Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Rawagede Menggugat

Nullum crimen sine lege ~ Tak ada kejahatan tanpa hukum

Kejahatan perang adalah suatu tindakan pelanggaran, dalam cakupan hukum internasional, terhadap hukum perang oleh satu atau beberapa orang, baik militer maupun sipil. Pelaku kejahatan perang ini disebut penjahat perang. Setiap pelanggaran hukum perang pada konflik antar bangsa merupakan kejahatan perang. Pelanggaran yang terjadi pada konflik internal suatu negara, belum tentu bisa dianggap kejahatan perang.

Kejahatan perang meliputi semua pelanggaran terhadap perlindungan yang telah ditentukan oleh hukum perang, dan juga mencakup kegagalan untuk tunduk pada norma prosedur dan aturan pertempuran, seperti menyerang pihak yang telah mengibarkan bendera putih, atau sebaliknya, menggunakan bendera perdamaian itu sebagai taktik perang untuk mengecoh pihak lawan sebelum menyerang.

Perlakuan semena-mena terhadap tawanan perang atau penduduk sipil juga bisa dianggap sebagai kejahatan perang. Pembunuhan massal dan genosida kadang dianggap juga sebagai suatu kejahatan perang, walaupun dalam hukum kemanusiaan internasional, kejahatan-kejahatan ini secara luas dideskripsikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Aturan perang yang beradab dituangkan dalam Konvensi Jenewa 1949, yang secara umum mencakup dua hal, yaitu: (1) perlindungan terhadap semua orang yang tidak atau tidak lagi terlibat dalam perang, dan (2) pelarangan penggunaan senjata dan metode perang yang tidak dapat dikendalikan. Sebanyak 194 negara telah meratifikasi konvensi ini, meskipun tidak semua protokol tambahan dan konvensi pendukung turut diratifikasi. Perkembangan mutakhir pengarusutamaan (mainstreaming) hukum humaniter internasional adalah Mahkamah Kejahatan Internasional (International Criminal Crime, ICC) yang dibentuk pada tanggal 1 Juli 2002 sebagai implementasi Statuta Roma 1998. Yurisdiksi ICC mencakup kejahatan terhadap perdamaian (crime against peace), kejahatan perang (war crime), dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity). Sampai bulan Mei 2008 statuta ini baru diratifikasi oleh 106 negara. Beberapa negara yang seringkali dikiritik sebagai pelaku pelanggaran dalam konflik bersenjata belum bersedia meratifikasi, antara lain: China, Haiti, India, Israel, Korea Utara, Mozambique, Pakistan, Rusia, Rwanda, Somalia, Sudan, Sri Lanka, termasuk Amerika Serikat (lihat website International Committee of the Red Cross).

Pembantaian di Rawagede

Pada 9 Desember 1947, dalam agresi militer Belanda I yang dilancarkan mulai tanggal 21 Juli 1947, tentara Belanda membantai 431 penduduk desa Rawagede, yang terletak di antara Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Selain itu, ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang, dan antara Karawang dan Bekasi timbul pertempuran, yang juga mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa di kalangan rakyat. Pada 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan “sweeping” lagi di Rawagede, dan kali ini 35 orang penduduk dibunuh.

Di Jawa Barat, sebelum Persetujuan Renville ditandatangani, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember, terus memburu laskar-laskar Indonesia dan unit pasukan TNI yang masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Yang ikut ambil bagian dalam operasi di daerah Karawang adalah detasemen 3-9 RI, pasukan para (1e para compagnie) dan 12 Genie veld compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan para dan DST (Depot Speciaale Troepen).

Dalam operasinya di daerah Karawang, tentara Belanda mencari Kapten Lukas Kustario, komandan kompi Siliwangi -kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi- yang berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda. Di wilayah Rawagede juga berkeliaran berbagai laskar, bukan hanya pejuang Indonesia namun juga gerombolan pengacau dan perampok.

Pada 9 Desember 1947, tentara Belanda di bawah pimpinan seorang Mayor mengepung desa Rawagede dan menggeledah setiap rumah. Namun mereka tidak menemukan sepucuk senjatapun. Mereka kemudian memaksa seluruh penduduk keluar rumah masing-masing dan mengumpulkan di tempat yang lapang. Penduduk laki-laki diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik. Namun tidak satupun rakyat yang mengatakan tempat persembunyian para pejuang tersebut.

Perwira Tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja dan bahkan ada yang baru berusia 11 dan 12 tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan. Saih, kini berusia 83 tahun menuturkan, bahwa dia bersama ayah dan para tetangganya sekitar 20 orang jumlahnya disuruh berdiri berjejer. Ketika tentara Belanda memberondong dengan senapan mesin – istilah penduduk setempat: “didredet”- ayahnya yang berdiri di sampingnya tewas kena tembakan, dia juga jatuh kena tembak di tangan, namun dia pura-pura mati. Ketika ada kesempatan, dia segera melarikan diri.

Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede. Tanpa ada pengadilan, tuntutan ataupun pembelaan. Seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede juga melakukan yang mereka namakan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties). Tindakan yang jelas merupakan kejahatan perang. Diperkirakan korban pembantaian lebih dari 431, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.

Hujan yang mengguyur mengakibatkan genangan darah membasahi desa tersebut. Yang tersisa hanya wanita dan anak-anak. Keesokan harinya, setelah tentara Belanda meninggalkan desa tersebut, para wanita menguburkan mayat-mayat dengan peralatan seadanya. Seorang ibu menguburkan suami dan 2 orang putranya yang berusia 12 dan 15 tahun. Mereka tidak dapat menggali lubang terlalu dalam, hanya sekitar 50 cm saja. Untuk pemakaman secar Islam, yaitu jenazah ditutup dengan potongan kayu, mereka terpaksa menggunakan daun pintu, dan kemudian diurug tanah seadanya, sehingga bau mayat masih tercium selama berhari-hari.

Pimpinan Republik mengadukan peristiwa pembantaian ini kepada Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Jasa Baik untuk Indonesia) dari PBB. Namun tindakan Komisi ini hanya sebatas pada kritik terhadap aksi militer tersebut yang mereka sebut sebagai “deliberate and ruthless”, tanpa ada sanksi yang tegas atas pelanggaran HAM, apalagi untuk memandang pembantaian rakyat yang tak bedosa sebagai kejahatan perang (war crimes).

Tahun 1969 berdasarkan keputusan sidang Parlemen Belanda, Pemerintah Belanda membentuk tim untuk meneliti kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan oleh tentara tentara kerajaan Belanda (KL, Koninklijke Landmacht dan KNIL, Koninklijke Nederlands-Indische Leger) antara tahun 1945 – 1950. Hasil penelitian disusun dalam laporan berjudul “Nota betreffende het archievenonderzoek naar gegevens omtrent excessen in Indonesie begaan door Nederlandse militairen in de periode 1945-1950″, disingkat menjadi De Excessennota. Laporan resmi ini disampaikan oleh Perdana Menteri de Jong pada 2 Juni 1969. Pada bulan Januari 1995 laporan tersebut diterbitkan menjadi buku dengan format besar (A-3) setebal 282 halaman, dengan kata pengantar dari Prof Dr Jan Bank, guru besar sejarah Universitas Leiden. Di dalamnya terdapat sekitar 140 kasus pelanggaran/ penyimpangan yang dilakukan oleh tentara Belanda. Dalam laporan De Excessen Nota yang hampir 50 tahun setelah agresi militer mereka- tercatat bahwa yang dibantai oleh tentara Belanda di Rawagede “hanya” sekitar 150 orang. Juga dilaporkan, bahwa Mayor yang bertanggungjawab atas pembantaian tersebut, demi kepentingan yang lebih tinggi, tidak dituntut ke pengadilan militer.

Di Belanda sendiri, beberapa kalangan dengan tegas menyebutkan, bahwa yang dilakukan oleh tentara Belanda pada waktu itu adalah kejahatan perang (oorlogs-misdaden) dan hingga sekarang masih tetap menjadi bahan pembicaraan, bahkan film dokumenter mengenai pembantaian di Rawagede ditunjukkan di Australia. Anehnya, di Indonesia sendiri film dokumenter ini belum pernah ditunjukkan.

Pembantaian di Sulawesi Selatan dan di Rawagede serta berbagai pelanggaran HAM berat lain, hanya sebagian kecil bukti kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Belanda, dalam upaya Belanda untuk menjajah kembali bangsa Indonesia, setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945..

Parlemen dan Pemerintah Belanda sangat responsif dan cukup terbuka mengenai pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh tentara Belanda antara 1945 – 1950, walaupun kemudian belum ada sanksi atau tindakan hukum selanjutnya. Juga tidak pernah dibahas, mengenai kompensasi bagi para korban dan keluarga korban yang tewas dalam pembantaian akibat agresi militer, yang sekarang mereka akui, adalah suatu kesalahan.(ref). Baca juga  detil kisah pembantaian disini Yang Terserak di Rawagede)

Surat Anonim Dari Pembantai Rawagede

Sebuah surat tanpa nama pengirim tiba di tangan Komite Utang Kehormatan Belanda(KUKB) di Belanda. Surat tidak disampaikan lewat pos, melainkan diberikan seseorang yang mengaku menerima dari seorang veteran perang. Isinya menunjukkan sebuah guratan penyesalan seorang tentara Belanda yang diduga ikut dalam proses pembunuhan warga Rawagede.

Seberapa jauh surat ini orisinil, tidak ada yang tahu. Sang penyampai, dan sang penulis, tetap ingin tidak diketahui.

                                               Wamel  Rawa Gedeh
         Namaku tidak bisa aku sebutkan, tapi aku bisa ceritakan kepada Anda
apa yang sebenarnya terjadi di desa RAWA GEDEH.

Anda tahu, antara tahun 1945 – 1949, kami mencoba merebut kembali jajahan kami di Asia Tenggara. Untuk itu dari tahun 1945 sampai 1949,  sekitar 130.000 tentara Belanda dikirim ke bekas Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Di sana terjadi berikut ini:

Di Jawa Barat, timur Batavia, di daerah Krawang, ada desa Rawa Gedeh. Dari arah Rawa Gedeh tentara Belanda ditembaki. Maka diputuskanlah untuk menghajar desa ini untuk dijadikan pelajaran bagi desa-desa lain.

Saat malam hari Rawa Gedeh dikepung. Mereka yang mencoba meninggalkan desa, dibunuh tanpa bunyi (diserang, ditekan ke dalam air sampai tenggelam; kepala mereka dihantam dengan popor senjata dll)

Jam setengah enam pagi, ketika mulai siang, desa ditembaki dengan mortir. Pria, wanita dan anak-anak yang mau melarikan diri dinyatakan patut dibunuh: semuanya ditembak mati. JUMLAHNYA RATUSAN.

Setelah desa dibakar, tentara Belanda menduduki wilayah itu. Penduduk desa yang tersisa lalu dikumpulkan, jongkok, dengan tangan melipat di belakang leher. Hanya sedikit yang tersisa. Rawa Gedeh telah menerima ‘pelajarannya’.

Semua lelaki ditembak mati – kami dinamai ‘Angkatan Darat Kerajaan’.
Semua perempuan ditembak mati – padahal kami datang dari negara demokratis.
Semua anak ditembak mati – padahal kami mengakunya tentara yang kristiani
                                                                                       Pekan adven 1947

Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku sakit dan air mataku terasa membakar mata, terutama kalau aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka terbelalak, ketakutan dan tak faham.

Aku tidak bisa menyebut namaku, karena informasi ini tidak disukai kalangan tertentu.(radionederland)

Dari Rawagede, Menggugat Kejahatan Belanda

Rawagede telah hilang, namanya diganti menjadi Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang. Letaknya  di antara Karawang dan Bekasi. Kini, 64 tahun berlalu, persoalan hukum Rawagede belum juga selesai.

Keluarga korban pembantaian mengajukan gugatan di Pengadilan Distrik Den Haag pada Rabu 9 Desember 2009. Diwakili oleh Liesbeth Zegveld, para keluarga korban meminta pemerintah Belanda mengakui kekejaman yang mereka lakukan di Rawagede. Mereka juga menuntut kompensasi.

Seperti dimuat laman Earth Times, kuasa hukum penggugat, Liesbeth Zegveld mengatakan keluarga korban juga meminta pemerintah Belanda mengakui kekejaman yang mereka lakukan di Rawagede. Mereka juga menuntut kompensasi.

Pada 9 Desember 1947, di hari nahas itu, pasukan kolonial Belanda dengan dalih mencari gerombolan pengacau memasuki Desa Rawagede. Berdasarkan hasil investigasi pada 1969, pasukan kolonial membunuh 150 penduduk desa laki-laki.

Namun, menurut versi saksi mata dan Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) delapan korban. Pembantaian itu menewaskan 430 penduduk pria Rawagede.

Pembantaian Rawagede diyakini merupakan tindakan kriminal paling kejam, paling brutal, dan paling berdarah yang dilakukan Belanda dalam kurun waktu 1945 sampai 1949. Namun, di Belanda, selama beberapa dekade, pembantaian Rawagede hanya dianggap konsekuensi dari aksi polisi yang mengejar para pengacau.(vivanews)

Pengadilan Den Haag hari ini (Rabu, 14 September 2011) mengabulkan tuntutan dari keluarga korban kejahatan perang di Desa Rawagede, Jawa Barat, tahun 1947 untuk penggantian kerugian yang diderita.

Seperti dikutip dari laman Radio Netherland Siaran Indonesia, pengadilan menolak alasan pihak Kerajaan Belanda yang menyatakan bahwa kasus ini telah kadaluarsa. Namun, catatan diberikan oleh pihak pengadilan yakni hak pengganti kerugian hanya diperuntukan keluarga korban langsung dari pembantaian itu.(vivanews)

Guru Besar Ilmu Hukum Internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menanggapi positif dikabulkannya tuntutan para keluarga korban tragedi Rawagede dari pihak pemerintah Belanda.

Menurutnya, terdapat dua hal yang menjadi catatan positif jika berkaca dari kejadian ini. Pertama, gugatan ganti rugi yang notabene-nya ialah sisi perdata dapat dimenangkan tanpa melalui gugatan pidana terlebih dahulu.

“Karena kalau menunggu proses pidana lalu perdata akan memakan waktu cukup lama. Bisa saja, pelaku sudah tidak ada lagi (meninggal),” ujarnya kepada VIVAnews.com, Jakarta, Rabu malam 14 September 2011.

Kedua, keputusan pengadilan yang tidak menerima argumen pemerintah Belanda yang menyatakan bahwa kasus ini telah kadaluwarsa merupakan suatu terobosan. Dengan adanya keputusan pengadilan ini membuka harapan bagi kasus-kasus lain untuk diungkap.

“Seperti korban kasus Westerling di Sulawesi Selatan dapat melakukan gugatan juga. Sebab, banyak kasus-kasus yang dilakukan Belanda saat berusaha merebut kekuasaan setelah Indonesia merdeka,” tuturnya.

Preseden dari kejadian ini, lanjut Hikmahanto, adalah dapat menjadi contoh bila ada keluarga-keluarga korban Belanda lainnya. “Mereka bisa mengajukan tuntutan ke pemerintah Belanda,” lanjut Hikmahanto.(vivanews)

Semua kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan tidak mengenal kedaluwarsa … masalahnya siapa yang akan memperjuangkannya atasnama kemanusian dan keadilan. Semoga Rawagede menjadi pelajaran yang berharga bagi bangsa Indonesia

About these ads

20 comments on “Rawagede Menggugat

  1. DARUSSALAM
    September 15, 2011

    baru tahu ana ada peristiwa sadis yg tak dipublikasikan lewat buku2 sejarah, kejam banget nih tentara belanda…..

    ——————
    Kopral Cepot : buku2 sejarah … apalagi buwat pelajaran sekolah hanya merupakan generalisasi kurang menampilkan kronologi sehingga kekejamannya ternafikan.

  2. ejawantahblog
    September 15, 2011

    Artikel yang mengulas sejarah dengan pesan moral yang sederhana dan mendalam kang.

    Sukses selalu.
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    —————
    Kopral Cepot : Smoga kita bisa mengambil ibrah-nya .. hatur tararengkyu ;)

  3. ayuu
    September 15, 2011

    rawagede… yang jadi saksi cuma tanah di rawagede sana… gak pernah ditulis di buku tertentu… :) (apa pernah ya? soalnya saya belum pernah baca tentang kasus rawagede di suatu buku sejarah… karena kebanyakan buku sejarah hasil negara selalu dimanipulasi)

  4. gogo
    September 15, 2011

    kenapa baru terblow up skrg ini, kasus lama kok masing belm selese jg.. klo ama China bakal ditindak abis tuh belanda..

    ———–
    Kopral Cepot : Moga kasus ini jadi entry point buat kejahatan perang yang lainnya seperti kasus “Westerling” dll

    • Willie Koen
      Juni 14, 2012

      Saya ingin membaca buku Westerling’s Oorlog. Di mana buku itu dapat saya fotokopi atau saya pinjam? Willie Koen

  5. Wandi Sukoharjo
    September 16, 2011

    Rawagede punika daerah pundi to bos?

    ——————-
    Kopral Cepot : Daerah Karawang mas … diantara Karawang dan Bekasi … itu tuh yg Chairil Anwar Bilang ” Antara Karawang Bekasi” … puisi itu bicara tentang Rawagede

  6. nbasis
    September 16, 2011

    kalo gak double standar maka yg jahat tetap jahat, sampai kemana pun jua, dan sampai kapan pun jua.

    ————
    Kopral Cepot : Pastinya emang seperti itu

  7. nirwan
    September 16, 2011

    Begitu parahnya pelajaran sejarah di negeri jajahan Belanda ini. Luar biasa.

    ——————–
    Kopral Cepot : :lol:

  8. dwi
    September 17, 2011

    Smoga bs mjd pelajaran bagi bangsa yg mudah lupa ini..jgn sampai kasus yg sama tjd di negri ini..penindasan ekonomi,penindasan oleh kekuasaan dll

  9. Rani Fitriani
    September 19, 2011

    semoga ada kemajuan untuk tahun yang akan datang?

  10. Gaptek Update
    September 20, 2011

    weh rawa gede emang mengerikan, pengadilan belanda harus bisa tegak lurus dalam urusan ham ini, jangan melindungi negaranya saja

    salam Satu Hati Dua Jiwa

  11. zahra
    September 29, 2011

    sayah bekerja di salh satu koperasi peternak terbesar di indonesia, koperasi ini sering mendapt bantuan cuma2 dari pemerintah belanda dg alasan balas budi,,tp aneh juga c..apa iyah hanya sekedar balas budi atw mungkin ada udang di balik batu ..wallahua’lam..

  12. Tanto
    Oktober 24, 2011

    Untuk itulah kta sebagai penerus generasi bangsa, harus menghargai jasa para pahlawan kita dengan menunjukkan berbagai prestasi.

  13. Mang Ngkus
    November 10, 2011

    Kasusnya rame Gan, muncul di Tipi tipi nasional dan internasional

    ————–
    Kopral Cepot : Iyah …

  14. Alida Jen Pardede
    Desember 10, 2011

    Sungguh sngt memilukan skali, smoga kejadian ini tdk akn prnah trulang lg di bumi Indonesia ini.

  15. Rahmi Nita Sari
    Desember 29, 2011

    trims atas artikelnya…
    bisa bantu sy dalam mengerjakan tugas kuliah

  16. Indra Ganie
    Februari 15, 2012

    Saya kehilangan anggota keluarga (paman) bernama R Supardan. Beliau gugur pada 08 April 1946 di Front Karawang-Bekasi. Kini beliau bermakam di TMP Kabupaten Karawang. Saya ingin tahu pada tanggal tersebut ada peristiwa/pertempuran apa? Persisnya di mana? Berapa jumlah korban kedua belah fihak (Sekutu dan Republik)? Apakah ada kejahatan perang? Siapa yang tahu? Mungkin berguna, sekurangnya untuk kelengkapan data sejarah perjuangan terutama di Front Karawang-Bekasi. Terima kasih.

  17. Indra Ganie
    Februari 15, 2012

    Saya kehilangan anggota keluarga (paman) bernama R Supardan. Beliau gugur pada 08 April 1946 di Front Karawang-Bekasi. Kini beliau bermakam di Taman Makam Pahlawan Kabupaten Karawang. Terakhir saya berkunjung pada Agustus 2011. Kesan saya, TMP tersebut kurang terurus : sepi (tidak ada pegawai yang berwenang, hanya ada tukang), administrasi tidak terkomputerisasi (daftar tamu dan daftar makam ditulis tangan) dan sejumlah nama pada nisan hilang. Saya harap instansi terkait segera membenahi kekurangan tersebut, dan TMP (kalau bisa se Indonesia) dapat menjadi obyek wisata sejarah yang menarik jika terkelola dengan baik. Terima kasih.

  18. Indra Ganie
    Februari 15, 2012

    Saya harap ke depan bukan hanya perihal penjajahan Barat (termasuk segala kejahatannya) yang disimak, namun juga perihal pendudukan Jepang. Mengingat bahwa pendudukan Jepang yang “hanya” sekitar 3,5 tahun ternyata “menghasilkan” korban tewas yang begitu fantastis, sekitar 4 juta – akibat kekejaman dan kelalaian pemerintah pendudukan. Terima kasih.

  19. miris , tragis ,ironis , ngilu rasanya badan ini setelah membaca ” Rawagede –

    Menggugat ” padahal kita baru saja memproklamirkan diri sebagai negara yang

    baru merdeka . inilah bukti nyata bahwasanya kemerdeka’an kita bukan pemberian

    negara penjajah yang seperti dialami oleh negara tetangga kita ( malaysia maupun

    singapura ) .obsesi saya kapan2 bila negara kita ini lebih maju dari belanda ,akan

    ganti kita yang akan menjajah belanda dan rawagede menjadi saksinya.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 14, 2011 by in Kumpulan Artikel Sejarah, Sejarah Pemberontakan, Wacana Kini and tagged , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: