Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Kriminalisasi Kemiskinan

Anjing juga ngemis

Tugas utama negara adalah memerdekakan warga dari kemiskinan. Karena itulah, para pendiri negara ini merumuskan aturan dasar bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Konstitusi pun secara tegas memerintahkan agar fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara negara.

Editorial Media Indonesia / Jumat, 4 September 2009 07:31 WIB mengupas topik tentang “Kriminalisasi Kemiskinan”, berikut kutipan beritanya :

HATI-HATI menjadi dermawan. Sebab menolong orang miskin bisa dijerat hukum. Itulah yang dialami 12 warga Jakarta, pekan lalu. Mereka dijatuhi hukuman denda antara Rp150 ribu dan Rp300 ribu oleh empat pengadilan negeri Jakarta karena memberikan sedekah kepada pengemis.

Ke-12 warga Jakarta itu dianggap telah melanggar Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Hukuman itu lebih ringan daripada ancaman hukuman yang tertera dalam Perda Ketertiban Umum, yaitu kurungan maksimal 60 hari atau denda maksimal Rp20 juta.

Perda Nomor 8 Tahun 2007, yang sejak awal ditentang banyak pihak, tetap diberlakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di mata Pemprov Jakarta, orang miskin layak disingkirkan, bukan diurus, apalagi diberdayakan. Penderma pun dipidanakan.

Jakarta memang menjadi magnet bagi orang-orang miskin untuk mengais rezeki. Terlebih menjelang Lebaran, Jakarta kian disesaki pengemis, gelandangan, dan orang-orang miskin lainnya.

Mereka itulah yang hendak disingkirkan dari Jakarta. Asumsinya, dengan menyingkirkan orang-orang miskin dan menghentikan pemberian sedekah, pemerintah bakal sukses mengatasi kemiskinan di Ibu Kota.

Para pejabat Pemprov Jakarta pun getol merazia pengemis dan gelandangan serta menangkapi para pemberi sedekah. Selain bertamengkan Perda Ketertiban Umum, mereka juga mendapat sokongan moral dari Majelis Ulama Indonesia yang mendukung fatwa larangan mengemis yang dikeluarkan MUI Sumenep, Jawa Timur.

Namun, sesederhana itukah cara mengatasi pengemis dan gelandangan? Jelas tidak. Pengemis dan gelandangan bukan fenomena sepele. Pengemis dan gelandangan adalah bagian dari masalah sosial yang kompleks, multidimensional, yang tak dapat diatasi dengan cara main gusur. Juga tidak dapat dibereskan dengan menghukum warga yang hatinya tersentuh dan kemudian memberi sedekah.

miskinSesungguhnya tak seorang pun ingin menjadi pengemis. Tak seorang pun yang bangga menjadi gelandangan. Karena itu, membanjirnya pengemis dan gelandangan di Jakarta, dan juga di kota-kota besar lainnya, tidak boleh dilihat sebagai akibat pilihan individual, tetapi akibat masalah struktural yang merupakan tanggung jawab negara.

Adalah kenyataan di desa tidak cukup tersedia lapangan kerja sehingga terjadilah migrasi ke kota. Tetapi di kota pun idem dito. Yang tersedia tinggal menjadi pengemis atau gelandangan, pilihan yang secara hukum mestinya lebih ‘mulia’ daripada menjadi perampok.

Namun, pemerintah DKI Jakarta menjadikannya sama saja, yaitu menjadi pengemis dan gelandangan adalah sama kriminalnya dengan pencuri dan perampok. Bahkan, yang murah hati menolong pengemis pun dianggap penjahat.

Data Biro Pusat Statistik memang menunjukkan tingkat kemiskinan cenderung terus menurun.

Pada 2009 jumlah penduduk miskin mencapai 31,5 juta orang dari sebelumnya 34,9 juta orang pada 2008. Akan tetapi, tetap membeludaknya pengemis dan gelandangan di kota-kota besar, termasuk Jakarta, lagi-lagi mencerminkan bahwa kemiskinan masih mendera banyak anak bangsa.

Itu sebabnya memberantas kemiskinan tak bisa hanya lewat perda. Mengatasi kemiskinan bukan dengan cara menyingkirkan orang-orang miskin dari wilayah perkotaan.

Apalagi, konstitusi mewajibkan negara menyediakan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi seluruh warga.

miskin-2

Konstitusi juga mengharuskan negara memelihara fakir miskin dan anak-anak telantar. Karena itu, kriminalisasi kemiskinan hanyalah bentuk keangkuhan sekaligus kekerdilan kekuasaan negara yang ingin melepaskan tanggung jawab sosialnya.

————————

Penyalahgunaan kemiskinan tidak dapat dijadikan alasan untuk membuat peraturan daerah yang menggeneralisasikan pengemis dan 101 aktivitas lainnya sebagai kejahatan. Lalu mengira negara bisa lepas tangan dari tanggung jawab konstitusional untuk menanggung fakir miskin.

About these ads

20 comments on “Kriminalisasi Kemiskinan

  1. casrudi
    September 5, 2009

    pertamax kali yah… Hehehe…

    • casrudi
      September 5, 2009

      Wilujeng saur kang cepot…

      “Sadis” bener yah pemerintah Jakarta, niat hati menuntaskan kemiskinan dgn cara memberangus pengemis-pengemis… apa engga ada cara lain?… Solusi yg paling baik tentunya menciptakan lahan pekerjaan buat mereka, namun itu pasti terasa berat buat pemerintah. Yah minimal mereka dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing. Sebelumnya dibekali keterampilan dan ditempatkan di wisma-wisma. complicated . Sepertinya pemerintah udah terlanjur pusing. Tapi jangan dunk ngelarang orang apalagi menghukumnya setelah bersedekah.

    • KangBoed
      September 5, 2009

      pertamaaaaaaaaaxxxxxxxxxzzzzz

  2. jalandakwahbersama
    September 5, 2009

    Assalamu’alaikum,
    “Konstitusi juga mengharuskan negara memelihara fakir miskin dan anak-anak telantar..” mungkin kalau negara kita sudah benar-benar mampu melaksanakannya, maka tidak mengapa menghukum para dermawan yg bersedekah menolong fakir miskin. Tapi sudahkah negara kita mampu melaksanakannya? Untuk para dermawan, mungkin dapat meyalurkan bantuan ke lembaga-lembaga sosial, amil zakat, dan sebagainya. (Dewi Yana)

  3. ihsan
    September 5, 2009

    saya jadi inget saat, ngobrol2 dgn temen saya. dia dan beberapa temen2 di LSM mengadakan pelatihan dan pendampingan orang miskin, salah satu programnya adalah menyekolahkan anak2 miskin, mereka dibiayai dari mulai SPP seragam buku dan lainnya semua gratis (tidak seperti jargon pemerintah sekolah gratis tapi lain2nya bayar), yang dilakukan temen2 saya bener2 gratis tis.

    Tapi apa jawab mereka, mereka lebih memilih meninggalkan sekolah hanya untuk mengemis, karena mengemis, kerena mengemis akan mendapatkan uang, bahkan jumlahnya sangat fantastis. melebihi gaji seorang sarjana fres graduate di kota besar.

  4. KangBoed
    September 5, 2009

    hoooooooooooooooooooooooyyyyyyyy.. kapan kopdaaaaaaaaarrr.. weeekekekekekekekekekekekekekkekekeekekkekekekekekekkekekek

    • casrudi
      September 6, 2009

      Yuk ah urang kopdar… hoyong terang rupina kang cepot… hehehe

      • kopral cepot
        September 6, 2009

        eta sakitu ngajeblag di gigir … :lol: maenya teu katinggal rupi simkuring he he he he

        • Usup Supriyadi
          Oktober 21, 2010

          da ngajeblag teuing meureun kang….

  5. Fahmi
    September 6, 2009

    satujuuu lah jeung kopral..! hehehe

  6. Dangstars
    September 7, 2009

    Kunjungan di sore hari gimana kabarnya..?

  7. bri
    September 7, 2009

    __semoga akang dan kel semuanya sehat2 saja..amiin__
    ___selamat berpuasa yg ke18 ia bsk…haturnuhun..askum___

  8. Revan
    September 8, 2009

    Selalu menjadi masalah serius utk mengatasi kemiskinan di tiap negara.

  9. qarrobin
    September 8, 2009

    theme barunya keren

    aneh ya kok bisa kemiskinan digusur dengan cara begitu, bukannya dibuatkan semacam rumah yang diurus dan dibiayai oleh negara, jangan2 nanti memberi shadaqah kepada hewan peliharaan dirumah bisa kena denda juga…!!!

  10. Nusantaraku
    September 10, 2009

    Lagi hibernasi beberapa hari, ternyata Kang Cepot sudah mengganti thema yang baru…
    Masalah complicated…
    Yang ngamen termasuk ngemis gak?
    Soalnya, saya pernah sharing dengan anak-anak jalanann di sebuah yayasan dekat Sukajadi, dan pada hakikat mereka ingin sekali bekerja normal, namun karena pendidikan yang rendah, tidak ada ‘lowongan’ bagi mereka…
    Akhirnya ngamen.
    Mereka tidak meminta, tapi mereka hanya menerima pemberian.
    Masih ‘mulia’ daripada mencuri uang yang tidak diberikan (korupsi) atau mengeluarkan peraturan menghabiskan uang negara demi kepentingan pribadi.

    • Nusantaraku
      September 10, 2009

      Saya lupa….gambar seorang pengemis yang duduk berdekatan dengan anjing sangat menarik….
      Dapat dari mana Kang?

      —————–
      Kopral Cepot : ooooh itu .. dicariin sama si embah gogon :lol:

  11. mbah gendeng
    September 19, 2009

    gambarnya lucu :D

  12. 'nBASIS
    Juni 14, 2010

    seolah cerita bukan di Indonesia ya

    • Usup Supriyadi
      Oktober 21, 2010

      iya….

  13. ANDHIKA EKA SAPUTRA
    November 11, 2014

    Jangan yakinkan diri bahwa dia menyukaimu hanya karena dia bersikap manis padamu. Kadang kamu hanya sebuah pilihan ketika dia bosan.

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 5, 2009 by in Wacana Kini and tagged , , , .

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: