Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara
Cerita bermula sekitar empat belas tahun yang lalu ….
Ide tentang KIPP itu naik ke permukaan sejak Desember 1995. Namun lembaga ini baru “diproklamasikan” di Kafe Venesia, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 15 Maret 1996, lewat konferensi pers. Goenawan Mohamad, mantan Pemimpin Redaksi majalah Tempo, tampil sebagai ketua presidiumnya. Ia didampingi aktivis Federasi Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Mulyana W. Kusumah, sebagai sekretaris jenderal. Dalam Presidium KIPP itu ada sembilan nama lain, yang semuanya anak muda aktivis pelbagai organisasi. Yang agak mengagetkan, dalam deretan Dewan Pertimbangan Nasional KIPP ada nama Nurcholish Madjid, tokoh pembaharu pemikiran Islam di Indonesia. Ia hadir pula dalam acara peresmian KIPP. Tentu banyak yang heran. Betapa tidak. Selama ini Nurcholish dikenal berhubungan mesra dengan Pemerintah, selain menjadi aktivis ICMI. Cak Nur, demikian Nurcholish biasa dipanggil, juga masih terdaftar sebagai anggota Fraksi Karya Pembangunan di MPR-RI. Padahal sejak ide KIPP digelindingkan, sangat terasa bahwa Pemerintah tak berkenan menerimanya.
30 September jam 4:10 ·
Uin Ciputat
Kak Saleh Abdullah YTH, pertanyaan Kakak sudah kami sampaikan secara jelas dan sangat terang-benderang dalam penjelasan (info) akun ini. Terima kasih banyak Kakak sudah mhormat atas pertanyaan Kakak. Kami sangat bangga dengan prestasi Kakak, meskipun kami mengetahuinya sangat sedikit.
Saleh Abdullah Euh, begini, ya, saya mengerti. Tapi, anda ini kan pastilah bukan “makhluk cyber” toh? He he he. Maksud saya, apakah anda semacam moderator dari forum UIN Ciputat ini? Dan siapa itu moderatornya? Pasti seseorang, kan?
Maaf sekali, saya sama… sekali tidak berkeberatan untuk sharing pengalaman. Asal jelas buat saya, dengan siapa saya berkomunikasi. Saya orang yang selalu ingin jelas dan terang benderang. Sehingga mudah untuk menunjukkan tanggungjawab.
Selebihnya, saya merasa belum mempunyai prestasi seperti yang mungkin anda bayangkan. Tapi pengalaman2 dari perjalanan2 hidup saya bersama teman2, barang tentu dengan senang hati bisa kita diskusikan. Salam hangat!
Uin Ciputat
Saleh Abdullah
Tidak usah kuatir dengan “gebrak menggebrak”, selama substansi yang disampaikan “bermutu”. Itu, kan, cuma “cara” atau “media”. Kalau ada orang yang terganggung dengan “cara” atau “media”, ya, dia berarti tidak tertarik pada substansi. Tempa…t orang seperti itu adalah dunia basa-basi, dunia pepesan kosong!
Lebih mudah belajar dari kebenaran, karena tinggal mencontek atau meniru. Lalu anda akan masuk dalam daftar panjang “orang-orang malas dan manja.” Akan lebih susah belajar dari kesalahan, karena diperlukan kejujuran dan tanggungjawab. Dan pasti menantang. Jangan takut salah!
Uin Ciputat Kak Saleh Abdullah YTH. Kami berharap tidak salah memaknai komentar Kakak tersebut, yg kami anggap sebagai dukungan nyata atas keberadaan akun facebook UIN Ciputat. Kami benar-benar bangga dengan prestasi Kakak, meskipun Kakak merendah (tawadhu’), khususnya karena Kakak telah masuk dalam “barisan gelombang massa” yang menantang rezim Orde Baru waktu itu.
Saleh AbdullahUin Ciputat Kak Saleh Abdullah YTH, terima kasih sudah memberikan informasi tersebut.
Saleh Abdullah Istilah yang tepat, gua kira, di: Kita sama2. Ga ada siapa pengikut siapa. Karena gua yakin, lu punya concern yang sama. Karena itu kita bersama. Gua ga mau “punya buntut”. Gua mau semua orang bebas merdeka melakukan apa yang baik, dan kalau mungkin berdasarkan “common sense”.
Muchroji M Ahmad
Saleh Abdullah Terimakasih Ji. Aku baru tau kalau ada temen2 Ciputat yang nganggap aku konyol ketika itu. Menarik! Mungkin karena itu juga, ketika Cak Nur ikut mendeklarasikan KIPP, ada beberapa temen Ciputat (entah karena disuruh siapa atau motif apa) yang keberatan, dan mungkin menganggap CN konyol, karena vis a vis Suharto. Lucu, itu. Intelektual, kok, kaya gitu ya?
Uin Ciputat
Kak Saleh Abdullah YTH. Kami salut atas cerita heroik (kami menyebutnya begitu, dan maaf jika tak berkenan) Kakak. Ada beberapa nama yg muncul dari diskusi di atas. Sayang sekali Kak Mansour Faqih (maaf kalau kami salah menulis nama) sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Lalu ada nama Bang Roem Topatimasang, yg sering disebut-sebut dalam dunia pergerakan. Apakah ia sekarang tinggal di Yogya, atau masih tinggal di mana pun ia membawa tasnya, sebagaimana cerita-cerita yang kami dengar?
Uin Ciputat Kak Muchroji M Ahmad YTH. Kami menyampaikan terima kasih atas informasi Kakak di atas.
Muchroji M Ahmad
Helmi Hidayat
Uin Ciputat
Saleh Abdullah Muchroji: Ini soal sejarah. Dan jauh di halaman paling dasar sejarah itu adalah soal tanggungjawab, kejujuran dan integritas seorang intelektual. Tanpa itu semua, saya sulit memberi penghargaan, hatta hanya sekadar sebuah lirikan mata.Kare…na itulah saya tertarik (sekaligus berterimakasih ke kamu) bahwa pada saat-saat itu ada teman2 Ciputat, yang merasa diri sebagai intelektual, menganggap saya “konyol”. Saya tidak mau ambil pusing dengan penilaian itu, karena toh, semua yang saya lakukan adalah pilihan sadar saya terhadap kehidupan. Dan saya akan mempertanggungjawabkan apa yang saya lakukan SEORANG DIRI, tanpa perlu melibat-libatkan mereka yang menganggap saya “konyol”. Ah, kehidupan saya selama ini juga tidak menetek pada mereka kok!Robert Frost, dalam “The Road Not Taken” bilang:
“…Two roads diverged in a wood, and
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.”
Mungkin, Frost-lah yang memberi inspirasi saya, di samping seorang ibu tua yang menulis dalam lembar pertama buku yang ia hadiahkan di hari ulang tahun saya: “there is always a light in the end of the dark tunnel. Keep walking my dear, Saleh…”
Beberapa orang “tokoh intelektual Ciputat” (FA dan BE), di tahun 1997 itu, yta CN mundur dari KIPP. Saya menduga, mereka inilah yang “memberi order” pada Nanang Tahkik untuk mengorganisir “tekanan” ke CN untuk mundur itu (ini dugaan saya. Dan saya akan dengan senang hati memperbaiki dugaan ini, bila aedang “dijebak,” dan karena itu, mereka bersahwada konfirmasi yang valid). Karena saya datang ke acara itu memang karenaang ketika itu hadir di pertemuan, memang menganggap bahwa di belakang CN ada Gunawan Muhammad, yang mereka anggap bagian dari lingkaran PSI. Dan mereka berfantasi bahwa CN st tinggi untuk min diundang Nanang.
Saya heran dengan sikap mereka ketika itu. Saya tidak bergabung di KIPP. Dan kritik saya ke KIPP (yang saya anggap melakukan “setback”) sudah secara publik saya sampaikan dalam wawancara dengan Radio Hilversum Belanda. Dan Marsillam Simanjuntak (salah satu pentolan KIPP), di Teater Utan Kayu, sudah merespon kritik saya itu langsung, vis a vis. Dia mengakui unsur kebenaran dari kritik saya, tapi KIPP memang mempunyai “pertimbangan2 taktis” dalam menghadapi otoritarianisme Suharto. Dan saya katakan ke Sillam ketika itu: “oke, Bung! Clear! Saya hargai penjelasan bung. Kita hanya berbeda jalan..”
Tapi, untuk menuding bahwa CN “dijebak” berdasarkan teori konsporasi yang KONYOL seperti itu, ya, keterlaluan! Masa orang sekaliber CN, yang kita hargai memang berani menempuh jalur yang “less traveled by” itu, dianggap bodoh dan mudah dikerjain? Dan lebih dari itu, CN juga sudah secara publik menyatakan bahwa keterlibatan dia di KIPP adalah dalam rangka “menguji demokrasi”. Karena demokrasi adalah upaya “trial and error..” Itulah integritas dan kejujuran CN sebagai intelektual. Para juniornya ini yang bersahwat tinggi, dan memang dekat dengan kekuasaan ketika itulah yang KONYOL.
Helmi Hidayat Kayaknya fakta sejarah masa lalu mulai terungkap sedikit demi sedikit, dan sayang kalau terbuang begitu saja. Apalagi jika ini menyangkut sosok yang kita hormati, almarhum Cak Nur. Bagaimana kalau ini kita bahas dalam forum yang lebih formal lagi di IAIN, eh UIN, Syahid Jkt?
Uin Ciputat To Kak Helmi Hidayat YTH. Kami sepakat dengan ajakan Kakak agar kita semua mulai membahas agenda pertemuan alumni IAIN/UIN Syarif Hidayatullah lintas generasi. Salah satu agenda yg kami maksud adalah fakta sejarah masa lalu yang berhubungan dengan dinamika pemikiran alumni IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan kiprah mereka da Kami sepakat dengan Kakak bahwa kita harus jujur pada fakta historis yang ada, apalagi jika data sejarah tersebut punya kaitan dengan alumni IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jaklam isu-isu besar yang berhubungan dengan nation building negeri kita tercinta ini: Republik Indonesia.
Uin Ciputat
To Kak Saleh Abdullah YTH.arta. Sebagai yunior Kakak, maaf jika ka…mi menyebut begitu dan semoga Kak Saleh Abdullah berkenan menganggap kami sebagai yunior karena fakta mengatakan demikian, kami tentu saja tidak mengalami secara langsung cerita heroik yang Kakak sampaikan, yang berhubungan dengan KIPP. Apa yang melatarbelakangi pendirian KIPP, bagaimana ia memerankan tanggung jawab sosial-politiknya, dan lain-lain, hanya kami dapat dari majalah/koran/internet dan informasi informal di jalanan bersama teman-teman aktivis Ciputat. Karena itu kami merasa tidak dalam posisi untuk memberikan komentar atas KIPP, sebagaimana Kakak ceritakan.Ada beberapa nama yang ingin kami tanyakan/klarifikasi. Kami merasa terhormat jika Kak Saleh Abdullah berkenan menjawabnya. Nama-nama yg kami maksud adalah CN, BE dan FA. Kami akan konsisten dengan inisial yang telah disampaikan Kak Saleh Abdullah. Apakah benar CN (1) sekarang sudah almarhum? Apakah (2) ia pernah menjadi Ketua Umum sebuah organisasi mahasiswa bergengsi selama dua kali berturut-turut, dan sampai sekarang tidak ada orang lain yang bisa menyamai prestasinya tersebut? Apakah (3) ia adalah alumni sebuah pesantren besar di Jawa Timur, yang alumninya banyak meneruskan studinya di IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?Kemudian tentang BE. Apakah benar ia punya nasib berbeda dengan CN? Maksud kami adalah CN pernah diterima sebagai santri di sebuah pesantren di Jawa Timur. Adapun BE ditolak, dan ia kemudian mondok di sebuah pesantren di Jawa Tengah. Saat BE berstatus sebagai santri di dalamnya, ia mendapat beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat. Kami mendapatkan info ini saat BE memperoleh gelar sebagai Guru Besar dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jika kami tidak salah, mohon dikoreksi kalau kami ternyata memang salah, yang menyatakan nasib berbeda antara CN dan BE dalam konteks sebuah pesantren di Jawa Timur adalah DS, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum salah satu organisasi massa Islam. DS menyatakan hal tersebut saat ia memberikan sambutan dalam penganugerahan BE sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Adapun FA adalah aktivis Ciputat yang melanjutkan pendidikan S2-nya di sebuah perguruan tinggi di Australia. FA merupakan salah satu lokomotif utama yg menarik banyak gerbong aktivis Ciputat agar tidak terpaku/terjebak dalam keilmuan Islam secara sempit. Hal tersebut dilakukan FA, misalnya, saat ia aktif di LP3ES dulu. FA juga pernah menulis buku bersama BE. Buku tersebut memetakan tipologi gerakan pemikiran dalam Islam. FA juga dikenal sangat produktif dalam menulis di media massa. Buku yang ditulis FA juga sangat banyak.dak berkenan di hati Kakak. Sukses untuk Kak Saleh Abdullah di mana pun Kakak berada. Sukses untuk kita semua: aktivis/mantan aktivis/bukan aktivis UIN Ciputat warna-warni.
Tashudi Yanto @UIN Ciputat: Bertanya atau “sissun”, ya? Kalau posisinya bertanya, nampaknya Anda lebih mengetahui apa yang ditanyakan mengenai inisials tersebut karena mereka ada di sekitar kampus (kecuali FA & DS yang tugasnya di luar kampus). Bagus kalau “arah” pertanyaannya tidak provokatif. Tapi kalau Anda ingin beropini, ya kemukakan sejujurnya apa yang ingin dikatakan. Tidak baik (menurut saya) kalau Anda paksa “SA” untuk mengumbar jawaban sesuai keinginan Anda.
Saleh Abdullah
Uin Ciputat
Uin Ciputat
Saleh Abdullah
Uin Ciputat
Tashudi Yanto
tan) dalam berkomunikasi karena jelas orangnya. Bukankah begitu? Kenapa musti menyembunyikan identitas? Jadi, itu mungkin yang dinilai oleh SA sebagai “tidak fair” dan doesn’t make sense, yakni bersembunyi atau menyembunyikan diri. Lagi pula untuk apa hari gini bersembunyi? Sekarang, kan jamannya terbuka, bebas, lepas, lepas, dan lepassssss. Bagaimana, masih tetap mau bersembunyi juga?
Uin Ciputat
Muchroji M Ahmad
Saleh Abdullah
untuk UIN Ciputat atas komentar anda pada posting terakhir saya: Pertama, buat orang yang bergaul hidup guyub dengan orang-orang desa seperti saya saja, komentar anda itu mengandung beberapa kelemahan. Saya tidak tahu buat mereka yang merasa… “masyarakat intelektual ciputat.” Pasti akan lebih tajam lagi melihatnya.Baik bahasa, frasa atau apapun yang anda gunakan, buat saya yang selalu berfikir sederhana dan tidak dakik ini, terlalu banyak dramatisasinya. Kalau tidak mau dikatakan hyperbolic. Sehingga substansi jadi dibuat kabur ke mana-mana.Kedua, lagi2, anda tidak menjawab point terpenting saya soal kejujuran dan tanggungjawab. Anda hanya lari ke sana ke sini. Dan karena anda tetap misterius, adalah wajar bila saya tidak begitu percaya dengan penjelasan anda “ada beberapa orang” pengelola forum ini. Cara pikir saya yang ndeso aja bisa langsung mengganggap: “kalau begitu siapa yang berkomentar apa?” Karena sekian orang pegang password, dan bisa berceloteh seenaknya dalam laman diskusi, kapan saja. Dan kita tidak tahu who the hell is he or she? Semakin kabur.Ketiga, karena itu, setidaknya BUAT SAYA, di titik itulah ada RELASI YANG TIDAK FAIR dalam komunikasi ini. Kalau anda tahu siapa saya dan saya tidak tahu siapa anda, ya TIDAK FAIR, kan? Sederhana kok! Tidak usah berbelit-belit dan lari ke sana-sini. Lha, kalau tidak ada fairness berhentilah awak bicara Kejujuran dan Tanggung Jawab.
Keempat, seperti juga sudah disinyalir oleh beberapa teman: “apa sih alasan GAWAT DARURATNYA anda bersembunyi?” Sekadar sensasi, takut jadi sasaran teroris yang memang sudah mengacak-acak Ciputat, misteri, atau menikmati kebingungan orang lain yang mencoba menebak-nebak, atau anda punya hambatan psikologis untuk menjelaskan identitas anda secara jujur? Anda tidak perlu lagi mendramatisasi pertanyaan2 itu. Anggaplah semua itu pertanyaan bodoh,g concern dengan situasi Indonesia: gsi sebagai moderator yang mengambil peran mengatur lalu lintas diskusi dan siapa saja peserta diskusinya. Dia tidak menyensor pendapat, kecuali kalau dianggap berpotensi bahaya dan mengancam keamanan. Dan yang p yang wajar dan absah muncul karena kemisteriusan anda. Artinya lagi, anda jugalah yang menciptakan pertanyaan2 itu.
Kelima, tahun 1980-an hingga awal 90-an dulu, ada mailing list yang sangat dikenal oleh mereka (internasional) yanaling penting, karena hanya sekadar “APA KABAR” namanya. Pengelolanya jelas dan mudah diketahui karena tidak misterius seperti anda: John Mc Dogal, kalau saya tidak salah.
Nah, si John ini, selain orang dan kedudukanya jelas dan terang benderang, dia hanya berfunmoderator, si John itu tidak pernah sekalipun, sepatah katapun, ikut gatel untuk rewel berpendapat. Never, ever! Itulah etika yang kami kenal dan kami nikmati ketika itu. Dan kami sangat berterimakasih pada John yang telah tanpa pamrih memperlancar diskusi di antara kami dalam masa-masa sulit itu.
Akhirnya, membaca respon terakhir anda ke Tashudi, sukurlah, saya sangat menghargai. Semoga bisa segera ada jalan keluar untuk meretas kemisteriusan yang memang tidak perlu itu. Dan kita bisa kembali berkomunikasi dengan enak dan bertanggungjawab.
Tabik
Fachry Ali
saleh, sy merasa heran dg tuduhan anda ttg sy (FA) dan BaHTIRiar Effedy (BE). sy tdk tahu menahu dg acara Nanang Tahqik. soal Cak Nur di KIPP, seingat sy, sayalah satu2nya membuat tulisan di Republika ttg signifikannya arti Cak Nur bergabun…g di dalam KIPP. Jadi darimana anda dapat sumber yg mendeskreditkan sy dg Bahtiar? sy kira setiap pendapat yg dipublikasikan harus didasarkan pada tanggungjawab etis, kalau misalnya soal fitnah yg diharamkan agama dikesampingkan. sy senang jika anda membuat klarifikasi ttg ini, agar jelas persoalannya.
Fachry Ali: Terimakasih atas responnya. Saya tidak sedang berpendapat atas informasi orang lain, atau sedang mengembangkan rumor dari sumber kedua. Tapi ini adalah kesaksian, karena saya sendiri terlibat dan menyaksikan dengan mata dan piki…ran.Pertemuannya di kantor PHRI (maaf kalau saya salah menulis) tempat Zacky Siradj bekerja. Saya sendiri dikontak Nanang Tahkik untuk hadir di pertemuan itu. Yang hadir di pertemuan itu, yang saya ingat sekali, adalah: Anda sendiri, Bahtiar, Kurniawan Zulkarnain, Zacky Siradj (sebagai tuan rumah), Nanang Tahkik, dan kalau tidak salah, juga Komarudin Hidayat (ini saya agak lupa).Aura di pertemuan itu jelas (eksplisit dan implisit), temen2 Ciputat (paling tidak bagi yang hadir di sana ketika itu, kecuali saya) tidak rela kalau CN “ditunggangi” oleh kelompoknya GM (hal ini juga dikonfirmasi oleh Muchroji M Ahmad di postingnya di atas). Ah, bahkan masih segar dalam ingatan saya bagaimana ketika itu Anda berkata dengan gaya yang pintar dan lucu: “…kita usulkan agar CN mundur dari KIPP dan biarkan Suharto tetap duduk kembali dikursinya…” Bahkan, dalam diskusi selanjutnya, Bahtiar kembali mengulang statement Anda itu.Ketika acara usai, yang paling membuat saya heran, dan nyaris naik pitam ketika itu adalah, setelah saya jelaskan bahwa saya tidak punya hubungan apa-apa dengan KIPP dan bahkan mengkritik KIPP, Bahtiar nyeletuk: “alah, kalau kamu dikasih uang 1 milyar sama GM juga pasti ikut..” Seingat saya, entah Kurniawan atau Zacky yang ketika itu menggandeng pundak saya sambil berjalan ke lift dan berbisik: “sabar, leh, sabar..” Saya langsung sadar, dan emosi saya jadi reda. Walau dalam hati saya sempat ngegerundel: “ini orang sekolah jauh-jauh sampai DOKTOR, kok, cara berfikirnya begini..?” Mungkin karena menyadari perkataannya ke saya sudah kebablasan, menjelang masuk lift, Bahtiar berkata: “yah, semua itu hanya pendapat kita. Belum tentu juga kita benar..”Setelah pertemuan PHRI itu, disambung ke pertemuan di rumah mendiang CN, selang beberapa waktu kemudian. Banyak yang hadir, tapi saya sudah tidak begitu ingat. Yang saya ingat betul, Anda datang di situ, dan bahkan memperkenalkan saya ke CN sebagai “teman Ciputat yang banyak bergerak di lapangan”. Batin saya ketika itu: “ya, saya memang sudah nyaris lepas dari atmosphere pergaulan teman2 Ciputat. Dan saya sen.
Tapi pertemuan di rumah CN di Tanah Kusir itu memang tidak se-eksplisit pertemuan di PHRI. Saya merasa diskusinya menjadi terlalu diplomatis dan berputar. Lagi-lagi batin saya ketika itu: “mungkin karena karisma dan integritas CN yang ang Anda memperkenalkan saya ke CN.” Azyumardi juga hadir. Saya bahkan sempat bisik2 ke Azyumardi soal pertemuan di PHRI itu. Apa komentar Edy ketika itu, nanti saya ungkapkan pada waktunya. Intinya, saya merasa saya dan Edy berada di posisi samasangat kita hormati, maka agenda PHRI jadi tersendat.” Pulang dari sana, saya merasa lega.
Inilah kesaksian saya. Kalau Anda merasa perlu ada kesaksian langsung, barang tentu saya bersedia. Dengan syarat, semua nama yang saya sebutkan di atas juga memberikan konfirmasi yang SEJUJURNYA. Demi integritas dan kejujuran intelektual!
Tabik
Lena Maryana Mukti Salaams Kknd FA&SA: senang sekali menyimak “perdebatan” di ruang publik yang makin terbuka. Namun alangkah bijaknya kalau dilakukan secara face to face agar ingatan yang sepotong2 menjadi utuh dan kita bisa menikmati perjalanan sejarah pemi…kiran orang2 hebat Ciputat untuk kita ambil sebagai pembelajaran agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Sejauh ini saya masih dapat menerima S&R di sini krn kknd ber2 dapat dengan cerdas merangkai kalimat yg santun, namun saya khawatir apabila diteruskan akan terjadi kesimpang siuran fakta yang sesungguhnya. Kak Fahri sudah menyatakan itu. So, let’s sit together to reveal the fact.
Saleh Abdullah
Dan buat saya, di forum apapun, cyber, maya, atau nyata, saya siap mempertanggungjawabkan pikiran dan kesaksian hidup, SEORANG DIRI (Saleh Abdullah). ASAL JELAS, DENGAN SIAPA SAYA BERHADAPAN. Saya tidak akan bersembunyi di balik ketiak siapapun, kecuali untuk keperluan kesaksian tambahan. Inilah pelajaran hidup paling berharga yang saya dapat dari “Teman-Teman Kehidupan” di luar atmosphere Ciputat.
Tabik!
Lena Maryana Mukti
Bang Ole tercinta,
Saya tidak bermaksud mendewakan siapapun atau berlebih-lebihan memuja seseorang. Basically, saya memang terbiasa menghormati mereka yang lebih tua despite ybs telah mencederai saya. Seperti hubungan saya dengan BCH yg seka…rang di Cipinang.
Saya juga terbiasa bicara apa adanya yg saya yakini sebagai common sense meskipun orang lain menjadi tidak nyaman. Yang penting dibalik apa yg saya sampaikan itu selalu ada love, care and respect.
Well, saya sebatas mengusulkan forum yang lebih bisa interact secara langsung sehingga tidak ada dusta di antara kita.
Best.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saleh Abdullah Lena: Danke!
Lena Maryana Mukti
Lena Maryana Mukti @Kak Udi: apa tuh LOL?
Lena Maryana Mukti
@K Udi, satu lagi:
Sebelum meninggal kakek berpesan pd istrinya,
“oma, kl nanti sy meninggal, jgn bungkus sy dgn kain kafan, tp bungkus sy dgn daun pisang” Nenek pun heran & bertanya: “kenapa begitu opa?”
Opa pun menjwab:
…”sy malas ditanya-tanya dalam kubur, biar sy dikira BARONGKO”.
Ha…..ha….ha.
Note: Barongko itu sejenis kue pisang dari daerah suami ogut di Sulsel.
Fachry Ali
Tashudi Yanto @FA: in arabic means “al-insan mahallul khatha’i wannis-yan”, hehehe… ane masih ingat sedikit-sedikit bahasa arab
Saleh Abdullah
Tashudi Yanto
Muchroji M Ahmad @ TY’ ikhlas itu putih bersih, tidak terkontaminasi idealisme lain, oleh pikiran-pikiran yang dapat mengotorinya karena berbagai kepentingan dan keinginan, seperti susu sapi yang terletak antara tahi dan darahle=”19 O. ia enak, seger dan ikin sehat, padahal disekelilingnya begitu banyak kotoran yang sangat memungkinkannya menjadi tercampur menjadi kotor, gitu ya om………ma’af kalau salah, katanya mahallul khoto’i wannisyan..
Saleh Abdullah
Nanang Tahqiq

Muchroji M Ahmad dalam ashabul kahfi, batu gunung sedikit bergeser, cahaya mulai masuk, Fadhilah Zaidi sebentar lg datang…………
Saleh Abdullah
Nanang: Terimakasih atas konfirmasimu. Yang jelas, pertama,2Ada.” Artinya lagi, kalau ada yang menganggap “tidak ada”, tidak kuat. Kalau ada yang menganggap “lupa”, ya, mau dik…ate apee…??Kedua, soal kejadian2 pasca dua pertemuan, saya juga tidak detail pasti mengingatnya. Yang pasti, saya ingat kejadian kita ke HI dan makan bubur ayam.Ketiga, soal apakah Azyumardi ikut di pertemuan rumah CN, nah, ingatan saya mengatakan “ya.” Karena ada dialog antara saya dan Azumardi soal pertemuan PHRI itu. Dan komentar Azyu, belum akan saya buka di sini, intinya: sepandangan dengan saya dan merasa aneh dengan manuver temen2.Nah, saya tidak ingat persis di mana saya bertemu Azyu. Seingat saya, ya, di rumah CN. Karena saya sangat2 jarang ketemu teman2 Ciputat, kecuali Kaping, Rasyid dan Babay yang kadang masih bercanda bersama. Apalagi dengan orang sekaliber Azyumardi, pasti lebih jarang lagi. Kadang saya sms-an sama dia. Sangat kadang2 saja. Jadi, saya masih pikir bahwa memang Azyumardi datang di pertemuan rumah CN itu.Keempat, soal materi pembicaraan di PHRI. Yah, saya sadar sekali memori setiap orang akan, sedikit atau banyak, ditentukan juga oleh concern atau kepentingan masing-masing. Saya yang ketika itu sedang panas-panas dan kenceng-kencengnya berhadapan dengan Suharto, barang tentu, akan merekam baik semua hal yang terkait dengan itu. Hatta pikiran atau upaya yang berusaha menggemboskan semangat saya itu. Lumrah! Begitu juga kamu Nanang, kalau ketika itu memang hanya concern pada sarana komunikasi antar alumni, ya, mungkin saja moment2 penting dan historis buat saya itu, tidak kamu ingat sama sekali.
Baiklah. Saya masih menunggu kesaksian yang lain. Karena, saya tegaskan lagi; SAYA TIDAK MAU DIKATAKAN SEBAGAI PENYEBAR BERITA BOHONG DAN FITNAH! DAN SAYA MAU BERTANGGUNGJAWAB SAMPAI AKHIR.
Tabik!
Nanang Tahqiq
Dengan tenang, sang filsuf berkata: “coy, ente mau percaya sama ane, atau sama keledai…???”
Tashudi Yanto

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tashudi Yanto
Muchroji M Ahmad setan zaman piraun mungkin lebihn jujur, ketika ia bersama temannya datang ke rumah piraun, ia ketok pintu. dari dalam piraun tanya, siapa yang datang? saya setan jawab setan. masuk saja ngk dikonci kata piraun. nah sambil masuk setan bilang sama temannya jujur ya ‘ firaun itu bodoh, masa ngaku tuhan ngk tahu siapa yang datang.
Muchroji M Ahmad
Nanang Tahqiq
Saleh Abdullah
Lena Maryana Mukti
Apa benar Abang mengajak kami mendiskusikan kenapa mahasiswi/dosen UIN berjilbab rapat berbeda ketika Abang kuliah dulu di IAIN?
Saya diminta moderator utk memposting foto2 mahasiswi IAIN yg tidak berjilbab. Saya jawab bahwa silakan… saja mendiskusikan soal itu. Tapi saya menolak memposting foto2 yg ada di saya spt yg diminta krn sifatnya sangat pribadi dan tidak layak digunakan di ruang publik sbg pelengkap diskusi. Buat saya pilihan berjilbab atau tidak adalah pilihan yang sangat pribadi. Krn mahasiswi adalah manusia dewasa yg bertanggung jawab atas pilihan2nya.
Powered by Telkomsel BlackBerry
Uin Ciputat To Kak Saleh Abdullah YTH. Jika diizinkan, kami akan copy paste ajakan/permintaan Kakak di inbox, agar kami tidak dianggap menyebarkan berita ban di dinding kami beberapa minggu yang lalu. Terima kasih dan salam hormat dari kami: UIN Ciputat warna-warni.
Lena Maryana Mukti Ah….anda ini bagaimana sih? Kan anda sendiri yg mempersilakan saya mengkonfirmasi Bang SA? Masa saya “dituduh” mengatakan anda berbohong? Saya rada agak aneh saja orang seperti Bang SA yg saya kenal mempertanyakan soal berjilbab atau tidaknya mhsiswi UIN or IAIN. Maaf saja, topik itu kurang menarik buat saya karena ada persoalan bangsa ini yg lebih besar.
Saleh Abdullah
Saya minta ke si UIN agar dia muat di wall-nya. Sehingga topik diskusi tidak tumpang tindih.
Dan tidak ada yang GAWAT atau SENSITIF dari pertanyaan ini, karena pernah juga saya tanyakan ke beberapa dosen UII. Dan saya pikir, tidak perlulah pakai foto2 segala. Intinya, tidak perlu dramatisasi dari pertanyaan saya yang biasa dan terdorong :
“Hallo UIN. Bisakah anda melansiroleh hasrat ingin tahu secara intelektual semata itu. (Ini masalah yang saya singgung dari si UIN itu, karena beberapa kali membuat sebuah soal jadi “dramatis” dan mengundang perdebatan yang tidak perlu.)
Inilah pertanyaan saya itu pertanyaan saya satu ini (masih ada pertanyaan lainnya nanti): “Mengapa mahasiswi, juga dosen2 UIN sekarang berjilbab rapih dan tertutup semua rambutnya? Padahal dulu di periode saya setidaknya, banyak mahasiswi yang bercelana jins, dan sekadar berselendang yang menutup kepala ala kadarnya (dengan rambut yang masih tampak sebagian). Bahkan dosen2 seperti Ibu Nurbaiti dan Ibu Musyrifah Marcoes berkebaya dan berselendang. Mengapa sekarang begitu? Adakah penjelasan sosiologis, politis, kultural, atau bahkan teologisnya?” Sungguh, saya tertarik tahu!”
Buat yang tidak menganggap penting soal ini, ya, abaikan saja. Saya sama sekali tidak berminat ngerecokin pilihan hidup pribadi seseorang sejauh itu memang masuk kategori privacy. Karena itu juga, saya kira, usulan untuk menampilkan foto segala, apalagi dari seseorang, ya, terlalu mendramatisir namanya.
Tabik
Terimakasih UIN, whoever you’re!
Tashudi Yanto @Ole: ogut heran, masih ada aja orang yang suka mendramatisasi soal “jadul”? seperti tdk punya ide lain saja? Tapi, mungkin juga bukan soal “jadul”-nya, melainkan adanyan kegemaran (bad habit) yang meniup-niup suasana subjek orang lain (yuwaswisu fi shudurinnas…) supaya orang menjadi marah dan membuka aib (siapa saja) termasuk dirinya sendiri.
Fachry Ali
Saleh Abdullah
Fachry: Seperti sudah saya kemukakan, kalau kalian merasa “LUPA” saya juga merasa, ya, sudah. Tapi saya tidak akan pernah mencabut KESAKSIAN SAYA, karena beberapa alasan: pertama, ya, karena kalian semua menyanyikan koor yang sama: “kalian …lupa.” Apa hak saya memaksa orang untuk ingat???? Kedua, anehnya, walaupun kalian lupa, kalian bilang (termasuk BE) yang menurut saya aneh. Rumah Cak Nur lah di Cibubur dan saya tidak ikut. Jadi seperti mau melarikan ke soal lain. Lha, Nanang aja sudah ngaku bahwa saya ikut di 2 pertemuan itu, dan yang saya maksud rumah CN itu, ya, yang di Tanah Kusir. Bukan Cibubur!!Karena itu, saya tidak akan mencabut kesaksian saya, dan saya maklumi kalian semua kompak lupa. Ya, sudah! Tapi kalau anda, atau kalian semua menyangkal kesaksian saya itu, sampai kapanpun dan bagaimanapun caranya akan saya ladeni. Hatta kalau kalian ingin membawa soal ini ke ranah hukum: SALEH ABDULLAH AKAN MENGHADAPINYA.Atau, kalau anda ragu dengan dunia cyber ini, buat saja diskusi kesaksian sejarah secara terbuka. Mari kita taruh persoalan di atas meja dan kita pereteli secara bersama-sama. Mungkin kalau saling berhadapan muka dengan muka, ingatan bisa jadi lebih segar dan enggan menjadi lupa.Soal artikel anda di republika itu saya anggap tidak ada hubungan langsung dengan soal kesaksian saya. Siapapun bisa menulis yang luar biasa, dan lalu di tempat lain juga melakukan hal luar biasa aneh. Ah, saya juga masih ingat kok, ketika anda “ribut” dengan Gunawan Muhammad NTEGRITAS. Saya kira, nurani berada di sansoal pembredelan Tempo, Detik, Editor. Di mana anda dianggap membela si penjilat Suharto Harmoko yang melakukan pembredelan, dan membuat GM dan teman2 Tempo kesal dengan anda. Seingat saya, anda menulis pembelaan atas nama “perbedaan pendapat” di republika juga, rasanya. Saya akan cek ke teman2 Tempo soal ini.
Ah, Fachry, tidak perlu anda menasehati saya soal nurani. Seperti sudah saya katakan sejak awal diskusi ini: modal saya hanya TANGGUNGJAWAB, KEJUJURAN, DAN Ia juga. Dan saya tidak mau menyeret-nyeret orang lain, setidaknya belum mau (walau ada beberapa orang yang bisa saya sebutkan). Artinya lagi, saya siap menghadapi ini semua SEORANG DIRI dengan modal dasar 3 hal di atas.
Saya tidak pernah hidup menetek dari Bakri, Harmoko, Suharto, Hartono, atau bandit siapapun di republik ini. Karena itu saya merasa hidup saya relatif bersih dari uang-uang penjahat politik itu semua. Dan karena itu pula saya merasa jauh lebih bisa tampil berdasarkan NURANI.
Yang paling saya ingat komunikasi saya terakhir dengan BE, lewat HP Suryanto, saya katakan bahwa secara pribadi saya tidak setuju Fachry mendapat penghargaan yang disejajarkan dengan Babon-Babon pemikir sekaliber Harun Nasution dan Cak Nur. Di mata saya pribadi, penghargaan itu jadi “lucu” dan “politis.” BE hanya tertawa saja menaggapi saya, dan bilang “ya, ada banyak orang dalam tim yang memilih, kok.” Saya tidak peduli, karena saya hanya mengutarakan pendapat saya pribadi. NURANI saya pribadi. Walau saya sampaikan juga pendapat saya itu ke beberapa teman di lingkungan UIN: ada yang hanya diam, tidak berkomentar. Ada juga yang menyetujui saya. Saya tidak akan kemukakan siapa yang juga sepaham di sini, karena bobot geger-nya akan keras!
DEMIKIAN KESAKSIAN SAYA BERDASARKAN PIKIRAN DAN NURANI.

Saleh Abdullah Di, he he he. Itu rumor di. Bukan wilayah gua. Wilayah gua KESAKSIAN, man.
TashudiYanto @Ole: ngomong2 soal NURANI, gua kemaren (23 Okt 2010) baca Suara Pembaruan (Rumor Politik) yang judulnya HANURA MERGER DENGAN PDI-P? hehehe… Pak Wir aja keberatan bawa “Hati Nurani”-nya, dan dia mungkin lupa Sophan mundur dari DPR karena Nurani-nya juga…
Lena Maryana Mukti
Saleh Abdullah
Saleh Abdullah Lena: Plat AB, Plat AB. Tau kan? Kalo ga tau, sering2 lah ke Yogya. Ini kota merdeka, di mana keliaran dan kreatifitas mendapat tempat. Dan kalau teman2mu di senayan dan di eksekutif tidak segera membuat Undang-Undang Keistimewaan Yogya itu, kami akan referendum untuk lepas dari Indonesia! MERDEKA!!!
Lena Maryana Mukti @Bang Ole: nah ini die topik yang menarik: RUUK Yogyakarta. Masa diusulin Sultan sekedar Paradya. Ya edan lah. Selalu saja ªϑª penyakit LUPA. Kali ini melupakan sejarah legowonya Yogya bergabung ke NKRI. Saya keras bicara soal ini. Di tengah karut marut and amburadulnya soal pemilukada and pembentukan DOB, Yogya tidak boleh sama dengan daerah lainnya. Demikian juga sebaliknya. Kearifan lokal adalah sumber kekayaan budaya ϑªπ spirit bangsa. Duh, jadi panjang deh ceritanya.
Saleh Abdullah

Lena Maryana Mukti
Lena Maryana Mukti
Yg menyedihkan lagi NKRI ini bisa tercabik-cabik oleh agenda politik segelintir orang. Contohnya soal pemekaran atau pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB). Serem deh ngeliat prosesnya. Agenda politik and uang kenceng tuh di situ.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Lena Maryana Mukti

Lena Maryana Mukti @Kak Udi: tuh kan. Munculnya pasti G̲̣̣̣̥ǻk terduga. Giliran ni mata udah ngriyep2 baru ªϑª sapaan dari si handsome guy.
integritas itu barang mahal
bisa membentuk jiwa dan organisasi
menjadi lebih baik
bisa juga membangun negeri dengan integritas
salam sukses..
sedj
Semangat…
Senang bisa berdiskusi hal-hal yang penting dan indah bila dijalankan
Salam semangat kang
menarik, anak uin harus lihat ini.
Wahh… harus berulang-ulang nehhh bacanyah, maklum telmi @Kang
wah bacanya pening
pasti bukan untuk orang yang “nggak pernah nginjek bangku kuliah”
salam kenal Pak Kopral
numpang ‘iklan’ bung, sialan, customer service xl berbulan2 juga ga bisa kuhubungi, gileee 10 rb bung dikorup juga, rakus loe2 pada
numpang ‘iklan’ bung, sialan, customer service xl berbulan2 juga ga bisa kuhubungi, gileee sms no seri isi pulsa 10 rb bung dikorup juga , dasar rakus, jgn pake telkomsel mahal rakus
Masalah integritas di Indonesia tergambarkan saat sintuhan dengan kekuasaan dalam negeri dan akses internasional. Pilar-pilarnya bisa membuat orng menjadi komprador belaka di hadapan penguasa dalam negeri. Ngerih…
Saat integrtas tlah dimiliki, tanggungjawab juga selalu dilakukan dengan baik, namun semuanya menjadi hambar saat kejujuran untuk diri sendiri dibungkam.. sayang memang
secara pribasi saya melihat masih ada org2 yg memiliki ketiga unsur diatas walau seperti “mencari jarum dalam jerami”