Tak Hanya Kartini

Oleh : Widi Astuti (Mushida Salatiga) : Penggemar Sejarah Islam, terutama tokoh pergerakan perempuan Islam di Indonesia. Tulisannya bisa dilihat di widi80.blogdetik.com

_______________

Selalu ada nuansa lain di bulan April. Berbagai sekolahan, instansi pemerintah, swasta, ataupun organisasi kemasyarakatan  berlomba-lomba mengadakan berbagai kegiatan  untuk memperingati Hari Kartini. Sebagai puncaknya di tanggal 21, kaum Hawa mengenakan kain kebaya dan sanggul secara serempak.

Fenomena ini sudah menjadi tradisi bertahun-tahun lamanya. Tak ada yang tak mengenal Kartini. Hampir seluruh anak bangsa menjadikan Kartini sebagai satu-satunya pahlawan tokoh pergerakan perempuan Indonesia. Sosoknya menjadi fenomenal, menjadi ikon kemajuan perempuan Indonesia. Padahal kalau kita mau melihat sejarah secara jujur , sebenarnya banyak sekali perempuan Indonesia yang hebat, setara ataupun bahkan melebihi Kartini.

Jika Kartini dielu-elukan karena pemikirinnya untuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Maka Rohana Kudus dari Sumatera Barat sudah selangkah lebih maju. Dia tak hanya sebatas wacana seperti Kartini. Tapi sudah mewujudkan wacana tersebut dalam bentuk konkret berupa Sekolah Kerajinan Amal Setia di tahun 1911. Suatu sekolah khusus untuk kaum perempuan.

Sekolah Kartini berhasil didirikan tahun 1915, 11 tahun setelah wafatnya. Kartini belum berhasil mewujudkan mimpinya semasa hidupnya. Kedua adiknyalah yaitu Kardinah & Rukmini  dibantu oleh TH Van Deventer serta JH.Abendanon yang mewujudkan mimpi-mimpinya melalui Yayasan Kartini. Berbeda dengan Rohanna Kudus. Ia berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia di tahun 1911 ketika berusia 27 tahun. Sebuah prestasi yang sangat fenomenal.

Rohana KudusRohanna Kudus adalah seorang jurnalis perempuan. Ia hidup sezaman dengan Kartini, usianya lebih muda lima tahun. Ketika Kartini mencetuskan ide-ide perjuangannya melalui korespondensi surat dengan para sahabat Belandanya, maka Rohanna mengeluarkan ide-ide perjuangannya melalui koran Soenting Melajoe yang dipimpinnya. Rohanna juga tercatat pernah memimpin surat kabar Perempuan Bergerak dan  Cahaya Sumatra. Dialah jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

Jika di Bukit Tinggi ada Rohanna Kudus, maka di Bandung ada Dewi sartika. Ia berhasil mewujudkan cita-citanya memajukan pendidikan kaum perempuan dengan mendirikan Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan) di tahun 1904 di kota Bandung.  Sekolah ini merupakan Sekolah Perempuan pertama di tanah Jawa, bahkan Sekolah Perempuan pertama se-Hindia Belanda. Sekolah ini bediri di tahun wafatnya Kartini. Sedangkan Sekolah Kartini yang dikelola oleh Yayasan Kartini berdiri tahun 1915.

Di Sulawesi Selatan tercatat nama Siti Aisyah We Tenriolle, seorang Ratu dari Kerajaan Tanette. Dialah Ratu perempuan terlama di Indonesia (1855-1910). Siti Aisyah We Tenriolle adalah seorang ratu yang cerdas. Tak hanya cakap di bidang pemerintahan, Ia juga berhasil menyelamatkan sastra warisan dunia I La Galigo. Suatu epos terpanjang di dunia. I La Galigo adalah suatu sajak maha besar, mencakup lebih dari 6.000 halaman folio. Setiap halaman naskah tersebut terdiri dari 10-15 suku kata. Artinya cerita I La Galigo ditulis dalam sekitar 300.000 baris panjangnya. Satu setengah kali lebih panjang dari epos terbesar Anak Benua India, Mahabharata yang hanya terdiri dari 160.000-200.000 baris.

Siti Aisyah We tendri OlleTidak hanya cerdas di bidang kesusateraan, Siti Aisyah We Tenriolle juga cerdas di bidang pemerintahan dan pendidikan. Aisyah berhasil mendirikan sekolah bagi rakyatnya. Sekolah tersebut  tidak hanya diperuntukan bagi laki-laki, tetapi juga perempuan. Meski kurikulumnya masih sangat sederhana, hanya membaca, menulis dan berhitung tapi pada masa itu tergolong sudah sangat hebat. Karena pada masa itu anak perempuan tidak bersekolah. Aisyah lah tokoh yang pertama kali mendirikan sekolah yang menerima murid putra dan putri dalam satu kelas. Dia berhasil mewujudkan kesetaraan hak pendidikan bagi laki-laki dan perempuan jauh sebelum Kartini dilahirkan. Aisyah menginginkan rakyatnya melek pendidikan, tidak terkecuali perempuan.

Di Aceh terdapat banyak sekali perempuan-perempuan hebat nan heroik dalam melawan penjajah Portugis maupun Belanda. Mereka terjun langsung dalam pertempuran sengit bahkan menjabat sebagai panglimanya. Di kala perempuan-perempuan Indonesia kebanyakan hanya aktif di sektor domestik, maka perempuan Aceh telah melenggang ke ranah publik

Sebut saja Malahayati yang tercatat sebagai Laksamana Perempuan Pertama di dunia. Dialah yang memimpin armada perang Kesultanan Aceh menggempur armada-armada Portugis dan Belanda di Selat Malaka. Armadanya terdiri dari 100 buah kapal. Tiap kapal terdiri dari 400-500 pasukan. Nama Malahayati sangat ditakuti oleh Armada-armada Portugis, Belanda dan Inggris. Karena Malahayati lah yang berhasil membunuh Cornelis De Houtman di tahun 1599. Cornelis De Houtman adalah orang Belanda yang pertama kali menancapkan kuku imperialisme di Indonesia. Sungguh sangat sulit mencari perempuan segagah Malahayati di zaman sebelumnya atau sesudahnya.

Tak ada yang mengingkari bahwa Aceh adalah gudangnya pahlawan perempuan. Tercatat nama-nama agung mujahidah dari Aceh seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Teungku Fakinah, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren dan Cutpo Fathimah. Mereka mendedikasikan seluruh hidupnya dalam perjuangan fie sabilillah mengusir kaum penjajah.

Sungguh Indonesia memiliki banyak sekali tokoh pergerakan perempuan. Kebanyakan mereka adalah para muslimah taat. Perjuangan mereka didasari keyakinan relijius, berjihad fie sabilillah dalam rangka mengusir kaum penjajah. Tetapi sayang, sejarah tidak mencatat mereka dengan tinta emas. Nama mereka tidak se abadi nama Kartini. Nama mereka tidak pernah tercantum dalam buku-buku sejarah di bangku sekolah. Akan lebih adil rasanya jika peringatan Hari Kartini diganti dengan Hari Perempuan Indonesia.

*Gambar Rohana Kudus dari wikipedia, gambar Siti Aisyah We Tenriolle dari  kabarmakasar.com

Iklan

32 Comments

  1. ini sebuah tantangan bagi ” blog sejarah ” nya a’a kopral untuk menulis tinta emaskan perjuangan para perempuan2 gagah nan hebat kedalam tulisan artikel. satu kompensasi bagi a’a kopral seandainya kabinet terbaru nanti terbentuk ada kementerian yang khusus dibidang kesejarahan dan menterinya ” a’a kopral ” bagaimana a’a sepakat khan atau kompensasinya masih kurang …….

    ————
    Kopral Cepot : Walaaah.. kompensasi yang justru terlalu besar 🙂 .. persoalan “blog sejarah” sebenarnya simple yaitu persoalan dominasi penulisan sejarah. Pemahaman sejarah untuk anak bangsa bukan hanya lahir dari sejarah yang ditulis oleh “Negara” atau “Penguasa” tetapi pemahaman sejarah bisa lahir dari sejarah yang ditulis oleh “Rakyat”. Dari dulu rakyat biasa bercerita lewat dongeng dan dengan hadirnya dunia maya kini rakyat bisa bercerita di blog, social media dan lainnya. Yang pasti pandangan obyektif lah yang mampu mencerdaskan anak bangsa lewat cerita-cerita sejarah. Hatur tengkyu Pak DT 😉

  2. subhanallah, bukan hanya dibalik seorang tokoh pria ada wanita hebat. tapi juga wanita-wanita hebat ada yang mengalahkan kehebatan pria.

    hayu atuh kopral urang menulis dan menyusun buku sejarah ‘ala rakyat’ kan belum ada madzhabnya, sekalian nambahin madzhab sejarah yang sudah ada, dan yang baru seperti madzhab mansyuriah hehehe…

  3. Tapi tidak denganku, kusambut hari Kartini itu dengan tangisan batin, kusambut hari Kartini itu dengan lokus domain penjajahan baru terhadap kaum perempuan Indonesia. Penjajahan hak hak perempuan, penjajahan hak hak seorang ibu, dan penjajahan baru yang saya sebut sebagai western terhadap budaya perempuan Indonesia. Kasus demi kasus di penghujung tahun 2012 sampai di triwulan pertama tahun 2013, di mulai dari kasus pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi dan pelecehan seksual yang dialamatkan pada kaum perempuan.

  4. halo.. sekadar melurukan. Data Anda kurang akurat. Sekolah Kartini yang Anda tulis di tahun 1915 itu terletak di Semarang? Atas dana dari pemerintah Belanda? Coba Anda baca buku RA.Kartini karya Tashadi. Disana ditulis, Kartini sudah mendirikan sekolah gadis di Jepara dan Rembang. Di Rembang, dia juga membuka bengkel ukir untuk remaja pria. Selain itu, kedua adik Kartini juga membuka sekolah gadis di daerah suami mereka bertugas. lebih lengkapnya mengapa Presiden Soekarno memilih Kartini, silakan klik link ini -> http://astridseptaviani.wordpress.com/2013/09/17/mengapa-harus-mencela-kartini/

    1. Oh ya, tambahan RA.Kartini meninggal tahun 104, jadi logikanya sekolahnya sudah ada sebelum tahun itu. Baca bukunya Tashadi aja 🙂

      Sama saya tambahkan data Anda. Rohana Kudus di tahun 1912 mendirikan Sunting Melayu, sebuah surat kabar yang pertama kali diawaki oleh para perempuan di Indonesia.

  5. Terimakasih atas masukannya mbak Astrid 🙂
    Sekolah yang dimaksud disini adalah sekolah resmi, memakai kurikulum resmi. Sekolah resmi yang diakui Belanda ini baru didirikan tahun 1915 oleh yayasan Kartini. Pendiri Yayasan Kartini adalah Van Deventer. Sebelum tahun tsb, sekolah Kartini hanya “ala kadarnya”, dalam arti masih sangat sederhana 🙂
    Jika kita berbicara sekolah yang “ala kadarnya”, maka jauh sebelum Kartini dilahirkan, Siti Aisyah We Tenriolle (Ratu dari Tanette-Sulsel) telah mendirikan sekolah bagi rakyatnya baik laki2 maupun perempuan di tahun 1855 (bandingkan dg Kartini yg baru lahir tahun 1879). Sekolahan We Tenriolle mengajarkan materi membaca dan berhitung. Bahkan Siti Aisyah We Tenriolle diakui sebagai penyelamat sastra warisan dunia I LA GALIGO 🙂 ….sampai saat ini naskah asli I LA GALIGO tersimpan di Universitas Leiden Belanda.
    Di Bandung juga ada Dewi Sartika yang berhasil mendirikan Sakola Kautamaan Istri di tahun wafatnya Kartini, tahun 1904…..sekolah ini diakui secara resmi oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Sekolah Perempuan Pertama di Indonesia 🙂
    Jadi Belanda mengakui bahwa Sakola Kautamaan Istri punyanya Dewi Sartika adalah Sekolah perempuan yang pertama….bukan sekolahannya Kartini 🙂

    1. Yup, Bu Dewi Sartika memang sudah mendirikan sekolah yang resmi. Sekadar menambahkan, sebelum sekolah Gadis Kartini yang di Rembang didirikan, Suaminya mengajukan permohonan pendirian sekolah ke Pemerintah Hindia Belanda. Nanti saya buka lagi bukunya Tashadi dan Armin Pane apakah akhirnya sekolah itu didirikan menggunakan dana pribadi atau dari pemerintah Hindia Belanda. Sekolah ini sudah meng-outsource guru yang berkebangsaan Belanda. Kalau yg di Jepara, memang murni dana pribadi Kartini, dan dia sendiri yang mengajar. Tapi sebetulnya yang saya sanggah paragraf yang ini:

      Jika Kartini dielu-elukan karena pemikirinnya untuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Maka Rohana Kudus dari Sumatera Barat sudah selangkah lebih maju. Dia tak hanya sebatas wacana seperti Kartini. Tapi sudah mewujudkan wacana tersebut dalam bentuk konkret berupa Sekolah Kerajinan Amal Setia di tahun 1911. Suatu sekolah khusus untuk kaum perempuan.

      Yang saya maksud adalah kalimat “Dia tak hanya sebatas wacana seperti Kartini” 🙂

      Menurut saya, Kartini tak hanya sebatas wacana 🙂 karya tulisnya tentang kehidupan seniman ukir Jepara, cerita rakyat, dan keadaan sosial ekonomi pernah dimuat di beberapa majalah berbahasa Belanda seperti majalah “de Echo”

      Cuma sayangnya kenapa jadinya hanya Kartini sebagai ikon emansipasi? ini juga pernah jadi pertanyaan saya. Sampai sekarang, jujur saya belum menemukan jawaban pastinya. Ini kita diskusi boleh ya?

      Menurut saya, penyebabnya adalah:
      1. Beliau keturunan Raja (saya lupa daerahnya, nanti saya buka lagi bukunya), dalam artian keturunan bangsawan. Dewi Sartika juga keturunan bangsawan kan ya? Hanya saja kalau Kartini ditetapkan sebagai pahlawan tahun 1964, seingat saya Bu Dewi baru tahun 1966. Jadi lebih dulu Kartini. Dan kaum bangsawan selalu identik dekat dengan Belanda. (Bupati, Asisten Wedono, dll).

      2. Kartini sering mengunjungi rumah penduduk bersama ayahnya. Itu mengapa, Beliau bisa menulis beberapa karya tulis tentang penduduk Jepara di berbagai majalah berbahasa Belanda. Ini berarti cukup banyak orang Belanda yang membaca. Bahkan, karya tulisnya tentang Batik, sangat disukai di Pameran di Belanda pada saat itu.

      3. Kartini menuliskan 48 surat ke Nyonya Abendanon dengan bahasa yang saat itu mungkin tinggi ya? (kalau baca punya Armin Pane “Habis Gelap Terbitlah Terang, memang puitis dan hangat). Dan jaman segitu, gak bnyk perempuan Jawa yang bersedia berhububungan dengan orang belanda. Jadi ini melahirkan inisiatif Ny.Abendanon untuk membukukan surat2nya.

      4. Beliau menuliskan gagasannya dalam surat dan karya tulis. Ini yang mungkin tidak dilakukan oleh Bu Dewi dan para perempuan lainnya (atau melakukan, tapi tak ada yang menghimpun?). Karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis itu pekerjaan untuk keabadian. Jadi Bung Karno, melihat tak hanya curhatan Kartini, tetapi gagasan dan tulisan2nya di berbagai majalah tersebut.

      Saya kurang setuju, kalau Kartini dibilang antek2 Kartini, karena beliau sendiri sering mengirimkan surat bernada protes. Kalau dilihat dari tulisannya, memang beliau agak plin plan dalam mengambil keputusan, mungkin karena beliau perempuan dan anak bangsawan pulak ya?

      Eh jadinya panjang, sorry…. saling bertukar informasi aja ya kita? Kalau bicara selain Kartini, pastinya sangat banyak, apalagi dari Aceh, banyak sekali pejuang perang disana.

    2. Hmmmm baiklah mungkin kita berbeda pendapat. Sudut pandang kita berdua beda, dan itu wajar 🙂

      Ini hanya penelusuran saya aja. Mengenai ketulusan Ny.Abendanon, hati orang siapa yang tahu? 🙂

      Cuma, kebetulan Eyang Yut saya dulu asisten Wedono. Dan Eyang Yut Uti saya kerap memanfaatkan para Belanda itu untuk mengajari-nya banyak hal. Mulai dari menjahit, membuat kue yang enak-enak sampai melukis. Orang Belanda yang gak bodoh itu minta balas jasa berupa Les Batik. Tapi Eyang Yut Uti saya gak bodoh, dia melarang orang Belanda itu untuk membatik, dia bilang lilin malam-nya sangat berbahaya kalau kena kulit. Jadi, saya pikir keluarga Kartini juga memanfaatkan Belanda dengan cara yang sama yang dilakukan oleh Eyang Yut saya.

      Diantara semua yang pernah dikirimi surat sama Kartini, cuma Ny. Ovink yang dianggap seperti Ibu sendiri, walau kenyataannya surat terbanyak (sebanyak 48 surat) dikirim ke Ny.Abendanon. Ya, saya gak tau sih, apa karena ada faktor udang dibalik rempeyek atau Ny.Abendanon memang murni bersimpati dan salut sama Kartini, maklum gak semua bangsawan Jawa mau menerima orang Belanda saat itu kan? ya Wallahualam 🙂

      Sisi positifnya dari ikon Kartini adalah, saya dan mungkin Mba Widi, kita yang muda2 ini jadi tergerak untuk mencari tokoh perempuan lainnya. Saya jadi bersemangat mengumpulkan buku2 lama mulai dari semua buku tentang Kartini, Rohana Kudus, SK Trimurti, Walanda Maramis (ini malah lebih keren lagi menurut saya), dan banyak lagi. Kalau Bung Karno gak membuat ikon seperti ini, mungkin mereka yang gak suka sejarah (gak seperti kita 🙂 ) gak akan pernah punya panutan. Justru karena ada tokoh central Kartini, makanya ponakan saya yang kelas 5 SD bisa bilang “Aku mau jadi lebih hebat dari Kartini”

      Kapan2 diskusi tokoh lainnya ya? senang berdiskusi dengan Anda Mba Widi 🙂

    3. Wahh boleh tuhh, ada siapa aja di buku Mba Widi selain Rohana Kudus? Kl Rohana Kudus, saya punya buku biografinya. Rohana Kudus, Riwayat Hidup….. (saya lupa judulnya, padahal br 2 minggu lalu saya buka lagi -__-).

      Kalau ada buku lama tentang sejarah media (utamanya radio) boleh juga mba, atau kasi judulnya aja nanti saya cari sendiri. Kalau dari internet, kadang sumber datanya kurang jelas dan kurang valid.

      Kalau video (dokumenter) Rohana Kudus punya? saya butuh capture yang high res (maklum buat buku). Temen saya juga butuh buat program S3-nya (Sejarah Sambang Sekolah).

  6. Hehehe…diskusinya makin menarik aja mbak Astrid 😀
    Kartini itu memang keturunan bangsawan, makanya namanya langsung beken kayak Miss World 😉
    Kartini itu masih memiliki garis keturunan langsung dari Sri Sultan Hamengkubowono VI, jadinya wajar dunk kalau Belanda ngefans berat ame dia trus memblow up all about her 😉 Lagipula keluarga besar Kartini itu berada dalam garis moderat, dalam arti tunduk patuh pada Belanda 😉
    Beda lagi ame Dewi Sartika. Meskipun Dewi Sartika juga keturunan bangsawan Sunda (ayahnya bernama Raden Somanegara, sedangkan kakeknya bernama Raden aria Adipati Wiranatakusumah VI yg mrpkn cucu dari the founding father Bandung) tetapi Ayahnya Dewi sangat membenci dan menentang Belanda. Akhirnya Raden Somanegara dibuang ke Ternate hingga wafatnya. dalam diri Dewi tertanam kebencian pada Belanda, begitu pula sebaliknya. Jadi ya wajar2 aja kalau Belanda nggak memback up Dewi, apalagi menjunjungnya jadi superstar di Indonesiah 😉
    Hmmm…terus kalau kita bicarah masalah tulis menulis, maka jauh sebelum Kartini melejit sudah ada sastrawan perempuan Sunda yang bernama Raden Ayu Lasminingrat. Ia adalah seorang perintis kesusastraan cetak Sunda, pengarang, dan tokoh Sunda abad ke-19. Ia menulis beberapa buku berbahasa Sunda yang ditujukan untuk anak-anak sekolah. Pada 1875 ia menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan aksara Jawa, lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 dalam aksara Latin. Setelah karya tersebut, pada 1876 terbit Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I dalam aksara Jawa. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya. Jilid II buku ini terbit setahun kemudian, lalu mengalami beberapa kali cetak ulang, yakni pada 1887, 1909, dan 1912, dalam aksara Jawa dan Latin. Keren banget ya 😀
    Terus kalau berbicara soal tulis menulis, ada lagi pendekarnya yaitu Rohana Kudus dari Minang. Ia adalah Jurnalis perempuan pertama di Indonesia 🙂
    Memang sih akhirnya Rohana Kudus diangkat jadi pahlawan, tapi super duper telat. Rohana diangkat jadi pahlawan tahun 2007 🙂
    Terus jauuuuuh sebelum itu ada Ratu yang super cerdas dari Aceh, namanya Safiatudin (1612-1675). Ratu keren ini juga menulis banyak karya sastra….tapi dia terlupakan, hiks….
    Terus dari Tanette-Sulsel, ada juga Ratu monumental yg bernama Siti Aisyah We Tenriolle, bahkan dia menyelamatkan sastra warisan dunia, keren kan 😉
    Jadi…..sebenernya banyaaaaak banget perempuan cerdas Indonesia yang jago dalam hal tulis menulis…..tapi yang ngetop bin beken alias tenar cuman Kartini doank…..salah siapa? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang 🙂

    Kalau

    1. Hmmmm Mba Widi, kok dari Buku Kartini karya Tashadi, melampirkan silsilah keluarga Kartini itu keturunan dari Majapahit dan Madura ya? Itu kenapa, Kartini membuat karya tulis berupa dongeng yang tokoh dan wilayahnya diambil dari kerajaan Madura. Ini saya baru buka buku-nya (baru pulang kerja), kakeknya itu bernama Pangeran Ario Tjondronegoro IV. Kalau saya lihat di Wikipedia (maklum gak punya buku ttg kerajaan Jogja), memang keturunan Hamengku Buwomo VI, tapi di buku ini, semua kakeknya justru lebih banyak bermukim di Surabaya, Pati, Kudus, dan Jepara. Di silsilahnya yg paling atas Prabu Browodjojo. Disini juga gak ada namanya Ario Tjondronegoro -> http://id.rodovid.org/wk/Orang:26196. Oke, ini bukan uruan kita, tapi saya gak boleh percaya sama wikipedia 😀

      Ya itu tadi Mba, seperti saya jelaskan sebelumnya. Kebangsawanan Kartini itu berbeda dengan lainnya. Dia masih mau berhubungan dengan Belanda, apalagi kartini yang cuma perempuan Jawa. Dia kan cuma mau memanfaatkan pertemanannya itu untuk bertukar informasi. Informasi itu (tentang kemanusiaan, pendidikan, kungkungan adat yang kaku, sampai perdagangan) dia sampaikan ke penduduknya. Itu kenapa terus ukiran Jepara bisa dijual ke luar daerah Jepara, setelah bengkel ukir berdiri. Kalau bangsawan lainnya kan lebih memilih untuk melawan Belanda dengan perang atau musuhan. Kalau keluarga Kartini, mulai dari kakeknya justru menjadikan orang belanda sbg guru anak2nya. Itu tadi maksud dari yg saya tanyakan “Bu Dewi bangsawan juga kan?”

      Terus kalau tulis menulis, Rohana Kudus memang sangat terlambat untuk jadi pahlawan. Eman ya? Padahal beliau sudah berjasa mendirikan Sunting Melayu, mana semua awak medianya perempuan pula. Otomatis, Sunting Melayu jadi koran pertama di Indonesia yang dipimpin dan di awak-i semua perempuan. Ini sama hebatnya dengan Laksmana Keumala Hayati, yang semua prajuritnya perempuan. Dan Belanda mengakui kalau dia Laksmana perempuan pertama di DUNIA, bener kan ya?

      Cuma pertanyaannya kan salah siapa? aku mau mewakili rumput jawab boleh? hehehehe,,,,, mungkin nih ya, mungkin yang salah adalah sistem pengarsipan dan pendistribusian dokumen sejarah kita. Kartini gak menerbitkan buku, gak menerjemahkan juga, tapi mengapa Kartini? Karena dari semua yang dikirimi surat (Stella, Ny.Abendanon, Ny.Ovink, dll), hanya Ny.Abendanon yang berinisiatif untuk membukukan, baru yang lainnya mengumpulkan surat2 itu. Nah masalahnya gak selesai sampai dibukukan doank. Sama Ny.Abendanon, buku ini disebar ke semua kenalannya, sampai semua Eropa tahu dan akhirnya diterjemahkan dalam bahasa Inggris “Letters of Javanese Princess”. Eh ndilalah ini ya laku keras. Terus baru di tahun 1940-an, sastrawan Arjmin Pane menerjemahkannya ke dalam bahasa kita. Jadi telat banget kan? dan gak semua surat Kartini diterjemahkan Arjmin Pane, katanya banyak yang sama isi suratnya. Jadi gak heran kalau ada yang miss antara versi belanda sama indonesianya.

      Itulah lemahnya kita, penerus kita gak ada yang me-marketing-kan sejarah itu sendiri, termasuk cerita koran Sunting Melayu. Beda sama Ny.Abendanon, dia marketingkan buku itu hingga ke seluruh eropa. Ya sama dengan lukisan ibu Masmundari. Orang gresik baru dua tahun ini kenal lukisan Bu Masmundari, padahal lukisannya sudah ada di 3 museum internasional. Aku lupa negaranya. Ada jermannya juga kalau gak salah.

      Jadi salah siapa? ya salah kita, kita ini para penerus yang gak sebaik dan gak seperduli Ny.Abendanon 🙂

      Tapi yang jelas, semua perempuan itu gak hanya sebatas wacana. Mereka sudah berbuat kok. Seni ukir Jepara gak akan dikenal di luar daerah Jepara tanpa peran Kartini 🙂

      1. Kejauhan dibahas, jangan lupa yang terpenting itu surat-surat Kartini masih ada tidak dokumentasi utuhnya. Apa tidak ada kemungkinan surat-suratnya hasil produk propaganda orang Belanda sendiri di Eropa? Jangan lupa saat dipopulerkan tulisan itu Belanda tengah gencar mengkampanyekan politik etis, seakan penjajahan yang dilakukan dimaksudkan untuk membantu mensejahterakan jajahannya. Tengok lagi apa yang disebut sekolah Kartini, dapat berdiri tanpa campur tangan Belanda? Mengapa kita tidak mencari ikon sendiri yang lebih membumi yang berdiri dan berjuang dengan kaki sendiri? Hidup Syahrini, eh Kartini!

  7. Oh ya, kl di arsip Metro Files atau mungkin arsip lain yang video, punya yang Rohana Kudus gak? kl ada, saya minta link-nya boleh? mau buat riset. Risetnya buat nulis buku tentang Media. Kalau ada ya.. tengkyu 🙂

  8. Hmmm….saya kok curiga ya sama Belanda….Dia kan penjajah, sudah membantai berjuta-juta rakyat Indonesia….Nggak pernah tulus ikhlas membantu rakyat yang dijajahnya…..kenapa tiba-tiba jadi baik banget sama seorang perempuan pribumi, seorang Kartini….kayaknya ada udang di balik rempeyek 😀
    Kalau kita lihat trackrecord Belanda, nggak pernah tuh ada baik hatinya sama rakyat yg dijajahnya, setelah politik etis aja agak baikan dikit 🙂
    Saya yakin ada misi tertentu dibalik penokohan Kartini.

    semasa hidupnya Kartini tidak dikenal, hanya dikenal oleh warga Jepara dan Rembang saja. Tapi setelah meninggalnya baru tenar. Dia tenar karena di publish oleh JH.Abendanon (menteri pendidikan) dan juga karena kedekatannya dg orang2 Belanda. Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.
    Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).
    Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.

    Penokohan dan pengkultusan Kartini menyebabkan masyarakat Indonesia tidak mengenal tokoh2 perempuan hebat lainnya. Yang diketahui cuman Kartini saja. Padahal banyak tokoh perempuan lain yang sejajar atau bahkan lebih riil perjuangannya daripada Kartini 🙂
    Orang Belanda seakan-akan ingin mengabarkan kepada bangsa Indonesia bahwa perempuan Indonesia bisa maju berkat bimbingan Belanda. Kalau tak dibimbing Belanda niscaya perempuan Indonesia berada dalam keterbelakangan yang memprihatinkan. Seolah-olah segala kemajuan perempuan Indonesia adalah berkat Belanda, padahal ini bohong besar.
    So, dijunjung tinggilah Kartini, ditenggelamkanlah perempuan hebat lainnya, agar semua mata hanya tertuju pada Kartini 🙂

    1. Hmmmm baiklah mungkin kita berbeda pendapat. Sudut pandang kita berdua beda, dan itu wajar 🙂

      Ini hanya penelusuran saya aja. Mengenai ketulusan Ny.Abendanon, hati orang siapa yang tahu? 🙂

      Cuma, kebetulan Eyang Yut saya dulu asisten Wedono. Dan Eyang Yut Uti saya kerap memanfaatkan para Belanda itu untuk mengajari-nya banyak hal. Mulai dari menjahit, membuat kue yang enak-enak sampai melukis. Orang Belanda yang gak bodoh itu minta balas jasa berupa Les Batik. Tapi Eyang Yut Uti saya gak bodoh, dia melarang orang Belanda itu untuk membatik, dia bilang lilin malam-nya sangat berbahaya kalau kena kulit. Jadi, saya pikir keluarga Kartini juga memanfaatkan Belanda dengan cara yang sama yang dilakukan oleh Eyang Yut saya.

      Diantara semua yang pernah dikirimi surat sama Kartini, cuma Ny. Ovink yang dianggap seperti Ibu sendiri, walau kenyataannya surat terbanyak (sebanyak 48 surat) dikirim ke Ny.Abendanon. Ya, saya gak tau sih, apa karena ada faktor udang dibalik rempeyek atau Ny.Abendanon memang murni bersimpati dan salut sama Kartini, maklum gak semua bangsawan Jawa mau menerima orang Belanda saat itu kan? ya Wallahualam 🙂

      Sisi positifnya dari ikon Kartini adalah, saya dan mungkin Mba Widi, kita yang muda2 ini jadi tergerak untuk mencari tokoh perempuan lainnya. Saya jadi bersemangat mengumpulkan buku2 lama mulai dari semua buku tentang Kartini, Rohana Kudus, SK Trimurti, Walanda Maramis (ini malah lebih keren lagi menurut saya), dan banyak lagi. Kalau Bung Karno gak membuat ikon seperti ini, mungkin mereka yang gak suka sejarah (gak seperti kita 🙂 ) gak akan pernah punya panutan. Justru karena ada tokoh central Kartini, makanya ponakan saya yang kelas 5 SD bisa bilang “Aku mau jadi lebih hebat dari Kartini”

      Kapan2 diskusi tokoh lainnya ya? senang berdiskusi dengan Anda Mba Widi

      1. Lebih hebat dipoligami? Apa hebatnya, beraninya, gagahnya, dibanding perempuan pribumi yang berani berjuang bertaruh nyawa tidak kenal menyerah demi sesuatu yang mereka anggap benar? Hebat mana Melawan penjajah daripada berkawan dengan mereka?

  9. Its nice to know you mbak Astrid 😀
    Oh iya, tentang Rohana Kudus dan tokoh2 perempuan keren lainnya, bisa dibaca di buku saya: PEREMPUAN PEJUANG, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa.
    Harganya murah meriah, cuman 35.000 (belum termasuk ongkir). Jika berminat, bisa inbox di email saya widiastuti29@yahoo.co.id
    See Youuuuuuu 😀

  10. tapi Kartini umurnya terbatas, dia kan meninggal muda. ga bs lah dibandingin dg tokoh2 lain, yg umurnya panjang. klo dia umurnya panjang, pasti dia jg ga akan membiarkan mimpinya hya jd sekedar wacana… dan akan menanganinya sdr. IMHO
    yg jelas Kartini mmg sudah berjasa, dan menjadi icon dan inspirasi, krn publikasinya plg tinggi.
    tokoh2 lainnya mmg msh perlu digali sejarahnya dan dikenalkan ke publik.
    *bukannya Kartini jg membangun sekolah kecil2an ya, di Rembang? Januari 1904, sblm dia meninggal… dg support suaminya yg seorang bupati…?

  11. sori, br liat komen lainnya… jd sekolah yg didirikan Kartini, krn bukan sekolah resmi yg diakui Belanda, dianggap bkn sekolah perempuan yg pertama, ya? hmm…
    tapi apalah artinya, pasti Kartini melakukannya bkn krn ingin dikenal sbg pembuat sekolah pertama, begitu pula tokoh wanita lainnya.
    mereka melakukannya murni krn pengabdian dan kepeduliannya pada nasib wanita pada zamannya. (bukan buat keren2an pastinya)
    udah baca beberapa resensi buku ini, dan seru banget… pgn pya bukunya. krn sy emg pgn kenal banget sama tokoh wanita yg keren2, apalagi yg berasal dari bumi Indonesia sendiri.
    pahlawan sejati tidak memerlukan gelar kepahlawanan dr pemerintah, tapi dia yg bagi kita telah menjadi pelopor perubahan. keberaniannya menjadi inspirasi.
    oleh karena itu, setiap orang memiliki versi pahlawannya sendiri: siapa org yg perjuangannya paling menginspirasi bagi dirinya.
    bagi org yg suka tokoh wanita yg menjadi pemimpin perang/tokoh militer, mungkin mengidolakan Malahayati.
    yg suka pendidikan, mgkn mengidolakan Kartini atau Dewi Sartika.
    yg suka jurnalisme, mengidolakan tokoh jurnalis spt Rohanna Kudus.
    yg suka dg tokoh pemerintahan, mungkin menyukai Siti Aisyah We Tenriolle. (sekolah yg didirikannya jg bkn sekolah resmi yg diakui Belanda kan?)
    begitulah, secara pribadi setiap org berhak memilih pahlawannya sdr, tidak hrs terpaku pd pemerintah.
    krn gelar dr pemerintah kan pasti memiliki motivasi dan kepentingan politiknya sdr, yg belum ttu obyektif.
    kepentingan pemerintahan zaman Belanda, pasti beda dg kepentingan zaman Jepang, Orde Lama, Orde Baru, maupun era Reformasi.
    beda kepemimpinan dan era pemerintahan, beda pula standar untuk menentukan kepahlawanan seseorang.
    gelar kepahlawanan dr pemerintah itu terlalu relatif untuk dijadikan ukuran.
    yg penting tokoh itu baik, untuk dijadikan ‘role model’ bg generasi muda Indonesia.
    semua tergantung publikasi, agar anak2 Indonesia memperoleh ‘role model’ yg lbh bervariasi.
    skrg ga hrs terpaku buku pelajaran kan? krn saat ini anak-anak jg sdh akrab dg wikipedia.
    mrk bisa kita tuntun, untuk mengenal tokoh2 wanita lain selain Kartini, meski tidak diajarkan di sekolah.
    salah satunya, melalui buku yg ditulis mba Widi Astuti ini.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s