Hikmah dan Ajaran Daripada Perjalanan Suci Isra’ dan Mi’raj Rosululloh SAW

BAB XVIII
HIKMAH DAN ADJARANDARIPADA KEWADJIBAN SHALAT

Kita tahoe, bahwa boeah, inti dan saripati dari perdjalan soetji Isra dan Mi’radj Rasoeloellah clm. ialah Amanat-amanat Allah, jang beroepa Shalat, jang sedjak masa itoe diwadjibkan atas oemmat jang menganoet Agama soetji pilihan Allah,Agama Islam.

Dalam perdjalanan itoe, berkali-kali Rasoeloellah clm. toeroen naik, dari Moes-tawan ke langit tempat bersemajam Nabijoellah Moesa ‘a.s., dan pada tiap-tiap kalinja Nabi Moehammad clm. bertjakap-tjakap sedjenak dengan jang terseboet belakangan ini. Maka shalat jang sedianja melipoeti 50 waktoe shalat selama sehari semalam itoe, achir kemoediannja hanja ditetapkan 5 (lima) waktoe.

Kiranja isi pertjakapan itoe tidak perloe ditoeliskan di sini, karena kami anggap bahwa para pembatja tentoelah soedah makloem dan mafhoem. Semendjak tahoen itoe, maka shalat 5 waktoe itoe ditetapkan mendjadi Wadjib Sjar’i, Fardloe ‘ain-lah hoekoem-nja Roekoen Islam kedoea ini, salah satoe sendi Islam jang terpenting, jang wadjib dilakoekan oleh tiap-tiap Moeslim jang telah akil baligh (tjoekoep oemoer), sehat otaknja (tidak gila) dan memenoehi beberapa sjarat lainnja.

Hikmah dan Adjaran

Lebih dahoeloe baiklah diketengahkan, bahwa boekanlah sekali-kali maksoed kami dalam karangan ini hendak mendjadikan koepasan-koepasan jang djelas loeas ditindjau dari segala soedoet dan segi, sekitar shalat dan kewadjiban atasnja. Melainkan hanjalah mengambil beberapa hikmah dan adjaran daripadanja, sekedar jang boleh mendjadi sebab lebih sempoernanja ‘amal kita ke depan, ‘amal bakti moetlak kepada Allah S.w.T., di loear kewadjiban melakoekan shalat, karena oentoek mengoeraikan dengan sedjelas-djelasnja hal jang sepenting itoe, nistjajalah menghendaki kitab tersendiri jang sengadja diboeat oentoek keperloean terseboet. Bolehlah kiranja toegas wadjib soetji ini kami serahkan kepada para ‘oelama, foeqaha dan hoekama, jang memang memiliki keahlian di dalamnja. Silahkan!

1. Selain Shalat, masih banjak lagi wadjib lainnja dalam adjaran Islam jang hoe-koemnja djoega Fardloe ‘ain, atau soeatoe wadjib moetlak atas diri tiap-tiap Moeslim tanpa ketjoeali. Wadjib jang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa dan manapoen djoega! Wadjib jang haroes didjalankan, walaupoen banjak tantang-an, halangan, rintangan, fitnah, tjoba, goda dan lain-lain alang perintang dalam melaksanakannja. Wadjib jang haroes didjalankan, dengan tidak mengingat akan setoedjoe atau penolakan manoesia di loear dirinja! Tegasnja : Wadjib jang haroes dan wadjib dilaksanakan, hanja karena perintah Allah belaka, boekan karena perintah goeroe atau kehendak orang toea, boekan poela karena seroean sanak keloearga atau karena adjakan handai taulan, dan siapapoen djoega. Tiap-tiap sehari semalam 5 kali tiap moeslim melakoekan wadjib moetlak seroepa itoe, djadi koerang lebih tiap 3 sampai 4 djam sekali dalam masa sehari semalam, djika dipotong de-ngan waktoe tidoer atau istirahat lainnja. Tiada hari atau malam jang lowong dari melakoekan fardloe ‘ain itoe. Semoeanja itoe dilakoekan dalam djangka waktoe tertentoe, serta menoeroetkan atoeran-atoeran dan tata tertib tertentoe sepandjang Hoekoem Sjara Islam.

Atsar daripada pertanggoengdjawaban atas berlakoenja wadjib jang siang dan ma-lam selaloe dikerdjakan dengan tertib dan teliti, serta menoedjoe satoe arah jang pasti itoe, lambat laoen melahirkan hikmat dan adjaran jang bergoena dan berfaedah dalam melakoekan Wadjib Bakti jang lainnja, baik fardloe kifajah mengenai diri pribadi seseorang terhadap kepada Allah langsoeng maoepoen mengenai masja-rakat, negara dan alam semesta di loearnja. Satoe doea hal baiklah kita tjatat di bawah ini:

A. Shalat menimboelkan rasa kesadaran beragama, kesadaran melakoekan wadjib soetji, toegas Ilahi. Kesadaran seroepa ini amat perloe dalam tiap-tiap djiwa Moeslim; jakni : kesadaran melakoekan wadjib soetji, karena perintah Allah semata dan tidak karena sesoeatoe di loearnja.

Lambat laoen dan lama kelamaan, maka pendidikan bathin dan asoehan roehani sematjam itoe jang dilakoekan hampir teroes meneroes, akan memoepoek dan memperkembangkan sifat dan tabi’at jang melekat pada djiwa dan roeh; tahoe akan wadjib serta sanggoep dan mampoe melakoekannja. Meskipoen moela-moela disertai dengan rasa segan, rasa teropaksa, rasa maloe, ajal, dan lain sebagainja, ialah sifat-sifat kelemahan diri. Djika didikan dan asoehan ini dilaksanakan teroes meneroes, maka orang akan memperoleh kejakinan jang makin bertambah-tambah koeat, akan manfa’at dan perloenja melaksanakan wadjib, tahoe harganja melakoekan wadjib, tahoe roeginja meninggalkan wadjib.
Kemoedian timboelah keinginan, oentoek selaloe tinggal atau doedoek di dalam wadjib. Tidak hanja dalam melakoekan bakti moetlak kepada Allah, tetapi djoega dalam tiap-tiap tingkah lakoe dan gerak-gerik, inginlah ia tetap dalam wadjib, tetap dalam melakoekan perintah Allah, tetap dalam Bakti kepada Allah. Sehingga hidoep dan matinja, djiwa dan raganja, serta segala sesoeatoe jang ada padanja senantiasa disadjikan oentoek dipergoenakan dan dikorbankan lagi mentjoekoepi wadjib, memenoehi seroean dan poanggilan Ilahi.

Rasa Wadjib jang menoemboehkan kesediaan dan kesanggoepam berkorban seroepa inilah, jang seharoesnja mendjadi hiasan djiwa setiap moeslim, teroetama wataknja (karakter) setiap Moedjahid! Alangkah besar dan tingginja nilai harga dari seorang hamba Allah jang soenggoeh-soenggoeh karena kesadaran djiwanja dan persaksian kenjataan roehnja, tahoe, sanggoep, pandai dan koeasa melakoekan wadjib, baik fardloe ‘ain maoepoen fardloe kifajah!

B. Selandjoetnja kesadaran dan rasa wadjib itoe akan menoemboehkan rasa tanggoeng djawab (verantwcordelijkheidsgevoel) jang makin hari makin bertambah besar. Berkat latihan dan perboeatan-perboeatan jang selaloe dila-koekan pada setiap sa’at jang ditentoekan dan menoeroet tjara-tjara dan atoeran tertentoe (planmatig dan systematis). Tanggoeng djawab disini dengan serba singkat boleh diertikan:

  1. Tanggoeng djawab kepada Allah, dengan mengingati pembalasan dan antjaman siksa (wa’ad dan wa’id Allah), baik semasa hidoepnja di doenia maoepoen setelah poelang kembali ke alam dibalik koeboer. Rasa tang-goeng djawab jang bersendikan dan toemboeh dari hati jang ichlas dan sikap djoedjoer serta setia hati. Tidak karena sesoeatoe, melainkan hanja karena Allah belaka!
  2. Tanggoeng djawab kepada Doenia. Jang dimaksoed dengan “Doenia” di sini ialah Alam semesta, atau alam moemkin, titah Allah segenapnja, baik jang ghaib maoepoen jang sjahadah (tampak), moelai diri pribadi hingga masjarakat doenia dan seteroesnja.

Rasa tanggoeng djawab seroepa inilah jang perloe dimiliki dan dipoepoek, dipelihara dan diperkembangkan dalam djiwa dan hati-hati tiap-tiap Moeslim, teroetama Moedjahid!

C. Karena Shalat dilakoekan pada waktoe-waktoe tertentoe, menoeroet tjara dan tata tertib tertentoe poela, djika dilakoekan dengan seksama sepandjang adjaran Nabi Penoetoep clm., maka daripadanja bolehlah diharapkan toemboeh beberapa sifat jang baik-baik, jang menoentoen kepada kesempoernaan ‘amal. Diantaranja ialah:

1). Tahoe akan harganja waktoe dan pandai poela mempergoenakannja.
Sifat ini akan menginsjafkan orang, oentoek soeka mempergoenakan waktoenja dengan sebaik-baiknja, teroetama bagi melakoekan dharma baktinja kepada ‘Azza wa Djalla. Tiada waktoe terloeang, melainkan tiap-tiap sa’at diisinja dengan bakti, tiap-tiap hemboesan nafasnja dan tiap-tiap tetes darahnja akan dipergoenakan bagi memoeliakan Agama, menegakan kalimatillah, sehingga tiadalah kesempatan dan djalan oentoek iblis melakoekan tipoe dajanja, dan tertoetoeplah pintoe bagi sjetan melantjarkan ganggoean dan tjobaannja. Sembojan dari dan pepatah djahil “waktoe adalah oeang” haroes diganti dengan “Waktoe adalah Bakti”. Oleh sebeb itoe: isilah tiap-tiap sa’at sepandjang oemoermoe dengan bakti soetji. Djanganlah sia-siakan waktoe, walaupoen sedikit sekalipoen. Sekali lampau, tiadalah ia kembali! Sadarilah soenggoeh-soenggoeh akan harganja waktoe!

2). Tertib, hati-hati, teliti dan seksama dalam tiap-tiap perboeatan. Sifat dan tjara jang demikian ini amat diperloekan dalam penjelenggaraan ber-lakoenja tiap-tiap Hoekoem Allah, dan pelaksanaan tiap-tiap wadjib soetji jang manapoen djoega.

Inilah sa’at Taqwa jang haroes dan perloe mendjadi hiasan djiwa setiap Moeslim sedjati! Maka dari sendirinja kita akan dapat menghoekoemi diri dan ‘amal sendiri (Ihtisaboen Nafs), serta memeriksa segala langkah kita setapak demi setapak (moeroqobah), sehingga terhindarlah kita dari perboeatan salah, keliroe dan sesat, serta tetap pada djalan jang dilimpahi Rahmat dan Ridlo Ilahi. Hanja takoet kepada Allah dan tidak pada sesoe-atoe di loearnja adalah dasar terkoeat dalam melakoekan wadjib.

2. Tiap-tiap orang hendak melakoekan Shalat selaloe menetapkan Niat, baik dioetjap-kan dengan lisan maoepoen tidak. Memang niat adalah pangkal tiap-tiap ‘amal. Tiada niat, tiada poela harga ‘amal itoe. Adjaran Hadits antara lain mengatakan, bahwa “sesoenggoehnja tiap-tiap ‘amal tergantoeng kepada niatnja” (innama a’maloe bin-niat).

Niat haroes boelat. Mitsalnja: kalau kita niat Shalat, maka terlebih dahoeloe boelat sempoernalah tergambar di dalam hati dan pikiran kita akan barang apa jang hendak kita kerdjakan, menoeroet rentjana tertentoe dengan segala sjarat dan roekoen didalamnja. Shalat dimoelai dengan Takbir dan disoedahi dengan Salam.

Djadi, niat memerloekan rentjana atau program ‘amal jang tertentoe, gambaran projek jang pasti dan toedjoean jang sempoerna, moelai pangkal hingga oedjoeng-nja, moelai awal hingga achirnja, moelai a hingga z, moelai alif hingga ja, seperti djika didalam Shalat, moelai Takbir hingga Salam.

Oleh sebab itoe, djika kita telah menetapkan niat boelat, boeatlah program ‘amal jang tertentoe dengan gambaran projek ‘amal jang djelas, dari pangkal sampai oedjoengnja. Bagi setiap pemimpin oemmat, teroetama bagi pemimpin-pemimpin Moedjahidin Penggalang Negara Koernia Allah, Negara Islam Indonesia, haroes memperhatikan apa jang ditoeliskan diatas! Agar soepaja segala tjita-tjitanja dja-ngan meroepakan chajal atau impian (utopia) belaka!. Segala sesoeatoe jang dikerdjakannja hendaklah disertai dengan kesadaran jang mendalam (doelbewust).

3. Kalau diatas kita mengambil hikmat dan adjaran dari Roekoen Shalat (dari Takbir hingga Salam), maka baiklah sekarang kita mengalihkan pandangan kita kepada Sjarat sahnja Shalat. Mitsalnja woedloe, mensoetjikan diri dari hadats besar atau ketjil dan lain-lain sebagainja. Setelah ‘oelama foeqoha mengadjarkan antara lain:

“Woedloe diloear niat hendak Shalat, tidaklah wadjib hoekoemnja, sedang woe-dloe jang dikerdjakan karena hendak menoenaikan Shalat, wadjiblah hoekoemnja. Kerena sjarat oentoek melakoekan wadjib, wadjib poelalah hoekoemnja”.

Djadi boleh diambil kesimpoelan daripadanja, bahwa djika menoedjoe kesoeatoe “maksoed dan melakoekan sesoeatoe toegas Ilahi, wadjib hoekoemnja,”maka” mengoesahakan sjarat oentoek melakoekan wadjib itoepoen wadjib poelalah hoe-koemnja”. Soeatoe tamsil dalam ‘amal bakti (diloear Shalat) kami berikoetkan di bawah ini.

A. Melakoekan perintah Allah wadjiblah hoekoemnja, melakoekan perintah Nabi, ialah sebagian daripada perintah Allah, wadjib poelalah hoekoemnja. Mela-koekan perintah Oelil Amri Islam demikian poela hoekoemnja. Djoega karena wadjib ini diperintahkan oleh Allah.

B. Apa gerangan jang diperintahkan oleh Allah (Nabi-Nja dan Oelil Amri Islam)? Tidak lain ialah: Djalankan Hoekoem-hoekoem Allah, hoekoem-hoekoem jang termaktoeb dalam Kitaboellah. Djadi berlakoenja hoekoem-hoekoem Allah, Hoekoem-hoekoem Islam wadjiblah hoekoemnja. Inilah wadjib pokok, dasar-nja segala tjita-tjita Islam, oedjoengnja maksoed dan toedjoean tiap-tiap hamba Allah, jang mengakoe moeslim, dan intisari daripada ideologi Islam.

C. Oentoek mentjapai maksoed dan toedjoean jang soetji dan tjita-tjita jang moerni, sepandjang perintah Ilahi itoe, jakni : berlakoenja Hoekoem-hoekoem Allah, Hoekoem-hoekoem Islam, maka diperloekan berdirinja soeatoe Kekoe-asaan Negara, jang sanggoep dan mampoe mendjamin berlakoenja Hoekoem-hoekoem Allah, Hoekoem-hoekoem Islam. Kekoeasaan Negara, jang dimak-soedkan ialah Kekoeasaan Islam, di dalam Negara Islam, ialah soeatoe negara jang semata-mata bersendikan kepada perintah-perintah Allah djoea, termaktoeb di dalamnja : Hadits-hadits shahih dan Oendang-oendang serta Peratoeran-peratoeran Negara jang dikeloearkan oleh Oelil Amri Islam, tegasnja: Imam Negara Islam. Bagi kita, letaknja Negara terseboet di Indonesia, jang karenanja dinamakan Negara Islam Indonesia. Selandjoetnja, Negara terseboet haroes mempoenjai Kedaulatan dan Kemerdekaan boelat sempoerna, dalam segala segi dan lapangan, keloear dan ke dalam. Sehingga kekoeasaan Negara terseboet adalah Kekoeasaan Islam jang penoeh lengkap, tidak tergan-toeng dan terpengaroeh oleh pihak jang manapoen djoega. Soal djawab di bawah ini kiranja dapat memberi gambaran jang lebih djelas dan lebih tegas atas soal-soal sekitar Kekoeasaan, Negara dan lain sebagainja, jang dimak-soedkan.

1). Pertanjaan I: Adakah kekoeasaan Negara jang boekan Kekoeasaan Islam sanggoep mendjamin berlakoenja hoekoem-hoekoem Allah, Hoekoem-hoekoem Islam di dalam Negaranja?

Djawabnja : Tidak! dan tidak moengkin!, melainkan Hoekoem-hoekoem Islam hanjalah dapat didjamin berlakoenja oleh Pemerintah dan Kekoe-asaan Islam. Lain daripada itoe, tidak!

2). Pertanjaan II: Adakah satoe kekoeasaan Islam, jang berdiri di dalam negara jang boekan Islam, seperti negara pantjasila, negara sosialis, negara komoenis atau lainnja?

Djawabnja : Tidak!, dan memang tidak moengkin. Melainkan Pemerintahan Islam atau Kekoeasaan Islam hanjalah ada di dalam Negara Islam! Tegas-nja: Negara Islam Indonesia!, bagi kita Oemmat Islam Bangsa Indonesia. Lain dan loear dari itoe, tidak!

3). Pertanjaan III: Adakah Pemerintah atau Kekoeasaan Islam dan Negara Islam jang tidak penoeh Kedaulatan dan Kemerdekaannja, dapat mendjamin, sanggoep dan mampoe melakoekan Hoekoem-hoekoem Allah, Hoekoem-hoekoem Islam di dalam Negaranja?

Djawabnja: Tidak!, Sekali-kali Tidak! Melainkan Hoekoem-hoekoem Allah selengkapnja, atau Hoekoem-hoekoem Islam seloeroehnja, hanja dapat didjamin berlakoenja di dalam Negara Islam dengan kekoeasaan Islam jang bebas merdeka 100% dan berdaulat boelat-lengkap sepenoeh-penoeh-nja. Lain dari itoe, dan loear dari itoe, tidak! Oleh sebab itoe, maka oesaha mentjapai Kekoeasaan Islam, ichtiar menggalang Negara Islam Indonesia, berdaulat dan merdeka 100% wadjiblah hoekoemnja!

D. Oentoek memperoleh Kekoeasaan, Kedaulatan dan Kemerdekaan Islam jang sedjati, maka perloelah dibangoenkan Kekoeatan. Karena tanpa kekoeatan, tidak moengkin tertjapainja Kekoeasaan. Adapoen jang dimaksoedkan dengan kekoeatan di sini ialah : segala kekoeatan, dlahir dan bathin, ideologis, politis, militer, psychologis, ekonomis dan lain-lain lagi; kekoeatan dalam segala lapangan dan segi, jang mendjadi sjarat dan roekoen oentoek mentjapai mak-soed terseboet di atas.

Oleh sebab itoe, maka mentjari kekoeatan oentoek menoenaikan wadjib soetji, dalam sifat dan bentoek jang manapoen djoega, sepandjang adjaran Islam, maka wadjib poelalah hoekoemnja.

E. Tidak moedah mengerahkan dan menggoenakan kekoeatan oentoek mentjapai toedjoean moelia seperti jang dimaksoedkan di atas. Djalan damai, oentoek mentjapai maksoed jang ditoedjoe, tertoetoep. Satoe-satoenja djalan jang masih terboeka hanjalah dengan tjara perang, bertempoer mati-matian menjamboeng njawa. Maka karenanja, segala kekoeatan jang diperoleh, haroes dialirkan, digoenakan dan dikerahkan oentoek keperloean perang!

Oleh sebab itoe, perang jang lagi dilaksanakan oleh Negara Islam Indonesia menghadapi negara pantjasila pada waktoe ini, wadjiblah hoekoemnja. Tegas-nja: perang membela kesoetjian Agama Islam; perang mendirikan Negara Islam; perang oentoek memperoleh kekoeasaan Islam; perang oentoek mela-koekan Hoekoem-hoekoem Allah, Hoekoem-hoekoem Islam, perang karena taat dan patoeh kepada perintah-perintah Allah! Atau dengan kata lain : perang soetji, perang Djihad fi Sabilillah! Li-I’lai Kalimatillah! Sebaliknja, oesaha mentjari dan melakoekan perdamaian dengan moesoeh pada waktoe ini Haram-lah hoekoemnja.

F. Dalam melakoekan perang, kita haroes beroesaha sekoeat tenaga mentjapai Kemenangan. Sebab kita jakin, bahwa tanpa kemenangan, ta’ moengkin segala jang terseboet di atas tertjapai; segala oesaha akan sia-sia; segala daja oepaja akan tjoema-tjoema; segala ‘amal tidak akan mentjapai maksoed dan toedjoean-nja.

Oleh sebab itoe, maka oesaha mentjari Kemenangan wadjiblah hoekoemnja. Oentoek mentjapai maksoed dan toedjoean jang moelia itoe, maka segala daja oepaja dan ichtiar, jang diwadjibkan atau diharoeskan, atau dibolehkan Allah dan Rasoel-Nja, wadjiblah kita tempoeh dan kita sempoernakan!

Demikianlah tamsil tentang hoekoemnja sesoeatoe jang tidak wadjib, sewak-toe-waktoe bisa beralih mendjadi wadjib, disebabkan karena sesoeatoe keadaan tertentoe (hoekoem perang, mitsalnja) oentoek soeatoe toedjoean tertentoe, dan dalam batas waktoe tertentoe. Sebab, mitsalnja Negara Islam Indonesia soedah mentjapai kedaulatan dan kemerdekaannja 100% dan Hoekoem-hoekoem Allah, Hoekoem-hoekoem Islam, soedah poela dapat berdjalan de-ngan sempoernanja, maka nistjajalah tidak lagi diperloekan berlakoenja Hoekoem Perang! Selandjoetnja, djika kelak tjita-tjita moelia telah tertjapai dan ideologi Islam telah terlaksana, padahal pada soeatoe sa’at ada segolongan atau sesoeatoe pihak jang hendak menghantjoerkan Agama Islam, atau hendak menoembangkan Pemerintah dan Kekoeasaan Islam, atau hendak memoes-nahkan Negara Islam Indonesia, maka keadaan segera mendadak beralih sifat dan hoekoemnja, berganti mendjadi keadaan perang, keadaan daroerat. Maka berlakoelah hoekoem-hoekoem perang. Itoelah soeatoe tamsil, bahwa sewak-toe-waktoe sesoeatoe hoekoem bisa beroebah djalan dan pelaksanaannja, dise-babkan karena sesoeatoe keadaan jang memaksa. Moedah-moedahan keterang-an singkat ini mendjadi tjermin bagi kita dalam melaksanakan toegas soetji, toegas Ilahi di masa depan, mendjadi pedoman dan pegangan oentoek memper-boelat segala ‘amal bakti kita, hingga Kebesaran dan Keadilan Allah dlahir di atas boemi Allah Indonesia! Amin.

4. Djalan Taqarroeb kepada Allah.

Adjaran lainnja, jang bisa kita peroleh dari Perdjalanan soetji Isra dan Mi’radj Rasoeloellah Clm., ialah Djalan Taqarroeb kepada Allah, djoega terkenal dengan Djalan Moenadjat atau Djalan Tawadjdjoeh. Tegasnja: djalan atau oesaha jang boleh membawa manoesia salik, hamba Allah jang bersangkoetan mendekatkan diri kepada Allah, menghampiri nikmat koernia-Nja, mendapatkan Rahmat dan Ridla-Nja, dan menikmati Rahmanijah dan Rahimijat-Nja (Maha Kasih Sajang-Nja). Maka langgenglah hendaknja ingat kepada Allah, atau Dzikroellah moedawwamah. Tetaplah ia berpegang koeat-koeat dan pertjaja sepenoehnja atas tolong dan koernia langsoeng dari Allah. Ialah sikap djiwa jang dinamakan Isti’anah. Dan koeat tegoeh sentausalah persaksiannja akan Kekoeasaan dan Kebesaran Allah, ialah sikap djiwa jang diseboet Moesjahadah.

Inilah sikap djiwa jang seharoesnja dimiliki oleh orang-orang jang termasoek golongan Arifin billah, orang-orang jang ma’rifat kepada Allah. Sedang ma’rifat-oellah di sini hendaknja diertikan:

A. Tahoe akan Allah, tahoe akan melakoekan wadjibnja kepada Allah, tahoe akan Allah dalam ma’na hakiki, karena koernia Allah langsoeng kepada hamba-kekasih-Nja; dan

B. Sadar sepenoehnja, bahwa segala perboeatannja dlahir dan bathin, tidak lepas dari Pengetahoean dan Persaksian Allah, jang melipoeti segala sesoeatoe.

Alangkah tinggi dan moelianja nilai harga dari pada nikmat koernia Allah sebesar itoe jang boleh dilimpahkan-Nja kepada sekalian hamba-kekasih-Nja! Semoga Ia berkenan mendjadikan kita sekalian, Moedjahidin seloeroehnja, orang-orang jang termasoek golongan Moeqarribin! Insja Allah, Amin.

5. Bila kita soeka mendjeladjah dan merenoengkannja lebih djaoeh dan lebih men-dalam, segala apa jang mengenai isi dan koelit dari hasil moengil dan boeah-isi dari Perdjalanan Soetji Isra Mi’radj itoe, teroetama mengenai hal Shalat, maka masih amat banjak sekali hikmah dan adjaran jang masih kita dapat darinja, di loear Shalat sendiri (an sich). Maka boekanlah niat dan hadjat kami dalam karangan ini oentoek mengindjak lapangan jang amat loeas itoe. Bagi para pembatja boedi-man, jang mempoenjai hasrat dan himmah dalam lapangan ini, maka oentoek semen-tara ini tjoekoeplah kiranja, djika dengan ini kami menjampaikan seroean soetji sebagai berikoet :

Djalankan shallat wadjib (dan atau shalat soennat) dengan mentjontohkan tauladan dari Rasoeloellah Clm., seperti jang didjalankan beliau pada masanja. Tepat, djangan dikoerangkan dan djangan poela dilebihkan dengan sengadja, insjaf dan sadar. Ertikan dan fahamkanlah segala isi dan maksoed oetjapan, seboetan, batjaan dan gerak gerik jang langsoeng atau tidak langsoeng bersangkoetan dengan itoe. Insja Allah, nistjajalah daripadanja tiap-tiap pelakoe (moeshali) akan dapat memperoleh hikmah dan adjaran jang amat besar dan berharga, bagi diri pribadinja maoepoen goena pelaksanaan dan penjempoernaan ‘amal bakti lainnja di loear shalat sendiri.

Di antara hikmah- hikmah dan adjaran-adjaran jang banjak itoe antara lain adalah sebagai berikoet :

A. Kenjataan Roeh, jang melepaskan kita dari segala matjam sjak dan ragoe dalam semoea lapangan, dan makin bertambah tebalnja kepertjajaan (Iman) kita kepada Allah, serta makin bertambah-tambah koeatnja kejakinan kita akan benarnja segala perintah Allah. Kenjataan roeh seroepa ini akan membang-kitkan Kesadaran Roehani, ialah satoe koernia Allah jang boleh dilimpahkan-Nja kepada para Aoelia-Nja (wali-wali Allah = Kekasih Allah), kepada para Shadiqin, Shalihin dan lain-lain hamba Allah jang setingkat dan sederadjat dengan itoe.

B. Djiwa Besar, ialah atsar dari Kebesaran Allah, satoe natidjah dari sifat, tindak, lakoe dan ‘amal jang mem-Besar-kan Allah. Djiwa besar tidak terpengaroeh oleh alam dan masjarakat; tidak tergojang karena pendirian dan aliran lain; tidak akan terpikat oleh lambaian iblis dan godaan sjetan; walhasil pengaroeh doenia tidak sedikitpoen meninggalkan bekas padanja; tidak akan dapat mengoebah sikap dan pendiriannja; tidak akan menghambat ‘amal perdjoe-angannja. Bahkan sebaliknja, seorang jang berdjiwa besar teroes sanggoep menghilangkan pengaroeh doenia dan lebih djaoeh haroes sanggoep dan pandai mengoeasai doenia dan alam semesta.

Periksalah: riwajat orang-orang besar di doenia, teroetama tarich para Anbija dan para Rasoel. Djiwa sedemikian itoe kiranja amat patoet sekali mendjadi miliknja setiap Pemimpin Oemmat Islam, teroetama Pemimpin Moedjahidin, Penggalang Negara Koernia Allah, Negara Islam Indonesia. Walaupoen hal ini mengenai diri seorang pribadi, namoen manfa’at dan maslahatnja, goena dan faedahnja, pengaroeh dan pantjaran sinar tjahajanja, akan melipoeti kepentingan ‘oemoem, kepentingan oemmat, negara dan Agama. Oleh sebab itoe, maka hal ini akan mendjadi imbangan berat dan faktor amat penting, dalam oesaha memperdjoeangkan nasibnja sesoeatoe bangsa, istimewa sekali dalam oesaha soetji Menegakkan Kalimatillah. Seorang jang berdjiwa besar tidak berboeat dan bertindak hanja mengikoeti djalannja riwajat manoesia sebagai “maf’oel” (objek), laksana sampah hanjoet dibawa air, melainkan ia berboeat dan bertindak memboeat sedjarah dan menentoekan djalannja riwajat manoesia sebagai “fa’il” (soebjek) atau pelakoe.

Hendaklah kenjataan ini diinsjafi dan diperhatikan dengan seksama oleh setiap pemimpin oemmat, teroetama Pemimpin Moedjahidin, jang mempoenjai pertanggoengdjawaban berat dan besar atas nasibnja oemmat dan bangsa serta Agama di masa mendatang! Periksalah lembaran-lembaran sedjarah doenia, teroetama tarich Agama dalam tiap-tiap masa.

C. Hati Sakinah, tenang dan tenteram, tahan dan oelet, dalam menghadapi segala sesoeatoe, di masa si pelakoe lagi melaksanakan toegasnja, mentjoe-koepi wadjib soetji. Tiada alam dan doenia jang boleh mempengaroehi! Tiada goda dan tjoba, jang haloes maoepoen jang kasar, jang boleh menghambat, memperlambat atau menghentikan oesaha soetjinja!
Tiada tipoe daja jang dapat membelokan langkah dan arah toedjoeannja! Laksana “batoe karang di tengah-tengah samoedera tedoeh” sebesar-besar badai dan angin taufan memoekoelnja pada setiap sa’at, seterik-terik panas matahari membakarnja, namoen batoe karang tetap tegak tegoeh dalam pendi-riannja semoela, mendjoelang ke angkasa, mengatasi segala matjam oedjian dan tjobaan doenia! Keadaan ini boleh kita bandingkan dengan isi pepatah : “Ta’ lapoek karena hoedjan, ta’ lekang karena panas”.

Inilah sikap Istiqamah dalam tiap-tiap lakoe dan ‘amal, ialah salah satoe nati-djah dari Hati Sakinah, tenang, tentram dan tabah.

D. Pikiran jang tadjam dan tjerdas, karena (di dalam shalat) selaloe terlatih menjeboeahkan pikiran dan mengkonsentrir (memoesatkan) segala oesaha dlahir dan bathin, dengan tidak meroebah sikap atau pendirian, dalam berdiri dan doedoek, dalam roekoe dan soedjoed, tidak menengok ke kanan atau ke kiri. Hanja satoe arah dan kiblat jang dihadapinja, hanja satoe maksoed jang ditoedjoenja, hanja satoe rentjana toegas dan wadjib jang lagi dilaksanakannja, hanja satoe ideologi jang selaloe diharap-harapkan tertjapainja!

Pikiran jang boelat sematjam ini soenggoeh amat besar harga nilainja bagi mereka, jang hanja naik mendaki tinggi, terbang memboemboeng ke atas, menoedjoe kepada ketjerdasan dan pengetahoean jang loeas dan sempoerna. Oleh sebab itoe, djanganlah Shalat dengan kesadaran diri sepenoehnja (zelfbewust dan doelbewust)! Djangan “sambil laloe” atau main-main! Dan djangan sekali-kali sambil “loepa kepada Allah”, ta’ sadar dan ta’ mengerti akan apa jang dioetjapkan dan dilakoekannja! Oesahakanlah hingga sem-poerna!

E. ‘Amal, kita akan lebih sempoerna dan oesaha kita akan lebih lantjar, ialah satoe tanda boekti akan bertambah-tambah koeatnja Iman dan makin tebal-bersihnja Tauhid. Maka segala ‘amal akan dilakoekan dengan sekoeat-koeat tenaga dlahir dan bathin, dan dengan apapoen jang ada padanja, hingga tiap-tiap hemboesan nafas dan tiap-tiap tetes darahnja hendaknja disertai dengan kesadaran melakoekan wadjib soetji. Walhasil segala sesoeatoe, di dalam dan di loear dirinja, disadjikan dan dipersembahkan sebagai bakti soetji kepada Dzat Wahidoel Qahhar. Inilah sifat Istitha’ah, jang wadjib dipoenjai oleh setiap Moeslim, teroetama Moedjahid, pelaksana toegas Ilahi.

F. Mentjegah Manoesia melakoekan perboeatan-perboeatan moengkar, salah, djahat, kedji, kedjam, boesoek, hina, rendah dan seteroesnja, sepandjang adjaran soetji.

G. Memelihara manoesia tetap pada djalan jang dilipoeti Rahmat dan Ridla Ilahi, sehingga tetaplah ia selama-lamanja dalam naoengan dan lindoengan Allah, dan senantiasa terhindar daripada djalan dan perboeatan jang sesat, salah dan keliroe.

H. Dan lain-lain hikmah dan adjaran jang setiap pembatja, jang soeka menta-fakkoeri segala perintah Allah serta alam sekalian sekelilingnja, akan dapat memperolehnja. Silahkan melakoekannja dengan tjermat dan seksama!

————

Bersambung ke halaman selanjutnya…

Iklan

10 Comments Add yours

  1. MSF berkata:

    Artikel di atas ditulis oleh Mucthofa Habibullah yang disingkat namanya menjadi M.H. Disalin semula tertanggal 1 Maret 1955 atau sama dengan yang anda tuliskan 7 Rajab 1374 H. dalam salinan yang saya temukan ianya terdapat dalam PDB 3 yang ditulis dengan tidak menggunakan “oe” untuk “u”. dan buku ini ditujukan dan digunakan oleh Pejuang Suci, Pembina Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia; oleh karena itu uraian/bahasan materinya berbeda dengan Kisah Isro Mi’raj yang dikenal masyarakat. barangkali semacam buku Bhagawatgita untuk kelengkapan Bratayudha.
    wassalam

    1. Kopral Cepot berkata:

      Hatur terima kasih atas tambahan informasinya

  2. Noer berkata:

    Seperti buku-buku lama lainnya, khas kesasterannya kuat dgn penggunaan istilah yg berasal dari melayu dan arab. Dgn kutifan dan ejaan asli, perbedaan pemahaman bisa diminimalisir ya kang …

    ———–
    Kopral Cepot : Untuk membacanya juga kadang masih sulit…. sehingga saya kutip aslinya saja, supaya tdk salah.

  3. Heti Sumiati berkata:

    rajab bulan fitnah dan ujian….Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil adziim.

  4. penyuka sejarah berkata:

    mannntaaaafffff…..sy sangat bersyukur scara tidak sengaja bertemu dgn situs ini,walhamdulillah

    ————
    Kopral Cepot : Alhamdulillah………. hatur tangkyu moga berkenan 😉

    1. حَنِيفًا berkata:

      Idem sama diatas ini 😀
      Jujur neeeh… sampai detik ini, @Kang Kopral Cepot ref. sejarah yang paling lengkap dan komprehensif.

  5. Gogo berkata:

    Allahu akbar.. mantabs.

  6. danny berkata:

    memahami pemikiran diatas, yg menjelaskan kenyataan dengan pendekatan tarekat-sufistik perlu kehati2an, penulisnya luar biasa, sebuah anugerah,..anugerah bagi pejuang

  7. masih relevan artikel ini pada sa’at situasi dan kondisi maupun toleransi , pandangan ataupun jangkauanya yang amburadul seperti sekarang untuk pengetrapanya.

  8. renbayu berkata:

    gambar masjidnya salah Bang. hehehe, biar umat Islam tidak menganggap bahwa masjid itu Al Aqsa, mohon diganti 🙂
    Salam

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s