Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Ideologi Profetik

~Iblis bebas berkeliaran… saatnya memaksa Tuhan untuk campur tangan ~

Mayoritas umat manusia yang terperangkap dalam nihilisme dan menganggap bahwa hidup ini tidak mempunyai tujuan karena mereka belum mendapatkan suatu penjelasan rasional dari tujuan kehidupan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.

Hanya dengan ideologi manusia dapat meyakini bahwa kehidupan ini bukan kumpulan dari pengulangan-pengulangan yang mengantarkan manusia kepada kekosongan, ketiadaan, kefanaan, dan nihilisme. Dan hanya dengan ideologi detik-detik kehidupan manusia menjadi bernilai dan dapat memanfaatkan secara benar kesempatan hidupnya di dunia.

Seorang novelis pernah menuliskan kata-kata  tentang Revolusi Perancis 1789 :

“ketika rakyat yang marah jadi beringas,
bui besar digempur,
dan raja bersama ratusan bekas penguasa dipenggal.
Saat-saat terindah,
saat-saat terburuk”.

Kemarahan absolutisme kerajaan (L’etat c’est moi : Negara adalah saya) ketidakstabilan dan diskriminasi hak menjadi penyebab utama revolusi Perancis yang dibarengi dengan lahirnya karnaval ideologi-ideologi. John Locke, Montesquieu, JJ. Rosseau, Voltair  adalah tokoh- tokoh penentang absolutisme yang membawa perubahan atas masa depan sistem kekuasaan di dunia. Libertie – kebebasan, Egalite – persamaan, dan Fraternity- persaudaraan menjadi semboyan revolusi Perancis  yang konon berasal dari ajaran humanisme Kong Zi kepopulerannya  masih menggema hingga kini.

Bukan hanya karena hari-hari revolusi adalah hari-hari pesta kemerdekaan berfikir. Tapi terutama karena dasar budaya yang tadinya mengatur kehidupan politik baru saja runtuh mendadak dan orang banyak kehilangan sumber pembenaran yang sebelumnya mereka kenal. Pegangan pun kacau dan arah pun rancu.

Maka ideologi-ideologi muncul. Mereka berusaha menawarkan penjelasan tentang pengalaman yang gemuruh itu. Mereka menawarkan program ke masa depan. Dan tak ketinggalan, mereka menjanjikan solidaritas. Jika kita tengok kembali sejarah (alangkah menyedihkannya orang yang mengetahui tapi tak merenungkan sejarah!), hal seperti itu wajar saja sebenarnya. Justru hiruk-pikuk yang berlangsung sampai beberapa puluh tahun setelah kemerdekaan itu menyebabkan kita kian sadar: kalau kita mau survive sebagai bangsa, kita butuh lambang milik bersama. Semacam pelabuhan, semacam rumah asal, ke mana kita bisa pulang bersama — setelah saling bertengkar.

Ada satu penjelasan lain tentang peranan ideologi di masyarakat sebagai pengobatan. “Teori penyembuhan” ini melihat ideologi dalam fungsinya untuk mengoreksi terus-menerus rusaknya harmoni sosio-psikologis. Ideologi menyediakan saluran simbolis bagi guncangan-guncangan emosional masyarakat, di tengah terganggunya keseimbangan sosial setiap kali.

William T. Blumh. Guru besar dalam political science pada Chicago University, dalam bukunya Modern Political : Ideologies dan and Attitude (Culture), melihat ada 4 (empat) teori mengenai ideologi ( dalam Siswono, 2005), sebagai berikut :

Teori Kepentingan 

Bahwa ideologi itu bersifat kejiwaan yang bisa diselidiki dan dijelaskan. Ide yang terbentuk sebagai akibat realitas pada diri manusia.

Teori Kebenaran 

Bluhm dalam hal ini mengikuti pandangan filosup wanita Hannah Arendt tentang aktifitas manusia di dunia yang merefleksikan ideologi, yakni untuk menjalankan proses kehidupan. Ideologi kemudian muncul secara rasional dan bebas, yang ingin mewujudkan hakikat “ kebenaran “.

Teori Kesulitan Sosial

Ideologi lahir dari hal-hal yang tidak disadari, sebagai pola jawaban terhadap kesulitan-kesulitan yang timabul dari masyarakat kesulitan tersebut sebagai patologi yang memerlukan obat dan penyembuhan, maka fungsi idelogi adalah remedial atau kuratif.

Teori Kesulitan Kultural 

Ideologi timbul karena hal-hal yang menyangkut hubungan perasaan dan arti hidup (sentiment and meaning). Kedudukan ideologi sama seperti ilmu pengetahuan teknologi, agama dan filsafat. Akibat selalu ada dislokasi sosial dan kultural dalam kehidupan manusia, maka manusia memerlukan arti hidup yang baru dan segar.

Dari empat teori terbentuknya ideologi Bluhm tersebut di atas (kepentingan, kebenaran, kesulitan sosial, dan kesulitan kultural), maka pandangan hidup sebagai follow- up ideologi akhirnya juga harus mampu menghadapi 4 (empat) masalah besar kemanusiaan, yakni:

  1. Mampu mengatasi kepentingan kehidupannya
  2. Menciptakan pandangan hidup yang berisi kebenaran yang diaktualisasikan.
  3. Menghilangkan semua kesulitan sosial dan
  4. Menghapuskan semua keruwetan kultural melalui otoritas politik yang kuat.

Menghadirkan Ideologi Profetik

Ideologi adalah segala hal yang diposisikan sebagai pusat kecenderungan, landasan segala prilaku, dan tujuan semua perbuatan manusia serta dapat memberikan solusi dan pemecahan terhadap apa yang berhubungan dengan realitas kehidupan manusia.

Ideologi merupakan bentuk pilihan dan puncak tujuan manusia. Setiap manusia akan menjalin komunikasi dan hubungan sosial kemasyarakatan berdasarkan landasan ideologi yang dianutnya. Kecenderungan kepada ideologi dari dimensi ini merupakan hal yang penting karena manusia akan berusaha dan terus bersabar atas segala penderitaan dan kesulitan yang dihadapinya untuk sampai pada tujuan dan cita-cita ideologisnya. Bahkan manusia rela mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk membumikan kecenderungan ideologisnya.

Secara umum, ideologi (Arab: mabda’) adalah pemikiran paling asasi yang melahirkan—sekaligus menjadi landasan bagi—pemikiran-pemikiran lain yang menjadi turunannya. Pemikiran mendasar dari ideologi ini dapat disebut sebagai akidah (‘aqîdah), yang dalam konteks modern terdiri dari: (1) materialisme (al-madiyah); (2) sekularisme (fashl ad-din ‘an al-hayah); (3) Islam (Al-Islam). Dengan ungkapan yang lebih spesifik, ideologi (mabda’) dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional (yang bersifat mendasar) yang melahirkan sistem atau seperangkat peraturan tentang kehidupan. Ideologi pada hakekatnya mencakup keyakinan-keyakinan, tanggug jawab dan komitmen. (Lebih spesifik pembahasan apa itu ideologi bisa dilihat disini)

Profetik, berasal dari kata bahasa Inggris prophetic (adj.) yang memiliki makna: berkenaan dengan kenabian atau ramalan. Jadi yang dimaksud ideologi profetik adalah sekumpulan doktrin, ide, kepercayaan yang merefleksikan kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi sosial dari individu, kelompok, golongan, atau budaya  yang membentuk dasar-dasar politik, ekonomi, dan sistem-sistem lain yang bersumber dari kenubuwahan atau kenabian.

Ideologi Profetik bukan kesadaran palsu yang biasanya dipergunakan oleh kalangan filosof dan ilmuwan sosial berupa teori-teori yang tidak berorientasi pada kebenaran melainkan pada kepentingan pihak yang mempropagandakannya. Ideologi Profetik bukan ideologi dalam arti netral bukan pula sebagai keyakinan yang tidak ilmiah. Tapi ideologi profetik adalah ideologi yang bersifat Fitriyah insaniyah, Transenden dan Eksatologis.

Ibnu Sina mengemukakan masalah tentang ideologi dalam Kitab-nya “Najat”, dia berkata: “Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi jauh lebih dibutuhkan bagi kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempurnaan eksistensi manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alis mata, lekuk tapak kakinya, atau hal-hal lain seperti itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan ras manusia, namun tidak perlu sekali.”

Dalam setiap era sejarah selalu muncul seorang tokoh yang memiliki kedudukan di atas rata-rata umat, baik karena kualitas kepribadian, kemampuan memahami tanda-tanda zaman, maupun kharisma. Di situlah posisi para nabi, aulia, dan para rasul Allah yang menjadi obor penerang kehidupan umat manusia.

Parade zaman kenubuwahan telah melintasi masa kehidupan manusia. Nabi Ibrahim adalah cermin revolusi akal menundukkan tradisi-tradisi buta, revolusi tauhid melawan berhala-berhala (Q.S. al-Anbiya’: 52-71). Musa merefleksikan revolusi pembebasan melawan otoritarianisme (Q.S. al-A’raf:104-124; Thaha: 56-79). Isa adalah contoh revolusi ruh atas dominasi materialisme (Q.S. Ali ‘Imran: 50). Dan Muhammad SAW merupakan tauladan bagi kaum papa, hamba bagi perubahan sosial (social engineering) secara total (keseluruhan), terlebih dalam dimensi keyakinan (iman) dan moralitas (akhlak) manusia.

Al-Quran menggambarkan kenabian sebagai revolusi memberantas dekadensi moral dan sosial, dengan berbagai resiko yang dihadapi seperti penindasan, penyiksaan, penjara dan bahkan pembunuhan. Dalam konteks revolusi ini, Tauhid sungguh mempunyai fungsi praktis melahirkan keteguhan perilaku dan sistem keyakinan mengimplikasikan suatu tujuan transformasi kehidupan dan sistem sosial mereka.

Tidak ada Nabi yang datang untuk mengokohkan status quo, karena gerak kenabian di dalam sejarah selalu merupakan gerak progesif bagi perubahan sosial secara keseluruhan, terlebih dalam dimensi keyakinan dan moralitas umat manusia. Para Nabi merupakan guru dan pejuang nilai-nilai kemanusiaan menuju ke taraf yang lebih tinggi dan sempurna. Akhir kenabian ditandai bahwa kemanusiaan telah termanifestasikan menjadi kemandirian akal (istiqlal al-’aql) dan berkemampuan meningkatkan derajat progesifitasnya sendiri melalui petunjuk yang berupa wahyu dari Allah SWT.

Ideologi Profetik adalah ideologi pembebasan “lituhrija al-nas min al-dhulumat ila al-nur“, membebaskan manusia dari “kegelapan” (kejahiliyahan) kepada “cahaya” (kebenaran, al-Islam). Ideologi pencerahan (tanwir) merupakan gerak perubahan profetik. Gerak perubahan berbasis nilai-nilai kerasulan (Wahyu Allah) sesuai dengan semangat “ma wa arsalna-ka illa rahmatan lil-’alamin“. Suatu gerak dinamis kenubuwahan yang hadir secara melintasi untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Bapak para nabi, telah meletakan dasar-dasar ideologi di zamannya dengan satu cita-cita “baladan amin”  Negara Aman.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim : 35)

Ideologi Profetik dihadirkan untuk “menyembuhkan” penyakit-penyakit keberhalaan yang menggadaikan manusia pada sifat kebinatangan.

Sebagai hadiah malaikat menanyakan apakah aku ingin berjalan di atas mega dan aku menolak karena kaki ku masih di bumi sampai kejahatan terakhir dimusnahkan sampai dhu’afa dan mustadh’afin diangkat Tuhan dari penderitaan.  (Kuntowijoyo,  Makhrifat Daun Daun Makhrifat)

Tulisan terkait :

  1. Apa itu Ideologi (bahasan teoritis)
  2. Ideologi Negara Versus Ideologi Rakyat
  3. Ideologi Islam Jalan Menuju Revolusi (Pemikiran Ali Syari’ati)
  4. Spirit Nabi
About these ads

8 comments on “Ideologi Profetik

  1. iwan
    Februari 2, 2012

    Karena itu, Islam dengan doktrin ”tauhid sosial”-nya, justru adalah hal yang paling diwanti-wanti oleh kekuasaan, apalagi yang otoriter dan totaliter. Totalitas kehidupan di atas muka bumi atas landasan ketuhanan, membawa umat Islam pada satu titik penting yaitu Tuhan bukan hanya diperlukan ketika sedang berdosa, ketika seorang manusia menangis di balik dinding kamarnya karena telah melawan ibunya atau dikhianati kekasihnya seperti yang selama ini dikampanyekan kaum sekuler.

    Tuhan tidak pernah tidur, begitu kata ayat kursi.

  2. bilamana
    Februari 3, 2012

    sudah saatnya menghidupkan kembali ruang dialog dengan sejarah.

  3. gogo
    Februari 5, 2012

    sebuah ideologi, sebuah manisfestasi alam pikiran..

  4. dokter anak
    Maret 7, 2012

    bagus artikelnya…:)

  5. meme
    Maret 22, 2012

    boleh di kopas ga?? hehehe

    ———–
    Kopral Cepot : silaken ajah ;)

  6. doktertoeloes malang
    Maret 23, 2012

    KPMS (kelompok pelajar mahasiswa situbondo) ISSS(ikatan sarjana seluruh situbondo) cabang malang raya —— innalillahi wa innalillahi roji’un , berduka -cita yang mendalam panutan-suri tauladan-contoh bijak kami (pelajar-mahasiswa-sarjana yang ada diperantauan) :

    ” KH FAWA’ID AS’AD SYAMSUL ARIFIN ”
    insya ALLAH mendapat tempat disisinya dan yang ditinggal kuat tabah dan sabar.
    amien yaa robbal alamien.
    KPMS (kelompok pelajar mahasiswa situbondo).
    ISSS (ikatan sarjana seluruh situbondo) malang raya

  7. meme
    Maret 24, 2012

    wah terima kasih bnyak, nanti saya pasti cntumin sumbernya :)

  8. therapi - diagnose
    Mei 25, 2012

    untuk KPMS ( Kelompok Pelajar Mahasiswa Situbondo ) — ISSS ( Ikatan Sarjana -

    Seluruh Situbondo ) yang ada diperantauan :

    ” Hilang satu tumbuh seribu — Rawe2 rantas malang2 putung “.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 1, 2012 by in Wawasan Ideologi and tagged , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: