Solidaritas Dalam Abad Pluralis

Solidarity in a Pluralist Age : Charles Taylor* Solidaritas adalah esensi dari masyarakat demokratis. Ketiadaannya akan membuat tatanan itu berantakan. Masyarakat demokratis tidak akan berfungsi ketika muncul rasa saling tidak percaya (mutual distrust) atau dengan kata lain, jika ada sebagian anggota masyarakatnya merasa ditinggalkan anggota masyarakat yang lain. Banyak orang menganggap berkembangnya pandangan individualistis sebagaiLanjutkan membaca “Solidaritas Dalam Abad Pluralis”

Presiden Yudhoyono dan “Demokrasi Mataraman”

Oleh Anwar Hudijono Setelah Raja Pajang Sultan Hadiwijaya wafat, ada dua poros suksesi utama, yaitu Pangeran Benawa di Pajang dan Panembahan Mas di Madiun. Keduanya sama-sama keturunan darah biru Sultan Trenggana dari Demak Bintara. Namun, ternyata yang muncul adalah Panembahan Senapati dari Mataram. Dia bukan trah raja. Dia yang semasa kecil bernama Sutawijaya lahir dariLanjutkan membaca “Presiden Yudhoyono dan “Demokrasi Mataraman””

esbeye dua ; fa ‘aina tadzhabuun …

“Democracy is an impossible thing until the power is shared by all, but let not democracy degenerate into mobocracy” (Mahatma Gandhi) Di persimpangan jalan sejarah yang krusial, nasib bangsa-bangsa sering terkait sangat erat dengan orang-orang tertentu. Individu-individu ini seolah dipilih oleh sejarah untuk mengemban suatu misi besar. Keputusan moral dan pilihan politik mereka untuk menjawabLanjutkan membaca “esbeye dua ; fa ‘aina tadzhabuun …”

Tapak Jejak Negeri Memilih Demokrasi

“Supaya tercapai suatu masyarakat yang berdasarkan keadilan dan kebenaran, haruslah rakyat insyaf akan haknya dan harga dirinya. Kemudian haruslah ia berhak menentukan nasibnya sendiri perihal bagaimana ia mesti hidup dan bergaul” -Mohammad Hatta- Katanya, ide filosofis demokrasi sebenarnya telah ada sejak zaman yunani kuno dengan adanya Negara kota (polis) di Athena pada abad ke 4Lanjutkan membaca “Tapak Jejak Negeri Memilih Demokrasi”