Politik Kebijaksanaan Dewata

Bermula dari penelusuran pemikiran Hatta tentang Demokrasi yang pada tulisan "Hatta dan Demokrasi Kita " tertulis : hampir semua tokoh nasionalis radikal seperti Radjiman Widjodiningrat, Cipto Mangunkusumo, Soewardi Soerjaningrat, Douwes Dekker, Armijn Pane, Sanusi Pane, dan Mohammad Yamin adalah anggota Theosophy. Tergelitik untuk menelusuri jejak perkumpulan teosofi di Indonesia karena bagaimanapun perkumpulan ini banyak mempengaruhi... Continue Reading →

Hatta dan Demokrasi Kita

Tersebutlah sebuah risalah yang hadir di suatu hari pada tahun 1960. Adapun risalah yang ditulis di majalah Panji Masyarakat itu adalah karya Mohammad Hatta, yang mengakibatkan Sukarno berang. Majalah itu dilarang terbit. Tulisan berisi kritik terhadap Demokrasi Terpimpin itu mungkin menjadi salah satu renungan terbaik perihal demokrasi yang pernah kita miliki. Agaknya, Hatta kecewa dengan... Continue Reading →

Konspirasi: Van der Plas connection (CIA- MI 6) di Indonesia

Ada satu artikel menarik yang bersumber dari apakabar@clark.net berkaitan dengan berbagai konspirasi menjelang meletusnya Gerakan 30 September 1965. Artikel ini memberi sudut pandang baru mengenai siapa yang bermain sekaligus yang punya hajat di balik gerakan yang bermuara pada kejatuhan Presiden Sukarno pada 1966 tersebut. Sudut pandang baru yang dimaksud adalah keterlibatan jaringan intelijen binaan Van... Continue Reading →

Bergosok dan Bersatu, 1945

MEREKA, 62 tokoh yang di anggap mewakili bangsa Indonesia, bersidang di gedung Volksraad, Jalan Pejambon, Jakarta Terbentuk pada 29 April 1945, namun baru dilantik pada 28 Mei 1945, sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dilakukan esok harinya. Sidang besar dilakukan dua kali, 4 hari pertama sampai 1 Juni dan yang kedua selama sepekan... Continue Reading →

PUTERA FAJAR

Pengantar Penyunting: Rangkaian cerita di bawah ini diterjemahkan dan disadur oleh Dini S. Setyowati, dari sebuah buku berbahasa Jerman berjudul "Indonesien '65 - Anatomie eines Putchs", oleh dua pengarang Jerman (Republik Demokrasi Jerman ketika itu) yang lebih suka anonim, yang diterbitkan oleh Militaerverlag der Deutchen Demokratischen Republik (1975; 295 hal.). Terjemahan ini dipersembahkan bagi kaum... Continue Reading →

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Pater Beek: Spindoctor Orba

Setelah kudeta PKI berhasil digagalkan di tahun 1965, Jenderal Soeharto memerintahkan untuk menangkap setengah hingga satu juta penganut paham komunis di Indonesia. Ada indikasi, Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto tidak lepas dari peran seorang pater asal Belanda, Josephus Beek. Josephus Beek lahir 12 Maret 1917 di Amsterdam. Tahun 1935, ia bergabung dengan Ordo Yesuit Belanda... Continue Reading →

Supersemar Yang Supersamar

Sepanjang Indonesia merdeka dapat dikatakan belum pernah sekalipun suksesi kepemimpinan nasional berlangsung dengan mulus. Empat tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini, Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Abdurrahman Wahid, semuanya terpaksa harus menyerahkan kekuasaannya dengan cara yang tidak menyenangkan. Dalam kacamata sejarah, berulangnya suksesi kepemimpinan nasional yang tidak mulus hingga tiga kali berturut-turut... Continue Reading →

Pidato Tan Malaka (1922) Tentang Komunisme dan Pan-Islamisme

Penerjemah: Ted Sprague Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949)... Continue Reading →

Ruang Sastra Dalam Bingkai Sejarah Indonesia

Sastra (Sansekerta शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata "sastra" bisa pula merujuk... Continue Reading →

Shadow Play: Film mengenai penjatuhan Soekarno dan pembantaian massal 1965-1966

Email dari seorang teman Salam Dalam email ini, saya ingin membagikan informasi mengenai film dokumenter berjudul Shadow Play, diproduksi th 2001 oleh Hilton Cordell Productions. Film tersebut bisa disaksikan secara online dan gratis di http://www.offstream. tv Shadow Play mengungkapkan tragedi kemanusiaan abad 20, yang disembunyikan oleh Soeharto dan pengikutnya. Soeharto menyebarkan fitnah dan propaganda yang... Continue Reading →

Antropologi Pemikiran Kaum Teroris (2)

—— Al Chaidar —— Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh Kaum Fundamentalis dan Radikal Islam di Indonesia Peristiwa Bom Bali yang menelan ratusan korban jiwa yang tak berdosa pada tanggal 12 Oktober 2002 telah memunculkan kaum fundamentalis Islam (Jama’ah Islamiyah) sebagai “teroris” dalam peta bumi politik dunia saat ini.... Continue Reading →

Antropologi Pemikiran Kaum Teroris (1)

Al Chaidar (Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh) Latar Belakang Dari pengakuan para tersangka tindak pidana terorisme Bom Bali 12 Oktober 2002, jelas terlihat sebuah ekspresi emosi keagamaan. Ali Gufron, salah seorang tersangka teror Bom Bali, bahkan menyatakan sikapnya dengan tegas dan sederhana: “... membalas kezaliman dan kesewenangan AS... Continue Reading →

Rekonstruksi Peran Kaum Intelektual Sumatra Dalam Nasionalisme Indonesia

Oleh Dr.phil.Ichwan Azhari (Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (PUSSIS) / Ketua Program Studi Antropologi Sosial, Universitas Negeri Medan) 1. Pengantar Gerakan nasionalisme Indonesia selama ini telah dikonstruksi secara keliru baik oleh kebanyakan sejarahwan Indonesia, sejarahwan Belanda maupun sejarahwan asing lainnya. Konstruksi itu menunjukkan seakan-akan gerakan nasionalisme hanya berlangsung atau berarus di pulau Jawa,... Continue Reading →

Pegangsaan Timur 56 ; Proklamasi dan Sang Merah Putih

Pada 17 Agustus 1945 dibacakan Proklamasi di Pegangsaan Timur yang sekarang berdiri di sana Gedung Pola. Maka di muka Gedung Pola itu ada tugu, tugu itu ditaruh persis di tempat yang dulu saya injak membacakan Proklamasi itu. Jadi kalau Saudara-Saudara ingin mengetahui tempat yang saya membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945, tugu Pegangsaan Timur 56 itulah... Continue Reading →

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: