Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (T.A.S) ; Jurnalis – Organisatoris – Propagandis

~ Usia bukanlah berapa lama kita hidup, tetapi berapa lama kita akan dikenang dalam kehormatan…

Membaca TirtoSeorang besar acapkali baru terasa kadar kebesarannya tatkala dia sudah tiada. Dan selalu saja kita terlambat menyadarinya. Tak terbilang tokoh yang terlepas dari kesadaran historis kita, entah karena pemburaman ‘sejarah’ yang memang sering dikuasai kaum yang menang atau lantaran kita tak pernah sungguh-sungguh jujur dalam menilai kembali ‘sejarah’ kita sendiri. Dan karenanya, kita telah melupakan satu nama: Tirto Adhi Suryo. Sungguh ironis, mengingat dia adalah sosok paling penting bagi bangkitnya pergerakan kaum terdidik Indonesia. Tirto, pertama-tama harus diletakkan dalam setting sosial pergerakan nasional bangkitnya pers pribumi, pintu gerbang bagi, terutama, kaum terjajah ke alam demokrasi modern. Dan Tirto lah sang pemulanya. Tulisan-tulisannya yang tajam mengajarkan kaum terjajah untuk bangkit dan berani melawan kesewenangan kolonial, menjadi kaum mardika.

Pram (Pramoedya Ananta Toer), adalah salah satu sastrawan Indonesia yang paling berhasil menghidupkan kisah seorang tokoh nyata ke dalam roman bertema sejarah. Dalam karya novel fenomenalnya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), Pram mengangkat sepak terjang tokoh kelahiran Blora, Jawa Tengah, yang digelari Bapak Pers Nasional, yaitu Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918).

Dalam kisah yang dibuatnya pada masa pengasingan di Pulau Buru (1969-1979) itu, Pram menghidupkan sosok Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dalam pribadi tokoh bernama Minke.

Meski sebagai putra seorang bangsawan Jawa, sosok Minke digambarkan Pram sebagai tokoh yang merangkak dari bawah untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya di hadapan penjajah Belanda.

Pada Bumi Manusia, Pram menggambarkan awal kisah cinta dramatis Minke dengan Annelies, Bunga Akhir Abad, seorang peranakan Belanda dengan pribumi bernama Sanikem yang kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ontosoroh. Sosok Nyai Ontosoroh yang tegar dan lebih terpelajar ketimbang orang Belanda kemudian menjadi guru panutan Minke di kemudian hari.

Diawali dengan mengeyam pendidikan di sekolah Belanda HBS, Minke kemudian masuk sekolah kedokteran STOVIA di Batavia, dia kemudian lebih senang dengan dunia tulis-menulis sehingga pendidikannya terbengkalai dan dia dikeluarkan dari sekolah kedokterannya.

Pada awal kiprahnya menulis untuk surat kabar, Minke menulis dalam bahasa Belanda, bahasa penjajah yang ketika itu hanya mampu dibaca oleh golongan atas terpelajar, bukan masyarakat kelas bawah, pribumi.

Hingga akhirnya suatu kali dalam Anak Semua Bangsa, Minke diperingatkan oleh sahabatnya seorang pelukis Prancis mantan tentara berkaki buntung, Jean Marais. Dia mengatakan bahasa Melayu lebih banyak dipergunakan di Hindia Belanda ketika itu ketimbang bahasa Belanda.

“Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu. Kau tak kenal bangsamu sendiri,” kata Jean Marais.

Sebuah dakwaan yang menyakitkan bagi Minke, sekaligus membangkitkan didih semangat. Kata-kata itu kemudian selalu terngiang di kepalanya.

Orang bilang, ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya. Sejak saat itu Minke tahu benar akan tujuan hidupnya dan bertekad menyadarkan masyarakat bangsanya dengan menulis dalam bahasa Melayu. Dia bahkan dikisahkan belajar langsung mengenal seluk beluk kehidupan rakyat jelata dari seorang petani Jawa bernama Trunodongso.

Pengalaman hidup tinggal bersama keluarga Trunodongso dan merasakan sendiri pergulatan mereka membawanya kepada kesimpulan: dunia harus tahu bagaimana para petani Jawa terusir dari sawahnya. Dunia harus tahu selama ini rakyat jelata mengalami ketidakadilan. Minke kemudian menuliskan kisah kehidupan Trunodongso dalam bahasa Melayu.

Sepak terjang Minke atau Tirto Adhie Soerjo dalam perannya mendirikan organisasi dan surat kabar digambarkan Pram dengan lebih gamblang dalam Jejak Langkah.

Pada buku ketiga dari Tetralogi Buru ini Minke dikisahkan mendirikan organisasi pribumi pertama di masa pergerakan nasional yaitu Sarekat Priyayi pada 1904. Tiga tahun kemudian, pada 1907, dia mendirikan surat kabar dengan nama Medan Priyayi di Bandung. Koran ini dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Dengan Medan Priyayi Minke menjadi sosok yang lebih berani terang-terangan menyatakan ketidakadilan dan kebusukan penjajah Belanda hingga dia akhirnya harus ditangkap dan diasingkan.

Di penghujung perjalanan hidupnya dalam Rumah Kaca, Minke tetap dikagumi tak hanya oleh bangsanya sendiri tapi juga oleh penjajah Belanda. Dia tetap menyatakan perlawanannya terhadap penjajah dan menyerukan kebangkitan kesadaran kepada bangsanya, seperti tertuang dalam kata-kata yang diucapkannya menjelang akhir hayat:

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”

Karya Pram ini mendapat penghargaan dari seluruh dunia dan diakui sebagai karya sastra terbaik. Karya ini sempat dibredel saat Orde Baru berkuasa karena dianggap menyebarkan paham Marxisme. Walau lagi-lagi tak jelas, mana paham Marxisme yang terdapat di buku ini.

Membaca Tirto lewat Sang Pemula

Jika dalam Tetralogi yang di tulisannya semasa di pengasingan Pulau Buru 1969-1979 Pramoedya menceritakan sosok Tirto dalam roman sejarah melalui kisah hidup tokoh Minke maka dalam Sang Pemula Pramoedya menggambarkan sepak terjang Tirto dalam bentuk biografi.

T.A.SRaden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS) lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 1880. Djokomono adalah nama masa kecilnya. Putra bangsawan Jawa ini mengenyam pendidikan di sekolah HBS Belanda kemudian melanjutkan studi sebagai mahasiswa kedokteran di STOVIA, Batavia. Namun TAS tak menyelesaikan sekolah dokternya lantaran dia lebih sibuk menulis di media massa.

Perjalanan nasib membawanya pindah ke Bandung dan menikah. Di Bandung TAS menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) serta Putri Hindia (1908). Medan Prijaji beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK).

Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh proses produksi dan penerbitannya ditangani pribumi Indonesia asli.

menengok-sisa-sisa-kejayaan-medan-prijaji-di-bandungMenurut catatan Dr. Rinkes, Medan Prijaji diminati oleh masyarakat karena dalam salah satu rubrik terdapat penyuluhan hukum gratis. Simpati pun datang melimpah dari masyarakat hingga pada tahun ketiga tepatnya Rebo 5 Oktober 1910, Medan Prijaji berubah menjadi harian dengan 2000 pelanggan.

Medan Prijaji merupakan Koran pertama di Indonesia dibawah naungan TAS. Koran ini dianggap sebagai Koran pertama di Indonesia. Koran pertama ini disebabkan hampir seluruh karyawan Medan Prijaji adalah Boemi Poetra atau penduduk Indonesia dengan menggunakan bahasa melayu.

Koran yang berpusat di kota Bandung ini memposisikan diri sebagai corong suara publik dengan moto “Orgaan Boeat bangsa jang terperentah di H.O. tempat akan memboeka swaranya anak-Hindia” salah satu moto yang dianggap berani dan membentuk opini umum.

Tulisan-tulisan TAS yang begitu berani langsung menuding muka orang. Tak ada bijakan kolonial yang dianggap memberatkan rakyat luput dari penanya. Koran ini benar-benar menjadi ajang”perkelahian” dibeberapa daerah seperti Banten, Rembang, Cilacap, Bandung. Tulisan-tulisannya kerap diperkaarakan oleh ppihak yang merasa disudutkan dari pemberitaannya.

Salah satu kasus dari sekian banyak tulisan di muat pada Medan Prijaji No. 19-1909 mendappat dukungan 236 warga desa Bapangan Purworejo yang pasang badan. Pada gilirannya tulisan ini memuat TAS dibuang selama 2 bulan di Lampung. Kasus ini kemudian mendapat perhatian pers Belanda.

Selain di bidang pers, TAS juga aktif dalam pergerakan nasional. Dua tahun sebelum Budi Utomo lahir TAS telah mendirikan Sarekat Priyayi, organisasi pribumi pertama bercorak modern, berwawasan bangsa ganda Hindia, dan menggunakan lingua pranca Melayu sebagai bahasa bangsa-bangsa yang terperentah. Syarikat Priayi berhasil melahirkan Medan Priyayi pada 1907 yang membuat nama TAS semakin menonjol.

Kemudian TAS mendirikan Sarikat Dagang Islam di Jakarta yang kelak berubah menjadi Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto.

Pada tahun 1909, TAS membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon. Delik pers pun terjadi, TAS dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun TAS memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat, keturunan Bupati Bojonegoro) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.

Pada pertengahan kedua tahun 1910, Medan Prijaji diubah menjadi harian ditambah edisi Mingguan, dan dicetak di percetakan Nix yang beralamat di Jalan Naripan No 1 Bandung. Masa kejayaan Medan Prijaji antara 1909-1911 dengan tiras sebanyak 2000 eksemplar.

Pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Di tahun 1912 Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami Raden Adjeng Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan di Halmahera selama 6 bulan.

Sekembali dari Ambon, pada 1914-1918, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada 7 Desember 1918. Mula-mula dia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973.

Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia, Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.

Pada tanggal 7 Desember 1918, seperti digambarkan oleh mas Marko, seorang murid dan pengagum Tirto, dalam tulisannya: “dengan diantar rombongan sangat kecil jenazahnya dibawa ke peristirahatan terakhirnya di Mangga Dua.” Tak satupun koran memuat kabar kematiannya. Ia benar-benar telah dilupakan oleh bangsanya, yang dicintai, dan dididiknya untuk maju. Sementara itu, perjuangan pembebasan umat manusia, yang merupakan bagian terbesar dari seluruh perjuangan hidup dan cita-cita Tirto Adhi Soeryo, lambat laun mengalun. Ia telah terbaring tenang.

Sebagaimana ditulis Pram dalam Sang Pemula: “ Seperti jamak menimpa seorang pemula, terbuang setelah madu mulia habis terhisap, sekiranya ia tak mulai tradisi menggunakan pers sebagai alat perjuangan dan pemersatu dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana sebuah nation seperti Indonesia akan terbentuk?” **

Pramoedya dalam Sang Pemula seolah ingin menyeru sekaligus menunjukkan kepada bangsa ini bahwa Indonesia pernah punya seorang pejuang berpena tajam pembela kaum tertindas yang ditakuti penjajah Belanda. Sebagaimana ditulis Pramoedya dalam Jejak Langkah, tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.

Melalui sosok TAS, Pramoedya sesungguhnya mengingatkan akan pentingnya keberanian dalam menulis. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Benarkah Tirto seorang komunis?

Berkat Pram, sosok Tirto mulai dikenal. Tapi karena Pram pula Orde Baru menganggap Tirto adalah seorang komunis. Pramoedya adalah tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang dicap sebagai organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Orde Baru. Pram juga sempat dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik.

Karena itu peran Tirto seolah tersisihkan dari sejarah.Pemerintah Indonesia baru memberikan gelar pahlawan Nasional pada tahun 2006. 100 Tahun setelah Tirto mendirikan surat kabar Medan Prijaji tahun 1906. Inilah surat kabar pertama yang dikelola pribumi dan berani mengkritisi pemerintah kolonial Belanda.

Sebelumnya Tahun 1973 pemerintahan Soeharto merasa cukup dengan memberikan gelar ‘Perintis Pers Indonesia’ pada Tirto.

Keluarga Tirto pun meyakini leluhur mereka bukan seorang komunis. Okky Tirto adalah keturunan Tirto yang menjadi wartawan, aktivis sekaligus pemerhati sejarah. Pada merdeka.com, dia membeberkan langkah politik Tirto.

“Paham komunis yang dibawa HFJ Sneevliet itu baru masuk sekitar tahun 1913. Sementara kalau kita lihat tahun 1913 itu Tirto sudah mengalami kemunduran. Koran-koran Tirto sudah dibredel semua dan dia dibuang ke Ambon. Jadi tentu Tirto bukan komunis, karena komunis baru muncul setelah karir politik Tirto berakhir,” kata Okky.

Okky menilai Pram mengidolakan Tirto bukan karena Tirto seorang komunis. Tetapi lebih karena peran Tirto di awal kebangkitan nasional. Tirto adalah tokoh terpenting saat awal pergerakan nasional. Dia menjadikan pers sebagai bentuk perlawanan pada kolonialisme.

Secara sederhana ideologi yang digunakan Tirto adalah menyatukan semua golongan senasib. Semua dipersatukan sebagai kaum terjajah atau yang disebutnya bangsa yang terprentah. Sementara Tirto menyasar golongan menengah untuk bergerak. Dia berpendapat kelas menengah bisa mendorong perubahan.

Hal ini terlihat dari slogan surat kabar Medan Prijaji yang didirikannya. “Bagi raja-raja, bangsawan baik usul dan pikiran (kaum intelektual), priyayi, hingga saudagar yang dipersamakan dengan Anak Negeri di seluruh Hindia Belanda.”

Tirto mendirikan organisasi modern pertama ‘Sarikat Prijayi’ tahun 1906. Dua tahun sebelum Boedi Utomo lahir tahun 1908. Sarikat Prijaji dinilai lebih mencerminkan nasionalisme karena menggunakan bahasa Melayu dan keanggotaannya bebas. Sementara Boedi Utomo berbahasa Jawa dan khusus untuk priyayi Jawa.

Sarikat Priyayi didirikan di Batavia. Organisasi awal ini bertujuan membantu para pelajar dengan menyediakan pemondokan, beasiswa dan buku-buku.

Tirto juga bergabung dengan Boedi Oetomo. Tapi dia tidak kerasan karena Boedi Oetomo lebih didominasi tokoh-tokoh tua yang tidak progresif.

Tahun 1909, Tirto mendirikan Sarikat Dagang Islamiyah (SDI). Perkumpulan ini dibuat untuk melawan monopoli pedagang China. Tirto menyebut anggota serikat ini ‘Vrije Burgers’ atau ‘Kaum Mardika’. Mereka yang menggantungkan hidupnya bukan sebagai pegawai kolonial Hindia Belanda. Kaum Mardika ini beranggotakan masyarakat menengah yang bekerja sebagai pedagang dan petani.

Memang pada perkembangannya SDI berkembang menjadi Sarikat Islam. Kemudian beberapa tokoh Sarikat Islam terpengaruh komunis dan sehingga ada aliran SI perah dan SI putih. Tapi itu terjadi tahun 1919, saat Tirto sudah meninggal dan tak lagi mengurusi SDI sejak lama.

Tirto memang bukan komunis, tapi sejarawan Orde Baru tak pernah mengkajinya. Tanpa takaran yang jelas, enak saja cap komunis atau bukan komunis diberikan pada seseorang. Maka gelar pahlawan buat tokoh ini pun harus menunggu 100 tahun.

Jangan salahkan ketidaktahuan, tapi hanya yang bebal yang tetap hidup dalam ketidakmengertian…

*Referensi :

About these ads

18 comments on “Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (T.A.S) ; Jurnalis – Organisatoris – Propagandis

  1. Hasprabu
    Februari 11, 2013

    Kita orang soenggoeh soeka akan tjerita TAS, apa jang dia orang Toean Tjepot telah tampilken di ini tempat. Sebagai daripada kaoem jang misih hidoep di ini waktoe, kiranja penting oentoek teroes inget dan bangkitken semangat tjinta akan sedjarah itoe. http://www.hasprabu.com.

  2. maman mutarman
    Februari 12, 2013

    Sudut pandang berbeda tentang TAS dalam “Api Sejarah”: TAS membentuk Sarekat Dagang Islamijah sebagai tandingan bagi Syarikat Dagang Islam H. Samanhoedi. Pak Mansur mengemukakan data-data adanya dukungan dari pemerintahan kolonial Belanda kepada SDI Tirto ini. Di samping itu, sepanjang pengetahuan saya, SI adalah organisasi yang merupakan kelanjutan Syarikat Dagang Islam, bukan Sarekat Dagang Islamijah, dan H.O.S. Tjokroaminoto adalah pelanjut H. Samanhoedi, bukan pelanjut Tirto Adhi Soerjo.
    Dari sudut pandang ini, kiprah Tirto di panggung perjuangan kemerdekaan bangsa layak dipertanyakan, bagi kepentingan siapakah ia “bermain”? Mungkinkah ia seorang “pion” kolonial yang digunakan untuk menghadang gerakan umat Islam, pelopor perjuangan kemerdekaan bangsa yang sebenarnya? Permainan semacam ini saya kira amat lazim dilakukan penjajah di mana pun. Kalaupun faktanya TAS kemudian dibuang pemerintah kolonial Belanda, bukankah lazim juga “pion” itu dikorbankan untuk kepentingan “Sang Raja”?
    Adakah data-data/referensi lain sebagai bahan diskusi untuk meng-clear-kan wawasan kesejarahan saya?

    • diko
      Februari 12, 2013

      Alhamdulillah akhirnya forum ini semakin hidup saja. tapi terus terang saya masih belum menemukan benang merah dari mbah TAS ini om. sebelumnya ane pernah baca di :
      # Ahmad Mansur Suryanegara. Api Sejarah 1. hal:351.
      #”Amelz. “H.O.S Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya 1″. hal 93
      sekarang ada lagi dari om kopral yang ini:
      # Merdeka.com
      # Berdikarionlien.
      # Koran Suara Rakyat.com
      mohon pencerahannya ya om.
      Haturtrangkyu

      • Kopral Cepot
        Februari 12, 2013

        kayaknya enggak perlu benang merah… tulisan diatas rujukan utamanya dari karya Pram, Tetralogi Buru (Novel Sejarah) dan Sang Pemula. Kalo yang kang Maman itu dari “Api Sejarah” Prof. Ahmad Mansur Suryanegara.. Pram dan AMS emang beda he he he ;)

        nah kalo yg dari Amelz gimana?

        • maman mutarman
          Februari 13, 2013

          Barangkali keputusan Kongres PSI tentang “algemeene discipline” (terj. “disiplin umum”) kepada Muhammadijah, yang intinya adalah larangan keanggotaan ganda Muhammadijah dan SI, dapat menjadi satu data penguat tentang berseberangannya posisi TAS (SDIslamijah) dengan Samanhoedi-Tjokro (SDI-SI). Keluarnya keputusan “algemeene discipline” kepada Muhammadijah antara lain disebabkan oleh sikap dan tindakan Muhammadijah menerima subsidi dari pemerintah kolonial Belanda, perusahaan gula, dan perusahaan-perusahaan Barat lainnya.
          Kesimpulannya, PSI (yang merupakan kelanjutan SDI-SI) memiliki sikap yang sangat tegas terhadap bantuan dana kolonial, yakni menolak mentah-mentah setiap subsidi kolonial. Bukankah sikap ini bertentangan dengan TAS yang jelas-jelas mendapat sokongan dana dan berbagai fasilitas pemerintah kolonial?

          Apakah Pram sedang berpihak pada obyektivitas dengan tulisan-tulisan tentang TAS dalam tetraloginya? Sepintas saja kita bisa merasakan bahwa tulisannya sangat membesar-besarkan TAS (juga Mas Marco, seorang tokoh “kiri”), sebaliknya tulisannya dalam tetralogi tersebut jelas-jelas mengandung nada melecehkan Samanhoedi (Haji Samadi, begitu Pram menyebutnya) dan Tjokroaminoto. Tapi… kita maklum lah. Salah kalau kita mengharapkan obyektivitas dari subyek “Kiri”.

          Haturtrangkyu

    • N
      Juli 10, 2013

      Ya mungkin lebih baik baca buku Sang Pemula itu, toh sumber primernya juga dilampirkan :)

  3. MSF
    Februari 14, 2013

    kang maman mutarman memberi point yang tepat: baik n bagus.
    terima kasih.
    salam

  4. Hasprabu
    Februari 14, 2013

    Betoel sodara, Memang daripada sedjarah itoe sangetlah terpengaroeh daripada djaman di itoe saat, atawa politiek jang ianja itoe sedang berkoeasa. Sehingganja tamtoelah toelisan sedjarahnja itoe banjak warna daripada jang sedang memerintah.Soepaja objetief, diperloeken batjaan bandingannja…

  5. maman mutarman
    Februari 14, 2013

    Om Cepot, ini blog sudah bagus banget. Cuman, ada saran nich, coba kalau ada fitur “search” kayaknya lebih top lagi.
    Haturtrangkyu
    Wassalam

    • Kopral Cepot
      Februari 14, 2013

      Udah ada kang.. cuman judulnya “Obrak-abrik ^_^”
      Kalo ingin jelajah semua bisa di lihat di “Mirip Daftar Isi”

      Hatur tararengkyu udah berbagi disinih

  6. doktertoeloes "swiss van java"
    Februari 15, 2013

    akhirnya th.2006 gelar pahlawan nasional itupun diberikan – terlepas dari pengikut

    faham komunis atau tidak komunis – lagi2 kebenaran sejarahlah yang berbicara

    dan sejarah telah membuktikanya mana yang layak dan tidak layak menyandang

    gelar ” pahlawan nasional ” …….salam hyppocrates cerdas ( dt “swiss van java”).

  7. ParisVanJawa
    Februari 21, 2013

    wah maaf nih bila ilmu sejarah saya masih kurang, tapi setahu saya pendiri SDI adalah H.Samanhudi. apa mungkin ada kolaborasi ? dan kalaupun iya, ini menjadi menarik bagaimana pertemuan 2 tokoh ini membentuk perkumpulan yang nantinya akan menjadi jalan bagi pergerakan nasional.

    selebihnya bagus banget…
    haturnuhun om cepot

  8. nbasis
    Februari 26, 2013

    TAS dengan SDI-nya. Menjadi pikiran serius di tengah kesenjagan begini. Bagaimana memahami ekonomi benteng (1953?) bukan sebatas sentimen rendah. Negeri yang mempertuankan rakyanya sendiri memang sangat jelas dari Trisaktinya Bung Karno.

  9. rizky
    September 16, 2013

    Kepada kang Maman Sutarman, saya tidak mengerti knapa TAS dianggap pion kolonial, apa ada buktinya yg bisa dipertanggujawabkan? Jangan hanya karena sumber tsb berasal dari seseorang yang dianggap kuat agamanya, kemudia kita percaya begitu saja (ulama juga manusia). Kemudian apa perlawanan yang ditunjukkan di surat kabar Medan Prjaji nya sama sekali tidak menunjukkan kalau beliau itu melawan kesewenang-wenangan pemerintah kolonial? (kecuali kalau kang Maman menganggap perlawanan TAS cuma sandiwara saja)

    Mengenai SDI, bukankah TAS pernah bekerja sama dengan H.Samanhoedi dalam pendirian SDI, jadi bukannya terjadi persaingan sebagaimana yang ditulis oleh pak.Mansur.

    Kalau kang Maman menganggap “orang kiri” patut dipertanyakan obyektifitasnya, pertanyaannya adalah apakah obyektifitas “orang kanan” sepenuhnya dapat dipercaya??

    Menurut saya, kita harus obyektif dalam mengambil referensi sejarah, harus dari semua pihak, jangan melihat yang menulis “orang kiri” atau “orang kanan”, lalu serta merta kita menolaknya .

  10. rizky
    September 16, 2013

    Bukankah TAS mengelola Medan Prjaji itu mendapatkan dananya hanya dari kaum pribumi saja, kemudia dimana bantuan kolonial yg dituduhkan.

    Masih mengenai masalah bantuan kolonial, harus dicatat SI sewaktu dipimpin oleh HOS.Cokroaminoto pada awalnya bersikap kooperatif terhadap pemerintah kolonial yang kemudian berubah menjadi nonkooperatif karena banyak dikritik oleh tokoh-tokoh pergerakan lainnya, seperti Semaoen dan Douwess Dekker.

    Hingga akhirnya SI mengambil keputusan untuk non kooperatif terhadap pemerintah kolonial.

  11. rizky
    September 16, 2013

    Harus diakui oleh rakyat Indonesia, bahwa negeri mereka dibangun oleh para arsitek-arsitek yang berlatar belakang ideologi yang berbeda, para arsitek tersebut sempat bekerja sama walaupun akhirnya terpaksa berpisah.

  12. rizky
    September 16, 2013

    Logika TAS sebagai pion bisa aja dipakai, tetapi bisa saja memakai logika kalau sumber-sumber berita yang berasal dari pemerintah kolonial itu “dianggap” untuk menfitnah sosok TAS, supaya dianggap pengkhianat.

  13. rizky
    September 16, 2013

    Inilah tragisnya sejarah, seorang anak manusia yang sudah mengorbankan hidupnya untuk perjuangan demi anak cucu nya, akan tetapi saat ini cucunya justru ada yg berusaha mendiskreditkan “sang pemula”. Padahal apa yg sudah mereka berikan kepada negeri ini, jangan hanya sibuk mencurahkan potensinya untuk mencari-cari atau bahkan membuat-buat keselahan buyut2 mereka yg sudah berjuang untuk mereka….

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d bloggers like this: