Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Politik Versi Nabi

~ Orang Barat lebih melihat ke bumi, orang Timur lebih melihat ke langit ~

Ungkapan diatas, dikutip dari Sayid Muhammad Baqr Ash-Shadr, ini merupakan justifikasi yang memang terjadi pada realita kehidupan saat ini. Orang barat yang tergila-gila dengan konsep imperialisnya, yang menghendaki pemenuhan kepuasan kepada materi sementara orang Islam berpolitik di muka bumi sebagai Khalifah sebagaimana titah dari langit, sehingga bertendensi religius.

Adrian Leftwich, di dalam bukunya What is Politics ? The Activity and Its Study (Oxford and New York, Blackwell, 1984: 64), menjelaskan bahwa politik adalah jantung dari semua kegiatan sosial kolektif, formal mau pun informal, publik dan privat, di dalam semua kelompok-kelompok manusia, lembaga-lembaga dan masyarakat, dari mulai interaksi sosial keluarga sampai interaksi di dalam bangsa dan mau pun lintas bangsa. Yang membedakannya dari interaksi sosial biasa adalah bahwa politik melahirkan kekuasaan yang memperhatikan penciptaan, pendistribusian dan penggunaan sumber-sumber keberadaan sosial manusia. Dengan demikian, politik memunculkan dimensi kekuasaan pengambilan keputusan, kekuasaan atas agenda setting dan kekuasaan atas kontrol pemikiran.

Kata politik pada mulanya terambil dari bahasa Yunani dan atau Latin politicos yang berarti relating to citizen. Keduanya berasal dari kata polis yang berarti kota. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata politik sebagai “segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain.” Juga dalam arti “kebijakan, cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani satu masalah).”

Jika politik secara hakiki dipandang sebagai proses interaksi antar elemen di dalam suatu negara atau dunia yang berisikan konflik dan konsensus, maka politik dapat dimaknakan sebagai suatu perjuangan memperebutkan sumber-sumber yang terbatas melalui kekuasaan di tengah-tengah hasrat (desire) atau keinginan manusia yang cenderung tidak terbatas. Dengan begitu, menjadi penting pula membicarakan bagaimana proses-proses serta hasil-hasil pengambilan keputusan kebijakan publik dilakukan, siapa menentukan apa dan mendapatkan apa dan bagaimana proses pengaruh-mempengaruhi di dalam pembuatan kebijakan pendistribusian sumber-sumber yang ada di sebuah negara. Juga membicarakan kepentingan-kepentingan apa saja dan siapa saja yang berkonflik di dalamnya serta apa isi konsensus yang dijadikan patokan hidup bersama, adil kah konsensus itu atau sebaliknya hanya menguntungkan satu atau beberapa golongan tertentu di dalam masyarakat.

Politik tidak identik dengan pemerintahan. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu bagian penting politik adalah pemerintahan.

Politik juga bisa dimaknai sebagai seni mengelola perubahan. Malik bin Nabi memberikan gambaran bahwa politik adalah “aktivitas yang terorganisir dan efektif yang dilakukan oleh umat secara keseluruhan –negara dan masyarakat- yang sejalan dengan ideologi mayoritas rakyatnya, dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan saling bantu antara pemerintah dan individu dalam aspek sosial, ekonomi dan budaya; agar politik memberikan pengaruhnya yang kongkret pada realitas sosial, yang membawa pada perubahan bingkai kultur dalam sebuah orientasi yang akan menumbuhkan kecerdasan baru secara harmonis”.

Dalam pandangan itu, politik pada akhirnya adalah “penciptaan kultur”;  yang oleh karena itu, dalam pandangan Malik bin Nabi, aktivitas membangun taman di kota Kairo juga berarti aktivitas politik. Zaki Najib Mahmud berpendapat bahwa politik adalah “melihat bagaimana kondisi tempat kita hidup ini mengalami perubahan” atau upaya mengubah realitas sosial. Politik berarti bahwa kita menciptakan perubahan untuk mereka dan kita menjadikan mereka bisa melakukan perubahan tersebut untuk diri mereka sendiri.

Dalam perspektif Aristoteles dan para filosof Yunani pada umumnya, politik dimaknai sebagai segala sesuatu yang sifatnya dapat merealisasikan kebaikan di tengah masyarakat.

Imam Syafi’i memberi definisi bahwa politik adalah hal-hal yang bersesuaian dengan syara’. Pengertian ini dijelaskan oleh Ibnu Aqil bahwa politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih menjauhkan dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rasulullah saw atau dibawa oleh wahyu Allah Ta’ala.

Selanjutnya politik bisa dimaknai secara lebih luas sebagai kepedulian terhadap berbagai dinamika dan persoalan umat. Hasan Al Banna menyebutkan politik adalah “hal memikirkan persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat”. Yang dimaksud dengan internal adalah “mengurus persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan dan dikritisi jika mereka melakukan kekeliruan”.

Sedangkan sisi eksternal politik dalam wacana Al Banna adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, menghantarkannya mencapai tujuan yang akan menempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain serta membebaskannya dari penindasan dan intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya”. Karena persepsi semacam inilah Al Banna dengan tegas mengatakan, “Keislaman seseorang menuntutnya untuk memberikan perhatian kepada persoalan-persoalan bangsa”.

Dari berbagai pengertian tersebut dipahami bahwa cakupan aktivitas politik itu luas. Sejak dari aktivitas individual yang memproses perubahan, sampai aktivitas kolektif dalam partai politik atau dalam urusan pemerintahan. Keseluruhannya masuk wilayah pengertian politik. Dengan pengertian seperti ini, tampak bahwa siyasah termasuk salah satu tugas kerasulan yang penting, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (Al Hadid: 25).

Sejarah mencatat bahwa usia dunia politik adalah seusia kehidupan manusia. Dalam kisah Nabi-nabi terdahulu, manusia sudah mengenal system pemerintahan, seperti zaman Nabi Ibrahim dengan rajanya “Namrudz” yang terkenal lalim*.

Politik Islam dalam sejarahnya pernah menjadi mercusuar dunia, melampaui dua peradaban besar ketika itu, yakni Romawi dan Persia. Namun, hukum sejarah seperti diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya berlaku, bahwa sejarah manusia adalah sejarah jatuh bangunnya kekuasaan (pemerintahan) atau dominasi. Ini pula yang dialami Islam.

Abad ini disebut-sebut, misalnya oleh John L Esposito, sebagai abad kebangkitan Islam (revivalisme Islam), dimana Islam sebagai kekuatan politik dan kultural di berbagai belahan dunia, baik itu di dunia Islam sendiri maupun di dunia non Islam, tengah mengalami intensitas peningkatan cukup signifikan, yang tercirikan dengan makin tumbuh suburnya gerakan-gerakan Islam, dari yang berkarakter moderat hingga radikal. Dari yang radikal lunak (soft) hingga radikal yang keras (hard), yang mengambil jalan kekerasan.

Substansi dari semua gerakan itu adalah spirit memposisikan (menegaskan identitas) dan bagaimana memproyeksikan Islam di lingkungan dunia yang saat ini telah mengalami perubahan begitu cepat dan drastis, yang ditandai dengan kemajuan-kemajuan terutama di bidang teknologi (modernisasi) hampir di semua sisi kehidupan. Dengan kata lain, baik itu gerakan yang moderat maupun radikal, sesungguhnya membawa semangat revivalisme Islam.

Menurut Esposito dalam bukunya, Islam: The Straight Path (1988), meski ada perbedaan-perbedaan khas dalam hal interpretasi, kerangka ideologis umum revivalisme Islam mencakup tujuh keyakinan.

  • Pertama, Islam adalah pegangan hidup yang lengkap dan total. Agama integral dengan politik, hukum, dan masyarakat.
  • Kedua, kegagalan masyarakat-masyarakat Muslim disebabkan oleh penyimpangan mereka dari jalan lurus Islam dan mengikuti jalan sekuler Barat, dengan ideologi dan nilai-nilai yang sekuler-materialistis.
  • Ketiga, pembaruan masyarakat mensyaratkan kembali pada Islam, sebuah reformasi atau revolusi religio-politik yang mengambil inspirasinya dari Al Quran dan gerakan besar Islam pertama yang dipimpin oleh Nabi Muhammad.
  • Keempat, untuk memulihkan kekuasaan Tuhan dan meresmikan tatanan sosial Islam sejati, hukum-hukum berinspirasi Barat harus digantikan dengan hukum Islam, yang merupakan satu-satunya cetak biru yang bisa diterima bagi masyarakat Muslim.
  • Kelima, meski westernisasi masyarakat dikecam, modernisasi tidak. Ilmu pengetahuan dan teknologi diterima, tapi keduanya harus ditundukkan di bawah akidah dan nilai-nilai Islam, demi menjaga dari westernisasi dan sekulerisasi masyarakat Muslim.
  • Keenam, proses Islamisasi, atau lebih tepatnya, re-Islamisasi, memerlukan organisasi-organisasi atau serikat-serikat Muslim yang berdedikasi dan terlatih, yang dengan contoh dan kegiatan mereka, mengajak orang lain untuk lebih taat dan organisasi orang-orang Muslim yang ingin berjihad melawan korupsi dan ketidakadilan sosial.
  • Ketujuh, Revivalisme Islam menginginkan kembalinya Islam sebagai mercusuar dunia seperti yang pernah dialami di masa lalu, dalam segala bidang, baik itu agama, politik, ekonomi, budaya, bahkan sains dan teknologi. Keinginan ini barangkali terlalu utopis, jika melihat bagaimana dominasi kekuatan dunia saat ini bukan lagi terletak pada persoalan semata-mata politik kekuasaan, yakni bagaimana negara-negara di seluruh dunia bersatu dalam satu pemimpin (khilafah), misalnya, tapi saat ini dominasi itu ada pada kekuatan ekonomi pasar yang bahkan bisa mengalahkan kebijakan sebuah negara.

Adalah penting untuk membuka kembali lembaran sejarah Nabi Muhammad SAW serta mencontoh keteladanannya dalam mengelola kekuasaan dalam menciptakan kebaikan kualitatif maupun kuantitatif. Apalagi bagi umat Islam Muhammad bukan sekadar cermin teladan (uswah hasanah) dalam masalah rohani, melainkan juga contoh ideal seorang pemimpin duniawi.

Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw, tidak sebatas urusan agama semata, akan tetapi beliau juga pemimpin sebuah negara yang mempunyai wilayah kekuasaan, rakyat, dan sistim ketatanegaraan.

Ali Syariati yang menggambarkan sosok, karakter, dan perilaku Nabi dalam tulisannya yang berjudul A Visage of Prophet Muhammad. Diantara sosok Nabi menurut Syariati, Sosok Nabi sebagai pemimpin militer : “”Tidak ada pemimpin militer, sehubungan dengan operasi militernya sendiri, yang mampu melibatkan dirinya dalam perang sebanyak itu, (64 atau 65 kali) dalam sepuluh tahun kepemimpinannya di bidang sosial dan politik,” tutur Syariati.

Namun, Syariati tidak melihat Nabi sebagai pemimpin militer belaka. Ia pun mencatat rincian-rincian lainnya mengenai sosok Nabi yang memperlihatkan kualitas kemanusiaannya yang terpuji.

Tidak dilupakan, misalnya, bahwa sebagai pemimpin yang mampu menandingi bahkan meruntuhkan sejumlah kekaisaran besar pada zamannya, Nabi berkenan menerima seorang wanita yang selama sekitar satu jam mengadukan masalah rumah tangganya. Juga sekali waktu, sepulang berperang, Nabi turun dari kudanya dan menemui seorang buruh kecil yang terkucil. Diciumnya tangan sang buruh yang kasar itu.

Marshal G Hodgson dalam tulisannya yang bertajuk The Venture of Islam, mengungkapkan, “Masyarakat Muhammad terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim dalam berbagai ragam derajat keanggotaan.”

Sejak saat itu, tulis Hodgson, komunitas itu tak lagi sekadar sebuah suku baru yang terdiri dari orang-orang beriman atau bahkan sekedar perkumpulan revolusioner lokal.  ‘’Masyarakatnya terdiri dari berbagai unsur heterogen yang diorganisasi secara lebih baik dibandingkan sistem organisasi masyarakat Makkah, baik secara religius maupun politik,’’ papar Hodgson.

Struktur politik yang dibangun Muhammad, papar Hodgson, merupakan bangunan yang kini dikenal dengan sebutan negara, seperti negara-negara lain yang ada di sekeliling Jazirah Arab, lengkap dengan otoritas tata pemerintahan yang berdasarkan aturan hukum.

Dalam praktek kenegaraan yang dijabarkan oleh nabi adalah membangun negara Madinah dan pemerintahannya, dan dilanjutkan oleh penerus beliau 4 (empat) khalifah yang terkenal (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) yang dikenal dengan panggilan Khulafaurrasyidin Ahmadiyyin (Pemimpin yang cerdas dan mendapat petunjuk). Sejatinya Islam adalah agama yang sempurna termasuk sistim politik dan Ketatanegaraan, maka tidak perlu bagi umat Islam mengimport sistem politik Barat yang sangat kental dengan sekularismenya.

Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai. (HR. Ath-Thabrani)

Referensi :

  1. Negara dan Keadilan Sosial: Krisis Legitimasi Politik Di Era Kapitalisme Global, Ahmad Taufan Damanik.
  2. Sebuah Bahan Perenungan, Cahyadi Takariawan.
  3. Corak Pemikiran Politik Dalam Dunia Islam, Dokumen Sadeli.
  4. Memposisikan Revivalisme Islam, Fajar Kurnianto, Duta Masyarakat.
  5. Nabi Muhammad SAW : Negarawan Teragung Sepanjang Masa, Republika Online.

* Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX ,(Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003) h. 26. Nabi Ibrahim hidup antara tahun 1700-2000 SM. Pada peradaban orang-orang Sumeria.

About these ads

22 comments on “Politik Versi Nabi

  1. MSF
    Mei 4, 2012

    Artikel yang menarik.
    Syabas!

    Mencoba mencari kata politik dari wahyu Ilahi (al-Quran), apa ada yah?
    Muslim hari ini menggunakan kata siyasah yang ada termaktub dalam
    al-Hadis: berakar dari kata sa-sa – yasu-su.
    ….
    Barangkali bisa dikemukakan kata “ka-da” – “yaki-du”, “kaidan” yang digunakan wahyu (al-Quran).
    Tentu saja… masih perlu pengkajian lagi kang.
    wassalam

    • Kopral Cepot
      Mei 4, 2012

      Hatur tangkyu bang MSF … lagie belajar nih .. dan betul sekali, masih perlu pengkajian lagi dan lagi, apalagi mengingat wajib dan pentingnya belajar siyasah ;)

      قَالَ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

      (Yusuf (12) : 5 )

      Hatur tangkyu pencerahannya

      • MSF
        Mei 4, 2012

        Sekali lagi… Syabas.
        QS Yusuf: 5 yang akang tampilkan kayanya bisa berarti: “mereka akan mempolitikan kamu; iaitu memisahkan kamu dari “wajah abikum”.
        nah…
        bisa juga dibandingkan dengan QS ath-Thariq 86:15-17.
        Kalau dicoba penggabungan definisi dari al-Quran dan Al-Hadis akan menjadi:
        “Kaidah siyasah”
        Huruf K adalah Kaf (b.Arab).
        Mudah-mudahan akan membantu dalam belajar siyasah islamiyah dari sumber wahyu.
        Semoga n Salam
        (senantiasa memandang langit)

        • Kopral Cepot
          Mei 4, 2012

          Sekali lagie ….. hatur tangkyu

          Belum bisa banyak berkomentar … sekedar menampilkan dulu penelusuran siyasah dalam hadis, supaya pembaca mudah mengikuti diskusi ini. Diantara Al-Hadis yang ditemukan dari HR Muslim, Nabi saw. menggunakan istilah politik (siyâsah) dalam salah satu hadisnya:

          كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاََ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

          Bani Israil itu diurusi urusannya oleh para nabi (tasûsu hum al-anbiyâ’). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak khalifah. (HR Muslim).

          tasûsu hum al-anbiyâ’ ; “urusan yg diurus oleh nabi” …urusan-urusan apa yg diurus oleh Nabi (Politik Nabi)? kalau digabung dengan definisi Al-Qur’an menjadi “Kaidah Siyasah” …. Kaidah Siyasah Nabi itu apa?

          Wah… aku harus belajar lebih dalem lagie bang… ;)

    • gie
      Mei 4, 2012

      ayo kang MSF….explore……nanti bagi2 yah….
      kalo pemula (seperti sy) masih cukup pake “pemimpin sebuah negara yang mempunyai wilayah kekuasaan, rakyat, dan sistim ketatanegaraan……..”……M,I,R…..nggak pake AS (bikin mabuk)
      Merdeka! :) nggak tau kapan…tp semoga sy ada didalam perjalanannya.

      • Kopral Cepot
        Mei 4, 2012

        @ gie … bantuin donk tuk explore ……… M, I, R ………. menarik tuh kalo digali lagie

        Hatur tangkyu ;)

  2. MSF
    Mei 4, 2012

    BTW
    Tokoh atau Bapak Siyasah Umat Islam Bangsa Indonesia

    bisa kita ajukan (urutan pertama dan utama) Bapak HOS Cokroaminoto
    (bisa setuju ngak???).
    Berbahagialah orang yang dapat belajar dari beliau
    dan
    mereka yang dapat menimba ilmu dari murid/pengikut beliau.
    Salam.
    nb
    M,I,R itu apaan yah?

    • gie
      Mei 14, 2012

      @kopral cepot…jd malu…..harus “naik gunung wayang” dulu dong…..berguru dulu sm jendral semar………biar bisa nulis yg bener :D

      @MSF……iya kang…dengan keterbatasan sy, belum bisa mengkaji dari arti kata…sy baru bisa baca (yg populer) aja….rob malik ilah setidaknya ini terjemahannya hampir sama dari Al-Qur’an yg ada…….gitu kang :)

      cheers,

  3. SITI FATIMAH AHMAD
    Mei 7, 2012

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang KC…

    Saya senang membaca postingan tentang ini. Banyak dapatan kajian disertakan sebagai mengukuh hujjah sehingga memperlihatkan kebijakan hasil tulisan penulisnya.

    Politik secara umumnya adalah lingkungan kehidupan kita seharian bermula dari rumah, menurun kepada masyarakat setempat dan meluas hingga ke peringkat kebangsaan dan antara bangsa.

    Rasulullah SAW adalah contoh ahli politik dan pemimpin yang mahir dalam mengurus negara dan urusan diplomatik. Politik bukan aktiviti mudah yang dimiliki oleh semua orang. tetapi politik hanya bisa dicapai oleh mereka yang punya kehendak kuat, berani dan mampu memimpin dengan kewarasan dan kebijaksanaannya kerana urusan memanusiakan manusia dan menegarakan negara memerlukan mereka yang bijak dan berilmu pengetahuan.

    Jika kita teliti, ilmu politik adalah ilmu praktis yang hanya dilalui dengan pengalaman dan mengalaminya secara benar. Tidak terdapat syarat wajib atau syarat sah yang jitu ditentukan oleh Rasulullah dalam berpolitik sebagaimana ibadah solat, puasa dan haji.

    Kepimpinan dan memimpin melibatkan tanggungjawab dan amanah yang besar kerana itu, jika kita selusuri peribadi kelima-lima khalifah-khalifah Rasulullah dan para sahabat, mereka merasa berat ditimpa dengan urusan kepimpinan ini. Berbeda dengan kebanyakan pemimpin dunia Islam masa kini yang berlomba-lomba mahu jadi pemimpin disebabkan kekayaan yang ada disebaliknya.

    Untungnya umat islam punya garis panduan yang jelas dalam aspek kepimpinan dan memiliki tokoh peribadi unggul untuk dicontohi dari segala aspek kehidupannya. Barat hanya memiliki dunia tetapi tidak memiliki akhirat. itu sahaja kerugian besar yang mereka alami kini.

    tetapi jika umat islam tidak menuruti jalan Allah, bersatu padu seluruhnya, sistem khilafah tidak dibangkitkan kembali, sampai kapanpun, negara islam yang benar-benar bersyariatkan al-Quran dan al-hadis tidak akan wujud di muka bumi ini. wallahu ‘alaam.

    Salam hangat dari saya di Sarikei, Sarawak. :D

    • Kopral Cepot
      Mei 10, 2012

      Wa’alaikum salam wr,wb.

      Hatur tangkyu bunda, atas sumbangsih pemikiran yang sungguh sangat menambah dan membantu saya untuk lebih memahami terus tentang ilmu politik khususnya Politik Kenabian.

      Betul sekali bahwa Baginda Rosululloh telah memberi contoh yang agung dalam praktek kepemimpinan negara yang tentunya harus terus banyak dikaji dengan luas agar kita mampu mengambil ibrah pelajaran bagi kehidupan di masa kini.

      Semoga umat Islam bisa sadar akan perlunya menuruti jalan Allah dan mau bersatu padu berjuang mewujudkan negara islam yang benar-benar bersyariat al-Qur’an dan al-Hadist…. dan saya yakin ini bukan keinginan yang utopis tetapi sebuah cita-cita yang bisa terwujud asal taktis strategis perjuangan versi Nabi bisa di ikuti secara sebenar-benarnya.

      Skali lagi hatur tangkyu terima kasih …. salam hangat :)

  4. obat sakit asam urat
    Mei 12, 2012

    nice posting mas….

    slam kenal dan terimakasih,,,

  5. dennydublin
    Mei 14, 2012

    kita amat sangat merindukan kepemimpinan ( leadershipnya ) rasululloh – apa yaa

    mungkin , pada sa’at ini setelah beliau adalah zaman se-buruk2nya manusia.

    kalaupun ada dari 30% s/d 50% jiwa kepemimpinan beliau rasanya masih NA’IF.

  6. atmokanjeng
    Mei 16, 2012

    Dalam wajah demokrasi pemimpin berpolitik untuk mashlahat. namun kenyataannya Indonesia yang 90 % penduduknya Islam, ogah memakai sunah Nabi dalam mengurusi rakyatnya. isme-isme yang moderat akan diusung namun pokoknya bukan selain Islam. akhirnya ketika politik jauh dari Islam, mashlahat tidak kena dan kedzaliman yang merata. Rakyat hanya bisa ngudara khas Armada band…. “MAU DIBAWA KEMANA NEGARA KITAAAAAAA……… ”

    ———–
    Kopral Cepot : Betul sekali … setubuh ;) … dalam sejarah ada dua dimensi, sejarah yang berbuah manis “thoyyibah” dan ada yang berbuah pahit “khuldi”, apa yang ditanam hari kemarin buahnya adalah hari ini dan apa yang ditanam sekarang maka buahnya adalah hari esok

  7. pesta ulang tahun
    Mei 16, 2012

    nice article…salam kenal dan sukses slalu yaaa…:)

  8. dennydublin
    Mei 21, 2012

    kemana arah negara kita , gampang saja khan ” mari kita bertanya pada rumput

    yang bergoyang ” nya – ebiet g ade.

  9. iwan
    Mei 31, 2012

    Muhammad adalah seorang pemalu, suka tersenyum dan orang yang membelai kepala anak yatim dengan lembut. “Usaplah kepala anak yatim, niscaya hatimu akan lembut,” kurang lebih begitu kata beliau.

    Islam ini agama yang aneh, menurut saya, dan asyik :)

    ———–
    Kopral Cepot : Islam itu sesuatu …… :)

    • Dewa
      Juli 25, 2012

      @iwan : haha… lo tuh yg aneh dan asik…
      (menurut gw sih..)
      ga tau jg klo menurut kepercayaan anda masing2 :P

  10. wandyestin
    Agustus 9, 2012

    artikel yg bagus.. benar-benar menambah wawasan saya.. :)

  11. atex
    September 24, 2012

    nice, good article. insyaAllah lewat dakwah parlemen (politik) yg cerdas, Islam mampu memberikan sumbangan nilai2 keislaman-nya utk politik bangsa Indonesia ini. Dakwah politik “Islam” khususnya di Indonesia memang tidak mudah (byk cobaan dan rintangan), namun dgn niat yg ikhlas (krn Allah) utk mensejahterakan bangsa ini dunia akhirat, maka dakwah parlemen mau atau tidak mau memang harus berjalan dan dikuatkan. maka insyaAllah apa yg kita cita2kan Islam memimpin Indonesia (khususnya) akan membuahkan hasil yg baik.

  12. muslimin
    Desember 29, 2012

    berpolitik itu perlu etika ta’muruna bil ma’ruf wantanhauna anil munkar dan menjunjung tinggi hasil musyawarah atau konsessus

  13. Ping-balik: sejarah 25 nabiReferensi Sejarah | Referensi Sejarah

  14. Ping-balik: sejarah 60 sahabat nabiReferensi Sejarah | Referensi Sejarah

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: