Cerita bermula sekitar empat belas tahun yang lalu ….

Ide tentang KIPP itu naik ke permukaan sejak Desember 1995. Namun lembaga ini baru “diproklamasikan” di Kafe Venesia, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 15 Maret 1996, lewat konferensi pers. Goenawan Mohamad, mantan Pemimpin Redaksi majalah Tempo, tampil sebagai ketua presidiumnya. Ia didampingi aktivis Federasi Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Mulyana W. Kusumah, sebagai sekretaris jenderal. Dalam Presidium KIPP itu ada sembilan nama lain, yang semuanya anak muda aktivis pelbagai organisasi. Yang agak mengagetkan, dalam deretan Dewan Pertimbangan Nasional KIPP ada nama Nurcholish Madjid, tokoh pembaharu pemikiran Islam di  Indonesia. Ia hadir pula dalam acara peresmian KIPP. Tentu banyak yang  heran. Betapa tidak. Selama ini Nurcholish dikenal berhubungan mesra  dengan Pemerintah, selain menjadi aktivis ICMI. Cak Nur, demikian  Nurcholish biasa dipanggil, juga masih terdaftar sebagai anggota  Fraksi Karya Pembangunan di MPR-RI. Padahal sejak ide KIPP  digelindingkan, sangat terasa bahwa Pemerintah tak berkenan menerimanya.

Lalu apa hubungannya ? diskusi mengalir terjadi di wall Uin Ciputat .. sebuah diskusi yang memberi pelajaran tentang arti integritas, kejujuran dan tanggung jawab ….
 

  • Uin Ciputat YTH Kak Saleh Abdullah (teman Bang Fachry Ali, Kak Lena Maryana, Kak Muchroji M Ahmad, Kak Tashudi Yanto & Kak Tafta Zani). Berikanlah pencerahan kepada teman2 UIN Ciputat, sebagaimana Kakak pernah memberikannya —bersama seorang perempuan cantik dari Australia— pada senior2 di atas kami dlm diskusi “bawah tanah” untuk melawan rezim Orde Baru. Kami kangen suasana diskusi begitu. Maaf jika Kami mengganggu.

30 September jam 4:10 ·

  • Manjadda Wajada lanjoetkan pak/bu!

    30 September jam 5:16 ·
  • Endar Prasetio Attracted.

    30 September jam 5:25 ·
  • Saleh Abdullah Walau bisa meraba-raba, saya tidak benar2 tahu siapa anda? UIN Ciputat ini institusi, kelompok, indvidu, atau apa? Kalau kelompok, siapa saja anggota2nya.

    30 September jam 5:46 ·
  • Uin Ciputat

    Kak Saleh Abdullah YTH, pertanyaan Kakak sudah kami sampaikan secara jelas dan sangat terang-benderang dalam penjelasan (info) akun ini. Terima kasih banyak Kakak sudah mhormat atas pertanyaan Kakak. Kami sangat bangga dengan prestasi Kakak, meskipun kami mengetahuinya sangat sedikit.

    30 September jam 5:50 ·
  • Saleh Abdullah Euh, begini, ya, saya mengerti. Tapi, anda ini kan pastilah bukan “makhluk cyber” toh? He he he. Maksud saya, apakah anda semacam moderator dari forum UIN Ciputat ini? Dan siapa itu moderatornya? Pasti seseorang, kan?

    Maaf sekali, saya sama… sekali tidak berkeberatan untuk sharing pengalaman. Asal jelas buat saya, dengan siapa saya berkomunikasi. Saya orang yang selalu ingin jelas dan terang benderang. Sehingga mudah untuk menunjukkan tanggungjawab.

    Selebihnya, saya merasa belum mempunyai prestasi seperti yang mungkin anda bayangkan. Tapi pengalaman2 dari perjalanan2 hidup saya bersama teman2, barang tentu dengan senang hati bisa kita diskusikan. Salam hangat!

  • Uin Ciputat

    Benar sekali kami adalah moderatornya. Tapi mohon maaf, kami tidak bisa menyebut nama. Kami berharap Kakak bisa menghormati jawaban kami, tidak seperti teman-teman lain yg memberikan tanggapan dengan gaya bahasa “menghibur”. Sekali lagi, te…rima kasih atas komentar Kakak. Terima kasih juga Kakak telah bergabung di akun diskusi UIN Ciputat. Di organisasi ekstra dan intra, kita terbiasa “menggebrak” meja dalam pertemuan. Di forum diskusi akun UIN Ciputat semoga hal tersebut tidak terjadi. Kalau pun terjadi, bagi kami hal tsb lumrah dan kami sabar untuk membacanya. Kak Saleh Abdullah YTH, kami yakin teman-teman yg lain membaca obrolan di antara kita di pagi hari ini. Sukses untuk Kakak, dan sukses untuk kita semua yang mencintai diskusi. Tegur dan sapalah kami, jika menurut Kakak kami melanggar hukum dan salah dalam menyampaikan data dalam tulisan-tulisan di dinding kami.
    30 September jam 6:13 ·
  • Saleh Abdullah

    Tidak usah kuatir dengan “gebrak menggebrak”, selama substansi yang disampaikan “bermutu”. Itu, kan, cuma “cara” atau “media”. Kalau ada orang yang terganggung dengan “cara” atau “media”, ya, dia berarti tidak tertarik pada substansi. Tempa…t orang seperti itu adalah dunia basa-basi, dunia pepesan kosong!

    Lebih mudah belajar dari kebenaran, karena tinggal mencontek atau meniru. Lalu anda akan masuk dalam daftar panjang “orang-orang malas dan manja.” Akan lebih susah belajar dari kesalahan, karena diperlukan kejujuran dan tanggungjawab. Dan pasti menantang. Jangan takut salah!

  • Endar Prasetio Kapan akan diadakan diskusi tersebut, mohon nanti info di tag ke profil.
    Thank you. 

    30 September jam 6:25 ·
  • Uin Ciputat Kak Saleh Abdullah YTH. Kami berharap tidak salah memaknai komentar Kakak tersebut, yg kami anggap sebagai dukungan nyata atas keberadaan akun facebook UIN Ciputat. Kami benar-benar bangga dengan prestasi Kakak, meskipun Kakak merendah (tawadhu’), khususnya karena Kakak telah masuk dalam “barisan gelombang massa” yang menantang rezim Orde Baru waktu itu.

    30 September jam 6:27 ·
  • Uin Ciputat Kak Endar Prasetio YTH, kami pasti akan memberikan info yang dimaksud kepada Anda, jika kami mengadakan diskusi antaralumni lintas generasi ADIA/IAIN/UIN. Makasih juga atas dukungan Kakak.

    30 September jam 6:29 ·
  • Saleh Abdullah
    Buat saya sih, forum komunikasi atau diskusi apapun, bagus-bagus saja. Sepanjang para peserta diskusinya jujur dan terbuka. Mau kelompok diskusi PKI kek, AhmadiyESaah kek, sepanjang memenuhi kriteria tadi, saya kira penting. Demi tersalurkanny…a prinsip Kebebasan Menyatakan Pendapat.Soal yang anda maksud “prestasi” atau sikap “tawadhu” itu, sungguh, saya tidak sedang berbasa-basi. Penjelasannya begini: Saya memang pernah menjadi korban politik Suharto dan rejimnya. Dan ribuan orang lainnya juga begitu. Dan apa yang saya lakukan, paling pertama, dasarnya adalah bahwa saya secara pribadi, ingin mempunyai kebebasan2 mendasar yang dijamin negara dalam kehidupan. Masa menyatakan pendapat politik saja harus dihukum subversif? Akal sehat saya menolak itu! Lalu pada 1996, saya lakukanlah sesuatu bersama teman2, dengan pikiran, mudah2an berdampak juga buat banyak orang yang menganggapnya penting. Kami terkena resiko politik itu.LaluDan saya mulai berfikir melakukan hal2 lain yang memang , pada 1998, di senja kala kekuasaan diktator Suharto itu, kami bergabung lagi dengan teman lain yang punya pikiran rada-rada sama. Juga jutaan orang lainnya.Dan ketika Suharto jatuh, secara pribadi, saya berfikir “mission accomplished”. sudah lama ingin saya lakukan. Uzlah-lah saya dari Jakarta yang pengap itu, dan bersama teman2 hijrah ke Yogya dan menciptakan kehidupan sendiri bersama teman dan warga desa sekitar di kaki The Old Lady, Merapi.Tawaran masuk partai politik atau menjadi anggota parlemen, saya tolak. Karena merasa tidak berbakat untuk berada di “gray area”. Begitu juga tawaran study ke luar negeri. Karena buat saya, saya bisa study sendiri dengan belajar dari pengalaman2 orang kampung. Dan yang saya pentingkan adalah “melakukan” bukan semata-mata berfikir.  Begitulah. Orientasi hidup saya sederhana, dan saya ingin menikmati kesederhanaan itu. Tabik!