Biar sejarah yang bicara …….

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara

Motivasi Perang Sabil di Nusantara

Bila akal telah terasah pemahaman, bila jiwa telah terpatri keyakinan maka lahir motivasi yang menjadi energi luar biasa untuk berbuat, bertindak, berjuang dengan kerelaan diri sampai mati demi misi yang mengendali diri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menggali pahatan sejarah bangsanya. Indonesia atMotivasi Perang Sabil di Nusantaraau Nusantara telah lama berabad-abad menjadi sebuah bangsa slam atau bangsa Islam yang gigih menebarkan salam keselamatan, rahmat dan berkah serta kurnia Ilahi bagi bumi pertiwi. Tetapi kita yang hadir di masa kini kurang begitu mampu menghayati nilai-nilai yang telah tertanam sekian lama di bumi ini. Penggalian sejarah terpaku pada pengetahuan tentang peristiwa demi peristiwa padahal history is not story. Mengungkap dibalik peristiwa justru lebih berdaya manfaat bagi lahirnya sejarah-sejarah baru di masa kini dan masa depan.

Tak banyak literatur, buku atau tulisan sejarah yang dengan sungguh-sungguh menggali kedalaman motivasi yang menyebabkan adanya gerak juang dalam waktu yang panjang dari generasi ke generasi. Semangat mendalami sejarah memudar karena peristiwa dibuat kontroversi yang menghabiskan energi saling beradu argumentasi, sementara makna sejarah terlupakan karena para pembaca sejarah sudah kelelahan.

Buku “Motivasi Perang Sabil di Nusantara” karya Mualimbunsu Syam Muhammad adalah diantara sedikit dan langka yang berupaya menggali sumber-sumber motivasi yang menjadi energi gerak juang para pejuang di bumi Nusantara tercinta ini. Memuat kajian kitab-kitab yang hadir memberi inspirasi dan motivasi bagi Umat Islam Bangsa Indonesia.

Dari Kajian 3 “Kitab kuning”

Dari membaca judul buku ini sudah menimbulkan beberapa pertanyaan. “Betulkah Kitab Ramalan Joyoboyo memotivasi orang berperang Sabil?” ramalan Joyoboyo yang selama ini hanya dikenal orang sebagai kitab mistik, penuh ramalan. Kitab yang berisi “pengkabaran’ akan datangnya Ratu Adil yang kadangkala dikenal juga dengan nama  Rajalullah, Idzharul-Huda, Imamul-Huda, Ratu Amisan, Sultan Heru Cokro, Ratu Ginaib, Noto Pinandito.

Berdasarkan Ramalan Joyoboyo yang disusun oleh Karma Yoga yang dikaji penulis; Ratu Adil bukan berupa figure (syahsyiyah) seseorang, ia merupakan lembaga, wadah, pemerintahan. Dan ianya telah lahir di ‘Indonesia’ pada “Wiku Memuji Ngesti Sawiji”, dengan berpedoman pada hitungan Condrosangkolo: wiku = 7: memuji = 7: ngesti = 8: dan sawiji = 1, dibacanya terbalik, jadi: 1877 tahun Jawa atau 1365 Hijriyyah atau 1947 Masehi. Tahun 1947 itu bertepatan dengan “Perumuman Perang Sabil, Perang Suci, Perang Jihad pada Jalan Allah, menempuh musuh angkara murka dan durjana, menghadapi kekuasaan Belanda penjajah” yaitu: pada bulan puasa tahun 1877 Jawa, atau 1365 H.

Begitu juga dengan Kitab Dalailul-Khairat, yang hanya mengandung berbagai shalawat dan hizib-hizib (doa-doa). “Bagaimana mungkin menjadi kitab mendorong muslim untuk berperang Sabil ?” Tetapi Mualimbunsu Syam Muhammad dengan baiknya mengangkat dua kitab (Ramalan Joyoboyo dan Dalailul-Kharat) setaraf dan sama dengan Kitab Hikayat Perang Sabil dalam memotivasi masyarakat Muslim berperang Sabil menghadapi kafir penjajah di bumi Nusantara.

Metode yang digunakan penulis dalam mengkaji 3 kitab tersebut adalah secara deskriptif analitis dengan mengetengahkan:

  1. Gambaran umum tentang spesifikasi format dan pengarang kitab.
  2. Memberi penekanan pada objek materi kitab (Perang Sabil) yang dianggap penting dan berguna untuk pengetahuan.
  3. Mencoba memberi ilustrasi latar belakang sosial dari lahirnya karya berbentuk kitab tersebut.
  4. Meneliti dan mengkaji posisi dan peran kitab serta cara masyarakat memanfaatkannya.
  5. Mencoba menggali “inti” atau ruh-kitab yang memberi semangat juang perang.
  6. Menganalisa pengaruh langsung (direct/straight) dan yang tidak langsung (indirect) terhadap masyarakat Muslim Nusantara. Juga tentang relevansinya bagi masyarakat Islam sekarang dan mendatang. (bab ketiga; Tiga Kitab Pemotivasi Perang Sabil)

Perang Sabil Dalam Sirah Nabawi.

Penulis ‘mengajukan’ atau menyusun kriteria Perang Sabil yang menurutnya dapat dijadikan acuan, pedoman dan juga standard dalam menilai perang-perang yang dilakukan kalangan Muslim hari ini. Tujuh kriteria Perang Sabil tersebut berdasarkan dari perang yang terjadi di zaman Rasulullah SAW, ketika menjabat sebagai ‘kepala pemerintahan Islam’ di Yastrib yang beribukota di Madinah al-Munawwarah.

Tujuh kriteria Perang Sabil: 1. Jaminan pasti dari Dinul-Islam. 2. Perang yang pada hakikatnya mengikut-sertakan Allah, Rasul, dan Malaikat. 3. Perang atas nama Negara Allah. 4. Ada pemimpin yang bertanggung-jawab di dunia dan menjadi saksi utama di mahkamah akhirat. 5. Melibatkan semua penganut (rakyat) Muslim, lelaki dan perempuan yang telah baligh. 6. Gugur sebagai syahid menjadi keutamaan (prioritas) para Mujahid. 7. Medan pertempuran dan waktu perang meluas. Keterangan terperinci kriteria perang dijelaskan penulis dalam Perang Sabil berdasarkan kejadian di zaman beliau SAW: “Sirah Nabawi” (bab pertama), yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari kajian Ilmu Fiqh.

Perang Sabil di Nusantara

Perkataan “Perang Sabil” adalah istilah khas Nusantara (Indonesia). Berasal dari kepercayaan Aqidah-Islam. Dalam Al-Quran, perang disebut Qital, termasuk sebagai salah satu pengertian dari arti-kata Jihad. Sedangkan kata Sabil adalah singkatan dari Fi Sabilillah  yang  artinya di jalan Allah.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (Q.S. ash-Shaff, 61:4)

Jihad Fi Sabilillah (Perang di Jalan Allah) mengandung arti perang yang mengikuti ketentuan (syariat) Allah, sesuai dengan wahyu-Nya, dan mempunyai contoh dari sunnah Rasul-Nya, Muhammad SAW. Berbeda dengan pengertian teroris (irhab) yang bersifat merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha).

Peristiwa Perang Sabil di Nusantara bisa ditelusuri dari sejak awal berdirinya Kerajaan Islam Sumatera (Indonesia) atau di Malaka, Semenanjung Malaya (Malaysia). Dalam penelusuran ini tentunya harus berpegang pada pengertian Perang Sabil, yaitu  perang yang terjadi dengan keberadaan pemerintahan atau Negara Islam. Berdasarkan catatan sejarah Islam Nusantara, Perang Sabil yang pertama terjadi adalah pada awal abad ke-16 Masehi yang ditandai dengan terjadinya agresi tentara Kerajaan Protestan Portugis tahun 1511 M. Panglima perang tersebut Alfonso de Albuquerque yang berpusat di Goa, India, terhadap Kerajaan Islam Malaka, yang ketika itu di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Syah I (memerintah tahun 1488-1511 M.).

Pemahaman tentang Perang Sabil sangat diperlukan umat Islam. Banyak buku–terutama kajian fiqh–yang membahasnya. Selain untuk menambah wawasan atau pengetahuan, juga untuk menghindari salah pengertian yang menyamakan Jihad dengan teroris atau perusuh. Perang dalam jihad adalah perang yang mempunyai panduan jelas dari wahyu Ilahi dan contoh nyata dari prilaku Nabi Muhammad SAW. Disamping itu juga kita ketahui, bukan hanya Islam saja yang memiliki konsep Perang Sabil atau Perang Suci. Semua agama yang bermuara pada ajaran Nabi Ibrahim (‘alaihis-Salam),  Yahudi, Kristen dan Islam mempunyai ajaran dengan definisi konkrit berkaitan dengan perang. Yahudi dengan istilah Yahyeh-War (Perang Tuhan), Kristen dengan Crusades (Perang Salib) atau Holy-War dan Islam dengan istilah Perang Sabil (Perang fi Sabilillah). Selain itu dapat kita tambahkan juga bahwa, agama Hindu pun mempunyai ajaran tentang perang-sucinya sendiri yang tertulis dalam Kitab Mahabrata; Perang Bratayuda; dimana  orang yang membacanya dinilai sebagai kebaktian dalam agama mereka.

Dari sekian banyak Perang Sabil yang terjadi dan dipercayai pelakunya sebagai wajib-suci, Penulis mengemukakan tiga peristiwa Perang Sabil di Nusantara secara gamblang, yaitu: (1) Perang Aceh 1873-1904. (2) Perang Banjar 1859-1905 dan (3) Perang Darul-Islam (DI) 1947-1965. Serta dilengkapi dengan contoh Yahyeh War (Yahudi) dan Crusades (Nashrani)

Penulis menemukan kesamaan antara dokrin perang dua agama; Islam dan Yahudi, yaitu Perang di jalan Tuhan. Sabilillah bagi orang-orang Islam dan Yahweh War bagi Yahudi. Sedangkan orang-orang Kristen memilih penyebutan perang mereka dengan istilah Crusades (perang Salib). Disisi lain pula, dia menemukan persamaan antara Perang berdasarkan agama dari ajaran Yahudi dan Kristen; iaitu dengan menghadirkan ‘benda-benda sakral’ dalam perang mereka, sebagai menunjukan pengesahan (legitimasi) Tuhan dalam perang. Mengusung Tabut perjanjian Tuhan bagi Yahudi dan Tiang Salib (alat eksekusi) bagi Kristen yang bisa juga berperan sebagai pemberi spirit (semangat) bagi para prajurit di medan tempur. (bab kedua: Motivasi Dalam Perang)

Dakwah dalam Beraqidah menuju Negara Kurnia Allah

Di bab keempat berupa Epilog, dimana melalui epilog ini penulis menyajikan semacam renungan tentang Islam bernegara di Indonesia atau ajaran Islam yang berkaitan dengan negara sebagai sarana bagi setiap Muslim untuk dapat menjalankan syari’at Islam secara sempurna dan total (kaffah).  Pesan utama yang terkandung dalam epilog adalah;

  1. Begitu pentingnya fungsi Negara dalam berjamaah yang diterangkan al-Quran sebagai “rumah” yang memberi perlindungan aman kepada penghuninya. Sebagai bahtera transportasi yang membawa rakyatnya selamat sejahtera mengarungi kehidupan dunia menuju akhirat. Dan sebagai sarana utama untuk memperoleh curahan ridha dan rahmat Allah Ta’ala.
  2. Perang Sabil bukanlah perkara baru di Nusantara, Indonesia. Begitu pula dengan konsep Islam bernegara. Negara dalam bentuk Kerajaan atau Kesultanan telah lama  berdiri kukuh di Nusantara, diperkirakan seawal abad kesepuluh. Misalnya saja: Kesultanan Pasai, Samudera, Malaka, Pajang, Mataram, Banjar, Goa, Ternate, Tidore, Mindanao dan lain lain.
  3. Kedatangan penjajah dari Kerajaan Portugis, Sepanyol, Inggris, Belanda dan Amerika disambut oleh Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dengan perlawanan Perang Sabil.
  4. Selepas masa penjajahan, perjuangan Umat Islam Bangsa Indonesia dalam bernegara telah ditempuh dengan beragam cara, diantaranya melalui:
  • Musyawarah dalam rapat “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ketika menyusun preambule Undang-undang dasar konstitusi Negara Indonesia (Juni 1945) yang berbunyi: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
  • Parleman hasil pemilu tahun 1955, dimana wakil-wakil Muslim dari partai Islam dalam pembahasan dasar Negara Indonesia mengajukan usulan ISLAM sebagai dasar Negara Indonesia. Perdebatan yang alot, kemudian buntu dan berakhir dengan ‘intervensi’ yang bernama dekrit 5 Juli 1959, Surat Keputusan Presiden (SK) untuk kembali ke UUD’45.
  • “Revolusi Islam” dengan semangat juang Perang Sabil, Umat Islam Bangsa Indonesia yang berhasil memproklamasikan pemerintahan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949 di Madinah-Indonesia (Jawa-Barat)
  1. Fakta sejarah dari peristiwa di atas, merupakan usaha dan perjuangan Umat Islam Bangsa Indonesia untuk memiliki negara yang berdasarkan konstitusi syariah (Islam). Tampaknya ‘semua jalan’ telah mereka lakukan: dari “meja perundingan” BPUPKI pra-proklamasi nasional (Juni’45), dilanjutkan dalam “ruangan perleman” hasil Pemilu pertama (1955), kemudian dengan “Revolusi Islam” yang mengorbankan  nyawa dan harta demi sebuah Negara Islam yang merdeka.
  2. Pada Bab Keempat ini juga penulis mencoba memberikan beberapa solusi dari problem yang dihadapi Muslim Indonesia untuk menjaga kesatuan dan persatuan yang diharapkan bangsa dalam bernegara.
  3. Untuk mewujudkan Negara Maju dan Bahagia berasas Tauhid, Allah SWT menggariskan tugas kepada Khalifah-Nya dalam satu jalan yaitu DAKWAH.  Jalan dakwah adalah jalan yang ditempuh oleh para Nabi/Rasul, para Shiddiqin, para Syuhada, dan orang-orang Shaleh. Setiap dari mereka senantiasa menjadi barisan terdepan dalam menggugah fitrah manusia untuk bertauhid dan menjadi aktor dalam membangun tatanan masyarakat sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala, Pemilik Kerajaan-Nya di langit dan bumi. (bab keempat Epilog)

Buku ini diharapkan akan menambah hazanah kepustakaan dan bahan kajian serta rujukan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan perang menurut ajaran Islam, dalam konteks aqidah, syari’ah, sejarah dan peristiwa perang pemeluk Islam di Indonesia.

“laqad kana fi qashasihim ‘ibratun li ulil albab”.  ~ Al-Qur’an Surah Yusuf Ayat 111 ~

Motivasi Perang Sabil di NusantaraJudul buku:     Motivasi Perang Sabil di Nusantara,

Kajian Kitab Ramalan Joyoboyo, Dalailul-Khairat dan Hikayat Perang Sabil.

Pengarang:       Mualimbunsu Syam Muhammad

<mualimbunsu@yahoo.com>

Penerbit:          Madia Madania, Ciputat, Jakarta Selatan.

Cetakan:          Pertama tahun 2013, Februari.

ISBN:               978-602-7570-07-8.

Tebal buku:     xx dan 318 halaman.

Harga:              Rp.49.500,-

PS : Insya Allah buku baru ini  akan beredar dipasaran penghujung bulan Maret 2013

Titipan Penulis

Insya Allah ada sekitar 30 buku yang penulis titipkan kepada blog serbasejarah ini untuk di berikan secara “GRATIS” bagi “Jama’ah Serbasejarah” khususnya.. umumnya bagi siapapun yang membutuhkan sebagai bahan kajian. Kepada siapa buku ini kami berikan?

  1. Kepada teman dan sahabat blogger yang “mereblog” postingan ini.
  2. Kepada sahabat blogger yang “merepost” postingan ini dengan catatan mencantumkan link referensi dari postingan ini.
  3. Kepada “Komentator Serbasejarah” yang sudah kami anggap sebagai keluarga serba sejarah yang telah memberikan pencerahan bersama.
  4. Kepada komunitas pencinta buku, perpustakaan, rumah baca dan intansi lain dengan cara mengajukan kepada kami atau penulis lewat email : <mualimbunsu@yahoo.com> atau <scepot@ymail.com>
  5. Bila dari point (1) s/d (4) permintaannya melebihi dari ketersediaan buku pada kami (sekitar 30 buku), maka kami akan menyeleksi siapa-siapa yang menurut kami lebih berhak.
  6. Hatur tangkyu ;)

Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran dari sejarah. Dan semoga buku ini bermanfaat bagi kemashlahatan umat dan bangsa Indonesia.

53 comments on “Motivasi Perang Sabil di Nusantara

  1. diko
    Maret 16, 2013

    Assalamu’alaikum Wr.Wb. punten buku “Motivasi Perang Sabil di Nusantara” hal 126-127. sub bab no.1 tidak ada atau memang ditiadakan kang nyak..? ko langsung no 2. 3. 4. nuhun

    • Mualimbunsu SM
      Maret 16, 2013

      assalamu’alaikum @ diko
      hal. 126-127 salinan penjelasan teks proklamasi hanya disalin point 2,3,4 saja.
      untuk lengkapnya ada 10 point yang semuanya dapat dilihat dari sumber asal PDB
      atau bisa juga diketemukan dalam buku “Manhaj Bernegara dalam Haji” kajian Sirah Nabawi di Indonesia, dalam rangka “Memperingati 100 tahun Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII 1911-2011) tulisan Muhammad Rasuli Jamil, 2011, Media Madania. hal.215-217.
      Demikian adanya terima kasih
      wassalam

      • diko
        Maret 16, 2013

        Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wabarakatuh.
        Occhh iya-iya saya menyadari n memaklumi…” smoga Allah SWT berkenan menyibakkan kabut kegelapan yang menyelimuti di bumi Nusantara ini, agar sluruh umat Islam bisa melaksankan ibadah secara merdeka, sempurna, paripurna, Khusyu dan Tawadhu’.
        Amin Ya Rabbal Alamin.
        Jazakallah

      • fitria
        November 26, 2013

        bisa pesen bukunnya?

  2. doktertoeloes malang
    Maret 16, 2013

    AMIEN ALLAHUMMA AMIEN ………amien yaa robbal alamien…..

  3. Suhendri Mr
    Maret 17, 2013

    Saya tertarik juga ingin ikut berkontribusi e-book secara gratis ini. tapi saya baru komentar 2x. hehe. banyak ilmu yang saya dapat dari serbasejarah.

    author: seolow. co
    berbagi kreativitas

  4. Hasprabu
    Maret 21, 2013

    Tiap-tiap kita orang batja daripada sedjarah, itoe selaloe menarik. Djadiken kita orang semangkin faham daripada akar bangsa kita. Perang soedah djadiken bagian daripada djalan sedjarah di ini negara Indonesia. Dan tamtoenja perang ideologi, agama, atawa motif ekonomi, akan teroes sahadja terdjadinja.

    Trims kopral jang ianja itoe telah radjin bantoe koempoelken verslaag tentang daripada kita orang poenja tjatetan sedjarah…landjoetken pot!

  5. Bambang Ts
    Maret 21, 2013

    Assalamu’alaikum…
    Sebuah pembahasan yang menarik, ijin untuk menjadikannya salah satu referensi bacaan… Semoga Islam dan Indonesia kembali Jaya…

  6. Ping-balik: Buku Perang Sabil di Nusantara, telah tiba | Goresan Pena

  7. arhsa
    Maret 21, 2013

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Kopral, Bukunya sudah sampai ketangan saya minggu kemarin, mohon maaf baru bisa laporan sekarang, ini link-nya http://arhsa.wordpress.com/2013/03/21/buku-perang-sabil-di-nusantara-telah-tiba/ tapi beluam ada review atau ulasan.

    Kenapa susah mencari informasi tentang Mualimbunsu Syam Muhammad di Internet, saya lihat komentarnya ada disini, ala kulli hal, saya ucapkan terima kasih untuk Mualimbunsu dan Kopral Cepot,

    jazakumullah khoiron

  8. Widi Astuti
    April 4, 2013

    Assalamualaikum, salam kenal :-) saya penggemar setia blog ini, tapi maaf baru ikut comment :-) Saya juga sangat menyukai sejarah Islam dan bersyukur sekali dapat menemukan blog menarik ini. Apabila tidak keberatan, saya juga ingin sekali mendapatkan buku motivasi perang sabil di Nusantara. Btw, saya juga nulis buku tentang Tokoh Pergerakan Perempuan Islam Indonesia. Sebagian isinya bisa diintip di blog saya: http://www.widi80.blogdetik.com. Ditunggu tkunjungannya ya :-) matur nuwun

  9. Ibnu Sunarka
    April 4, 2013

    Kita oetjapken terimakasih kepada Toean Penoelis, karena boekoe jang ianja kirimken telah saia terima. Wassalam. http://www.hasprabu.com

  10. Ping-balik: Judul buku: Motivasi Perang Sabil di Nusantara, | KONSTANTA

  11. ann
    April 6, 2013

    yth. admin situs serbasejarah dan rekan-rekan pecinta blog ini, mohon kesediannya melihat blog tewelonanian wordpressdotcom aku sendiri baca postingannya sampai mengelus dada, kok bisa-bisanya membuat postingan berisi fitnah seperti itu ya, masuk ke 100 besar id.wordpressdotcom lagi.

  12. kasamago
    April 10, 2013

    menarik neh bwt nmbh kazhanah sejarah islam..

  13. arumwidyaningsih
    April 17, 2013

    Reblogged this on Arum Widyaningsih and commented:
    From “Biar Sejarah yang Bicara”

  14. saya mendapatkan hadiah dari penerbitnya via a’a kopral , saya membaca buku ini . buku ini syarat dengan ilmu dan pengetahuan maupun tuntunan suri ketauladanan .

    anjuran saya bagi yang belum memilikinya ( tentu belum membacanya ) agar supaya cepat2 membelinya……he..he..he…

    salam hyppocrates cerdas !!…….
    (doktertoeloes ” swiss van java “).

    • mualimbunsu syam muhammad
      Mei 30, 2013

      Terima kasih kepada bapak doktertoeloes “swiss van java” yang telah memberikan koment dan anjurannya. wassalam

  15. bacaunik
    April 30, 2013

    infonya menarik, sukses selalu..

  16. Mualimbunsu Syam Muhammad
    Mei 8, 2013

    Salam,
    Kepada seluruh komunitas/jamaah Serbasejarah yang dihormati.
    Setelah tiga bulan waktu berjalan; sejak beredarnya buku Motivasi Perang Sabil di Nusantara pada blog ini dan juga di pasaran. Saya pribadi mengharap dari anda semua –semoga tidak menjadi beban bagi anda– untuk memberikan kritikan, pandangan, pendapat, saran, komentar, atau apa pun bentuknya; yang dapat kita share/kongsi bersama. Semuanya itu dapat anda kiimkan ke fb mualimbunsu.
    Atas kenan dan perhatian anda diucapkan terima kasih.
    wassalam;
    mualimbunsu syam muhammad

  17. irwan tuanku saliah
    November 2, 2013

    Assalamualaikum,,,saya Irwan, rencana akan menulis tentang perang padri dengan tokoh Tuanku Nan renceh,, apa kira-kira masukan dari penulis blog thd hal ini???

  18. Toko Bunga Jakarta
    April 8, 2014

    Cerita yang sangat menarik. Jadi ingat masa belajar sejarah dulu.

  19. Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia
    Juli 15, 2015

    Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain mempercepat kebangkitan KAUM MUSLIM, memulihkan kejayaan KAUM MUSLIM, melindungi KAUM MUSLIM dari kesesatan dan memberi KAUM MUSLIM tempat yang mulia di akhirat – TERLEBIH KHUSUS BAGI KAUM MUSLIM NUSANTARA YANG MENJADI KORBAN PENJAJAH 1511 – 1962. Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘alamiin.

    Lebih dan kurang saya mohon maaf. Semoga Allaah SWT selalu mencurahkan kasih sayang kepada KAUM MUSLIM : yang hidup maupun yang mati, di dunia maupun di akhirat. Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.
    Asyhaduu anlaa ilaaha illallaah wa asyhaduu anna muhammadarrasuulullaah
    A’uudzubillaahiminasysyaithaanirrajiim
    Bismillahirrahmaanirrahiim
    Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin,
    Arrahmaanirrahiim
    Maaliki yaumiddiin,
    Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,
    Ihdinashirratal mustaqiim,
    Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladhaaliin
    Aamiin
    Bismillaahirrahmaanirrahiim
    Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu, wa yukafi mazidahu, ya rabbana lakal hamdu. Kama yanbaghi lii jalaali wajhika, wa ‘azhiimi sulthaanika.
    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya semuanya.
    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin. Shalaatan tunjinaa bihaa min jamii’il-ahwaali wal aafaat. Wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al-haajaat. Wa tuthahhiruna bihaa min jamii’is-sayyi-aat. Wa tarfa’unaa bihaa ‘indaka a’lad-darajaat. Wa tuballighuna bihaa aqshal-ghaayaati min jamii’ilkhairaati fil hayaati wa ba’dal mamaat.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya dan umatnya, shalawat yang dengannya kami selamat dari semua ketakutan dan bencana, dan Engkau sucikan kami dari semua kejahatan, Engkau angkat kami ke derajat yang tinggi di sisiMu, dan Engkau sampaikan semua cita-cita kami berupa kebaikan-kebaikan dalam hidup maupun sesudah mati.
    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa nuuril anwaar. Wa sirril asraar. Wa tiryaqil-aghyaar. Wa miftaahil baabil yasaar. Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadanil-mukhtaari wa aalihil-ath-haari wa ash-haabihil akhyaar. ‘Adada ni’amillaahi wa afdhaalih.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkah atas cahaya di antara segala cahaya, rahasia di antara segala rahasia, penetral duka, dan pembuka pintu kemudahan, junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karuniaNya.
    Allaahumma shalli shalatan kaamilah. Wa sallim salaaman taamman ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadanil-ladzii tanhallu bihil-‘uqad. Wa tanfariju bihil-kuruub. Wa tuqdhaa bihil hawaa-iju wa tunaalu bihir-raghaa-ibu wa husnul-khawaatim. Wa yustasqal-ghamaamu biwajhihil-kariim. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’luumin laka.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan salaam yang sempurna pula, kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, yang dengan beliau itu Engkau lenyapkan kesusahan, Engkau tunaikan segala kebutuhan, dan diperoleh segala keinginan dan akhir hidup yang baik, serta diberi minum dari awan berkat wajahMu yang mulia. Juga kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya dalam setiap kejapan mata dan tarikan nafas, sebanyak jumlah pengetahuan yang Engkau miliki.
    Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadinil-habiibil-mahbuub. Syaafil ‘ilali wa mufarrijil-kuruub. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi wa baarik wa sallim.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, kekasih dan yang dikasihi, (dengan izin Allah) penyembuh penyakit dan pelepas kesusahan, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.
    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-awwaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-aakhirin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fin-nabiyyiin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil-mursaliin. Wa shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammadin fil mala-il a’laa ilaa yaumid-diin. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummmatihi ajma’iin.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang terdahulu. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan orang-orang kemudian. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para nabi. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para rasul. Limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di kalangan para arwah hingga hari kemudian, serta kepada keluarga, sahabat dan umatnya.
    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa ruuhi Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad fil arwaahi, wa ‘alaa jasadihil fil ajsaadi, wa ‘alaa qabrihi fil qubuuri. Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada ruh junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad di alam ruh, dan kepada jasadnya di alam jasad, dan kepada kuburnya di alam kubur. Dan kepada keluarga, sahabat dan umatnya semua.
    Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ‘adada in’aamillaahi wa ifdhaalih.
    Ya Allaah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad, keluarganya, sahabatnya, umatnya sebanyak jumlah nikmat Allah dan karuniaNya.
    Allaahumma shalli wa sallim wa baarik, ‘alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa wa Maulaanaa wa Maulaanaa Muhammadin wa ikhwaanihii minal anbiyaa-i wal mursaliin, wa azwaajihim wa aalihim wa dzurriyyaatihim wa ash-haabihim wa ummatihim ajma’iin.
    Ya Allaah, berilah shalawat serta keselamatan dan keberkahan, untuk junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad SAW dan saudara-saudaranya dari para Nabi dan Rasul, dan istri-istri mereka semua, keluarga mereka, turunan-turunan mereka, dan sahabat-sahabat dari semua Nabi dan Rasul, termasuk Sahabat-Sahabatnya Nabi Muhammad semua dan semua yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW.
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil jabbaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar ra-uufirrahiim
    Laa ilaaha illallah, subhaanal ghafuurirrahim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kariimil hakiim
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci raja yang maha suci
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha perkasa lagi maha bijaksana
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mulia lagi maha bijaksana
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qawiyyil wafiyy
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal lathiifil khabiir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shamadil ma’buud
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghafuuril waduud
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal wakiilil kafiil
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kuat lagi maha memenuhi
    Tiada tuhan selain Allaah, yang maha halus lagi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang bergantung padanya segala hal lagi yang disembah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha pencinta
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penolong lagi maha pelindung
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar raqiibil hafiizh
    Laa ilaaha illallaah, subhaanad daa-imil qaa-im
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal muhyil mumiit
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hayyil qayyuum
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal khaaliqil baari’
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengawasi lagi maha memelihara
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang hidup kekal lagi mengurus ciptaannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menghidupkan lagi mematikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus ciptaannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menciptakan lagi menjadikan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliyyil ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal waahidil ahad
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal mu’minil muhaimin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal habiibisy syahiid
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal haliimil kariim
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha tinggi lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha esa lagi tunggal
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memberi keamanan lagi maha memelihara
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhanyang maha mencintai lagi maha menyaksikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penyantun lagi maha mulia
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal awwalil qadiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal awwalil aakhir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanazh zhaahiril baathin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kabiiril muta-‘aal
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qaadhil haajat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang pertama lagi terdahulu
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang awal dan yang akhir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang nyata lagi yang rahasia
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha tinggi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memenuhi semua keperluan
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ‘arsyil ‘azhim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahmaanir rahiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbiyal a’laa
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal burhaanis sulthaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas samii-‘il bashiir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menguasai singgasana yang besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha tinggi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki bukti kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mendengar lagi maha melihat
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal waahidil qahhaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliimil hakiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ghaffaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar ramaanid dayaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal kabiiril akbar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha esa lagi maha mengalahkan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha bijaksana
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha menutupi kesalahan lagi maha pengampun
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha agung lagi maha besar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aliimil ‘allaam
    Laa ilaaha illallaah, subhaanasy syaafil kaafi
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘azhiimil baaqii
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shamadil ahad
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ardhi was samaawaati
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha memeriksa
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menyembuhkan lagi mencukupi
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha kekal
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang bergantung padanya segala hal lagi esa
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghafuurisy syakuur
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘azhiimil ‘aliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil mulki wal alakuut
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil ‘izzati wal ‘azhamah
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil haibati wal qudrah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengampun lagi maha membalas
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha besar lagi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki kerajaan bumi dan langit
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang mempunyai keagungan dan kebesaran
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil kibriyaa-i wal jabaruut
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aalimil ghaiib
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hamidil majiid
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hakiimil qadiim
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki kebesaran dan kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha menutupi kesalahan lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menegtahui hal ghaib
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha terpuji lagi maha mulia
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan ang maha bijaksana lagi maha terdahulu
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qaadiris sattaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas samii-‘il ‘aliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil ‘azhiim
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘allaamis salaam
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal malikin nashiir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kuasa lagi maha mnutupi kesalahan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mendengar lgi maha mengetahui
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha besar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui lagi maha damai
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha raja lagi maha penolong
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyir rahmaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qariibil hasanaat
    Laa ilaaha illallaah, subhaana waliyyil hasanaat
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shabuuris sattaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaana khaaliqin nuur
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha pengasih
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha dekat kebaikannya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan maha menguasai kebaikan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan maha penyabar lagi menutupi kesalahan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yan menciptakan cahaya
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil mu’jiz
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal faadhilisy syakuur
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ghaniyyil qadim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil jalaalil mubiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal khaalishil mukhlish
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha mengalahkan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha utama lagi maha berterima kasih
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha kaya lagi maha terdahulu
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang punya keluhuran lagi maha menjelaskan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha murni lagi memurnikan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanash shaadiqil wa’di
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal haqqil mubiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil quwwatil matiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qawiyyil ‘aziiz
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal hayyil ladzii laa yamuut
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang benar janjinya
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha benar lagi maha menjelaskan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang punya kekuatan lagi maha kokoh.
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha hidup lagi tidak mati
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘allaamil ghuyuub
    Laa ilaaha illallaah, subhaanas sattaaril ‘uuyuub
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil ‘aalamiin
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahmaanis sattaar
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mengetahui yang ghaib
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yan maha menutupi semua cacat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki ampunan lagi dimintai pertolongan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan semesta alam
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih lagi maha menutupi
    Laa ilaaha illallaah, subhaanar rahiimil ghaffaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil wahhaab
    Laa ilaaha illallaah, subhaana qaadiril muqtadir
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil ghufraanil haliim
    Laa ilaaha illallaah, subhaana malikil mulk
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha penyayang lagi maha pengampun
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha agung lagi maha pemurah
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yangmaha kuasa lagi maha memberi kekuasaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang memiliki semua kerajaan
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal baari-il mushawwir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal ‘aziizil jabbaar
    Laa ilaaha illallaah, subhaanallaahi ‘amma yashifun
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal jabbaaril mutakabbir
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal qudduusis shubbuuh
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang menciptakan lagi memberi bentuk
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha mulia lagi maha perkasa
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha perkasa lagi maha membangga
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan dari apa yang dianggap oleh orang kafir
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan dalam sosok dan sifat
    Laa ilaaha illallaah, subhaana rabbil malaa-ikati war ruuh
    Laa ilaaha illallaah, subhaana dzil aalaa-I wanna’maa-i
    Laa ilaaha illallaah, subhaanal malikil maqshuud
    Laa ilaaha illallaah, subhaana hannaanil mannaan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan para malaikat dan ruh
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan pemilik tanda-tanda tinggi dan nikmat
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan raja yang menjadi tujuan
    Tiada tuhan selain Allaah, maha suci tuhan yang maha pengasih dan pemberi
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina aadamu ‘alaihis salaam shafiyyullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina nuuhun ‘alaihis salaam najiyyulaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ibraahiimu ‘alaihis salaam khaliilullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ismaa-‘iilu ‘alaihis salaam dzabiihullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina muusaa ‘alaihis salaam kaliimullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina daawuudu ‘alaihis salaam khaliifatullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina ‘iisaa ‘alaihis salaam ruuhullaah
    Laa ilaaha illallaah, sayyidina wa nabiyyina wa maulaana
    muhammadur rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Aadam AS pilihan Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Nuuh AS diselamatkan Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Ibraahiim AS teman dekat Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Ismaa-‘iil AS yang disembelih Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Muusaa AS yang diajak bicara oleh Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina Daawuudu AS khalifah Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina ‘Iisaa AS ruh Allaah
    Tiada tuhan selain Allaah, sayyidina wa nabiyyina wa maulaana Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam utusan Allaah
    Allaahummarhamnaa bibarakati tauraati sayyidina muusaa ‘alaihis salaam wa injiili sayyidina ‘iisaa ‘alaihis salaam wa zabuuri sayyidina daawuudu ‘alaihis salaam wa furqaani sayyidina wa nabiyyina wa maulaana muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam, birahmatika yaa arhamar raahimiin, walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.
    Ya Allaah, kasihilah kami dengan berkah Taurat Sayyidina Muusaa AS, Injil Sayyidina ‘Iisaa AS, Zabuur Sayyidina Daawuud AS dan al-Furqaan / al-Qur-an sayyidina wa nabiyyina wa maulaana Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam utusan Allaah, dengan kasihmu, yang maha penyayang. Dan segala puji bagi Allaah, tuhan semesta.
    ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ‘ALAYYA MIN KHAZAA INI RAHMATIKA YAA ARHAMAR-RAAHIMIIN.
    Ya Allaah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang
    RABBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHAIRIN FAQIIR.
    Ya Rabb, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.
    RABBI LAA TADZARNI FARDAN WA ANTA KHAIRUL WAARITSIN.
    Ya Allaah janganlah engkau tinggalkan aku seorang diri dan engkau sebaik-baik dzat yang mewarisi. (QS. Al-Anbiya-i': 89).
    Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiina imaamaa.
    Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
    اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
    “Allaahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.
    “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
    “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaaf: 15).
    Ya Allaah, terimalah amal saleh kami, ampunilah amal salah kami, mudahkanlah urusan kami, lindungilah kepentingan kami, ridhailah kegiatan kami, angkatlah derajat kami dan hilangkanlah masalah kami.
    Ya Allaah, tetapkanlah kami selamanya menjadi Muslim, tetapkanlah kami selamanya dalam agama yang kau ridhai – Islam, tetapkanlah kami selamanya menjadi umat dari manusia yang paling engkau muliakan – Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallallaahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi, wa baraka wassallam.
    Ya Allaah, percepatlah kebangkitan KAUM MUSLIM. Pulihkanlah kejayaan KAUM MUSLIM, Lindungilah KAUM MUSLIM dari kesesatan dan berilah KAUM MUSLIM tempat mulia di akhirat.
    Ya Allaah, jadikanlah INDONESIA DAN DUNIA MUSLIM tetap dimiliki KAUM MUSLIM, Jadikanlah INDONESIA DAN DUNIA MUSLIM baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Jadikanlah DUNIA NON MUSLIM dimiliki KAUM MUSLIM. Jadkanlah musuh Islam ditaklukan KAUM MUSLIM.
    Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fiddiini waddun-yaa wal akhirati wa ’aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wabarakatan firrizqi wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahuma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti, wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indal hisaab.
    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu keselamatan dalam agama, dunia, akhirat, kesejahteraan/kesehatan jasmani, bertambah ilmu pengetahuan, rezeki yang berkat, diterima taubat sebelum mati, dapat rahmat ketika mati dan dapat ampunan setelah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami pada waktu sekarat dan selamatkanlah kami dari api neraka serta kami mohon kemaafan ketika dihisab.
    Allaahumma inna nas aluka husnul khaatimah wa na’uudzubika min suu ul khaatimah.
    Ya Allaah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu akhir yang baik dan berlindung dari akhir yang buruk.
    Allaahuma inna nas’aluka ridhaka waljannata wana’uudzubika min shakhkhatika wannaar.
    Ya Allaah, sesungguhnya kami mohon keridhaan-Mu dan sorga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka.
    Allaahummadfa’ ‘annal balaa-a walwabaa-a walfahsyaa-a wasy-syadaa-ida walmihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa haadzaa khaash-shataw wamin buldaanil muslimuuna ‘aammah.
    Ya Allaah, jauhkanlah bencana, wabah, kekejian, kekerasan dan cobaan – yang terlihat maupun tersamar – dari negeri kami khususnya dan dari dunia Muslim umumnya.
    Allaahumma ahlikil kafarata walmubtadi-‘ata walmusyrikuun, a’daa-aka a’daa-ad diin.
    Ya Allaah, hancurkalah musuhmu, musuh agamamu, yaitu orang kafir, bid’ah dan musyrik.
    Allaahumma syatttit syamlahum wa faariq jam-‘ahum, wazalzil aqdaamahum.
    Ya Allaah, cerai beraikanlah persatuan mereka, goyahkanlah keyakinan mereka.
    Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqiw wa-akhrijnii mukhraja shidqiw waj-‘al lii milladunka sulthaanan nashiiraa.
    Ya Allaah, masukkanlah kami melalui jalan yang benar, keluarkanlah kami melalui jalan yang benar, dan berilah aku kekuasaan yang menolong.

    YA ALLAAH, IZINKANLAH SEGALA NAMA DAN GELAR SAYYIDINA WA NABIYYINA WA MAULAANAA MUHAMMAD SHALLALLAAHU’ALAIHI WA AALIHI WA SHABIHI WA UMMATIHI WA BARAKA WAS SALLAM MEWUJUDKAN BARAKAH KE SEANTERO SEMESTA – KHUSUSNYA BAGI KAMI, KELUARGA KAMI DAN KAUM MUSLIM.

    YA ALLAAH, BERILAH KAMI DAN PEMILIK / ADMIN SITUS INI – SERBASEJARAH.WORDPRESS.COM – BARAKAH-MU MELALUI PERANTARAAN BERBAGAI TULISAN DALAM SITUS ” SERBASEJARAH.WORDPRESS.COM”.

    —— doa khusus untuk PARA NABI, PARA KELUARGANYA, PARA SAHABATNYA, SEMUA YANG BERJASA PADA (PARA) NABI, PARA SALAF AL-SHAALIH, PARA WALI, PARA HABAIB, PARA IMAM, PARA ULAMA DAN SEMUA YANG BERJASA PADA ISLAM – TERLEBIH KHUSUS BAGI KAUM MUSLIM NUSANTARA YANG MENJADI KORBAN PENJAJAH 1511 – 1962. Semoga Allaah selalu mencurahkan kasih sayang kepada mereka.

    ALLAAHUMMAGHFIRLAHUM WARHAMHUM WA’AAFIHIM WA’FU ‘ANHUM
    ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHUM WA LAA TAFTINNAA BA’DAHUM WAGHFIRLANAA WALAHUM
    ———————

    Ya Allaah, dengan hak yang kau berikan pada kalimah syahadat, Surah al-Fatihah, Doa Kanzul ‘Arsy dan shalawat, salam dan berkah semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam, kami mohon segala hal yang terbaik, segala hal yang terindah bagi semesta – khususnya kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslim.
    Ya Allaah, dengan segala hak yang kau berikan pada kalimah syahadat, Surah al-Fatihah, Doa Kanzul ‘Arsy dan shalawat, salam, berkah semoga selalu tercurah kepada Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallallaahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka was sallam, kabulkanlah yaa Allaah segala doaku.
    Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar wa adkhilnal jannata ma’al abraar.
    Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksaan neraka serta masukanlah kami ke surga bersama orang-orang baik.
    Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalallaahu ‘alaa sayyidinaa wa nabiyyinaa wa maulaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam.
    Tuhan kami, perkenankanlah do’a-do’a kami, karena sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang. Shalawat, salam dan berkah semoga dilimpahkan kepada junjungan, nabi dan pemimpin kami Muhammad s.a.w, atas keluarganya, sahabatnya dan umatnya semuanya.
    HASBUNALLAAH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR.
    Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
    Subhana rabbika rabbil ‘izzati, ‘amma yasifuuna wa salamun ‘alal anbiyaa-i wal mursaliin, walhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

    Aamiin yaa Allaah yaa rabbal ‘aalamiin.

    Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

  20. Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia
    Juli 15, 2015

    Karya tulis tahun 2004. Semoga bermanfaat. Aamiin yaa Allaah.

    UMAT ISLAM: UMAT YANG TERKEPUNG

    PENDAHULUAN

    Sejak awal kehadiran manusia, tuhan menuntun manusia untuk tetap pada jalan lurus (al-shirath al-mustaqim) yaitu jalan yang diridhai, mengingat sejak awal telah tercipta permusuhan antara insan dan setan. Setan telah bersumpah akan menyelewengkan manusia dari jalan tuhan karena merasa “tersaingi” oleh manusia yang notabene adalah makhluk terakhir muncul. Padahal penciptaan segala makhluk adalah kuasa tuhan, bukan kehendak makhluk.

    Adapun bentuk tuntunan tersebut adalah mengutus para nabi dengan berbekal wahyu, bahkan manusia pertama adalah nabi yaitu Adam. Adam adalah juga manusia pertama yang telah mengalami sendiri permusuhan setan yang notabene adalah “salah alamat”, kalau jengkel silakan kepada tuhan jangan kepada insan. Beliau – mengingat belum berpengalaman hidup – sempat terjebak manuver setan, makhluk yang jauh lebih “senior” dalam umur dan pengalaman.

    Pengalaman pahit tersebut merupakan pelajaran mahal baginya, beliau bertekad tidak akan terjebak lagi – demikian pula keturunananya. Setelah “dilantik” menjadi nabi, beliau bagai tak kenal lelah selama hidupnya menjaga keturunannya dari jebakan setan.

    Namun manusia berikutnya yang terjebak justru anaknya sendiri – agaknya ada hikmah dibalik itu – yang dikenal dalam sumber Islam bernama Qabil.

    Dalam beberapa sumber disebut bahwa sebelum Adam dijebak, tuhan telah memberi tahu kepadanya bahwa dari keturunannya kelak menjadi manusia termulia karena dia adalah nabi terakhir. Hal tersebut ditegaskan lagi setelah beliau terjebak, bahwa keturunannya tersebut kelak akan mengalahkan kuasa setan terhadap manusia. Bahkan disebut pula namanya, yaitu Muhammad.

    Sejak itu, Adam – yang sempat merasa terpukul akibat manuver setan – kembali menjadi optimis bahwa kelak akhirnya setan dikalahkan, dikalahkan oleh keturunannya pula. Dia menunggu kehadiran sosok tersebut dengan sabar yang ternyata menjadi penantian yang sangat panjang – lebih panjang dari umurnya. Adam wafat dalam usia sekitar 1000 tahun tanpa sempat bertemu dengan “sang juru selamat”.

    Sejak Adam, setiap nabi yang tampil selalu diberi tahu oleh tuhan dan harus disampaikan kepada umatnya bahwa kelak akan muncul nabi terakhir pembawa agama terakhir. Jika sempat bertemu dia hendaklah ikuti dia. Begitulah berlangsung dari waktu ke waktu.

    Walaupun para nabi yang tersebut dalam al-Qur-an hanya 25 nama, sesungguhnya jumlah nabi lebih banyak dari itu. Dalam al-Qur-an disebut bahwa setiap kaum diutus nabi dan tidak semua nama nabi tersebut diberitahu kepada umat manusia, hadits menyebut ada 124.000 nabi. Manusia dipersilakan menyelidiki sendiri siapakah nama nabi selain 25 orang tersebut.

    Sikap umat yang didatangi nabi tersebut beragam: ada yang percaya dan ada yang menyangkal. Ini juga tidak terlepas dari manuver setan mengingat setan tahu pula sejak awal bahwa tuhan akan menciptakan manusia yang paling mulia dari segala makhluk. Mungkin ini pula yang turut menjadi faktor kebenciannya terhadap manusia.

    Golongan yang percaya kepada ramalan tersebut menunggu dengan penuh harap tetapi jumlah mereka sedikit. Yang menolak sebagian atau seluruh ajaran yang dibawa para nabi tersebut mencoba menghapus atau mengubah pesan tersebut. Para elit umat – terutama elit keagamaan – berperan besar mengkhianati amanat nabinya. Pesan “jika bertemu dia ikutilah dia” diubah menjadi “jika bertemu dia habisi dia”. Habisi riwayatnya, habisi agamanya dan tentu saja habisi umatnya.

    Ketika sosok yang dimaksud tersebut datang, golongan yang percaya segera mengikutinya dan yang menyangkal mencoba menghabisinya. Hal tersebut terbukti sejak awal, nabi terakhir yaitu Muhammad dengan agama terakhir yaitu Islam nyaris tiada henti menghadapi berbagai usaha menumpasnya. Dan terjadilah hal tersebut berlangsung hingga akhir dunia.

    KEHADIRAN ISLAM

    Dari penjelasan di atas, nyatalah bahwa kehadiran Muhammad dengan Islam bukanlah “paket” tuhan yang begitu saja jatuh dari langit, tetapi adalah lanjutan dari karya para nabi sebelumnya. Dengan demikian antara para nabi sesungguhnya tidak ada perselisihan, yang berselisih justru umatnya – selisih dengan seumat maupun selisih dengan lain umat. Ini dijelaskan dalam al-Qur-an bahwa kelak manusia akan berselisih setelah mendapat penjelasan, bukan hanya selisih pakai mulut tetapi juga dengan senjata.

    Islam lahir di Arabia pada abad-7 tetapi bukan hanya untuk bangsa Arab dan abad-7, agama terakhir tersebut “dirancang” untuk segala zaman dan tempat. Dengan demikian, Islam terjaga keasliannya walaupun berbagai usaha dilaksanakan untuk mencemarinya. Walaupun kelak terbukti bahwa pemahaman dan pengamalan Islam ada yang tercemar oleh faham-faham lain, tetapi sumber utamanya yaitu kitab suci al-Qur-an tetap terjaga keasliannya – ini dijamin tuhan sendiri. Adapun hadits Nabi Muhammad, walaupun tidak ada jaminan keasliannya tetapi nyaris seluruhnya diketahui mana yang asli mana yang palsu. Berbeda dengan semua agama sebelum Islam, sumber utamanya yaitu wahyu / kitab suci telah tercampur dengan tulisan atau perkataan lain. Karena agama-agama tersebut tidak dirancang tahan lama.

    Dengan demikian, Islam lahir ketika di kolong langit ini telah ada agama-agama lain dengan umat dan kitabnya. Sebagai contoh, di wilayah Romawi mayoritas beragama Nashrani, di wilayah Persia mayoritas beragama Zaratushtra atau dalam Islam dikenal istilah “Majusi”, di India mayoritas beragama Hindu dan Budha, di Cina mayoritas beragama Konghucu. Selain itu terdapat umat Yahudi, umat ini terserak sebagai minoritas dari pantai Atlantik hingga pantai Pasifik – mirip dengan agama Manu atau Manichaen, agama yang lahir di Persia.

    Khusus di Arabia, sejak sekitar tahun 2000 BC hadir agama yang dikenal dengan “Hanif”, agama Nabi Ibrahim. Agama tersebut adalah “leluhur” agama Yahudi, Nashrani dan Islam. Dan Ibrahim sendiri adalah leluhur para pembawa agama tersebut di atas yaitu Musa, al-Masih dan Muhammad. Perlu diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani juga sempat hadir di Arabia. Sebagaimana tersebut di atas, berbagai agama tersebut telah telah berkurang atau bahkan mungkin hilang keasliannya. Hal ini tentu saja sulit diakui oleh mayoritas umatnya.

    Kesulitan untuk mengakui terbukti dari kesigapan mereka menolak Islam. Penolakan pertama justru berasal dari keluarga nabi sendiri, sosok Abu Lahab adalah contoh yang paling dekat hubungannya dengan nabi karena dia adalah sang paman. Dia termasuk yang terdepan menentang Islam.

    Selain itu, penolakan terhadap Islam juga berdasar keterbiasaan dengan agamanya. Terutama kelompok keagamaan, mereka sudah merasa nyaman menjadi tokoh agama tersebut: dipandang atau dihormati masyarakat. Pindah agama membuat mereka berubah dari ahli agama menjadi awam agama: harus belajar lagi dari awal. Dan masih ada sebab-sebab lainnya.

    Riwayat nabi memperkenalkan Islam penuh dengan berbagai detail yang mengerikan: dari perlakuan kejam terhadap kaum Muslim hingga peperangan berulang kali, yang jelas minta korban harta dan nyawa. Barulah pada tahun 632 – tahun wafat Muhammad – Islam mendapat level terhormat di Arabia.

    Secara menyeluruh selama berabad-abad, kaum Muslim membagi umat beragama menjadi 2 kelompok yaitu umat samawi atau ahlul kitab atau kitabi – mencakup Yahudi, Nashrani dan Islam – serta umat non samawi atau non kitabi – mencakup antara lain Hindu dan Budha. Kini ada pendapat – walau masih terdapat kontroversi – yang memasukkan agama Hindu dan Budha termasuk kitabi karena juga memiliki kitab suci, dengan demikian penilaian bahwa Hindu dan Budha termasuk non kitabi terkesan kurang adil atau kurang berdasar. Penilaian tersebut sedikit banyak mempengaruhi cara memperlakukan berbagai umat non Muslim. Dalam banyak kasus, agaknya kaum Yahudi dan Nashrani mendapat perlakuan relatif sedikit lebih istimewa. Mungkin pembagian yang lebih tepat untuk kaum Muslim untuk kini dan seterusnya adalah agama serumpun dan agama non serumpun di mana Yahudi dan Nashrani adalah termasuk serumpun karena berasal dari “moyang” yang sama yaitu Ibrahim.

    Seiring dengan perluasan “langkah” Islam, meluas pula tantangan terhadap agama ini. Di kota Makkah, kaum Muslim dilawan oleh penyembah berhala yang merasa masih menganut agama Hanif. Di Madinah, lawan bertambah dengan tantangan kaum Yahudi. Dari tetangga Arabia bertambah lagi dengan Bizantium (Romawi Timur) yang Nashrani dan Persia Sassanida yang Majusi, yaitu tantangan yang berdasar rasa cemas jika Islam melangkah keluar batas Arabia. Untuk itu mereka secara rahasia membantu gerakan anti Islam di dalam Arabia sekaligus meredakan permusuhan antara mereka yang telah berlangsung ratusan tahun – minimal sampai kaum Muslim tertumpas.

    Sikap penguasa kedua super power tersebut tidaklah didukung oleh mayoritas rakyatnya. Mereka berabad-abad ditindas oleh penguasa yang nota bene seagama, rakyat begitu lama mendambakan kebebasan. Dan memihak kaum Muslim sampai batas tertentu agaknya merupakan pilihan menarik.

    Demikianlah, ketika bentrokan terbuka antara kaum Muslim dengan koalisi goyah Bizantium-Persia sungguh terjadi, rakyat di wilayah kerajaan tersebut membantu. Ternyata pilihan mereka tepat – dalam banyak kasus, kaum Muslim memperlakukan rakyat dengan begitu manusiawi, khususnya rakyat dibiarkan menganut agamanya. Tanpa dipaksa, mayoritas rakyat kelak memilih Islam.

    Gerak maju perluasan wilayah kaum Muslim mencapai batas maksimal sekitar tahun 732, kaum Muslim menguasai wilayah yang membentang dari pantai Atlantik hingga batas Cina. Selain itu Islam berkembang keluar wilayah taklukan dan juga dalam wilayah taklukan ada yang dihuni mayoritas non Muslim.

    Di tapal batas India dan Cina, kaum Muslim bertemu dengan umat Hindu, Budha dan Konghucu. Walaupun hubungan antara bangsa Arab dengan India dan Cina telah berlangsung sejak pra Islam, agaknya Muhammad belum mengenal persis agama yang dianut kedua bangsa tersebut. Dia hanya tahu bahwa mereka masih non Muslim – bahkan non kitabi – mengingat di Arabia sendiri belum semua menjadi Muslim. Sejak itu selama berabad-abad kaum Muslim mengelompokkan ketiga agama tersebut sama dengan Majusi sebagai agama non kitabi.

    Selain kenal dengan umat lain, perluasan wilayah tersebut juga memperkenalkan peradaban lain, yang dalam beberapa hal lebih canggih dari pada kaum Muslim. Ini merupakan tantangan yang menarik: bagaimana Islam dapat diterima oleh kaum tersebut?

    Kaum Muslim segera mewarisi peradaban pra Islam dengan cara menerima yang sesuai dengan Islam dan menolak yang tak sesuai. Sedapat mungkin peradaban tersebut “diislamkan” kemudian dikembangkan dengan memperkayanya. Bukan jarang usaha tersebut dengan mengajak non Muslim. Sementara itu peradaban yang tidak sesuai dengan Islam tidaklah dilarang untuk dipertahankan oleh non Muslim sejauh tidak mempengaruhi identitas Muslim. Maka tampillah peradaban yang memberi sumbangsih besar bagi martabat kemanusiaan. Warisan Muslim tersebut masih berpengaruh hingga kini walau sangat sedikit yang sadar.

    Walaupun terdapat hubungan harmonis semacam itu, ancaman terhadap keberadaan Islam tetap ada. Hanya menunggu peluang untuk tampil, umumnya saat kaum Muslim sedang lengah atau lemah. Kelak dari semua kelompok anti Islam, ada kelompok yang tampil dominan melawan atau mengganggu kaum Muslim disegala aspek hingga kini. Kelompok yang penulis maksud adalah imperialis Barat. Adapun kelompok lain praktis hanya menjadi antek. Mereka hanya berselisih atau berpecah belah sejauh tidak terkait dengan Islam. Tetapi begitu terkait dengan apa yang disebut “ancaman”, “radikalisme”, “fundamentalisme”, “ekstrimisme” atau “fanatisme” Islam maka mereka satu kata, satu suara, satu gaya dan satu kerja. Karena mereka adalah umat-umat yang telah dipesan oleh nabi mereka untuk menerima Islam, tetapi memperlakukan Islam sebagai “si bungsu yang dinanti bukan untuk dikasihi tetapi dinanti untuk dihabisi” akibat pengaruh para elitnya. Hal inilah yang membuat kaum Muslim sejak awal menjadi umat yang pas dengan judul tulisan ini: terkepung!

    SEKILAS TENTANG IMPERIALISME BARAT

    Imperialisme Barat sesungguhnya telah ada jauh sebelum Islam, bahkan sebelum Masehi. Asal muasalnya adalah negeri yang kita kenal dengan Yunani, yang dinilai sebagai asal muasal peradaban Barat. Bangsa Yunani menilai diri sendiri sebagai bangsa unggul atau mulia – entah atas dasar apa. Memang mereka sempat meraih peradaban canggih, tetapi hal tersebut karena pengaruh peradaban sebelumnya dari Timur semisal Mesir, Mesopotamia, Asiria dan Funisia. Mereka membagi manusia kepada 2 macam yaitu bangsa Yunani dan bangsa barbar (biadab). Bahkan bangsa-bangsa yang telah berjasa memperadabkan Yunani tersebut di atas dinilai pula barbar.

    Faham rasialis tersebut melahirkan faham imperialis: Yunani dianggap sebagai bangsa unggul, karena itu berhak memimpin bangsa lain termasuk dalam bentuk penjajahan. Atas dasar tersebut, Alexander Yang Agung bergerak menaklukan dunia Timur sejauh perbatasan India dan Cina.

    Penaklukan tersebut membuka kesadaran akan keunggulan bangsa-bangsa lain, dia mencoba merukunkan Barat dengan Timur dengan tetap dia di puncak kekuasaan. Hasilnya adalah suatu peradaban campuran yang disebut Hellenisme.

    Pewarisnya yaitu Romawi juga demikian, selain mewarisi peradaban Yunani mereka juga mewarisi peradaban Timur yang sama. Tetapi rasa unggul diri tetap tidak hilang: Romawi menaklukan dunia Timur dari Asia Barat hingga ujung Afrika Utara.

    Sekitar abad-4 agama Nashrani mendapat level terhormat di dunia Romawi, agama tersebut memang lahir di wilayah taklukan Romawi yaitu Palestina. Maka leburlah kenasharanian dengan kebaratan, hal tersebut sadar tidak sadar menimbulkan anggapan bahwa Nashrani terkait dengan imperialisme Barat. Artinya mungkin begini: penyebaran agama Nashrani dilaksanakan dengan cara antara lain imperialisme, karena itu imperialisme dianggap bagian dari Nashrani walaupun jelas bahwa Nashrani adalah agama yang lahir dari Timur, yang tidak ada kaitan apapun dengan imperialisme. Anggapan inilah yang kelak makin memperparah hubungan Barat dengan non Barat dan dampak yang ditimbulkannya masih terasa hingga kini, antara lain juga menampilkan anggapan bahwa “imperialis adalah Barat dan Barat adalah imperialis”. Jika Timur terdapat imperialisme, sering dinilai sebagai meniru atau dimulai oleh Barat: imperialisme Timur adalah reaksi terhadap imperialisme Barat. Contoh kasus ini dalah Jepang, menyaksikan bangsa-bangsa Barat beramai-ramai berebut wilayah jajahan jauh dari negara mereka maka Jepang juga tergoda berbuat serupa. Jepang menilai bahwa dunia Timur adalah hak Jepang dan bukan hak Barat.

    Waktu bergerak terus, imperialisme Barat memiliki “ahli waris” semisal Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Portugis dan Belanda. Perang salib pada abad-11 dan perang kolonial pada abad-16 adalah proyek penaklukan dunia lain oleh imperialisme Barat. Umumnya “diperbagus” dengan semboyan muluk semisal “perdamaian”, “peradaban”, “kemakmuran” dan aduhai masih banyak lagi. Ini masih berlangsung hingga kini. Kasus penyerbuan Iraq oleh koalisi AS-Inggris bulan Maret 2003 juga tidak jauh dari perang kolonial dengan pemakaian semboyan tersebut di atas. Siapa yang berani menentang segera mendapat cap “teroris”, “ekstremis”, “bandit”, “pemberontak” dan berbagai sebutan seram lainnya. Persis kasus konflik Belanda-Indonesia sebelum dan sesudah 1945.

    Umumnya imperialis Barat jarang sukses mengalahkan Timur tanpa keroyokan. Jarang kasus Barat mengalahkan Timur dengan satu lawan satu. Sejarah banyak menyajikan hal tersebut: Cina, Turki, dan terakhir adalah Afghanistan dan Iraq kalah karena dikeroyok. Dan kekalahan AS di Vietnam dan Rusia di Afghanistan adalah contoh perang satu lawan satu.

    Setelah selama berabad-abad menghadapi berbagai macam lawan, imperialis Barat agaknya mendapat kesimpulan: lawan yang paling berat adalah Islam, atau kaum Muslim.

    MENGHIMPUN UNTUK KUAT, KEMUDIAN MENGEPUNG UMAT

    Seakan tidak cukup menghimpun kekuatan sesama Barat, imperialis Barat mencoba pula merangkul non Barat untuk melawan gerakan anti imperialis. Kehancuran Baghdad tahun 1258 oleh serbuan pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu Asia Barat tak terlepas dari kesuksesan Barat untuk merangkul non Barat melawan Muslim. Tersebutlah kisah bahwa aset non Muslim banyak yang selamat dari penghancuran karena istri Hulagu Khan adalah agen Barat. Dia yang menetapkan hanya aset Muslim yang dihancurkan semisal masjid, pustaka, istana dan sekolah. Memang, kehancuran Baghdad adalah lembaran sejarah yang sejauh ini paling hitam bagi Muslim.

    Usaha lain Barat untuk melawan Muslim adalah mengirim beberapa utusan ke dunia Timur untuk membentuk front bersama, antara lain musafir asal Italia bernama Marco Polo. Dia pernah menetap di istana Kubilai Khan di Khanbaligh (kini Beijing). Mongol pernah pula mengirim utusan hingga sejauh Inggris. Dengan demikian dunia Muslim dikepung dari barat dan timur, persis pengepungan yang dilaksanakan oleh Persia dan Bizantium pada masa Muhammad.

    Di Indonesia pernah diterapkan cara tersebut. Demak adalah negara Muslim pertama di Jawa, sejak awal Demak harus berhadapan dengan 2 front: Portugis di luar negeri dan negara dari pra Islam di dalam negeri yaitu Majapahit dan Pajajaran. Pernah utusan Majapahit berkunjung ke Malaka – bekas negara Muslim – yang telah ditaklukan Portugis dan juga tercapai perjanjian Portugis-Pajajaran yang mengizinkan Portugis membangun pangkalan di Sunda Kelapa (kini Jakarta).

    Demak berusaha mencegah akibat lebih jauh dengan menaklukan pesisir utara Jawa Barat sejauh Selat Sunda dan pesisir utara Jawa Timur sejauh Pasuruan. Portugis memang gagal bercokol di Jawa tetapi sultan terbunuh dalam konflik intern ketika memimpin gerakan ke timur.

    Di Asia Barat, ketika Perang Dunia-1 (1914-8) berlangsung, Inggris terlibat perang dengan Turki. Turki menguasai Asia Barat sejak abad-16 termasuk Palestina – tanah suci Yahudi, Nashrani dan Islam. Inggris melihat peluang untuk menebus kekalahan Barat dalam perang salib namun merasa ragu akan mampu mengerjakan sendiri. Persekutuannya dengan Perancis dan Rusia dinilai pula tidak cukup untuk mengalahkan Turki. Harus cari sekutu lain tetapi dari Timur atau Muslim.

    Kolonel Thomas Edward Lawrence di tunjuk untuk membentuk persekutuan dengan bangsa Arab. Waktunya tepat, bangsa Arab sedang memendam rasa tidak puas terhadap Turki. Ini tidak mengherankan, sejak abad-18 Turki berangsur-angsur mengalami proses pembusukan dengan kebobrokan di segala bidang. Bangsa Arab dijanjikan akan mendapat kemerdekaan.

    Pembusukan dari dalam ditambah penyerbuan dari luar oleh Inggris, Perancis dan Rusia ditambah bangsa Arab, India dan Gurkha menyebabkan Turki kalah. Melengkapi kekalahan tersebut, Barat sukses menyusupkan anteknya yaitu Mushthafa Kamal Basya alias Attaturk untuk mengobarkan kudeta terhadap sistem khilafah dan mengganti dengan republik. Begitu berkuasa, Attaturk melaksanakan gerakan deislamisasi semisal mengusir khalifah terakhir, larangan jilbab dan surban, menghapus huruf Arab, menutup madrasah dan zawiyah serta menghapus syariat dalam konstitusi.

    Adapun bangsa Arab mendapat “buah” dari persekongkolannya dengan Barat yaitu Palestina, Yordania dan Iraq menjadi mandat Inggris. Suriah dan Libanon menjadi mandat Perancis. Istilah “mandat” hanya penghalus istilah “jajah”. Sementara itu Inggris makin mencengkeram India.

    Kaum Muslim agaknya belum insyaf dari kekeliruannya. Kemajuan Barat sejak awal abad-19 menyebabkan kaum Muslim cenderung kagum atau takut kepada Barat. Bukannya bersatu padu melawan imperialis, tetapi berpecah belah memihak imperialis. Kekeliruan serupa diulangi di awal abad-21, serangan berani mati dengan pesawat ke gedung kembar WTC di New York dan gedung Pentagon pada 11 September 2001 adalah momentum yang tepat dan dimanfaatkan dengan ampuh oleh imperialis Barat untuk melawan Muslim – walaupun secara resmi tidak dimaksud demikian. Karena keunggulan propaganda imperialis, segera tampil “paduan suara” internasional – termasuk kaum Muslim – yang menuduh dan mengutuk gerakan al-Qa-idah dan Thaliban sebagai fihak yang bertanggungjawab. Segera mata dan telinga internasional mengarah ke Afghanistan, negeri terbelakang akibat perang panjang dan kejam dengan imperialis Barat berideologi komunis bernama Uni Soviet. Negeri tersebut dipaksa untuk berperang lagi melawan imperialis Barat berideologi salibis-zionis bernama AS dan Inggris dengan dukungan komunis di Cina dan sisa-sisanya di bekas Uni Soviet.

    Penumpasan terhadap aktivis Muslim di Afghanistan dilanjutkan ke seantero dunia, tidak terkecuali di Asia Tenggara. Di Indonesia, para antek Barat – Muslim maupun non Muslim – mendukung gerakan imperialis dalam kampanye yang disebut “melawan terorisme”. Beberapa aktivis Muslim diintai, dikejar, diculik atau ditangkap. Demi memuaskan selera imperialis, pemerintah Indonesia menzhalimi warganya sendiri. Ini tak mengherankan, sejak merdeka kelompok Islamofobia mendominasi politik, ekonomi dan hankam. Kelompok tersebut telah berperan besar menumpas aktivis Muslim semisal Darul Islam atau membantai kaum Muslim di Tanjung Priok, Lampung dan Aceh. Revolusi 1998 sempat menggoyahkan posisi mereka tetapi tidak lama, mereka tersebar dan menyusup ke berbagai kekuatan kelompok masyarakat yang ada – bahkan masih ada yang tetap bercokol di pemerintahan. Mereka melanjutkan “karya” mereka: melawan kebangkitan Muslim, jika perlu dengan bantuan imperialis melawan bangsanya atau umatnya sendiri.

    PENUTUP

    Pada akhir 1979 bertepatan dengan 1 Muharram 1400 Hijrah atau masuk abad-15 Hijrah dicanangkan sebagai awal kebangkitan Muslim. Mungkin pencanangan ini diilhami oleh awal kebangkitan Barat abad-15 yang dikenal dengan Renaissance, yang mengantar Barat pada kemajuan segala bidang. Jika benar diilhami dari Barat, sepertinya kaum Muslim tidak memasalahkannya karena kebangkitan Barat tersebut juga diilhami oleh kemajuan Muslim pada perioda 700-1400. Prestasi kemanusiaan Muslim banyak mempengaruhi Barat. Tetapi awal kebangkitan Muslim – agaknya mirip pula dengan awal kebangkitan Barat – perlu proses panjang dan kejam untuk meraih posisi puncak. Perang Afghan-Rusia (1979-89), Perang Iran-Iraq atau Perang Teluk I (1980-8), Perang Arab-Israel 1982, Perang Teluk II antara Iraq dengan koalisi pimpinan AS (1990-1), Perang antara Afghan dengan koalisi pimpinan AS (2001), Perang Teluk III yang menumbangkan rezim Shaddam Hussayn (Maret-Mei 2003) serta berbagai konflik yang mengorbankan kaum Muslim di berbagai tempat termasuk Indonesia agaknya membuat sebagian orang pesimis atau skeptis: benarkah kaum abad-15 Hijrah adalah kebangkitan Muslim?

    Jawaban tersebut tentu terpulang kepada kaum Muslim sendiri, apakah syarat-syarat kebangkitan telah terpenuhi? Adapun penulis menilai “belum” mengingat beberapa hal yaitu:

    1. Perpecahan: kaum Muslim terpecah belah nyaris pada segala segi. Dalam hal agama masih terbagi ke dalam berbagai mazhab dan sekta yang memberi peluang konflik intern yang berdarah-darah. Ketika non Muslim sudah menginjak-injak bulan, kaum Muslim masih bertengkar soal penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan. Dalam politik masih terbagi ke dalam berbagai faham yang non Islam bahkan bertentangan dengan Islam semisal sekularisme, kapitalisme, komunisme dan chauvinisme. Di dunia Arab misalnya, ada kecenderungan untuk menonjolkan kearaban dibandingkan keislaman, bahkan lebih menonjolkan kenegaraan dibandingkan kebangsaan. Orang menyebut dahulu asal Iraq, Mesir, Suriah, Saudi, Maroko dan sebagainya kemudian menyebut Arab.
    2. Keterbelakangan: terhitung sejak abad-16 yaitu bertepatan dengan imperialisme Barat, kaum Muslim terlibat perang panjang dan kejam dengan mereka. Perang tersebut meminta korban harta dan nyawa kaum Muslim. Banyak aset umat semisal masjid, madrasah atau pesantren rusak atau hancur. Banyak ulama dan santri yang tewas, hilang atau ditangkap. Peluang untuk membangun praktis tidak ada. Keterbelakangan tersebut terlestarikan setelah merdeka oleh para elit yang tidak amanah terhadap kekayaan dan kekuasaan.
    3. Kelengahan: kaum Muslim terkesan tidak sadar bahwa jika umat manusia dibagi menjadi Muslim dan non Muslim maka sesungguhnya lebih banyak non Muslim ketimbang Muslim. Memang, kaum Muslim (2000) berjumlah sekitar 1.000.000.000 tetapi pada saat bersamaan jumlah umat manusia sekitar 6.000.000.000. Berarti kaum Muslim hanya 1/6 dari jumlah penduduk kolong langit ini. Berarti pula selebihnya adalah non Muslim, yang nota bene jumlah tersebut dapat memiliki potensi sebagai lawan – dan memang ada yang menjadi lawan. Belum lagi yang berpotensi sebagai “musuh dalam selimut” atau “musang berbulu ayam”.
    4. Cinta dunia takut mati: inilah peringatan jitu Muhammad menjelang wafat. Jitu karena sungguh kena untuk kaum Muslim kini. Nikmat dunia yang disodorkan Barat semisal materialisme dan hedonisme memegang peranan penting menciptakan “penyakit” ini. Sadar tidak sadar penyakit ini telah menjangkiti kita.

    Jika ini berkelanjutan, bukan mustahil kebangkitan Muslim hanya mimpi di siang bolong dan tetaplah kaum Muslim menjadi umat terkepung. Wallahua’lam bish shawwab.

    Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

  21. Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia
    Juli 15, 2015

    Karya tulis tahun 2004. Semoga bermanfaat. Aamiin yaa Allaah.

    DA’WAH ISLAM DI INDONESIA: KERJA YANG TAK KUNJUNG RAMPUNG

    PENDAHULUAN

    Umum sudah sama-sama tahu bahwa Indonesia termasuk wilayah yang memiliki letak strategis sehingga terbuka terhadap pengaruh asing. Wilayah luas dan alam kaya menambah pesona negeri ini untuk didatangi bangsa-bangsa lain berikut pengaruhnya. Tetapi tidak hanya berbagai bangsa asing yang hadir ke Indonesia, bangsa Indonesia sejak zaman purba telah merantau keberbagai negeri asing sejauh Madagaskar – pulau di lepas pantai timur Afrika – di sisi barat hingga Kepulauan Mikronesia di sisi timur.

    Hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa asing tidak terlepas dari suasana internasional saat itu. Di dunia Barat terdapat Kerajaan Romawi dan di dunia Timur terdapat Kerajaan Cina, ketika awal tarikh Masehi sama-sama meraih puncak kejayaannya. Hubungan antara kedua super power tersebut terjalin melalui jalur darat dan laut. Di darat dikenal dengan istilah “Jalur Sutra”, jalur panjang yang membentang dari Chang’an (kini Xi’an) hingga Constantinople (kini Istambul) melalui Asia Tengah dan Asia Barat. Di laut, terdapat jalur perkapalan melalui Asia Tenggara, Asia Tengah dan Asia Barat dari Kanton (Kwangchou) hingga Suez (al-Suwaiys). Dengan demikian Indonesia masuk jalur pelayaran tersebut.

    Hubungan yang sesungguhnya bermotif ekonomi tersebut kemudian merambah ke aspek lain semisal politik, seni, hukum, bahasa, adat dan syari’at. Ketika itu negara-negara maju bukan hanya Cina dan Romawi, tetapi juga Arabia, Persia dan India. Saling kunjung antar bangsa-bangsa tersebut lambat laun juga melibatkan bangsa Indonesia. Bangsa Cina, Arab, Persia dan India singgah atau mukim di Indonesia, demikian pula bangsa Indonesia hadir di negeri-negeri tersebut. Namun layak disayangkan, pengaruh Indonesia di negeri-negeri yang dikunjungi praktis tidak ada atau sangat sulit dicari dibanding pengaruh bangsa-bangsa asing di Indonesia.

    Jawaban untuk itu agaknya tidak sulit dicari. Bangsa Indonesia tidak memiliki peradaban asli nan canggih untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. Pada awal tarikh Masehi, Cina, Arab, Persia, Romawi, India, Yunani dan mungkin ada lagi yang lain minimal telah memiliki huruf atau tegasnya budaya tulisan namun tidak demikian halnya dengan bangsa Indonesia. Bagi Indonesia, awal Masehi masih terbilang pra sejarah karena belum mengenal huruf. Bangsa ini mengenal huruf diperkirakan sekitar abad-5, itupun bukan hasil ciptaan sendiri tetapi pengaruh dari India.

    Jika perkara huruf saja belum kenal, apatah pula ciri peradaban lain semisal arsitektur dan filsafat.

    Hasil-hasil alam Nusantara yang waktu itu digemari antara lain kapur barus, kayu manis, kulit harimau, lada dan emas. Perdagangan rempah-rempah sempat didominasi bangsa Arab dan kapur barus sempat didominasi bangsa India.

    Walaupun pernah ada dominasi tetapi tidak ada monopoli. Interaksi antara bangsa Indonesia dan berbagai bangsa Timur asing tersebut praktis berlangsung damai karena saling menguntungkan. Kelak jauh berbeda dengan bangsa-bangsa Barat yang tiba di Indonesia pada awal abad-16, mereka datang tidak hanya untuk berdagang tetapi juga untuk menjajah. Jelas dengan cara ini ada fihak yang dirugikan. Dari bangsa Barat jua, bangsa Indonesia kenal dengan monopoli.

    PENGARUH ASING AWAL DI INDONESIA

    Dari hubungan yang ramah itulah bangsa Indonesia mengenal pengaruh asing. Agama dan budaya secara pelan tapi pasti masuk. Mengingat letak India relatif paling dekat dengan Indonesia maka pengaruh India yang pertama kali masuk dan tampil dominan selama sekitar 1500 tahun.

    Di India telah ada agama Hindu dan Budha. Agama Hindu adalah agama yang tertua di India bahkan mungkin agama tertua di dunia yang masih ada umatnya. Konon Hindu tampil bersamaan dengan peradaban India yaitu sekitar 3000 BC dan hingga kini masih meraih mayoritas umat di negeri tersebut walaupun pernah dalam kuasa raja-raja Budha dan Muslim. Para penguasa non Hindu secara umum memahami agama yang dianut mayoritas dalam arti memberi toleransi. Selain itu, nama “India” memang berasal dari kata “Hindi” atau “Hindu” dan negeri tersebut juga dikenal dengan nama “Hindustan” (Tanah Hindu).

    Adapun Budha lahir sekitar abad-6 BC, berawal dari pencerahan yang diterima oleh Pangeran Sidharta Gautama setelah sekian lama mencari makna hidup dalam pengelanaan. Peristiwa tersebut memberi Gautama nama yang dikenal dengan “Budha” (Yang Disinari atau Yang Dicerahkan).

    Tokoh yang berjasa bagi agama Budha setelah Sidharta adalah Raja Ashoka, seorang raja yang semula terkenal gila perang tetapi berubah total menjadi cinta damai. Dia mengganti kebijakan peperangan dengan pembangunan. Perioda pemerintahannya adalah 1 di antara beberapa puncak kejayaan India.

    Dari Cina, bangsa Indonesia mengenal agama Konghucu. Walaupun agama tersebut masuk relatif bersamaan dengan Hindu dan Budha, praktis tidak meraih umat dari pribumi. Mungkin karena agama Konghucu sangat terkait dengan norma-norma Cina lama. Bahkan di Cina, agama Budha sempat meraih posisi penting walaupun kelak lama kelamaan berpadu dengan Konghucu. Mungkin suatu kebetulan, Gautama dan Konghucu hidup relatif sezaman.

    Dari Persia dan Arabia, pada awalnya bangsa Indonesia tidak mendapat pengaruh dalam bentuk agama atau budaya. Pada perioda awal hubungan antara 3 bangsa tersebut, di Arabia tidak ada umat mayoritas tertentu. Sejak perioda Nabi Ibrahim – sekitar 2000 BC – bangsa Arab menganut agama yang dibawa Ibrahim, dikenal dalam istilah Arab dengan nama “Hanif”. Tetapi agama tersebut praktis tidak pernah berkembang keluar Arabia, bahkan kelak “terdesak” dengan agama-agama lain yang “berebut” pengaruh di Arabia.

    Agama yang sempat mengemuka di Persia (kini Iran) adalah Zaratushtra atau Zoroaster. Agama tersebut lahir pada abad-6 BC dan hingga abad-7 menjadi agama resmi negara. Walaupun di Persia juga lahir agama Manu atau Manichaen pada abad-3 AD dan sempat meraih umat dari Samudera Atlantik hingga Samudera Pasifik, agama tersebut tidak berumur panjang. Di Persia ditumpas oleh penguasa yang menganut Zaratushtra, di luar Persia terdesak oleh agama Islam dan Nashrani. Sama hal dengan Hanif, kedua agama tersebut tidak sempat dikenal oleh bangsa Indonesia.

    Pengaruh Arab dan Persia justru masuk ke Indonesia setelah keduanya menganut agama Islam. Dan kelak – minimal di atas kertas – Islam meraih mayoritas di Indonesia sebagaimana hal di Arabia dan Persia. Inilah yang menjadi pokok pembahasan.

    Agama Islam lahir di Arabia pada abad-7 diawali oleh wahyu yang diterima Muhammad. Islam adalah lanjutan dari karya para nabi sebelum Muhammad, khususnya agama Hanif. Setelah melalui perjuangan yang mengerikan, dia sukses membawa Islam ke level terkemuka di Arabia.

    Ketika itu keadaan Arabia tidak menguntungkan, sejak abad-3 negeri tersebut terkepung oleh 2 negara besar yaitu Bizantium dan Persia. Kedua negara tersebut telah menetapkan agama resmi, warganya yang menganut agama lain cenderung ditindas. Secara umum, kedua rezim tersebut memang menindas rakyat. Rakyat sedemikian lama mengharap pembebasan.

    Dengan latar belakang tersebut, tidaklah mengherankan jika saat Muhammad memperkenalkan Islam maka mereka dengan sigap menolaknya bahkan dengan ancaman tersamar akan menyerbu Arabia untuk menumpasnya. Menindas rakyat sendiri dan niat untuk menyerbu Arabia memaksa kaum Muslim melawan mereka sekaligus.

    Secara logika adalah mustahil mengalahkan kedua super power tersebut, tetapi fakta membuktikan bahwa kaum Muslim mampu melaksanakannya. Singkat cerita, Kerajaan Persia masuk sepenuhnya ke dalam kuasa Muslim dan Kerajaan Bizantium banyak kehilangan wilayahnya. Sampai pada taraf tertentu sukses gerak maju kaum Muslim didukung oleh rakyat 2 kerajaan tersebut.

    Sekitar tahun 732 – seabad setelah Muhammad wafat – kaum Muslim telah membentuk imperium yang membentang dari Iberia hingga perbatasan Cina.

    Islam tak hanya tersebar di wilayah taklukan. Melalui jalur dagang Islam juga tersebar hingga pesisir Asia Timur dan Asia Tenggara – termasuk Indonesia. Sebaliknya, dalam wilayah Muslim ada wilayah yang dihuni mayoritas non Muslim. Kaum non Muslim dibiarkan bebas menganut norma-normanya.

    Penampilan Muslim ke pentas dunia juga menampilkan peradaban yang turut berjasa bagi kemanusiaan. Mereka mewariskan dan melestarikan beberapa peradaban sebelumnya sekaligus memperkaya dengan mencipta yang belum ada. Tetapi di Indonesia kaum Muslim hanya merupakan kelompok minoritas di pesisir, mereka belum membentuk kekuasaan maka belum memiliki peluang membangun peradaban. Mereka harus “menunggu” sekitar 600 tahun lagi untuk demikian.

    Ketika Islam pertama hadir di Indonesia, pengaruh Hindu dan Budha mencapai puncak kejayaannya. Sekedar contoh, di Sumatera tampil Kerajaan Sriwijaya (Budha) yang mendominasi Asia Tenggara hingga sekitar 600 tahun. Di Jawa tampil Wangsa Syailendra yang mewariskan Candi Borobudur. Bahkan ketika kaum Muslim membentuk negara, Kerajaan Majapahit (Hindu) ganti mendominasi Asia Tenggara sekitar 200 tahun.

    KEHADIRAN AWAL ISLAM DI INDONESIA

    Telah tersebut bahwa hubungan antara bangsa Indonesia dengan bangsa asing telah terjalin pada awal tarikh Masehi. Ketika Islam lahir, penyebaran ke Indonesia dapat terjadi karena “fasilitas” jalur dagang yang tercipta karena hubungan tersebut di atas. Muslim dari Arabia, Persia dan India banyak pula berprofesi sebagai pelaut, pedagang dan petualang. Mereka merantau sejauh Madagaskar di lepas pantai Afrika dan pesisir Cina, dengan demikian Indonesia menjadi tujuan singgah atau mukim.

    Ketika mereka tiba, nyatalah bahwa pengaruh Hindu dan Budha telah kuat. Para raja sekaligus dianggap dewa, titisan dewa atau setengah dewa. Segala kehendaknya praktis dipatuhi warganya karena status kedewaannya memastikan anggapan bahwa raja tidak mungkin salah.

    Keadaan ini untuk waktu lama belum memungkinkan Islam meraih umat dari pribumi. Hubungan dengan kaum Muslim asing dengan pribumi hanya terbatas pada soal ekonomi. Kaum Muslim menampilkan perilaku yang simpatik antara lain berdagang dengan jujur dan menjaga kebersihan dengan mandi 2 kali sehari dan wudhu minimal 5 kali sehari, membangkitkan rasa hormat pribumi. Dihormati tapi belum diteladani, karena keterikatan erat antara pribumi dengan penguasanya.

    Ini perlu diketahui untuk membantah pendapat imperialis Barat yang berusaha membangkitkan kebencian terhadap Islam antara lain dengan menyebut bahwa para pedagang Muslim bersifat rakus, licik dan kejam. Padahal para pedagang Barat yang justru banyak berperilaku demikian. Bukan jarang mereka berdagang dengan todongan senjata. Ini sekedar contoh cara “maling teriak maling” yang banyak diterapkan oleh imperialis.

    Islam tampil bertepatan dengan kehadiran 1 kekuatan dominan di Asia Tenggara yaitu Sriwijaya. Negara tersebut diberi istilah oleh kaum Muslim dengan“Sribuza”, “Sribusah”, “Zabaq” atau “Zabay”. Konon negara bagian Kedah di Malaysia berasal dari bahasa Arab yaitu “Kataha”.

    Menurut teori Profesor Fatemi, hubungan diplomatik antara kaum Muslim dengan Sriwijaya bermula pada perioda Khilafah ‘Ummayah (661-750), yaitu negara kerajaan beribu kota Damaskus atau Damsyiq di Syria atau Suriyyah. Negara inilah yang membawa kaum Muslim pada puncak perluasan wilayahnya: dari Iberia hingga perbatasan Cina.

    Di Jawa, pada abad-7 terdapat negara yang dikenal dengan Kalingga. Negara tersebut mencapai masa jaya pada perioda Ratu Sima. Terkenal kisah keadilan, keamanan dan kemakmuran ini dari cara ratu menguji kejujuran rakyatnya dengan meletakkan pundi-pundi emas di ruas jalan. Selama bertahun-tahun isi pundi tersebut tetap utuh, tak ada yang mengambil.

    Prestasi ratu tersebut menarik perhatian musafir Muslim untuk berkunjung, mungkin mereka adalah utusan dari Khilafah ‘Ummayah juga.

    Secara berangsur-angsur wilayah yang kini disebut Indonesia disebut-sebut dalam berita-berita Arab dan Persia antara lain Ibnu Khuradadzbah, Idrisiy dan Yaqut tetapi dengan sebutan semisal “Jawiy” atau “Aqshal Hindiy (India Jauh) selain istilah tersebut di atas untuk Sriwijaya. Istilah “Indonesia” baru muncul abad-19.

    Dari contoh kisah di atas seorang pakar sejarah yaitu Profesor Ricklefs menilai bahwa kehadiran Islam di Indonesia adalah perioda yang paling penting tetapi sekaligus paling tidak jelas karena langka bukti-bukti tertulis. Bukti kehadiran awal Islam di Indonesia umumnya berbentuk makam semisal makam di desa Leran (dekat Gresik) atas nama Fathimah binti Maymun yang berasal dari abad-11. Tidak jelas apakah dia Muslim asing ataukah pribumi, dan juga tidak jelas apakah makam tersebut membuktikan ada pemukiman awal kaum Muslim di daerah itu. Kisah kunjungan musafir Muslim ke Kalingga tersebut di atas tidak jelas pula membuktikan apakah mereka hanya singgah ataukah mukim sambil memperkenalkan Islam.

    Waktu berjalan terus, hubungan juga terus berlangsung walaupun pada abad 11-13 dunia Muslim mendapat bencana berat akibat serbuan dari Eropa dan Mongolia, serta di Indonesia pada saat yang sama sempat mengalami perioda gejolak antara keruntuhan Sriwijaya dengan kebangkitan Majapahit. Bahkan pada perioda suram tersebut tampil negara bentukan pertama Muslim di Indonesia yaitu Kerajaan Samudra Pasai (kini masuk Provinsi NAD). Malik al-Shalih sering disebut raja pertama di Indonesia yang menganut Islam. Dari awal yang kecil inilah kelak da’wah Islam tersebar luas (namun sekaligus tidak tuntas).

    PERKEMBANGAN BERIKUT

    Nama Malik al-Shalih dikenal dari tulisan makam yang menyebut tahun Hijrah yang mengacu pada 1297 Masehi. Menurut legenda, sebelum menganut Islam dia bernama Marah Silu. Ada kemungkinan dia memilih Islam karena hubungan dengan Muslim asing – kemungkinan dari Gujarat (kini masuk negara India) – berdasar ciri makamnya yang menggunakan batu dari sana. Ini boleh dibilang masuk akal karena Samudra Pasai terletak di Selat Malaka, jalur yang ramai sejak awal Masehi.

    Dari info di atas para pakar dari Barat menilai bahwa Islam masuk abad-13 melalui India, pendapat tersebut bertahun-tahun menjadi acuan banyak buku sejarah di Indonesia. Tetapi sekitar tahun 1960-an Hamka berpendapat bahwa Islam masuk sejak abad pertama Hijrah atau abad-7 Masehi langsung dari Arabia bersamaan dengan kehadiran Islam di India – bahkan Cina – berdasar info yang juga telah penulis sajikan di atas. Karena itu penulis juga mencoba membahas kehadiran Islam di Cina dan India.

    Kehadiran Islam di India dan Cina jauh lebih jelas dari pada di Indonesia. Di India, Islam hadir melalui perdagangan di laut dan penaklukan di darat. Di laut para pedagang Muslim dari Arab dan Persia hadir di pesisir barat India yang dikenal dengan nama Malabar atau Koromandel. Di darat pasukan Muslim dari Khilafah ‘Ummayah dipimpin oleh Muhammad bin Qasim merebut wilayah India yang kini bernama Pakistan pada tahun 706. Penaklukan tersebut merupakan awal penguasaan India oleh Muslim, yang berlangsung hingga tahun 1858 akibat dihapus oleh imperialis Barat.

    Penaklukan India yang kedua berasal dari Afghanistan. Raja Mahmud Ghazna membangun Kerajaan Ghaznawiy melalui penaklukan timur Persia, utara India dan selatan Turkistan. Kerajaan ini berlangsung dari abad-10 hingga 12. Ada yang berpendapat bahwa suku Gujarat – dan juga Kasymir – mulai menganut Islam pada perioda tersebut.

    Penaklukan ketiga berasal dari bangsa Turki pada abad-12 oleh Quthbuddin Aybak, yang menampilkan Kerajaan Delhi (1206-1526). Kekuasaan Muslim meluas hingga bagian tengah India.
    Penaklukan keempat berasal dari Turkistan oleh Zhahiruddin Muhammad alias Babur yang menampilkan Kerajaan Moghul (1526-1858). Ketika itu wilayah India yang dikuasai Muslim sekitar 90%.

    Sesungguhnya masih ada beberapa penaklukan lain, tetapi penulis hanya membahas secara singkat 4 penaklukan tersebut mengingat menentukan sejarah India. Dengan demikian jika dijumlah maka kaum Muslim menguasai India sekitar 1000 tahun. Pada tahun 1947 wilayah mayoritas Muslim di barat laut dan timur laut India menjadi negara Pakistan, di India kini jumlah kaum Muslim sekitar 12%.

    Kehadiran Muslim di Cina lebih banyak terjadi karena perdagangan. Hubungan pertama yang bersifat diplomatik terjadi pada tahun 651 ketika Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan mengirim utusan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ke Chang’an, ibu kota Dinasti T’ang (618-907). Rombongan tersebut melalui jalur laut dan berlabuh di Kwangchou, kota yang telah lama menjadi pusat dagang yang ramai didatangi para pedagang dari Arab, Persia dan India. Para musafir Muslim yang melalui jalur darat banyak terhimpun di Chang’an, ujung Jalur Sutra.

    Khilafah ‘Ummayah pernah mencoba memperluas wilayah ke arah timur dan tertahan di perbatasan Cina. Gerakan tersebut dipimpin oleh Qutaybah bin Muslim.

    Pada tahun 751 terjadi bentrokan antara pasukan Arab dengan Cina di perbatasan Cina. Pasukan Cina mendapat kekalahan dan di antara personil yang ditawan terdapat para ahli pembuat kertas. Sejak itu penggunaan kertas yang kita kenal kini menyebar pesat sejauh Eropa Barat oleh bangsa Arab setelah berabad-abad Cina menjadi produsen tunggal kertas karena teknik pembuatannya dirahasiakan begitu ketat.

    Terlepas dari konflik yang terjadi sekali-sekali, secara umum hubungan Cina dengan dunia Muslim berlangsung akrab. Tetapi perilaku penguasa Cina di dalam negeri yang berubah-ubah antara simpati dan antipati membuat perkembangan Islam terjadi tarik-ulur alias mandeg, tentu hal tersebut membuat kehadiran Islam di negeri tersebut hanya sedikit. Kini jumlah kaum Muslim hanya sekitar 12.000.000 di antara sekitar 1.300.000.000 orang.

    Kembali ke Indonesia, kemakmuran Samudra Pasai mempengaruhi da’wah Islam. Islam tersebar bahkan membentuk negara-negara Muslim baru semisal Malaka dan Demak. Seorang panglima Demak yang memperkenalkan Islam ke Jawa Barat juga berasal dari Pasai, dikenal dengan beberapa nama antara lain Fatahillah atau Syarif Hidayatullah. Dia juga dikenal sebagai leluhur para raja di Banten dan Cirebon.

    Pada perioda pemerintahan Malik al-Zhahir konon dibangun lembaga pendidikan yang diilhami oleh Universitas Nizhamiyyah di Baghdad. Universitas tersebut dibangun atas usaha Nizhamul Muluk, seorang Persia yang menjadi perdana menteri Kerajaan Saljuqiyyah.

    Kejayaan Pasai relatif singkat, penaklukan oleh Majapahit menempatkan Pasai sebagai vasal. Walaupun nilai politik dan ekonominya pudar, Pasai masih tetap menjadi pusat da’wah Islam. Beberapa ulama Pasai yang ditawan dan di bawa ke ibu kota Majapahit bahkan sukses berda’wah. Beberapa elit Majapahit menjadi Muslim.

    Dari elit tersebut kelak menampilkan negara Muslim pertama di Jawa yaitu Demak.

    Pasai juga sempat mengalami penaklukan imperialis Barat dari Portugal pada 1521. Banyak warga yang merantau ke daerah lain sambil berda’wah, antara lain Fatahillah. Syukur alhamdulillah, kehadiran imperialis tersebut tak berkepanjangan. Raja ‘Ali Mughayyat Syah dari Aceh sukses mengusirnya tahun 1524 dan sejak itu Pasai masuk wilayah Kerajaan Aceh.

    Di wilayah yang kini disebut Malaysia, pernah tampil negara Muslim pertama di semenanjung tersebut yaitu Kerajaan Malaka. Konon dibentuk oleh seorang pangeran Majapahit bernama Parameswara atau Paramisora, setelah menganut Islam dia bernama Megat Iskandar Syah. Kejayaan berpindah dari Pasai ke Malaka, banyak para perantau asing hadir di negeri tersebut. Bangsa Arab menyebutnya dengan “Mulaqat” (Tempat Bertemu Segala Dagang). Kemajuan dagang sejajar dengan kemajuan da’wah namun hal tersebut relatif singkat, bangsa Portugis dipimpin oleh Alfonso d’Albuquerque menaklukan Malaka pada 1511. Peristiwa tersebut sekaligus merupakan awal perioda imperialisme Barat di Asia Tenggara serta awal Asia Tenggara masuk zaman suram atau jahiliyyah. Hal tersebut berlangsung hingga kini. Secara umum, Asia Tenggara masih terbilang terbelakang dengan penjajahan menjadi penyebab pokok.

    Usaha merebut Malaka berulang-ulang dilaksanakan oleh beberapa negara antara lain Aceh dan Demak, namun usaha tersebut gagal. Dengan hanya diselingi Perang Pasifik (7/12/1941 – 2/9/1945) oleh pendudukan Jepang, Malaka di bawah kuasa imperialis Barat hingga kemerdekaan Malaysia pada 31 Agustus 1957.

    Penaklukan Malaka tersebut berakibat masyarakat dagang internasional bubar, tercerai berai ke berbagai pelabuhan di Asia Tenggara. Aceh kebagian “berkah” dari peristiwa itu. Banyak pedagang yang pindah ke Aceh, berakibat negara-kota tersebut maju pesat. Raja Mughayyat Syah bertekad mewujudkan Aceh menjadi kekuatan dominan di barat Asia Tenggara. Dia memperluas wilayahnya dengan menguasai pesisir timur maupun barat Sumatera. Perang dengan Portugis – dan juga Kerajaan Johor – tidak terelakkan: Portugis pernah menyerbu Aceh namun gagal menaklukannya. Hasilnya kemudian adalah perang segitiga Aceh-Malaka Portugis-Johor untuk tampil terkemuka di Selat Malaka yang tak pernah dimenangkan oleh siapapun.

    Perioda pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam (1607-36) sering dinilai sebagai puncak kejayaan Aceh. Bangsa Barat yang hadir untuk merebut “pasar imperialisme” bertambah dengan bangsa Belanda dan Inggris. Dengan cerdik dia mengadu domba kedua bangsa tersebut.

    Sementara itu penyebaran Islam – selain dengan perdagangan – juga bergerak seiring dengan penaklukan oleh Aceh. Penyebaran Islam oleh Aceh menjangkau Bengkulu melalui Minangkabau, di wilayah tersebut Aceh berbatasan dengan wilayah kekuasaan Banten.

    Keunggulan Aceh di bidang politik dan ekonomi memudar sepeninggal Iskandar Muda, hanya da’wah Islam yang masih bertahan. Aceh menjadi pusat pergolakan pemikiran agama terutama tashawuf, tersebut beberapa ulama yaitu Nuruddin al-Raniriy, Hamzah Fanshuriy, Syamsuddin al-Sumatraniy. Kelak Aceh dikenal sebagai wilayah yang sangat Islamiy di Indonesia walaupun tetap harus diingat bahwa keislaman di Asia Tenggara terbilang tidak murni.

    Masuk abad-15 Kerajaan Majapahit berangsur-angsur runtuh akibat konflik intern sepeninggal tokoh kuat Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Beberapa wilayah taklukannya melepaskan diri termasuk di Jawa, pusat negara tersebut. Perioda tak nyaman tersebut menampilkan tokoh Raden Patah, yang konon anak raja Majapahit yaitu Brawijaya. Kaum Muslim – yang makin berpengaruh di pesisir – cemas jika Jawa dilanda kekacauan besar, mereka bertekad memulihkan ketentraman – dan kemakmuran jika mungkin – di seantero Jawa. Mereka membentuk beberapa negara-kota semisal Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya. Melalui pernikahan dan peperangan akhirnya beberapa negara-kota tersebut tergabung dalam Kerajaan Demak.

    Demak menghadapi tantangan berat yaitu masyarakat non Muslim pribumi warisan Majapahit dan pra Islam lainnya di dalam negeri serta imperialis Barat di luar negeri. Setelah menaklukan Malaka, Portugis maju menjelajah Indonesia sejauh Maluku termasuk mengincar Jawa. Sejak zaman Majapahit ada anggapan yang begitu bertahan lama bahwa menguasai Jawa berarti menguasai Nusantara, menguasai Nusantara berarti menguasai Asia Tenggara. Mungkin karena sejak lama Jawa dikenal paling banyak penduduknya.

    Kecemasan Demak terhadap kemungkinan persekutuan non Muslim antara pribumi dengan asing kelak terbukti dan hal tersebut bukanlah yang pertama dan yang terakhir dalam sejarah Muslim. Sejak Muhammad masih hidup hal tersebut pernah terjadi. Secara diam-diam, Bizantium dan Persia seperti ada kesepakatan mengurangi permusuhan sengit mereka yang sudah berabad-abad. Mereka menjalin hubungan dengan non Muslim pribumi Arab untuk melawan Muslim.

    Penghancuran peradaban Muslim di Asia Barat oleh Hulagu Khan dari Mongol pada abad-13 tak terlepas dari bagian persekongkolan tersebut. Bangsa Mongol menyerbu dunia Muslim dari belahan timur ketika kaum Muslim sibuk melawan imperialis Eropa yang menyerbu dari barat. Saling kirim utusan antara Mongolia dan Eropa dilaksanakan untuk membentuk front yang mengepung dunia Muslim.

    Persekutuan sesama non Muslim dari umat manapun melawan Muslim sepanjang riwayat agaknya membuat kecurigaan penulis makin kuat, bahwa Islam adalah si bungsu yang dinanti umat-umat dari sebelumnya bukan untuk dikasihi tetapi dinanti untuk dihabisi. Padahal Islam bukanlah agama yang begitu saja jatuh dari langit tetapi adalah lanjutan karya para nabi sebelum Muhammad. Penyelidikan terhadap sumber-sumber beberapa kitab suci menunjukkan – walau mungkin tak sejelas yang diharapkan – bahwa ada info tentang agama terakhir dan nabi terakhir yang mengarah pada Islam dan Muhammad. Dan setiap gerakan anti Islam jika diusut-usut hampir pasti bersumber dari imperialis Barat, yang non Barat cenderung menjadi antek.

    Kembali ke Jawa, Portugis mencoba menjalin hubungan dengan Pajajaran di Jawa Barat dan Majapahit di Jawa Timur. Maksudnya tidak sulit dicari: mengepung Demak di Jawa Tengah. Mirip taktik mengepung non Muslim Mongolia dengan non Muslim Eropa. Beberapa elit Majapahit mengirim hadiah kepada gubernur Portugis untuk Malaka, di Jawa Barat bahkan lebih jauh lagi: Pajajaran membuat perjanjian tahun 1522 yang mengizinkan Portugis membuat pangkalan di Sunda Kelapa.

    Demak tidak punya pilihan selain bergerak ke kedua arah tersebut sekaligus. Dengan cepat pesisir ke arah barat sejauh selat Sunda direbut supaya hubungan Portugis-Pajajaran terputus. Usaha Portugis merebut Sunda Kelapa digagalkan, peristiwa ini mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (kini Jakarta).

    Kesuksesan tersebut di atas menampilkan nama yang hingga kini belum tuntas terungkap, yaitu Fatahillah, Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Ada pendapat bahwa nama-nama tersebut menunjuk orang yang sama, ada pula yang menyebut orang yang berbeda. Untuk kisah ini, penulis memakai nama Fatahillah, mengingat nama tersebut yang diabadikan untuk museum di Jakarta.

    Fatahillah menetap di Jawa Barat hingga wafatnya, ketika Demak mengalami kekacauan intern dia melepaskan diri dari kuasa Demak dengan membentuk negara baru yaitu Banten dan Cirebon. Adapun kekacauan di Demak karena Raja Trenggono dibunuh oleh bawahannya sendiri ketika dia memimpin proyek penaklukan Jawa Timur. Kekacauan di Demak berakibat tampil negara baru di Jawa Tengah yaitu Pajang dan Mataram – bahkan Palembang di Sumatera.
    Selain negara-negara tersebut di atas, di wilayah yang kini disebut Indonesia juga terdapat beberapa negara Muslim semisal Jambi, Banjarmasin, Makassar, Ternate dan Tidore. Tetapi bukan maksud penulis untuk membahas semua negara-negara Muslim di Indonesia. Penulis mencoba membahas hambatan yang dihadapi oleh da’wah Islam yang berakibat Indonesia tidak sepenuhnya Islamiy sehingga da’wah menjadi kerja yang perlu terus menerus dilaksanakan seakan-akan tak kunjung rampung. Dan hambatan pokok da’wah di Indonesia sejak abad-16 jika diusut-usut akan mengarah pada imperialis Barat, hambatan lain hanyalah turunan dari hambatan pokok tersebut. Penulis hanya membahas Pasai dan Demak karena kedua negara tersebut adalah perintis: Pasai negara Muslim pertama di Sumatera (sekaligus di Indonesia) dan Demak negara Muslim pertama di Jawa. Dari keduanya kelak lahir negara-negara Muslim lain di Indonesia.

    HAMBATAN DA’WAH

    Telah dijelaskan bahwa walaupun hubungan antara kaum Muslim asing dengan pribumi Indonesia telah ada sejak abad pertama Hijrah, sulit ditemukan bukti bahwa ada pribumi yang telah menganut Islam. Pengaruh Hindu dan Budha masih kuat akibat tuah raja sehingga hubungan tersebut terbatas pada ekonomi. Kaum Muslim harus menunggu sekitar 600 tahun untuk meraih pengaruh selain ekonomi termasuk di bidang agama.

    Islam adalah agama dengan ciri tauhid yang mungkin paling jelas dibanding agama lain. Faham bertuhan satu dalam Islam praktis masih asli dalam 2 sumber pokok Islam yaitu kitab dan sunnah. Demikian pula bagian-bagian lain dalam Islam semisal moral dan syariat. Hal tersebut jelas sangat berbeda – kalau tidak boleh disebut bertentangan dengan budaya – atau mungkin sifat – bangsa Indonesia yang bercorak syirik (bertuhan banyak).

    Sebelum ada hubungan dengan pengaruh asing, bangsa Indonesia percaya dengan kuasa ghaib yang menjelma atau bercokol dalam berbagai benda atau bentuk. Pohon besar, batu besar atau segala sesuatu yang terlihat mengagumkan atau menakutkan semisal petir dan gunung meletus dihubungkan dengan perkara ghaib. Kepercayaan tersebut mengarah pada syirik karena segala benda atau bentuk dianggap memiliki kuasa ghaib, setiap benda, bentuk atau tempat ada “penunggunya” – yang kelak dituhankan: disembah dan dipuja, bahkan diberi sesaji supaya tidak marah yang berakibat bencana.

    Sejauh yang diketahui, Indonesia bukan tempat muncul agama, nabi, wahyu atau hal semacam itu walau dalam al-Qur-an ada tersebut bahwa setiap kaum diutus nabi untuk menuntun kaum tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka dan kelak kenabian “ditutup” dengan Muhammad. Dalam hadits disebut jumlah para nabi 124.000 orang dan dari mereka al-Qur-an hanya menyebut 25 nama yang dapat “mewakili” semua nabi. Tetapi sejauh yang diketahui, agama lahir di Asia Barat (Hanif, Yahudi, Zoroaster, Nashrani, Manichaen dan Islam), Asia Selatan (Hindu, Budha dan Jain) dan Asia Timur (Konghucu). Tidak ada di Asia Tenggara.
    Islam bukanlah pendatang awal di Indonesia, kehadiran Islam terjadi saat pengaruh Hindu dan Budha telah kuat. Walaupun mungkin Hindu dan Budha mengenal faham keesaan tuhan tetapi sejauh yang penulis kenal masih terdapat penyembahan/pemujaan terhadap sosok yang lain – apapun sebutannya – meskipun ada yang menilai hal tersebut sekadar lambang. Mereka menilai penyembahan tetap ditujukan kepada tuhan yang maha esa. Konsep ketuhanan yang boleh dibilang mirip antara kedua agama tersebut dengan sifat asli bangsa Indonesia menyebabkan pengaruhnya sanggup bertahan sekitar 1500 tahun. Bahkan walaupun kini mayoritas bangsa ini Muslim, pengaruh sifat asli dan kedua agama tersebut belum lenyap sepenuhnya dari kaum Muslim.

    Pada abad-16 tampil hambatan baru da’wah Islam di Indonesia yaitu imperialisme Barat. Berawal dari kehadiran Portugis, kemudian Spanyol, Inggris dan Belanda. Berbeda dengan bangsa-bangsa asing sebelumnya yang pernah hadir di Indonesia. Mereka – minimal atau terlebih lagi saat itu – memiliki perilaku yang sungguh berbeda. Cara berdagang, atau secara umum perilaku mereka cenderung tidak simpatik: kasar dan serakah. Mungkin boleh dibilang bahwa mereka berdagang hanya kedok, niat mereka sesungguhnya adalah menjajah. Karena itu pandai dagang adalah urusan kedua, kurang peduli cara mereka menyakiti dan merugikan orang lain atau tidak.

    Konsep imperialisme Barat terumuskan sejak abad-16 dengan semboyan mereka sendiri yaitu “gold” (mencari kekayaan), “gospel” (menyebarkan pengaruh yaitu agama dan budaya) dan glory (mencari kemuliaan). Khusus tentang agama, mayoritas bangsa-bangsa Barat menganut agama Nashrani.

    Walaupun tidak ada hubungan antara imperialisme dengan Nashrani, bangsa-bangsa Barat sekian lama menjadikan Nashrani sebagai bagian dari imperialisme, atau imperialisme sebagai bagian dari Nashrani. Artinya kira-kira begini: Barat menilai bahwa untuk menyebarkan agama layak atau perlu menggunakan cara imperialisme, dan karena itulah imperialisme dinilai dibenarkan agama. Untuk menjernihkan perkara, penulis ulangi: tidak ada hubungan antara imperialisme (dan juga terorisme) dengan agama manapun, termasuk Nashrani dan Islam. Imperialisme Barat sudah ada sejak sebelum Masehi, tegasnya sebelum lahir Nashrani. Demikian pula terorisme – yang sering dihubungkan dengan Islam – sesungguhnya berasal dari Barat sejak sebelum Masehi.

    Juga penulis ulangi, permusuhan antara imperialisme Barat dengan Muslim telah ada sejak Muhammad masih hidup, yaitu Bizantium. Ketika Islam lahir, Bizantium – selain menduduki Eropa – telah menjajah wilayah Timur yaitu Asia Barat dan Afrika Utara. Gerak maju pembebasan oleh kaum Muslim berakibat Bizantium kehilangan banyak wilayahnya, dan pada tahun 1453 kaum Muslim akhirnya menamatkan riwayat negara imperialis tersebut.

    Pada abad-11 terjadi kebangkitan imperialisme Barat, beberapa negara Eropa bergabung menyerbu dunia Muslim dari Iberia hingga Mesopotamia dengan nama perang salib (1095-1291). Perang tersebut ternyata menampilkan akibat yang lebih parah dibandingkan konflik Muslim – Bizantium, permusuhan yang sempat mereda bangkit kembali dengan lebih sengit sehingga trauma, dendam, curiga, benci atau apapun sebutannya masih hadir saat ini. Mungkin perlu waktu sangat lama dan usaha sangat serius Muslim – Barat untuk pulih dari dampak perang salib.

    Kebangkitan imperialisme Barat yang entah kesekian kalinya pada abad-16 banyak yang menilai sebagai lanjutan dari perang salib, namun dengan nama berbeda: perang kolonial. Dipelopori Spanyol dan Portugis, imperialis Barat bergerak maju ke wilayah yang hingga saat itu hanya didengar tetapi belum dijamah, atau bahkan masih misterius. Wilayah yang terbilang misterius adalah benua yang kini dikenal dengan nama Amerika dan Australia, 2 benua luas tapi berpenduduk jarang. Adapun Asia Tenggara dan Asia Timur sudah pernah mereka dengar – dari perjalanan musafir Marco Polo pada abad-13 – tetapi belum dijamah.

    Di Amerika dan Australia boleh dibilang mudah ditaklukan mengingat wilayah luas penghuni jarang dan mayoritas masih primitif. Entah berapa banyak jumlah pribumi yang tewas akibat perilaku imperialis Barat, selebihnya ada yang berbaur atau mengasingkan diri lebih ke pedalaman. Pada abad-19 kedua benua tersebut sukses dibaratkan dan menjadi dunia Barat.

    Di Afrika dan Asia, imperialis Barat mendapat perlawanan lebih berat. Kedua benua tersebut selain luas juga berpenghuni padat sekaligus banyak yang sudah berperadaban canggih mengingat asal muasal peradaban manusia memang berasal dari dunia Timur. Barat hanya mengembangkan peradaban tersebut. Akibatnya, walaupun sebagian besar dunia Timur dijajah Barat tetap saja hingga saat ini gagal dibaratkan.

    Di Asia Tenggara, imperialisme Barat dikenal dengan penaklukan Kerajaan Malaka oleh Portugis sebagai tersebut di atas. Selain menempati letak strategis di Selat Malaka, da’wah Islam juga sukses dihentikan. Portugis berkuasa di Malaka hingga tahun 1641 setelah diusir oleh Belanda.

    Seakan berpacu dengan waktu, penjelajahan Portugis maju ke Maluku di pimpin oleh Francisco de Serrao tahun 1512. Mereka melihat kaum Muslim juga lebih dulu hadir di kepulauan yang sejak lama menjadi pusat rempah-rempah dunia tersebut. Peperanganpun dengan Muslim pribumi tak terhindarkan yang memaksa Portugis hanya bertahan di Ambon hingga 1605, juga karena diusir Belanda. Tetapi kekuasaan di Timor Timur bertahan hingga 1976.

    Walaupun beberapa bangsa Eropa pernah hadir di Indonesia, tetapi yang pernah memiliki pijakan kolonial hanya Portugis, Inggris dan Belanda. Pada awal abad-20 Belanda menguasai sebagian besar Indonesia dan Portugis hanya “kebagian” sisa di sudut negeri ini.

    Konflik dengan imperialis Barat yang kejam dan lama menimbulkan korban jiwa dan harta kaum Muslim, banyak aset umat semisal masjid dan pesantren rusak atau hancur. Banyak ulama dan santri yang tewas, hilang atau ditangkap sehingga umat kehilangan panutan dan bimbingan padahal mereka masih memerlukan da’wah karena pemahaman yang belum utuh terhadap agama. Akibatnya, pemahaman terhadap Islam tercampur dengan berbagai faham pra Islam semisal syirik dan bid’ah. Potensi untuk da’wah terkuras untuk perang.

    Imperialis Barat praktis tak memberi peluang untuk da’wah. Usaha umat untuk bangkit membuat tatanan yang Islamiy segera ditumpas – terutama di Jawa. Imperialis cemas jika suatu kebangkitan pribumi terutama di Jawa dan berbasis Islam. Mereka tahu betul nilai strategis Jawa sebagaimana telah disebut di atas. Kebangkitan “Khilafah Majapahit” – kiasan yang bermakna kebangkitan pribumi di Jawa mendominasi Asia Tenggara selevel Majapahit sekaligus berbasis Islam jelas mengancam kepentingan imperialis Barat.

    Contoh kecemasan imperialis terhadap kebangkitan Muslim di Jawa dapat disimak dari kasus Pangeran Diponegoro. Dia jelas-jelas berjuang mewujudkan negara Muslim Jawa. Belanda mengerahkan sebagian besar sumber dayanya untuk menumpas revolusi tersebut yang berakibat berkobar Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-30). Walaupun gerakan serupa telah ada lebih dulu di Sumatera – yaitu gerakan Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol – di mana Belanda telah terlibat perang sejak 1821, Belanda tetap menilai penting menumpas Diponegoro terlebih dulu karena ada di Jawa. Belanda yakin, bahwa Diponegoro tidak akan berhenti hanya di Jawa, pasti revolusinya akan meluas ke Nusantara – bahkan Asia Tenggara. Untuk itu Belanda bersedia menghentikan permusuhan dengan gerakan Paderi supaya dapat menghimpun sumber dayanya untuk perang di Jawa.

    Mengingat teknologi transportasi dan komunikasi belum secanggih kini serta usaha Belanda menutup seketat mungkin Jawa supaya info tidak bocor keluar, Imam Bonjol tidak tahu apa sebab Belanda minta damai. Tidak tahu bahwa Belanda sedang terdesak. Dia menerima uluran damai Belanda dengan penilaian bahwa Islam agama damai, jika musuh menghentikan permusuhan ya hentikan permusuhan. Dia juga menilai bahwa damai memberi peluang untuk membina umat, perang dilaksanakan jika da’wah terganggu atau agama dilecehkan.

    Setelah revolusi Diponegoro dapat ditumpas, Belanda kembali menempatkan Imam Bonjol dalam daftar berikut yang harus ditumpas. Perang di Minangkabau kembali berkobar hingga 1837.
    Usai Perang Diponegoro, Belanda bekerja keras mencegah Jawa menjadi Islamiy, pengaruh Barat disebar luaskan dengan mendatangkan missie dan zending. Pusat-pusat zending dan missie ditempatkan antara lain Semarang, Salatiga, Ambarawa, Muntilan dan Magelang. Persis di pusat Jawa! Markas tersebut masih dapat kita saksikan. Belanda juga merangkul kaum Muslim nominal – lazim disebut “abangan” – untuk mencegah kebangkitan Muslim santri atau “mutihan”.

    Penjajahan yang begitu lama selain menampilkan keterbelakangan juga menampilkan sekelompok pribumi yang menjadi antek imperialis, umumnya mereka seagama dengan Barat. Belakangan, agaknya dalam jumlah makin bertambah dari kaum Muslim juga secara sadar maupun tidak menjadi antek Barat. Mungkin mereka dapat dikira-kira dari perilaku semisal tidak setuju jika hukum Islam berlaku di Indonesia.

    Demikianlah, sejak abad-16 bertemulah kepentingan yang sama antara non Muslim yang berasal dari pra Islam di Indonesia dengan imperialis Barat untuk melawan Islam. Mereka mungkin saja dapat terpecah belah sejauh tidak terkait dengan Islam. Tetapi begitu terkait, mereka segera 1 rasa, 1 logika, 1 kata, dan 1 kerja menghadapi Islam. Dan imperialis Barat masih tetap memegang peranan kunci mengingat keunggulan mereka membentuk pendapat umum untuk antipati terhadap Islam. Hal tersebut juga berlaku di luar Indonesia. Makin terbukti bahwa Islam memang si bungsu yang dinanti bukan untuk dikasihi tetapi dinanti untuk dihabisi. Ingin dihabisi oleh umat-umat yang sudah dipesan oleh para nabi mereka untuk (kelak) menerima agama terakhir: Islam.

    PENUTUP

    Kini mayoritas penduduk Indonesia menganut Islam, mayoritas dalam jumlah sekaligus mayoritas dalam keterbelakangan. Pemahaman agama misalnya, masih banyak tercampur oleh faham-faham yang bertentangan dengan Islam sebagai warisan dari pra Islam. Selamatan sekian hari untuk yang mati, memohon kepada tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap angker atau keramat, praktek santet dan adu kelahi hewan adalah beberapa contoh pemahaman/pengamalan agama yang kurang atau dangkal.

    Pengaruh imperialis Barat makin memperparah mutu umat. Berbagai tempat maksiat serta berbagai faham dari Barat semisal sekularisme, hedonisme, materialisme, bahkan ateisme sempat atau masih – atau bahkan makin – hadir di Indonesia. Keinginan untuk melaksanakan syari’at Islam dalam segala aspek – termasuk kehidupan bernegara – jelas tidak mungkin terlaksana dengan suasana macam ini. Yang menentang bukan hanya non Muslim tetapi juga Muslim karena kedangkalan pemahaman mereka. Sebelum melangkah pada pelaksanaan syari’at Islam haruslah ada proses persiapan yang tidak singkat mengingat tidak mudah. Untuk sampai ke tujuan tersebut hanya da’wah yang terus menerus baik perkataan (da’wah bil lisaan) maupun perbuatan/teladan (da’wah bil haal) yang dapat memberi harapan. Beramai-ramai para ulama masuk parpol, atau membentuk banyak parpol berazaz Islam atau sebanyak mungkin bercokol dalam MPR/DPR tidak dapat dijadikan ukuran sukses mengislamkan Indonesia. Bukan jarang dengan berpolitik praktis kepentingan umat terabaikan, lalai karena nikmat dari jabatan. Kelak ujung-ujungnya bukan sibuk mengurus umat tetapi sibuk mengurus jabatan – termasuk mempertahankan. Maka penulis ulangi: mengislamkan Indonesia harus mulai dengan da’wah, perbaiki mutu umat – khususnya pemahaman agama – sehingga bukan mustahil tanpa resmipun mencantumkan syari’at Islam dalam konstitusi maupun hukum tertulis lain kaum Muslim menjadi Islamiy sehingga segala aspek hidup bercorak Islamiy pula. Ingat! Muhammad butuh waktu 22 tahun mewujudkan masyarakat Islamiy. Jangan harap kita manusia biasa mampu mewujudkan masyarakat Islamiy dalam sekejap bagai sulap. Maka tetaplah da’wah Islam di Indonesia adalah kerja yang tak kunjung mengenal rampung. Wallahu a’lam bish shawwab.

    Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Serbasejarah

Serbasejarah Community

RSS Koment tangkyu

Ter-apresiasi..

%d blogger menyukai ini: