Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Makam Imam Kartosoewirjo Dikeramatkan

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA; Terlihat dua `makam keramat’ yang dikelilingi pagar bambu dan ubin keramik di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Seperti tertera dalam tulisan, “Salah satu dari makam itu adalah tokoh DI/TII yang dihukum mati oleh pemerintah“.

Tidak dijelaskan siapa tokoh DI/TII yang pernah memberontak terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan membentuk NII (Negara Islam Indonesia). Yang mana di antara dua makam itu merupakan makam tokoh DI/TII yang pada tahun 1949/1962 telah mengobarkan pemberontakan di Jawa Barat.

Kedua makam ini terletak di sisi barat Pulau Onrust yang luasnya tujuh hektare dan tidak jauh dari pemakaman Belanda. Hampir dipastikan, salah satunya adalah makam pemimpin Darul Islam, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, yang dieksekusi di Pulau Onrust pada masa pemerintahan presiden Soekarno tahun 1962.

Menurut keterangan, kedua makam ini telah ‘dikeramatkan’ dan sering diziarahi. Penulis Solichin Salam dalam bukunya Soekarno-Hatta pernah bertanya kepada Bung Karno, “Apakah Bapak pernah menjatuhkan hukuman mati terhadap sesorang?” Bung Karno menjawab, “Pernah. Itu pun hanya sekali dan dengan hati yang berat.”

Yang dimaksudkan adalah ketika ia menandatangani surat keputusan mati untuk Kartosuwiryo. Eksekusi kemudian dilaksanakan di Pulau Onrust, salah satu pulau di kawasan kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Kisah eksekusi ini dimulai pada suatu pagi tahun 1962. Saat itu, Mayjen S Parman, asisten I/menteri panglima angkatan darat (pangad), menghadap presiden Soekarno di istana. Dia –yang kemudian pada 30 September 1965 dibunuh oleh gerombolan G30S– datang dengan membawa berkas dan surat keputusan (SK) hukuman mati Kartosuwiryo untuk ditandatangani oleh Bung Karno.

Namun, Bung Karno meminta Mayjen S Parman kembali lagi setelah Maghrib. Sesudah shalat dan berdoa, barulah Bung Karno menandatanganinya.

*******

Imam Kartosoewirjo Tertangkap

Tanggal 7 agustus 1949 adalah bertepatan dengan Bung Hatta pergi ke Belanda untuk mengadakan perundingan Meja Bundar, yang berakhir dengan kekecewaan. Dimana hasil perundingan tersebut adalah Irian Barat tidak dimasukkan kedalam penyerahan kedaulatan Indonesia, lapangan ekonomi masih dipegang oleh kapitalis barat.

Negara Islam Indonesia diproklamirkan di daerah yang dikuasai oleh Tentara Belanda, yaitu daerah Jawa Barat yang ditinggalkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) ke Jogya. Sebab daerah de-facto R.I. pada saat itu hanya terdiri dari Yogyakarta dan kurang lebih 7 Kabupaten saja ( menurut fakta-fakta perundingan/kompromis dengan Kerajaan Belanda; perjanjian Linggarjati tahun 1947 hasilnya de-facto R.I. tinggal pulau Jawa dan Madura, sedang perjanjian Renville pada tahun 1948, de-facto R.I. adalah hanya terdiri dari Yogyakarta). Seluruh kepulauan Indonesia termasuk Jawa Barat kesemuanya masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia didirikan dan diproklamirkan didalam negara Republik Indonesia. Negara Islam Indonesia didirikan di daerah yang masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda.

Negara Islam Indonesia dengan organisasinya Darul Islam dan tentaranya yang dikenal dengan nama Tentara Islam Indonesia dihantam habis-habisan oleh Regim Soekarno yang didukung oleh partai komunis Indonesia(PKI). Sedangkan Masyumi (Majelis syura muslimin Indonesia) tidak ikut menghantam, hanya tidak mendukung, walaupun organisasi Darul Islam yang pada mulanya bernama Majlis Islam adalah organisasi dibawah Masyumi yang kemudian memisahkan diri. Seorang tokoh besar dari Masyumi almarhum M Isa Anshary pada tahun 1951 menyatakan bahwa “Tidak ada seorang muslimpun, bangsa apa dan dimana juga dia berada yang tidak bercita-cita Darul Islam. Hanya orang yang sudah bejad moral, iman dan Islam-nya, yang tidak menyetujui berdirinya Negara Islam Indonesia. Hanya jalan dan cara memperjuangkan idiologi itu terdapat persimpangan dan perbedaan. Jalan bersimpang jauh. Yang satu berjuang dalam batas-batas hukum, secara legal dan parlementer, itulah Masyumi. Yang lain berjuang dengan alat senjata, mendirikan negara dalam negara, itulah Darul Islam” (majalah Hikmah, 1951).

Ketika Masyumi memegang pemerintahan, M Natsir mengirimkan surat kepada SM Kartosoewirjo untuk mengajak beliau dan kawan-kawan yang ada di gunung untuk kembali berjuang dalam batas-batas hukum negara yang ada. Namun M Natsir mendapat jawaban dari SM Kartosoewirjo “Barangkali saudara belum menerima proklamasi kami”(majalah Hikmah, 1951).

Setelah Imam Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo tertangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1962 regim Soekarno dengan dibantu oleh PKI yang diteruskan oleh regim Soeharto dengan ABRI-nya telah membungkam Negara Islam Indonesia sampai sekarang dengan pola yang sama. Pola tersebut adalah dengan cara menugaskan bawahannya untuk melakukan pengrusakan, setelah melakukan pengrusakkan bawahan tersebut “bernyanyi” bahwa dia adalah anggota kelompok Islam tertentu. Atau melakukan pengrusakan dengan menggunakan atribut Islam. Menurut salah seorang kapten yang kini masih hidup, dan mungkin saksi hidup yang lainnya pun masih banyak, bahwa ada perbedaan antara DI pengrusak dan DI Kartosuwiryo yakni attribut yang dipergunakan oleh DI pengrusak (buatan Sukarno) berwarna merah sedangkan DI Kartosuwiryo adalah hijau. Sebenarnya Negara Islam Indonesia masih ada dan tetap ada, walaupun sebagian anggota-anggota Darul Islam sudah pada meninggal, namun ide Negara Islam Indonesia masih tetap bersinar di muka bumi Indonesia. (sumber: swaramuslim )

Menarik untuk disimak sebuah kejadian di akhir-akhir persidangan dimana MAHADPER memutuskan eksekusi mati terhadap diri Kartosoewirjo, adalah upaya dari pihak keluarga Kartosoewirjo dalam hal ini diwakili oleh anak-anaknya, meminta kepada pihak pengadilan untuk menyaksikan eksekusi. Namun dari pihak MAHADPER setelah berkonsultasi dengan Presiden Soekarno tidak mengabulkan permintaan tersebut. Panglima Kodam Jaya Umar Wirahadikusuma telah memerintahkan untuk melaksanakan keputusan MAHADPER dan menyusun regu tembak yang terdiri dari keempat angkatan.

Pada tanggal 4 September 1962 Kartosoewirjo minta diri dari keluarganya dan keesokan hari di pagi buta, Kartosoewirjo bersama-sama dengan regu penembak dibawa dengan sebuah kapal pendarat kepunyaan Angkatan Laut dari pelabuhan Tanjung Priok ke sebuah pulau di teluk Jakarta. Pada pukul 5.50 WIB, hukuman mati dilaksanakan dan beliau menemui syahidnya dihadapan regu tembak disaksikan 7 orang Jenderal RI. Seorang Ulama, Mujahid dan Intelektual yang konsisten telah menyirami bumi ini dengan tetesan darahnya.

About these ads

26 comments on “Makam Imam Kartosoewirjo Dikeramatkan

  1. Ping-balik: Tweets that mention Makam Imam Kartosoewirjo Dikeramatkan « Biar sejarah yang bicara …….. -- Topsy.com

  2. Bupil.com
    Mei 15, 2010

    Wah, makasih infonya mas

  3. Abdul Aziz
    Mei 17, 2010

    “Apakah Bapak pernah menjatuhkan hukuman mati terhadap sesorang?” Bung Karno menjawab, “Pernah. Itu pun hanya sekali dan dengan hati yang berat.”

    Menarik tanya jawab ini. Bung Karno dengan berat hati “menghukum” mati, tapi sekarang dengan mudahnya melakukan serangkaian pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh teroris. Kumaha tah Kang ?

  4. majorprad
    Mei 18, 2010

    Seharusnya semua pribumi membaca tulisan beliau di fajar asia…

    ——————–
    Kopral Cepot : Fadjar Asia yang mana yah ;)

    • majorprad
      Mei 20, 2010

      Fadjar Asia edisi 9 Februari 1929 sepertinya kang… :D

      • majorprad
        Mei 20, 2010

        sedikit kutipannya,

        …DENGAN ISLAM KITA HIDOEP DAN DENGAN ISLAM POELA KITA MATI
        Tiap2 orang Islam, atau jang Islam hanja dalam pengakoeannja sekalipoen, mesti berani bersedia oentoek mendjadikan tiap2 koerban oentoek membela Agama Allah, Agama Islam, oentoek mendjoendjoeng deradjat sebagai oemmat, boeat mema’moerkan tanah toempah darahnja. Itoelah kewadjiban orang Islam Indonesia.Itoelah kewadjiban oemmat Islam Indonesia. Itoelah kewadjiban oemmat Islam sedoenia.

        S.M. Kartosoewirjo, Fadjar Asia 9 Februari 1929

  5. Ping-balik: SBY Bilang Negara Islam Sudah “Selesai” « Biar sejarah yang bicara ……..

  6. wardoyo
    Mei 18, 2010

    Pas banget artikelnya dengan statement pemerintah baru-baru ini.
    Hmmm, pemahaman tentang ide NII itu menjadi pergulatan panjang di kalangan para pemimpin umat. Ada pro dan kontra yang tak berujung. Salut untuk bung Cepot yang mengangkat isu sensitif ini dengan kacamata yang jernih…

  7. Ping-balik: SBY Bilang Negara Islam Sudah “Selesai” « Biar sejarah yang bicara ……..

  8. Muslih
    Mei 29, 2010

    bila kita membaca tulisan-tulisan beliau maka bisa dipastikan beliau adalah seorang ulama besar se-Asia Tenggara pada jamannya..

  9. BaNi MusTajaB
    Mei 31, 2010

    Selalu ada peluang untuk merehabilitasi nama SM Kartosuwirjo.

  10. itempoeti
    Juni 1, 2010

    jangan2 begitu dibongkar isinya kosong… :D

  11. priyo
    Agustus 28, 2010

    hormat grak..

  12. citromduro
    Agustus 28, 2010

    ulama jaman dulu ludahnya saja tidak bisa terinjak karena mantabnya dalam zikrullah

    salam dari pamekasan madura

  13. jaluja
    Agustus 21, 2011

    apakah benar imam wafat dgn cara yg wajar di garut. jujurlah dgn sejarah. ini rekayasa siapa?

  14. nirwan
    September 23, 2011

    Mengapa Soekarno berat menandatanganinya? Dia tak rela?

    ———–
    Kopral Cepot : tentunya ;)

    • nirwan
      September 24, 2011

      Kok tidak rela? Kalau tidak rela, mengapa dia menandatangani? Dari mana Solichin Salam mendapatkan dialog itu? Dari wawancaranya dengan Soekarno. Mengapa Solichin tidak mengejar jawaban “..dengan hati yang berat” itu? Mengapa Soekarno merasa berat?

      ————
      Kopral Cepot : “… saya kurang tau pasti … hanya menurut saya Soekarno amat pandai membuat “kata-kata penghibur” seperti saat umat Islam kecewa dari peristiwa “tujuh kata Piagam Jakarta” … dan bujukan maut pada Tengku Daud Beurueh. … kata “dengan hati yang berat” dia tahu bahwa yg bakal di hadapi bukan yang sudah mati tetapi yang masih hidup…”

    • asep
      Desember 22, 2011

      karena Soekarno tahu bahwa asyahid SMK telah dijadikan tumbal untuk kekalnya jabatan presiden RI

  15. Ping-balik: Hari Terakhir Kartosoewirjo « Biar sejarah yang bicara …….

  16. Panglima Kumbang
    September 5, 2012

    mudah-mudahan Imam SMK menjadi syahid, mungkin ini untuk memperjuangkan syariat islam yang paling benar pada jamannya.

    Telah diberitahukan kepada umat Islam di seluruh dunia bahwa telah di didirikan kekhalifahan umat Islam penerus kekhalifahaan setelah tahun 1924, dan telah berdiri beberapa amir di beberapa negara dan masul-masul disetiap wilayah http://www.khilafatulmuslimin.com/

  17. agung
    Oktober 29, 2012

    ass.wr.wb, mohon maaf mas, saya yang ketinggalan info dan berita, akhir2 ini ada dugaan bahwa imam kartosuwiryo itu masih hidup, apakah benar ini ? cerita bahwa eksekusi itu sebenarnya tidak dilakukan, benar atau tidak ya? maturnuwoonn

  18. Amir Ma'ruf Moxer
    Desember 23, 2012

    semoga ALLAH SWT,menempatkan as syahid S.M KERTOSOEWIRYO DISISI NYA…AMIIN…

  19. Eko Bayu Lesmana
    Februari 28, 2013

    Suatu pelajaran yang bagus untuk kami semua para generasi muda
    Semoga Bapak S.M KERTOSOEWIRYO disisinya . Amin O:)

  20. Hendra Gunawan, SS
    Juni 13, 2013

    Maaf saya pernah ke Pulau Onrust dan menemukan makan kramat tokoh masyarakat yang berjuang melawan tanam paksa, jadi itu bukan makam Bapak Kartosuwiryo, Beliau makamnya di Pulau OBi atau Ubi di Kepulauan Seribu. Hanya ada keanehan Beliau berdoa minta meninggal sebelum ditembak dan doanya dikabulkan. Selanjutnya sebagian jenderal yang menyaksikan Beliau di Pulau OBi atau Ubi di Kepulauan Seribu wafat malah ditembak PKI di Lubang Buaya. Artinya PKI tidak percaya Pada Ketuhanan Yang Maha Esa kok malah dijadikan sekutu dalam Nasakom. Seharusnya yang dibuat adalah Naga: Nasionalis-Agama-Aliran Kepercayaan. Jasa Soekarno pada Islam juga tidak kecil hanya ini tidak diketahui oleh Bapak Kartosuwiryo. Pak Karno pernah minta kepada Presiden Uni Sovyet (waktu perang dingin) agar pelarangan ziarah ke Makam Imam Bukhori dicabut dan ini dikabulkan!. Bung Karno juga yang minta agar para wanita Bali menutup dadanya! maklum pada zaman penjajahan Belanda wanita-wanita Bali umumnya telanjang dada. Kalau tidak percaya lihat foto-foto wanita Bali pada zaman penjajahan Belanda sebelum Bung Karno datang kesana!. Yang membedakan Bung Karno dan Bung Kartosuwiryo adalah pada fikih dakwahnya/ tahapan dakwah dipriode Mekkah. Hukum mati terhadap Bung Kartosuwiryo membuktikan kalau hukum qishos itu masih bisa berlaku di NKRI. Ingat peristiwa penembakan Bung Karno disaat sholat hari raya? karena ada korban maka ada hukum qishos. Mudah-mudahan para koruptor yang membangkrutkan negara ini juga bisa dihukum mati sesuai dengan hukum pidana Islam. Amiin. Woullohua’lam.

  21. putudalang
    Maret 19, 2014

    politik oh politik.

  22. rahmat karman
    Mei 15, 2014

    7 hari sebelum ayah ku meninggal tgl 20 pebruari 2012. beliau bercerita ttg SM Kartosuwirjo. ayahku seorang Prajurit TNI yang tidak ikut hijrah ke Jogja. alasannya #Tanah tatar pasundan tanah leluhur kami# yang lain hijrah ke jogja (kodam siliwangi) ayahku beserta kawan2 nya 10 orang ikut serta bahu menbahu mempertahankan wilayah jawa barat bersama pasukan DI TII dari agresi belanda. ayahku pernah di undang oleh SM Kartosuwirjo di salah satu Goa letaknya d gunung sireum (saya tdk tahu percis letaknya itu berada d wilayah gunung mana). tp ayah ku tetap mengaku seorang TNI, SM Kartosuwirjo mengenal ayahku dan sebaliknya ayahku mengenal beliau. ada beberapa hal yang susah saya sebutkan tentang kedekatan beliau SM Kartosuwirjo dengan ayahku. yang pasti ayahku di penggal masa karirnya di meliter selama 9 tahun dan tdk sebagai pasukan angkatan 45. ayahku juga sangat menganal jendal ahmad yani. sampai2 sebelum (ayahku) meninggal dia memakai baju piyama seperti ahmad yani dan SM Kartosuwirjo. ayahku meninggal sehabis puasa sunah hari senin telah adzam magrib sehabis sholat. dia meninggal karna udzur usianya 87 th.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

  • Komentar di Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih oleh Bhatara Simatupang September 17, 2014
    Mmng kalo kita brbicara sejarah Bangsa Batak baik tokoh maupun adat selalu trbentur dgn Agama. Dr literatur sejarah yg saya baca karangan Lance Castle - Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera ; TAPANULI, d situ d singgung ttng ajaran dan agama yg d jalankan SM RAJA XII agama "PARMALIM" tp coba kita telaah dari segi dan turunan Bahasa dari […]
    Bhatara Simatupang
  • Komentar di Mempersoalkan “Agama” Sisingamangaraja XII oleh Borpati September 17, 2014
    Benar adanya dan saya sependapat bahwa Sisingamangaraja tidak menganut agama mana pun (tidak: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha). Tidak juga agama atau kepercayaan PARMALIM. Perlu dicatat bahwa Istilah "agama/Kepercayaan PARMALIM" baru muncul pasca Sisingamangaraja XII, bersendikan ajaran BATAK asli dan kepercayaan Batak Asli yang dijalankan o […]
    Borpati
  • Komentar di Syarif Hidayatullah; Sunan Gunung Jati oleh Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten September 17, 2014
    Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain semoga tuhan mempercepat kebangkitan kaum Muslim, memulihkan kejayaan kaum Muslim, melindungi kaum Muslim dari kesesatan – terutama kemurtadan, memberi kaum Muslim tempat yang mulia diakhirat (khususnya Syarif Hidayatullah) – terutama mempertemukan kita di surga dengan […]
    Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten
  • Komentar di Raden Fatah alias Al-Fatah; Sang Pemimpin Muda oleh Raden Fadzly September 17, 2014
    saya adalah salah seorang keturunan Raden yg hidup di Pulau Pinang Malaysia... Terima kasih kerana berkongsi.... apa yang saya ingin tekankan adalah Moyang Raden Fatah memperjuangkan agama Islam dengan kuat pada usia beliau... Islam begitu gemilang ketika itu...
    Raden Fadzly

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: