Menelusuri Jejak Para Pejalan Sunyi

Secangkir Sunyi untuk Ari Pahala Tak ada kopi untukmu, kawanku, tak ada ruang tamu. Kau tak hadir di situ, hanya keramik angsa, boneka-boneka tua, piring-piring cina, dan sebingkai lukisan rimba. Kukatakan padamu, kawanku: di sini, di ruang tamu ini, aku merasa begitu sunyi. Terkenang juga suaramu, sebentuk perlawanan pada batu-batu. Lalu kita pun santai bercerita:Lanjutkan membaca “Menelusuri Jejak Para Pejalan Sunyi”