Pesan dakwah walisanga yang pertama dan urgent adalah Penanaman Aqidah yang benar dan murni. Salah satu upaya para Walisanga dalam rangka menanamkan aqidah Islam dengan “de-dewanisasi” dengan sarana mitologi hindu yang berkembang di masyarakat, lalu di reinterpretasi yang berupa cerita-cerita yang berkait dengan kelemahan dan kekurangan dewa sebagai sesembahan manusia selanjutnya remitologi pembuatan mitos baru. Salah satu contohnya dari kasus ini adalah timbulnya cerita Hyang Manik Maya (Batara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar). Munculnya kisah-kisah kalangan Ulama yang disisipi aqidah Islam dan diikuti pula berkembangnya nilai-nilai Islam di masyarakat maka orientasi perang Ideologi para ulama semakin jelas mengarah ke perombakan setting budaya dan tradisi keagamaan yang ada.

Kedua, Hijrah Hukmiyah; Ketaatan dan ketundukan pada Hukum. Salah satu upaya para wali dengan menyebarluaskan nilai-nilai Islam kepada masyarakat agar mematuhi hukum syariat Islam dengan membentuk nilai tandingan bagi ajaran Yoga-Tantra yang berasaskan Ma-Lima. Bila dikalangan penganut Yoga-Tantra, Ma-Lima berarti penyempurnaan bathin, maka para Ulama Walisanga justru menetapkan bahwa Ma-Limaadalah perbuatan yang merusak jiwa. Konsep Ma-Lima versi Walisanga adalah : Madat (Candu), Main (Judi), Maling (Mencuri), Minum (Minuman keras), dan Madon (berzinah).

Ketiga,Hijrah Wijhah; Penanaman nilai-nilai Akhlaq terpuji. Para wali dalam dakwah Islam di tanah Jawa ditempuh dengan cara-cara bijak dan adiluhung.