi raja terlama dalam memerintah, sekitar 100 tahun. Dalam epilog buku tersebut, saya menggambarkan sosok Bunisora seperti ini:

“Akan halnya Bunisora
ia menjadi begitu berjasa
karena telah belajar dari peristiwa kelam
tanpa menebarkan dendam
melainkan telah mewariskan keteladanan
yang kelak mengantar Niskala Wastukancana
menjadi raja yang paling lama berkuasa
raja yang menebarkan rasa aman dan tenteram”.

Hayam Wuruk dan Pitaloka adalah dua tokoh belia, yang saya gambarkan lebih suka “menuruti keinginan orang tua”.

Peristiwa Bubat adalah kejadian sejarah, dan akan lebih terasa hikmahnya bila digunakan sebagai tempat untuk becermin. Pemahaman kita tentang Peristiwa Bubat akan lebih jernih seandainya kita memosisikan diri untuk belajar dari peristiwa tersebut, termasuk memahami tokoh-tokoh pelakunya, memahami karakternya. Sebaiknya kita memahami mengapa Gajah Mada, Linggabuwana, Hayam Wuruk, dan Pitaloka, memutuskan sesuatu yang dianggapnya “harus dilakukan”, dan kemudian menjadi mata rantai sebab akibat Peristiwa Bubat. Saya mencoba mengungkapkannya seperti ini:

“Demikianlah kisah yang terpatri
di sanubari orang Sunda
melekat turun-temurun
dari masa ke masa
kadang dipahami
sebagai suatu pantangan
yang berlebihan

Padahal kalau kita simak
dengan sikap yang bijak
maka akan nampak
begitu banyak
tokoh pelaku sejarah
dalam Perang Bubat
yang teguh pada pendirian
dengan segala kelebihan
dan kelemahan”.

Dengan sudut pandang seperti itu, setiap peristiwa bersejarah akan dipahami sebagai rangkaian pembelajaran, tanpa harus terlibat dalam perasaan yang dialami tokoh-tokohnya. Begitu juga, ketika kemudian ditemukan hal-hal baru berdasarkan bukti-bukti ilmiah, maka akan selalu menjadi sesuatu yang berharga untuk dikaji.

Kalau kemudian ada yang bertanya, setujukah Anda jika Peristiwa Bubat dibuat film? Saya akan bilang setuju, tentu saja dengan catatan, film tersebut harus digarap dengan sungguh-sungguh, sehingga hasilnya menjadi sebuah karya yang bisa dibanggakan, apalagi kalau menjadi sebuah karya yang monumental. Kalau hasilnya hanya untuk meraih keuntungan semata, tanpa memedulikan kualitas – bahkan ke luar jalur, wajar bila banyak yang merasa keberatan.

Terjadinya kontroversi tentang Peristiwa Bubat, apakah itu munculnya tafsir baru atau kisah baru, tidaklah menjadi soal sepanjang itu berdasarkan penemuan-penemuan autentik yang bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Terlebih lagi, jika itu labelnya sebuah fiksi, maka pengarang akan lebih bebas mengumbar imajinasi.

Biarkan, bila banyak yang tertambat terhadap Peristiwa Bubat. Dengan begitu, generasi berikutnya akan mengenal bahkan memahami peristiwa bersejarah secara kritis.

Tulisan : Eddy D. Iskandar,/Penulis Skenario/Ketua Umum FFB/Pemred “Galura”, Sumber PR.

About these ads

54 comments on “Biarkan “Perang Bubat” Berlanjut

  1. euis
    Juli 23, 2011

    suami gue org jatim sementara gue org jabar, mmg sifat nya msh keturunan gajah mada kalee, setiap malam maunya menikam gue….gue terpaksa pasrah ah ah ah ha gajah gajah gajah

    • embuh juga
      Juli 23, 2011

      mbacot ga jelas

    • embuh juga
      Juli 23, 2011

      mbacot ga jelas and jumancook way

    • si emen thea
      Desember 19, 2011

      eta mah kaleresan,kaseneng euis kacumponan he…he….he

  2. gogo
    Juli 26, 2011

    udah ditakdirkan..

  3. Agus Syafei Madeu Thea
    September 26, 2011

    tragedi bubat ga mengarah peperangan tatapi melain kan mengarah pembantain dari segi critanya jjuga wong raja sunda berangkat niat nya juga bukan tuk perang tapi tuk menjalin siraturahmi mengawinkan anak nya dengan hayam wuruk makany bawa pasukan sedikit…
    terus gajah mada dengan persipan pasukanya dengan jumlah banyak kan itu udah ada niat menyerang….
    smoga dari crita ini kita mendapat hikmahnya dan perjarannay,,, bagi orang sunda agar tidak terlalu percaya sama janji janji yang bisa menjerumuskan kita…crita ini sampai sekarang masih hidup dan bisa saya rasakan kenyataan nya..

  4. dildaar80
    September 27, 2011

    Beberapa poin fakta budaya masa itu (abad 14) yg mengarah pd Pabubat:

    1. Pada masa Pra Islam (Hindu) baik Jawa maupun Sunda bila Pihak Wanita Melamar Pihak Pria dan Mendesak agar lamarannya diterima adalah biasa.

    2. Pada masa itu harga diri sangat dijunjung tinggi, ketersinggungan sedikit berakibat fatal dst. Jalan penyelesaiannya selalu darah..
    Contohnya adalah hal berikut:

    Tradisi leluhur Lamongan warga Lamongan Jawa Timur, yang berkaitan
    dengan sejarah Lamongan adalah adanya cerita Panji Laras Liris, yang
    masih di ugemi sebagian warga Lamongan yakni ,calon pengantin
    perempuan harus meminang(melamar)calon pengantin laki-laki. Hal ini
    masih mentradisi di daerah perdesaan dan umumnya warga mayarakat
    Lamongan.

    Tradisi ini bermula dari salah satu leluhur Kab.Lamongan yang bernama
    Mbah Sabilan, dalam riwayat cerita ini saat ini masih di ceritakan
    atau di dongengkan kepada anak-anak kecil yaitu adanya Putra bansawan
    bernama Panji Laras Liris yang hidup sekitar tahun 1640-1665
    Kab.Lamongan dipimpin Bupati ketiga.Yakni, Raden Panji Puspa kusuma
    dengan gelar Kanjeng Gusti Adipati.

    Bupati tersebut mempunyai dua putra yaitu bernama Panji Laras dan
    Panji Liris yang ganteng dan gagah-gagah sehingga terdengar di daerah
    lain dan mengakibatkan dua putri dari Adipati Wirasaba(wilayahnya
    sekitar Kertosono Nganjuk) yakni bernama Dewi Andanwangi dan Dewi
    Andansari jatuh hati untuk ingin di nikahi.

    Karena Adipati Wirasaba didesak oleh ke dua putrinya akhirnya beliau
    menuruti keinginan putrinya untuk melamar Panji Laras dan Panji Liris
    di Lamongan, yang pada saat itu Wirasaba belum memeluk agama Islam,
    sedangkan di Lamongan Islam sudah berkembang sampei sekarang.

    Untuk menyikapi hal itu Panji Laras dan Panji Liris meminta hadiah
    berupa dua genuk ( tempat air di jawa terbuat dari tanah/ keramik) dan
    dua tikar yang terbuat dari batu, sebab genuk mangandung isyarat
    tempat untuk mengambil air wudhu sedangkan tikar untuk sholat yang
    mempunyai tujuan agar Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mau masuk
    islam.

    Kemudian Adipati wirasaba memenuhi permintaan itu, dan ke dua putrinya
    membawa langsung benda-benda tersebut dengan naik perahu yang di kawal
    oleh prajurit. Kedatangan ke dua putri tersebut di sambut langsung
    oleh Panji Laras liris di pinggir kali lamongan. Ketika akan turun
    dari perahu kain panjang Dewi Andansari dan Dewi Andawangi terbuka dan
    kelihatan betisnya. Melihat betis ke dua putri tersebut Panji Laras
    maupun Panji Liris tercengang ketakutan karena melihat betis ke dua
    putri itu berbulu lebat.

    Hal ini dianggap suatu penghinaan bagi prajurit Wirasaba, kemudian
    mereka mengejar Panji Laras dan Panji Liris, akan tetapi para prajurit
    dari lamongan juga harus melindungi kedua pemuda tersebut yang
    akhirnya terjadi perang Babad. Dalam perang tersebut Panji Laras dan
    Panji Liris tewas, termasuk Patih Mbah Sabilan. Jenazah mbah Sabilan
    dimakamkan dikelurahan Tumenggungan ,sedangkan jenazah Panji Laras dan
    Panji Liris tidak diketemukan dan saat ini nama Panji Laras -Panji
    Liris dan Dewi Andansari serta Dewi Andanwangi menjadi nama sebuah
    jalan jalan di kota Lamongan.

    http://angon-sapi-89.blogspot.com/2010/05/tradisi-wanita-lamongan-yang-melamar.html

    Dari petikan dibawah ini terdapat poin2:

    1. Bahasa Jawa bagi kaum bangsawan Sunda (pd masa Hindu) memiliki derajat yg istimewa. Memiliki menantu yg pandai berbahasa Jawa adalah kebanggaan. Apalagi mendapat menantu orang Jawa.
    2. Pihak perempuan Sunda melamar pihak laki2 adalah wajar. Bahkan mendesak-desak penerimaan lamaran adalah wajar pula. Bujangga Manik mengelak desakan lamaran putri bangsawan Sunda dng cara menghindar dan keluar dari istana utk mencari ilmu.

    Di lingkungan budaya Sunda Kuno sendiri terdapat penjelasan tentang
    pihak perempuan yang melamar dan mendatangi pihak lelaki ketika hendak
    mencari pasangan hidup. Uraian itu terdapat dalam kisah Bujangga Manik
    (Abad 16, akhir masa Hindu) yang menyebutkan bahwa sang Rakean Jaya
    Pakuan dilamar oleh putri bangsawan bernama Putri Ajung Larang. Utusan
    datang membawa uba rampe lamaran lengkap dengan sirih pinang pengikat
    perjaka Akan tetapi lamaran dari sang putri itu ditolak oleh Bujangga
    Manik, seluruh benda persembahan yang diuraikan secara rinci dalam
    naskah itu, diminta dikembalikan kepada sang putri (Noorduyn & A.Teeuw
    2009: 289—291).

    (Rakean Jaya Pakuan adalah nama kepangeranan Bujangga Manik, Pangeran
    Pakuan Pajajaran yg berhak menjadi raja namun memilih menjadi
    spiritualis, pendeta dan pengembara. Ia berziarah dan bertapa ke
    tempat2 suci/keramat (menurut kepercayaan pra Islam) di seluruh pulau
    Jawa bahkan sampai ke Bali.)

    Samulangna ka kadaton, Jompong Larang manggihan putri Ajung Larang anu
    pareng keur riweuh ninun. Sang putri ngabogaan ebun Cina beunang
    ngimpor ti mancanagara (rumpaka 284-290), nempo Jompong Larang anu
    geura-giru, naék ka manggung sarta saterusna diuk di gigireun sang
    putri. Putri nanyakeun talatah naon anu dibawana; Jompong Larang
    ngomong yén manéhna nempo lalaki anu pohara kasép, sabanding pikeun
    putri Ajung Larang. Manéhna nyaritakeun yén Ameng Layaran (mPu Jangga
    Manik) leuwih kasép batan Banyak Catra atawa Silih Wangi, atawa
    ponakan sang putri (rumpaka 321), atawa saha waé. Leuwih ti éta,
    lalaki éta singer nyieun karya sastra dina daun nipah sarta bisa basa
    Jawa (rumpaka 327).

    (Putri Ajung Larang tertarik dengan Ameng Layaran/Bujangga Manik
    karena lebih tampan daripada Banyak Catra atau pun Silih Wangi.
    Disamping itu Bujangga Manik mencintai dan memahami kitab2 suci, karya
    sastra dan bisa berbahasa Jawa.)

    Putri Ajung Larang langsung ngarasa kapentang asmara. Anjeunna
    saterusna ngeureunkeun pagawéan ninunna sarta asup ka imah nyiapkeun
    hadiah pikeun Bujangga Manik ti mimiti seupaheun jeung perhiasan sarta
    barang nu éndah lianna kalayan ati-ati. Putri ogé ngahadiahkeun
    rupa-rupa parfum ti mancanagara anu pohara mahalna, baju katut keris
    anu éndah.

    Ambuna Bujangga Manik ngadesek anakna pikeun nampa hadiah ti putri
    Ajung Larang, saterusna ngagambarkeun kageulisan putri sarta pujian
    séjénna. Ambuna Bujangga Manik ogé nyarita yén putri bakal sumerah
    diri ka Bujangga Manik. Saterusna anjeunna ngedalkeun kecap-kecap anu
    henteu kungsi ditepikeun ku putri Ajung Larang “Kuring baris sumerah
    diri. Kuring baris nyamber kawas heulang, ngerekeb kawas maung, ménta
    ditarima jadi kikindeuwan” (rumpaka 530-534). Ameng Layaran reuwas
    ngadéngé uucapan ambuna sarta nyebutkeun yén éta téh ucapan larangan
    (carek larangan) sarta buleud haté pikeun nampik hadiah kasebut
    (rumpaka 548-650). Manéhna ménta ambuna marengan Jompong Larang pikeun
    mulangkeun hadiah kasebut sarta ngupahan ka putri Ajung Larang.
    Manéhna leuwih resep hirup nyorangan sarta ngajaga ajaran anu katarima
    salila lalampahanana ka Jawa, di hiji pasantrén di lamping Gunung
    Merbabu (anu ku manéhna disebut Gunung Damalung sarta Pamrihan).
    Pikeun éta pisan Bujangga Manik kapaksa kudu ninggalkeun deui ambuna.
    (jajar 649-650).

    http://www.urangsunda.cc.cc/2011/07/ringkasan-naskah-sunda-kuno-bujangga.html
    http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/HAWE_SETIAWAN/makalah/Bujangga_Manik.pdf

  5. jimi
    Desember 13, 2011

    cerita tentang perang bubat dikalangan suku sunda sudah menjadi fakta yang tidak bisa diganggu gugat kebenarannya,walaupun dikalangan suku jawa masih meragukan kebenarannya.untuk itu kita tidak perlu berdebat untuk mencari kebenaran menurut masing-masing suku yang akhirnya bisa memecah belah persatuan dan persaudaraan diantara kita……

    • dildaar80
      Desember 14, 2011

      Memang demikian. Namun, pengkajian dan melihat dr berbagai segi termasuk naskah2 Kidung Sundayana sendiri perlu dilakukan..jangan terbakar oleh dogma dan fanatisme.

      • Muhammad Syam Farhan
        Desember 14, 2011

        Setuju banget…
        Perlu juga dilihat. ditinjau dari sudut disiplin ilmu “politik-pemerintahan” ketika itu; kegunaan dan tujuannya. Sebab “dongeng-sejarah” atau “mitos-sejarah” merupakan milik Penguasa-politik di zaman-nya.
        Mari perjuangkan “milik kita” …

  6. si emen thea
    Desember 19, 2011

    Hati hati dalam situasi begini ada pihak ke 3 yang mengadu domba antar suku ,dengan mengungkit kesedihan masa lalu.

  7. Pemerhati Sejarah
    Desember 19, 2011

    satuju mah kang emen thea, warus waspada dan lapang dada

  8. Yhan
    Februari 16, 2012

    gajah Mada=penghianat

  9. doktertoeloes malang
    Maret 6, 2012

    PERANG BUBAT melibatkan dua keraja’an yang keberada’anya sekarang di provinsi jawa-barat dan provinsi jawa-timur. tentu menyangkut dua suku yaitu suku jawa dan suku sunda dilain pihak. secara kebetulan saya beristrikan orang sunda sedangkan hampir tiap sa’at bisa bepergian ke jawa-barat. kaitanya dengan cerita perang bubat atau tragedi bubat ,memang hampir orang2 tua di pasundan tahu betul tentang kisah cerita perang bubat dan merupakan cerita kepada anak2nya. jelasnya perang bubat atau tragedi bubat bisa jadi (setahu saya) sangat populer tetapi dilain sisi (tidak bermaksud apa2) perang bubat atau tragedi bubat di jawa (orang sunda mengistilahkan jawa-timur) kurang begitu populer dan boleh dipastikan generasi sekarang (anak2 mudanya) tidak mengetahuinya apa itu yang namanya perang bubat atau tragedi bubat. memang secara sekilas perang bubat atau tragedi bubat diceriterakan bapak dan ibu guru sejarah ,tetapi itupun hanya sepintas, dan mungkin tidak nyantol diotak kita (terkecuali yang benar2 menyukai dan menyenangi pelajaran sejarah kita , yang ini termasuk saya). kalau boleh berumpamakan misalnya thesis disatu sisi maka di jawa-timur anti thesis. pernyata’an pribadi dan tidak mewakili siapa2. (doktertoeloes malang).

    • sunda tea
      Maret 26, 2013

      maaf, saya menimpali bahwa tidak selalu begitu.
      saya saja yg orang sunda sebelumnya ga tau mengenai perang bubat.
      saya punya rekan kerja orang jawa. bahkan saya tau ada perang bubat itu dr orang jawa sendiri.
      karena memamng dikeluarga saya ga pernah bercerita dan ga tau adanya perang bubat.

  10. Ejang Hadian Ridwan
    Maret 12, 2012

    TEORI PERANG BUBAT
    ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA
    Created by Ejang Hadian Ridwan

    Kalau toh asumsinya perang dilapangan luas Bubat atau yang sering disebut “Perang Bubat” antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh ini benar-benar terjadi, ada sebuah informasi penting sebenarnya dari Kitab Kidung Sunda kalau kita analisia yang kitab ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain Kitab Pararaton, walau Kitab resmi kerajaan Majapahit yaitu Kitab Negarakertagama, yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu. Selain informasi-informasi seperti hal-hal yang mustahil, tidak masuk logika dan berbau mistis, seperti petikan ini “Maka beliau (red-Gajah Mada) mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala)”.

    Informasi penting yang diperoleh dari Kitab Kidung Sunda salah satunya yaitu mengenai armada rombongan dari Kerajaan Sunda Galuh yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil dan totalnya 2.000-an buah kalau dijumlah kapal ukuran besar ditambah 200 kapal kecil, kalau dihitung secara matematis misalnya 1 perahu dipukul rata memuat atau membawa 10 orang saja berarti jumlah rombongan sekitar 20.000 orang, ini terlalu over dosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan, bayangkan lagi kalau muatannya personil dalam 1 perahu minimal mengangkut 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai 40.000 orang, itu bukan jumlah sedikit, tapi cukup untuk menggempur atau menyerang suatu negara lain pada saat itu. Apalagi untuk berlayar dari tanah Sunda ke ujung Jawa Timur perahu yang digunakan pasti bukanlah jenis perahu kecil. Nah, coba kita kita hitung lagi, pastinya memungkinkan sekali muatan personilnya lebih dari 30 orang dalam 1 perahu dan kalau ditotalkan lagi akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang, jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi.

    Petikan Terjemahan Pupuh I
    “ Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”

    Tradisi jawa dimana pun dalam pernikahan, laki-laki yang harus datang ke tempat si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya Raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah Kitab Kidung Sunda itu merasa terhina sebagai alasan untuk perang pada saat itu, yang karena diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada, maka secara akal sehat sebenarnya dia sudah menghinakan diri dengan datang mengantar sang Putri Citraresmi sebagai calon istri Raja Majapahit Hayam Wuruk, kisah ini paradoks,tentunya tidak bisa diterima oleh logika.

    Dalam kitab Kidung Sunda itupula dibahas tentang Gajah mada yang disalahkan oleh para seniornya dikeraton Majapahit termasuk paman Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat, tapi mengapa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk Rajanya yang terbunuh, merekalah (para senior) yang melakukan dan ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain, bahkan Hayam Wuruk ikut serta dalam peperangan itu. Walau pun ada sisi sentimentil dari Kidung Sunda itu yang mengatakan Hayam Wuruk menyesalkan kematian Dyah Pitaloka atau Citraresmi. Padahal kematian seperti itu bagi yang sudah sering mengalami peperangan adalah sesuatu hal biasa apalagi ajaran yang dianut memungkinkan si istri atau keluarga mengorbankan diri setelah suami tiada, atau memang secara kemanusiaan walaupun perang adalah suatu pilihan, melihat ribuan orang melayang jiwanya tentunya sebagai kesatria perang semua melakukan penghormatan kepada pihaknya sendiri ataupun pihak lawan.

    Dalam Kitab Kidung Sunda juga dijelaskan ada utusan dari Majapahit ke Sunda Galuh yang disitu diterangkan maksud dari Raja Hayam Wuruk melamar puteri kerajaan, tapi analisa kalau memang perang itu terjadi berarti utusan kerajaan Majapahit sebenarnya utusan Kerajaan untuk meminta kesedian Raja Sunda Galuh untuk tunduk dan takluk dibahwah kerajaan Majapahit, dan utusan-utusan seperti itu hal biasa kalau ingin menaklukan kerajaan lain, semacam peringatan, kalau diterima berarti damai kalau ditolak berarti perang.

    Seandainya perang itu sudah diniatkan oleh Raja Sunda Galuh, pertanyaanya adala kenapa Sang Pramesuri dan putri keraton ikut serta. Hal ini bisa dijawab karena asumsinya perjalanan panjang, dalam sebuah rencana operasi militer dari tanah Sunda ke Majapahit setidaknya memerlukan waktu yang lama dan pastinya ada kapal-kapal utama yang nyaman untuk mereka, dikapal-kapal besar sudah tentunya bisa untuk anggota keluarga kerajaanmelakukan kegiatan yang tidak terganggu oleh kondisi perjalan perang dari prajurit-prajuritnya, bisa dibuat senyaman mungkin, dikutsertakan dalam perjalanan pertempuran adalah hal biasa seperti halnya pasukan Mongol yang melakuakn long march ke negerala lain mereka sering membawa serta keluarganya, sekaligus mereka bisa untuk persiapan upacara keagamaan sebelum memulai peperangan dan lainnya, bisa jadi untuk motivator bagi pasukan dan sang raja. Jumlah 2000-an kapal adalah kemegahan yang sangat luar bisa dan suatu hal yang masuk akal bagi Kerajaan Galuh yang hidup makmur dan besar secara luas wilayah kekuasaannya, menunjukan superioritas perekonomian dan kemampuan dana mereka dan dengan pasukan sebesar itu Raja Sunda Galuh itu hal wajar dengan melihat banyaknya koloni daerah-daerah kekuasan kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu, jumlah itu merupakan jumlah pasukan tentara gabungan, dan pastie ada keyakinan dari mereaka dapat mengalahkan pasukan tentara kerajaan Majapahit yang kemungkinan sebagian besar pasukanya masih melakukan ekspedisi atau invasi keluar negara di nusantara.

    Yang jadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pasukan besar tentara Kerajaan Sunda Galuh dapat dikalahkan dalam perang itu dan terbantai habis tak bersisa. Hal ini dikarenakan sudah ratusan tahun lamanya kerajaan Sunda Galuh tidak pernah lagi berperang dalam sekala besar dan panjang, setelah masa kedamaian dan kemakmuran (abad ke-10 sampai ke-14 Masehi), walau pun setatusnya kerajaan besar yang merupakan salah satu negara adidaya ditataran pulau Jawa bahkan nusantara. Kondisi sebaliknya untuk pasukan tentara kerajaan dari Majapahit yang pada saat itu terus-menerus melakukan invasi milter ke negara-negara lain dan itu artinya selalu berselimut dengan perang sampai saat itu.

    Pasukan tentara Majapahit pada waktu itu diasmunsikan masih gencar-gencarnya melakukan invasi atau ekspedisi ke negara-negara lain, tentunya pasukan-pasukanya sebagian tidak ada diposisi wilayah kerajaan. Logika jumlah yang teribat dari pasukan tentara Majapahit sendiri pasti berkurang dari jumlah keseluruhan alhasil paling sekitar ½ atau ¼ dari pasukan tentara kerajaan Sunda Galuh yang ada disana. Tetapi dengan jumlah seperti itu pun bisa mengalahkan pasukan tentara Sunda Galuh, mengapa? Hal ini dikarenakan meraka sudah terlatih, tertempa dan banyak pengalaman dalam kehidupan perang selama ini.

    Gajah Mada dan Hayam Wuruk punya prototipe atu sumber inspirasi metode pembentukan pasukan tentara perang yaitu dari bangsa Mongol dengan panglima perang sekaligus kaisar Imparium besar daratan Mongol yaitu Genghis Khan, Sang Penakluk dengan priode kekaisarnya juga berkembang pada masa itu juga dan ini merupakan model bagi negara-negara lain diseluruh dunia untuk sebuah cita-cita pemersatuan suku bangsa-bangsa menuju bangsa yang besar, tetapi gagasan utama atau ide pemersatuan ini dipelopori pertama kali oleh Sri Rajasa Sang Amurwabhumi (Ken Arok – versi nama Kitab Pararaton) yang berawal sebagai penguasa Kadipaten Tumapel, bagian dari kerajaan Kediri, selanjutnya mengambil alih kekuasaan Kerajaan Kediri dan membentuk kerajaan baru yang terkenal dengan nama Kerajaan Singhasari. Raja Majapahit masih keturunan langsung Wangsa Rasaja, yang pendirinya tiada lain Raja Singhasari pertama Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Sebelumnya ide perluasan wilayah Sri Rajasa sudah ditindaklanjuti oleh cucunya Raja Kertanegara sehingga kekuasaan Singhasari pada waktu itu sudah meluas dengan adanya misi yang terkenal dengan sebutan “Ekspedisi Pamalayu”. Ide pemersatu dan perluasan wilayah ini sebenarnya pada akhir tujuan ide ini adalah untuk menghadang gempuran kekuatan besar pasukan Mongol yang kemungkinan akan mengarah ke wilayah Asia bagian tenggara tanpa kecuali wilayah-wilayah Nusantara. Ide pemersatuan ini juga dibuat untuk sistem pertahanan semesta dan pembentukan aliansi atau tentara gabungan pasukan tentara seluruh kerajaan dinusantara menghadapi terjangan badai besar dari pasukan tentara Mongol.

    Pasukan tentara Mongol bahkan sanggup memporakporandakan dan membantai sejumlah pasukan yang bisa jadi 5 kali lipat jumlah pasukanya, tentunya ini hasil buah strategi dan pengalaman perang mereka didaratan Mongol, perang antar klan (suku) menyebabkan meraka teruji untuk model perang seperti apapun. Begitu juga dalam mengadapi pasukan besar tentara Sunda Galuh walaupun tentara yang dibawa sebegitu banyak, laksana air bah, mungkin tentara Majapahit hanya terkumpul 15.000-30.000 orang, tapi posisi meraka yang menguasai medan tempur dan ahli-ahli perang semua, akan dengan mudah membikin porak-porandakan formasi tentara Sunda Galuh.

    Perang Bubat ini pasti perang yang sangat heroik dan penuh cerita kepahlawanan bagi kedua belah pihak (kalau asumsinya benar-benar terjadi), karena bukti prasati peninggalan jaman itu tidak pernah dibahas mengenai kepahlawanan Perang Bubat, logikanya jika itu terjadi pasti didirikan monumen bersejarah bagi kedua belah pihak, karena peristiwa ini tidak mungkin terlupakan dalam sejarah kebangsaan. Pasukan tentara Majapahit akan bertempur dengan strategi jitu, sedangkan Sunda Galuh selain strategi mengandalkan jumlah besarnya, walaupun pada akhirnya kalah dan pasti ada yang menyerah, pasukan majapahit pasti tidak akan menerima, soalnya ini mengadopsi dari kebijakan perang Genghis Khan, apa lagi posisi musuh menyerang duluan logikanya harus dibantai habis memang kalau kita ada dalam emosi perang seperti itu, kejadian terbalik kalau pasukan Majapahit kalau mereka dalam posisi menang, pasti pasukan Majapahit gantian yang akan akan dibantai habis. Kemungkin besar kerajaan-kerajaan di Nusantara diperlakukan sama juga oleh cara-cara seperti ini yaitu perang total sampai bersih, diteror dengan cara yang serupa yaitu habisi dengan sempurna, itu juga sekali lagi kalau sudah dalam situasi perang bagi meraka yang menyatakan tidak tunduk dan mengakui kerajaan Kerajaan Majapahit, sehingga itu pula dalam waktu singkat dan cepat yang menyebabkan kerajaan-kerajaan Nusantara bisa disatukan dan ditaklukan.

    Apa yang dilakukan Raja Galuh adalah hal wajar, karena mereka mencoba mempertahankan diri kerjaaannya dengan menyerang duluan teori serangan dadakan, daripada mereka diserang duluan, tapi salah perhitungan dan tidak didukung atau dibarengi dengan pengalaman pasukan. Pada akhirnya meraka harus mengakui kekalahan itu. Sang Raja Sunda Galuh beserta dengan seluruh pasukan tentara dan pengikut Kerajaan Sunda Galuh menjadi para pahlawan yang gugur dengan gagah berani mengadapi resiko kematian sebagai hasil akhir dalam peperangan tersebut. Gajah Mada terkenal punya pasukan elit intelegen Bayangkara yang telah telatih dan terdidik mendekati sempurna, informasi penyerangan Kerajaan Sunda Galuh seperti ini itu pasti akan sudah meraka terima sebelumnya dan sudah dipersiapkan antisifasinya walaupun dengan sumbaer daya seadanya.

    Mahapatih Gajah mada, Raja Hayam Wuruk dan pasukan militernya harus bekerja keras dan dengan strategi yang brilian untuk menghadapi jumlah musuh yg begitu besar, walaupun kemenangan diraih tapi jumlah pasukan yang selamat hanya tinggal beberapa ribu orang saja. Sesudah perang Bubat, pasukan Kerajaan Majapahit tidak memobilisasi pasukan besar ke pusat kerajaan Sunda Galuh setelah kemenangan itu, itu dikarenakan secara hitung-hitungan Sunda Galuh bukan lagi kekuatan yang bisa menghadang mereka dan mereka juga perlu waktu untuk memulihkan akibat yang ditimbulkan oleh perang besar tersebut.

    Dalam Kidung Sunda dikatakan Gajah Mada moksa (menghilang ditelan bumi dengan cara-cara mistis), tetapi dalam Negarakertagama Gajah Mada, usianya sudah uzhhur sudah waktunya digantikan dan menikmati masa-masa tua, dan dalam diri Gajah Mada sendiri sudah merasa cukup apa yang dia usahakan yang terakhir dengan mengalahkan pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh artinya seluruh Nusantara dapat ditaklukan, perjalanan penaklukan yg sempurna. Gajah Mada berusia 71 tahun selesai menjabat Mahapatih di kerajaan Majapahit dari tahun 1313 M semenjak dia menjabat patih di kerajaan Kediri, bawahan kerajaan Majapahit sampai dengan tahun 1364 M, terhitung 51 tahun masa menjabatnya, ditambah dia sudah menjabat prajurit senior sebagai pemimpin pasukan Bayangkara, asumsi katakanlah 20 tahun berarti kisaran usianya sekitar 71 tahun, usia yang wajar sekiranya Gajah Mada tutup usia, atau Gajah Mada dengan umur segitu sudah menjadi manusia lanjut usia (red- aki-aki rempong), wajar untuk pensiun dan menikmati hidup apalagi cita-cita dan pengabdian besarnya sudah dirasa cukup.

    Hayam Wuruk kalau merujuk tahun perang Bubat dari Kitab Pararaton yaitu tahun 1357 M, maka disesuaikan dengan masa menjabat Hayam Wuruk menjadi raja dari tahun 1334 sampai dengan tahun 1389 M dihitung tahun yang pada awal dinobatkannya disebut sebagai raja muda, katakanlah usia pada waktu itu 10 tahunan, artinya umur Hayam Wuruk pada saat perang Bubat terjadi adalah 33 tahun dan umur segitu Hayam Wuruk sudah menikah dan punya anak perempuan umur 14 tahun yang sudah dijodohkan dengan anak sepupunya yang nantinya akan menjadi raja Majapahit setelah Raja Hayam Wuruk. Teori persembahan Dyah Pitaloka kayanya mubazir, karena Sang Prabu Raja Galuh pastie gak mau anaknya jadi selir dan tidak menurunkan putera mahkota.

    Cerita perang Bubat ini berbeda dengan kondisi cerita-cerita yang beredar secara umum, Perangan antara rombongan para pengantar calon penganten puteri dari Kerajaan Sunda Galuh untuk Raja Majapahit. Ini hanya analisa dari keberadaan kitab Kidung Sunda yang dianggap referensi untuk kejadian perang Bubat itu. Kitab Kidung Sunda itu sendiri seperti halnya Kitab Pararaton dan Kitab Sundayana harus dipastikan ke absyahannya kebenaran kandungan ceritanya. Soalnya ini sejarah kita jangan hanya terpaku kepada cerita anak manusia ato sekelompok orang atau yang punya kepentingan tidak baik bagi kehidupan bangsa Indonesia dianggap sebagai kebenaran umum. Artinya kita akan salah kaprah dan riset sejarah dari Pemerintah Indonesia sendiri lah yang harusnya bertanggung jawab meluruskan kebenaran sejarah.

    Apayang si Penulis ceritakan hanya berdasar ASUMSI jika perang itu benar-benar terjadi, silakan masing-masing pemabaca untuk menganalisa sendiri Kitab Kidung Sunda. Satu hal yang jadi pertanyaan besar dalam Kidung Sunda ini, pengarangnya tidak menyebut nama jelas Prameswari dan puteri raja Sunda Galuh yaitu Citraresmi atau Dyah Pitaloka dan nama Raja Sunda Galuh pada waktu itu, logikanya orang yang mengarang Kitab (buku) Kidung Sunda orang yag terbatas pengetahuannya tentang sejarah itu sendiri atau ini hanyalah fiksi dari cerita-cerita sebelumnya. Dan Citraresmi atau Dyah Pitaloka sendiri hanya ada di Kitab Pararaton, kitab yang dianggap benar oleh masyarakat umum, walau sebenarnya Kitab Pararaton ini banyak keanehan dan kebenarnya sama harus dibuktikan soalnya lebih kearah fiksi.

    Akhir kata, Sri Rajasa (Ken Arok – versi Kitab Pararaton), Kertanegara, Gajah Mada dan Hayam Wuruk adalah para penganut pola dan metoda Genghis khan, dan diterapkan sesui kehidupan ditataran tanah Jawa.

    Referensi :
    1.http://www.kalangsunda.net/apps/forums/topics/show/3894368-terjemahan-kidung-sunda-tanggapan
    2. Wikipedia Indonesia, online

    • dildaar80
      Maret 12, 2012

      Luar biasa analisa historis, kritis dan obyektifnya kang Ridwan… sangat berimbang…dan cukup berdasar.

      Beberapa poin fakta budaya masa itu (abad 14) yg mengarah pd Pabubat:

      1. Pada masa Pra Islam (Hindu) baik Jawa maupun Sunda bila Pihak Wanita Melamar Pihak Pria dan Mendesak agar lamarannya diterima adalah biasa.

      2. Pada masa itu harga diri sangat dijunjung tinggi, ketersinggungan sedikit berakibat fatal dst. Jalan penyelesaiannya selalu darah.

      http://angon-sapi-89.blogspot.com/2010/05/tradisi-wanita-lamongan-yang-melamar.html

      Dari petikan dibawah ini terdapat poin2:

      1. Bahasa Jawa bagi kaum bangsawan Sunda (pd masa Hindu) memiliki derajat yg istimewa. Memiliki menantu yg pandai berbahasa Jawa adalah kebanggaan. Apalagi mendapat menantu orang Jawa.
      2. Pihak perempuan Sunda melamar pihak laki2 adalah wajar. Bahkan mendesak-desak penerimaan lamaran adalah wajar pula. Bujangga Manik mengelak desakan lamaran putri bangsawan Sunda dng cara menghindar dan keluar dari istana utk mencari ilmu.

      Di lingkungan budaya Sunda Kuno sendiri terdapat penjelasan tentang
      pihak perempuan yang melamar dan mendatangi pihak lelaki ketika hendak
      mencari pasangan hidup. Uraian itu terdapat dalam kisah Bujangga Manik
      (Abad 16, akhir masa Hindu) yang menyebutkan bahwa sang Rakean Jaya
      Pakuan dilamar oleh putri bangsawan bernama Putri Ajung Larang. Utusan
      datang membawa uba rampe lamaran lengkap dengan sirih pinang pengikat
      perjaka Akan tetapi lamaran dari sang putri itu ditolak oleh Bujangga
      Manik, seluruh benda persembahan yang diuraikan secara rinci dalam
      naskah itu, diminta dikembalikan kepada sang putri (Noorduyn & A.Teeuw
      2009: 289—291).

      (Rakean Jaya Pakuan adalah nama kepangeranan Bujangga Manik, Pangeran
      Pakuan Pajajaran yg berhak menjadi raja namun memilih menjadi
      spiritualis, pendeta dan pengembara. Ia berziarah dan bertapa ke
      tempat2 suci/keramat (menurut kepercayaan pra Islam) di seluruh pulau
      Jawa bahkan sampai ke Bali.)

      http://www.urangsunda.cc.cc/2011/07/ringkasan-naskah-sunda-kuno-bujangga.html
      http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/HAWE_SETIAWAN/makalah/Bujangga_Manik.pdf

  11. Sang Arya Rajaparakrama
    Oktober 10, 2012

    pada dasarnya sunda galuh lah yang terlalu mengedepankan harga diri,..seandainya mereka tahu alasan apa yang di gunakan gajah mada agar mau bergabung dengan majapahit

  12. purnama
    Oktober 16, 2013

    Hayooo silahkan baca bagi orang2 Sunda & Jawa yang suka beradu argumen…., menghina Raja Jawa berarti menghina Raja Sunda & menghina Raja Sunda berarti menghina Raja Jawa….., sebenarnya Raja kalian tuh dulunya sama…., ngapain diributkan……..: PRABU GURU DHARMASIKSA, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Beliau mempersiapkan RAKEYAN JAYADARMA, berkedudukan di Pakuan sebagai PUTRA MAHKOTA. Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3: RAKEYAN JAYADARMA adalah menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan putrinya MAHISA CAMPAKA bernama DYAH LEMBU TAL. Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI. Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Rakeyan Jayadarma mati dalam usia muda sebelum dilantik menjadi raja. Konon beliau diracun oleh saudara kandungnya sendiri. Akibatnya Dyah Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan, karena khawatir dengan keselamatan dirinya dan anaknya. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula JAKA SUSURUH dari PAJAJARAN yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur. Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-26.

  13. Fauzi salaka
    Januari 27, 2014

    Pada edisi ke dua (Maret) Tabloid Kebudayaan Sunda SALAKANAGARA akan mewawancarai seorang DR ahli sajarah mengenai akan di selediki kembali mengenai Perang Bubat..cag

  14. Nuray
    Februari 11, 2014

    bukan PERANG BUBAT yg sebenarnya,tetapi
    PERANG BABAT aslinya.
    Mungkin Kalian sedikit malu untuk mengatakan PERANG BABAT.(bantay)
    cara untuk mengalahkan tanah Parahyangan jawabarat,

    dengan bahagia dan gembira rombongan menuju tempat hajat,
    tanpa Buruk sangka diselingi canda dan tawa…..

    LELUHUR MEMBABAT LELUHUR
    SEJARAH BURUK DAN MEMALUKAN
    MAKA SEMBUNYIKAN AGAR TIDAK DIPAKE OLEH
    MANUSIA2 KERDIL DAN LICIK

    teori dan praktek ini masih diterapkan/dipake Oleh…
    Misionaris-misionaris Nasrani : Contoh paling trend saat ini :
    kasus ASMIRANDAH. AW … CEKIDOTTTTT

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 2, 2009 by in Kumpulan Artikel Sejarah, Sejarah Sunda and tagged , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    ya,tapi kami orang toba trauma dengan islam,pasukan islam membantai tanah batak,dan kami tidak takluk dengan pedang.dio bakkara bangga dengan keislam anya,itu boleh saja.tapi alangkah baiknya anda belajar cari sejarah pengislaman tanah batak,walaupun kontroversial tapi jelas lebih mendekati dari pada sejaran yang di tulis pemerintah
    pstruct
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    betul sekali poang,kita tau siapa yang tukang klaim,bagaimana mungkin sisingamangaraja itu islam,apakah begitu bodohnya ompui lupa tanah batak di bantai islam,yang jauuuuuuh lebih mengerikan dari belanda.
    pstruct
  • Komentar di Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah oleh hendriwibowo Juli 29, 2014
    Habis baca artikel Makasih artikelnya. Lebih membuka mata saya bahwa, jadi tertarik menelisik lebih jauh. Beberapa dokumen lain dari wikipedia, unesco, ternyata mendukung fakta liputannya natgeo bahwa perang diponegoro ternyata skalanya besar dan masif. Thxs buat artikelnya -yang Lebih membuka mata saya bahwa perang ini lebih dari sekedar urusan patok jalan. […]
    hendriwibowo
  • Komentar di Cerita Amriki di PRRI dan CIA di Permesta oleh Tri Jtamadji Juli 28, 2014
    Oh...ternyata gitu to? Selama ini banyak rakyat kita yang di benaknya ( hasil pelajaran resmi ) bahwa mereka adalah murni memberontak demi memisahkan dari NKRI. Namun harus diakui, suka atau tidak suka , ya memang runyam kalau tentara ( secara institusi) masuk ke dunia politik.
    Tri Jtamadji

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: