Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Membaca Manhaj Haraki : Mendirikan Negara

old-madinahSemenjak da’wah terang-terangan, tiga tahun setelah kenabian, Rasulullah saw. senantiasa mendatangi orang-orang di berbagai acara musiman dan pasar Arab guna mengajak mereka beriman kepada Allah, “Ucapkanlah laa ilaaha illallah, niscaya kalian beroleh kemenangan.” Selanjutnya, Rasulullah saw. mengajak mereka untuk meninggalkan berhala-berhala dan sesembahan selain Allah. Sedangkan, dalam musim (haji) ini—yakni pada tahun kesepuluh dan kesebelas kenabian—maka telah terjadi perubahan dan perkembangan daripada tahun- tahun sebelumnya.

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Allah hendak memenangkan agama-Nya, mendukung nabi-Nya, dan menunaikan janji-Nya kepadanya, Rasulullah saw. keluar di musim (haji) menemui beberapa orang Anshar dan mendatangi kabilah-kabilah Arab sebagaimana biasa dilakukan di setiap musim. Ketika berada di Aqabah, beliau bertemu dengan beberapa orang dari Khazraj yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan.

Ketika bertemu dengan mereka, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Orang-orang dari Khazraj.” Nabi saw. bertanya lagi, “Apakah kalian termasuk yang bersahabat dengan orang-orang Yahudi?” Mereka menjawab, “Ya, benar.” “Apakah kalian bersedia duduk bersama kami untuk bercakap-cakap?” tanya Nabi saw. “Baik,” jawab mereka. Mereka lalu duduk bersama beliau. Beliau mengajak mereka supaya beriman kepada Allah, menawarkan agama Islam kepada mereka, kemudian membacakan beberapa ayat suci al-Qur’an.

Sewaktu Rasulullah saw. mengajak orang-orang tersebut berbicara dan menyeru mereka supaya beriman kepada Allah, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Demi Allah, kalian tahu bahwa dia adalah nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepada kalian. Karena itu, janganlah sampai mereka mendahului kalian!” Kemudian mereka menyambut baik ajakan Nabi saw. yang ditawarkan beliau. Mereka lalu berkata, “Kami tinggalkan kabilah kami yang selalu bermusuhan satu sama lain. Tidak ada kabilah yang saling bermusuhan begitu hebat seperti mereka, masing-masing berusaha menghancurkan lawannya. Mudah-mudahan dengan Anda, Allah akan mempersatukan mereka lagi. Kami akan mendatangi mereka dan mengajak mereka supaya taat kepada Anda. Kepada mereka akan kami tawarkan juga agama yang telah kami terima dari Anda. Apabila Allah mempersatukan mereka di bawah pimpinan Anda, maka tidak ada orang lain yang lebih mulia daripada Anda!” Mereka kemudian pulang ke negeri mereka dalam keadaan telah beriman kepada Allah dan memeluk agama Islam. Mereka ini berjumlah enam orang dari Khazraj.

Sesampainya di Yastrib, mereka lalu menceritakan kepada penduduknya tentang Rasulullah saw. dan mengajak mereka untuk memeluk Islam. Begitu cepat hasil ajakan mereka sehingga tak ada rumah di Yastrib yang tidak membicarakan Rasulullah saw. Tampaknya pertemuan Nabi saw. dengan beberapa orang Khazraj ini terjadi secara “sambil lewat” saja. Ini terbukti dari ajakan Nabi SAW kepada mereka untuk duduk bercakap-cakap. Pertemuan ini merupakan takdir Allah yang dikaruniakan-Nya kepadanya untuk kepentingan da’wah-Nya.

Ibnu Ishaq berkata, “Pada tahun berikutnya, datanglah orang dari Anshar menemui Rasulullah di Aqabah, Aqabah pertama. Mereka kemudian membai’at Rasulullah seperti bai’at kaum wanita, bai’at sebelum perang. Di antara mereka terdapat As’ad bin Zurarah, Rafi’ bin Malik, Ubadah bin Shamit, dan Abui Haitsam bin Tihan.”

Dari Ubadah bin Shamit, ia berkata, “Aku termasuk salah seorang yang hadir dalam bai’at pertama. Kami berjumlah dua belas orang lelaki. Kemudian kami mengucapkan bai’at kepada Rasulullah seperti bai’at kaum wanita, sebelum diwajibkan perang, ‘Bahwasanya kami tidak akan mempersekutukan Allah dengan apa pun, kami tidak akan mencuri, kami tidak akan berzina, kami tidak akan membunuh anak- anak kami, kami tidak akan berdusta untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakang kami, dan tidak akan membantah perintah beliau dalam hal kebajikan….”

Pada tahun baru, setelah pertemuan pertama, dua belas orang lelaki datang ke Mekah bersama-sama dengan orang-orang yang menghadiri acara musiman. Sesuatu yang baru dalam urusan ini ialah bahwa mereka mewakili dua komunitas besar, Aus dan Khazraj. Dengan demikian, tidak akan terjadi perang kabilah di mana Khazraj mewakili pihak Islam dan Aus mewakili pihak jahiliah. Bahkan, kelompok inti dan pelopor ini telah berhasil memadamkan api peperangan yang baru saja berkobar, kemudian menghimpun mereka dalam satu jama’ah.

Ba’iat Aqobah 2 : Persiapan Berdirinya Negara

Nabi SAWBerkata Ka’ab bin Malik, “Kami berangkat bersama rombongan haji dari kaum kami yang musyrik, waktu itu kami sudah shalat dan memahami (Islam). Di antara rombongan yang berangkat bersama kami terdapat Barra’ bin Ma’rur, pemimpin dan tokoh kami…. Kami berjanji kepada Rasulullah untuk bertemu di Aqabah pada pertengahan hari Tasyriq…. Pada malam itu, kami tidur bersama rombongan dalam perjalanan. Setelah lewat tengah malam, kami berangkat menuju tempat yang telah kami tetapkan bersama Rasulullah. Kami jalan menyelusup secara diam-diam seperti burung qatha (sejenis burung yang berjalan secara gesit dan ringan—Penj.) hingga kami tiba di sebuah lembah dekat Aqabah. Kami semua terdiri dari 73 orang pria dan 2 orang wanita, Nashihah binti Ka’ab dan Asma’ binti Amer bin Adi.

Setelah beberapa lama kami berkumpul di lembah Aqabah menunggu kedatangan Rasulullah, datanglah beliau bersama Abbas bin Abdul Muthallib yang ketika itu belum memeluk Islam, tetapi ia ingin turut hadir untuk membuktikan sendiri apa yang akan dihadapi kemenakannya (yakni Rasulullah).

Setelah duduk, Abbas sebagai pembicara pertama berkata ;

“Hai orang-orang Khazraj (orang-orang Arab dahulu menamakan orang-orang Anshar dengan Khazraj, baik itu dari kaum Aus maupun dari Khazraj), sebagaimana kalian telah mengetahui, Muhammad adalah seorang dari kerabat Iwrni. Kami melindunginya dari gangguan orang-orang yang sependapat dengan kami mengenai dia. la mendapat perlindungan dari kerabatnya sendiri dan di negerinya sendiri. Akan tetapi, ia tidak menginginkan selain hendak berpihak dan bergabung dengan kalian. Jika sungguh-sungguh akan setia kepadanya dan kepada agamanya; jika kalian sanggup melindunginya dari gangguan orang-orang yang memusuhinya; tanggung jawab atas keselamatannya kami serahkan kepada kalian! Akan tetapi, jika kalian tidak sanggup melindunginya dan hendak kalian serahkan kepada musuh-musuhnya setelah ia bergabung dengan kalian, maka mulai sekarang baiklah ia kalian tinggalkan saja, karena ia sudah berada di bawah perlindungan kerabatnya di negerinya sendiri. …

Ketika itu kami jawab,“‘Kami telah mendengar apa yang Anda katakan. Sekarang kami minta supaya Rasulullah berbicara sendiri kepada kami. Ya Rasulullah, katakanlah apa yang engkau inginkan dan yang Allah inginkan pula dari kami..  Wahai Rasul Allah, apakah yang perlu kami nyatakan kepada Anda dalam pembai’atan ini?’

Nabi saw. menjawab ;

 1. Berjanji taat dan setia baik dalam keadaan sibuk maupun senggang. 2. Berinfaq, baik dalam keadaan longgar maupun sempit. 3. Menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. 4. Teguh membela kebenaran Allah tanpa rasa takut dicela orang. 5. Tetap membantuku dan akan tetap membelaku bila aku berada di tengah-tengah kalian, sebagaimana kalian membela diri kalian sendiri dan anak istri kalian. Dengan demikian, kalian akan memperoleh surga.”

Al-Barra’ bin Ma’rur kemudian memegang tangan Rasulullah seraya berkata, ‘Demi Allah, yang mengutus Anda membawa kebenaran, kami berjanji akan melindungi Anda sebagaimana kami melindungi istri-istri kami. Wahai Rasul Allah, baiatlah kami dan demi Allah, kami semua mempunyai darah prajurit yang kami warisi dari nenek moyang kami.

Di saat Barra’ bin Ma’rur masih berbicara dengan Rasulullah, Abu Haitsam bin Taihan menukas dan berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, kami terikat oleh suatu perjanjian dengan orang- orang Yahudi dan perjanjian itu akan kami putuskan! Kalau semuanya itu telah kami lakukan, kemudian Allah memenangkan Anda, apakah Anda akan kembali lagi kepada kaum Anda dan meninggalkan kami?

Mendengar pertanyaan itu Rasulullah tersenyum, kemudian berkata, ‘Darah kalian darahku; negeri kalian negeriku; aku dari kalian dan kalian dari aku. Aku akan berperang melawan siapa saja yang memerangi kalian dan aku akan berdamai dengan siapa saja yang berdamai dengan kalian….

Kelima butir bai’at di atas sudah sangat jelas dan tegas, tidak mengandung kekurangsiapan ataupun keraguan. Sebab, baiat untuk Islam (dalam pengertian yang sektoral) tidak sama dengan bai’at untuk menegakkan negara Islam. Orang-orang yang siap hanya sebagai penambah jumlah kaum muslimin tidak sama dengan orang-orang yang siap untuk menjadi tulang punggung, mengorbankan nyawa dan harta mereka demi tegaknya negara Islam. Itulah sebabnya bai’at yang tidak menyebutkan perang dan jihad dalam sejarah, di antaranya bai’at Aqabah pertama, disebut sebagai Bai’at an-Nisa. Sedangkan, bai’at (Aqabah kedua) ini disebut Baiatul Harbi ‘bai’at perang’.

Barra’ bin Ma’rur adalah perunding resmi dan kepala utusan perunding. Ia masuk Islam melalui aktivitas para da’i di perja- lanan. Dalam pembai’atan ini, ia menawarkan segenap potensi kaumnya kepada Rasulullah: kaumnya adalah ahli perang dan senjata. Ini berarti bagi gerakan Islam. Pertama, ia harus mengetahui potensi dan kekuatan perangnya. Kedua, ia harus mengetahui bagaimana mengarahkan potensi-potensi tersebut secara tepat dan cermat. Setiap prajurit yang memiliki keahlian perang harus pula menempati bidangnya. Bahkan, gerakan Islam harus menggali potensi-potensi Islam dan pendukung dari setiap sumur agar menunaikan peran yang diharuskan. Apabila orang-orang yang memiliki potensi ini telah mereguk pengalaman operasional dan peperangan riil maka kemampuan mereka dalam bidang perencanaan militer dan peperangan akan semakin meningkat.

Memperkokoh dan Mempertegas Bai’at

Al-’Allamah al-Mubarakfuri di dalam kitabnya ar-Rahiqul Makhtum berkata, “Setelah selesai pembicaraan sekitar syarat-syarat bai’at dan mereka pun telah sepakat untuk memulai peng-aqad- annya, berdirilah dua orang dari generasi pertama yang masuk Islam pada tahun kesebelas dan kedua belas kenabian. Keduanya bangkit secara bergantian menegaskan besarnya tanggung jawab yang harus dipikul, agar mereka tidak menyatakan bai’at kecuali setelah me-mahami segala konsekuensinya secara jelas di samping kedua orang tersebut ingin mengetahui sejauh manakah kesiapan mereka untuk berkorban.

Berkata Ibnu Ishaq, “Ketika mereka telah berkumpul untuk menyatakan bai’at, al-Abbas bin Ubadah bin Nadhalah berkata, “Apakah kalian menyadari untuk apa kalian berbaiat kepada orang ini (Nabi saw.)?” Mereka menjawab, “Ya.” Al-Abbas berkata, “Sesungguhnya kalian berbaiat kepadanya untuk berperang melawan semua manusia (yang berkulit merah ataupun yang berkulit hitam). Jika kalian tidak siap mengorbankan harta dan nyawa, dari sekarang sajalah, dan ini merupakan kehinaan dunia dan akhirat. Tetapi, jika kalian setia menepati baiat dengan kesiapan sepenuhnya untuk mengorbankan harta dan nyawa maka ambillah baiatnya dan ia merupakan kebaikan dunia dan akhirat.” Mereka menjawab, “Kami mengambil baiat dan siap mengorbankan harta dan nyawa. Jika kami setia melakukan hal tersebut, lalu apa balasan kami wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Surga.” Mereka menyahut, “Ulurkan tanganmu!” Lalu Nabi saw., mengulurkan tangannya dan mereka pun membai’atnya. Selanjutnya mereka berkata, “Beruntunglah jual beli ini. Kami tidak mau ketinggalan dan tidak akan membatalkannya.”

Jabir ra. berkata, “Kemudian kami berdiri satu persatu berbaiat kepadanya, la memberikan kepada kami surga atas kesetiaan kami kepada baiat tersebut.” Adapun bai’at kedua wanita yang ikut hadir dalam peristiwa ini adalah secara lisan saja. Rasulullah saw. tidak pernah berjabat tangan sama sekali dengan wanita asing (bukan mahram-nya).

Mereka semua menerima bai’at, tak seorang pun yang tertinggal Bahkan, kedua wanita itu berbai’at dengan bai’at perang. Keduanya setia sampai akhir hayatnya kepada bai’at ini. Ummu Imarah terkena tusukan sebanyak 12 tusukan pada Perang Uhud. Sedangkan, anaknya dicincang oleh Musailamah si pendusta, tetapi ia tidak pernah lemah semangat atau menyerah. Pada bai’at ini, wanita menjadi rijal (pejuang tangguh) yang berperang dan berbai’at untuk mengorbankan nyawa dan berperang melawan semua manusia yang menentang Islam.

Kelahiran Negara Islam

Ibnu Ishaq berkata, “Sesungguhnya Allah mengizinkan Nabi saw. untuk melakukan peperangan, sementara itu kaum Anshar pun telah berbai’at kepadanya untuk memeluk Islam dan membelanya. Maka Rasulullah saw. memerintahkan para sahabatnya yang ada di Mekah agar berhijrah ke Yastrib (Madinah) dan bergabung bersama saudara-saudara mereka dari kaum Anshar. Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikan untuk kalian saudara-saudari seaqidah dan negeri yang aman bagi kalian”. Kemudian mereka keluar secara bertahap, sedangkan Nabi tetap tinggal di Mekah menunggu izin dari Allah untuk keluar dari Mekah dan hijrah ke Yastrib (Madinah). Demikianlah secara bergelombang kaum muslimin melakukan hijrah ke Yastrib tanpa diketahui oleh kaum musyrikin kecuali setelah mereka sampai di luar Mekah…. Dan sampailah waktu dimana Rosululloh meninggalkan Mekah bersama Abu Bakar menuju Yastrib.

Tola’al badru alaika/Telah terbit kepada kami bulan purnama (Nabi saw.). Mintsani’atil wada’a/Dari arah Tsaniatil Wada’. Wajaba Syukru ‘alaika/Kami wajib bersyukur, Mada’a lillahi da’a/atas ajakan seorang (nabi) pada jalan Allah. Ayyuhal Mab’usu fi’na/Wahai rasul yang diutus kepada kami. Ji’ta bil’amri La tho’i/ Engkau telah datang membawa urusan yang ditaati.”

Akhirnya, berdirilah negara Islam yang pertama di permukaan bumi dengan kawalan para malaikat langit, setelah perjuangan jihad yang berat selama tiga belas tahun. Langkah pertama dalam periode ini adalah membangun masjid yang akan menjadi markas bertolaknya negara, pusat mengendalikan pemerintahan, tempat komando militer, dan pusat pembinaan yang pertama.

Bila kita perhatikan kembali haluan umum periode ketiga dari masa Makkiyyah ini, yang dimulai dari perjalanan berdarah ke Tha’if kemudian pengorbanan kaum Muhajirin, dan sumpah setia kaum Anshar untuk membelanya (kami telah berbai’at kepada Muhammad untuk jihad selama hayat di kandung jasad), niscaya kita mengetahui pentingnya periode ini dan betapa kecerdasan kenabian dalam menegakkan negara, tanpa pertumpahan darah sedikit pun.

* Dikutip dari buku “Manhaj Haraki : Startegi Pergerakan dan Perjuangan Politik Dalam Sirah Nabi SAW ” Jilid-1 , Syekh Munir Muhammad al-Ghadban”, Rabbani Pers, 1992.

Tulisan Sebelumnya :

About these ads

16 comments on “Membaca Manhaj Haraki : Mendirikan Negara

  1. arhsa
    Januari 1, 2013

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Alhamdulillah sudah dimulai dengan Basmalah.

    “Mereka ini berjumlah enam orang dari Khazraj.” Saya sangat kagum dengan militansi para As-sabiqunal awwalun. jumlah mereka sedikit tapi kerja mereka sungguh tidak sedikit. Mus’ab bin Umair hanya seorang diri saat mendakwahkan Islam di Madinah tapi dalam tempo yang tidak begitu lama tidak ada atap dimadinah melainkan dibawahnya minimal ada seorang Muslim.

    “Tampaknya pertemuan Nabi saw. dengan beberapa orang Khazraj ini terjadi secara “sambil lewat” saja. Ini terbukti dari ajakan Nabi SAW kepada mereka untuk duduk bercakap-cakap. Pertemuan ini merupakan takdir Allah yang dikaruniakan-Nya kepadanya untuk kepentingan da’wah-Nya.” Metode dakwah Islam tidak kaku dan berbatas tempat atau waktu. Sambil lewat bisa menghasilkan hidayah. semoga blog juga menjadi sarana dakwah dan memberi pencerahan bagi mereka yang mampir ‘sambil lewat’.

    “waktu itu kami sudah shalat dan memahami (Islam).” ini menunjukan perintah shalat sudah ada sejak awal kenabian, hanya proses dan waktu yang lebih jelas dan rinci setelah Isra dan Mi’raj. beberapa riwayat menyebutkan ada orang kafir dari luar Quraisy yang Rasulullah shalat. begitu riwayat yang menyebutkan Ali bin Abi thalib shalat bersama Rasulullah di awal-awal kenabian (mohon dikoreksi jika salah)

    “datanglah beliau bersama Abbas bin Abdul Muthallib yang ketika itu belum memeluk Islam, tetapi ia ingin turut hadir untuk membuktikan sendiri apa yang akan dihadapi kemenakannya (yakni Rasulullah).” dalam sebuah buku yang pernah saya baca (judul dan pengarangnya lupa) pengarangnya menyebutkan bahwa Al-Abbas sudah masuk Isalam sejak awal, tapi beliau tidak menampakan keislamanya dihadapan umum sebagai strategi. hal ini juga menjadi point pendukung bahwa dakwah Rasulullah adalah benar. beliau di dukung oleh dua kabilah besar keluarganya yang sudah islam maupun yang belum masuk islam. mereka mendukung Rasulullah bukan sekedar fanatisme keluarga tapi karena melihat Akhlak beliau dan kebenaran yang beliau bawa. bahkan Abu Lahab yang termasuk menolak mendukung beliau (seperti yang kopral tulis dibagian 3) sudah memberi jaminan keamanan pasca kematian Abu Thalib, hanya karena propaganda Kafir Quraisy ia kembali menarik dukunganya.

    “Mendengar pertanyaan itu Rasulullah tersenyum, kemudian berkata, ‘Darah kalian darahku; negeri kalian negeriku; aku dari kalian dan kalian dari aku. Aku akan berperang melawan siapa saja yang memerangi kalian dan aku akan berdamai dengan siapa saja yang berdamai dengan kalian….” Rasulullah sejak awal tidak mengajarkan fanatisme buta terhadap suku, golongan atau bangsa. Mekah adalah tanah kelahiran namun saat itu bukan tanah yang menjanjikan. Quraisy, Suku yang darinya Rasulullah berasal, namun ternyata Aus dan Khazraj lebih siap untuk berada di garda terdepan membela dakwah islam. sementara Madinah (sebenarnya ada keluarga beliau yang tinggal disana) lebih kondusif untuk mengembangkan dakwah.
    “Akhirnya, berdirilah negara Islam yang pertama di permukaan bumi dengan kawalan para malaikat langit, setelah perjuangan jihad yang berat selama tiga belas tahun. Langkah pertama dalam periode ini adalah membangun masjid yang akan menjadi markas bertolaknya negara, pusat mengendalikan pemerintahan, tempat komando militer, dan pusat pembinaan yang pertama.” Inilah yang paling ditakuti musuh-musuh Islam. Kaum muslimin yang bersatu dibawa satu pemerintahan yang melindungi semua. Kaum muslimin begitu bermartabat saat Rasulullah dan khilafah Rasyidah menjadi pemimpin mereka. Pada Masa Umar bin Khatab tidak ada umat islam yang terhina. Pasca runtuhnya Turki Utsmani tahun 1928 oleh Musthofa Kemal kaum muslimin di kotak-kotak menjadi puluhan negara dengan sekat nasinalisme. Umat islam menjadi hamba di negaranya sendiri, menjadi pangsa pasar yang membeli barang-barang milik mereka sendiri yang seharusnya gratis, menjadi miskin di gudang (gunung) emas yang sebenarnya cukup untuk membuat semua warga negara kaya raya, terjajah secara psikhis dan ideologis seperti tadi malam dengan membakar uang demi merayakan sesuatu yang tidak jelas bahkan bisa merontokkan aqidah.

    Tapi, Al-hamdulillah diantara kekhawatiran ternyata geliat Islam sekarang terlihat sangat jelas dimana-mana. Allah akan selalu menjaga Agamanya dengan menggerakan generasi-generasi yang berpedoman kepada manhaj Rasulullah. Semoga kita termasuk dari mereka.

    Awal 2013 ini dimulai dengan membaca tulisan Kopral. Semoga menjadi awal yang berbarakah. Nabda bil basmalah.

    • Kopral Cepot
      Januari 1, 2013

      Ulasan yang panjang lebar dari sang kawan…..
      Harapan yang menggerakan…. semoga… bismillah
      Hatur tangkyu kawan ;)

      • arhsa
        Januari 1, 2013

        Cara memunculkan alih bahasa di side bar kumaha carana tah?
        terjemahan ke B. Inggris lebih baik daripada ke B. Arab, hasil terjemah ke B. Arab agak rancu.

    • arhsa
      Januari 11, 2013

      assalamu’alaikum wr. wb.
      hapunten Kopral, ada ralat sedikit, khilafah Utsmaniyah runtuh tahun 1922 oleh Musthafa Kemal Attaurk, tahun 1923 Musthafa mendirikan Republik Turki . sumber: ERDOGAN Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki, Syarif Taghian, Pustaka Al-Kautsar, hal. 56
      hatur nuhun

  2. jtxtop
    Januari 3, 2013

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  3. ardanariswara
    Januari 11, 2013

    Tulisannya sangat dalam maknanya..
    “Kami tinggalkan kabilah kami yang selalu bermusuhan satu sama lain. Tidak ada kabilah yang saling bermusuhan begitu hebat seperti mereka, masing-masing berusaha menghancurkan lawannya. Mudah-mudahan dengan Anda, Allah akan mempersatukan mereka lagi. Kami akan mendatangi mereka dan mengajak mereka supaya taat kepada Anda. Kepada mereka akan kami tawarkan juga agama yang telah kami terima dari Anda. Apabila Allah mempersatukan mereka di bawah pimpinan Anda, maka tidak ada orang lain yang lebih mulia daripada Anda!”

    Indonesia juga butuh pemimpin yang mampu menyatukan perbedaan golongan seperti Rasulullah saw. apakah ada?

  4. andi
    Januari 12, 2013

    Super sekali pak cepot!
    Konon katanya abad 21 itu milik para entrepreneur. Klo umat Islam udah jadi bos semua, kayanya semua bakal jd lebih gampang dah..
    Para manajer bank dunia, para direktur perusahaan besar, para ilmuwan cerdas dll.. Dalam hal ini kita kalah sm umat yahudi, mereka jauh meninggalkan kita di depan..

  5. pengikut lebah
    Januari 14, 2013

    Alhamdullilah bisa menemukan blog ini….tulisan KC saudaraku sangat bagus dan bermanfaat sekali…..(y)

    ———-
    Kopral Cepot : Alhamdulillah… hatur tangkyu ;)

  6. Moels
    Januari 22, 2013

    Assl..punteun pa kopral?apa sejarah masa lalu akan sma persis dgn yg akn trjadi utk yg akn dtg.baik dri plaku yg benar maupun plaku yg salah.htrunuhun

    • Kopral Cepot
      Januari 22, 2013

      sama persis?… ngak akan ada yang sama persis
      yang ada adalah hukum sunatulloh yaitu ketetapan atau nilai-nilai yg menurut Allah tidak ada perubahan, sesuatu yang pasti dan berlaku sepanjang masa antara lain pola hidup manusia… jd bukan prilaku hidup dalam arti tata cara hidup tp pola hidupnya manusia seperti sepanjang masa pasti ada yang ingkar pada Allah dan ada yang iman pd Allah dan ketetapan Allah terhadap yg ingkar atau yang iman tidak pernah berubah.

      • Moels
        Januari 23, 2013

        Haturnuhn pa kopral atas penjelasanya yg sngat mndasar.

  7. doktertoeloes malang.
    Januari 29, 2013

    banyak pengetahuan sepintas dari membaca hanya dari sebuah artikel a’a kopral.

    banyak kekurangan yang jauh dari sempurna pada masa kini kalau mau jujur dibandingkan artikel diatas sebagai sebuah referensinya .

    banyak kebijakan pada diri kita untuk berhati – hati dalam melintasi samudra kehidupan .

    banyak variabel kolateral yang pada masa itu dan terulang persis sama pada sa’at ini … abad modern .

    banyak – banyak yang lain yang bisa tuntas dan selesai dengan ” Membaca Manhaj Haraki : Mendirikan Negara ” …

    salam hyppocrates cerdas ( dt – malang ).

  8. PakOsu
    Januari 31, 2013

    بسم الله الرحمن الرحيم
    Kunjungan pagi hari menjalani silaturahim kopral. Sudah lama gak berkunjung, disuguhi bacaan renyah nikmat di pagi nan cerah. Sukses selalu.
    Salam

  9. jaae
    Maret 10, 2013

    BAGUS..

  10. sundusmirrotin
    April 14, 2014

    Assalamualaykum
    Kopral ini resume tulisan sendiri? enak sekali dibaca, alhamdulillah… :)

    Sekarang kita sudah tahu bahwa gerakan islam yang dilakukan harus sesuai dengan yang Rasul contohkan. Ane yakin, dibalik kekuasaan -isme -isme yang sedang berkembang di dunia ini, masih ada gerakan yang benar, mungkin masih tersembunyi? Atau mungkin masih menguatkan pondasi dasar seperti yang Rasul ajarkan : penguatan aqidah sebagai pengikat masyarakat.

    Subhaanallah,, jazakumullah atas bacaannya… saya sangat bersyukur dipertemukan dengan tulisan ini.. semoga kita semua bisa menyegerakan perealisasiannya :)

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 31, 2012 by in Buku dan Aku, Sejarah Nabi and tagged , , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Cerita Dibalik Supersemar oleh andarsihombing Juli 22, 2014
    Soekarno dgn gagah memerdekakan bangsa ini, tp sayang hrus berakhir dgn cara yg tdk elok, seandainya soekarno brani ambil keputusan utk membubarkan PKI mgkin perdebatan ttg supersemar tdk akan terjadi, tp soekarno ttplah soekarno dgnprinsipnya yg teguh, ato mgkn dia yakin kalau G30S/PKI jg mrupakan konspirasi utk menjatuhkannya atas kebijakan luar negerinya. […]
    andarsihombing
  • Komentar di Garis Waktu Sejarah Nusantara oleh GARIS WAKTU Juli 22, 2014
    […] wow, sangat detail and reflective : Garis Waktu Sejarah Nusantara […]
    GARIS WAKTU
  • Komentar di SALURAN-SALURAN DAKWAH ISLAM oleh UUD KURNIAWAN Juli 22, 2014
    Tanpa menghormati dari isi artikel anda kami denature indonesia hanya sekedar memberikan solusi obat herbal untuk penyakit yang sedang anda deerita, mohon dimaafkan jika tidak berkenan herbal kanker
    UUD KURNIAWAN
  • Komentar di SAMUDRA PASAI NEGARA ISLAM PERTAMA oleh AFRIZAL Juli 22, 2014
    Tanpa menghormati dari isi artikel anda kami denature indonesia hanya sekedar memberikan solusi obat herbal untuk penyakit yang sedang anda deerita, mohon dimaafkan jika tidak berkenan obat kanker serviks leher rahim
    AFRIZAL

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: