Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

PERANG JAWA-1 ; Mengenal Tokoh

diponegoroSebelum kita melangkah lebih jauh untuk membicarakan sekitar ‘Perang Jawa’, sebaiknya kita berbicara serba sedikit tentang pelaku-pelaku utama dari perang Jawa tersebut, untuk mendapat gambaran mengenai corak perang yang menggoncangkan.eksistensi kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia.

Pangeran Diponegoro, menurut Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri di Penjara Menado, menceritakan bahwa ia sejak muda telah mengabdi pada agama, mengikuti jejak dan hidup moyangnya yang sangat taat pada agama. Moyangnya itu tinggal di Tegalrejo. Untuk menghindari diri dari pengaruh kraton Yogyakarta, ia tinggal bersama neneknya di Tegalrejo.

Di tempat ini, selain memperdalam pengetahuannya tentang Islam, ia juga secara tekun untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan syari’at Islam. Hal ini menyebabkan ia kurang senang mengikuti kakeknya Sultan Yogyakarta dan karenanya jarang sekali datang di kraton, kecuali pada waktu perayaan Grebeg, seperti perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha dimana kehadirannya diharuskan.

Pada waktu ia berumur 20 tahun telah berhasrat hidup sebagai fakir (sufi), sehingga seringkali keliling mengunjungi masjid, di mana ia dapat bergaul dengan para santri. Di bagian lain dari bukunya itu, Diponegoro bercerita, ketika ia sedang berada di gua Secang, ia dikunjungi oleh seorang berpakaian haji yang mengaku dirinya utusan Ratu Adil, yang meminta pada Diponegoro untuk menemuinya di puncak gunung yang bernama gunung Rasamani, seorang diri.

Diponegoro segera mengikuti utusan itu hingga sampai di puncak gunung. Di sana ia berjumpa dengan Ratu Adil yang memakai serban (ikat kepala model Arab) hijau dan jubah (pakaian khas Arab yang panjang dengan lengan tangan lebar pula) dari sutera; dengan celana dari sutera juga. Ratu Adil mengatakan kepada Abdul Hamid (Diponegoro) bahwa sebabnya ia me¬manggil Diponegoro adalah karena ia mewajibkannya untuk memimpin prajuritnya untuk menaklukkan Pulau Jawa. Kalau ada orang yang menanyakan padanya, kata Ratu Adil, “siapa yang memberi kuasa padanya?” Diponegoro harus menjawab, bahwa: “yang memberi kuasa padanya adalah Al-Qur’an”.

Di bagian lain Diponegoro menceritakan, bahwa pada suatu waktu, ketika ia duduk di bawah pohon beringin, ia mendengar suara yang mengatakan bahwa ia akan diangkat menjadi Sultan Erucakra, Sayidina Panatagama, Khalifah daripada Rasulullah.

Oleh karena itu Diponegoro dalam memimpin “Perang Jawa” ini senantiasa diwarnai oleh ajaran Islam dan bahkan berusaha agar syari’at Islam itu tegak di dalam daerah kekuasaannya.

Hal ini dapat dilihat dari surat Diponegoro yang ditujukan kepada penduduk Kedu, yang ditulis dalam bahasa Jawa, antara lain berbunyi “Surat ini datangnya dari saya Kanjeng Gusti Pungeran Diponegoro bersama dengan Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta Adiningrat kepada sekalian sahabat di Kedu, menyatakan bahwa sekarang kami sudah minta tanah Kedu. Hal ini harus diketahui oleh semua orang baik laki-laki maupun perempun, besar atau kecil tidak usah kami sebutkan satu demi satu. Adapun orang yang kami suruh bernama Kasan Basari. Jikalau sudah menurut surat undangan kami ini, segeralah sediakan senjata, rebutlah negeri dan ‘betulkan agama Rasul’. Jikalau ada yang berani tidak mau percaya akan bunyi surat saya ini, maka dia akan kami penggal lehernya…” Kamis tanggal 5 bulan Kaji tahun Be (31 Juli 1825).

Kiai Mojo adalah seorang ulama terkenal dari daerah Mojo Solo. Ia adalah seorang penasehat keagamaan Diponegoro yang memberikan corak dan jiwa Islam kepada perjuangan yang dipimpinnya. Disamping penasehat Diponegoro, ia juga memimpin pasukan bersama-sama anaknya di daerah Solo.

Sebelum ‘perang Jawa’ pecah, ia telah berkenalan erat dengan Diponegoro, sehingga tatkala perang di¬cetuskan ia bersama anaknya Kiai GazaIi dan para santrinys bergabung dengan pasukan Diponegoro.

Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja (Sentot) adalah putera Raden Rangga Prawiradirja III yang gugur di dalam pertempuran melawan pasukan Belanda. Ibu Prawiradirja (nenek Alibasah) adalah puteri Sultan Hamengku Buwono I. Jadi apabila dilihat dari silsilah keturunannya, ia adalah keturunan kraton Yogyakarta yang mempunyai hubungan darah dengan Diponegoro. Dilihat dari namanya, ia adalah seorang muslim.

Pada saat ‘perang Jawa’ pecah, Alibasah masih muda sekali yaitu berumur 16 tahun. Sebagai remaja yang penuh semangat perjuangan yang diwarisi dari ayahnya, pengaruh agama Islam juga sangat besar dari tokoh utama perang Jawa, yaitu Diponegoro dan Kiai Mojo.

Dilihat dari para pelaku utama dalam Perang Jawa ini dapat disimpulkan bahwa Islam memegang peranan penting dalam memberikan motivasi dan inspirasi untuk menentang kezaliman dan tirani yang bertitik kul¬minasi dengan meletusnya petang tersebut. Kesimpulan ini sejalan dengan tulisan W.F. Wertheim yang antara lain menyatakan bahwa faktor baru muncul pada abad ke-19, di mana daerah-daerah di Indonesia rakyat tani banyak yang masuk Islam. Hal ini memperkuat posisi para kiai, karena sekarang mereka dapat mengandalkan untuk mendapatkan dukungan kuat dari rakyat.

Para penguasa kolonial Belanda terus menerus konfrontasi dengan sultan-sultan Indonesia mendorong mereka untuk mempersatukan.diri dengan para kiai serta mengibarkan bendera Istam, sultan-sultan itu dapat mengobarkan pemberontakan umum. Ini dapat disaksikan dalam perang Jawa, perang Bonjol, perang Aceh. Lebih daripada itu keadaan perang ternyata menambah prestise dan kekuatan para ‘ekstremis’ di antara kiai itu untuk menggunakan senjata “Perang Sabil”.

bersambung ….

About these ads

8 comments on “PERANG JAWA-1 ; Mengenal Tokoh

  1. hafazhah
    Desember 21, 2010

    RATU ADIL SUDAH ADA menunggu pulau jawa dibawah panji2 islam

  2. Sentot Descendant
    Mei 16, 2012

    Terima kasih atas info nya. Dalam silsilah keluarga dari garis ayah saya terdapata nama Alibasyah Sentot Prawirodirdjoa, dan di puncak silsilah tersebut terdapat nama Ing Kang Sinuhun Hamengkubuwono kaping I. Namun saya bingung mencari hubungan mereka dengan Pangeran Diponegoro.

    Terima kasih atas tulisan ini, yang telah mencerahkan saya dan selalu akan saya ingat bahwa para leluhur saya telah berjuang atas nama Islam, bukan atas nama budaya kraton yang dipenuhi kemusyrikan yang “gila” terhadap penyembahan terhadap sesama manusia

    —————-
    Kopral Cepot : Terima kasih atas kunjungannya dan semoga memang kita selalu mengingat apa yang diperjuangkan para leluhur atas Islam.

  3. ajimat
    Juli 26, 2012

    sejarah kamu ade perbedaan besar dengan kami…….kami tidak menulis sejarah…..tetapi masih menghafal cerite……selepas habis perang padari…..kamu katekan padri….. sentot…. tidak berperang lagi…. diponegoro pun ….berade dalam kawalan rumah oleh kerajaan belande….. mereke berperang dengan voc yang zalim…..bukan kerajaan belande….. dari jumlah 1000 orang pejuang sentot….berakhir hanye 800 orang….yang mane belande tak mahu mereke pulang….kerane mereke membantu padari…… mereke pergi ke perak malaysia…..dapat pelindongan sultan perak…..ahli sejarawan indonesia boley semak dengan sejarah mereke dengan sultan perak…. akhirnye mereke berkampong di sungai perak …..400 0rang…..kemudian 200 orang menetap di kampong alai melake…..150 orang menetap di pancur muar johor …dan…yang lainnye….menetap di kesang…. muar dan melake…… kalau benar sejarawan indonesia……beri tahu kami……berape ketinggian tuboh badannye sentot itu……. kami tahu….ade rahsia disebalik sejarah indonesia……. sejarah itu hanye nak mempertahankan kedudokkan orang atasan indonesia …yang selame ini makan hasil pencen dari belande…….pejuang sentot tak pernah kalah……juge ade rahsia untok bertemu hamengkubowono v……sebelom membantu padari…..sejarah indonesia perlu disemak semule…..kerane sentot ade hubungan dengan sultan perak malaysia…

  4. Ping-balik: API SEJARAH ; Mengungkap Yang Tersembunyi dan Disembunyikan « Biar sejarah yang bicara …….

  5. Nadia
    September 12, 2013

    Saya juga katanya ada keturunan sentot alibasyah, apakah ada yang tau silsilah beliau ke bawahnya…

  6. cah magelang
    November 2, 2013

    Untuk menghadapi Diponegoro, Belanda mendapat bantuan dari pasukan Kasultanan Yogyakarta (Tumenggung Wironegoro), pasukan Kasunanan Surakarta (Pangeran Kusumayuda), pasukan Legiun Mangkunegaran (RM Suwongso), pasukan Pakualaman (pangeran Notokusumo), Barisan Banyumas (Tumenggung Arumbinang), Barisan Madiun (Tumenggung Rangga Prawiradirjo II) dan Barisan Jayengsekar(dibentuk di kadipaten pantai utara jawa).
    Selain itu juga menghadapi bekas pasukannya yang membelot ke Belanda dibawah pimpinan pangeran Notoprojo (Kotagede) dan pangeran Mangkudiningrat (Kedu).
    Tidak hanya itu, Belanda juga mendatangkan pasukan pembantu (hulptroopen) yang terdiri dari pasukan Sumenep (Madura bagian Timur), pasukan Madura (Madura bagian barat), pasukan Bone, pasukan Gorontalo, pasukan Tidore, pasukan Ternate, pasukan Arafuru (kep kei dan seram) dan pasukan Bali.
    Selain pasukan Arafuru dan Bali, pasukan pasukan tersebut semuanya muslim.. Ironis, perjuangan menegakkan islam di Jawa justru dihancurkan dengan bantuan sesama muslim.

  7. cah magelang
    November 2, 2013

    Bila kita berbicara perang Diponegoro secara spontan kita mengenal Alibasyah Sentot Prawirodirjo dan kyai Mojo. Kadang timbul pertanyaan mengapa 2 nama tersebut yang menonjol di antara tokoh-tokoh ring 1 Diponegoro.
    Alibasyah Sentot Prawirodirjo bergabung dengan Diponegoro tahun 1827, setelah 2 tahun perang berkecamuk. Awalnya sebagai komandan pasukan pinilih (salah satu dari 3 korps pasukan elit Diponegoro selain Bulkiyo dan Turkiyo) kemudian naik menjadi alibasyah (panglima divisi) dan terakhir diangkat menjadi alibasyah abdul musthafa (panglima tertinggi). Sentot menyerah bersama pasukannya di Yogyakarta Oktober 1829 setelah sebulan sebelumnya kalah dalam pertempuran di pegunungan siluk (imogiri).
    Kyai Mojo adalah ulama dari pajang dan merupakan penasehat Diponegoro. Pada tahun 1828 terlibat konflik dengan Diponegoro dan akhirnya memilih keluar menyerah kepada Belanda.
    Baik Sentot maupun Kyai Mojo tidak mengikuti perang dari awal sampe akhir. Keduanya secara diam-diam melakukan kontak dengan Belanda sebelum menyerah (ini salah satu penyebab kemarahan Diponegoro kepada Kyai Mojo). Sentot melalui sahabatnya pangeran notoprojo sedangkan kyai Mojo melalui tumenggung wironegoro (panglima pasukan kasultanan Yogyakarta yang merupakan teman seperguruannya). Kontak2 tersebut banyak tercatat dalam arsip arsip Militer Belanda.
    Celakanya sejarah kita juga mengacu pada serjarah versi Belanda. Demi kepentingan kolonialnya Belanda tentu lebih mengedepankan tokoh2 perlawanan yang mau menyerah dan bekerjasama dibanding tokoh2 yg militan, tidak pernah menyerah dan bertempur sampai mati.
    Saya tidak meragukan kepahlawanan kedua tokoh tersebut tetapi kita juga perlu mengapresiasi tokoh-tokoh lain yang lebih militan seperti pangeran mangkubumi, pangeran bei joyokusumo, alibasyah tumenggung sosrodilogo dan alibasyah wirodirjo.
    Mungkin anda tidak mengenal tokoh tokoh tersebut, tetapi kalau anda tertarik, bisa pelajari arsip militer KNIL dan beberapa babad Diponegoro sebagai pembanding. Syaratnya ..bisa dikit2 bahasa Belanda tentunya hehe..

  8. NOVALIA SOFIANTI SINURAT
    November 11, 2014

    Bukan kemiskinan yang merendahkan tapi hati yang menistai kebaikannya sendiri.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: