Ali Moertopo ~Sang Arsitek~

Hidup itu hanya sekali dan sifatnya hanya mampir minum." Kata-kata itu diucapkan oleh Letnan Jenderal (pur.) Ali Moertopo dalam suatu wawancara khusus TEMPO, "Masa hidup itu harus digunakan sebaik-baiknya, kita harus bekerja semaksimal mungkin, untuk bangsa dan negara." Ali Moertopo, tokoh yang tersohor itu, meninggal di ruang kerjanya, di Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih,... Continue Reading →

“Juru Peta” Sastra Indonesia ~H.B. Jassin~

Di samping mendapat julukan "Paus" Sastra Indonesia, Hans Bague Jassin juga dipanggil administrator dan diktator sastra. Ia pernah memukul Chairil Anwar. Dihukum 1 tahun penjara gara-gara cerpen Langit Makin Mendung. Inilah orang yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. Lahir di Gorontalo, 31 Juli 1917, mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, juru... Continue Reading →

Mewawancarai “kembali” Bung Hatta

~ generasi itu lahir tanpa dibikin-bikin ~ BATAVIA, 1919. Sabtu sore. Dari rumahnya di Tanah Abang ia bersepeda ke gang Kwini. Pakaiannya selalu rapih, bersih. Dan selalu lima menit sebelum waktu yang dijanjikan ia sudah berdiri depan sahabatnya di asrama STOVIA (School tit Opleiding voor Indische Artsen) Gedung Kebangkitan Nasional jalan Abdurrahman Saleh 26 Jakarta... Continue Reading →

Raja Jawa Mengantar Revolusi

George Donald Larson, dalam: Prelude to Revolution:Palaces and Politics in Surakarta, 1912-1942 - disertasi doktor untuk ilmu sejarah di Northern Illinois University, Dekalb, Amerika Serikat, 1979 - mengungkap peranan raja-raja Jawa. Ternyata Pakubuwono X dan para bangsawan politisi Keraton Surakarta bukan hanya mendukung, tapi terjun langsung dalam kancah pergerakan nasional. Berikut ini nukilan dari disertasi... Continue Reading →

Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~

Pada tahun 1913 di Hindia Belanda muncul suatu gagasan tentang pembentukan “Indie Weerbaar” (Pertahanan Hindia) yaitu milisi paruh waktu yang terdiri atas orang-orang bumi putera, karena milisi merupakan kekuatan pertahanan yang lebih murah daripada memperbesar pasukan professional. Namun demikian ide tentang pembentukkan “Indie Weerbaar” ditolak oleh pemerintah Belanda. Ketika perang dunia I pecah pada tahun... Continue Reading →

Bung muda yang menggugat ….

Khalayak awam setidaknya pernah membaca ada empat "Bung" dalam buku sejarah. Yakni, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo. Dalam suasana perang, bung menemukan wataknya yang revolusioner sehingga digunakan sebagai sapaan kebanggaan di antara para pejuang. Tak mengherankan bila bung yang melekat pada nama para pejuang itu diingat pula sebagai sebutan bagi pahlawan,... Continue Reading →

Bang Imad : Pekerjaan yang belum selesai ..

"...tegas terhadap kaum penyangkal Tuhan tapi saling kasih-mengasihi di antara sesamanya. Kamu lihat mereka membungkuk dan bersujud demi mendapatkan ridha Allah. ... (Orang-orang seperti ini) bagaikan benih, yang menumbuhsuburkan cecabang dan rerantingnya, lalu menjadikannya kukuh, membesar, berdiri tegak atas batangnya, sehingga menggembirakan penanamnya...."- al-fath : 29 - Di zamannya, bentuk masjid itu tak lazim. Atapnya... Continue Reading →

Marhaen dan Proletar

Oleh : Ir. Soekarno Di dalam konferensi di kota Mataram baru-baru ini, Partindo telah mengambil putusan tentang Marhaen dan Marhaenisme, yang poin-poinnya antara lain sebagai berikut: Marhaenisme, yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi. Marhaen yaitu kaum Proletar Indonesia, kaum Tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak... Continue Reading →

Zaman Berdebat

JAKARTA, 1933. Pada tanggal 29 September malam orang berjejal di sebuah tempat di gang Kenari, Salemba. Mereka mengikuti perdebatan antara dua orang tokoh: Nama terkenal A. Hassan yang mewakili Pembela Islam dan Abu Bakar Ayub Ahmadiyah Qadian. Pada akhir itu juga pihak Pembela Islam menerbitkan rekaman debat tersebut yang kemudian dicetak ulang 40 tahun kemudian... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam (Bagian Terakhir)

Saat-saat Terakhir Pada tahun 1957 Kaso Abdul Gani sebagai seorang kepercayaan NII/TII Sulawesi Selatan yang berkedudukan di luar negeri, meresmikan pembentukan Pemegang Kuasa Organisasi (PKO) di luar negeri. Setahun kemudian Syamsul Bachri pada waktu itu menjabat selaku penglima Divisi I/Divisi Hasanuddin, oleh Abdul Qahhar Mudzakkar ditugaskan juga untuk keluar negeri. Disamping bertugas untuk mendampingi Kaso... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam (Bag-5)

Bulan Agustus 1953 merupakan awal peristiwa penting dan bersejarah bagi kehidupan patriot pejuang Sulawesi dan Abdul Qahhar Mudzakkar sendiri. Setelah melalui perjalanan yang panjang, dikhianati ole kawan maupun lawan dan terjadi kristalisasi kepentingan-kepentingan para pendukung perjuangan. Tiga tahun lamanya pimpinan tertinggi patriot pejuang KGSS bertafakur-berichtiar dan bermusyawarah bersama sebelum memutuskan arah perjuangan selanjutnya. Kalau pada... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam (Bag-3)

lanjutan  dari bagian pertama dan kedua Setelah Mosi Integral M. Natsir Akibat persetujuan KMB, tentang penyerahan kedaulatan maka bentuk negara Indonesia tidak lagi merupakan negara kesatuan sebagaimana yang dicita-citakan bangsa Indonesia, tetapi berbentuk federal yang kita kenal dengan nama Republik Indonesia Serikat (R.I.S). Setelah kedaulatan oleh Belanda diserahkan, R.I.S yang belum mencapai umur satu tahun,... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam (Bag-2)

Baca tulisan sebelumnya : Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam Jadi Korban Bekas KNIL Penulisan sejarah mengenai pergolakan Abdul Qahhar Mudzakkar telah mengantarkan beberapa anak manusia untuk menjadikan dirinya sebagai pakar atau ahli, diantaranya pakar ilmu sejarah, pakar ilmu politik, antropologi, psychology, ahli strategi perang/kemiliteran atau lainnya. Tetapi juga tidak jarang orang menulis sejarahnya... Continue Reading →

Abdul Qahhar Mudzakkar Sang Patriot Pejuang Islam

"Sejak awal Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai penyerahan kedaulatan hadiah Belanda pada kahir tahun 1949, dan sampai pada saat buku kecil ini saya tulis, saya adalah salah seorang dari banyak pejuang kemerdekaan Indonesia" (Abdul Qahhar Mudzakkar - dalam tulisannya "Konsepsi Negara Indonesia") Abdul Qahhar Mudzakkar lahir pada tanggal 24 Maret 1921 di Desa Lanipa -... Continue Reading →

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: