Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara
Aku, Amelia, puteri Yani telah kehilangan seorang bapak yang sangat aku cintai dan aku telah rela untuk itu. Dia telah lama
berbaring di Taman Makam Pahlawan bersama-sama kawan-kawan seperjuangannya. Dia telah membisu dan tidak mungkin lagi aku ajak bicara. Akan tetapi rasanya di keheningan malam yang sunyi, bapakku sering berkata kepadaku: Kau putriku untuk apa bapak ini berkorban, apakah untuk sesuatu atau tidak untuk sesuatu? Apakah sia-sia pengorbanan itu? apakah arti dari jenazah yang telah menyatu dengan tanah ini? Jawablah anakku, karena hanya engkau dan seluruh putra-putri bangsa ini yang dapat memberi jawabab maupun yang dapat memberi arti dari pengorbanan kami ini. (isi hati tersisa dari Amelia A.Yani)
“Isi hati tersisa” dari Amelia A. Yani diatas adalah kata-kata terakhir yang beliau tulis dalam bukunya “Achmad Yani Tumbal Revolusi” yang cetakan ke V nya terbit tahun 2007. Buku ini merupakan revisi atas buku yang terbit pada 1 Oktober 1988 dan diterbitkan untuk mengenang sebuah peristiwa, gugurnya seorang Prajurit TNI, Letnan Jenderal TNI Achmad Yani, Pada 1 Oktober 1965 dalam peristiwa Lubang Buaya, 1 Oktober dini hari.
Apa alasan Amelia A.Yani menulis buku tentang bapaknya? ” Maksud dan tujuankku menulis buku ini adalah semata-mata sebagai tanda hormat dan baktiku kepada orangtuaku, bapakku sendiri. Bapak telah diberi kehormatan oleh bangsanya sebagai seorang Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965, dinihari, subuh Jum’at Legi”.
Buku yang merupakan “biografi Achmad Yani“, sebuah perjalanan perjuangan dan pengabdian anak bangsa bagi negeri pertiwi. Sikap tegas dan karir militernya yang cemerlang telah mengantarkan dirinya dekat dengan Bung Karno dan dikenal sebagai ‘anak emas’.
Buku ini juga bukan sekedar menelusuri sejarah perjuangan Achmad Yani, tetapi juga membongkar sisi politik berbagai ketegangan yang terjadi antara Bung Karno, Achmad Yani dan PKI. Sebagai seorang nasionalis sejati, Yani telah siap menjadi martir demi tanah air, dan akhirnya menjadi “tumbal revolusi”
Pagi itu, tanggal 1 Oktober 1965, pukul 04.30 subuh, tiba-tiba kami semua terkejut oleh suara tembakan gencar dan suara sepatu lapangan tentara berlarian. Terdengar suasana hiruk-pikuk. Segalanya berjalan tiba-tiba, berlalu begitu cepat.
Aku mengintip dari pintu kamar. Kebetulan aku tidur dengan adikku yang nomor enam, Yuni. Aku melihat begitu banyak tentara dengan baret merah tua. Aku melihat sesosok tubuh sedang diseret pada kakinya dan badan serta kepala di lantai, di belakangannya ada seorang yang dibopong oleh dua temennya dari ruang makan. Selain tentara dengan baret merah juga ada anak-anak muda dengan baju militer hijau dan pita-pita di pundaknya tetapi tidak bersepatu alias nyeker.
Ya Allah, itulah bapak! Kakinya ditarik oleh dua orang tentara, tubuhnya tergeletak dilantai. Aku menghambur ke luar entah bagaimana aku sudah disana bersama kakak dan adik-adikku yang mengikuti dari belakang bapak. Kami hanya dapat menjerit sejadi-jadinya, “Bapak…..! Bapak!”
Kami mengikuti mereka sampai ke pintu belakang sambil menangis memanggil bapak. Dan mereka pun mengancam, “kalau anak-anak tidak masuk akan ditembak juga semuanya!” Dan kami menjadi sangat ketakutan. Kami berlari masuk ke dalam kami dengar suara kendaraan menderu-deru membawa bapak pergi entah kemana.
Segumpal darah hangat tertinggal di lantai ruang makan. Pintu kaca berserakan tertembus peluru. Darah bapak berserakan dimana-mana sepanjang lantai bekas bapak diseret-seret di dinding banyak bercak-bercak darah sampai di luar halaman bahkan sampai jalan aspal. Kami tiba-tiba berhambur memungut peluru-peluru kosong semuanya ada tujuh.
Kami berebut masuk ke kamar tidur bapak kamar yang sudah sepi dan kosong. Entah siapa di antara kami yang mengangkat telepon terlebih dahulu tetapi rumanya hubungan telepon sudah diputuskan.
Segera kami minta mbok Milah untuk memanggil Oom Bardi ajudan bapak. Mbok Mangun uncul namun tidak mengerti apa, hanya bertanya: ” Ndoro kakung teng pundi Digowo sopo?” (Bapak kemana? dibawa siapa?)
Kakakku, Emmi memberi petunjuk, sebaiknya kami cepat berganti dengan celana panjang supaya kalau ada apa-apa lagi, kami tinggal lari saja. Kemudian kami tidakk tahu harus berbuat apa. Kami duduk di lantai mengelilingi darah bapak sambil berharap, bapak tidak meninggal. Karena kalau dilihat dari bekas-bekas tembakan, tangan dan pahanya saja yang terkena, jadi bukan jantungnya. Kami mulai berdoa bersama dan masuklah komandan dari penjaga yang dilucuti.
“Ini darah siapa?” Tanyanya pada kami.
“Ini darah bapak.”
Tampak wajahnya kosong. Dia tentu tidak percaya, dan tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Kami semua dicekam rasa takut yang amat sangat dan tida mengerti harus berbuat apa.
Pukul lima pagi, Oom Bardi, ajudan bapak datang dan kami semua menghambur padanya dan mengatakan, “Oom bapak Oom, bapak dibawa pergi oleh tentara, banyak sekali, pakai baret merah.”
Kami ditanya ciri-ciri tentara itu bagaimana?
“Pakai seragam tentara hijau, sepatu lars dan banyak kain-kain kecil berwarna putih, merah, kuning di pundaknya.”
“Bapak ditembak, Oom. Itu darahnya.”
Kami menunjukan ke darah yang berceceran. Dan Oom Bardi terpana tidak dapat bicara sepatah kata pun. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia mondar-mandir dengan napas yang tidak menentu.
Tiba-tiba sebuah Jip masuk, rupanya membawa ibu. Ibu kaget mendapatkan kami semua sudah bangun. Ibu bertanya, ada apa pagi-pagi sudah bangun?! Kami hanya dapat berkata, “Bu, bapak, bu. Bapak… bapak ditembak dan dibawa pergi… naik truk!” Ibu tiba-tiba menjerit-jerit lari keluar, dan berteriak:”Cari! Cari, bapak! Cari! Sampai ketemu Kemana bapak! Cari!.”
Kami semua tertegun bingung, kacau. Oom Bardi mondar-mandir tidak tahu harus bagaimana. Selanjutnya ibu pingsan. Ia kemudian digotong beramai-ramai ke dalam rumah, dibaringkan di kursi biru ruang makan. Ketika ia sadarkan diri kembali, ibu lalu mengajak kami semua berdoa bersama-sama dan mengatakan pada kami, bahwa dengan melihat keadaan seperti ini, berarti bapak sudah tidak ada! “Bapak meninggal!”
Kami semua menjawab, “Belum bu! Bapak masih hidup, ini bekasnya bu. Cuma tangan dan kakinya yang kena, bu. Jadi bapak masih hidup. Jangan bilang bapak sudah meninggal bu.”
Tapi ibu tetap yakin, bapak sudah tidak ada. Ibu mengambil segumpal darah hangat bapak, diusapkannya dengan dua telapak tangannya ke wajah, leher dan dadanya untuk menjadi sumber kekuatannya. Kemudian ibu membersihkan darah bapak dengan kemeja putih yang sore itu dipakai bapak. Barulah sekarang kami sadar tentang apa yang telah terjadi. Kami baru dapat menangis. Menangis ditinggalkan oleh bapak………………….
Kira-kira pukul sembilan pagi, karangan bunga yang indah dari “Bela Flora” datang dengan ucapan, “Selamat Ulang Tahun 1 Oktober 1965″ buat ibuku. Adapun yang mengirimnya adalah bapak sendiri, padahal orang yang mengirim bunga itu entah kini entah berada di mana. Bunga itu membuat kedukaan yang semakin mendalam.
————————————-
Mengingat yang dikenang dari G-30 September 1965
Aku bukan masa lalu, tapi masa lalu membawaku ke masa depan ~kopralogic~
Attention ! Serbasejarah dengan admin Kopral Cepot hanya menulis di blog ini, tidak buka lapak di blogspot, multiply atau lainnya... Hatur tangkyu ;)
| bukanu on PERANG PADRI ; gerakan Harimau… | |
| bukanu on PERANG PADRI ; gerakan Harimau… | |
| Karmidi on Mengenal Sejarah Komunisme di… | |
| chandra iman on Melelang Monumen Jenderal Soed… | |
| faruq86 on PKS Dis-Orientasikah ? ? ? | |
| doktertoeloes " swis… on Buat Tamuku | |
| batara on PKS Dis-Orientasikah ? ? ? | |
| zahid29 on Peran “Ulama” Djaw… | |
| Mencatat Sejarah Mas… on Mencatat Sejarah Masjoemi | |
| deddy j immanuel l t… on Sisingamangaraja XII (1845… | |
| Kumpulan Sejarah on PETA, Untuk Siapa? | |
| Hendra Gunawan, SS on Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Pa… | |
| Hendra Gunawan, SS on Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Pa… | |
| Hendra Gunawan, SS on Makam Imam Kartosoewirjo … | |
| dennydublin@yahoo.co… on praja muda karana : PRAMU… |
Blog pada WordPress.com. Tema: Suburbia oleh WPSHOWER.
dahsyat.. sebuah serpihan sejarah yang patut kita kenang… semoga Bp Ahmad Yani mendapat kemuliaan di sisi Tuhan…. salam pahlawan…
sedj
http://sedjatee.wordpress.com
Pertamax…
waduhhh… keduluan sama sedjatee ya…
Terlalu serius baca sampai ujung, jadi lepas deh kesempatan pertamaxnya…
Hikz…
Hiks……
Kunjungan siang kang
(maaf) izin mengamankan KEEMPAT dulu. Boleh kan?!
(maaf) izin mau KELIMAAAXXZ duluan. Boleh kan?!
mungkin juga perebutan kekuasaan dan politik kotor
Semoga diterima di sisi Allah swt dan mendapatkan tempat terbaik
Assalamualaikum Kang kopral… Neda pangapunten nembe tatamu deui…
dihapunten pisan, ulah sakali-sakali deui…!
*punten pangjawabkeun*
Assalamu alaykum…
Sahabatku Copral saya hadir…
gmn lebarannya? maaf kemarin2 saya lg agk sibuk jd lom smpet buka blog. oh ya blognya dah tertanam tuh d blogku silakan cek.
hemmm…. nice blog… bs lbh bnyak belajar disini.
——————–
Kopral Cepot : Wa’alaikum salam .. sukses buat Mas Ahmad
.
__SALAMPAGII..kang cepi^^,,,selamatberaktifitas hari ini iaa__
————
Kopral Cepot : ____Ola bri____ salam prestasi
Ya Tuhan….sangat merinding-merinding disco membaca kesaksian ini.
Darah tertumpah, korban binasa…menjadi tumbal sebuah kelanggengan 32 tahun rezim diktator
Mau tanya kang..
Cara memasukkan komentar blog orang lain ke blog kita, itu gimana caranya?
Saya cuma bisa memasukkan artikel blog tetangga ke blog saya, tapi untuk komentar saya belum bisa memasukkan.
begitu mengharukan kang
tak di sangka, karangan bunga itu membuka duka yang mendalam
Turut sedih….
HOTLINE
GEMPA SUMATERA BARAT:0751 9824971 sd 9824980. FREE CALL
Donasi Gempa Sumatera
BCA KCU Thamrin No. Rek: 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI.
Dan Lewat Bank Mandiri KCU Jakarta Krakatau Steel No. Rek: 070-00-0011601-7,
atas nama Palang Merah Indonesia.
Salam : Ruanghati.com
Ping-balik: G-30 S … Indonesia ber-dziKIR lah !!! « Biar sejarah yang bicara ……..
Tidak tahu mau ngomong apa…………
revolusi selalu memakan anaknya sendiri…
Ada teori menyatakan bahwa jend. ahmad yani sbtlnya tdk wafat saat itu,, juga di lubang buaya bkn dia. dan ia oleh suharto dibungkam/dihilangkan dan diganti identitasnya yg sampai skrng tinggal di jawa barat, pd saat suharto wafat kmrn ia sempat melayat, namun thn kmrn beliau telah bnr2 wafat.. indonesian history is fake.
—————-
Kopral Cepot : Hmm .. mungkin juga
masa siih kaya gitu?? waktu visum kan benar terbukti itu alm,jendral A.yani
Bp. Ahmad Yani adalah pahlawan sejatiku.. (selamat jalan pahlawanku…)
hmm indonesia indonesia…………..lebih menarik jika anak2 korban ‘amerika’ dari seluruh dunia ‘BICARA’
letnan jendral achmad yani merupakan jendral kesayangan sekaligus anak emas dari bung karno.jendral yang tegas jujur/bersih berwibawa dan tidak diragukan lagi dedikasinya terhadap bangsa.beliau yang mengajak letnan jendral sarwo eddy wibowo berkarier didunia militer.dan keduanya berasal dari daerah yang sama.kadang kita terpaku dan terpana manusia seperti beliau terhenti kariernya ditengah jalan dimana bangsa dan negara ini memimpikan putra-putri terbaiknya .entah mengapa apa sudah menjadi takdir orang yang baik-baik ,jujur dan bersih usianya tidak terlalu panjang.( atau mungkin kodrat ) kita ini kadang sedikit sekali introspeksi padahal tauladan itu ada dihadapan kita.bersama dengan perwira tinggi yang lain menjadi tumbal revolusi dan makin lengkaplah kesempurnaanya sebagai insan manusia.aku berkata di dalam hatiku sendiri “seandainya…seandainya ada seratus letnan jendral achmad yani di negara ini , negara ini akan memperoleh massa keemasanya ” .apa yang kita kerjakan adalah mencontoh meniru suri tauladan yang beliau tinggalkan.semoga dan semoga seluruh keluarga nya tabah dan kuat menerima cobaan ini dan memberikan jalan yang terbaiknya. SELAMAT JALAN JENDRAL ,INSYAALLAH ENGKAU MEMPEROLEH NIKMAT KUBUR,SELAMAT JALAN BAPAK INSYAALLAH AKU SEMUA BISA MENERUSKAN SURI TAULADAN YANG KAU TINGGALKAN …. SELAMAT JALAN dan insyaALLAH kita semua menyusulmu !! (doktertoeloes malang )
jendral ahmad yani memang tangguh …tak kenal lelah …
Salam hormat bu Amelia:
Terakhir bertemu anda dirumah Jl. Lembang semasa Alm. Bunda Yani masih hidup dalam kesempatan Lebaran, saya datang beserta isteri dan 2 anak. Kenangan manis waktu kado kecil Ulos Batak bunda langsung simpan kekamar sambil tersenyum. Disitu ada juga Pak Srihadi dan seorang dosen dari Trisakti dan anda baru release buku perihal Alm. Pak Yani. Salam hormat. Hans B. Pandjaitan
bu amel…sebenarnya siapa yang menembak bapak…???
yang menembak adalah pasukan cakrabirawa yang sudah terpengaruh oleh paham PKI ( saya baca buku yang di tulis oleh Bu Yani, istri Pak Yani )… isi buku tersebut sangat gamblang, seakan yg bercertita adalah Pak Yani.