Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Kisah Perbudakan di Batavia

“Sjahadan antara boedak-boedaknya Toean Van Der Ploegh, ada djoega satoe orang prampoean moeda, Rossina namanja jang teramat tjantik dan manis parasnja, dan dalem antero bilangan Betawi tiada ada lagi seorang prampoean jang boleh disamaken padanya. Maskipoen Rossina asal toeroenannja orang Bali, koelitnya tiada hitem, malahan poetih koening sebagai koelit langsep. Oemoernja moeda sekali, belon anem belas taoen.

Apabila Njonja Van der Ploegh pergi melantjong atau pergi di gredja, Rossina selamanja di adjak boeat bawa tempat siri. Dimana tempat ia liwat, senantiasa Rossina dipandeng dan dipoedji orang kerna eloknya. Pakeannya tiada sebrapa bagoes, sedang sadja, jaitoe badjoe koeroeng poetih pendek sampai diwates pinggang dan kain batik, aken tetapi pinggangnja jang langsing ada teriket dengan pending mas, taboer berliant.

Ramboetnja, jang item moeloes dan pandjang sampe dimata kaki, selamanja dikondei sadja di betoelan leher. Ramboet ini biasanja digaboeng dan terhias dengan brapa toesoek kondei mas bermata berliant. Semoea barang mas inten ini soedah tentoe boekan poenjanja si Rossina, tetapi ada punjanja Njonja Van der Ploegh jang soeka sekali riaskan boedak-boedaknja soepaja njata pada orang banjak bebrapa besar kekajaanja….”

KISAH di atas adalah tulisan H.F.R. Kommer, dalam bukunya berjudul Rossinna, swatoe tjerita jang amat bagoes dan betoel soeda kedjadian di Betawi,” terbit tahun 1910. Rossinna adalah satu dari sekian banyak roman klasik yang mengisahkan percintaan dendam, dan perbudakan pada zaman kolonial Belanda. Secara umum dapat dilihat kehidupan masyarakat waktu itu, gambaran kelompok yang berkuasa dan yang tertindas.

Dalam kisah yang ditulis Kommer, Rossinna karena sang nyonya cemburu akan kecantikannya dan takut suaminya jatuh cinta – tanpa kesalahan yang berarti telah dihukum bakar hidup-hidup sampai menemukan ajalnya.

* * *

Perbudakan di zaman kolonial Belanda berkembang sejak Jan Pieterszoon Coen berhasil merebut benteng Jayakarta pada tahun 1619. Ketika Kompeni bertambah jaya, pemilikan budak mencapai puncaknya antara lain karena sistem perdagangan budak terorganisasikan dengan rapi. Perkembangan ini membuahkan “kultur” baru: pangkat dan kekayaan seorang pejabat VOC diukur dari jumlah budak yang dimilikinya.

Perbudakan khususnya di Batavia lalu menjadi sumber jorjoran. Di hari Minggu, misalnya, pameran kekayaan ini bisa disimak dari panjang pendeknya deretan budak yang mengiringi sang tuan dan nyonya Belanda ke gereja. Tiap budak mempunyai tugas membawa perlengkapan, seperti payung, bantalan kaki, kipas besar, kitab-kitab agama, tempat rokok, bahkan kotak sirih – karena beberapa nyonya Belanda makan sirih – dan benda-behda lain yang terbuat dari emas atau perak ukir-yang mahal. Pakaian dan perhiasan yang dilekatkan di tubuh budak-budak itu – tentu saja sekadar dipinjamkan termasuk dalam rangka pameran itu.

Keperluan akan budak ini semula ditumbuhkan oleh kebutuhan tenaga kerja untuk membuat benteng Batavia. Ketika Coen mengalahkan Pangeran Jayakarta (1619), kawasan pantai ini berpenduduk 350 orang. Cuma 80 di antaranya berstatus budak. Jumlah budak yang diperlukan kemudian tentu jauh lebih besar dari itu – apalagi ketika Kota Batavia berkembang.

VOC memerlukan tenaga untuk penggalian kapal, pengeringan rawa-rawa serta perapian kawasan yang dijadikan pertapakan kota. Penduduk sekitar Batavia tak bisa direkrut: Umumnya menyingkir dan menolak bekerja sama apalagi dijadikan budak. Mulanya Kompeni mendatangkan budak dari Semenanjung India dan pulau-pulau sekitar. Ini bisa disimak di dagh register atau catatan harian klerk-klerk Kompeni yang rajin menuliskan setiap kejadian dan transaksi dagangnya. Tercatat, kapal Goudbloem membawa 250 budak dari daratan Asia Timur. Sampai di Teluk Batavia, jumlah itu menyusut menjadi 114 orang. Kapal d ‘Elisabeth pergi ke Madagaskar untuk mencari pekerjaan tambang buat Silida (Salido, Sumatera Barat). Dari 115 orang budak laki dan perempuan yang dibawa dari sana, yang masih mempunyai nyawa ketika sampai di pantai Sumatera Barat cuma 62 orang.

Ketika VOC kehilangan kekuasaannya di Semenanjung India, impor manusia dari Madagaskar, Surat atau Benggala, otomatis terhenti. Sebagai gantinya VOC menemukan, di Indonesia sendiri ternyata cukup banyak sumber “komoditi kaki dua”. Hampir di setiap pulau di Indonesia waktu itu selalu ada kelas masyarakat yang berasal dari penduduk yang dikalahkan atau orang-orang yang tak bisa membayar utang yang disebut kelas budak. Dari para pemilik budak inilah, lewat calo-calo yang tiba-tiba menjamur, VOC mendapatkan mereka.

Nah, sejak saat itulah perdagangan budak tumbuh di kalangan pribumi. Setiap kapal yang berlabuh di Batavia, selain membawa dagangan tradisional (rempah, kayu cendana, kuda, dan lain-lain), juga sarat dengan komoditi istimewa ini. Kapal berkapasitas 100-200 ton yang dimiliki Kompeni sanggup membawa sekitar 200 orang budak – untuk perjalanan dari Indonesia belahan timur sampai ke Batavia yang makan waktu paling tidak dua minggu.

Dagh-register 8 Desember 1657 mencatat, seorang direktur kantor dagang di Batavia, Karel Harstinck, memborong 80 budak perempuan dan laki-laki asal Pulau Solor, dari sejumlah sekitar 90 orang yang datang dengan kapal dari sana (dituliskan: als mede 80 a 90 stuckx schapen van daer gekomen).

Perhatikan kata stuckx, kata nominal untuk membilang jumlah budak, yang disamakan dengan benda tak bernyawa. Catatan lain menyebutkan bahwa kapal Kabeljauw pada akhir ekspedisinya telah membawa 19 budak yang sehat dan kekar. Tubuh mereka sudah dicap “VOC” (… met leer lomnaeyt met Compagnie merck getjapt). Dagh-register ini hingga kini masih bisa dibaca dan disimpan di Arsip Nasional, Jakarta. Ekspedisi di sepanjang pantai Nieuw Guinea (kini Irian Jaya), telah berhasil merantai sejumlah penduduk asli. Bagi Kompeni, hasil dari pantai Irian Jaya ini termasuk “komoditi langka” dan, tentu saja, mahal. Mengetahui hal ini, pada tahun 1760 penguasa Batavia telah mengeluarkan izin untuk mengekspor dua orang budak Irian.

Pembelinya adalah wakil kaisar Tiongkok untuk dihadiahkan kepada sang kaisar. Dalam surat izin ada disebutkan: . . . untuk dijadikan koleksi abdi dalem Seri Baginda Kaisar, sebagai budak yang ganjil dan aneh bentuknya ….” Budak jadinya juga unsur pelicin persahabatan atau faktor pelancar hubungan dagang. Pernah, di saat pemerintahan Pangeran Mauritz (1621-1625), Belanda ingin memperluas perdagangan ladanya dengan Kerajaan Aceh. Biasanya, tanda pelicin yang diberikan ialah senapan atau meriam. Dan sepasang meriam pun dikirimkan, sebagai hadiah pembuka jalan. Tapi apa lacur, Sultan Aceh (kemungkinan besar Raja Iskandar Muda) menolak hadiah meriam ini. Sultan minta dua orang budak perempuan kulit putih. Permintaan Sultan Aceh ini tak bisa dipenuhi. Rupanya lalu lintas budak hanya berjalan satu arah, budak kulit berwarna untuk tuan kulit putih.

Bukan sebaliknya …. Berapa harga seorang budak di Batavia? Daghregister pada awal abad ke-19 mencatat, seorang budak yang sehat, muda, dan tampan, paling tidak, laku dijual dengan harga 90 real (real dari kata “rijsdaalder”, mata uang Spanyol). De Haan, yang menulis buku berjudul de Priangan memperkirakan, harga sekeluarga budak (pasangan suami-istri yang masih mempunyai anak satu), berkisar 1.220 real. Harga tinggi ini disebabkan adanya harapan bahwa pasangan suami-istri ini akan beranak pinak. Anak-anak mereka, tentu saja, menjadi milik si empunya budak.

Untuk perbandingan situasi ekonomi waktu itu, dalam buku History of Java karangan Raffles, tercatat harga 1 pikul beras, di tahun 1795, cuma 2 real. Harga lada per kati, 12 sen dan kopi 8,5 sen. Maka, bisa dibayangkan betapa kayanya seorang pejabat Kompeni kalau dia memiliki puluhan bahkan ratusan budak.

*Sumber gambar : kolom sejarah

Keterangan : Tulisan ini terbagi pada 5 halaman, jika ingin baca terusannya tinggal klik halaman dibawah ini … ada sejarah  kota “Depok” ;)

* * *

About these ads

27 comments on “Kisah Perbudakan di Batavia

  1. alamendah
    Juni 19, 2010

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Mahal banget harganya. Sayang sang budak sendiri gak kebagian apa-apa

  2. majorprad
    Juni 19, 2010

    Budag seharusnya artinya bukan dagangan. Ingat ke diri jadinya. Kita memang budak, mau saja melakukan apapun demi uang, demi nafsu, atau demi kekuasaan. Apalagi demi penjajah. Waah… Kapan merdekanya ya? :D

  3. wardoyo
    Juni 20, 2010

    Hingga awal abad-20 masih ada budak di Nederlandsch Indie??
    Bener-bener dah… Keterlaluan meneer-meneer dari Eropa tu.
    Omong-omong, budak-budak itu digaji gak yaa?

  4. Galang
    Juni 20, 2010

    perjuangan itu “membebaskan perbudakan manusia atas manusia” apapun bentuknya.

    • Usup Supriyadi
      Juni 23, 2010

      setuju, apapun bentuknya tidak dibenarkan!

  5. udienroy
    Juni 20, 2010

    Zaman belanda dulu itu ya? Hehe text dialog nya OM Belanda memang unik hehe

  6. Fitri
    Juni 20, 2010

    Numpang menyimak aja. :D

  7. itempoeti
    Juni 20, 2010

    catatan sejarah yang mengisyaratkan pada kita agar hal seperti ini tak boleh terulang lagi di bumi Nuswantara.

  8. hmcahyo
    Juni 20, 2010

    manteb gan tulisanya

    berkunjung ulang neh… lama gak kemari :D

    ——————-
    Kopral Cepot : hatur tararengkyu masih ingat jalan kemari ;)

  9. Abdul Aziz
    Juni 20, 2010

    Menyedihkan sekali nasib budak ini. Sekarang pun masih banyak perbudakan dalam bentuk lain yang juga sangat menyedihkan. Bertahun tak digaji, pulang pun ke negeri tercintanya dalam keadaan sakit, cacat, atau bahkan sudah menjadi jenazah.

    Hatur nuhun Kang, infonya sangat menarik.

    Salam

  10. udienroy
    Juni 21, 2010

    Selamat malam mas. Maaf nih kunjungan ini cuma sekedar ingin berbagi bingkisan, tolong di ambil ya. Visit to http://awe.sm/57fOn Dan sebelumnya terima kasih

  11. dedekusn
    Juni 21, 2010

    Lami teu kapalih dieu… damang kang?

    Kisah perbudakan yg menyedihkan kang… apalagi sampe dijadikan sbg pelicin & hanya satu arah….. naudzubillah…

    • Piss
      Juni 21, 2010

      Piss kang … hehe….

  12. Siti Fatimah Ahmad
    Juni 21, 2010

    Assalaamu’alaikum Kang KC

    Dengan hormat dan takzimnya, saya berharap sahabat sudi menerima AWARD PERKASA – KAU ADALAH YANG TERBAIK, sempena sambutan HARI BAPA di Malaysia pada 20 Jun 2010. Ia sebagai menghargai persahabatan dalam perkongsian ilmu di ruang maya dan mengenangi jasa para bapa dalam memperjuangkan kehidupan yang harmoni untuk kebahagiaan keluarganya.

    http://websitifatimah.wordpress.com/2010/06/21/20-jun-2010-selamat-hari-bapa-untukmu-malaysia-dan-indonesia/

    Salam mesra dari saya.

  13. darahbiroe
    Juni 21, 2010

    tuan rumah malah dijadikan budak yaw
    makasih untuk sejarh nya
    salam

  14. Vulkanis
    Juni 21, 2010

    Semoga kisah ini jangan terulang untuk kita,anak,cucu,cicit dst…

  15. Vulkanis
    Juni 21, 2010

    Wah…makasih Kang atas artikelnya…
    Sadis tuh voc teh :P

  16. mel
    Juni 21, 2010

    penuh perjuangan banget yah…………..

  17. FA
    Juni 21, 2010

    absen siang ya…………

  18. julianusginting
    Juni 22, 2010

    sob..denger kata perbudakan aja dah eneg sob..beneran deh..

    ————–
    Kopral Cepot : Sama gan ;)

  19. ralarash
    Juni 23, 2010

    duh.. lieur.. dari kmaren denger jakarta… batavia.. betawi… tanjidor.. dll..

    Mau punya hosting dengan Disk space 1 GB dengan Unlimited Bandwith + Domain.COM ?? langsung aja ikutan ”Spread Ask Ralarash Contest”

  20. andipeace
    Juni 23, 2010

    alhamdulillah sekarang saya bisa menikmati kemerdekaan berkat pahlawan-pahlawan bangasaku..

    salam

  21. omagus
    Juni 23, 2010

    SEBUAH PELAJARAN YANG SANGAT MAHAL KANG..!

  22. sikapsamin
    Juni 27, 2010

    ada gula…ada semut,
    ada budak…ada penjajah

  23. nbasis
    Juni 30, 2010

    jika sekarang status sosial seseorang bisa dilihat dari berapa banyak depositonya, rumahnya, mobilnya, dlsb. pada zaman yang dikisahkan Kopral Cepot cukup dengan bertanya “berapa budak milik tuan?” untuk mengetahui status sosialnya. ha ha

    —————–
    Kopral Cepot : Dan berapa jumlah rekening yang “janggal” :lol:

  24. Abdul
    Maret 25, 2013

    Fatimah malik ar’asy. . . Sy minta bantuan pencarian bukti2/arsip2 apapun yg ada sangkut pautnya dgn http://www.abdulmalikarasy.wordpress.com sy sangat butuh bantuan.untuk kemenangan fatimah.no hp sy ada di web itu.trims

  25. Mas Bowo
    Juni 8, 2014

    1. “kawasan pantai ini berpenduduk 350 orang. Cuma 80 di antaranya berstatus budak.”
    2. “Hampir di setiap pulau di Indonesia waktu itu selalu ada kelas masyarakat yang berasal dari penduduk yang dikalahkan atau orang-orang yang tak bisa membayar utang yang disebut kelas budak. Dari para pemilik budak inilah, lewat calo-calo yang tiba-tiba menjamur, VOC mendapatkan mereka.”
    3. “Penduduk sekitar Batavia tak bisa direkrut: Umumnya menyingkir dan menolak bekerja sama apalagi dijadikan budak. Mulanya Kompeni mendatangkan budak dari Semenanjung India dan pulau-pulau sekitar”

    > Jelas yg bersalah disini adalah para “calo” yg menjual “sesama mereka” demi uang (butir 2).

    > VOC disini tidak memaksa karena sifatnya merekrut (mana ada org rela direkrut jadi budak). Apabila budak maka sifatnya diambil paksa sebagai kacung tanpa bayaran. (butir 3).

    > Hampir di setiap pulau di Indonesia waktu itu selalu ada kelas masyarakat yang berasal dari penduduk yang dikalahkan atau orang-orang yang tak bisa membayar utang yang disebut kelas budak (butir 2), ini menjelaskan bahwa sistim “budak” sudah dikenal di Indonesia pada orang-orang yang kehilangan status kebangsaan atau berutang sehingga menjadi kelas budak. Mungkin status itu dikenal jaman sekarang sebagai kelas gelandangan, tanpa rumah, tanpa status, tanpa penghasilan, bahkan mungkin negara pun sudah tidak peduli akan keberadaan mereka sehingga para “gelandangan” ini rela diapa2in ama para “pelaku tindak penjajahan” yang suka menjajah dan menguasai orang yang lemah untuk melakukan keinginan-keinginan mereka.

    >(butir 1) menjelaskan bahwa kawasan tersebut budaknya cuman 80 dari 350 penduduk. Disini terlihat ada orang yang jadi budak atau tidak menjadi budak.

    Budak atau bukan perbudakan bukanlah penting lagi, karena kultur masa lalu meng-amini tindakan perbudakan. Tentu bukan sembarang orang diperbudak melainkan orang-orang yang tidak punya status jelas yang dibeli dengan harga ke para calo. Apakah yang salah pembelinya karena membeli “barang curian” dari para calo? Saya tidak melihat kesalahan VOC dalam hal ini. Semakin belajar sejarah saya semakin yakin bahwa kultur anti VOC atau anti Belanda atau anti orang asing ditiupkan pada jaman orde lama dan baru sebagai bagian dari politik. Karena umumnya politik butuh kambing hitam untuk mengobarkan janji pembaharuan dari jaman kegelapan ke jaman penerangan.

    VOC atau bukan, saya melihat mereka berhasil membangun negeri ini dengan fasilitas-fasilitas yang lebih baik dibanding Jepang yang menghancurkan semuanya dalam kurun waktu 3 tahun. PElabuhan, Kota, Administrasi, Militer, Jalur perhubungan, sampai hari ini masih merupakan warisan “penjajah”. Penjajah yang baik, yang membutuhkan budak ini telah membangun infrakstruktur untuk kepentingan kulit putih dan hanya kulit poutih yang bebas memakainya. Melihat sejarah ini lagi, saya bertanya: apakah kita memang diadu domba melalui politik divide et impera atau memang sebelum VOC datang, kita sudah suka saling berkelahi dan memperebutkan daerah diantara tanah sendiri. Sampai hari ini masih sering orang kita saling makan demi kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Inikah warisan VOC atau warisan budaya sebelum VOC?

    berani membuka kebenaran atau menutup mata dalam kebohongan. Hati nurani anda yang akan menjawabnya. Saya percaya pembaca bukan pewaris orde baru yang gampang dicuci otak atau dengan gampang menelan mentah-mentah semua hal yang ditawarkan tanpa adanya pencarian fakta. Kita bukan orang gampangan tapi bukan juga orang sulit bekerjasama. Setidaknya sebagai orang yang erdeka dan memerdekakan diri sendiri, kita bangga akan kemerdakaan ini yang mana didalamnya juga para turunan noni-noni belakanda itu ikut berjuang, para turunan kafir ikut berjuang, para anjing-anjing belanada turut berjuang bersama para orang-orang yang mengaku sebagai pribumi, sebagai pemilik tanah air ini untuk mengusir mereka yang tidak mau bergabung dalam NKRI. Pasukan TKR pada awal mulanya 50% adalah para KNIL eks penjajah dan banyak pula adalah para kafeer. Tanpa perbedaan dengan satu kesamaan yaitu ingin menentukan nasib sendiri tanpa pengaruh kerajaan Belanda.

    Singkat kata: Hindia Belanda memberontak terhadap kerajaan Belanda. Itulah nama kita masih Indische-Asia alias (Hindia) Indus-Asia dan akhirnya Indoasia alias Indonesia.

    mana yg benar? kita memberontak kepada hindia Belanda atau memberontak kepada Kerajaan Belanda. VOC memberontak terhadap kerejaan Belanda?? piye toh??

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: