Hari-hari terakhir ~Tah ieu teh Hudaibiyah ~

Pada tanggal 15 Mei 1962, Kartosoewirjo, mendapat laporan bahwa pasukan DI/TII yang tersebar di gunung Cakrabuana, gunung Guntur serta gunung Galunggung telah kocar-kacir. Tak hanya itu, juga mendengar kondisi fisik pasukannya kian lemah, kehabisan tenaga. Kondisi yang tak jauh beda dengan dirinya. Saat itu Sang Imam ini sedang sakit, Ia menderita penyakit gula serta kurang gizi. Sembari tergolek lemah, ia mendapat laporan dari ajudannya bahwa TNI yang sudah dekat dengan rombongan yang berjumlah 46 orang. Muhammad Darda, Komandan Markas serta Aceng Kurnia, ajudan Kartosuwirjo telah bertekad akan perang mati-matian kalau musuh datang.

“Kalau musuh datang, kita akan tembak. Menyerah berarti dosa. Kita harus siap yuqtal au yaglib (membunuh atau terbunuh)”, tegas Dodo Muhammad Darda. Mendengar ucapan anaknya itu, Kartosoewirjo diam sejenak. Setelah itu ia berkata ” Kondisi saat ini sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk Yuqtal au Yaglib“. Seorang pemimpin bisa memberi komando perang kalau ada tenaga, senjata serta keberanian tempur. kalau itu tidak ada, yuqtal au yaglib menjadi dzolim karena tak memenuhi syarat. “Dalam kondisi sekarang, kalau musuh datang biar Bapak yang menghadapi. Urusan-urusan lain biar Bapak yang selesaikan. Yang penting kalian taati kendati tidak ikhlas maupun tidak ridha”.

Pada 2 Juni 1962, terjadi lagi percakapan antara Aceng Kurnia, Dodo Muhammad Darda dengan Sang Imam. Aceng Kurnia yang menjadi Komandan regu pengawal Imam menceritakan pengalamannya yang mengusik pemikirannya, bahwa ia pernah merasakan seolah-olah berada dalam keadaan antara mimpi dan kenyataan. Dalam mimpinya itu, ia seperti sedang diperlihatkan kepada gambaran masa depan hidup berbaur dengan musuh. Mimpi serupa juga dialami oleh Dodo. Bahkan Dodo dalam mimpinya melihat seorang tentara DI/TII setingkat komandan regu sedang berjualan es dawet di tengah-tengah masyarakat, berjualan dari satu kampung ke kampung lain. Mengomentari kedua orang tersebut, Kartosoewirjo menegaskan bahwa itu tanda perubahan perjuangan dalam beberapa tahun ke depan. Ia juga kembali menegaskan sikapnya bahwa kondisi saat ini tak memenuhi syarat lagi untuk berperang. Dia juga menegaskan kepada keduanya, Lain kudu ridho, tapi narima kana rukun iman nu ka genep, bi syarrihi wa khoerihi (Tidak harus ridho, tetapi menerima terhadap rukun iman yang keenam, baik dalam keadaan baik maupun keadaan buruk).

Pada 4 Juni 1962, perjalanan rombongan Kartosoewirjo telah sampai di sebuah lembah antara gunung Sangkar dan gunung Geber, disekitar Bandung Selatan. Pagi itu hujan deras yang disertai angin kencang mengguyur daerah itu. Pasukan DI/TII pun memilih berteduh di tenda-tenda darurat. Tak disangka, terdengar suara tembakan dari bawah bukit. Pasukan yang berkekuatan tiga peleton itu telah mengepung rombongan Sang Imam. Aceng Kurnia segera melapor. Semua pengawal yang berada disekitar sang Imam bersiap-siap dengan senjatanya. Mereka bertekad akan perang sampai mati. Aceng Kurnia dan Dodo sudah berada dalam posisi siap tembak. Ketika pasukan TNI sudah semakin dekat ke tenda yang ditempati Kartosoewirjo, tiba-tiba Kartosoewirjo yang sedang dalam keadaan berbaring berkata :”Ulah nembak, ngagugu kahayang Muh (Dodo) wae mah atuh beak mujahid” (Jangan menembak, Kalau mengikuti keinginan Dodo, semua mujahid bakal habis). Mendengar perintah ini, Aceng Kurnia dan Dodo pun meletakan senjatanya. Mereka keluar sambil angkat tangan. Di luar mereka disambut oleh Letda Suhanda yang didampingi dua anggotanya, Amir dan Suhara. Letda Suhanda kemudian menyalami keduanya sambil bertanya. “Mana Pak Imam?” “Tah eta” (itu dia) kata Dodo sambil menunjukan tenda. Suhanda pun masuk kedalamnya. Kartosoewirjo tampak dalam keadaan payah dan berbaring di lantai gubuk itu dan mengenakan jaket militer dan sebuah sarung. Meskipun saat ditangkap dia berusia 55 tahun, tapi dia kelihatan seperti seorang lelaki tua yang lebih dari umurnya.

Setelah itu, tanpa banyak bicara, Suhanda memerintahkan anak buahnya membuat tandu. Aceng Kurnia dan Dodo kemudian membangunkan Kartosoewirjo dan memapahnya ke arah tandu. Saat itu, tiba-tiba Kartosoewirjo berbisik, “Tah ieu teh Hudaibiyah jang urang mah. (Inilah Hudaibiyah bagi kita)”. Perkataan itu diucapkan tiga kali masing-masing sambil menengok kepada Aceng Kurnia satu kali, Dodo sekali dan yang ketiga sebagai penegasan.

Dua hari setelah penangkapan, Kartosoewirjo memerintahkan Dodo Muhammad Darda untuk mengeluarkan seruan kepada pasukan TII yang ada di gunung agar turun dan meletakan senjata. Awalnya perintah itu tak dituruti oleh Dodo, karena ia merasa tak berwenang mengeluarkan perintah. Sebagai Komandan Markas ia tidak memiliki hubungan administrasi, kecuali dengan sesama anggota markas. Dodo merasa bahwa perintah Imam kali ini adalah sesuatu yang berat baginya, dan ia pun telah mempertimbangkan dampak pelaksanaan perintah tersebut. Akibatnya terjadilah perdebatan antara Dodo dengan Kartosoewirjo. Menurut Dodo, ia hanya bisa membuat seruan tersebut kepada Tahmid Rahmat Basuki (Komandan Kala), sedangkan kapada yang lain tidak bisa. “Kalau begitu”, kata Imam, “Perintah ditujukan kepada Tahmid dan berlaku untuk semua.” Akhirnya Dodo pun menyetujui bagi melaksanakan perintah ayahnya.

Kemudian, Dodo bersama-sama dengan Ibrahim Ajie, panglima KODAM Siliwangi menyusun seruan itu. Sempat terjadi perdebatan antara Dodo dengan Ibrahim Ajie. Ibrahim Ajie meminta kepada Dodo untuk memasukan kalimat yang mengatakan bahwa Jihad DI adalah keliru dan harus kembali ke jalan yang benar. Dodo menolaknya, dia bersikukuh hanya akan membuat seruan yang berisi perintah turun gunung. Ibrahim Ajie pun mengalah. Akhirnya dibuatlah seruan itu yang isinya, antara lain meminta Tahmid Basuki selaku Komandan Kala beserta seluruh rombongannya untuk menyerahkan diri. Disebutkan juga bahwa para pejuang NII diminta menghentikan tembak menembak dengan tentara TNI. Selain itu, disebutkan juga bahwa Kartosoewirjo bertanggungjawab atas semua tindakan pasukan NII.

Lengkapnya seruan tersebut berbunyi sebagai berikut :

  1. Saya Moh. Darda selaku Komandan Bantala Seta, atas nama dan atas perintah bapak S.M. Karosoewirjo, mengharapkan kepada saudara Tahmid Basuki selaku Komandan Kala beserta seluruh rombongan, agar turun bersama-sama mengikuti bapak (S.M. Kartosoewirjo) segera seterimanya seruan dan perintah ini.
  2. Semua tindakan saya dan tindakan saudara-saudara beserta seluruh Djami’atul Mudjahidin, dipertanggungjawabkan sepenuhnya lahir dan bathin dunia akherat oleh bapak S.M. Kartosoewirjo. Insya Allah Amin.
  3. Perlu diketahui bahwa S.M. Kartosoewirjo dalam kedudukannya selaku Imam – Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia sudah memerintahkan untuk menghentikan tembak-menembak antara Angkatan Perang NII dan TNI, dan bagi rombongan bersama sudah dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 1962 jam 11.35.
  4. Agar dimaklumi, bahwa S.M. Kartosoewirjo bersama saya, Aam (Aceng Kurnia, kepala pengawal pribadi S.M. Kartosoewirjo) serta anak-anak sudah selamat ada dilingkungan RI dengan mendapat perawatan baik dan menggembirakan, pada tanggal 4 Juni 1962 jam 12.00
  5. Semuanya itu berlaku bagi pak Widjaya dan semua Djami’atul Mudjahidin, Insya Allah Amin.
  6. Kami bersama bapak menanti kedatangan saudara-saudara

Seruan ini memicu berbagai reaksi. Ada sebahagian pasukan yang tersebar di gunung yang percaya kemudian menyerahkan diri. Misalkan yang dilakukan oleh Agus Abdullah pada 20 Juni meletakan senjata dan melaporkan diri ke pos TNI di Cipakur. Ada lagi yang tak percaya termasuk Tahmid Rahmat Basuki. Ketika ia mendengarkan seruan itu di radio, ia menafsirkan terbalik. Ia menganggap seruan itu bahasa sandi yang artinya dilarang turun gunung dan melanjutkan pertempuran. Karenanya, bersama pasukan ia berangkat ke gunung Ciremai dan berniat bergabung dengan pasukannya Agus Abdullah. Namun rencana itu tak kesampaian, dalam perjalanan ke gunung Ciremai itulah dia tertangkap.

Kartosoewirjo dirawat selama dua bulan. Agustus 1962 kondisinya mulai pulih. Pemeriksaan pun dimulai. Selain dirinya, 11 orang saksi ikut diperiksa. Pemeriksaan berjalan amat singkat. Pada bulan yang sama, Kartosoewirjo diajukan ke pengadilan Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang Untuk Jawa dan Madura alias Mahadper. Tiga kejahatan dituduhkan kepadanya. Pertama, makar untuk merobohkan negara Republik Indonesia. Kedua, pemberontakan terhadap kekuasaan yang sah. Ketiga, makar untuk membunuh Soekarno. Dalam sidang yang ketiga, pengadilan memutuskan Kartosoewirjo terbukti bersalah. Pengadilan menjatuhi hukuman mati.

Awal September 1962, Kartosoewirjo menyusun surat wasiat. Surat itu terdiri dari empat bagian. Dua bagian merupakan pesan untuk pengikutnya, dua lagi untuk keluarganya. Khusus pesan bagi para pengikutnya, ia menegaskan bahwa hingga detik terakhir ia tetap bertindak dan berbuat selaku Imam Panglima Tertinggi ANgkatan Perang Negara Islam Indonesia (APNII). Dia juga menegaskan kembali apa yang telah dilakukannya semuannya merujuk pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Dia juga yakin bahwa suatu waktu cita-cita Negara Islam bakal terlaksana walaupun lawan menentangnya.

Esok harinya 5 September 1962 Kartosoewirjo dibawa regu tembak ke sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Pukul 5.50 pagi tepat, regu tembak melakukan eksekusi mati. Jenazah Kartosoewirjo pun dikebumikan di pantai pulau tersebut.

Referensi :

  • NII Sampai JI Salafi Jihadisme Di Indonesia, Solahudin, Komunitas Bambu, Mei 2011
  • Siliwangi Dari Masa Ke Masa,  Sejarah Militer Kodam VI Siliwangi, Fakta Mahjuma, Juni 1968

Bacaan terkait :

35 Comments

  1. wuach jadi pengen bergadang nich…sambil nunggu cahaya pagi…

    —————–
    Kopral Cepot : wilujeng atuh … punten teu tiasa ngarencangan 😛

  2. Sae pisan paparanana pak Kopral.. Manfaat jadi langkung uninga sajaroh.. Diantos postingan salajengna…

    Nuhun

    —————-
    Kopral Cepot : Mugia 😉

  3. NII Sampai JI Salafi Jihadisme Di Indonesia, Solahudin, Komunitas Bambu, Mei 2011, solahudin tidak pernah izin mengutip tulisan kalangan internal “shuhul hudaibiyah” ….

    ————–
    Kopral Cepot : Knpa bisa begitu ?

  4. Ternyata sekarang “umat islam” ada pada tahapan hudaibiyah ya pak kopral ??
    Hmm… masih banyak sekali All abot Islam yang saya belum ketahui…. mudah2an saya dan kita semua ditunjukan ke jalan sirathalmustaqim ya, ‘amin..

    hatur thank u pak

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang KC…

    Subhanallah, membaca setiap rangkai kata berbau sejarah puluhan tahun itu membuat hati saya sayu, terharu dan hampir mengundang gerimis atas ketaatan pengikut kepada perintah imamnya. Saya menyetujui pendapat Bapak Kartosoewirjo bahawa membunuh atau terbunuh dalam kondisi tidak mempunyai kelengkapan perang yang memungkinkan kemenangan bukan jalan yang pintar dalam peperangan.

    Ternyata pilihan sebagaimana yang terjadi dalam Perjanjian Hudaibiah akan memberi kebaikan kepada semua pihak dan memenanginya secara tidak sadar. Selain itu penyerahan beliau dilihat berdasarkan kepada kekurangan prasarana dan pertimbangan-pertimbangan bijak yang sudah dikaji berdasarkan al-Quran seperti yang beliau nayatakan.

    Saya jadi lebih sayu saat beliau meminta pengikutnya untuk turun menyerah diri kepada pihak pemerintah dan menamatkan peperangan yang direncana lalu bertanggungjawab dunia dan akhirat ke atas apa yang telah berlaku dalam perjuangan tersebut. Satu tanggungjawab berat yang tidak semua orang mampu melakukannya jika tiada kekuatan cinta dalam dirinya untuk melihat kebajikan pengikutnya terjamin di masa depan.

    pasti sejarah yang didokumenkan ini bisa difahami dalam sudut pandang berbeza kerana kebanyakan kita selalu digembar gembur akan sejarah dari satu pihak sahaja. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari tanggungjawab seorang pemimpin yang berkalibar dalam kepimpinannya dan harus belajar dari sikap yang selalu mementingkan orang lain dari kepentingan diri sendiri.

    Semoga roh Bapak Kartosoewirjo dimuliakan Allah untuk kebenaran perjuangannya dalam meninggikan syiar Islam dan kenyataannya bahawa negara Indonesia yang dicita-citakan akan menjadi sebuah Negara Islam bakal terlaksana walaupun lawan menentangnya. Hanya masa yang bisa menentukannya, kita perhatikan nanti apakah sejarah itu akan berubah.

    Salam mesra Kang KC dan sejarah itu selalu membuat kita tertarik untuk mengkajinya.

  6. ” Ada lagi yang tak percaya termasuk Tahmid Rahmat Basuki. Ketika ia mendengarkan seruan itu di radio, ia menafsirkan terbalik. Ia menganggap seruan itu bahasa sandi yang artinya dilarang turun gunung dan melanjutkan pertempuran. Karenanya, bersama pasukan ia berangkat ke gunung Ciremai dan berniat bergabung dengan pasukannya Agus Abdullah. ”

    mang cepot,,, ada yang saya tanyakan dalam kutipan diatas,,,
    1. Apakah ini merupakan perbuatan dosa (salah) bila kita melakukan hal yang dilakukan ahmad basuki..?
    soalnya saya mungkin akan berpikiran sama,, alasannnya dalam keadan perang bisa saja Moh. Darda selaku Komandan Bantala Seta dipaksa oleh TNI, dalam melakukan jebakan ..
    2. Saya juga berpikiran bahwa klo Tahmid Ahmad Basuki melakukan kesalahan karena tidak mendengarkan Moh. Darda karena sebagai umat muslim kita wajib mendengarkan apa yang dikatakan pimpinannya ( Kami Dengar, dan Kami Taat).
    Mohon Petunjuknya mang Cepot..

    ——————–
    Kopral Cepot : …”walaah saya juga ngak tau urusan yg beginian mah …. kedah seu’eur belajar saja”

  7. “Ulah nembak, ngagugu kahayang Muh (Dodo) wae mah atuh beak mujahid”

    itu instruksi trakhir untuk genjatan senjata (hudaibiyah), orang2 yang tidak patuh dengan sendirinya akan tertangkap seperti pasukan Tahmid Rahmat Basuki, ataupun yang sampai saat ini memagang senjata, terlebih perjuangan dengan “teror bom” pasti tertangkap! karena tidak sabar dan sudah keluar dari jalur perjuangan..
    untuk orang2 yang sabar, tawakal, mencontoh kepada yang ma’ruf, mencegah kepada yang munkar dan tetap berjuang ini adalah step trakhir menuju kemenangan ISLAM…

    amin….

  8. …tiba-tiba Kartosoewirjo berbisik, “Tah ieu teh Hudaibiyah jang urang mah. (Inilah Hudaibiyah bagi kita)”…

    Untuk sekelas Aceng Kurnia dan Dodo Muhammad Darda atau kita sekalipun pasti hanya mampu berpikir sedetik saat terkepung. Ketika dikepung musuh berarti duel! Menyerah adalah kalah! Tidak bagi pemimpin sekaliber S.M. Kartosoewirjo. Menyerah itu hudaibiyah dan duel adalah lenyap (kehancuran). Duel adalah keputusasaan.

    Benar-benar teladan bagi cara berpikir yang menyeluruh. Tidak sepotong-sepotong. Bahkan di detik-detik terakhir S.M. Kartosoewirjo pun berujar, “Dalam kondisi sekarang, kalau musuh datang biar Bapak yang menghadapi. Urusan-urusan lain biar Bapak yang selesaikan. Yang penting kalian taati kendati tidak ikhlas maupun tidak ridha”.

    Beruntung bangsa Indonesia memiliki S.M. Kartosoewirjo, salah satu putra terbaik yang sangat mencintai Tanah Air tumpah darahnya. Indonesia yang merdeka.

    Mengutip pernyataan Kopral Cepot: “…. kedah seu’eur belajar saja.” Sepertinya saya harus belajar banyak dari sejarah nih Kop.. Hatur Tengkyu.
    Salam Revolusi Cerdas dengan semangat Jas Merah!

    ———————–
    Kopral Cepot : “Begitulah Om Mayor … sejarah itu enak di baca, enak di dengar, tapi belum tentu enak dikerjakan. Antara Penonton dan Pelaku punya rasa yang beda !! …….. banyak belajar juga untuk melatih rasa !! “

  9. Ulasan yang menarik. Sy mendpat sesuatu yang baru tentang DI/TII. Selama ini yg saya tahu perjuangannya menyimpang, dari sini sy mendapati tak seperti itu. Oh ya kang, Hudaibiyah itu apa ya? maaf 🙂

    ————————
    Kopral Cepot : Oooh Hudaibiyah .. Sebenarnya “Hudaibiyah” itu sebuah peristiwa yang terjadi di zaman Rosululloh SAW yaitu sebuah perundingan yang terjadi antara pihak Quraisy Mekah dengan Rosululloh yang terjadi di sebuah lembah bernama Hudaibiyah. Sedikit ulasannya ada di wikipedia ini. Lalu apa hubungannya dengan pernyataan Pak SMK bahwa ini “Hudaibiyah”, maksudnya apa yang terjadi saat itu yaitu peristiwa penangkapan beliau menurutnya itu senisbat dengan Hudaibiyah di zaman Rosululloh, bahwa perjuangan dengan senjata telah berakhir selanjutnya perjuangan dilanjutkan tanpa senjata. Begitu kira-kira.

    1. Hudaibiyah dan shulhul-hudaibiyah itu adalah dua yang berbeda.
      Hudaibiyah menunjukan tempat; Hudaibiyah-Indonesia, seperti Makkah-Indonesia atau Madinah-Indonesia.
      Sedangkan shulhu ; berarti gencetan senjata atau perjanjian untuk itu.
      Nah.. yang mana arti dari:
      “Tah ieu teh Hudaibiyah jang urang mah”
      Sedangkan perintah terakhir Imam SM Kartosoewirjo:
      “ulah nembak”
      Nyunda na’ kumaha kang kopral?
      salam

  10. Ungkapan “Tah ieu teh Hudaibiyah jang urang mah” adalah kontradiksi dgn wasiat imam sendiri.. ucapan tu d manfaatkan oleh mantan panglima sbg hudaybiyah. sbenernya tu adalah subhat yg mreka (para mantan panglima) buat sndiri dgn membesar2kannya sperti zaman Rasul SAW. krena faktanya mreka tidak sama sekali merealisasikan hudaybiyah itu sendiri (liat faktanya mereka diam saja dgn melakukan dkwah sperti zaman makkah awal). hrusnya mreka malu kpd Allah n kpda warga ummat islam seluruhnya dgn melakukan “IKRAR BERSAMA”. meninggalkan jihad fisabilillah dgn menggantikan pendapatnya sndiri. Imam kartoswiryo menyatkan kepada mereka yg melakukan “IKRAR BERSAMA” adalah orang2 yg “MENYEBRANG”. tidak layak jadi panglima yg wajib d ikuti.. kecuali mreka kmbali kpda MKT NO 11..
    Wasiat Imam S.M. Kartosuwiryo pada pertemuan dengan para panglima/prajurit (Mujahid) pada tahun 1959 diantaranya bebunyi “Saya (Imam) melihat tanda-tanda bencana angin yang akan menyapu bersih seluruh mujahid kecuali yang tinggal hanya serah/biji mujahid yang benar2 memperjuangkan /mempertahankan tetap tegaknya Negara Islam Indonesia sebagaimana diproklamasikan tanggal 7 Agustus 1949. Disaat terjadinya bencana angin tersebut ingatlah akan semua wasiat saya ini :
    1.Kawan akan menjadi lawan, dan lawan akan menjdi kawan.
    2. Panglima akan menjadi Prajurit, Prajurit akan menjadi Panglima.
    3. Mujahid akan menjadi luar mujahid, luar mujahid akan menjadi mujahid.
    4. Jika mujahid telah ingkar, ingatlah !”Itu lebih jahat dari iblis” sebab dia meengetahui strategi rahasia perjuangan kita, sedang musuh tidak mengetahui. Demi kelanjutan tetap berdirinya Negara Islam Indonesia, maka tembaklah dia.
    5. Jika Imam berhalangan,dan kalian terputus dengan Panglima, dan yang tertinggal hanya Prajurit petit saja, maka prajurit petit harus sanggup tampil jadi Imam.
    6. Jika imam menyerah tembaklah saja, sebab itu berarti iblis jika imam memerintahkan terus berjuang,ikutilah saja sebagai hamba Allah SWT.
    8. Jika kalian kehilangan syarat berjuang, teruskanlah perjuangan selama pancasila masih ada, walau gigi tinggal satu, dan gunakan gigi yang satu untuk menggit.
    9. Jika kalian masih dalam keadaan jihad, ingatlah rasa aman itu sebagai racun.

    Diakhir wasiat itu beliau mengatakan “Bila kalian ingin Indonesia ini makmur sentosa dan ridho Alloh, maka lawanlah soekarno. Bila kalian ingi Indonesia makmur sentosa tetapi dalam laknat Allah, maka tembaklah saya dan berpihaklah dengan soekarno, mana yang kalian pilih? ketika itu semua perwira dan prajurit yang tersisa menangis haru dan bertekad bulat untuk tetap berdiri di belakang Imam mempertahankaan NII dari serangan militer RIS.

    1. Assalamu’alaikum Wr. Wb
      @ Kank Abied
      Carita ceuk carita … beja ceuk beja, abdi nyadar lain jalma nu ngarandapan hirup jaman baheula. Naon nu kajadian mangsa katukang masih kedah seu’eur dipiluruh sabangsa fakta nu aya. Dina nangtukeun bener jeung henteuna tina beja jeung carita tangtuna dumasar ka saha urang percaya, tapi lain eta masalahna ayeuna .. indung nu ngandung bapa nu ngayuga, urang lahir pastina di lahirkeun, urang aya pastina di ayakeun… ayana urang lain jang mangsa katukang tapi ngabelaan hirup nu hareupeun. Mun tea mah aya codeka dina laksana kolot baheula, atawa aya ka alus tina babakhti para syuhada … sigana lain mangsana ayeuna ngultus kanu alus atawa kukulutus kanu goreng… sakeclak carita ti kolot ka budak saperti abdi, kanggo abdi eta carita bakal di pelesan di teundeun di hade-hade, di pupusti kumargi eta urang ayeuna aya. Margi dina eta carita, neundeun harepan sangkan urang bisa ngalap Kurnia Mantena.

      Mugia sajarah sanes ngan sa’ukur nostalgia … hapunten sateuacana.

      1. Teuing euy, lamun uing Kartosuwiryo, mendingan paeh di medan perang tibatan menyerahkan diri

        ——–
        Kopral Cepot : Hade tah… sarua saya ge kitu… komo saya mah KOPRAL lain JENDRAL 😉

    2. mun terus di lawan mah beak atuh kabeh mujahid…..
      ku urang moal kaharti da ngan saukur nempo…..
      ai kolot mah beda dai meureun da leuwih apal….

      Mun teu kitu kudu kumaha atuh ???

  11. Jadi tau apa maknanya Hudaibiyah? sebenarnya masih agak kurang paham, setelah membaca berkali-kali baru paham.

    —————–
    Kopral Cepot : Coba baca beberapa kali lagie 😉

  12. kalo ga salah dlam sebuah lembaga yang di perlukan itu bukan hanya kepintara atau kepandaian kang tapi “sami’na wa’tona” saya dengar saya taat, baik itu dlam keadaan suka ataupun terpaksa.,…
    hatur tanqu kang… salut lah…..

  13. allahuakbar…….. mati dgn segala fitnah…. smoga engkau tenang di sana wahai imam…….smoga engkau trtawa brsama leluhurq… karna di pertiwi ini smakin tak trkendali korupsi..kolusi nepotisme smakin mrajai.. slmt bristirahat pejuanb

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s