BAB III
NILAI HIKMAH DAN ADJARAN SEPANDJANG I’TIBAR MA’ANI DAN MADJAZI

Sebagaimana telah kami njatakan di atas, maka doedoek perkara hakikinja atau kenjataan jang sebenarnja daripada apa jang dinamakan Isra dan Mi’radj itoe, tidaklah akan kami singgoeng-singgoeng dalam karangan ini. Demikian poela sekitar persoalan “apakah Perdjalanan terseboet dilakoekan dengan djasad dan roeh, ataukah dengan roeh sadja”, dan lain-lain persoalan seroepa itoe. Sebab pembitjaraan dan hoedjah jang berlaroet-laroet dalam lapangan ini, tidaklah akan memberi kata poetoes dan kepoeasan kepada semoea pihak, dan tidak poela akan memberi kepoetoesan dan pemetjahan jang pasti atasnja, serta djoega tidak akan menimboelkan goena dan faedah jang bermanfa’at daripadanja. Tjoekoeplah kiranja, djika persoalan sematjam itoe kami serahkan kepada ahli tasawwoef dan filsafat, jang memang memiliki keahlian dalam lapangan ini. Silahkan!

Adapoen jang hendak kami raba dalam karangan ini, dan tjoba-tjoba mendjeladjah dan memetjahkannja, ialah mengambil peladjaran dan pendidikan dan menarik hik-mah dan manfa’at daripada I’tibar-I’tibar Ma’ani dan Madjazi, mengenai Perdjalanan Soetji Isra dan Mi’radj Rasoeloellah Clm. Semoea itoe hendaklah mendjadi sebab tertanamnja ‘ilmoe rasich, jang meresap dalam djiwa dan hati sanoebari kita, dan ke-moedian lahirlah hendaknja ‘amal saleh daripadanja, ‘amal bakti soetji kehadlirat Ilahi belaka. Maka dalam oeraian ini kami akan membatasi diri dengan I’tibar-I’tibar atau ibarat-ibarat, jang bisa diperoleh dari penindjauan dan penglihatan Ma’ani dan Madjazi, soeatoe tjara jang tidak lazim dilakoekan oleh para pengarang.

Adapoen djika kami di sini sengadja tidak menjinggoeng-njinggoeng dan membitja-rakan persoalan hakiki, boekanlah sekali-kali karena kami sjak akan kebenarannja, melainkan karena kami tidak ingin mempersoelit persoalan, jang memang soedah tjoe-koep soelit-roemit itoe, dan tidak poela ingin menimboelkan bingoeng dan pertentangan faham dalam lingkoengan ‘oelama dan hoekama jang membatjanja.

Djadi, tjara mengoepas dan mengoeraikan, mendjeladjah dan menjimpoelkan, mengambil hikmah dan memetik adjaran daripadanja, demikian poela mengenai ba-han-bahan jang mendjadi pangkal oeraian, memang sengadja diboeat sedemikian roepa, sehingga bisa diharapkan hasil natidjah jang baik, bagi kepentingan dan keper-loean masjarakat ramai dalam lingkoengan Oemmat Islam sendiri. Agar dengan tjara demikian lebih-lebih mendalamlah kesadarannja, jakni: kesadaran beragama (Islam minded), kesadaran bernegara (Negara Islam Indonesia minded) dan kesadaran melakoekan dan melaksanakan segala toegas Ilahi.

Kesadaran (bewusthied) seroepa inilah jang hendaknja mendjadi milik tiap-tiap Moeslim, teroetama Moedjahid. Ialah soeatoe faktor penting, jang memperkoeat Iman dan Tauhid, menggelorakan semangat soetji, dan mendorong kepada ‘amal saleh jang sempoerna, sepandjang adjaran Islam jang soetji moerni.

Dengan kebangkitan djiwa (geestelijke herleving) daripada setiap pemeloek Agama Islam, teroetama kebangkitan djiwa para pemimpinnja (‘oemara dan ‘oelama), maka Oemmat Islam akan sadar, bahwa mereka haroes memiliki djiwa hidoep, djiwa dinamis. Boekan djiwa mati atau setengah mati, djiwa jang pinsan atau loempoeh.

Sementara itoe, karena Islam sendiri mempoenjai sifat hidoep, maka manoesia jang hidoep (roehani dan djiwanja) memeloek Agama jang hidoep (Islam), boekan agama jang bekoe, Insja Allah mendjadi Moeslim jang hidoep. Boekan moeslim karena adat, moeslim karena toeroenan, atau moeslim jang tidak sadar, tidak tahoe dan tidak mengenal isi agamanja, tahoe goela ta’ kenal manisnja, tahoe garam ta’ kenal asinnja. Begitoelah ibaratnja. Djadi kata-kata “hidoep” di sini boleh dima’nakan: hidoep roehnja, djiwanja, akal pikirannja, faham pengetahoeannja, djasadnja dan lain-lain sebagainja.

Djika demikian halnja, nistjajalah Islam akan mendjadi Agama jang moelia-loehoer dan tiada sesoeatoe agama lainnja jang mengatasinja. Atau dengan kata-kata lain “Islam uber Alles”, atau Islam di atas segala sesoeatoe.

Inilah beberapa sebabnja, maka kami sengadja mengambil beberapa tamsil atau I’tibar Ma’ani dan Madjazi dari Perdjalanan Soetji Isra dan Mi’radj Rasoeloellah Clm., satoe tindjaoean dengan tjermin ma’ani dan madjazi, oentoek memperoleh hikmah dan adjaran, berkat dan manfa’at dari padanja.

Oleh sebab itoe, djika nanti diketemoekan barang sesoeatoe jang tampaknja djanggal, karena tidak lazim dipakai, dikatakan atau dipergoenakan orang, hendaknja djangan lekas-lekas menerima atau menolaknja, menjetoedjoei atau menjangkalnja. Tetapi hendaklah pentelaahan atasnja dilakoekan dengan lebih teliti dan seksama, agar terhindar daripada keliroe dan salah sangka.

Adapoen djika ada seorang atau beberapa orang hamba Allah jang diboekakan hidjab baginja, karena izin dan keehendak Allah semata, maka anggaplah hal itoe sebagai tjoerahan koernia langsoeng daripadanja ‘Azza wa Djalla kepada setiap hamba-kekasih-Nja jang disoekai-Nja. Sih-koernia bathinijah seroepa itoelah jang senantiasa diharap-harapkan oleh hamba Allah jang sengadja melakoekan soeloek bathinijah, menempoeh djalan ma’ani, menoedjoe Ma’rifatoellah! Harap makloem dan mafhoem.

————-

Bersambung ke halaman selanjutnya…