Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Gerakan Dakwah Partisipatif

Masih lanjutan seri dari : Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia

Wacana Dakwah

Karakteristik ajaran Islam yang multidimensional sebagai ajaran hidup Ilahiyah, dalam perjalanan sejarah umat Islam, sampai saat ini melahirkan pandangan terhadap Islam yang multi interpretasi baik yang menyangkut aspek aqidah/tauhid, syari’at maupun akhlaq/tassawuf terlebih lagi dalam kajian sejarah Islam banyak sekali interpretasi terhadapnya. Multi interpretasi terhadap ajaran Islam tidak hanya pada tataran furu’iyah (cabang) tetapi juga masuk pada tataran Ushul (pokok). Interpretasi yang seharusnya menjadi rahmat yang membawa berkah bagi kehidupan kaum muslimin khususnya dan kehidupan manusia di dunia secara umum, karena watak ajaran Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Tetapi kenyataan interpretasi terhadap ajaran Islam membuahkan perpecahan tafarruk di kalangan kaum muslimin bahkan menjadi musibah bagi sebagian golongan mustad’afin-yang tertindas.

Jika pada masa Rasululloh saw terdapat ”unity of command” kesatuan komando dalam mengejewantahkan ajaran Islam pada segala bentuk dan aspek kehidupan yang menyangkut diri, keluarga, masyarakat dan negara, sehingga Islam bisa mempersatukan umat manusia di dunia dalam kesatuan keyakinan, kesatuan masyarakat/ummat dan kesatuan negara sampai kesatuan khilafah.

Maka perjalanan sejarah umat Islam selanjutnya diwarnai oleh noda-noda pertikaian, embrio perpecahan dan cikal bakal pertentangan yang menjadi bom waktu ketika kesatuan komando Kekhilafahan Islam telah hapus tertelan kedzoliman dan keserakahan para musuh-musuh Allah, musuh Rosul dan musuh orang-orang beriman.

Tidak adanya kesatuan komando/kepemimpinan secara integralistik antara aspek kepemimpinan politis/negara/khilafah, aspek kepemimpinan intelektual dan aspek kepemimpinan spiritual seperti yang diperankan oleh Rosulullah saw, menyebabkan ajaran Islam dan umat Islam mengalami tafarruk multidimensional.

Sudah lama umat Islam telah mencanangkan abad 15 H sebagai abad kebangkitan Islam, saat para Hamba Allah yang Sholeh tampil sebagai aktor yang memimpin bumi sebagai Khalifah, saat Islam terbebas dari berbagai fitnah, saat keadilan Allah tegak di muka bumi. Daya upaya untuk membentuk “wihdatul ummah”- kesatuan ummat Islam hanya bisa ditempuh dengan satu jalan yaitu DAKWAH.

Dakwah adalah pijakan perjuangan yang dilakukan oleh para Rosul- Utusan Allah untuk menata kehidupan manusia sesuai dengan kehendak Al-Khaliq. Dakwah itupulalah yang wajib dijadikan pijakan oleh para pelanjut, penerus dan pembela Rosululloh saw yang mencita-citakan Baldah Thoyyibah wa Robbun Ghofur.

Tantangan dakwah ditengah keadaan Islam dan umat Islam yang mengalami Tafarruk Multidimensional tidaklah sesederhana seperti pengertian dan filosofis dakwah secara teoritis dan bersifat linier dai-mad’u dalam suatu proses komunikasi timbal balik, tetapi tututannya adalah diantaranya adanya kemampuan dalam memahami peta wilayah dakwah.

Indonesia dalam struktur geopolitis mesti dipahami oleh pelaku dakwah yang mencita-citakan tanah tumpah kelahirannya mendapatkan ampunan, rahmat, karunia dan berkah dari Allah SWT. Terlebih lagi dimasa krisis multidimensional sekarang ini telah pantas dan layak umat Islam menunjukan peran untuk menjadikan ajaran Islam sebagai solusi alternatif satu-satunya yang mampu memperbaiki tata kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.

Ajaran Islam yang integralistik menyangkut pula aspek sosio politik memberikan konsekuensi logis akan bersinggungannya antara kepentingan gerakan dakwah dengan kepentingan negara sebagai institusi politik.

Ada akar historis yang bisa kita cari pelajaran sejarahnya –Ibrah tentang relasi-hubungan gerakan dakwah dengan kehidupan negara meskipun potret hubungannya seperti benang kusut yang perlu di urut dan diurai dengan baik dan benar.

Gerakan Dakwah Partisifatif

Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam membutuhkan suatu iklim kehidupan berkenegaraan yang mampu menciptakan kesejukan, kenyamanan, ketentraman dan kebersamaan dalam suatu keberbedaan Agama, Suku, Bahasa serta Adat Istiadat. Semangat “Ke-Bhineka Tunggal Ika-an” telah dirintis oleh the Founding Father Bangsa Indonesia dengan duduk bersamanya para tokoh Nasionalis Sekuler dan Nasionalis Islam dalam wadah BPUPKI untuk merumuskan dasar system hidup bernegara (Baca Piagam Jakarta, Rajawali Press/ Gema Insani Press , K.H. Endang Saefudin Ansyari M.A.), semangat itu melahirkan ide dasar negara Pancasila.

Agama dalam tinjauan negara adalah perangkat pranata nilai-nilai universal yang mampu merekatkan komponen-komponen masyarakat yang heterogen. Semangat teloransi antar umat beragama adalah salah satu contoh dimana agama “dimobilisasi” untuk kepentingan negara. Inilah yang dimaksud dengan gerakan dakwah partisipatif yaitu gerak dakwah ummat baik secara kolektif maupun individu mampu “mententramkan” negara. Maka selanjutnya gerakan dakwah partisifatif adalah gerakan propaganda negara kepada masyarakat dengan “ayat-ayat” agama sebagai the justifikasi-nya.

Pasca peristiwa G30S/PKI, Pancasila dibuat “Sakti” oleh pimpinan Orde Baru yang selanjutnya antara tahun 1970-an sampai tahun 1980-an seluruh element bangsa Indonesia dibuat “percaya” akan “kesaktian” Pancasila. Yang mengkritisi pancasila disebut “Anti Pancasila”, “Subversif”, “Ekstrim Kanan”, “Ekstrim Kiri” dll. Selanjutnya Doktrin Pancasila mendapat “pengukuhan” menjadi Asas Tunggal. Sungguh Pancasila saat itu benar-benar “Sakti”.

Dalam situasi kehidupan yang menerima akan “sakti-nya” Pancasila, Gerakan dakwah partisipatif memegang peranan penting dalam mengokohkan stigma Pancasila Sakti. Gerakan dakwah ini bersifat mendukung bahkan turut mengkontruksi pemikiran Islam tentang Pancasila.

Garapan utama dari gerakan dakwah partisipatif sebenarnya ada pada tataran “Islam Ibadah” bukan “Islam Politik” (Istilah Kuntowijoyo). Slogan “Politik No. Pembangunan Yes” membuahkan “Islam Pembangunan”. Masjid-masjid dibangun dimana-mana, Majelis Taklim berkembang, Ulama-ulama “Pembangunan” berpidato dalam mimbar-mimbar yang “mengharamkan” bicara politik karena berbicara politik berarti “menyakiti” Pancasila dan itu bisa disebut “Anti Pancasila”. Dipelosok desa hadir Ustadz dan Kiyai BKKBN yang menganjurkan Keluarga Berencana (KB) dengan dalil-dalil agama.

Gerakan dakwah partisipatif hadir pada tatanan dakwah cultural dan dakwah structural, tradisionalis dan modernis, lisan dan perbuatan, substatif dan simbolis, organisatoris dan individualis, kota dan desa. Bahkan pratisipasi politik kalangan ulama diakomidir pada tiga partai politik, ada Ulama PPP, Ulama Golkar dan juga Ulama PDI, merekalah yang setiap 5 tahun sekali “kebanjiran order” untuk menjadi Juru Kampanye (Jurkam). Secara organisasi keislaman ruang partisipasi pada partai politik tidak hanya pada partai yang membawa “symbol” Islam yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tetapi juga Golkar dan PDI.

Sesungguhnya relasi (hubungan) gerakan dakwah dan negara yang bersifat partisan tidak hanya terjadi pada masa Orde Lama dan Orde Baru, tetapi juga hadir sebelumnya dari pemikiran politik Islam Snouck Hurgroje yang diterapkan oleh Pemerintahan Belanda dengan Politik Islam Hindia Belanda (Lihat Resensi).

Selanjutnya kecenderungan gerakan dakwah partisipatif cenderung oportunistis. Ada tiga (3) pola partisipasi gerakan dakwah terhadap negara diantaranya : (1) Gerakan Dakwah Pendukung “Penyambung Lidah Negara”, pola dakwah seperti pada dasarnya adalah berupa sosialisasi kebijakan negara Public Police yang menggunakan dalil-dalil agama supaya mudah diterima oleh masyarakat seperti program Keluarga Berencana (KB), (2) Gerakan Dakwah “Penyeimbang” stabilisator bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pola dakwah ini ibarat “penyeimbang” frekuensi negara/pemerintah dengan rakyat.

Dakwah ini pernah di perankan oleh K.H. Zaenuddin M.Z. pada masa orde Baru, Kiayi yang tidak kemana-mana secara politis tapi ada dimana-mana senantiasa mengkritisi kehidupan bernegara terutama “kejelekan” pemerintah sehingga masyarakat memiliki “seorang pembela” tetapi kemudian masyarakat di ajak untuk bersabar tidak frontal terhadap pemerintah.

Dakwah seperti ini juga dilanjutkan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar dengan gaya dan cara yang berbeda tetapi spiritnya sama. dan (3) Gerakan Dakwah “Pengaman” yang menjaga negara dari rongrongan para musuhnya terutama dari dalam atau yang disebut bahaya laten. Sadar (terencana) atau tidak sadar negara/pemerintah memiliki imun-kekebalan yang dibuat oleh lingkar-lingkar gerakan dakwah dengan beragam corak yang berdampak pada sikap masyarakat yang anti pati pada gerakan dakwah tertentu seperti gerakan dakwah yang mencita-citakan berdirinya Negara Islam dan ini tentunya menguntungkan negara/pemerintah.

Dakwah Aa Gym (Manajemen Qolbu) :Fenomena Dakwah Partisipatif

Pada tulisan ini sekedar mencermati kiprah dakwah Aa Gym setelah tahun 2001 sebagai bagian dari dakwah partisipatif , yang tentu berbeda secara situasi kondisi sebelum tahun 1998-an. Meskipun awal karir dakwahnya menggunakan “ikon” Darut Tauhid yang dirintisnya sejak tahun 1990 dalam situasi sosio politik yang umumnya sama dihadapi oleh setiap gerakan dakwah dan DT pada awalnya tidak terlihat sebagai gerakan dakwah partisipatif, tetapi setelah ikon dakwahnya berubah menjadi Manajemen Qolbu (MQ), Aa Gym lebih leluasa untuk melaksanakan gerak dakwahnya.

Dalam munas pengurus DT tanggal 1 Februari 2002, Aa Gym menegaskan bahwa antara DT dengan MQ itu berbeda. MQ adalah label yang melekat pada diri Aa Gym, sedangkan DT melekat pada yayasan. Alasan yang dikemukakan AA Gym adalah Aa Gym tidak akan membesarkan DT karena ia akan membesar alamiah dan DT lebih inklusif sebagai wadah umat Islam, sementara MQ akan Lintas mazhab, lintas partai, organisasi, agama bahkan kalau perlu lintas profesi. Alasan lain lanjut Aa Gym dalam gerak dakwahnya dia tidak merasa cukup aman menggunakan DT dan lebih aman menggunakan MQ karena tidak akan ada serangan ke MQ.

MQ sebenarnya lebih mirip event organizer atau pihak manajemen Aa Gym seperti banyak artis menggunakan manajemen untuk mengelola “order-order”-nya. Sehingga praktis di tahun 2000-an sampai sekarang sosok Aa Gym adalah da’i yang one man show. DT bagi Aa Gym adalah saham awal membentuk kepercayaan diri, untuk selanjutnya terbang melintasi batas-batas “Gerlong” . “ saya butuh perangkat yang jelajahnya lebih luas” Ungkap Aa Gym di lain kesempatan.

Tak bisa disangkal peran dakwah Aa Gym mampu memberikan warna bagi kehidupan bernegara, dia adalah ikon “ Dai Sejuk dalam Masyarakat Majemuk” ,hal yang sama sebetulnya telah disematkan kepada K.H. Zaenuddin M.Z. sebagai “Kiayi Sejuta Umat”. Aa Gym “dipercaya” oleh media massa untuk menampilkan pesan-pesan spiritual “ Indahnya Kebersamaan”, diajak keliling oleh pejabat publik ke daerah-daerah konflik Poso, Maluku, Papua, dan Aceh, agar rakyat “sabar” menerima semua “rekayasa politik”. Menjadi “juru do’a” bagi setiap pasangan Capres dan Cawapres, Mengajak “Aman” dan “Akur” walau ideologi terbentur.

Diantara penyataan-pernyataan yang sering kali diungkapkan pada setiap sesi “silaturahmi-nya” antara lain :

“ Walaupun negara benar, kalau kita sendiri bermasalah, maka negara akan rusak karena kita sendiri yang merusaknya. Jadi bagi kita solusi untuk menyehatkan bangsa ini adalah terus-menerus memperbaiki diri dan apabila kita ingin membangun bangsa rumusnya adalah tumbuhkan keinginan untuk membangun diri dan mulai dari diri sendiri…(AA Gym)

“Aku bukan ancaman bagimu, hindari penghinaan, hindari ikut campur urusan pribadi, hindari memotong pembicaraan, hindari membandingkan, jangan membela musuhnya dan mencela kawannya, hindari merusak kebahagiannya, Jangan mengungkit masa lalu, jangan mengambil haknya, hati-hati dengan marah, jangan mentertawakannya” (AA Gym).

Celakalah Indonesia di awal abad 21 ini, kalau seandainya tidak ada Aa Gym yang mengajarkan “kesalehan diri” dan “kesalehan sosial”. Jadi masihkah kita “percaya” akan sebuah kebetulan kehadiran Aa Gym di era reformasi ini ???.

Referensi bisa diklik disini…

SELAMAT TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1431 H

ABAD DUA SATU ISLAM SATU

About these ads

5 comments on “Gerakan Dakwah Partisipatif

  1. حَنِيفًا
    Desember 18, 2009

    Pertamax…. horeee… :D

    • حَنِيفًا
      Desember 18, 2009

      Pantatsyi’ah
      Satu.. bla..bla..
      Keadilan bagi seluruh Bangsat Indonesial :mrgreen:

  2. wardoyo
    Desember 20, 2009

    Bernas. Membuat saya berpikir ulang tentang semua hal.

  3. dir88gun
    Desember 23, 2009

    Assalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Wahai Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,

    Akhirnya tahun baru telah tiba…
    Tahun penentuan, apakah kita akan tetap jatuh terpuruk semakin jauh ke dalam kubangan kehinaan,
    Ataukah kita akan bangkit berhijrah menuju ke arah datangnya cahaya kemenangan di depan.

    Baca selengkapnya di

    http://dir88gun0w.blogspot.com/2009/12/happy-new-year.html

    —————————————————–
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

  4. Ping-balik: sejarah dakwah pada masa orde baru (orba) « ikmalmaulanaakbar

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 18, 2009 by in Buku dan Aku, Wacana Kini and tagged , , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    ya,tapi kami orang toba trauma dengan islam,pasukan islam membantai tanah batak,dan kami tidak takluk dengan pedang.dio bakkara bangga dengan keislam anya,itu boleh saja.tapi alangkah baiknya anda belajar cari sejarah pengislaman tanah batak,walaupun kontroversial tapi jelas lebih mendekati dari pada sejaran yang di tulis pemerintah
    pstruct
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    betul sekali poang,kita tau siapa yang tukang klaim,bagaimana mungkin sisingamangaraja itu islam,apakah begitu bodohnya ompui lupa tanah batak di bantai islam,yang jauuuuuuh lebih mengerikan dari belanda.
    pstruct
  • Komentar di Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah oleh hendriwibowo Juli 29, 2014
    Habis baca artikel Makasih artikelnya. Lebih membuka mata saya bahwa, jadi tertarik menelisik lebih jauh. Beberapa dokumen lain dari wikipedia, unesco, ternyata mendukung fakta liputannya natgeo bahwa perang diponegoro ternyata skalanya besar dan masif. Thxs buat artikelnya -yang Lebih membuka mata saya bahwa perang ini lebih dari sekedar urusan patok jalan. […]
    hendriwibowo
  • Komentar di Cerita Amriki di PRRI dan CIA di Permesta oleh Tri Jtamadji Juli 28, 2014
    Oh...ternyata gitu to? Selama ini banyak rakyat kita yang di benaknya ( hasil pelajaran resmi ) bahwa mereka adalah murni memberontak demi memisahkan dari NKRI. Namun harus diakui, suka atau tidak suka , ya memang runyam kalau tentara ( secara institusi) masuk ke dunia politik.
    Tri Jtamadji

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: