Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa (4)

*Sebuah tulisan dari Akira Nagazumi dari Majalah Tempo yang terbit 4 Juni 1988 dengan judul "Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa". Lanjutan dari bagian ketiga : Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa (3) ********** Setelah Penbaru Islam Bergabung dengan Budi Utomo Hubungan yang sangat berbeda, yang terjadi selama tahun-tahun pertama, adalah... Continue Reading →

Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa (3)

*Sebuah tulisan dari Akira Nagazumi dari Majalah Tempo yang terbit 4 Juni 1988 dengan judul "Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa". Lanjutan dari bagian kedua : Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa (2) ******* Budi Utomo dalam Persaingan dan Imbauan DALAM suratnya tanggal 30 Desember 1909 Penasihat Urusan Dalam Negeri Hazeu... Continue Reading →

Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa (1)

Bagi setiap orang yang sekarang berminat mempelajari Boedi Oetomo, ia sulit meninggalkan karya Akira Nagazumi, "The Dawn of Indonesian Nationalism". Karya ini dapat disebut "karya klasik" mengenai Boedi Oetomo. Profesor Akira Nagazumi dari Universitas Tokyo menjelaskan panjang lebar soal pertumbuhan dan pengaruh Budi Utomo sejak didirikan pada tahun 1908, sebagai organisasi nasionalis pertama di Indonesia.... Continue Reading →

Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa (2)

*Sebuah tulisan dari Akira Nagazumi dari Majalah Tempo yang terbit 4 Juni 1988 dengan judul "Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa". Lanjutan dari bagian pertama : Ketika Nasib Bangsa Diperbincangkan di Sekolah Dokter Jawa (1) ****** Selama tahun 1905- 1906 jumlah siswa terdaftar di STOVIA sebanyak 177 orang - 48 dalam kelas persiapan... Continue Reading →

Yang Tersisa Dalam Cerita

Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu Kartosoewirjo. Saat ayahandanya ditangkap Kodam Siliwangi, Sardjono berusia 5 tahun. Setelah beranjak dewasa ia cukup banyak tahu tentang gerakan NII. Maklum kedua kakaknya, Dodo Muhamad Darda dan Rahmat Tahmid Basuki adalah termasuk anggota DI/TII yang masih terus bergerak pasca meninggalnya Kartosoewirjo. Sardjono sekarang aktif di Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), wadah... Continue Reading →

Islam dan Pancasila : Betulkah Bersahabat ?

Sebuah tulisan Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif  yang dimuat  di koran Republika (kolom Resonansi), edisi Selasa 15 Mei 2012 yang berjudul " Saat Islam dan Pancasila Sudah Bersahabat (1)" menarik untuk dibahas sebagai wacana pemikiran dan mengingat akan masa lalu tentang relasi Islam dan Pancasila sebagai sebuah Ideologi. Tulisan lengkapnya saya copy paste disini :... Continue Reading →

Pengakuan Dedengkot CIA

CIA didirikan pada 1947. Tugasnya yang utama adalah kontraintelejen, untuk melindungi Amerika dari gangguan subversi komunis atau apa pun yang memusuhinya. Tiga huruf itu kemudian bergetar di seluruh dunia sebagai tangan-tangan hitam Amerika.  Artikel ini adalah kutipan dari buku Portrait of a Cold Warrior: G.P. Putnam’s Sons karya Joseph Burkholder Smith, bekas agen Central Intelligence Agency, terbitan... Continue Reading →

Laman: 1 2 3

Kartosoewirjo Muda Jurnalis Fadjar Asia

Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.  Istilah “pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris berarti press. Secara harfiah pers berarti cetak dan secara maknawiah berarti penyiaran secara tercetak atau... Continue Reading →

Surat Kabar Fadjar Asia

Tesis bahwa bangunan kebangsaan kita dididirkan dari tradisi pers bisa dilihat dari fakta sejarah bahwa nyaris seluruh tokoh kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme adalah tokoh pers. Dan posisi mereka dalam struktur pers umumnya pemimpin redaksi (hoofdredakteur) atau paling rendah adalah redaktur. HOS Tjokroaminoto yang kita kenal sebagai salah satu “guru pergerakan” adalah pemimpin redaksi Oetoesan... Continue Reading →

Melintasnya Budaya

Oleh :  Prof. DR. Sediono MP Tjondronegoro* Perkembangan suatu bangsa yang sejak awal sudah tersusun berdasarkan ratusan kelompok atau masyarakat ethnik dari tahap ke tahap berikutnya menurut tatanan sejarah memang tidak mudah dikisahkan.  Namun terasa adanya suatu benang merah yang dapat kita fahami, yang melintasi tahap-tahap perkembangan bangsa yaitu kebudayaan. Kebudayaan mencirikan beberapa sifat masyarakat... Continue Reading →

Cerita Dibalik Supersemar

11 Maret 1966, sejarah Indonesia mengalami titik balik. Sebuah rezim mulai runtuh. Dan sebuah babak baru lahir. Instrumen yang mengubah sejarah itu cuma secarik kertas, yang ditandatangani Presiden Soekarno hari itu: Surat Perintah Sebelas Maret, biasa disingkat Supersemar. Lewat surat itu Presiden Soekarno memberikan wewenang kepada Letjen Soeharto, waktu itu Menteri Panglima Angkatan Darat, untuk... Continue Reading →

Politik Militer Pasca Kemerdekaan 1950 – 1952

Oleh : DR. Saleh A Djamhari (Sejarawan UI) Armed forces are employed not only for war and the threat of war, whether for purposes of aggression or defense. Throughout history they have had other political and social functions as well. Peter Paret, Understanding War, 1993 PENGANTAR Memasuki tahun 1950, saya mencatat ada dua peristiwa penting. Pertama, perubahan ketatanegaraan dari Republik... Continue Reading →

~ 5 Buku ~

200 Tahun Anjer-Panaroekan: Jalan (untuk) Perubahan - Banten, Hikayat Kerbau di Ladang Pabrik Chapter 1: Banten, Hikayat Kerbau di Ladang Pabrik Chapter 2: PEMBANGUNAN:Industrialisasi Belum Berhasil Sejahterakan Warga Chapter 3: DAMPAK PEMBANGUNAN: Menjadi Buruh di Tanah Sendiri Chapter 4: JALAN TOL: Penolakan Lanjutan dari Babakan Ciwaringin Chapter 5: EKSPEDISI: Menyusuri Jejak Daendels di Bumi Siliwangi Chapter 6: JALAN POS : Daendels Menaklukkan Puncak Pass? Chapter 7: INFRASTRUKTUR: Matinya... Continue Reading →

Zaman Re-Ra

Konflik antara diplomasi dan perjuangan merupakan corak dominan yang mewarnai sejarah Indonesia di masa revolusi. Konflik antara diplomasi dan perjuangan ini tampil pertama kali dalam masalah apakah Indonesia, yang baru merdeka, perlu segera memiliki tentara atau tidak. Pimpinan negara, Soekarno-Hatta, berpendapat dengan segera membentuk tentara, Indonesia hanya akan memprovokasi Jepang, yang masih bersenjata lengkap, meski telah... Continue Reading →

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: