BAB VII
THATH-HIR WA TACHLISH

Semasa masih anak-anak, Moehammad bin Abdillah bermain-main dengan sau-daranja sesoesoe ditengah-tengah padang pasir jang loeas, ikoet menggembala kam-bing. Maka datanglah malaikat pembawa amanat Allah, jang laloe membedah dada anak jang kelak akan mendjadi Nabi kekasih Allah itoe, setelah isi dadanja dibersihkan daripada berbagai kotoran kedoeniaan, maka diambilnjalah oleh Malaikat terseboet barang sesoeatoe dari seboeah bokor mas dan dimasoekkannja ke dalam dada Moeham-mad bin Abdoellah jakni: Iman, Islam, ilmoe dan Hilm (Hikmah). Peristiwa seroepa ini terdjadi poela semasa Rasoeloellah Clm. mengindjak alam dewasa dan tatkala Beliau hendak melakoekan Isra dan Mi’radj. Demikianlah sebagian daripada riwajat Rasoel-oellah Clm. mengenai hal ini.

Hikmah dan Adjaran

  1. Djangan segan-segan dan bosan-bosan kita membelah dada (erti: isti’arah= figuur-lijk), oentoek membersihkan dan mensoetjikan bathin, I’tiqad dan niat kita! Djangan poela segan-segan atau maloe-maloe mengakoei kesalahan jang memang kita perboeat. Sebab tanpa Thath-hir wa Tachlish, tiada dasar bersih dlahir dan soetji bathin, maka tidaklah dalam dada, djiwa, roeh dan ‘amal manoesia terdapat tempat bersemajam bagi Iman, Islam, ilmoe dan Hilm (Hikmah). Sehingga segala sesoeatoe jang di’amalkannja akan sia-sia belaka, ibarat deboe terbang ditioep angin, atau sampah tersapoe deboe terbang ditioep angin, atau sampah tersapoe hanjoet oleh air bah! Djadi Thath-hir wa Tachlis, bersih poetih, sepiring pamrih, ichlas, moechlis, chalisan, moechlisan dan lain-lain sifat seroepa itoe adalah dasar moetlak daripada tiap-tiap ‘amal perboeatan jang benar dan baik, sepandjang adjaran Islam.
  2. Iman kepada Allah adalah bekal dan sendi pertama daripada hidoep manoesia berbakti. Tapi Iman tidak akan sempoerna, djika tidak disertai dengan Islam. Ialah boekti-boekti kenjataan akan taslim manoesia kepada perintah Allah. Boekan hanja tinggal dibibir dan di hati sadja, melainkan diwoedjoedkan dalam ‘amal perboeatan jang njata. Selandjoetnja kesempoernaan Iman dan Islam diperoleh dengan memper-banjak, memperdalam dan memperloeas ‘ilmoe dalam segala segi dan lapangan. Ialah ‘ilmoe rasich jang mendjadi pangkal dan pengoeat ‘amal shaleh, boekan ‘ilmoe jang sesat dan menjesatkan, dan boekan ‘ilmoe jang mendjaoehkan diri dari rasa keagamaan dan ketoehanan. Dan achirnja Hilm (Hikmah) timboel daripada pengalaman, penjelidikan dan telaah atas sesoeatoe kedjadian atau peristiwa.

Tanpa ‘amal dan pengalaman, tidaklah akan dapat diperoleh Hikmah daripada sesoe-atoe. Tegasnja: hikmah, jang bisa memperdalam faham, mempertadjam pikiran, memperloeas pengetahoean, memperhaloes boedi-pekerti, mempersoetjikan achlak dan mempertinggi peradaban doenia.

Lebih djaoeh, ‘ilmoe dan Hikmah terkenal poela sebagai pangkal ‘ilmoe tasawwoef daan soember filsafatoel-adabijah, ialah filsafat hidoep dan pegangan atau pedoman hidoep manoesia, mengaroengi laoetan doenia hebat-dahsjat semasa hidoepnja. Oleh sebab itoe, peladjarilah tarich, millah dan soennah para Anbija serta para Rasoel, dan ambilah sebanjak-banjak Hikmah dari padanja!

————-

Bersambung ke halaman selanjutnya…