Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia (bagian-1)

Ini adalah tulisan lawas saya sekitar 5 tahun yang lalu, sebuah tulisan yang tersimpan di flashdisk dan tak pernah dibaca kembali. Mungkin dan sangat mungkin ini tulisan yang sudah angus termakan usia, tulisan dengan analisa yang dangkal dari sang pembelajar yang malas belajar. Tulisan disaat belajar mendefinisikan ruang dan waktu meski dibuat sambil lalu. Tulisan yang hanya dibaca oleh beberapa kawan dan dengan komen “tersenyum-senyum sajah”. Saya tidak hendak mengedit tulisan ini dengan pandangan saya hari ini, karena bagi saya menulis seperti melukis apa yang sudah tertulis biarlah apa adanya dengan situasi alam pikiran, perasaan dan langkah pada zamannya. Saya sajikan tulisan ini di serbasejarah dalam rangka tahun baru 1 Muharam 1431 H dalam mengingat jejak belajar menulis sejak esde sampe sekarang. Moga pula tulisan ini ada mamfaatnya bagi yang mau membaca. MENULIS ADALAH MELUKIS, Lukisan ini buat saya tersenyum mengenang lima tahun lalu ;)

Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia

Dakwah dalam termonologi sejarah Islam adalah gerakan yang tertua, sejak Adam a.s diciptakan dan menerima amanah Ilahi menjadi Khalifah fil Ardhi, starting point gerakan dakwah mulai digerakan dan ditujukan kepada bani Adam. Misi pengembanan dakwah merupakan misi utama para nabi dan rosul. Nabi Muhammad SAW Rosul terakhir pilihan Allah telah berhasil menyempurnakan misi dakwah para Rosul sebelumnya, Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin menerobos dimensi kehidupan manusia secara individu maupun sosial untuk hanya menerima Allah Al-Kholiq yang diibadahi dengan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh sebagai pedoman hidup manusia. Islam telah menembus batas-batas wilayah, budaya, adat istiadat untuk hanya menerima Syari’at Islam yang menyelamatkan hidup dan kehidupan dhohir bathin di dunia dan akherat.

Sejarah Dakwah Islam di Indonesia memberikan perubahan yang luar biasa bagi peradaban manusia Indonesia. Kiprah para wali – Wali Songo di tanah Indonesia yang berhasil mendirikan kekuasaan Islam di Jawa (Kerajaan Islam Demak), Sumatera (Kerajaan Samudera Pasai), Maluku, Ternate, Tidore dan lain-lain menjadi bukti adanya akar Ideologis dari setiap gerakan dakwah di masa lalu untuk terbagunnya sosio politik Islam. Kiprah gerakan dakwah tidak pernah berhenti oleh jaman dalam situasi dan kondisi apapun juga. Sejak Belanda datang untuk menjajah negeri ini sampai hengkang yang selanjutnya di ambil alih oleh Fasisme Jepang juga pada masa Revolusi Nasional, spirit yang menyala dari setiap pembela Allah dan Rosul-Nya terus terwariskan dari generasi ke generasi menggelora di dalam dada menjadi aksi tiada henti sampai Fatah dan Falah di dapatkan.

Beragam macam dan corak gerakan dakwah yang ada di Indonesia sampai saat ini menghasilkan apresiasi yang beragam. Disatu sisi macam dan corak dakwah membentuk suatu “pelangi” indah yang membawa kepada kemasyalahatan umat Islam, ada kegairahan dalam mengenal, memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Umat Islam dibuat “melek” terhadap tawaran-tawaran dakwah yang dijalankan baik secara gerak organisasi maupun individu-individu aktifis dakwah. Dakwah menjadi “santapan” empuk yang mengisi lorong-lorong akal yang awalnya dangkal, relung-relung ruhani yang awalnya gersang dan gerak jasmani yang awalnya rigid – kaku untuk beramal. Dengan adanya ragam dan corak dakwah, manusia seakan diisi oleh sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk menjalani hidup dan kehidupan dunia secara hakiki.

Disisi yang lain macam dan corak dakwah membentuk “benang kusut” yang tiada ujung pangkal. Dakwah seyogyanya membuahkan yang “Hak” terlihat benarnya dan yang “Bathil” terbukti salahnya. Dakwah seyogyanya menghasilkan keseragaman pola pikir, pola sikap dan pola tindak umat Islam secara sinergis membentuk Ummatan Wahidathan. Tapi apa yang terjadi “benang kusut” gerakan dakwah berbuah kontra-produktif dari tujuan Allah SWT yang memerintahkan kepada Ummat Islam untuk tampil sebagai “Pelaku Dakwah”.

Akhirnya semakin lama “pelangi” yang indah di langit biru bersentuhan dengan “benang kusut” di padang gersang yang semerawut. Warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu dan abu-abu (Mejikuhibiniu) tak terlihat secara indah tetapi berubah menjadi samar dalam “bola kusut warna pelangi dakwah”. Dakwah yang menyerukan kebenaran bertempur dengan dakwah yang menyerukan kesesatan. Lalu siapa yang menjadi pemenang ????

Secara teoritik, Drs. H. Syukriadi Sambas M.Si., Dosen IAIN Sunan Gunung Jati membagi dakwah dalam katagori pelaku terdiri dari (a) Dakwah Allah, (b) Dakwah Nabi, (c) Dakwah Umat Nabi, (d) Dakwah Kafir dan (e) Dakwah Syaitan.

Dakwah Allah adalah dakwah ilahiyah yang bersifat tanajuli dengan pesan dakwah berupa shirath mustaqim dan tujuan dakwah adalah dar as-salam. Dakwah nabi dan rosul adalah membawa pesan informasi Ilahiyah kepada ummat manusia agar hanya beribadah kepada Allah SWT, dakwah umat nabi dan rosul menyampaikan pesan al-Islam sebagai ajaran Ilahi yang mengatur tata kehidupan umat manusia yang menjamin keselamatan hidup di dunia dan akherat. Sementara dakwah kafir dan dakwah syetan adalah segala macam bentuk ajakan untuk menyimpangkan manusia dari kewajiban melaksanakan Islam secara kaffah .

Problemnya adalah perseteruan dakwah umat nabi dan dakwah kafir atau dakwah syetan bisa menggunakan “al-Islam” sebagai pesan dan alat untuk mencapai maksud dan tujuan masing-masing. Orang-orang kafir dari kubu zionisme, komunisme ataupun salibisme yang merupakan musuh umat Islam sepanjang jaman, bisa “memanfaatkan” umat Islam untuk menghancurkan Islam itu sendiri dan konyolnya umat Islam “tertentu” dengan “santai” melaksanakan program-progam mereka sebagai sebuah kewajiban .

Indonesia sebagai bangsa dengan mayoritas umat Islam, adalah sasaran empuk dari zionisme, komunisme ataupun salibisme yang berselingkuh dengan Nasionalisme, Sukuisme dan Ashobiyyah-isme dalam melaksanakan proyek internasional untuk menghantam gerakan Islam, dan mencabut fikrah islamiyah dari tatanan kehidupan. Beragam bentuk dan pola mereka gunakan yang didukung oleh SDM dan dana yang sungguh luar biasa. Disinilah pertarungan sesungguhnya terjadi.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (Qs. Al-Baqarah :120)

“Akan datang di satu masa, dimana kalian dikerumuni dari berbagai arah, bagaikan segerombolan orang-orang yang rakus yang berkerumun berebut disekitar hidangan. Diantara para sahabat bertanya keheranan : “ Apakah karena diwaktu itu kita berjumlah sedikit, ya Rasululloh? Rasul menjawab : “Bukan, bahkan jumlah kalian waktu itu banyak. Akan tetapi kalian laksana buih terapung-apung. Pada waktu itu rasa takut di hati lawanmu telah dicabut oleh Allah, dan dalam jiwamu tertanam penyakit al-wahnu” Apa itu Alwahnu?” Tanya sahabat. Jawab Rosululloh : “cinta yang berlebih-lebihan terhadap dunia dan takut yang berlebih-lebihan terhadap mati”. (Hadist Rosululloh)

Sekilas Potret Gerakan-gerakan Dakwah di Indonesia

Gerakan Dakwah Inkar Sunnah

Muncul di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Mereka menamakan pengajiannya dengan sebutan Kelompok Qur’ani (kelompok pengikut Al-Qur’an). Pengajian tersebut dipimpin oleh H. Abdurrahman yang ramai diselenggarakan dimana-mana di Jakarta. Salah satunya di Masjid Asy-Syifa RS Cipto Mangunkusumo yang menyatu dengan Fakultas Kedokteran UI.

Penyelidikan Hartono Ahmad Jaiz menyebutkan ada tokoh orang Indonesia yang mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pengajian tersebut, dia bernama Lukman Saad, orang Padang Panjang Sumatera Barat lulusan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan penerbitan. Dengan perusahaan penerbitannya itu Lukman Saad mencetak buku-buku yang berisi ajaran sesat Inkar Sunnah diantaranya karangan Nazwar Syamsu dan Dalimi Lubis.

Tokoh lain dari Inkar Sunnah adalah Marinus Taka. Hartono menyebutkan bahwa Marinus Taka adalah seorang keturunan indo-Jerman yang tinggal di daerah Depok Lama yang merupakan perkampungan Kristen khusus peranakan Belanda.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 16 Ramadhan 1403 H/ 27 Juni 1983 memutuskan bahwa Inkar Sunnah sebagai ajaran sesat karena tidak memepercayai hadist Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hokum syari’at Islam. Selanjutnya Kajaksaan Agung RI pada tanggal 7 September 1985 memutuskan pelarangan buku karangan Nazwar Syamsu dan Dalimi Lubis untuk beredar di seluruh Indonesia.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

Lembaga ini didirikan oleh Mendiang Nurhasan Ubaidah Lubis, pada awalnya bernama Darul Hadist, pada tahun 1951. karena ajaranya meresahkan masyarakat Jawa Timur maka Darul Hadist dilarang oleh PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat). Darul Hadist berganti menjadi Islam Jama’ah dan di tahun 1971 Jaksa Agung RI melarang aliran sesat Islam Jama’ah ini. Karena dilarang diseluruh Indonesia, Nurhasan mencari taktik baru yaitu berlindung kepada Letjen Ali Moertopo (Wakil Kepala Bakin dan staf OPSUS Presiden Soeharto). Lalu Islam Jama’ah menyatakan diri masuk dalam GOLKAR dengan nama Lemkari (Lembaga Karyawan Dakwah Islam).

Lemkari selanjutnya dibekukan oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso pada tahun 1988. Namun kemudian pada Musyawarah Besar Lemkari di Asrama Pondok Gede Jakarta, November 1990, Lemkari diganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) atas anjuran Mendagri Rudini agar tidak rancu dengan nama Lembaga Karatedo Republik Indonesia.

Sampai tahun 1972 Lemkari sudah mendirikan masjid 1500 buah di 19 Propinsi dan beberapa pondok pesantren besar lagi megah. Sekarang LDII sudah mempunyai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) sebanyak 26 propinsi. (Kesesatan Ajaran Islam Jama’ah diantaranya kita bisa baca di buku Hartono Ahmad Jaiz : Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, 2001).

Gerakan Syiah Di Indonesia

Sejak tumbangnya Syah Reza Pahlevi yaitu meletusnya Revolusi Iran pada tahun 1979 yang dipimpin oleh tokoh spiritual Ayatullah Khomaeni sejak itu pula paham Syi’ah merembes ke berbagai Negara. Gema jihad melawan “kemungkaran” dari Iran lantas menembus hampir di seluruh dunia. Gerakan ini mendapat respons positif berupa terbentuknya solidaritas muslim dunia secara moral mendukung gerakan itu.

Beberapa lama kemudian di tahun 1980-an muncul kelompok-kelompok yang dinilai oleh beberapa pihak mengarah ke gerakan Syi’ah. Barangkali ini yang disebut Ekspor Revolusi yang begitu di khawatirkan.

Perkembangan Syi’ah atau yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait di Indonesia memang cukup pesat. Sejumlah lembaga yang berbentuk pesantren maupun yayasan didirikan di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan luar Jawa. Dan membanjirnya buku-buku tentang Syi’ah yang sengaja diterbitkan oleh para penerbit yang memang berindikasi Syi’ah atau lewat media massa, ceramah-ceramah agama dan lewat pendidikan dan pengkaderan di pesantren-pesantren, di majelis-majelis taklim.

Gerak mereka tidak seragam ada yang begitu agresif dalam mendakwahkan Syi’ahnya ada juga yang lebih lambat. Ada yang terasa demikian frontal ada juga yang terkesan amat sensitive. Namun demikian semuanya menuju kepada titik yang sama, Syi’ah. Besar sekali memang dana yang dibutuhkan untuk mempropagandakan dan memperkenalkan Syi’ah tujuannya adalah memperkenalkan Syi’ah di panggung politik Dunia (juga Indonesia) dan yang terpenting “mendesakan” kepada dunia Islam untuk mengakui keberadaan Syi’ah sebagai salah satu aliran yang sah di dunia Islam. Hasilnya, tanpa disadari kita yang beraqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah digiring untuk mengikuti dan mendukung kebathilan yang ada pada ajaran Syi’ah itu.

Untuk meng-counter perkembangan Syi’ah memang sangat susah, dikarenakan Syi’ah mempunyai ajaran yang bernama Taqiyah. Dengan konsep taqiyah mereka dengan mudah memutar balikan fakta untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Orang-orang Syi’ah dalam mempertahankan konsep tersebut sering mengetengahkan sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq as. berkata : “ Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapaku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah. (selajutnya tentang apa bagaimana Syi’ah bisa terbantu dengan membaca buku Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah : Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI, Jakarta, 2002).

Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam

Titik tolak pembaharuan pemikiran Islam masa Orde Baru, bermula dari pidato Nurcholish Madjid di awal tahun 1970. M. Dawam Rahardjo memberikan keterangan, tak sedikitpun Cak Nur – berniat bikin heboh. Bahkan ceramahnya itu hanya “kebetulan” saja: ia menggantikan Dr. Alfian. Dan Cak Nur tidak menyangka, bahwa pemikirannya akan sejauh itu dampaknya. Pemikirannya yang terkenal dengan slogan “Islam Yes. Partai Islam No”. sebuah seruan deislamisasi partai politik, melalui program yang disebut “sekulerisasi”.

Agaknya, situasi politiklah yang melatar-belakangi berbagai reaksi yang muncul. Waktu itu, masih diperjuangkan rehabilitasi Masyumi, disamping yang lainnya seperti PSI dan Murba. Dan posisi HMI (tempat Cak Nur saat itu berada- Ketua HMI), sebagai salah satu pendukung Sekretariat Bersama Golongan Karya (Golkar), menjadi krusial menjelang Pemilu. Kecenderungan pimpinan HMI pada waktu itu mengambil sikap independen, tidak hanya kepada partai-partai Islam, tetapi juga terhadap semua partai. Dan orang melihat sikap HMI itu sangat menguntungkan Golkar. Karena itulah, maka ceramah Cak Nur tersebut menjadi sangat politis .

Apakah karena kebetulan seaspirasi dengan Cak Nur tentang : “Islam Yes, Partai Islam No”. ataukah pengaruh pemikiran Cak Nur dan kawan-kawan yang jelas pemerintah Orde Baru melakukan “deideologi” partai Islam, dan kemudian diganti dengan Pancasila sebagai satu-satunya asas seluruh orsospol .

Budhi Munawar-Rachman menjelaskan bahwa ada tiga kelompok besar pemikir neo-modernis Islam di Indonesia yaitu (1). Islam Rasional dengan tokohnya Harun Nasution dan Djohan Effendi dengan membawa pandangan-pandangan Mu’tazilah (2) Islam Peradaban yang diantara tokohnya Cak Nur dan Kuntowijoyo dan (3) Islam Transformatif dengan tokohnya Adi Sasono, M. Dawam Rahadjo.

Gerak pembaharuan pemikiran Islam pada tahun 1970-an dilaksanakan oleh pemikir-pemikir individual yaitu pemikir yang tidak terlalu terikat oleh organisasi seperti NU, Muhammadiyah, SI dan lainnya. Dahulu ketika melempar isu pembaharuan islam pada tahun 1970-an, Cak Nur relatif single fighter, tetapi sepuluh atau duapuluh tahun kemudian- pada decade 1980-an apalagi 1990-an- Cak Nur sudah tidak lagi sendirian.

Gagasan-gagasan Cak Nur dan kawan-kawan di rentang akhir tahun 1980-an dan sepanjang tahun 1990-an banyak dipublikasikan dalam buku-buku yang diterbitkan secara luas diantaranya oleh Mizan, Jurnal Ulumul Qur’an dan Islamika juga Paramadina sendiri. Buah Pemikiran Cak Nur dan sahabat-sahabatnya banyak menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam, diantara yang menghangat adalah perseteruan konsep-konsep pemikiran Islam melalui tulisan antara Ulumul Qur’an dengan Media Dakwah yang diterbitkan oleh Dewan Dakwah Islamiyah. Turut andil pula lembaga-lembaga kajian yang menghasilkan kader-kader muda lewat Paramadina (diantaranya).

Di tahun 2000-an pemikiran Islam diramaikan oleh kader muda Islam diantaranya Ulil Absar ‘Abdala sebagai “Cak Nur Muda” yang menggagas Islam Liberal. Model pemikiran Islam Liberal-nya Ulil tidak jauh berbeda dengan pembinanya Nurcholis Madjid.

Urban Sufism

Ada fenomena baru khususnya dimulai sekitar akhir tahun 1990-an, yaitu adanya beberapa tempat pengajian yang ramai dikunjungi umat Islam, seperti kajian spriritual yang diselenggarakan oleh Tazkya Sejati (pusat kajian tasawuf yang dipimpin oleh Dr. Jalaludin Rakhmat), IIMaN (pusat pengembangan tasawuf positif yang didirikan oleh Haidar Bagir), Paramadina (yayasan yang menekuni pengkajian persoalan Islam, termasuk tasawuf, yang dipimpin oleh Dr. Murcholish Madjid) dan kegiatan ceramah Manajemen Qoblu (MQ) yang dilakukan oleh KH. Abdullah Gymnastiar.

Anggota dari lembaga-lembaga tersebut adalah mereka yang sering disebut sebagai “sufi” perkotaan (Urban Sufism). Ekspresi spiritual yang ditampilkan oleh “sufi-sufi” kota ini berbeda dengan sufi-sufi konvensional (ortodoks). “sufi” baru itu bukanlah orang yang “ngegembel” yang kehidupan sehari-harinya hanya diisi dengan beribadah dan mengasingkan diri. Justru sebaliknya “sufi” kota ini berasal dari strata sosial kelas menengah dan atas (meski kelas bawah juga turut mengikutinya) dan kalangan professional di berbagai bidang yang sangat rasional.

Dr. Komaruddin Hidayat mengsinyalir adanya lima kecenderungan masyarakat kota terhadap Sufism yaitu :

  1. Adanya upaya pencarian makna hidup searching for meaningful life.
  2. Untuk sekedar perdebatan intelektual dan peningkatan wawasan intellectual exercise and enrichment.
  3. Menjadikan aspek spiritualitas sebagai katarsis atau obat dan problem psikologis pshyicological escape.
  4. Sarana mengikuti trend dan perkembangan wacana religious justification.
  5. Sikap “mengekploitasi” agama untuk kepentingan dan keuntungan ekonomi Economic Interest.

Point 5, adanya economic interest, yang menurut Yudi Latief diistilahkan sebagai ”komersialisasi pengalaman religius” ditemukan dilingkungan kita saat ini. Berkembangnya pengikut latihan-latihan “Riyadhah” Sufism yang berorientasi instan kesalehan, larisnya para pedagang spiritual (religious intrepreneurs) yang menjajakan “do’a-do’a” penenang (mulai dari “do’a politik”, “do’a kesembuhan penyakit” sampai “do’a sukses capres” dll), serta digandrunginya bintang-bintang “budaya pop” dan kiyai “ngepop” sebagai penceramah agama merupakan sesuatu yang kongkret dari bentuk konsumerisasi pengalaman-pengalaman spiritual .

Geliat Dakwah Lulusan Timur Tengah

“Mungkin” dikarenakan peran Menteri Agama Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali (1971-1978) banyak mahasiswa Islam Indonesia merasakan belajar di luar negeri dengan beasiswa dari pemerintah Orde Baru. Sebagian dari mereka memilih sekolah di negeri paman Sam untuk mengambil S-2 atau S-3 produknya Cak Nur Cs, sebagian lagi memilih sekolah di Timur Tengah dan produknya Ustadz-ustadz Pulan Lc. Yang memilih Timur Tengah rata-rata lulusan Aliyah (setingkat SMA) atau yang memiliki backgraund pesantren atau lulusan IAIN (pra syarat pokok adalah kemampuan Bahasa Arab).

Pengiriman pelajar ke Timur Tengah sebenarnya sudah mulai saat M. Natsir menjadi Perdana Menteri pertama RI 1950-an dengan mengeluarkan rekomendasi pada sejumlah mahasiswa untuk belajar ke luar negeri khususnya di Timur Tengah, pelajar pertama Indonesia yaitu Hasan Langgulung alumnus pertama Pesantren Persis Bangil untuk belajar di Universitas Al-Azhar.

Diantara universitas di Timur Tengah yang dijadikan tempat belajar oleh mahasiswa Indonesia adalah : (1) Universitas Islam al-Madinah Al-Munawarrah, Arab Saudi, (2) Universitas Ibnu Saud, Riyadh, Arab Saudi dan (3) Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir.

Prof.Dr. Azyumardi Azra mengutip hasil penelitian Mona Abaza tentang mahasiswa Indonesia di Timur Tengah khususnya di Al-Azhar. Menurutnya mahasiswa Indonesia di Timur Tengah terbagi pada dua kelompok secara umum yaitu mahasiswa sebelum tahun 1970-an yang cenderung memiliki pemikiran “Islam Liberal” seperti Hassan Hanafi atau Zaki Najib Mahmud dan mahasiswa setelah tahun 1970-an pemikirannya bernada “Islam Fundamentalis”. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh situasi kondisi Timur Tengah itu sendiri dari semangat liberalisme berubah kepada arus fundamentalisme .

Annis Matta Lc (salah seorang lulusan Timur Tengah), menyatakan bahwa semangat pemikiran Al-Ikhwanul Al-Muslimun telah merasuk di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Saudi Arabia sejak tahun 1980-an, perpustakan untuk pemikiran Islam semuanya diisi oleh buku-buku yang dikarang para tokoh IM, maka menurutnya secara otomatis pemikiran Al-Ikhwanul Al-Muslimin terbawa oleh para mahasiswa yang belajar disana .

Sepulangnya belajar di luar negeri, bila lulusan Barat (AS) membawa “oleh-oleh” Islam Ilmiah (Pembaharuan Pemikiran Islam) sedangkan lulusan Timur Tengah membawa “oleh-oleh” Islam Harakah (Islam pergerakan-khususnya Al-Ikhwanul Al-Muslimun).

Tercatat beberapa nama diantaranya Ustadz Abu Ridha Lc, Ustadz Rahmat Abdullah Lc, Ustadz Hilmi Lc., Ustadz Saeful Islam Mubaraq Lc., dll, yang getol mendakwahkan pemikiran-pemikiran Al-Ikhwanul Al-Muslimin dengan membentuk gerakan dakwah Tarbiyah.

Geliat dakwah lulusan Timur Tengah ini mendapat respon luar biasa di kampus-kampus seperti UI, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, UNPAD, UGM , dll di antara tahun 1980-1998 yang kemudian bermetamorfosis menjadi PK selanjutnya PKS (lihat selanjutnya PKS sebuah Fenomena)

Bintang Vs Kohesivitas

Ada “drama” yang enigmatic dalam sepak bola Piala Eropa 2004. Semula, siapa yang menyangka tim-tim besar dengan nama besar seperti Jerman, Italia, atau Spanyol tersingkir di babak pertama. Siapa pula yang menyangka Republik Ceko bakal membuat prestasi yang mengagumkan dengan menjuarai Grup D dan menjadi satu-satunya tim peraih nilai sempurna (9), setelah mengalahkan Latvia 2-1, menghantam “tim Oranye” Belanda 3-2, dan menyingkirkan “Panser” Jerman 2-1. Pecinta bola bundar dibuat terkaget-kaget manakala Inggris dengan segudang “Bintang” dikalahkan tragis oleh Portugal dan Prancis yang “di-raja-i” Zanadine Zidane dibuat “menangis” oleh “Dewa” Yunani 0-1. Piala Eropa 2004 telah memberikan “Ibrah”-pelajaran dimana taburan “bintang” bisa dikalahkan oleh kemampuan tim yang memiliki “kolektivitas” dan “kohesivitas” dalam bertanding.

Tuntas sudah episode “Piala Eropa 2004” dan pemenangnya adalah …… tidak hendak menganalisis sepak bola lebih detail, kita “lompat” kembali pada keadaan gerakan dakwah kontemporer di Indonesia. Banyak “bintang” lapangan dakwah bertengger di podium mimbar, secara linier “audien” mendengarkan, ketika “bintang” lapang bergerak secara linier “audien” mengikuti, ketika “bintang” lapang melompat ke politik partai, secara linier pula “audien” larut dan terjun dalam pesta kampanye dengan mengibarkan bendera-nya.

Meminjam istilah Yudi latif tentang pola komunikasi yang bersifat linier-vertikal (satu arah), dimana para dai berbicara — hadirin mendengarkan, dai berpikir —– hadirin dipikirkan, dai memilih —- hadirin menuruti, dai mengatur —- hadirin manut, dan sebagainya. Agaknya memang demikianlah fenomena gerakan dakwah sekarang ini. Tak heran jika forum dakwah seringkali tak mampu mengembangkan minat-minat yang eksploratif serta kreativitas berpikir kritis. Forum dakwah tidak menorehkan hasil sumber daya yang mampu mengembangkan potensinya agar lebih “dinamis” dan “kreatif” pada tataran akal-intelektual, sikap dan amal, tanpa meninggalkan kedisiplinan dalam berjuang.

Adanya “bintang” dalam lapangan dakwah mungkin sebuah kebutuhan yang patut ada dalam gerakan dakwah tetapi “kolektivitas” dan “kohesivitas” gerakan dakwah bakal lebih mampu mendorong pada transformasi cultural maupun structural yang dikehendaki.

Berdakwah dengan Kesalehan Diri dan Sosial

Dalam sebuah iklan lotion pemutih seorang laki-laki dengan tatapan terpana memandang perempuan yang energik dan terlontar secara tanpa sadar ucapan: ”bersihhh…putihhh…” . Entah latah atau mengikuti trend atau memang sepantasnya demikian, yang jelas kata “putih” dan “bersih” menjadi barang dagangan yang laku keras baik secara ekonomi “material” maupun secara psikologis “immaterial”.

Tengoklah sejenak dalam panggung politik pasca reformasi, kata “putih” dan “bersih” menjadi barang dagangan yang laku dijual mengalahkan kata “busuk” dan “hitam”. Para caleg menolak dikatakan “Politisi busuk”, para capres dan cawapres menyanggah “kampanye hitam”. Semua menunjukan dirinya “putih” dan “bersih”.

“Dagangan” dalam dakwah memang beragam, tetapi trend dakwah di akhir tahun 1990-an sampai sekarang menunjukan tanda-tanda yang sama dengan “menjual” kesalehan diri dan kesalehan sosial. Sosok K.H. Abdullah Gymnastiar (AA Gym) adalah fenomena yang mengedepankan “kesalehan diri” sebagai daya tarik ”market dakwah”, masyarakat dibuat terpesona dan tanpa sadar mengucapkan : “bersihhh….putihhhh” sampai-sampai kalangan selebritis menempatkan AA Gym sebagai laki-laki ”metroseksual” pada urutan teratas.

Kesolehan sosial ditunjukan pula oleh beberapa gerakan dakwah semisal Tarbiyah (PKS) yang terlihat pada setiap event local maupun nasional dalam demontrasi maupun kampanye melakukan “show” dengan lautan “jilbab putih dan bersih”. Kelompok dakwah ini mudah dikenali dari sudut penampilan personal. Para Akhwat terlihat dari jilbab yang panjang dan para Ikhwan-nya terlihat pakaian yang umumnya menggunakan stelan “koko”, berjanggut tipis dan berparas “bersih”. Trend baru para aktifis dakwah ini telah mewarnai lingkungan masyarakat dakwah terkhusus masyarakat kampus.

Akankah pola menjual “kucing dalam karung” masih menghiasi setiap aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini termasuk dalam dakwah. Dahulu “karung-nya” “hitam” dan “bau busuk” tapi sekarang “karung-nya” “putih” dan “bersih” tetapi sama-sama saja yang dijual tetap “KUCING”. (entah kucing “mesir” atau “Persia”) Agaknya kita harus lebih cerdas.

Ada pendapat yang sebenarnya kontroversial tetapi patut direnungkan, datang dari Ted Peters, pengarang buku Fear, Faith, and The Future , “ krisis akan mencuat ke pergumulan histories saat peradaban kita benar-benar memasuki era pasca Industri. Saat itu keasyikan kita untuk mengkonsumsi sejumlah barang dan jasa akan amat memungkinkan pengkomoditian agama (comoditized religion). Agama tidak lebih sebagai komoditas yang siap diperjualbelikan di pasar komersial, ide-ide yang kadang-kadang membungkus ambisi-ambisi manusia, seperti saat mereka mendirikan tempat-tempat perbelanjaan dimana setiap orang bebas memilih apa yang menjadi obsesi dan selera sesaat”. Lebih lanjut Ted Peters menyebutkan, “ religi media massa kini mungkin menjadi sinyal religi konsumeris esok hari” .

“Jamaah” Islam Liberal

Ketika Cak Nur sudah menjelang uzur, ketika Gus Dur sudah banyak “mendengkur” meski kedua-duanya masih pandai “bertutur”. maka awal tahun 2000-an seakan tak pernah henti-henti “Islam Nyeleneh” kembali ber-reinkarnasi pada generasi “milennium” yaitu Ulil Abshar Cs, daur ulang pemikiran Islam Cak Nur cs berbuah “Jamaah” Islam Liberal.

Sejak kelahirannya pada tahun 1999, “jamaah” Islam Liberal bertujuan untuk menjadi counter terhadap gerakan Islam garis keras yang sering terjun ke lapangan untuk menjadi motor terdepan dalam ‘amar ma’ruf nahy al-munkar seperti FPI, Laskar Jihad, Majelis Mujahidin dan lain-lain. Pada bulan Maret 2002, mereka resmi mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan tokoh sentralnya adalah “Intelektual Muda NU” Ulil Abshar Abdalla. Tujuan pokok “Jamaah” ini adalah pertama, untuk mengimbangi wacana pemikiran Islam garis keras yang banyak muncul terutama soal pelaksanaan syari’at Islam. Kedua, ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat masalah penerapan syari’at dalam perspektif yang lebih beragam.

Menurut Ulil ada tiga misi yang diemban “Jamaah” Islam Liberal yaitu :

  • Pertama,mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.
  • Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari konservatisme. Mereka yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang “sehat”.
  • Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.

Selanjutnya Ulil menyebutkan ada tiga kaidah yang hendak dilakukan oleh JIL yaitu : pertama, membuka ruang diskusi, meningkatkan daya kritis masyarakat dan memberikan alternatif pandangan yang berbeda. Kedua, ingin merangsang penerbitan buku yang bagus dan yang berbeda. Ketiga, dalam jangka panjang ingin membangunsemacam lembaga pendidikan yang sesuai dengan visi JIL mengenai Islam. Layaknya sebagai “Jamaah”, JIL membuat kegiatan-kegiatan halaqah, diskusi, seminar, talk show dan lain-lain.

Secara terang-terangan Ulil mengakui bahwa pandangan yang dianutnya adalah pandangan Mu’tazilah meskipun dia mengelak menolak wahyu, bagi dia wahyu “berguna” dalam memperkaya wawasan akal manusia karena setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang baik” dan “yang jahat”.

Jamaah Islam Liberal yang dihuni umumnya oleh anak muda NU mendapatkan keuntungan karena 1). berlindung dibawah “payung” Gus Dur (“nabinya” anak muda NU) 2). bersahabat dengan para Indonesianis (misionaris Barat- Neo Snouck Hurgroje) yang berjasa dalam membentuk pemikiran anak muda NU yang ndeso (anak kampung) yang menjadi santri kota seperti Herbert Feith, R.William Liddle, Sidney Jones, Greg Barton dll yang datang ke Indonesia untuk “mencekok” pemikiran orientalis Islam. 3). “akrab” dengan pemikiran Islam kontemporer Timur Tengah terutama pandangan Mu’tazilah yang dibawa ke Indonesia oleh Harun Nasution cs. Sehingga 3 faktor keuntungan itu akan sangat mudah mendapatkan berbagai fasilitas dari funding internasional sehingga dengan leluasa melaksanakan programnya dengan tidak pakai modal sendiri .

Agaknya memang “Jamaah” Islam Liberal ingin “meloncat” dari tradisi NU dan tradisi kebanyakan umat Islam di Indonesia yaitu “trilogi” Ahlussunnah Wal al-Jamaah (Syari’at pola Mazhab Syafii, Teologi Pola al-Asy’ari dan berakhlaq pola al-Ghazali) sehingga jamaah yang dipimpin Ulil ini mendapat reaksi keras dari sebagian umat Islam Indonesia. Bagi negara dengan adanya kelompok muda JIL seolah mendapat tenaga bantuan untuk “bahu-membahu” menghadapi kelompok Islam Fundamentalis, yang gencar mengsosialisasikan isu-isu formalistic, seperti Negara Islam dan Syari’at Islam .

Buku : Madu dan atau Racun

Buku adalah “gudang ilmu” suatu idiom yang tidak bisa disangkal akan keberadaan buku. Layaknya sebagai “gudang ilmu” tentu beragam ilmu disuguhkan dalam mungkin telah jutaan atau milyaran jenis buku. Bila idiom itu kita persempit kepada buku-buku Islam maka disitulah adanya “gudang ilmu Islam”, beragam kajian tentang Islam tampak menghiasi sampul-sampul buku yang menarik peminatnya untuk membaca.

Mulai tahun 1990-an (-penghujung tahun 1980-an) aliran deras buku-buku Islam menghiasi etalase-etalase “Gramedia” “Gunung Agung” “Palasari” sampai “Wagino” di pinggir trotoar masjid salman. “Buku Islam Laku Keras” tulisan Suara Hidayatullah pada edisi khusus Mei 2001, penerbit-penerbit Islam yang mempunyai kontribusi besar bagi dakwah diantaranya Gema Insani Press (GIP) Toha Putra, Pustaka Rizki Putra, Darul Falah, Pustaka Progresif, DES, Pustaka Azzam, Al-Izzah, Al-Qowwam, Pustaka Bandung, CV. Bulan Bintang, Asy-Syamil Press, Dipenogoro, Robbani Press, Media Dakwah, Pustaka Misykat, dll yang membidik tema-tema dakwah. Diluar itu ada penerbit yang menekankan pada khazanah pemikiran Islam seperti Mizan, yang getol menerbitkan kajian tasawuf seperti Pustaka Hidayah tak ketinggalan MQ Press yang secara ekslusif mencetak “tulisan-tulisan” AA Gym.

Beragamnya tema-tema buku Islam bisa merepresentasiakan khalayak masyarakat pembacanya, juga secara sederhana buku adalah dai bagi ”audien/mad’u pembaca”. Buku menjadi salah-satu faktor yang menghantarkan pada keberhasilan dakwah dalam beragam corak dan warna dakwah, selebihnya buku adalah salah satu bentuk economic interest atau “eksploitasi” agama untuk kepentingan ekonomi.

Apapun motif-nya, masyarakat pembaca telah “dimanjakan” dengan sajian-sajian pandangan pemikiran Islam yang tidak di peroleh dari podium-podium mimbar ceramahan, buku-buku memberikan kedalaman ilmu agama yang tidak ditemukan pada pengajian rutinan, hebatnya buku lebih banyak memperlihatkan sebagai “madu” daripada “racun”.

Buku apakah “madu” atau “racun” agaknya kembali kita dituntut untuk cerdas, siapa yang menyangka kebusukan zionisme yang berkantung tebal, “menyamar” menjadi buku yang bersampul “manis”.

Dunia Maya : berselancar di “situs” Islam

Sudah menjadi rahasia umum, selama ini internet dibanjiri oleh situs-situs maksiat, seperti situs judi dan situs porno, shingga kerap muncul apriori di kalangan Muslimin terhadap teknologi informasi ini.

Untung tidak semua bersikap demikian, ada yang lebih “bijak” dengan tidak menjauhi, tetapi justru mengisinya dengan risalah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga kemudian lahir situs-situs Islam yang sengaja mewarnai dunia internet dengan sajian-sajian da’wahnya, dalam berbagai bahasa dan warna.

Beberapa tahun belakangan situs dakwah berbahasa Indonesia sudah bertengger di dunia maya. Kebanyakan dirilis oleh ormas Islam yang sudah dikenal dan lembaga-lembaga dakwah yang terkenal seperti http://www.Muhammadiyah.or.id, http://www.kisdi.com, http://www.hidayatullah.org. sejumlah harakah dakwah yang berafiliasi ke Timur Tengah, seperti Hizbut Tahrir, juga tak ketinggalan kiprahnya dengan situs http://www.alislam.or.id. Banyak kajian yang ditampilan dalam situs-situs Islam antara lain kajian Islam, Konsultasi, Tokoh Islam, Sejarah Islam dll. Sejak wabah portal di dunia maya beberapa tahun silam, muncul pula situs-situs yang mengklaim sebagai portal islam, yakni ww.sajadah.net, dan http://www.myquran.com. Masih banyak lagi situs-situs Islam yang menawarkan informasi yang beragam tentang Islam masing-masing punya keunikan tersendiri.

Semoga semuanya diabdikan untuk dakwah menegakan panji-panji Islam.

bersambung ke bagian dua nyah (pencet ajach)…

Referensi bisa diklik disini…

About these ads

36 comments on “Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia (bagian-1)

  1. andipeace
    Desember 16, 2009

    baca sampai abiessss…terasa kuliah kewarganegaraan..
    mantap..menyengkan dapat ilmu tambahan. :D

    salam kenal

    • kopral cepot
      Desember 16, 2009

      hatur tengkyu mau baca abiies … moga2 matkul Kewarganegaraannyah dapet A ;)

      • andipeace
        Desember 17, 2009

        hehehe kewarganegaraannya semester dua ini ganti pancasila OM,minggu depan mau presentasi tentang KEBERADAAN KERJA KONTRAK DI INDONESIA.emmmhhhh (sibuk nyari info yang bisa diserap dan mampu dimengerti),tapi semester 3 ada kewarganegaraan lagi.hehehe :D :D

        salam sejahterah OM

  2. omagus
    Desember 16, 2009

    saya juga berharap demikian semoga kepentingan dakwah itu tidak di tunggangi kepentingan-kepentingan lainya yang terkadang melenceng dari ajaran dakwah itu sendiri..!

  3. حَنِيفًا
    Desember 16, 2009

    Subhanallah,
    Mantab’s surantap…. sampai 2x baca, hehehe

    Hatur tengkiu @juragan, ditunggu lanjutannya.

    • kopral cepot
      Desember 16, 2009

      Tangkyu comeback ;) bila berkenan .. hamba kan lanjutken he he :D

  4. Ping-balik: Darah orang-orang Syi’ah halal 2 « حَنِيفًا

  5. aditkus
    Desember 16, 2009

    emank kusut, mending beli baru aja benangnya

  6. Ruang Hati
    Desember 16, 2009

    Menyapa sobib ku nun jauh disana, maaf baru bisa mampir sekarang soalnya di luar kota, untuk ada koneksi di pelosok dusun sini, kalo nggak nggak bisa kasih komeng, salam sukses selalu dan salam bahagia dari pelosok terpencil.

    —————-
    Kopral Cepot : Suatu kebahagiaan .. sohib sehati walau dipelosok negeri tetap berbagi kabar-kabari … hatur tararengkyu terimakasi ;)

  7. purwatiwidiastuti
    Desember 17, 2009

    apa mungkin kusutnya karena lebih banyak pendengar dan praktisi dahwah syetan ya..???

    purwati
    http://purwatiwidiastuti.wordpress.com
    http://purwati-ningyogya.blogspot.com
    http://purwatining.multiply.com

  8. ABDUL AZIZ
    Desember 17, 2009

    Assalamu’alaikum,

    Hebat Kang, lengkap sekali. Tapi akan lebih mantab bila disebutkan referensinya. Langsung saya copy, karena perlu dibaca ulang.
    Bagaimana dengan Jamaah Islam Liberal sekarang Kang ? Katingalina mah rada sepi, da Ulilna di AS, pada nawaran beasiswa ti mana-mana, maklum ka piaraan panginten. Atanapi dana ti negara-negara donor jamaah eta teh berkurang ?
    Hatur nuhun pisan Kang, nembe tiasa kadieu.
    Salam ka sadayana.

  9. حَنِيفًا
    Desember 17, 2009

    @Kang Kopral Cepot
    Saya sungguh prihatin sama Bapak Ulil Abshar Abdalla… kenapa tercipta bibirnya SUMBING… kayak kambing conge… hua.ha.ha…

    Teman-teman si Ulil, kalau sempat tolong beliau di tunggu banget sama Oom haniifa.

    http://haniifa.wordpress.com/daftar-isi/

    Pilih salah satu artikel saya dan monggo dipersilahken keluarkan semua kemampuan dan ilmunya… hehehe… jangan lupa bawa konco-konconya paling sedikit 3 ekor gituh.

    #Haniifa.

    • حَنِيفًا
      Desember 17, 2009

      @Teman-teman si ULIL
      Kalau sampean sempat baca tolong sampaiken undangan sayah diatas ini, bukannya saya besar kepala… tapi memang isi kepala si ULIL sebesar kacang ijo … :D :lol:

  10. dedekusn
    Desember 17, 2009

    Dakwah itu harus murni, jgn jd tunggangan, jangan ‘ditumpakkan’ sesuatu.

    Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430 H Kang Cepot,
    Semoga kedamaian, kebahagiaan selalu ada pada siri kita,
    Semoga ketaqwaan & amal ibadah kita menigkat ditahun ini,
    AMin

    ………………….
    Kopral Cepot : Ralat braataar Tahun Baru Hijriah 1431 H ;) Sama-sami kang

    • حَنِيفًا
      Desember 17, 2009

      Dakwah itu harus murni, jgn jd tunggangan, jangan ‘ditumpakkan’ sesuatu.

      Selamat Tahun Baru Hijriyah 1431 H @Kang Juragan Kopral Cepot
      Semoga kedamaian, kebahagiaan selalu ada pada siri kita,
      Semoga ketaqwaan & amal ibadah kita menigkat ditahun ini,
      Amin

      (copas ples-ples ralat )

  11. yayat38
    Desember 18, 2009

    Banyak ilmu di sini Kang. Terima kasih sekali.
    Beberapa di antaranya saya jadi banyak tahu pemikiran beberapa organisasi Islam.
    Selamat Tahu Baru Kang. Semoga setiap langkah kita selalu mendapat ridho Allah SWT !
    Salam :)

  12. Ping-balik: Gerakan Dakwah Partisipatif « Biar sejarah yang bicara ……..

  13. Ping-balik: Gerakan Dakwah Akomodatif « Biar sejarah yang bicara ……..

  14. Ping-balik: Gerakan Dakwah Transformatif « Biar sejarah yang bicara ……..

  15. maghfur
    Desember 24, 2009

    kusut, karena sebuah gerakan dakwah belum berpatokan pada Al-Qur’an dan sunnah. Seperti Dakwah Rasulullah yang bersifat kaffah! bila belum terbentuk daulah, beliau melakukan tahapan dakwah yang terarah untuk meraihnya! tidak masuk ke sistem demokrasi namun berada di poros yang berbeda untuk menyadarkan masyarakat! sehingga sadar bahwa Islamlah sistem yang harus mereka terapkan dalam seluruh sendi kehidupan.

  16. dir88gun
    Desember 24, 2009

    Assalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Wahai Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,

    Akhirnya tahun baru telah tiba…

    Tahun penentuan, apakah kita akan tetap jatuh terpuruk semakin jauh ke dalam kubangan kehinaan,

    Ataukah kita akan bangkit berhijrah menuju ke arah datangnya cahaya kemenangan di depan.

    Baca selengkapnya di

    http://dir88gun0w.blogspot.com/2009/12/happy-new-year.html

    —————————————————–

    INDONESIA GO KHILAFAH 2010

    “Begin the Revolution with Basmallah”

  17. Anak Adam
    Desember 24, 2009

    Telah dekat bagi manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.

    Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya sedang mereka bermain-main.

    hati mereka lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: “Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?”

    Dan Allah telah berfirman:

    يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

    Wahai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
    QS. al-A’raf (7) : 35

    وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

    Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
    QS. al-A’raf (7) : 36

    Karena itu kita harus bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita. Dan untuk mendapatkan petunjuk-Nya, diantaranya kita harus mengimani atas apa yang telah Allah turunkan kepada panutan kita nabi Muhammad saw sebagai rasul terakhir, dan kita harus beriman pula atas apa yang telah Allah turunkan sebelumnya.

    Allah berfirman:

    إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

    Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
    QS. al-Mai’dah (5) : 44

    وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

    Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
    QS. al-Mai’dah (5) : 45

    وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ

    Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
    QS. al-Mai’dah (5) : 46

    وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

    Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.
    QS. al-Mai’dah (5) : 47

    وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

    Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
    QS. al-Mai’dah (5) : 48

    وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

    Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia adalah orang-orang yang fasik.
    QS. al-Mai’dah (5) : 49

    أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

    Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?
    QS. al-Mai’dah (5) : 50

    Karena itu, janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

  18. Ping-balik: ngeBlog itu walaupun, bukan karena…. « Biar sejarah yang bicara ……..

  19. sarah
    Januari 28, 2010

    Salamun alaikum
    Saya setuju dengan tulisan Anak Adam, karena memang hanya Allah dan Al Qur’an yang seharusnya menjadi pedoman umat Islam. Rasulullah justru mengikuti “nilai-nilai ” Allah berdasarkan Al Qur’an, yang kemudian diaplikasikannya ke dalam paham-paham kehidupan beliau yang suci. Silakan baca blog “Rekonstruksi Keimanan”, tempat saya mendapatkan kecerahan dan penguatan.
    Salam

    ——————-
    Kopral Cepot : Sayah jg setujuh aman “anak adam” ;)

    • sarah
      Januari 28, 2010

      Salamun alaikum

      Saya juga sama “tempat” ini. saya merasa nyaman….

    • sarah
      Januari 28, 2010

      Salamun alaikum

      Saya juga sama betahnya di “tempat” ini. saya merasa nyaman….

      —————–
      Kopral Cepot : Wa’alaikum salam … Hatur tararengkyu teh sarah ;)

      • Pejuang Kata
        Januari 29, 2010

        Wa’alaikum salam ..

        moga kenyamanan dan betahnya di tempat ini, bisa berlama-lama membaca n bercerita disinih sehingga mampu menambah pengetahuan yang bermanfaat … jangan lupa “pake filter” ;)

  20. ARYA JIPANG
    Februari 11, 2010

    Mantabbbb,……..
    Bahasanya Extrem abis,…Paparannya Tegas,…dan Muatan Ideologi MANTABBBB,……….

    ————-
    Kopral Cepot : ;)

  21. PEMBERONTAK SUCI
    Februari 11, 2010

    Salam Revolusi,…………..
    Tulisannya bagus,….gak bakal bosan di baca terus menerus,….

  22. Javad Al-Kadzim
    Maret 15, 2010

    Imam Ali as, “Seseorang cenderung memusuhi yang tidak diketahuinya.”
    Untuk memahami syi’ah dari yang anti syi’ah baca situs http://www.hakekat.com sedang yang melucuti kebohongan hakekat.com http://satriasyiah.wordpress.com.

  23. Suara Bawah Tanah
    Mei 31, 2010

    Kopral Cepot?
    knp ga dimasukin sejarah Darul Islam? Apa itu ga termasuk gerakan da’wah? Kalo merujuk Prof Nazarudin Syamsudin….”DI/TII itu bukan pemberontakan, tetapi sistem di dalam sistem, negara di dalam negara. Kalaupun ditetapkan sebagai pemberontakan, DI/TII adalah pemberontakan terlama dan teralot.”

    Mungkin ada baiknya (klo leh usul) dikaji pemikiran yg menjadi basis kelahiran DI/TII seperti pemikirannya Kartosuwiryo dengan Sikap Hijrahnya…

    Dan…bagaimana masuknya gerakan IM,HTI,JT ke Indonesia

    hatur nuhun..punten ah pipiluen…

    ————
    Kopral Cepot : Memang itu kajian tersendiri, usulnya boleh juga …
    hatur tararengkyu n semangat always ;)

  24. Ping-balik: Bang Imad : Pekerjaan yang belum selesai .. | Biar sejarah yang bicara ……..

  25. taufik
    Mei 16, 2012

    Bagus cuma belum komplit..ada yang belum dibahas tentang dakwah salafy/sunnah yang sdh menggurita juga…..sejak 1995-

    ———–
    Kopral Cepot : Betul kang ….. ini catatan lama … hatur tangkyu koreksinya

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    ya,tapi kami orang toba trauma dengan islam,pasukan islam membantai tanah batak,dan kami tidak takluk dengan pedang.dio bakkara bangga dengan keislam anya,itu boleh saja.tapi alangkah baiknya anda belajar cari sejarah pengislaman tanah batak,walaupun kontroversial tapi jelas lebih mendekati dari pada sejaran yang di tulis pemerintah
    pstruct
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh pstruct Juli 30, 2014
    betul sekali poang,kita tau siapa yang tukang klaim,bagaimana mungkin sisingamangaraja itu islam,apakah begitu bodohnya ompui lupa tanah batak di bantai islam,yang jauuuuuuh lebih mengerikan dari belanda.
    pstruct
  • Komentar di Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah oleh hendriwibowo Juli 29, 2014
    Habis baca artikel Makasih artikelnya. Lebih membuka mata saya bahwa, jadi tertarik menelisik lebih jauh. Beberapa dokumen lain dari wikipedia, unesco, ternyata mendukung fakta liputannya natgeo bahwa perang diponegoro ternyata skalanya besar dan masif. Thxs buat artikelnya -yang Lebih membuka mata saya bahwa perang ini lebih dari sekedar urusan patok jalan. […]
    hendriwibowo
  • Komentar di Cerita Amriki di PRRI dan CIA di Permesta oleh Tri Jtamadji Juli 28, 2014
    Oh...ternyata gitu to? Selama ini banyak rakyat kita yang di benaknya ( hasil pelajaran resmi ) bahwa mereka adalah murni memberontak demi memisahkan dari NKRI. Namun harus diakui, suka atau tidak suka , ya memang runyam kalau tentara ( secara institusi) masuk ke dunia politik.
    Tri Jtamadji

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: