Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara

IV

Dalam pernyataanya pada bulan Desember 1927, yang membatalkan persetujuan rahasia yang telah ditandatanganinya bersama Hatta setahun sebelumnya, Semaun menunjuk betapa pentingnya menjaga independensi organisasi partai komunis agar partai bisa menjalankan “peranan kepemimpinanya”.

Pengertian “partai pelopor” atau “Partai Garda Depan” dalam Partai Komunis, berasal dari peranan motor klas buruh dalam dinamika sosial, demikian dinyatakan dalam karya-karya Marxis, guna menunjukan posisi garda depan dari suatu partai politik yang mampu mengasimilasikan dan memproduksi peranan motor tersebut. Suatu pengertian global dalam kerangka sosiologis dan historis. Tapi dalam beberapa periode sejarahnya, PKI telah memahami persoalan tersebut sebagai pengertian mekanis dan memandangnya sebagai suatu bentuk fatalite politik yang telah menjadikan PKI sebagai komandan. Dalam arti militer, dari semua kekuatan politik lainnya.

PKI kemudian mencoba menempatkan diri dalam kedudukan sebagai komandan, ketika Sukarno pada tahun 1933 dalam “Mencapai Indonesia Merdeka” mengidentifikasi, bagi kepentingannya, suatu “Partai Pelopor” dan “Partai Panglima”. Tapi Sukarno tidak menjelaskan teori sosiologis partai sedikitpun. Ia hanya menyebutkan suatu teori strategis; rakyat harus memiliki suatu Partai Pelopor, sebagaimana tentara memerlukan seorang Jenderal, karena tanpa pemimpin tentara akan kalah sebelum berperang. Dan mengingat Partai sebagai wakil rakyat dan bangsa, sebagaimana ia menjadi wakil dari nilai-nilai kesatuan, maka ke semuanya itu hanya bisa dilakukan oleh satu Partai tunggal. Lalu tinggal di cari dalam kesatuan itu, bagaimana caranya menyatakan suara yang berbeda-beda, yakni bagaimana menjalankan suatu aparat yang demikian kompleks tanpa perlu mengurangi jumlah pemimpin dan suatu massa terpimpin. Serta bagaimana di dalam tubuh satu partai, gambaran suatu bangsa atau negara, perantara antara bangsa dan negara, terselenggaranya kedaulatan dari bawah yang ke luar dari gaya militer yang didominir oleh atasan.

PNI, prototype partai yang dikehendaki Sukarno didirikan pada tahun 1933, untuk mengisi kekosongan, akibat larangan de jure dan keruntuhan de facto PKI. Ada pula PARI yang dari luar negeri dan dalam klandestin ingin memainkan peranan serupa. Kegagalan PKI agaknya telah memberikan semangat bagi tumbuhnya partai-partai, dan dalam perkembangan tersebut, kata “kiri” kemudian dipakai secara lebih luas lagi, sebagai unsur klasifikasi yang menjadi suatu kebutuhan.

Kata “kiri” dalam perbendaharaan kata politik internasional, agaknya merupakan konsekuensi dari Revolusi Perancis; kata “kiri” seringkali digunakan dalam perempat abad XIX, dan “kiri” menunjuk pada ide-ide wakil rakyat yang duduk sisebelah kiri Ketua di ruang Parlemen Perancis. Kata “kiri” juga digunakan, pada masa yang sama, di Inggris, tanpa dihubungkan dengan letak duduk anggota parlemen di ruang sidang12)

“Kiri” di Prancis mula-mula didukung dengan tuntutan “kedaulatan bangsa” melawan “kedaulatan raja,” kedaulatan yang datang dari bawah dan bukan dri atas; ia mendukung demokrasi melawan otoriterisme, yakni majelis pilihan rakyat melawan anggota yang diangkat, ia memperjuangkan pemilihan umum melawan pemilihan censitaire (dimana yang memilih dan yang dipilih harus membayar pajak tertentu – penj.) dan menentang hak pilih yang hanya diberikan kepada orang-orang kaya.

Pada saat pengertian “kiri” mulai meluas di Eropa, munculah “sosialisme” dan “komunisme”. Lalu ketiga pengertian tersebut saling kait-mengkait. Di samping golongan kiri “liberal” terdapat kelompok “ekstrim kiri,” sosialis atau komunis. Namun ketiga-tiganya memiliki ide bersama yang berasal dari Revolusi Perancis. Konstitusi dan pengadaan lembaga-lembaga negara, kedaulatan rakyat harus dijamin, dan rakyat berhak untuk berontak terhadap pemerintahan despotis yang tidak mengakui kedaulatannya: “bila pemerintah melanggar hak-hak rakyat, maka pemberontakan adalah bagi rakyat dan merupakan bagian dari rakyat. Kedaulatan merupakan hak rakyat yang paling suci dan merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan”13)

Dasar utama dari doktrin sosialis adalah pemikiran bahwa, kedaulatan rakyat telah dilanggar apabila hubungan sosial mengakibatkan timbulnya inegalite (ketimpangan) dan terpecahnya masyarakat menjadi pemilik dan proletar, serta menempatkan kaum proletar di bawah dominasi pemilik;  sedang Revolusi Perancis 1789 yang memproklamirkan “kemerdekaan, persamaan, persaudaraan” tidak menghendaki digantinya dominasi aristokrasi menjadi dominasi para pemilik besar, golongan sosialis ingin membebaskan rakyat seluruhnya.

Perubahan yang tampil di Eropa pada awal abad XIX dan berbagai tuntutan yang ditimbulkannya, merupakan akibat gelombang besar gerakan revolusioner 1848, yang melanda seluruh Eropa, serta menimbulkan gerakan pembebasan nasional di beberapa negara. (Hongaria misalnya), gerakan republiken (di Perancis, Febuari 1848), pemberontakan kaum buruh (di Paris, Juni 1848). Tepat seratus tahun kemudian, gerakan revolusioner yang cukup kompleks dan berbeda-beda berkembang di Asia, gerakan-gerakan kemerdekaan nasional di negara-negara yang masih dijajah atau gerakan demokratis anti feodalisme atau anti kapitalisme di negeri-negeri yang sudah merdeka. Beberapa penulis mencoba meyakinkan bahwa berbagai revolusi di Asia tersebut “dipimpin” oleh komandan yang sama, Uni Soviet; tapi tak seorangpun yang menyebut “komandan” dari revolusi Eropa 1848.

Di Indonesia, sekitar tahun 1930, terdapat dua aliran besar dalam gerakan nasional. Di satu pihak di sekitar Sutomo (pendiri BU) di Surabaya dan M.H Thamrin di Jakarta, aliran yang menerima lembaga-lembaga yang didirikan Belanda, sambil mencoba menambah jumlah orang Indonesia di Lembaga tersebut dan mencoba mengarahkan sistem administratif dari dalam sistem itu sendiri. Di lain pihak, PNI dan Serekat Islam yang mengikuti Partai Kongres India, menolak segala kerjasama dengan pemerintahan kolonial; aliran inilah, yang terutama terdiri dari orang-orang laique—bukan dari kalangan agama—yang akan menyebut dirinya sebagai “gerakan nasional kiri.” Tentu saja, berbagai organisasi bawah tanah yang ilegal, termasuk dalam aliran ini.

Golongan kiri legal tidak hanya berbeda dalam sikapnya terhadap pemerintah; PNI—setelah bubarnya—dua partai yang saling mengaku sebagai pewarisnya, Partindo (Sukarno, Sartono, Amir Sjarifudin) dan Pendidikan Nasional Indonesia (Hatta, Sjahrir), mengembangkan program yang diilhami golongan sosialis; “Marhaen”, sebagai pengganti “buruh” dalam teks komunis, harus mampu mengatasi masalah hubungan klas/massa seperti yang dihadapi PKI, paling tidak dalam tingkat konsepnya; “marhaen” adalah nama yang diberikan kepada seluruh orang Indonesia yang tidak punya kekuatan, buruh atau bukan. “Marhaenisme” digunakan sebagai definisi dari “Sosialisme ala Indonesia.”

Mulai tahun 1935, golongan kiri legal tersebut dihadapkan kepada masalah yang akan merubah mereka. Pertama karena adanya ancaman yang makin besar terhadap legalitasnya; suatu tekanan yang tiada berhenti dalam segala bentuknya dilakukan jaksa penuntut umum dan birokrasi polisi yang kekuasaan penuhnya menjengkelkan semua pendatang asing, bahkan terhadap para partisan penuh sistem kolonial, seperti Profesor Prancis G.H Bousquet dari Universitas Aljazair14) Dan Partindo serta Pendidikan praktis tidak dapat bergerak sama sekali. Selain adanya ancaman dari dalam negeri, ekspansi imperialisme Jepang di Asia Timur dan model diktaktur militer yang diwakilinya juga dianggap sebagai ancaman dari luar negeri. Tanbahan lagi Sutomo dengan partai baru yang dipimpinya, Parindra, secara jelas mendukung Jepang dengan tendensi otoriter dan dominatornya. Melemahnya partai-partai kiri tersebut menyebabkan Parindra, partai kanan, menjadi kelompok utama adalam gerakan nasional.

Menghadapi tiga serangan golongan kanan dan ekstrim kanan, Jepang, Belanda, Indonesia, golongan kiri akhirnya merubah sama sekali taktiknya dan menanggalkan politik non-koperasi yang semula merupakan ciri mereka. Golongan kiri akhirnya bergabung dalam organisasi baru Gerindo, yang dibentuk bulan Mei 1937, dengan diilhami oleh “Front Populer”, aliansi golongan kiri yang sebelumnya mencapai kekuasaan di Spanyol dan Prancis. Berbeda dengan Front Populer, Gerindo bukanlah aliansi partai-partai independen, melainkan pengelompokan kembali anggota partai-partai kiri seperti Partindo, yang memutuskan bubar atau kelompok yang mewakili partai bawah tanah PKI dan PARI. Para pemimpin utamanya adalah Amir Sjarifudin dan A.K Gani.

Tujuan dari Gerindo adalah mempersatukan seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang asal daerahnya, guna menuntut demokratisasi lembaga-lembaga dan dibentuknya Dewan Perwakilan yang sesungguhnya dari pemerintahan Belanda. Dalam rangka tuntutan Demokratisasi tersebut Gerindo mengakui lembaga-lembaga kolonial. Tapi hal itu dituntut juga oleh Parindra. Yang membedakan Gerindo dari Parindra adalah, konsepsinya yang anti rasis dalam kebangsaan dan nasion: orang Indonesia manapun, dari rakyat Indonesia, yang memilih menjadi orang Indonesia, tindakan ini merupakan suatu keputusan politik, bukan hak dari kelahiran atau lamanya nenek-moyang tinggal di Indonesia. Perbedaan yang lain dengan Parindra adalah tekananya pada kerakyatan sebagai kedaulatan dan pada “hak-hak kaum susah.” Terakhir adalah tawarannya kepada seluruh kekuatan politik di Indonesia, termasuk Belanda, untuk membentuk Front Bersama menghadapi imperialisme Jepang. Fasis dan militeristis; yang terakhir ini tidak akan bisa dipahami secara baik, sebagaimana nampak pada lemahnya perlawanan ketika Jepang menduduki Indonesia.

Tapi di samping golongan “kiri legal” tersebut, adakah, dalam ilegalitas, kelanjutan dari PKI? Bila ia tidak ada di penjara atau di dalam kamp-kamp di Nusakambangan dan Irian, di Digul, di manakah golongan Komunis Indonesia? Masih adakah mereka? Masihkah mereka melakukan sesuatu? Polisi politik Belanda secara periodik berhasil membongkar jaringan PKI, tapi ini tidak berarti bahwa jaringan-jaringan itu betul-betul ada. Sebuah dokumen PKI menyatakan:

“Sesudah kejadian pemberontakan tahun 1926-1927 ini, kaum Komunis Indonesia boleh dikatakan putus sama sekali hubungannya yang teratur dengan luar negeri. Partai tidak mendpat didikan yang teratur mengenai pekerjaanya dan tidak mendapat teori tentang perjuangan revolusioner. Kedatangan kawan Musso secara illegal dari luar negri dalam tahun 1935 membantu kaum komunis Indonesia menyusun organisasi illegal dan menentukan politik partai dalam perjuangan melawan fasisme (…) Walaupun tidak lama sesudah kawan Musso kembali keluar negri diadakan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin dan pengikut-pengikut PKI. PKI masih terus bisa menjalankan aktivitetnya di bawah tanah hingga jatuhnya kekuasaan fasis Jepang”15)

Analisa tersebut agaknya menyimpulkan bahwa, pada saat Komunis Indonesia tidak dapat mempertahankan hubungannya dengan dunia luar, sebelum tahun 1935, dan sangat terpecah dalam menentukan sikapnya di masa datang: ini terlihat bahkan dalam tingkatan militan yang dideportasi ke Irian, yang terpecah menjadi berbagai kelompok yang bermusuhan. Beberapa diantaranya barangkali mencoba mengikuti PARI, saat partai tersebut mulai dikenal, secara gelap tentu saja, di dalam negeri; bagi mereka, agaknya, PARI tidak lain dari PKI itu sendiri. Yang lainnya masuk ke dalam PNI, yang telah menyatakan bahwa partai itu akan melanjutkan kerja yang telah dimulai PKI; bagi mereka, rintangan ideologis pada saat mereka masuk ke dalam partai non komunis, tidak terlalu besar dibanding halangan nyata dalam mengorganisasi PKI sebagai aparat klandestin; air akan menyeret lumpur yang dilaluinnya, air akan memenuhi jambangan yang ditemuinya. Bagaimanapun, antara PKI, PARI, PNI, berada pada landasan yang sama; para ahli teori boleh mengarahknnya pada “nasionalisme” atau “internasionalisme” atau “dwitunggal”, tapi landasan tersebut, yang menimbulkan pemberontakan pada berbagai lapisan rakyat melawan dominasi kolonial, menciptakan terutama suatu aspirasi yang berciri khas, yang diungkapkan serentak oleh seluruh partai rakyat Indonesia, oleh seluruh golongan kiri Indonesia, betapapun konflik teori memisahkannya.

Tapi untuk kelompok Komunis Indonesia di eropa, yang baru mengetahui bahwa PARI-nya Tan Malaka telah menyatakan independensinya dari Internationale Communiste, PARI tidak boleh di anggap sebagai PKI bentuk baru; jadi harus dicegah jangan sampai golongan Komunis Indonesia bergabung di sekitar Tan Malaka, dan untuk itu partai harus dibangun kembali sambil melakukan hubungan dengan Partai Komunis lain di seluruh dunia. Misi itulah yang pada tahun l935 dipercayakan kepada Musso, anggota pimpinan PKI yang berada di Eropa pada saat meletusnya peristiwa 1926-1927, dan yang menggantikan Semaun di Belanda; misi tersebut kemudian mendapat perlawanan dari para pendukung Tan Malaka, di luar negeri dan juga di Indonesia, yang menyatakan bahwa PKI sudah mati dan bahwa mereka adalah ahli warisnya.

Bagi Musso, PKI tetap ada dan PARI hanyalah merampas. Kejaksaan Belanda tidak ambil pusing terhadap perbedaan itu, baginya semua itu adalah “Komunis,” “ekstrimis yang berbahaya” dan ia membuang mereka ke Irian tanpa diadili, siapa saja yang berhasil ditangkap. Di antara mereka terdapat orang-orang yang menyusun sel-sel PKI yang dibentuk Musso di Surabaya awal tahun l936, di lingkungan sindikalis Djokosudjono. Dalam kamp tahanan di Irian, anggota-anggota PARI menjulukinya “PKI muda” atau “baru.” Ketika para tahanan itu dipindah ke Australia dan anggota-anggota PKI berkat bantuan kaum Komunis Australia, menerbitkan suatu buletin gelap, mereka menulis:

“Lawan selalu mencoba memecah pergerakan kita. Cara memecahnya dengan bermacam-macam jalan. Antara lain adalah sebutan PKI Lama dan PKI baru (…) Bagi kita kawan sefaham, PKI hanya satu. Kita hanya mengenal satu partai komunis yaitu PKI. Tidak ada lama tidak baru…”16)

Itulah tujuan Musso: menjamin kontinuitas PKI, mempertahankan namanya, kehidupan organisasinya, menjamin kedudukan PKI dalam sejarah Indonesia, dan membuat PKI sebagai pionir dalam sejarah Indonesia. Dengan cara yang sama Aidit tahun l950 mencoba menunjukan bahwa pemuda-pemuda Komunis memainkan peranan penting di Jakarta dalam periode Mei-September l945, tanpa perlu membuktikan dan menyatakan di mana-mana bahwa mereka itu adalah Komunis. 17)

Bila Musso pada tahun 1948, tiga tahun setelah 17 Agustus 1948, dan Aidit tahun 1950 (Musso telah terbunuh dalam peristiwa Madiun) mencoba menunjukan bahwa sejarah Komunis adalah sejarah yang gilang-gemilang, adalah karena PKI dalam tiga tahun pertama kemerdekaan itu hampir tidak pernah terang-terangan membiarkan golongan kiri mengidentifikasikan dirinya kepada Partai Sosialis, partai yang pendirinya adalah Amir Sjarifudin, dia lagi, sekeluarnya dari penjara dimana Jepang telah menjebloskannya ke sana sejak Febuari 1943.

Bagaimana mungkin Partai Sosialis dapat membangun supremasinya di tengah golongan kiri Indonesia, mengapa hal itu tidak pernah dipertanyakan oleh PKI? Banyak kemungkinan yang bisa dijelaskan, sambil menanti dibongkarnya arsip, bila masih ada. Yang paling mendekati adalah yang menganggap klandestinitas tidak akan memungkinkan PKI untuk bangkit kembali secara nyata dan perlahan-lahan, dan bahwa perpecahan setelah kegagalan 1926-1927 tidak bisa diatasi, atau telah diganti dengan yang lain, yang juga tak berdaya. Secara umum, militan Komunis lama dan baru, tahun 1945 tidak cukup merasa yakin bahwa tumbuhnya PKI yang berpengaruh dan dinamis telah dapat menyumbangkan kepentingan yang positif; bahkan, pikir mereka, kehadiran PKI justru hanya menimbulkan kesulitan dalam hubungan dengan sekutu Inggris-Australia, yang baru mendarat di Indonesia pada saat berdirinya partai-partai politik. Partai Sosialis, yang melanjutkan fungsi Gerindo dalam tugasnya membangun suatu Indonesia yang independen dan Demokratis, berhasil dalam beberapa waktu menggabungkan aliran besar yang berasal dari Gerindo dan bekas anggota pendidikan, yang memberikan kepada pemerintahan Sjahrir, dengan Amir sebagai menteri pertahanannya, suatu sarana yang berharga yakni mobilisasi rakyat.

Beberapa pengacara yang pernah menjadi anggota biro eksekutif Gerindo pada masa penyerbuan Jepang dan yang dididik dalam bidang hukum di sindikat, November 1945 mencoba, didorong oleh bekas peserta pemberontakan l926, memproklamirkan kelahiran baru PKI secara legal. Mereka terbentur pada hegemoni Partai Sosialis, pada aliansi Sjahrir-Amir Sjarifudin, yang berarti pada pemerintah, dan bulan Maret l946 harus menyerahkan pimpinan PKI mereka kepada bekas-bekas tahanan di kamp konsentrasi Irian, yang kembali dari Australia dan yang mau menerima hegemoni Partai Sosialis. Tetapi agaknya diperlukan suatu krisis gawat seperti jatuhnya kabinet Amir (yang menggantikan Sjahrir) untuk dapat mencuatkan kembali masalah peranan khas PKI dalam perkembangan strategi global golongan kiri.

Pada saat itulah, Agustus 1948, ketika Sjahrir dan bekas anggota pendidikan ke luar dari Partai Sosialis untuk membentuk Partai Sosialis Indonesia dan mendukung pemerintahan Hatta yang menggantikan Amir, Musso berhasil kembali dari Eropa untuk meyakinkan Partai Sosialis agar bergabung dengan PKI. Dengan maksud mengarahkan politik partai agar tidak lagi berdasar pada kompromi, tapi pada perjuangan melawan penyerbuan Belanda, guna menjamin kemerdekaan negara dan untuk memberikan dukungan kepada kaum buruh dan tani, khususnya untuk merealisasikan reformasi agraria.

Tumbangnya persatuan golongan kiri, sayap kiri, aliansi Hatta dan Sjahrir, yakni dari aliran Pendidikan Nasional Indonesia sebelum perang, dengan Masjumi, telah menimbulkan situasi yang sulit dikembalikan lagi. Pertentangan militer yang melahirkan peristiwa Madiun, bahkan telah membuat situasi tersebut tetap bertahan sampai lama. Bekas anggota PARI yang, setelah mendukung Hatta, bulan November 1948, menganggap PKI sudah hancur, lalu mendirikan Partai Murba yang meniupkan slogan: “Sayap kiri, Hara Kiri,” Golongan kiri, dari segala segi, nampak berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

Paradoknya adalah, ketika ada beberapa menteri dan beberapa pejabat tinggi Komunis dalam periode l962-l965, fase kedua dari Demokrasi Terpimpin, tapi bukan pada saat itulah PKI memiliki kekuatan besar dalam aksinya. Partai massa, untuk pertama kali dalam sejarahnya, partai yang dalam pemilu 1955 dan 1957 menunjukkan kenaikan yang terus menerus, tapi setelah diberlakukannya keadaan darurat perang (SOB) Maret 1957, berada dalam situasi seperti kelompok demonstran yang di kelilingi petugas keamanan. Kadangkala para petugas keamanan tersebut cukup mengamati tanpa turun tangan, kandang-kadang terjadi diskusi dan bisa juga terjadi insiden, para demonstran berang dan para petugas keamanan menembak.

Tanggal 8 Juli 1960, Harian Rakyat, surat kabar PKI, menulis suatu editorial panjang yang menilai hasil setahun Kabinet Kerja, yakni setahun Demokrasi Terpimpin. Suatu penilaian yang kritis. Koran itu disita, dilarang terbit beberapa minggu (penerbitan PKI lainnya tetap dilarang selama tiga tahun), para pemimpinnya ditangkap, PKI dilarang di beberapa propinsi (Tiga Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan). Periode di mana didiskusikan Undang-Undang tentang partai politik dan beberapa kalangan mendesak agar PKI dilarang karena mengancam dan kelak menyerang Masjumi dan PSI. Pada akhir tahun 1960, Sukarno datang ke sidang umum PBB dengan DN Aidit di sebelah kiri dan A.H Nasution di sebelah kananya. Khawatir bila Demokrasi Terpimpin menjadi suatu sistem pemerintahan yang terlalu bergantung kepada militer, Sukarno kemudian mengerem tindakan-tindakanya yang ditujukan untuk menekan PKI.Dan PKI tidak lagi mengeritik pemerintah.

Tenunan politik yang robek pada tahun 1948 tidak dapat ditenun kembali. Dwitunggal Sukarno-Hatta, jauh dari persekutuan yang saling melengkapi, saling kait berkait, sejak awal karir politik mereka, seringkali bertentangan; karena itulah agaknya mengapa Jepang mempersatukannya dalam periode 1945-1956, terlihat betapa peranan politik Hatta melampaui peranan Sukarno, khususnya dalam periode dimana Hatta menjabat Wakil Presiden dan Perdana Menteri, saat di mana terjadi peristiwa Madiun. Retaknya Dwitunggal, setelah pemilu, pengunduran diri Hatta, Desember l955, memberi pertanda tentang retaknya suatu sistem politik, dengan timbulnya pemberontakan yang melahirkan proklamasi PRRI, pemerintahan yang terdiri dari separuh sipil, separuh militer. Dengan diumumkannya SOB, Sukarno menggunakan angkatan bersenjata, yang tepecah akibat peristiwa PRRI, untuk menjahit kembali tenunan politik tersebut. Berbagai institusi baru yang disiapkan dan akan membentuk Demokrasi Terpimpin, diukir menurut model angkatan bersenjata. Pada saat yang sama angkatan bersenjata menjadi kutub atraksi dari seluruh kekuatan yang melihatnya sebagai perisai yang ampuh untuk melawan kekuatan PKI.

Nasution tampil seperti menggantikan Hatta dalam bentuk semacam dwitunggal Sukarno-Nasution. Tapi keseimbangan yang ditampilkan oleh gambaran triumvirat Sukarno-Nasution-Aidit, peran serta angakatan bersenjata dalam pemerintahan dan seluruh eselon aparatus negara disatu pihak, dan aliansi NASAKOM di lain pihak (tapi perjuangan antara komposan NASAKOM sendiri menggugurkan efek dari persekutuan tersebut), kemudian meletus pada tahun 1965. Namun Angkatan Bersenjata (Tapi Nasution tidak lagi menjadi panglima) tetap menjadi penguasa lapangan.

Catatan:

1) Ruth McVey, The Rise of Indonesian Communism, Ithaca, Cornel University Press, l966. hal. l92.

2) Ibid., hlm. 258.

3) Ibid., hlm. l87.

4) Ibid., hlm. l94.

5) Manifes Komunis India, Bab 8: Usaha untuk mencapai maksud kita.

6) M Hatta, Berpartisipasi Dalam Perjuangan Kemerdekaan nasional Indonesia, Idayu, Jakarta, 1980, h. l3.

7) Harry Poeze, Tan Malaka, lavensleop l897-l945. Den Haag, Nijhoff l980, h. l3.

8) Abdurachman Soerjomihardjo, Budi Utomo Cabang Betawi, Idayu, Jakarta, l983.

9) John Ingleson, “Bound hand and Foot: Railways Workers and l923 Strike In Java,” Indonesia, No 31, April, l98l.

10) Lihat karya Sartono Kartodirjo tentang pemberontakan l926 di Jawa Barat, “The Bantan Report,” dalam H.J Benda dan Ruth Mcvey (ed). The Communist Uprising of l926-l927 In Indonesia, Key Documents, Cornell Modern Indonesia Project, Ithaca, l960.

11) A.M Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta, l967, hlm. 32.

12) Jean Dubois, Le Vocabulaire Politique et Social en France l869-l872, Paris, Larousae, 1962.

13) Konstitusi Republik Prancis 24 Juni l793, “Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warganegara”, pasal 35.

14) G.H Bousquet, Le Politique …. (?) et Coloniale des Paya-Bas, CEPE, Paris, 1939.

15) “Lahirnya PKI Dan Perkembangannya”, Bintang Merah, No 7, 15 November 1950, hlm. l99.

16) “Sebutan Yang Berbahaya,” Red Front, Suara official PKI seksi luar negeri, No 3, Desember, l944.

17) Lihat tulisan saya, “Aidit dan Soal Partai Pada Tahun 1950,” Prisma, No 7, Juli 1982.

Tulisan lainnya dari Jacques Leclerc : Alternatif Nama Bagi Hindia Belanda.

Laman: 1 2 3 4

19 respons untuk ‘Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara

Add yours

  1. Saya suka dalam penyampaian gaya bahasanya Sob ! Sedikit agak berasa sambal. He…x9 Maaf baru hadir kembali.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  2. Bravo…
    Meresume tulisan yang panjang dan mensajikannya di meja hidangan blog SS (serbasejarah) merupakan “seni” tersendiri yang dimiliki Sang Kopral. Salut…
    Sepertinya sudah ‘perlu’ mengkaji Sejarah Partai, yang selama ini tidak dikategorikan sebagai partai. Padahal jelas ia merupakan bentuk partai juga. Yang dimaksudkan tentunya “partai militer”.
    Partai inilah yang sebenarnya mencorak dan mewarnai serta bertanggung jawab dalam perjalanan Indonesia. Dan pastinya orang-orang militer akan membantah disebut “orang partai”. Mereka biasa melabelkan diri “alat negara”. Partai yang baik pun tentunya alat-negara juga.
    Salam
    (hanya uneg-uneg yang lain dari judul tulisan: “Militer; Partai yang menentukan (berkuasa) di Indonesia”)

  3. dari paragraf : 1 (satu) , 2 (dua) , 3 (tiga) , 4 (empat) dan 5 (lima) saya
    teringat dengan ucapan alm dr Soebandrio SpB ( salah satu saksi – pelaku G 30 S PKI 1965 dan fungsionaris CC PKI – pejabat negara era orde lama ) sebelum terjadi peristiwa itu pernah mengatakan ” Bahwasanya Sang Jabang Bayi Akan lahir ” relevansinya dengan artikel ini by : jacques leclerc ada semacam benang merah yang saya perhatikan seakan suatu signal mungkin isyarat atau tanda-tanda dari doktrin yang berupa wujud ” komunisme secara konkret ” . betapa tidak suatu teory tanpa praktek berakibat fatal akan bertambah korban sia-sia dalam pengetrapanya (kasus-kasus emergency pertolongan pada kecelaka’an ) .tepatnya G30 S PKI merupakan pengetrapan teory itu tadi. kiranya ucapan almarhum tidak berkaitan sama sekali dengan artikel ini . SEMOGA (doktertoeloes malang).

  4. paradigma pemikiran yang masih tum[ang tindih dan inkonsistensi politik nyatanya sudah menjadi gambaran yang konkrret sejak negeri dirintis.Namun pembelajaran sejarah yang tidak pernah digunakan secra optimal telah mengarahkan peta geopolitik kit terjerumus dan tidak ada kata sepkat dalam memperjuangkan hak politik bangsa.Yang terjadi justru pengorbanan hak politik massa dangan mengedepankan kepentinghan politik penguasa yang tak kenal ambang batas salama bisa menguasai mengapa tidak ini sungguh mengferikan jika demikian berlanjut tunggu saja detik-detik kehancuran bangs yang runyam dengan sejuta masalah yang terus tumbuh bejibun saban hari.Peristiwa ini penting untuk pembelajaran para kelompok politik dalam melawan ketidak adilan ada musuh besar yng menanti di depan tapi justru elit politik di negeri ini sibuk dengan pertengkaran antar kalangan,jika demikian kapan negeri akan dibangun.Musuh di luar sudah menanti-nanti ambruknya negeri ini untuk segera disantap rame-rameJangan heran jika muncyul sparatisme karena memang menurut mereka negei ini tak ada untungnya untuk diperjuangkan hanya akan menyenangkan penguas yang korup

  5. aliran komunis ( komunisme ) era berkisar antara akhir tahun 1940 – an atau awal tahun 1950 – an , aliran – faham komunis ini mengisi celah – celah dan masuk ke berbagai belahan dunia . dan hampir seluruh tempat menerimanya malah ada yang tumbuh subur menjadi dasar – fondasi dari berdirinya suatu negara . misalnya : negara china yang sebelumnya nasionalis ( dr.Sun Yat Sen dan Chiang Kai Shek ) , sampai kawasan asia tenggara Laos , Kamboja dan terakhir Vietnam . paskah perang dunia II menjadi suatu aliran – faham yang solid menjadi lawan tangguh kapitalisme dilain sisi . tapi dibalik dari semua itu , ada kawasan dibelahan EROPAH TENGAH yang benar – benar menolak – antipati terhadap aliran – faham komunis , dimana masyarakatnya hidup makmur berkecukupan , tidak ada jurang – jurang kemiskinan tidak mengenal istilah ” kecemburuan sosial ” . ini adalah SEJARAH fakta konkret yang berbicara . ada orang mesir datang sebagai tamu ke Indonesia ini, beliau berkata ” negara ini ( Indonesia ) diibaratkan syorga / nirwana yang diturunkan ke buminya ALLAH ” . semua serba ada ( inipun juga fakta konkret ).tahun 1985 policy pemerintah seluruh Indonesia desa kota menikmati air bersih dan kesehatan secara merata ( ilmu kesehatan dan kedokteran oleh : dr.Admiral . jilid : 5/6 halaman : 6 ). tetapi kita sekarang hidup th.2012 masih juga mendengar ketimpangan itu ( ini juga fakta konkret ). PKI sebagai partai yang pernah menduduki tiga besar pemilu 1955 , menunjukan aliran – faham komunisme pernah tumbuh subur di negeri ini. dalam suatu kesempatan Bung Karno pernah mengatakan ” tidak ingin punya anak kalau tidak kekirian ( komunis ) ” akankah aliran komunis sebagai semangat an sich , terus ada apa dengan kita ini yang banyak manusia – manusia pinter -pinter keluar negeri sedang disini S.D.A nya menjanjikan , terus ada hikmah apa yang bisa dipetik dari eropah tengah sana. akankah kita tercenung dengan ungkapan HM Soeharto ( dalam suatu kesempatan ) aliran -faham komunis boleh dipelajari . pertanya’anya adalah sekedar dipelajarikah aliran komunis atau aliran komunis AN SICH . inilah yang menjadi pekerja’an rumah kita , hendaknya pemberian GUSTI ALLAH ini jangan sampai salah urus karena amanah , dari ENAM YANG PALING menurut Imam Ghazali salah satunya paling berat adalah melaksanakan AMANAH !!! ( mantan wartawan kampus : doktertoeloes malang ).

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang KC…

    membaca entri di atas, jujurnya amat memenatkan kerana sejarah panjang yang cukup lelah utnuk difahami…hehehe. maaf kang, selama ini bagi saya bacaannya tidak seberat ini. Sukar juga untuk difahami tentang ideologi komunis ini pada peringkat awalnya.

    Sungguh sejarah memberi peran besar kepada kemajuan manusia masa kini. walaupun begitu kewujudan PKI di dunia nusantara telah banyak mengubah nasib hidup manusia dan negara yang pernah ditaklukinya dan meninggalkan banyak kenangan pahit yang sukar dilupakan.

    Terima kasih kang, membuka mata tentang kisah silam walau hanya melalui perkongsian sebagai sumber sekunder. manusia selalu bersikap zalim jika hanya menurut nafsu dalam perjuangan hidupnya sehingga mengorbankan jiwa tanpa belas kasihan. Islam adalah ajaran yang mengharmonikan kehidupan manusia sejagat. Tapi kini ajarannya semakin berat dilaksanakan oleh ummahnya. Masya Allah.

    Senang dapat kembali bersilaturahmi kemari, lantaran sibuk yang menyita waktu untuk ke sana sini di dunia maya. hanya main di blog sendiri aja, kang. 😀

    Salam hormat dan ceria selalu di penghujung awal pekan dari Sarikei, Sarawak.

  7. PKI termasuk salah satu partai – organisasi tertua, bahkan lebih tua bila dibanding beberapa ormas islam indonesia lainnya semisal NU. Orang-orang yg menggerakannya juga adalah orang-orang hebat. Dalam sejarah kepartaian, PKI juga pernah menjadi partai besar dengan masa akar rumput yg jelas, petani. Dari sisi ideologi, partai ini punya haluan sangat kuat. Namun, kenapa kebesaran dan kejayaan ini bisa pupus ya?

  8. mao tse tung pernah mempunyai gagasan yang akan menghijaukan daratan siberia yang luas sekali , daratan ini berbatasan dengan negara rusia ( sekarang ) atau uni soviet ( tempo dulu ) sebelah utara dari negara china , pada dekade antara tahun 1960 s/d 1970 ( lima puluh tahun yang lalu ). tanaman berupa kacang – kacangan atau biji – bijian lebih dahulu direndam dalam larutan air sebelum disebarkan keseluruh daratan siberia yang sangat luas , tentu secara ilmu pengetahuan lebih mengacu theory evolusi-nya dari charles robert darwin yang salah satu theory evolusinya adalah manusia berasal dari kera itu ( sangat terkenal ungkapan ini ). hasilnya ialah daratan siberia tetap alias tidak membawa perubahan atau mao tse tung tidak menghasilkan apa -apa dalam pekerja’an ini. uang – tenaga dan waktu terbuang sia -sia dan semua tahu theory charles robert darwin terpatahkan oleh theory system phenotype maupun genotype-nya mendell ( ilmiah dan proporsionil keakuratanya ) . kenyata’an sekarang para ilmuwan menggunakan theory mendell ini dimana GUSTI ALLAH menciptakan dalam suatu cipta’anya bagian kecil dalam kehidupan ( yang tetap hidup ) bernama cell atau sel . system XY dan XX dari mendell phenomena yang tak terbantahkan ( lain dengan evolusinya charles robert darwin ). jelasnya sama rata sama rasa-nya aliran ini (aliran komunis ) membenarkan mutlak theory dari charles robert darwin . berkomentar tidak berarti men-judge mencari kekeliruan bahkan kambing – hitam . aliran komunis sudah menjadikan masa lalu ( hanya beberapa negara didunia yang berfaham ini ).materialistik , kebenda’an bertolak belakang dengan faham kapitalis liberalis disisi lainya ( sebebas – bebasnya ). intinya mencapai merebut mencaplok kedudukan , oleh karena itulah kebesaran dan kejaya’anya selalu pupus, manusia diciptakan dengan kekomplekanya jasmani maupun rohaninya. agama dikatakan racun ( perkata’an mao tse tung kepada dalai lama pertengahan tahun 1960-an ). pada kenyata’anya ( sa’at ini ) china , vietnam ( beraliran komunis ) mengetrapkan hukum qishos ( koruptor dieksekusi mati ) , pertanya’an yang muncul sekarang dalam benak kita ini adalah ” negara indonesia yang mayoritas ( 85 % ) muslim ini mengetrapkan hukum qishos kok masih tarik – ulur yaa , ada apa dengan kita – kita ini yaa ” mari kita kembali kepada 17 ( tujuh belas ) kalimat , sunnah rasululloh yang disampaikan kepada ali bin abi tholib . negara kita ini pasti akan mencapai kejaya’anya melebihi kejaya’an majapahit dan hayam wuruk – patih gajah madanya itu .
    ( mantan wartawan kampus : doktertoeloes malang ).

  9. HIDUP PKI!! HIDUP PKI!! PKI ADALAH PARTAI YANG SANGAT BERSIH DAN MEMIHAK RAKYAT!! MANA ADA PARTAI POLITIK YANG ADA DI INDONESIA YANG MATI DEMI RAKYAT KECUALI PKI?! PKI RELA MENJADI DEBU KARENA BERKORBAN UNTUK RAKYAT YANG DIZOLIMI MILITER KAPITALIS!! PKI AKAN BANGKIT KEMBALI DAN MENEGAKAN KEDAULATAN RAKYAT!! PKI INDONESIA BERBEDA DENGAN PKI SOVIET DIMANA DIKTATOR DITANGAN REZIM.. PKI INDONESIA ITU BERNAFASKAN SOEKARNOISME YAITU KOMUNIS MARHAENISME!! HIDUP PKI!! HIDUP BUNG KARNO!! HIDUP AIDIT!! MERDEKA!

  10. berapa banyak darah kyai.pemuda pesantren..rakyat bangsa indonesia yg d habisi dgn kejam oleh pki. cukuplah sejarah PKI madiun juga G30 SPKI.menjadi pelajaran buat kita bersama. BAHAYA LATEN KOMUNIS. Semoga film penumpasan G30SPKI bisa di putar kembali.dan terus diputar jadi tontonan wajib bagi rakyat indonesia.agar generasi penerus tahu bahayany laten komunis….

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: