Biarkan “Perang Bubat” Berlanjut

gajah madaUMUMNYA sejarah “Perang Bubat” yang diungkapkan dalam bentuk novel atau prosa liris, hampir sama, menceritakan tentang gagalnya pernikahan Dyah Pitaloka (Citraresmi) dengan Hayam Wuruk akibat pengkhianatan Mahapatih Gajah Mada. Tokoh Gajah Mada menjadi sosok yang dibenci urang Sunda karena Gajah Mada dianggap berkhianat kepada rajanya, Prabu Hayam Wuruk.

Dengan tipu daya untuk menyulut amarah Linggabuwana, Gajah Mada meminta agar Pitaloka – yang tadinya akan dijadikan permaisuri Hayam Wuruk, agar diserahkan sebagai upeti. Gajah Madalah yang mengobarkan api peperangan, ketika hati Maharaja Linggabuwana (ayah Pitaloka) terluka, merasa dihina dan direndahkan, lalu memilih untuk melawan karena tidak mau menyerahkan putrinya sebagai upeti. Peperangan yang tak seimbang itu, tentu saja lebih merupakan sebuah pembantaian. Maharaja Linggabuwana, permaisuri, dan pasukan pengawalnya gugur di Bubat. Sementara Pitaloka memilih bunuh diri demi harga diri. Satu-satunya pengawal yang berhasil lolos adalah Pitar. Kisah tragis itu membuat banyak urang Sunda yang kanyenyerian, sakit hati, dan perasaan itu tetap terpelihara, hingga sekarang.

Menurut arkeolog lulusan Uiversitas Indonesia, Dr. Agus Aris Munandar, umumnya cerita tentang Perang Bubat yang mengilhami para penulis fiksi sejarah, bersumber dari buku Kidung Sunda. Akan tetapi, salah seorang pengarang yang paling banyak menulis fiksi berdasarkan peristiwa dalam sejarah Sunda, Yoseph Iskandar, termasuk novelnya mengenai Perang Bubat, menyebut sumbernya berdasarkan naskah “Pangeran Wangsakerta”.

Ketika berlangsung “Dialog Budaya Sekitar Perang Bubat” di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan, Jawa Timur, tanggal 30 September lalu, Dr. Agus Aris Munandar menyampaikan tafsir baru mengenai Perang Bubat. Menurut Agus, rencana pernikahan Hayam Wuruk dengan Pitaloka bukanlah atas prakarsa Ratu Sepuh Tribhuwanatunggadewi. Pernikahan itu justru telah direncanakan Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuwana. Gajah Mada menginginkan pernikahan itu, sebab niatnya untuk mempersatukan Sunda dengan Majapahit akan terwujud tanpa harus melalui peperangan. Hal yang sama juga diharapkan oleh Maharaja Linggabuwana karena pernikahan itu akan membuat wilayah Kerajaan Sunda semakin luas.

mbahmadaLalu kenapa Gajah Mada berkhianat? Inilah yang dianggap sebagai tafsir baru Agus. Ternyata tanpa sepengetahuan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, diam-diam orang tua Hayam Wuruk (Cakradara/ Tribhuwanatunggadewi) telah menjodohkan Hayam Wuruk dengan Padukasori, putri Kudamerta/Rajadewi Maharasasa. Rajadewi adalah adik Tribhuwanatunggadewi. Kudamerta yang mendengar Gajah Mada telah melamar Pitaloka sebagai permaisuri Hayam Wuruk, berhasil memengaruhi Ratu Sepuh Tribhuwanatunggadewi untuk menggagalkan pernikahan tersebut. Gajah Mada terpaksa mengikuti kemauan orang tua Hayam Wuruk, mengubah posisi Pitaloka yang tadinya sebagai permaisuri, menjadi selir. Sikap Gajah Mada tersebut dirasakan Maharaja Linggabuwana sebagai penghinaan padahal Gajah Mada sendiri merasa sedih harus berbuat seperti itu. Maharaja memilih untuk berperang daripada menyerahkan putrinya sebagai selir. Maka terjadilah Perang Bubat. Akibatnya, menurut Agus, “Gajah Mada disalahkan oleh sejarah”.

Dalam Dialog Budaya di Trowulan, saya mempertanyakan tentang sebutan Perang Bubat, karena ada yang berpendapat, yang terjadi di Bubat itu bukanlah perang, tetapi lebih layak disebut pembantaian terhadap Raja Sunda bersama pengawalnya – sebab jumlah pasukan Gajah Mada dan pengawal Raja Sunda tidak berimbang. Akan tetapi menurut Agus, dalam semua naskah kuno, selalu disebut adanya Pabubat atau Perang Bubat. Sementara itu, wartawan senior Her Suganda lebih suka menyebutnya sebagai “Peristiwa Bubat”.

Dalam “Dialog Budaya Sekitar Perang Bubat” yang berlangsung tanggal 21 Oktober di Hotel Preanger, Agus menyampaikan tafsir barunya itu di hadapan sejumlah tokoh Sunda. Reaksinya, ada yang bisa mendengarkan dan memahami tafsir baru tersebut, tetapi ada juga yang tetap meyakini Gajah Mada sebagai tokoh yang telah berkhianat, dengan segala kelicikannya untuk menaklukkan Sunda.

Karakter kepemimpinan

Ketika saya menulis prosa liris yang diberi judul “Citraresmi – Riwayat Menyayat Perang Bubat” (diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama), saya mengungkapkan peristiwa di Bubat itu seperti yang diyakini umumnya masyarakat Sunda selama ini. Tidak ada tafsir baru seperti Dr. Agus.

Kalaupun boleh disebut sebagai tafsir baru, melalui buku tersebut saya lebih menitikberatkan terhadap karakteristik tokoh-tokoh utama dalam Peristiwa Bubat itu, sebab dengan cara seperti itu kita akan lebih jernih “memahami” sepak terjang mereka.

Tokoh utama yang saya maksud adalah Gajah Mada, Hayam Wuruk, Pitaloka, Maharaja Linggabuwana, dan Bunisora Suradipati. Dalam prolog buku tersebut, saya ungkapkan seperti ini:

“Siapakah yang bersalah?
ketika masing-masing punya jawaban
untuk mewujudkan keinginan
Hayam Wuruk yang bijaksana
tapi kurang berani mewujudkan keinginan
Gajah Mada yang setia mengabdi pada negri
tapi terikat dan termakan sumpah sendiri
Maharaja Linggabuwana yang tulus dan lurus
tapi tak mampu membaca rekaperdaya
Citraresmi yang cantik dan berbakti
tapi terlalu setia mengikuti kata hati
Masing-masing memang punya alasan
untuk memilih yang terbaik
berbakti bagi negri

Biarkan sejarah bicara
apa adanya
mari kita buka kembali
lembaran silam yang kelam
dengan hati yang bening”.

Dalam buku prosa liris tentang Peristiwa Bubat itu, saya mempertajam “mahadaya cinta” antara Hayam Wuruk dan Pitaloka, termasuk mendramatisasi kematian Raja Sunda dan Pitaloka, sehingga akan tergambar sikap Gajah Mada yang “menghalalkan segala cara” untuk mewujudkan sumpah amukti palapanya.

Akan tetapi, Gajah Mada adalah seorang perwira tangguh yang punya prinsip harus “selalu menang dalam perang”. Prinsip itu ia dedikasikan untuk kehormatan raja dan kejayaan negeri. Dari sisi ini, sesungguhnya kita harus bisa memahami karakter Gajah Mada. Ketika Hayam Wuruk bersikukuh ingin menjemput Raja Sunda dan Pitaloka dengan upacara kebesaran, Gajah Mada juga berusaha keras untuk menggagalkannya. Saya mencoba mengungkapkannya secara imajinatif melalui sebuah ratapan permohonan:

“Tolonglah hamba, Paduka
jangan biarkan hamba melanggar sumpah
yang akan menodai pengabdian
pada kebesaran raja dan negara
selama ini hamba tak pernah memohon balas jasa
dan tak pernah menuntut apa pun
karena pengabdian hamba lakukan
dengan ketulusan hati nurani
demi kejayaan negri
tapi hanya untuk kali ini saja
izinkan hamba untuk memohon
Paduka tak usah menyambut ke Tegal Bubat
biarkan hamba yang datang
menyambut tamu agung
calon prameswari baginda, Puteri Citraresmi”.

Hayam Wuruk akhirnya luluh, dan Gajah Mada diam-diam mengerahkan ribuan pasukannya menuju Bubat. Ia meminta Raja Sunda agar menyerahkan Pitaloka jadi upeti. Lalu terjadilah Peristiwa Bubat itu.

Maharaja Linggabuwana, saya gambarkan sebagai raja yang berpikiran lurus, tidak “punya pikir rangkepan”, tidak bisa membaca rekaperdaya. Ketika diingatkan oleh adiknya Bunisora Suradipati agar jangan pergi ke Majapahit, jangan mau menyerahkan Pitaloka untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk, sebab kalau Raja datang untuk menyerahkan putrinya, berarti ia telah melanggar adat Karuhun. Menurut Bunisora, semestinya Hayam Wuruk yang datang ke Kerajaan Sunda untuk menikah dengan Pitaloka. Peringatan Bunisora malah ditentang oleh Linggabuwana, meskipun dalam hatinya ia merasa telah melakukan sesuatu yang tidak semestinya.

Saya sangat tertarik mengungkapkan karakter Bunisora, yang saya anggap lebih pantas disebut sebagai “Bapak Bangsa”. Terbukti setelah Peristiwa Bubat, calon raja yang masih kecil, Niskala Wastukancana (adik Pitaloka) dididik oleh Bunisora, dipersiapkan untuk menjadi seorang raja yang kelak memang menjadi raja terlama dalam memerintah, sekitar 100 tahun. Dalam epilog buku tersebut, saya menggambarkan sosok Bunisora seperti ini:

“Akan halnya Bunisora
ia menjadi begitu berjasa
karena telah belajar dari peristiwa kelam
tanpa menebarkan dendam
melainkan telah mewariskan keteladanan
yang kelak mengantar Niskala Wastukancana
menjadi raja yang paling lama berkuasa
raja yang menebarkan rasa aman dan tenteram”.

Hayam Wuruk dan Pitaloka adalah dua tokoh belia, yang saya gambarkan lebih suka “menuruti keinginan orang tua”.

Peristiwa Bubat adalah kejadian sejarah, dan akan lebih terasa hikmahnya bila digunakan sebagai tempat untuk becermin. Pemahaman kita tentang Peristiwa Bubat akan lebih jernih seandainya kita memosisikan diri untuk belajar dari peristiwa tersebut, termasuk memahami tokoh-tokoh pelakunya, memahami karakternya. Sebaiknya kita memahami mengapa Gajah Mada, Linggabuwana, Hayam Wuruk, dan Pitaloka, memutuskan sesuatu yang dianggapnya “harus dilakukan”, dan kemudian menjadi mata rantai sebab akibat Peristiwa Bubat. Saya mencoba mengungkapkannya seperti ini:

“Demikianlah kisah yang terpatri
di sanubari orang Sunda
melekat turun-temurun
dari masa ke masa
kadang dipahami
sebagai suatu pantangan
yang berlebihan

Padahal kalau kita simak
dengan sikap yang bijak
maka akan nampak
begitu banyak
tokoh pelaku sejarah
dalam Perang Bubat
yang teguh pada pendirian
dengan segala kelebihan
dan kelemahan”.

Dengan sudut pandang seperti itu, setiap peristiwa bersejarah akan dipahami sebagai rangkaian pembelajaran, tanpa harus terlibat dalam perasaan yang dialami tokoh-tokohnya. Begitu juga, ketika kemudian ditemukan hal-hal baru berdasarkan bukti-bukti ilmiah, maka akan selalu menjadi sesuatu yang berharga untuk dikaji.

Kalau kemudian ada yang bertanya, setujukah Anda jika Peristiwa Bubat dibuat film? Saya akan bilang setuju, tentu saja dengan catatan, film tersebut harus digarap dengan sungguh-sungguh, sehingga hasilnya menjadi sebuah karya yang bisa dibanggakan, apalagi kalau menjadi sebuah karya yang monumental. Kalau hasilnya hanya untuk meraih keuntungan semata, tanpa memedulikan kualitas – bahkan ke luar jalur, wajar bila banyak yang merasa keberatan.

Terjadinya kontroversi tentang Peristiwa Bubat, apakah itu munculnya tafsir baru atau kisah baru, tidaklah menjadi soal sepanjang itu berdasarkan penemuan-penemuan autentik yang bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Terlebih lagi, jika itu labelnya sebuah fiksi, maka pengarang akan lebih bebas mengumbar imajinasi.

Biarkan, bila banyak yang tertambat terhadap Peristiwa Bubat. Dengan begitu, generasi berikutnya akan mengenal bahkan memahami peristiwa bersejarah secara kritis.

Tulisan : Eddy D. Iskandar,/Penulis Skenario/Ketua Umum FFB/Pemred “Galura”, Sumber PR.

56 respons untuk ‘Biarkan “Perang Bubat” Berlanjut

Add yours

  1. Sosok Gajah Mada memang menarik. termasuk keterlibatannya dalam perang bubat. tetapi saya juga pernah mendengar cerita, entah dimana saya lupa, mundurnya Gajah Mada dari kerajaan bukanlah karena perang bubat itu. Melainkan ada faktor lain yang membuat dia menyingkir hingga tak diketahui rimbanya.
    Hal itu terkait dengan kegagalan sumpah palapa yang diucapkannya sendiri. entahlah.

  2. Assalamu’alaikum,
    Kopral cepot, saya ingin memberitahu, bahwa nama Kopral, keluar sebagai salah satu teman yang mendapatkan buku ke tiga saya secara gratis, “CUKUPLAH ALLAH” (bisa dilihat di Blog saya).
    Bila berkenan menerimanya, tolong kirimkan nama sebenarnya (bukan nama Blog), alamat lengkap dan kode pos, ke email saya. (Dewi Yana)

  3. ini wilayah yang sensitif untuk dibuka kembali. perlu kelapangan dada untuk melihat peristiwa sejarah tidak dalam konteks dendam yang terbawa hingga masa kini untuk kemudian saling mempersalahkan dan membuka kembali luka lama.

    sekedar urun cerita, karena saya bukan ahli sejarah. namun dari cerita seorang sepuh didapat keterangan bahwa sesungguhnya Gajah Mada justru adalah korban dari intrik politik di dalam istana Majapahit.

    ketika Gajah Mada mengucapkan Sumpah Hamukti Palapa banyak pihak yang mencibir dan meremehkan Gajah Mada dengan sumpahnya yang dianggap terlalu utopis. namun di penghujung keberhasilannya untuk memenuhi sumpahnya dengan proyek politik pamungkasnya melalui upaya perkawinan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka, justru banyak pihak yang tadinya mencibir dan meremehkan merasa kuatir jika Gajah Mada ternyata mampu memenuhi sumpahnya. Beberapa Patih senior yg sangat berkepentingan untuk menggagalkan/mensabotase proyek politik pamungkas tersebut. selain mereka tidak ingin kehilangan muka karena awalnya meremehkan dan mencibir Gajah Mada dengan sumpahnya, sesungguhnya dibalik itu mereka mengincar kursi mahapatih yg telah sekian lama diduduki oleh Gajah Mada.

    apa yang terjadi di Bubat adalah sebuah manuver dari beberapa Patih senior yang ingin mengambil kesempatan untuk playing the hero dengan memanipulasi kedatangan Dyah Pitaloka seolah-olah sebagai upeti dengan harapan mereka akan mendapatkan pujian dan penghargaan dari Hayam Wuruk dan tentu saja dengan demikian keberhasilan tersebut tidak bisa menjadi klaim keberhasilan Gajah Mada.

    namun ternyata upaya mereka diketahui oleh Maharaja Linggabuana dan langsung menolak perubahan skenario tersebut karena tindakan tersebut adalah sebuah penghinaan bagi Pajajaran. Memang karena kalah dalam jumlah pasukan, peristiwa Bubat tak bisa dikatakan sebagai perang tetapi lebih tepat sebagai penyergapan.

    akibatnya, skenario gagal total. para patih yang berkonspirasi akhirnya sepakat untuk mengkambinghitamkan Gajah Mada sebagai perekayasa kejadian tersebut. Gajah Mada sebagai seorang ksatria pantang melempar tanggung jawab. Apalagi proyek politik penyatuan Pajajaran dan Majapahit melalui pernikahan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka memang langsung dibawah tanggung jawabnya. Dia siap menerima seluruh kesalahan atas peristiwa yang terjadi tanpa membela diri sedikitpun.

    sayangnya catatan peristiwa tersebut justru banyak ditutupi terutama setelah masuknya VOC. peristiwa tersebut justru dipelintir oleh VOC sebagai bagian dari upaya politik devide et impera.

    walhasil, cerita tentang peristiwa Bubat justru makin membuat luka sejarah menjadi dendam yang seolah tak ada habisnya.

    padahal terlalu banyak peristiwa indah yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa Bubat antara kerajaan2 di jawa Barat dan di Jawa Timur. namun semuanya hilang sirna karena sebuah peristiwa yg dikenal dengan Bubat. karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

    menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Lembu Tal atau Dyah Singamurti adalah putri dari Mahisa Campaka, putra Mahisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari.

    Lembu Tal menikah dengan Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah tahun 1175-1297. Dari perkawinan itu lahir Raden Wijaya.

    Rakeyan Jayadarma menjadi putra mahkota yang berkedudukan di Pakuan. Akan tetapi ia meninggal dunia karena diracun oleh musuh. Sepeninggal suaminya, Dyah Lembu Tal membawa Raden Wijaya pergi dari Pakuan. Keduanya kemudian menetap di Singhasari, negeri kelahiran Lembu Tal.

    betapa sesungguhnya telah terjalin hubungan yang baik antara seluruh kerajaan2 di Jawa. jangan biarkan peristiwa buruk masa lalu merampas masa depan kita yang untuk menjadi lebih baik.

  4. Mantaaabbs, mas Itemputi,

    Sayangnya, pada era Perang-Bubat belum secanggih ala Perang Buaya-Cicak-Godzila, yaitu alat penyadap telepon serta blm dibentuk MK.
    Dibalik itu pasti ada ‘Anggodo/Anggoro’nya

    Trakback kebelakang, KERTANAGARA/Singasari saat berusaha mengirim bantuan ke Sriwijaya yang sdh lumpuh akibat invasi asing, malah mendapat fitnah melalu pelintiran-opini…

    Mulai saat itulah “PARA BEDEBAH” ( pinjam ungkapan Adi M.Masardi), mulai merambah Nuswantara.

    Saatnya Menjernihkan Sejarah

    Salam…JAS-MERAH

  5. Yth. Kidimas Kopral Cepot,

    SEJARAH ADALAH SATU-SATUNYA BAHKAN INHEREN DALAM PENELUSURAN KEBENARAN…
    NAMUN APABILA HANYA MELIHAT SEPENGGAL2 ATAU DARI KACAMATA-SEMPIT, HASILNYA ADALAH ”MERABA GAJAH DALAM GELAP”, HANYA MENDAPAT SEKEPING-KECIL DARI KEBENARAN…

    SUDAH CUKUP LAMA DAN MAKIN MELUAS, BANYAK PIHAK YG BERUSAHA MEMALSUKAN, MENGINGKARI SERTA SENGAJA MENYESATKAN SEJARAH

    Salam…
    Biar Sejarah Yang Bicara

    ————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu bapak dBo .. untuk itulah saya belajar dan semoga kaca mata sy menjadi lebih terbuka .. trim’s sudah mengingatkan anak negeri ini.

  6. Yth. Mas Kopral Cepot,

    Mohon maaf sebesar2nya, kmrn koment disini belum ketuk pintu kpd pemilik blog. Sekali lagi maaf.
    Soalnya tercengang melihat peperangan segitiga yang semakin seru…

    @ Mas Itempoeti,

    Terima kasih mas JAKETMERAH barunya, langsung saya pakai, sementara JASMERAHnya dicuci biar bersih.
    Sekarang saya melihat tampang ANG GO WI bersaudara jadi lebih jelas, malah terbayang Tokoh Sejarah Terkenal JENGHIS KHAN & KU BLAI KHAN.

    Malah terawangan sementara saya(blm meyakinkan), ANG GO WI kayaknya tiga bersaudara…

    Mas Kopral Cepot/Mas Itempoeti,
    Salam…JAKETMERAH
    Salam…JASMERAH

    ——————–
    Kopral Cepot : Ngak apa2 Mas .. ini rumah qt2 juga, itu tandanya Sikap samin udah ngak sungkan2 disini 😉

  7. Perang Bubat sampai sekarang masih belum terlupakan. Di Jawa Barat orang Sunda masih tidak mau memberi nama jalan dengan Gajah Mada atau Hayam Wuruk.Bagaimana Kang ? Apa harus begitu selamanya ?
    Terima kasih.

    —————
    Kopral Cepot : Slalu ada jalan ‘rekonsiliasi’, fakta sejarah tdk bisa diubah hanya kedewasaan slalu bisa mengambil hikmah. Tak perlu ada dendam sejarah krn perbuatan kita skr yang akan diminta pertanggungjawaban. Kita tdk dimintakan pertanggungjawaban atas perbuatan orang lain apa lagie masa lalu.. hatur tararengkyu 😉

    1. bener juga tuh tapi gak wajib kan nama jalan pake gajah mada, enakan nama2 jawa barat mah yah pake nama2 khas sunda gitu atau para pahlawan sunda biar berkenang gitu..

      tapi klo soal pengaruhnya yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ini nih yang bikin saya pening kebetulan sekali saya turunan sunda baik ibu dan bapa sunda bisa dibilang sunda pisan kali yah soalna saya tidak boleh kawin ama orang jawa dan itu sudah jadi hukum mau tidak mau hrs dilaksanakan kalo tidak yah kena sangsi tapi sangsinya bukan dipenjara di mapolsek 😀

    2. Nggak papa kok nama jalan di jabar tak ada nama GM dan HW. Memang lumrah kalau (org Sunda) tdk suka dng nama ini. Lagipula GM dan HW dan jg para keturunan orang2 yg dulu masuk wilayah Majapahit nggak memaksa/mempermasalah soal nama jalan tsb.

      Sekarang sudah ada Indonesia. Kita buka lembaran baru dalam NKRI.

  8. Sejarah adalah sesuatu yg dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi generasi sekarang, karena sejarah bisa dijadikan sebagai motivasi,hikmah,ibrah,dll
    Sejarah juga bisa disamakan dengan keadaan atau kondisi sekarang
    Tapi ketika membaca sejarah kita kadang tidak merasakan bahwa kita juga sekarang sedang membuat sejarah, tapi mengikuti alur yang ada saja.
    Sejarah di atas tidak banyak orang mengetahui dan memahaminya apa yang terkandung di atasnya.
    ” jika kita ingin mengetahui segala-galanya maka kita harus berada di atas segalanya “

  9. memang perang/pembantaian bubat tak akan sesederhana itu, tokoh2 utama bubat tak akan senaif itu, pastilah akan terungkap dalang konspirasi dibalik semua peristiwa itu.

    begitupun dengan kasus nya antaari, century dan nggo brother saya yakin dalang nya adalah tokohnasional yang skarang ini paling bersikap tenang. siapa dia ? dia akan terungkap kurang lebih 10 tahun kemudian dari sekarang.

  10. sayang sekali naskah yg asli tentang perang bubat sudah dihancurkan dan di rekayasa belanda…
    perang bubat bukanlah luka, tapi kekeliruan sejarah yg telah direkayasa oleh belanda…
    yg penting sekarang saatnya membangun kembali NASIONALISME REPUBLIK INDONESIA!

  11. Pas SD gw udah baca buku biografi Gajah Mada. Mulai dari dia mengagalkan pemberontakan Semi (Rasemi) dan Kuti (Rakuti) dan pembunuhan Jayanegara oleh Ratanca. Karir nya mulai dari pimpinan pasukan Bhayangkara. enak banget bacanya.

    Begitu kuat nya pengaruh Tribuanatungga Dewi dan Prameswara terhadap Gajah Mada dibanding Hayam Wuruk dalam perang bubat sehingga dia bisa mengingkari Hayam Wuruk ya?

    Dimana dia sengaja meminta Dyiah sebagai upeti bukan permaisuri..yang katanya dihasut T-Dewi. Karena T-Dewi telah menjodohkan seseorang ke Hayam Wuruk.

    Penasaran Dyiah Pitaloka itu bagaimana sih orang nya dan karakternya? Sampai Hayam Wuruk jauh-jauh ke tanah Sunda untuk mencari permaisuri..:) -joke-

  12. Dalam Dialog Budaya di Trowulan, saya mempertanyakan tentang sebutan Perang Bubat, karena ada yang berpendapat, yang terjadi di Bubat itu bukanlah perang, tetapi lebih layak disebut pembantaian terhadap Raja Sunda bersama pengawalnya – sebab jumlah pasukan Gajah Mada dan pengawal Raja Sunda tidak berimbang. Akan tetapi menurut Agus, dalam semua naskah kuno, selalu disebut adanya Pabubat atau Perang Bubat. Sementara itu, wartawan senior Her Suganda lebih suka menyebutnya sebagai “Peristiwa Bubat”.

    Sy bertanya: Kesimpulan drmana?
    sumber pasti yg menyebutkan jumlah pasti kedua pihak (Sunda dan Majapahit)?

  13. “makanya kepada urang sunda kalau masuk ranah hukum atau politik ati_ati di liciki ma saingan yg berjiwa “menguasai politik indonesia”….!!!!ingat cerita bubat masih berlanjut sekarang!!!

  14. ya, peramg bubat itu bukan salah gajah mada, itu salahnya pengikut gajah mada. adik seperguruan gajah mada lah yg bisa buktikan bahwa gajah mada tidak bersalah,.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: