Gincu dan Garam : Sebuah Artikulasi Politik Islam Yang Kian Memudar

‘Imaduddin Abdurrahim (alm), pada tahun 1962 bersama enam rekan aktifis Islam, ia menyatakan kekecewaannya kepada Bung Hatta.  “Kami, para pemuda Islam, sangat kecewa kepada Bapak, karena kami menganggap Bapak tidak bertanggung jawab kepada bangsa ini …. Bapak meninggalkan kursi kewakilpresidenan. Padahal, Bapak tahu kalau Sukarno tidak pernah mendengarkan perkataan orang lain kecuali kalau Hatta yangLanjutkan membaca “Gincu dan Garam : Sebuah Artikulasi Politik Islam Yang Kian Memudar”

SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 1)

Oleh : Damar Shashangka Konon, Seorang ulama Islam, bernama Syeh Abdul Jalil, datang ke Jawa dan bermukim di Bukit Amparan Jati ( Daerah Cirebon sekarang ). Disana, beliau bertemu dengan Syeh Dzatul Kahfi, seorang ulama sepuh yang sudah lama menetap di Bukit Amparan Jati. Ulama sepuh inilah guru dari Pangeran Walang Sungsang dan Dewi RaraLanjutkan membaca “SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR atau SYEH SITI JENAR (Bagian : 1)”