Hikmah dan Ajaran Daripada Perjalanan Suci Isra’ dan Mi’raj Rosululloh SAW

BAB VI
MA’NA ‘OEMOEM DAN MAFHOEM ATAS BEBERAPA ISTILAH

Sebeloem berandjak kepada persoalan sekitar I’tibar Ma’ani dan Madjazi, jang akan mendjadi pangkal oeraian dalam karangan ini, maka terlebih doeloe dengan sepintas lintas akan kami oeraikan ma’na ‘oemoem Isra dan Mi’radj Rasoeloellah Clm. dan mafhoem atas beberapa istilah jang berkaitan dengan persoalan terseboet.

1. Isra

Adapoen jang dikatakan dan dimaksoedkan dengan kata-kata Isra disini adalah “Perdjalan Rasoeloellah Clm. pada malam 27 Radjab tahoen 12 N., dari Masdjidil Haram (Mekkah) ke Masdjidil Aqsha (Baital Maqdis), dengan melaloei antara lain: (1) Jatsrib, (2) G. Toersina, dan (3) Baital Lahm.”

Inilah ma’na choesoes dalam hoekoem sjar’i tentang Isra, dengan serba singkat, berdasrkan atas Firman Allah didalam Kitab-Nja, soerah Bani Isarail, ajat 1:

Soebhanalladzi asra bi-‘abdi-hi lailan min-al-masdjidil-harami ila-l-masdjidil-aqsha-lladzi barak-na haoelahoe li-noerijahoe min ajati-na, innahoe Hoe-wassami’oel bashir

Indonesianja koerang lebih:

“Maha Soetjilah (Allah) Dzat jang telah meng-Isra-kan (mendjalankan) hamba-Nja (Moehammad bin Abdillah, Rasoeloellah Clm.) pada (sebagian daripada) soeatoe malam (jakni: Tanggal 27 Radjab thn 12 N), dari Masdjidil Haram (Mekkah) ke Masdjidil Aqsha (baital Maqdis) jang kami berkahi sekelilingnja, agar soepaja Ia (Allah) berkenan memperlihatkan tanda-tanda-Nja (tanda-tanda Kekoeasaan Allah) bahwasannja Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat (Maha Mangetahoei).”

Selandjoetnja: Isra bererti “Berdjalan pada malam hari” boekan pada siang hari atau waktoe jang lainnja. Tetapi tidaklah tiap-tiap “perdjalanan pada malam hari” boleh dinamakan Isra, melainkan djika perdjalanan itoe dilakoekan “hanja karena kehendak dan kekoeasaan Allah mutlak,” dan bukan karena kehendak atau keinginan machloeq jang bersangkoetan. Kaki bergojang dan bergerak, madjoe dan berhenti, langsoeng karena digojangkan dan digerakan, dimadjoekan dan diperhentikan oleh kekoeasaan Allah. Djasad dan segenap pantja indera melakoekan atau meninggalkan soeatoe ‘amal, hanjalah karena toendoek takloek dan mengikoeti dengan patoehnja Kehendak dan Kekoeasaan Allah.

Demikian poelalah perdjalanan Roeh dengan alat-alat dan anggauta-anggautanja jang haloes (lathif), jang menjatakan Allah mata noeraninja akan ajat-ajat-Nja, tanda-tanda Kekoeasaan Allah jang indah, moelia dan loehoer itoe. Djadi boekanlah sekali-kali karena Roeh pandai melihat dan menjatakan (ma’rifat), melainkan karena Allah berkenan memboeka hidjab ma’ani, tabir ghaib dan tirai rahasia, bagi dia. Begitoelah selandjoetnja.

Hikmah dan Adjaran

Kita haroes pandai melakoekan atau meninggalkan segala ‘amal, dhahir dan bathin, kerena patoeh dan ta’at menoeroet kehendak dan bersandarkan diri moetlak kepada Kekoeasaan Allah belaka. Tegasnja: hanjalah karena ta’at kepada perintah Allah semata.

Segala ‘amal dilakoekan atau dihentikan, sesoeai dengan adjaran Kitaboellah, dan seteroesnja. Insja Allah, itoelah satoe-satoenja djalan jang benar, menoedjoe Mar-dlatillah dlahir dan bathin, choesoesi dan oemmi, di doenia dan diachirat. “Wahadza Shiratha Rabbika Moestaqima…” dan “Wallah jad’oe ila darissalam…”

2. Mi’radj

Ma’na Mi’radj dalam adjaran Islam adalah tangga (djalan, wasilah) jang dipakai oleh arwah para Anbija Allah, para Rasoeloellah dan para shalihin, memandjat tinggi, naik menghadap (moenadjat) kepada Allah. Djadi boekan tangga loeghawi, jang kita kenal di doenia ini.

Mengingat warna, sifat bentoek dan letak serta kesanggoepan tangga itoe, maka hanja arwah soetji jang terseboet diatas itoe sadjalah jang boleh mengindjak tangga itoe dengan izin dan Kehendak Allah djoea. Sedang arwah para hamba Allah jang diperkenankan menghadap dihadlirat-Nja boekanlah sekali-kali karena kemauan atau keinginan ‘amal atau pekerdjaan jang boleh dilakoekan oleh machloeq jang bersangkoetan, melainkan karena Panggilan Allah, dengan Kehendak dan izin-Nja.

Hikmah dan Adjaran

Terhadap kepada Allah, kita hanja mengenal satoe wadjib, ialah wadjib Tawakal, menjerahkan dengan choesjoe dan choedloe-nja, dengan iman sepenoehnja akan Dia, tiada sjak tjoeriga, dan menerima atas barang apa jang ditoeroenkan-Nja atas kita.

Sampai atau tidaknja maksoed dan toedjoean, berhasil dan tidaknja oesaha, dan tertjapai atau tidaknja tjita-tjita, boekanlah oeroesan kita, melainkan Hak Allah semata. Hanjalah kita jakin, bahwa ia akan berkenan menganoegerahkan segala rahmat koernia-Nja jang maha besar, djika kita menoeroetkan perintah-perintah-Nja, dengan tiada tawaran dan pilihan atasnja, karena djandji-Nja Kehendak-Nja dan Kekoeasaan-Nja belaka, itoelah wadjib jang dipertanggoeng-djawabkan atas kita!

3. Dalam adjaran ‘oelama soefi dan para ahli dalam filsafatoel-adabijah, maka diboe-atnjalah tjara-tjara oentoek memahami dan mengertikan ma’na, harga dan nilai Isra dan Mi’radj Rasoeloellah Clm., bagi para hamba Allah jang sengadja ingin tjoba-tjoba mamboeka tabir bathinijahnja, melepaskan ganggoean dan pengaroeh kotoran-kotoran (atsqal) doenia dan kedoeniaan daripada pribadinja. Maka para ‘Arifin billah itoe –demikian istilah jang kami pergoenakan, oentoek menoendjoekkan segolongan manoesia, jang memboekakan Allah hidjab baginja, membagi-bagi Alam ghaib dan Sjahadah, jang dilaloei dalam perdjalanan Soetji Isra dan Mi’radj Rasoel-oellah Clm. sebagai berikoet :

a). Alam Nasoet, adalah alam dalam perdjalanan soetji Isra antara Masdjidil Haram dan Masdjidil Aqsha.

b). Alam Djabaroet adalah alam jang dilaloei dalam Mi’radj Rasoeloellah Clm. moelai langit pertama hingga langit ketoedjoeh. Batas antara Alam Nasoet dan Alam Djabaroet dinamakan Sama’oed-doen-ja (Langit Doenia).

c). Alam Malakoet adalah alam berikoetnja, terhitoeng sedjak Baital Makmoer hingga Sidratoel Moentaha, ialah batas oedjoengnja ketiga ini. Para ‘Arifin billah menga-takan bahwa Sidratoel Moentaha adalah oedjoengnja segenap ‘ilmoe para mahloek dan kesoedahan daripada segenap pengetahoean. Kemoedian dari pada itoe, tiada pengetahoean dan pengertian bagi machloek jang manapoen djoega. Inilah erti i’tibar, sepandjang faham ma’ani daripada kaoem soefi dan para ahli filsafat.

d). Alam Lahoet adalah alam keempat dan jang penghabisan. Alam jang tidak berpangkal dan tidak beroedjoeng, tiada tjorak, sifat dan bentoek, serta tiada poela kiblat dan arah, dan seteroesnja. Walhasil, apa jang dimaksoed dengan Alam Lahoet adalah Alam tiada sesoeatoe melainkan Allah, atau dengan kata lain Alam “la-maudjoeda illa-Llah”.

e). Kepada apapoen manoesia memandang dan melihat, dan kearah manapoen manoesia menghadap dan mengkiblat, tiada lain jang dilihat dan diketemoekannja hanjalah Allah djoea! Tiada sesoeatoe di loear Dia!

f). Berita tentang hal ini banjaklah sampai pada kita. Kesimpoelan daripada berita-berita itoe ialah, bahwa alam ini –jang djoega terkenal dengan nama Moestawan– adalah soeatoe alam jang maha indah, maha agoeng, maha besar, maha tinggi dan “maha” dalam segala hal, di atas segala bandingan dan nisbat, jang boleh dipikirkan dan diketemoekan orang doenia di doenia fana ini. Mengenai hakikatnja perkara jang sebenarnja, kita hanja dapat mengatakan: Wallahoe a’lam. Hanja Allah poelalah Jang Maha Mengetahoei.

Dengan sedikit keterangan terseboet di atas, boekanlah sekali-kali maksoed kami, agar para pembatja mempertjajai atau mengikoeti tjaranja para ‘Arifin billah berpikir dan berboeat. Melainkan semoeanja itoe hanjalah sekedar oentoek memperloeas pengetahoean jang sempit, bagi memperdalam faham jang dangkal, dan goena menjempoer-nakan pengertian jang amat pitjik. Sekali lagi kami tegaskan di sini, bahwa sistem itoe hanjalah meroepakan satoe tjara atau metode oentoek memper-moedah pendjadjahan atas persoalan jang mendjadi pangkal oeraian dalam karangan ini. Boekanlah sekali-kali soeatoe “kenjataan jang pasti” (axioma) atau satoe “boekti jang njata” (realiteit dalam faham dan pengertian kedoeniaan), jang bila demikian halnja tentoelah menghendaki keterangan-keterangan jang djelas-tegas, dengan alasan-alasan jang sah, koeat, tjoekoep dan sempoerna, sepandjang adjaran dan hoekoem sjariat Islam. Hendaklah makloem!

4. Achirnja, dalam bagian ini inginlah kami kemoekakan, bahwa riwajat mengenai Isra diperoleh dan disandarkan atas Dalil Al-Qoer’an dan berita daripada berpoe-loeh-poeloeh Hadits Nabi, sedang perdjalanan Mi’radj diambilnja daripada beberapa Hadist belaka.

Walaupoen demikian, maka pembitjaraan dan oeraian di tanah-air kita mengenai kedoea hal itoe tidak pernah dipisah-pisahkankan dan dibeda-bedakan, tetapi senan-tiasa diseboeahkan di dalam satoe riwajat daripada satoe perdjalanan pada satoe malam jang tertentoe. Demikianlah tjara lazim jang dipergoenakan orang. Hendaklah para pembatja jang bidjak boediman memakloemi dan memafhoemkannja.

————-

Bersambung ke halaman selanjutnya…

Iklan

11 Comments Add yours

  1. MSF berkata:

    Artikel di atas ditulis oleh Mucthofa Habibullah yang disingkat namanya menjadi M.H. Disalin semula tertanggal 1 Maret 1955 atau sama dengan yang anda tuliskan 7 Rajab 1374 H. dalam salinan yang saya temukan ianya terdapat dalam PDB 3 yang ditulis dengan tidak menggunakan “oe” untuk “u”. dan buku ini ditujukan dan digunakan oleh Pejuang Suci, Pembina Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia; oleh karena itu uraian/bahasan materinya berbeda dengan Kisah Isro Mi’raj yang dikenal masyarakat. barangkali semacam buku Bhagawatgita untuk kelengkapan Bratayudha.
    wassalam

    1. Kopral Cepot berkata:

      Hatur terima kasih atas tambahan informasinya

  2. Noer berkata:

    Seperti buku-buku lama lainnya, khas kesasterannya kuat dgn penggunaan istilah yg berasal dari melayu dan arab. Dgn kutifan dan ejaan asli, perbedaan pemahaman bisa diminimalisir ya kang …

    ———–
    Kopral Cepot : Untuk membacanya juga kadang masih sulit…. sehingga saya kutip aslinya saja, supaya tdk salah.

  3. Heti Sumiati berkata:

    rajab bulan fitnah dan ujian….Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil adziim.

  4. penyuka sejarah berkata:

    mannntaaaafffff…..sy sangat bersyukur scara tidak sengaja bertemu dgn situs ini,walhamdulillah

    ————
    Kopral Cepot : Alhamdulillah………. hatur tangkyu moga berkenan 😉

    1. حَنِيفًا berkata:

      Idem sama diatas ini 😀
      Jujur neeeh… sampai detik ini, @Kang Kopral Cepot ref. sejarah yang paling lengkap dan komprehensif.

  5. Gogo berkata:

    Allahu akbar.. mantabs.

  6. danny berkata:

    memahami pemikiran diatas, yg menjelaskan kenyataan dengan pendekatan tarekat-sufistik perlu kehati2an, penulisnya luar biasa, sebuah anugerah,..anugerah bagi pejuang

  7. masih relevan artikel ini pada sa’at situasi dan kondisi maupun toleransi , pandangan ataupun jangkauanya yang amburadul seperti sekarang untuk pengetrapanya.

  8. renbayu berkata:

    gambar masjidnya salah Bang. hehehe, biar umat Islam tidak menganggap bahwa masjid itu Al Aqsa, mohon diganti 🙂
    Salam

  9. red ant berkata:

    Subhanalloh, Menggelorakan kembali semangat di Rajab ini. Jazakumullah

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s