Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Aku orang Pagaruyung; Sebuah coretan

Oleh : Muhammad Syam Farhan

Sejarah Republik Indonesia mencatat beberapa nama, di antaranya Muhammad Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia (RI). Beliau meletakkkan jabatannya sebelum sempat dilantik menjadi wakil presiden seumur-hidup[1]. Sutan Syahrir, Perdana Menteri Pertama RI yang melakukan serentetan perundingan dengan pemerintah kolonial Belanda di awal revolusi Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang sosialis. Sutan Malaka atau lebih dikenal dengan sebutan Tan Malaka, ideolog komunis yang meninggalkan buku monumentalnya: Madilog. Muhammad Natsir, Perdana Menteri yang mengusung ide “mosi integrasi” yang kemudian merubah Republik Indonesia Sarikat (RIS) menjadi Republik Indonesia. Ada juga kalangan sejarahwan yang menilai beliau turut bertanggung-jawab atas prahara pertumpahan darah di Sumatera Tengah dengan PRRI[2]-nya. Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah yang lebih suka dipanggil Hamka, sastrawan, novelis. Di penghujung usianya dikenal sebagai Buya Hamka. Buya adalah sebutan untuk pemuka agama yang setaraf artinya dengan Ajengan di Jawa-Barat atau Kiyai di Jawa-Timur atau asy-Syaikh. Semua itu berkait rapat dengan bidang agama Islam yang dikuasai beliau.

Nama-nama tersebut berasal dari Sumatera, Sumatera Tengah yang sekarang menjadi Sumatera-Barat. Mereka dikenal juga sebagai orang Padang atau orang Minang atau Minangkabau. Ada juga yang suka menyebutnya sebagai orang Pagaruyung.

Kalau berdasarkan cerita dari Inyiek[3] –kakek tersayangku yang mempunyai segudang kisah dan hikayat—mereka itu adalah orang Padang semasa adanya penjajah urang Balando[4] memerintah di Sumatera, yang menjadikan kota Padang sebagai pusat administarinya. Di masa itu orang-orang yang ingin bepergian atau  merantau ke pulau Jawa atau pulau lainnya, diwajibkan mengambil “surat jalan” dari kota Padang. Di  tempat tujuan atau di perantauan mereka dikenal sebagai orang Padang. Bisa saja munculnya sebutan itu karena merujuk kepada orang-orang yang membawa surat jalan dari Padang.

Penggunaan nama Minangkabau menurut beliau sudah cukup lama, berdasarkan tambo dan kaba lamo, “antah iyo antah tidak, indak tasurek dalam al-Qur’an[5] katanya. Konon pernah terjadi perang tanding di zaman Hindu antara Raja Sumatera dengan Raja Jawa yang dipresentasikan dengan dua ekor kerbau. Kerbau Jawa yang besar diadu dengan anak kerbau urang awak yang bertanduk pisau. Cerita mitos ini tentu saja digunakan dan dianggap berguna sebagai alat perang pisikologi di masa bagolak[6]. Kata Inyiek-ku lagi, ”Sayangnya di masa PRRI, anak kerbau lupa dipasangi pisau”. Akibatnya dapat dirasakan pada awal tahun 1960-an di Jakarta. Urang awak takut atau malu atau berhati-hati untuk menyebut, apalagi mengakui dirinya sebagai orang Minangkabau. Kalau pun terpaksa, di lingkungan sesamanya, ia menyebut dirinya “urang awak”. Tentunya lebih aman dan selamat kalau mengaku sebagai orang Medan, orang Riau, orang Bangkulu atau nama daerah lainnya.

Lagi-lagi menurut referensi inyiek–harap maklum—dia merasa bangga dan sangat suka mengaku dirinya orang Pagaruyung. Pernah suatu kesempatan aku bertanya: ”mengapa inyiek begitu bangga dengan Pagaruyung?”. “O.. anak-ku,” dia selalu memanggilku o anak, itu bukan karena ia lupa yang aku cucunya, tetapi lebih kepada rasa sayang bercampur rindu. “Kata orang wajahku seiras rupa ayah yang terkorban di civil-war tahun 1958. “Pagaruyung, adalah Kesultanan Islam yang memiliki adat bersendi syarak, yang syaraknya bersendikan Kitabullah. Kita orang berpagar ruyung, pagar itulah yang disebut orang ad-Dien”. Dan dimana pun ada kesempatan, selalu saja dia menanamkan ke dalam ingatanku “Anak-ku, engkau orang Pagaruyung sebelum dipesongkan[7] orang menjadi Minangkabau, kononnya setelah menang betaruh[8] di medan-laga. Dan bukan pula orang Padang yang akan mengungkit kembali luka lama zaman penjajahan. Inyiek o inyiek-ku.

Garis Suku Bundo di Belakang Nama

Dalam dekade belakangan ini, tampaknya sudah menjadi trend orang awak yang menggunakan nama suku ibu di belakang namanya. Misalnya  Piliang, Koto, Bodi maupun Caniago. Kadang-kadang ada yang disingkat menjadi: Pilli dan Can. Barangkali tampak keren[9] bagi yang menggunakannya. Sedangkan di zaman dahulu, ulama-ulama di Pagaruyung mengaitkan nama mereka dengan nama tempat, nagari asal mereka, misalnya: Ulakan, Jaho, Padang Gantieng, Sumaniek, Canduang dan sebagainya.

Masalah ini berdampak dalam menyebut silsilah di masyarakat, bagi keturunan alim-ulama dan syeikh-syeikh Tarekat. Mereka dapat menghafal nama-nama silsilah garis ayah ke atas. Bahkan ada yang hafal hingga ke garis zuriyat Muhammad Rasulullah SAW. Padahal, bagi orang awam, mengetahui nama keturunan tiga ke atas saja sudah agak sulit. Untuk itu, bagi mereka dengan menyebut nama suku bundo tentunya lebih mudah mengingatnya.

Berdasarkan mitologi sejarah alam Minangkabau, orang yang bertanggung-jawab membentuk sistem pemerintahan Laras[10] Koto-Piliang adalah Datuk Ketumanggungan. Sedangkan Laras Bodi-Caniago ialah Datuk Perpatih Nan Sebatang. Mereka adalah dua bersaudara seibu yang berlainan ayah. Berdasarkan latar belakang mereka yang se-ibu, mereka menyusun dua laras yang berlainan tetapi berinduk kepada bundo[11]. Barangkali dapat kita katakan telah terjadi pertentangan antara satu dan lainnya dalam adat dan tata-penetapan keputusan hukum. Namun begitu, ada kesamaan antar mereka yang tercermin jelas dalam sistem yang menopang politik pemerintahan Kesultanan di Pagaruyung. Artinya, laras dan suku-kaum diciptakan untuk memperlancar roda politik pemerintahan Pagaruyung. Atau barangkali bisa jadi kebalikkannya (untuk jelasnya bisa ditanyakan kepada juragan penjaga portal serba sejarah saja).

Berkaitan dan sejalan dengan uraian di atas, dalam masyarakat Muslim yang mengamalkan tradisi talkin[12], yang memanggil orang yang telah wafat dengan nama ibunya. Contoh: “Hai fulan bin Fulanah, apabila datang kepadamu….”.[13] Mengapa? Jawaban yang pernah saya ketahui: seseorang itu sudah pasti anak yang dilahirkan ibunya. Misalnya saja kita kemukakan nama Isa ibnu Maryam, seorang nabi utusan Allah.

Barangkali ada yang bertanya: “apakah ada ketentuan hukum syara’ yang dapat dijadikan sandarannya?”. Pastinya ada, sebab dalam al-Quran diakui ada dua penggunaan istilah (sebutan): pertama Bani dan kedua Zuriyat. Bani menunjuk kepada garis keturunan ayah; Fulan bin Fulan bin Fulan dan seterusnya. Secara global dan spesifik, anak manusia yang beriman disebut dengan panggilan Bani Adam, yaitu keturunan dari Adam AS. Sedangkan Zuriyat merujuk kepada garis keturunan ayah maupun ibu. Misalnya, Isa ibnu Maryam, sedangkan Maryam anak-perempuan Imran yang berasal dari zuriyat Ibrahim AS. Untuk memperjelasnya barangkali dapat kita kemukakan penggunaan kata “zuriyat Nabi Muhammad SAW” yang dikaitkan dengan keturunan beliau dari Fatimah; yaitu Hasan dan Husen. Mereka pada dasarnya faham, dengan menyebut dan mengakui diri mereka sebagai Zuriyat Muhammad dan bukan Bani Muhammad SAW.

Lantas pembaca yang budiman akan bertanya, “Kemana arah tujuan coretan ini?”. Pertama, sebenarnya saya hanya menggarisbawahi ungkapan yang mengatakan “penggunaan nama yang tepat dan benar, akan membantu seseorang dalam berpikir lurus dan jujur”. Nama-nama adalah “ilmu pertama” yang diajarkan Allah Ta’ala kepada manusia dan ilmu itu juga yang pertama diujikan di hadapan para Malaikat-Nya[14]. Kedua, untuk ikut serta meramaikan sayembara tulisan sejarah di Serbasejarah. Dan yang ketiga … Hanya Allah Yang Maha-Tahu akan segala kebenaran-Nya.

Penulis: Muhammad Syam Farhan, adalah seorang santri yang tidak bosan-bosan nyantri, untuk ngelakoni seruan untuk nyantri dari buaian hingga ke liang lahat, atau istilah kerennya:  Sang Pembelajar.

Pondok-ku, 29 Desember 2011

—————————-

* Keterangan gambar :

  1. Istana Basa atau lebih dikenal dengan nama Istana Pagaruyung. Istana ini terletak di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat
  2. Cap Sultan Bagagar Alamsyah atau Sultan Tunggal ‘Alam Bagagar Ibn Sultan Khalifatullah yang mempunyai tahta Kerajaan dalam Nagari Pagaruyung Dar lil-Qarar Johan berdaulat Jilullah fil’Alam.

[1] Sebagaimana presiden RI pertama
[2] Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia.
[3] Inyiek: sebutan untuk kakek/nenek atau buyut ke atas.
[4] Orang Belanda
[5] Tambo, kaba lamo; merupakan tradisi cerita lisan. Yang tidak termasuk dalam al-Quran.
[6] Bagolak, pergolakan senjata.
[7] dibelokan
[8] berjudi
[9] cantik, tampan.
[10] Sistem pemerintahan
[11] ibu
[12] bacaan yang dilakukan setelah mayat dikuburkan.
[13] Fulan dan fulanah kata ganti dalam bahasa Arab untuk lelaki dan perempuan.
[14] Lihat kisah Adam dalam al-Quran Surah al-Baqarah.

About these ads

4 comments on “Aku orang Pagaruyung; Sebuah coretan

  1. Ping-balik: Hatur Tangkyu Muharram « Biar sejarah yang bicara …….

  2. zulkarnain
    Januari 12, 2012

    senang sekali membacanya, carito nyo ranca bana

  3. Ping-balik: Aku Orang Pagaruyung, Sebuah Coretan « Suprizal Tanjung's Surau

  4. doktertoeloes malang
    Mei 30, 2012

    besan saya orang baturaja asli ( ciri2 nya kulit putih mirip orang menado atau chi -

    na , bahasanya mirip orang malaysia ) – Apa Masuk Katagori Orang Pagaruyung ?

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 29, 2011 by in Blog n Me and tagged , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: