Riwayat Tujuh Kata

6 AGUSTUS 1945 pagi. Sebagian warga Hiroshima baru saja selesai sarapan ketika pesawat pengebom milik Sekutu menderu di atas kedua kota itu. Sirene tanda bahaya meraung. Setelah itu bumi menggelegar. Bom atom telah meratakan kota industri tersebut. Selang tiga hari bom serupa memporak-porandakan Kota Nagasaki. Kaisar Tenno Heika tertunduk sedih mendengar laporan hancurnya Nagasaki dan... Continue Reading →

Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~

Pada tahun 1913 di Hindia Belanda muncul suatu gagasan tentang pembentukan “Indie Weerbaar” (Pertahanan Hindia) yaitu milisi paruh waktu yang terdiri atas orang-orang bumi putera, karena milisi merupakan kekuatan pertahanan yang lebih murah daripada memperbesar pasukan professional. Namun demikian ide tentang pembentukkan “Indie Weerbaar” ditolak oleh pemerintah Belanda. Ketika perang dunia I pecah pada tahun... Continue Reading →

Bang Imad : Pekerjaan yang belum selesai ..

"...tegas terhadap kaum penyangkal Tuhan tapi saling kasih-mengasihi di antara sesamanya. Kamu lihat mereka membungkuk dan bersujud demi mendapatkan ridha Allah. ... (Orang-orang seperti ini) bagaikan benih, yang menumbuhsuburkan cecabang dan rerantingnya, lalu menjadikannya kukuh, membesar, berdiri tegak atas batangnya, sehingga menggembirakan penanamnya...."- al-fath : 29 - Di zamannya, bentuk masjid itu tak lazim. Atapnya... Continue Reading →

Ikuti Natsir …..

Ikuti Pak Natsir ..." entah dari mana bisikan itu, mengigau, dejavu  ataukah lamunan sambilalu yang terbawa ke alam mimpi. Entahlah hanya yang jelas kalimat ini pernah ku dengar sebelumnya meski lupa entah kapan. Sebuah wasiat sekaligus teka-teki yang sampai hari ini belum ku mengerti, terlebih generasiku hari ini bukanlah generasi beliau dimasa lalu. Perkenalanku pada... Continue Reading →

Haloean Politik Islam

PENGANTAR KATA Bismillahirrahmanirrahim, Assalamoe ‘alaikoem w.w., Sjahdan, maka karangan jang seringkas ini adalah choelasoh dari pada pidato jang kami oetjapkan dalam salah satoe rapat lengkap di Garoet, pada pertengahan boelan jang laloe, jang diselenggarakan oleh Party Politik Islam Masjoemi daerah Priangan dan dihadliri oleh tiap-tiap Tjabang Masjoemi seloeroeh Priangan, wakil dari G.P.I.I daerah Priangan, Hizboellah,... Continue Reading →

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Zaman Berdebat

JAKARTA, 1933. Pada tanggal 29 September malam orang berjejal di sebuah tempat di gang Kenari, Salemba. Mereka mengikuti perdebatan antara dua orang tokoh: Nama terkenal A. Hassan yang mewakili Pembela Islam dan Abu Bakar Ayub Ahmadiyah Qadian. Pada akhir itu juga pihak Pembela Islam menerbitkan rekaman debat tersebut yang kemudian dicetak ulang 40 tahun kemudian... Continue Reading →

Catatan Sejarah Syarekat Islam (Bag-2)

lanjutan dari bagian 1 ” Dan manakala kamu diberi posisi (politik) di muka bumi (haruslah) menegakan sholat, membayar zakat, memerintah yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Dan kepunyaan Allah-lah hasil terakhir dari segala peristiwa" (QS Surat Al-Hajj : 41) Langkah strategis yang dilakukan Tjokroaminoto, menampakkan hasil yang luar biasa. Beberapa tahun sejak kemunculannya di panggung... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam (Bag-5)

Bulan Agustus 1953 merupakan awal peristiwa penting dan bersejarah bagi kehidupan patriot pejuang Sulawesi dan Abdul Qahhar Mudzakkar sendiri. Setelah melalui perjalanan yang panjang, dikhianati ole kawan maupun lawan dan terjadi kristalisasi kepentingan-kepentingan para pendukung perjuangan. Tiga tahun lamanya pimpinan tertinggi patriot pejuang KGSS bertafakur-berichtiar dan bermusyawarah bersama sebelum memutuskan arah perjuangan selanjutnya. Kalau pada... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam (Bag-3)

lanjutan  dari bagian pertama dan kedua Setelah Mosi Integral M. Natsir Akibat persetujuan KMB, tentang penyerahan kedaulatan maka bentuk negara Indonesia tidak lagi merupakan negara kesatuan sebagaimana yang dicita-citakan bangsa Indonesia, tetapi berbentuk federal yang kita kenal dengan nama Republik Indonesia Serikat (R.I.S). Setelah kedaulatan oleh Belanda diserahkan, R.I.S yang belum mencapai umur satu tahun,... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam (Bag-2)

Baca tulisan sebelumnya : Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam Jadi Korban Bekas KNIL Penulisan sejarah mengenai pergolakan Abdul Qahhar Mudzakkar telah mengantarkan beberapa anak manusia untuk menjadikan dirinya sebagai pakar atau ahli, diantaranya pakar ilmu sejarah, pakar ilmu politik, antropologi, psychology, ahli strategi perang/kemiliteran atau lainnya. Tetapi juga tidak jarang orang menulis sejarahnya... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam

"Sejak awal Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai penyerahan kedaulatan hadiah Belanda pada kahir tahun 1949, dan sampai pada saat buku kecil ini saya tulis, saya adalah salah seorang dari banyak pejuang kemerdekaan Indonesia" (Abdul Qahhar Mudzakkar - dalam tulisannya "Konsepsi Negara Indonesia") Abdul Qahhar Mudzakkar lahir pada tanggal 24 Maret 1921 di Desa Lanipa -... Continue Reading →

Surat Perpisahan dari Johor Bahru

TIBA-TIBA ia balik badan. Ajengan Masduki di depannya ia tinggalkan. Hadi Surya lari, menghidupkan motor bebek, lalu memacunya ke luar desa. Surat dalam amplop putih yang sedianya hendak disampaikan kepada Imam Darul Islam itu masih ia bawa. "Enggak tega saya setelah melihat dia," ujar Hadi, kini 47 tahun, saat ditemui di rumahnya di Bandung tiga... Continue Reading →

Asimilasi setelah Eksekusi

PAGI masih terang-terang tanah. Di tengah hawa dingin perbukitan Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat, Ika Kartika, Komalasari, dan Sardjono berjalan terseok-seok menuruni lereng. Ditemani Musti'ah, sang pengasuh, tiga anak Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo itu berusaha mencapai pos tentara yang sudah di depan mata. Masih terngiang ucapan pengawal yang sebelumnya mengiringi mereka. "Kalian turun, serahkan diri... Continue Reading →

Lubang Peluru di Menara Masjid

KABAR itu berembus dari mulut ke mulut: kelompok Darul Islam akan menyerbu. Malam sehabis isya pada 17 April 1952, Kampung Cipari, Wanaraja, Garut, Jawa Barat, senyap. Sebagian penduduk kampung itu meninggalkan rumah. Mereka berkumpul di kompleks Pesantren Darussalam milik KH Yusuf Tauziri. Salaf Sholeh terus mengajar beberapa santri yang mengaji di rumahnya. Ia belum mengungsi.... Continue Reading →

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: