Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Proses Pelembagaan Islam : Dari Dakwah ke Negara

Penting di cermati di dalam pelembagaan Islam yaitu proses terbentuknya Institusi Sosio Politik Islam dalam bentuk Negara Islam Demak, Dakwah Walisanga yang menjadi tokoh sentral  perjuangan, menggunakan beberapa tahapan, yaitu : Pertama , Mendirikan Masjid. Masjid di dalam bahasa Arab ialah isim makan dari fi’il sajada yang artinya bersujud. Sebagai isim makan (kata benda tempat) maka masjid berarti tempat bersujud. Mendirikan masjid berarti membangun tempat sujud. Apa yang dilakukan para wali ini mengushwah dari apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, proses hijrah dari Mekah ke Yatrib yang selanjutnya menjadi Madinah-ibukota Islam, Beliau terlebih dahulu mendirikan Masjid Nabawi yang menjadi pusat sujud nya umat Islam. Sujudnya seorang hamba Allah adalah dengan meninggikan Kalimat Allah Subhana Rabbi’al A’la. Mengsucikan Allah Rabb yang Maha Tinggi, Dia-lah Al-Malikul Haqqul Mubin . Pusat sujudnya umat Islam berarti pula pusat komando perjuangan penegakan Kalimat Allah. Maka para wali mendirikan masjid, bukan hanya berfungsi sebagai tempat ritual ibadah Shalat akan tetapi menjadi tempat pengkajian, ta’lim, tarbiyah, tempat musyawarah, koordinasi dakwah dan lainnya. Dari masjidlah da’wah Islam dimulai.

Tahapan kedua, mendirikan pesantren. Secara etimologis, pengertian pesantren memang debatable. Perdebatan itu terjadi terutama menyangkut dari mana asal kata pesantren itu muncul. Akar katanya tentu saja santri, namun bisa saja ia berasal dari Persi atau India, yakni shastri yang berarti orang yang sedang belajar. Ada kemungkinan kata shastri tersebut kemudian dibahasa jawakan menjadi santri, sehingga tempat yang dihuni oleh santri kemudian disebut pesantren, yang berarti tempat belajar.

Setiap wali memiliki pesantren yang dinisbahkan dengan nama dimana wali tersebut berada. Pesantren Ampel, pesantren Bangkuning, pesantren Drajat, pesantren Giri dan sebagainya. Lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak keislaman dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi dakwah Islam sampai pelosok-pelosok. Pesantren telah menjadi oven tempat pembakaran ruh jihadi yang menggelora bagi setiap pemuda, melahirkan kader-kader pejuang Islam yang terus menerus sehingga tidak ada lost generation bagi keberlangsungan dakwah.

Puncak pelembagaan Islam adalah dengan didirikannya kerajaan Islam sebagai institusi sosio politik Islam yang menjadi basis bagi dominasi Islam.

About these ads

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 17, 2008 by in Sejarah Wali Songo and tagged , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: