Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara
Oleh : Damar Shashangka
Ucapan Syeh Siti Jenar sangat besar dampaknya bagi image beliau. Kubu PUTIHAN semakin getol menghakimi kubu ABANGAN.
Sesungguhnya memang apa yang diucapkan beliau, terlalu tinggi untuk didengar oleh mereka-mereka yang baru saja mengenal spiritualitas. Namun, pada hakikatnya, memang benarlah apa yang beliau ucapkan.
Siapakah DIA YANG TAK TERBAYANGKAN itu? Siapakah RUH manusia itu? Sesungguhnya tiada beda. Ibarat udara yang terkurung dalam sebuah karet sintetis mainan anak-anak yang biasa disebut Balon, dengan udara bebas yang ada ditempat terbuka. Apakah kita bisa membedakannya? Sebuah karet sintetis yang bernama Balon, ibarat Suksma Sariira ( Badan Halus) dan Sthula Sariira (Badan Kasar) manusia. Dan udara yang terkurung didalamnya ibarat Atma Sariira ( Ruh ). Dan udara yang ada ditempat terbuka adalah Brahman itu sendiri.
Suksma Sariira dan Sthula Sariira, keduanya adalah produk Prakrti, produk Alam, yang muncul karena diadakan, karena diciptakan. Dan sesuatu yang diadakan, diciptakan dari ketiadaan, pasti akan memiliki limitasi, memiliki batas kegunaan. Dan pada saatnya, pasti akan berakhir. Oleh karenanya, kedua produk ini disebut produk Maya, produk khayalan, produk fana.
Sedangkan Atma Sariira (Ruh), tidak diciptakan. Tidak diadakan. Dari dulu ada, sekarang dan sampai selamanya. Atma Sariira adalah bagian yang tak terpisahkan dari Brahman. Apabila Atma Sariira masih terbelenggu oleh Suksma Sariira dan Sthula Sariira, tampaklah ia sebagai MANUSHA. Namun, apabila Atma Sariira ( Ruh ) telah lepas dari belenggu Suksma Sariira dan Sthula Sariira, maka apakah bisa dibedakan lagi mana Atman mana Brahman? Keduanya sudah MENYATU LAGI. Sudah MANUNGGAL lagi. Inilah MANUNGGALING KAWULA GUSTI!.
Setiap kali Syeh Siti Jenar berdzikir dgn sendirinya beliau menangkap suara dzikir yg berbunyi lain. Subhani, Alhamdu li, La ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (Maha Suci Aku, segala puji untuk- Ku, tiada Tuhan selain Aku, Maha besar Aku, sembahlah Aku). Walaupun telinga beliau mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, Al-hamduli Allahi, La ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar sebaliknya, sebagai esensi bunyi hadist : “Man ‘arafa Nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” ( Siapa yang mengenal Diri Sejatinya, sungguh dia telah tahu siapa Tuhannya). Dan Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Nabi Muhammad yang berbunyi : “Al-Insan sirri wa Ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).
Apabila sudah mencapai puncak spiritualitas seperti ini, apabila sudah mencapai maqam (tingkat) Tajjali ( Allah terlihat nyata) seperti ini. Maka, bisakah kita membedakan mana Jesus mana Bapa? Bisakah kita membedakan mana Siddharta Gautara mana Buddha? Bisakah kita membedakan mana Krishna mana Bhagavan? Bisakah kita membedakan mana Syeh Siti Jenar mana……………………………..Mengapa kita bertengkar? Mengapa kita saling merasa paling benar? Dan yang merasa paling benar adalah mereka yang baru mempelajari kulit Islam, kulit Hindhu, kulit Buddha dan kulit Kristen. Mereka belum menemukan ‘Puncak Kesadaran’ yang seharusnya mereka cari. Yang menjadi tujuan pengajaran Krishna, Buddha, Jesus dan Muhammad. Mereka mengajarkan semua manusia untuk itu, bukan mengajarkan kulit luar yang berbeda-beda. Kulit luar hanya sekedar metode. Kulit luar hanya sebuah alat, sebuah sarana, untuk mencapai tujuan ini! Sadarlah!
Maka, bila Syeh Siti Jenar yang telah mampu melampaui belenggu Suksma Sariira ( Nafs ) dan Sthula Sariira ( Jasad ), walaupun nampaknya Atma ( Ruh ) beliau masih terkurung oleh kedua produk fana, produk Maya ini, namun sesungguhnya Ruh beliau telah MENYATU lagi dengan Maha Ruh, yang dulu pernah meniupkan Ruh itu kedalam Nafs dan Jasad! Dalam Nafs atau Suksma Sariira beliau, hanya tersisa Nafs Muthmainnah ( Badan halus yang tenang ) atau Guna Sattva ( Watak suksma sariira yang stabil). Mengapa kita jadi terkecoh hanya karena beda istilah? Dari metode Islam, disebut Nafs Muthmainnah. Dari metode Hindhu disebut Guna Sattva. Apanya yang beda? Kecuali kalimatnya semata. Kecuali kulit luar yang berupa kata-kata semata. Sedangkan esensinya, SAMA! Maka, inilah yang saya maksud JANGAN TERJEBAK METODE! JANGAN DIPERBUDAK METODE! KARENA JIKA ANDA TERJEBAK! ANDA AKAN TERSESAT!
Kisah Syeh Siti Jenar-pun, berlanjut seperti dibawah ini :
AsmaradanaSyeh Lemah Bang nayogyani Sakehing Para Wali, Kang samya angulah ilmu, Nadyan akeh kang wewisik, Sunan Cirebon lan kang rayi, Jeng Sinuhun Ratu Giri, Wong wewolu dadi siji, Ing karsa manira iki, Sinuhun Benang ngukuhi, Pan karsa manira iki, Sinuhun Benang anuli, Ora beda ing Roh iki, Pundi kang ingaran Nabi, Sinuhun Majagung nenggih, Nyatane Kawula Gusti, Jeng Sunan Ing Gunungjati, Jeng Sunan Kalijaga ngling, Ora Arah Ora Warni, Syeh Benthong samya melingi, Kangjeng Molana Maghribi, NYATA INGSUN KANG SEJATI, Kawula amedhar ilmi, Lan malih sadaya ilmi, Kangjeng Syeh Maulana Maghribi, Tuwan ucapna pribadi, Nenggih Jeng Sunan Giri, Ya ta sakathahing Wali, Angandika Syeh Siti Brit, Ameksa tan kena gingsir, Punika ujaring jangji, Dhasar kawula labuhi, Ngulati punapa malih, Sakathahe Para Wali, Angaku jeneng pribadi, Lajeng abubaran sami, Jeng Sunan Giri nyagahi, |
TerjemahanSyeh Lemah Bang menepati janji, Datang pada hari Jum’at, Tepat pada bulan Ramadlan, Bersamaan dengan tanggal lima, Kumpulnya Para Auliya’, Pada waktu malam hari, Telah disiapkan tempat yang sepatutnya. Seluruh Para Wali, Hendak membahas masalah Ilmu Rahsa (Ilmu Sejati). Di Giri Gajah tempatnya,Bermusyawarah, Tentang pencapaian masing-masing, Akan kebenaran Hyang Agung ( Maha Agung ), Untuk saling dinyatakan kepada semua yang hadir. Mereka yang tengah mendalami Ilmu (Sejati), Apabila tajam kesadarannya, Akan terang pemahamannya, Begitulah orang yang berguru mendalami Ilmu (Sejati), Menyibak pusat rasanya rasa, Menguliti segala perlambang dan simbolisme, Hanya dengan demikian intisari (esensi)nya bisa didapatkan. Walaupun banyak wejangan ( berbagai metode dan konsep), Intisari (esensi)-nya pasti sama, Tinggal bagaimana kesadaran kita mampu menangkapnya, Setelah genap semua yang hadir, Kangjeng Sinuhun Benang, Yang memulai, Lantas Sinuhun Kalijaga. Kemudian Sunan Cirebon (Sunan Gunungjati) dan adik beliau, Tengah membicarakan cara menghadapi Syeh Lemah Bang, Juga Sunan Majagung, Sinuhun Banten, Dipimpin oleh Sunan Giri Gajah, Hendak membahas Ilmu (Sejati), Mengungkapkan pencapaian masing-masing. Jeng Sinuhun Ratu Giri, Memulai pembicaraan,Hai saudaraku semuanya, Semua Wali harus menyatu, Jangan berbantahan sendiri-sendiri, Satukan pendapat kita, Tentang kebenaran Tuhan (yang telah kita capai masing-masing), Lantas Sinuhun Benang, Memulai pertama kali, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau. Menurut pendapatku, Tingkatan Iman ( Keyakinan ), Taukhid ( Ke-Esa-an), dan Ma’rifat ( Melihat Kebenaran Sejati ), Masih harus ditambah lagi satu tingkatan yaitu MENYADARI KESEMPURNAAN SEJATI, Apabila masih dalam tingkat Ma’rifat, Belumlah sempurna, Karena masih sekedar ‘MELIHAT’, belum ‘MENYADARI’. Sehingga masih mengira-ngira. Sinuhun Benang meyakini benar, Kesempurnaan Ma’rifat, Kosong Hilang Penglihatan makhluk, Tiada lagi yang terlihat, Karena keadaan sang pelihat, Hanya ‘MELIHAT’ PANGERAN KANG AGUNG (TUHAN YANG AGUNG), (Tiada lagi terlihat lain, kecuali hanya) Yang Menyembah dan Yang Disembah. Jelasnya maksudku (Sunan Benang) ini, Kesempurnaan Sejati, Adalah terliputi selamanya ( oleh Dzat-Nya ), Tiada lagi gerak (makhluk), Tiada lagi kehendak (makhluk), Buta tuli bisu kosong (kemakhlukan kita), Dan segala gerak dan kehendak hanya dari Allah. Lantas Sinuhun Benang, Menanyakan kepada Para Wali, Wahai saudaraku semua, Inilah Kekasih Semesta, Yang ada didalam diri kita semua, Yaitu Ruh kita ini, Dan nama Ruh kita sebenarnya adalah Muhammad ( Yang Terpuji). Tiada beda semua Ruh itu, Apabila diperbandingkan, Tak ada beda satu sama lainnya, Bagaimanakah pendapat saudaraku semua? Menjawab semua Wali, Sudah benar apa yang anda yakini, Kami semua sependapat. Manakah sesunguhnya yang dinamakan Nabi Muhammad, Sesungguhnya adalah nama dari Ruh, Itulah Kekasih Allah, Sebelum semuanya tercipta, Berada dalam Jinaten Tunggal (Kesejatian Tunggal/ Jadi Satu dengan Allah), Lantas ditiupkan dahulu, Sebagai perwujudan Allah. ( Sunan Benang sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Ruh manusia dan Allah adalah SATU. Tapi beliau tidak terang-terangan mengatakannya.) Sinuhun Majagung kemudian, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Wujud nyata Kawula ( Hamba ) dan Gusti ( Tuhan ) hanya ada didunia ini, Terlihat memuji dan menyembah, Padahal sesungguhnya, Di akherat tidak terlihat Dua ( maksudnya Kawula dan Gusti. Intinya Sunan Majagung hendak berkata Kawula dan Gusti itu SATU, tapi sama seperti Sunan Benang, beliau juga tidak terang-terangan), Apabila tidak mempunyai Iman ( Keyakinan ) tentang hal ini, Tidak akan tahu Kesejatian Ilmu, (Apabila tidak mengetahui Kesejatian Ilmu, maka ) tidak lengkap menjadi manusia. Jeng Sunan Gunungjati, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sesungguhnya Ma’rifat itu, Penglihatannya hanya melihat Tuhan semata, (Apabila sudah mengetahui Tuhan, maka akan menyadari) Tidak ada yang lain lagi selain Dia, Tak ada yang kedua dan ketiga ( Sunan Gunungjati sebenarnya juga hendak mengatakan, TIDAK ADA LAGI KAWULA DAN GUSTI JIKA TELAH MENCAPAI MA’RIFAT, YANG ADA CUMA GUSTI. TIDAK ADA LAGI DUALITAS, ATAU TRINITAS LAGI. KAWULA DAN GUSTI ADALAH SATU. Karena KAWULA telah lebur kedalam GUSTI. INILAH TAUKHID. INILAH KE-ESA-AN. Tapi, beliau sama seperti Sunan Benang dan Sunan Majagung, tidak berani mengatakan terang-terangan). Hanya Allah Yang Maha Tunggal. Sunan Kalijaga berbicara, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sadarlah senantiasa, Jangan sampai tergoyahkan, Senantiasa Menyadari Adanya Tuhan, Bagaimana cara menyadari-Nya? Bukankah Tuhan tidak ber-Wujud? Tidak ber-Kedudukan disuatu tempat juga Tidak ber-Bentuk, Tidak ada Wujud-Nya, Tanpa Ruang dan Waktu, Sesungguhnya ALLAH TIDAK ADA, (Allah yang personil, yang berpribadi seperti yang dipahami orang awam) APABILA BEGITU, Sesungguhnya ALLAH ITULAH KEKOSONGAN ABADI, DIA TIDAK BERWUJUD. (Sunan Kalijaga tidak mau membicarakan tentang KESATUAN WUJUD (WAJIBUL WUJUD) seperti yang lain. Beliau hanya memberikan gambaran bahwasanya apa yang dinamakan Allah itu adalah KEKOSONGAN ABADI YANG MUTLAK, SUMBER SEGALANYA. Jadi, jika kita MENYATU LAGI DENGAN YANG MUTLAK itu, maka itu dimungkinkan. Sunan Kalijaga, tidak mau membahas tentang MANUNGGALING KAWULA GUSTI. Karena beliau sepaham dengan Syeh Siti Jenar.) Syeh Benthong lantas berkata, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Yang disebut Allah sesungguhnya, Tak lain adalah Kawula ( Hamba ) ini juga, Yang menjadi KENYATAAN WUJUD-NYA, Benar-benar nyata Ada-Nya terlihat pada Kawula-Nya, Karena Gusti (Tuhan) dan Kawula (Hamba) adalah Satu. ( Syeh Benthong lebih berani berbicara. Terlihat disini.) Kangjeng Maulana Maghribi, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Nyatalah AKU yang Sejati, Bergelar Prabhu Sadmata ( Raja bermata enam. Shiva adalah Avatara Brahman. Jika Shiva bermata tiga, maka Brahman bermata enam. Inilah maksud ‘jargon’ spiritual waktu itu). Tidak ada lagi yang lain, Apa yang disebut Allah itu. Maulana Maghribi berkata, Yang anda tunjuk itu adalah jasad, Syeh Lemah Bang menjawab. Hamba membuka rahasia Ilmu Sejati, Membahas tentang Kesatuan Wujud, Tidak membahas Jasad (yang fana), Jasad sudah terlampaui, Yang saya ucapkan adalah Sejati-nya Ilmu, Membuka Segala Rahasia. Dan lagi sesungguhnya semua Ilmu, Tidak ada yang berbeda, Sungguh tiada beda, Sedikitpun tidak, Menurut pendapat hamba, Meyakini bahwasanya Ilmu itu,Semuanya sama. Kangjeng Syeh Maulana Maghribi, Sambil tersenyum berkata, Benarlah sesungguhnya apa yang kamu katakan, Akan tetapi itu bukan bahan pembicaraan, Apabila sampai terdengar, Oleh banyak orang sangat tabu,Hal itu bukan bahan percakapan. Ucapkanlah sendiri, Jangan sampai terdengar oleh orang lain, Cukup terdengar oleh telinga sendiri, Hal itu adalah Sabda larangan, Apabila bisa, Saya menyarankan, Janganlah seperti itu. Lantas Jeng Sinuhun Giri, Menyampaikan pencapaian spiritual beliau, Sudah pasti Allah itu sesungguhnya, Bergelar Prabhu Sadmata, Janganlah semua yang hadir disini sembrono dalam berbicara, Dia tidak ada bandingannya, Hanya Allah Yang Maha Tunggal. Mendengar kata-kata Sunan Giri ( yang turun ketingkat syari’at), Seluruh Wali terdiam dan menta’ati, (Sunan Giri berkata kepada Syeh Lemah Bang), Hanya kamu wahai Syeh Lemah Bang, Tidak bisa dihalangi, Tidak bisa dicegah oleh semua Wali, Tetap tak berubah pendapat kamu. Berkata Syeh Siti Brit, Sudah menjadi tekad hamba, Bagaimanapun juga, Dipaksapun tidak bisa surut, Dibujuk oleh semua Para Wali, Tak pula berubah tekadnya, Sudah menjadi ucapan umum, Dan sudah menjadi hukum syariat, Demikian Sunan Cirebon ( Sunan Gunungjati) berkata,Janganlah tuan seperti itu. Sudah ditentukan, Hukumnya adalah dibunuh (Qisas), Khusus bagi mereka, Yang mengaku Allah, Berkata Syeh Lemah Bang, Segeralah laksanakan, Jangan ditunda-tunda lagi. Memang sudah saya niati, Mencari kematian yang bagaimana lagi, Sebab bersamaan dengan kematian, AKAN DATANG KASIH-NYA, YANG MELIPUTI AKU, DAN KEKOSONGAN YANG SEJATI AKAN DATANG PADAKU. Tidak perlu disesali sebab diriku ini memang terdiri dari YANG KEKAL (Ruh) dan YANG FANA (Nafs dan Jasad). Mau mencari apa lagi? Tidak ada lagi pencapaian yang lebih sempurna (selain hal ini). Yang fana selamanya pasti akan kembali ke fana, Yang kekal akan kembali kepada Allah Yang Tunggal, Dan jasadku yang sesungguhnya adalah Ruh ini, Iya Ruh Iya Allah, Satu. Taukhid itu namanya, Satu kesatuan dalam Kesejatian. Seluruh Para Wali, Tersenyum semuanya, Mendengar apa yang diucapan Syeh Siti Jenar, Kokoh tidak bisa digoyahkan, Sangat berani, Membuka segala rahasia, Dengan tidak segan-segan lagi. Menyibak Kesejatian Diri-Nya, Keberaniannya membikin masalah, Menjungkir balikkan syara’ (Hukum), Kata-katanya sangat berani, Dicegah oleh semua Wali, Namun seolah-olah kurang juga yang mencegah beliau. Lantas hendak bubar, Para Wali semua, Untuk pulang ketempat tinggalnya masing-masing, Dan Sunan Giri Gajah, Yang berhak memutuskan hukuman, Bagi yang menjungkir balikkan syara’, Mumpung belum terlalu lama. Jeng Sunan Giri menyanggupi, Akan menjatuhkan hukuman mati bagi Syeh Siti Jenar, Apabila sudah sampai pada waktunya, Pelantikan Sultan Demak, Setelah berhasil merebut kekuasaan dari Majalengka ( Majapahit), Seluruh Wali menyetujui, Lantas pulang kekediaman masing-masing. |
Ping-balik: SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 2) « Biar sejarah yang bicara ……..
Ping-balik: SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 4) « Biar sejarah yang bicara ……..
Huebatsssss….
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430 H
Semoga segala pengorbanan kita mendapat ridho dan pahala yang berlimpah dari Allah SWT.. Amin
itu yang saya kagumi dari Syekh Siti Jenar.
lanjut ke bagian 4…
kang cepi selamat malam..
salam sejarah^^
kang…. bri dksh ewoods trs bri share lagii ke kamu kang
cobaa liiat duluu..semoga kang cepi suka^^
selamat istirahat dari aktifitas iaa kang
mugia sehat rahayuu..amiin
pami pemaham ISlam adalah menemukan makna ketenangan yang semua agama bisa menemukannya asalkan bersungguh-sungguh. hal ini menjadikan manusia bingung dan bisa jadi membenarkan semua agama yang ada di bumi. mungkin ini ungkapan manusia yang masih mempelajari Islam hanya kulitnya saja.
bgs..
hmm tetap aneh, hakikat hakikat tidak tersembunyi di internet, nabi muhammad saw telah menyempurnakan dan tidak memisahkannya dengan realitas, keselamatan bukan untuk pribadi2, dan tidak melarikan diri dari tanggung jawab sosial dan menjauhinya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk juga paduannya dengan realitas dan keterikatannya dengan dunia fana atau yg disebut alam kehidupan, keadilan untuk alam dengan proses2nya telah diajarkan nabi muhammad. don’t keep peace at your mind!
bukan kesempurnaan/kebaikan untuk pribadi, tapi untuk sekitar juga
tapi umat islam harus hati2, jgn sampai terjebak irama genderang pihak lain karena blind dan tak mampu pahami berbagai kelompok2 realitasnya, harus berani mengajak dan memulai saling bicara dan buka ruang komunikasi dan memilah, jika tak setuju perang irak dan afghan, ygn kita musuhi adalah tentaranya dan pihak2 doyan perang. justru kita perkuat soft power dan jalin hubungan dgn pihak2 anti perang irak ato afghanistan seperti komunitas2 non pemerintah us ato eropa paling tidak untuk memastikan hak2 beribadah dan has2 dasar yg di tahan di guantanamo, perkuat bulan sabit merah. ingat basmalah, DENGAN MENYEBUT NAMA ALLOH YANG MAHA PENGASIH MAHA PENYAYANG. dan merebut keunggulan iptek, menciptakan generasi rabbani yg haus ilmu dan menjadikan islam sebagai rahmat semesta alam, umat pertengahan yg seimbang dunia dan akherat, yg adil. jika tak mau jadi pelabelan kita harus selesaian akar permasalahan dan jgn hanya menyalahkan pihak lain saja, jika akarnya layanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi maka umat wajib mendorong pemda2 untuk lebih memenuhi layanan tersebut, daripada kita terpancing untuk berbuat anarkis ataupun ikuti permainan pihak2 tertentu dan merusak pondasi2 yg telah ada. yg minor dan mayor saling memahami dan membuka ruang dialog, krn nkri benar2 telah diincar dan diperas habis2an tanpa melihat latar ideologi apapun rakyat negeri ini. pendekar2 ham dan hak sipil ataupun apapun namanya, jgn selalu membuat konterversi dengan menyalahkan ideologi atau agama tertentu atau pelabelan2, sedikt2 radikal. lebih baik mendorong rakyat u lebih berilmu, sehat, dan berduit sejahtera. sekarang kenapa para pecalang di kasus nyepi tdk disorot sebagai kasus radikalisasi agama?krn mereka memiliki hak sebagai mayoritas di daerahnya dan hak berkeyakinan sebagai mayoritas untuk menegakkan aturannya, tapi mereka masih membuka ruang2 dialog dan jika pas hari jumat pun bisa berjalan normal, jadi yg penting saling buka ruang dialog, jadi muslim pun di daerah tertentu boleh juga donk. pelajaran untuk terutama kalangan ham atau apapun namamu untuk jgn menimbulkan konterversi dan membuat pelabelan/penuduhan2 thd phak2 tertentu, jadinya kerja kalian kayaknya enteng banget koar2 dan penggalngan opini yg tidak menyelesaikan realitas masalah. lha mabuk2an kan bisa berbahaya, coba sampeyan2 lihat anak2 muda indonesia?apa banyak yg gitu anak2 muda korsel atau singapura yg suka oplos mirasantika?
lebih baik bersama kita bersama menyusun pertahanan rakyat semesta dangan pembangunan pelabuhan, bandar udara, jalan2 untuk jalur logistik. buat2 bank/lumbung nelayan, petani, peternak, dll. tentukan jalur2 logistik, penetapan harga atas bawah di rantai2 aliran barang, kayak bank sampah sistemnya bagus tuh. bayangkan kelompok nelayan sprt kelompok tani tapi bisa jadi pionir menjadikan air sbagai kesatuan wilayah nusantara dan gerilyawan2 sipil pendukung tni al ato cost guard atau bea cukai?
saya yakin usa ato rrc pasti berpikir keras dengan konsep pertahanan semesta ini, sulit dibendung, unit2 kecil yg lincah, beruntung sekali dengan konsep deklarasi Djuanda
di jaman dulu di kekaisaran china, para diplomat2 luar negeri luar bahkan dipandu oleh militer kaisar, agar tak bisa membuat peta wilayah negerinya, teknologi gps?penerapan strategi ini?
Telah kutingggalkan dua buah pegangan kepada kalian umat islam..yang tidak akan kalian tersesat selamanya selama berpegang kepada keduanya
yaitu Al-Qur’an dan Assunnah…
apakah kita sebagai umat islam akan menerima sebagian isi AlQuran dan membuang sebagian lainnya…
ikuti petunjuk Allah dan RasulNya pasti selamat dunia Akhirat…
jika syariat tidak penting … buat apa Rasulullah dan Alquran memerintahkan kita menjalankan syariat…
syariat itu pohon dan hakikat itu buahnya…jadi harus kedua2nya…
bagaimana bisa membaca alQuran jika tidak belajar dari awal…jika semua langsung mempelajari intisarinya saja….semua bisa kacau…karena semua akan menganggap benar apa yang diperbuatnya dan bersandar bahwa diri mereka Allah itu sendiri….
akan banyak peperangan…dan bagi mereka yang menganggap hakikat penting dan syariat itu tidak penting katanya berputar-putar…itu salah ….
mengapa jika dalam ibadah syariat ditinggalkan …dan langsung menuju hakikat…
tapi jika dalam kehidupan sehari2 tidak bisa meninggalkan syariat…
masih makan, masih minum , masih suka uang / harta, masih gila jabatan…masih berat bersedekah masih enggan menolong sesama…bukankah kita Allah…mengapa masih butuh dunia …
berhati2lah belajar tentang yang Goib…Allah dan RasulNya telah jelas memberi batasan dan rambu2…
bacalah Kitab Suci Al-Quran dari awal hingga penghabisan…bacalah jangan hanya memiliki Al-Quran akan tetapi tidak tau apa yang Allah perintahkan…baca, pahami, amalkan…ikhlas dan tulus mengharap RidhoNya…niscaya jawaban akan semua itu akan muncul dengan ijinNya …
karena jika semua hanya belajar hakikat dan meninggalkan syariat…maka benarlah sabda Nabi Muhammad Saw. bahwa ” islam tidak akan tinggal kecuali namanya saja dan Alquran tidak tinggal kecuali tulisannya saja…
karena semua orang islam hanya mengaku islam saja akan tetapi tidak tau apa yang diperintahkan dan tidak tau bagaimana cara membaca kitab sucinya sendiri…
kalau hanya untuk berbuat baik dan mencari makna kebaikan dan kedamaian…terkadang orang tidak beragama bisa jauh lebih baik dan damai dari orang yang beragama…pertanyaannya sudah benarkah yang mereka lakukan…
ingat Iblis tidak akan memberi kemudahan kepada mereka yang menuju jalan Allah….Rasul diutus membawa hukum dan perintah2 Allah bukan hanya sekedar iling dan ingat saja sudah cukup…dan meninggalkan syariat Allah…padahal pemahaman hakikat kita hanya kedok karena kita enggan dan malas menjalankan perintah Allah dan RasulNya….
ingat hanya karena meninggalkan syariat…Sunan Kalijaga pernah mengutuk seseorang menjadi monyet…baca sejarahnya…ini membuktikan hakikat dan syariat itu tidak dapat dipisahkan…
Nabi diutus untuk menyampaikan ajaran kebenaran dari Allah sang Pencipta…sudahkah kita mengikuti apa yang diperintahkan Allah atau hanya sibuk berlari dari ajaranNya….
saya bukan putihan ataupun abangan…saya hanya hamba Allah yang mencoba belajar menuju kejalanNya yang diridhoiNya…
Allahu Akbar
perdalamlah ilmu syariat dan hakikat…dan bukan untuk memunculkan pertentangan…
tidak ada paksaan dalam agama…dan tugas kita hanya memberi peringatan…hanya Allah yang mengubah hati manusia itu sendiri…
semangatlah berdakwah tapi bukan semangat mencela dan mencaci karena perbedaan…
jika dakwah kita tidak didengar serahkan semua itu kepada Allah karena semua menjalani takdir yang ditulis oleh Allah Azza Wajala…
Allah Tuhan maha Adil dan Bijaksana…dan Maha Suci Tuhanku dari semua prasangka orang orang kafir….
maaf….penafsiran anda tentang prabhu sadmata cenderung tendensius menafsirkan prabhu sadmata dgn sivha berkepala 6 atau brahma berkepala 3……bukan itu maksud kanjeng susuhunan syeh siti jenar…….saya dapat mengerti karena anda ( penulis ) beraliran sivha budha ……alangkah baiknya biarkan bagian ini diartikan apa adannya tidak usah ditafsirkan begitu …… terimakasih.