Haloean Politik Islam

PENGANTAR KATA

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamoe ‘alaikoem w.w.,

Sjahdan, maka karangan jang seringkas ini adalah choelasoh dari pada pidato jang kami oetjapkan dalam salah satoe rapat lengkap di Garoet, pada pertengahan boelan jang laloe, jang diselenggarakan oleh Party Politik Islam Masjoemi daerah Priangan dan dihadliri oleh tiap-tiap Tjabang Masjoemi seloeroeh Priangan, wakil dari G.P.I.I daerah Priangan, Hizboellah, Sabiloellah, Moeslimat, G.P.I.I. Poetri dan lain-lain pihak jang menerima oendangan oentoek sidang terseboet.

Karangan ini bernamakan “HALOEAN POLITIK” satoe pedoman jang amat perloe sekali bagi Masjoemi dan tjabang-tjabang oesahanja, teroetama dalam zaman revolusi ini, masa peroebahan masjarakat dan peredaran zaman jang serba tjepat, laksana kilat. Sedapat moemkin tjara menerangkannja kami atoer semoedah-moedahnja (elementair), agar menggampangkan memasoekkannja dalam data dan pikiran ra’jat-moerba.

Moedah-moedahan karangan ini dapat memberi bantoean meringankan beban para pemimpin Islam dan ‘alim-‘oelama, dalam kewadjibannja membimbing Oemmat dan bangsa, menoedjoe kepada Mardlotillah dan Rahmatillah, didoenia dan diachirat. Karena tolong dan koernia Allah, djoea adanja. Amin.

Selain dari pada itoe, harapan kami kepada sekalian pembatja jang boediman, djika terdapat kekoerangan, keketjiwaan atau kekeliroean didalamnja, soedi apalah kiranja “Karena Allah” soeka menjampaikannja dengan segera kepada Pengarang risalah ini sendiri, dan sebaliknja, djika diketemoekan kebaikan dan kebenaran, hendaklah “karena Allah” djoega soeka menjiarkannja kepada sekalian handai-taulan dan kawan-kawan sekelilingnja.

Atas bantoean pada ‘arif boediman itoe, terlebih doeloe kami mengoetjapkan diperbanjak-banjak terima kasih, dan Alhamdoe lillah.

Wassalam
S.M. KARTOSOEWIRJO
Malangbong , Awal Ramadlon 1365 Awal Agoestoes 1946

****

I
POLITIK

Politik adalah asal moelanja terambil daripada bahasa Asing “polis”. Jang ma’nanja: “kota” negeri atau negara”. Sehingga kata-kata “politik” itoe mengandoeng ma’na: tjara-tjara mengatoer dan memerintah sesoeatoe negara.

Doeloe pada zaman pendjadjahan Belanda. Negara kita diperintah oleh bangsa Belanda. Mereka merasa mempoenjai hak memasoekkan dirinja dalam golongan “bangsa jang dipertoean”, sedang bangsa Indonesia dianggapnja sebagai “bangsa jang diperhamba”, bangsa jang mempoenjai djiwa boedak, jang tjoema patoet diperintah, ditindas dan dirampas. Sementara itou bangsa Indonesia kehilangan hak-haknja oen-toek menentoekan nasibnja sendiri, oentoek mengatoer dan memerintah negeri dan bangsanja sendiri. Keadaan jang seroepa itoe berlakoe atas kita sekalian koerang lebih tiga setengah abad lamanja (350 tahoen).

Kemoedian, setelah Belanda lari meninggalkan Indonesia, maka datanglah “tamoe baroe, jang menamakan dirinja saudara-toea” (Djepang), jang dengan segera laloe mendoedoeki seloeroeh Kepoelauan Indonesia Oesaha Djepangisme ingin memperdjepangkan seloeroeh Asia, teroetama Indonesia, hanja berdjalan lebih-koerang 3 setengah tahoen.. Keadaan ra’jat bangsa kita dibawah perintah kapitalis Belanda atau dibawah fascis Djepang “setali tiga oeang”, alias sama sadja. Sebab kedoea bangsa itoe terpengaroeh oleh nafsoenja, oentoek menindas dan memperkoedakan bangsa lain, jang lazimnja menoeroet terminologi (istilah) politik dikatakan “imperialisme.”

Sampai pada dewasa itoe bangsa Indonesia hanja tahoe satoe kewadjiban ialah “kewadjiban diperintah” dan tjoema kenal satoe hak ialah “hak hamba-sahaja”, jang hidoepnja boeat ditindas dan diperas (diperah). Enjahkanlah sifat “Belandaisme”, jang membawa kekoefoeran bagi kita! Moesnahkanlah sifat “Djepangisme”, jang menanam benih kemoesjrikan atas bangsa dan Oemmat Islam Indonesia! Kedoea-doea djalan itoe menoedjoe ke arah Neraka, neraka doenia dan neraka achirat!

Betoel, doeloe pada zaman Belanda achir kita dinina-bobok-kan dan diberi per-mainan boneka, jang bernamakan “hak politik”. Tetapi sikap “manis” dari pada bangsa Belanda jang seroepa itoe tidaklah sekali-kali timboel dari pada keloehoeran boedi dan kemoerahan hati. Tidak! Sekali-kali tidak! Bangsa Belanda (pemerintah djadjahan) memberi hak “jang sesoenggoehnja boekan hak itoe”, karena (1) takoet tjelaan doenia internasional atas beleid Belanda memerintah Indonesia, sebagai tanah djadjahan, (2) dichawatirkan boleh timboel pemberontakan jang maha hebat, dan (3) walaupoen bangsa Belanda tidak tahoe maloe, tetapi dengan kenjataan jang ta’dapat dibantah oleh berita dan tjerita, terpaksalah mereka mengakoei, bahwa bangsa Indonesia boekanlah sebangsa “koeda beban”, jang hanja tahoe memikoel kewadjiban sadja.

Apa lagi setelah selesai Perang Doenia jang pertama, dan dilangsoengkan “Per-djandjian Damai di Versailles” (1919), maka bangsa Belanda makin radjin mentjari tipoe daja dan tipoe moeslihat jang “haloes-haloes”, bagi mempertahankan dan menjen-tausakan kekoeasaan Belanda di Indonesia. Salah satoe tipoe daja jang haloes itoe ialah “hak politik”.

Pada waktoe itoe bangsa Indonesia dikatakan “mempoenjai hak politik”. Tetapi…. Di belakang, di samping kanan dan disamping kiri, bahkan pada tiap-tiap pendjoeroe dipasangnja berbagai-bagai perangkap, jang meroepakan goda dan bentjana, halangan dan rintangan, fitnah dan aniaja. Beloem terhitoeng banjaknja provokasi dan intimidasi, jang dihamboer-hamboerkan di tengah-tengah pergerakan ra’jat.

Ini semoeanja memaksa ra’jat dan pemimpin ra’jat jang “loenak” itoe, ridlo menerima nasib papa dan sengsara, nasib ditahan dan ditangkap, nasib diboeang dan naik tiang-gantoengan. Soenggoeh berat resiko jang haroes ditanggoeng oleh tiap-tiap pemimpin ra’jat pada waktoe itoe, baik jang berhaloean maoepoen jang diloearnja. Itoe semoeanja akibat-akibat politik jang “katanja” mendjadi hak dan miliknja ra’jat Indonesia.

Mengingat keadaan dan kedjadian jang sedemikian itoe, maka “hak politik” pada waktoe itoe boekanlah soeatoe hak, jang patoet diterima dan dimiliki oleh sesoeatoe bangsa jang beradab. Bahkan didalam pandangan setengah bangsa kita, jang koerang pengetahoean dan pengertian, maka kata-kata “politik” itoe seolah-olah mengandoeng “hantoe” jang menakoetkan dan mendahsjatkan.

Inilah sebabnja kata-kata “politik” mendjadi tjemar, karena noda jang dilemparkan oleh politik djadjahan pada waktoe itoe. Sehingga politik didjaoehi, dibentji, ditjatji, bahkan ada poela jang berani mengharamkan bergerak dan berboeat politik.

Pada zaman pendoedoekan Djepang, maka keadaannja lebih menjedihkan daripada zaman Belanda. Semoeanja pergerakan politik-dengan tiada ketjoealinja-disapoe bersih. Kehidoepan politik dibongkar sampai keakar-akarnja, atau diboenoeh mati. Hak politik boeat ra’jat nul, tidak barang sedikit poen diberikan. Tetapi ra’jat tampak masih setia dan menoeroet, padahal sesoenggoehnja hanja takoet kepada “nakir dan moenkar” jang bermain dibelakang lajar politik Djepangisme, ialah kenpeitai dan gestaponja, jang soenggoeh amat serem sekali itoe.

Waktoe itoe praktis tiada hak politik bagi ra’jat Indonesia, melainkan semoea djedjak dan langkah haroes dialirkan kepada Tokio, ialah poesat persembahan manoe-sia-berhala, jang bernamakan Tennoo Heika, dan kiblatnja semoea djepangisme, dan ke-moesjrikan a’la Djepang. Na’oedzoe billahi min dzalik

Dari sebab itoe, sekali lagi kami seroekan: lenjapkanlah segala matjam sifat koloni-alisme atau sisa-sisa Belandaisme daripada toeboehnja masjarakat Indonesia dan daripada diri kita masing-masing! Dan basmilah poela semoea sifat Djepangisme, ialah djalan-djalan jang membawa kesengsaraan doenia dan achirat!

Sekarang, Negara dan Ra’jat Indonesia soedah merdeka, hampir tjoekoep setahoen oemernja. Kini baroe merdeka “de facto” (njata menoeroet boekti) dan tidak lama lagi insja Allah mendjadi merdeka “de jure”,bilamana waktoe-waktoe salah satoe negeri loear mengesahkan kemerdekaan Negara kita. Pada sa’at itoelah kemerdekaan Indonesia mendjadi boelat, 100 pCt penoeh, tidak lebih dan tidak koerang, sehingga dalam ikatan dan persatoean bangsa-bangsa di doenia, negara kita akan mendapat kedoedoekan, jang sederadjat dan sedjadjar dengan Negara2 merdeka jang lainnja.

Soedah setahoen lamanja kita memerintah Negara kita sendiri. Oleh sebab itoe, maka tiap-tiap warga Negara seharoes dan sewadjibnja tahoe dan sadar dalam hal poli-tik (politik-bewush). Tahoe dan sadar, bahwa tiap-tiap warga Negara mempoenjai hak dan kewadjiban jang sepenoeh-penoehnja oentoek ikoet memegang kemoedi pemerintah negeri. Sifat, “masa-bodoh”, seperti pada zaman Belanda dan Djepang, haroeslah dihalaukan sedjaoeh-djaoehnja dari pikiran dan amal-perboeatan kita.

Politik, jang doeloe pada zaman Belanda dan Djepang “dibentji dan ditakoeti”, maka sekarang pada zaman merdeka “ditjinta dan disoekai”, Selandjoetnja, politik jang doeloe oleh setengah orang “diharamkan”, maka sekarang didalam soeasana Indo-nesia Merdeka “politik adalah halal, bahkan wadjib” bagi tiap-tiap warga Negara, teroetama jang mengakoe Oemmat Islam, Oemmat Moehammad.

Djika didalam kalangan ra’jat dan masjarakat masih terdapat sifat “kolonialisme Belanda” atau “fascisme Djepang”, tolonglah obati penjakit itoe sampai semboeh sama sekali. Sebab sifat koeda beban-Belanda atau andjing Djepang jang sebodoh itoe tidak lagi patoet mendjadi sifatnja seorang warga daripada soeatoe Negara jang soedah merdeka. Sebaliknja daripada itoe, kita tidak perloe berlomba-lomba begitoe roepa, sehingga meroepakan persaingan dan bereboet-reboetan koersi, jang akibat dan natidjahnja tidak lain, melainkan peroesoehan, kekatjauan dan perganggoean keamanan dan ketertiban oemoem.

Dengan keterangan ringkas terseboet diatas, maka hendaknja tiap-tiap warga Negara, teroetama jang termasoek golongan Oemmat Islam. Haroes berpolitik, bahkan wadjib berpolitik. Terlebih-lebih lagi, karena berpolitik adalah mengandoeng kewadjiban soetji, ialah kewadjiban memerintah Negeri kita sendiri dan kewadjiban mendjadi bangsa jang merdeka.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

31 respons untuk ‘Haloean Politik Islam

Add yours

    1. Kenalilah musuhmu maka kamu kan kenal siapa dirimu | Ketahuilah lawanmu maka kamu kan bertemu kawan karibmu | Peliharalah kebencianmu maka kamu kan rasakan kelezatan cintamu | Suburkan rasa takutmu maka kamu kan butuh siram harapmu.

      wa’alaikum salam …

  1. Merinding bacanya Kop… Sudah Lengkap dan Menyeluruh… Sosok Pemimpin sejati bukan Pemimpi sejati.

    Sedikit kutipannya:
    “Hoekoem dan oendang-oendang diboeat oleh ra’jat (kedaulatan ra’jat), Pemerin-tahnja dipilih oleh ra’jat (pemerintahan ra’jat), sedang pemerintahan dilakoekan oentoek kepentingan ra’jat, boekan oentoek kepentingan pemerintah. Begitoelah kiranja keadaan kita dalam waktoe jang mendatang, djika kemerdakaan Indonesia soedah boelat 100 pCt. Tetapi.… kalau ra’jat beloem sadar dalam politik, maka semua theori itoe akan sia2 belaka ‘ibarat pohon jang berkembang, tapi tidak berboeah.

    Oleh sebab itoe, maka dizaman merdeka ra’jat haroes diberi pendidikan atau pengadjaran, ditoentoen dan dipimpin, hingga “sadar dalam politik” (politik bewust). Sampai ia insaf, bahwa ia mendjadi ra’jat atau bangsa jang merdeka; mempoenjai negara jang merdeka; mempoenjai tanah air jang merdeka; mempoenjai pemerintah jang wadjib ia tha’ati. Gemblengan jang seroepa ini tidak tjoekoep dengan tjerita dan berita sadja, melainkan haroes disertai dengan boekti jang njata. Sehingga tiap-tiap warga Negara, teroetama ra’jat moerba, soengoeh-soengoeh mengisap hawa jang merdeka dan hidoep dalam soeasana merdeka. Dengan tidak bosen-bosen kami me-ngoelangi kalimat: Boekti! Sekali lagi: Boekti ra’jat menoentoet boekti!
    Kalau demikian halnja, Insja Allah, dengan sadar atau tidak sadar, ra’jat akan mengikoeti perintah dan seroean serta komando dari pemimpin dan pemerintah.”

    jadi ingat lagu masa kanak-kanak “…tut…tut…tut…siapa hendak turut…ke Bandung… Surabaya…Bolehlah naik dengan percuma… Ayo kawanku lekas naik… keretaku tak berhenti lama…”

    1. Tumbuhlah sebagai revolusioner yg baik. Belajarlah yang tekun hingga dpt menguasai teknologi, yg akan memungkinkan menguasai alam. Camkan bhw revolusilah hal yg pokok, dan masing2 dari kita, seorang diri, tak akan ada artinya | Di atas segalanya, kembangkan selalu perasaan yg dlm pada siapapun yg mengalami ketidakadilan, dimanapun didunia ini. Inilah kualitas yg paling indah dari seorang revolusioner.

      klo ini kata che

  2. jika umat islam tak ingin tertindas dan disetir yg lain, solusinya adalah ormas2 islam harus berani mendirikan bank islam atau tepatnya baitul maal, yg tidak bertujuan meraih keuntungan tetapi pada penentuan/kemandirian proses ekonomi umat dan proses distribusi pendapatan sesuai tuntunan nabi Muhammad saw, keadilan akan tercipta dengan pertahanan ekonomi umat dan bahkan mampu untuk membuat mata uang sendiri karena kita sendiri yg akan tentukan prosesnya, baik jenis urutan dllnya. jika banyak sekali perusahaan2 besar susah payah berusaha untuk membuat komunitas u membentuk loyalitas, sementara para ulama diberi kelimpahan hak/wewenang tapi menyia2kan potensi besarnya umat dan telah diberikan petunjuk2 di Al Qur’an dan hadits, sungguh sayang sekali. dengan jaringan masjid dan kesediaan umat u memberikan wakaf atau tempat/ruko dengan sewa gratis atau lainnya, pasti keadilan akan datang

  3. kita mampu kendalikan dengan kalender hijriyah dan menentukan pusat keramaian di waktu tahun muharram bukannya tahun baru masehi, dan juga bisa bgm makanan yg kita makan melalui proses yg sesuai dengan tuntunan nabi, suatu hal yg aneh, barat mencoba melakukan usaha2 seperti di film2 propaganda hollywood salahsatunya matrix, apakah di saat ini layak menjadikan internet sebagai dunia maya?ataukah dunia maya yg sebenar2nya maya letaknya ketika aku merasakan genggaman tanganmu ketika kita bertemu?apakah yg riil adalah setelah kematian?ataukah ketika karakter kita ‘dibunuh’ dihadapan manusia saat kita hidup?suatu hal yg aneh dan buat umat blangsak adalah ketika kita meyakini bahwa kita/hardware ciptaan Allah SWT mencoba meyakini bahwa software/OS kehidupan yg cocok adalah ciptaan manusia?apakah kita akan tenggelam dalam dunia maya tingkat 2?ataukah seperti film bruce wllis yg baru?memiliki avatar karena takut akan resiko kehiduupan dunia nyata sebelum kematian?lihat film propaganda hollywood, salah satunya i robot, di akhirnya ketika kau beri robot ‘otak’ makanya yg mau diberitahukan oleh si doktor pembuat robot bahwa ciptaannya akan melakukan pemberontakan thd manusia, lihat di akhirnya

  4. lihat siapa para sponsor propaganda hollywood?ataukah mau juga intrpretasi yg berbeda dari film equillibrium? golden compass?mib 1 dan 2?planet apes?

  5. watduh..saya telat berkunjung..jadi banyak yang harus dibaca..
    seperti biasa ya OM..izin copy paste duluh artikelnya untuk dibaca,dicermati dan difahami..
    kali ini sedot 3 artikel..
    komentnya nyusul duluh om kopral,takut OOT plus ga mau ktingaalan pengetahuan sejarah dari sini 😀

    ———-
    Kopral Cepot : Wokeh 😀

  6. saya belum ngerti tentang e-ktp sama sekali, apakah negara siap melindungi setiap nomor identitas tersebut, ataukah setiap pemiliknya memiliki kemampuan melindunginya dan tahu resiko kepemillikannya?apakah penomorannya mudah ditebak seperti no ktp biasa yg menunjukkan tahun bulan dan suatu lokasi atau kah terenkripsi seperti kode voucher?fungsinya bisa buat apa aja?siapakah yg membuatnya?orang luar atau onno w purbo(hehehe saya suka pemberontak ini, buat akses ‘maya’ gratisan dengan alat homemade, rasanya bisa membuat kita merdeka dari penjajahan para raksasa teknologi dan telekomunikasi)?bukankah justru kalo orang luar yg buat, database kependudukan rentan dimiliki asing seperti kasus pemlu 2009 dikacaukan oleh it bantuan usaid?

  7. mau nanya nih, apakah jika suatu handphone tanpa simcard atau simcardnya dicabut langsung membuat sinyal langsung hilang atau delay?kenapa hp yg dual simcard dicabut dua2nya, sinyal kok masih ada di penunjuk yg kesatu?apakah yg dimaksud simcard bisa digantikan dengan model injection artinya dimasukkan ke chip dari hp?apakah kalo begitu bangsa lain mudah menjajah kita dengan teknologi sederhana melalui chipset?

  8. ada satu pertanyaan, benarkan KARTOSOEWIRJO, saat perjuangan Islam juga berlaku zalim terhadap umat Islam di jogja, membunuh dan merampas. saya masih samar terhadap hal ini..

    1. secara kalimat juga rancu …. “perjuangan Islam” berlaku zalim terhadap “umat Islam”

      >> Kenalilah musuhmu maka kamu kan kenal siapa dirimu | Ketahuilah lawanmu maka kamu kan bertemu kawan karibmu | Peliharalah kebencianmu maka kamu kan rasakan kelezatan cintamu | Suburkan rasa takutmu maka kamu kan butuh siram harapmu.

      Wallahu’alam

      1. >> Kenalilah musuhmu maka kamu kan kenal siapa dirimu | Ketahuilah lawanmu maka kamu kan bertemu kawan karibmu | Peliharalah kebencianmu maka kamu kan rasakan kelezatan cintamu | Suburkan rasa takutmu maka kamu kan butuh siram harapmu.

        ty bang.. 🙂

  9. banyak idiot menganggap hukum dan politik Islam itu menyeramkan. padahal mereka sendiri belum pernah merasakan betul-betul hidup di bawah pemerintahan seorang khalifah yang sejatinya bukan penguasa melainkan hanya pesuruh Allah dan Rasul-Nya.

  10. saya penazaran respon jepun dan korzell thd rencana rrc ekspansi rel dan jalur logistik atau ekonomi lainnya, hehehe makin terasing ga ya peranannya secara posisi geografisnya?

  11. kalo ga ormas2 islam bagusnya gabung aja dengan bank muamalat dan membawa komunitas dan rekening2nya, kenapa kok bank muamalat jarang nongol di pasar2 atau kegiatan riil yg lingkaran prosesnya nyata dan takkan berkurang prosesnya dan minimal aliran modal takkan berkurang dengan melawan sistem yg haus inflasi?kalo ga kita2 ini makin blangsak dan dan ga punya alternatif lainnya, karena lingkaran proses dominan oleh mereka yg tak boleh disebutkan, wuekekekekek akan selalu begitu tak kan independen, bahkan untuk setiap aliran proses kehdupan

  12. Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi berbagai kepentingan.
    Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan.
    Berangkat dari keprihatinan tersebut, menjawab tantangan jaman, Ki Sondong Mandali, tokoh budayawan Jawa, menggagas ‘Gerakan Renaisance Jawa’, kebangkitan budaya Jawa sebagai suatu falsafah pandangan hidup bangsa. Diharapkan wacana ‘Gerakan Renaisance Jawa’ ini dapat terus bergulir menjadi gerakan masif kebangkitan budaya dan kearifan local di seluruh Nusantara.
    Dan sebagaimana telah dibiwarakan Mas Suprayitno, Ki Sondong Mandali menerbitkan sebuah buku NGELMU URIP – Bawarasa Kawruh Kejawen yang mencoba menghadirkan bahasan (bawarasa) tentang Jawa dan ke-Jawa-an dari sudut pandang orang Jawa. Sebagai falsafah tuntunan hidup (Ngelmu Urip) orang Jawa, yang sarat dengan kearifan pencapaian budaya yang adiluhung, yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa yang bisa diselisik dan dirunut secara rasional untuk mudah dipahami.
    Diharapkan pengertian Kejawen yang sering dikonotasikan negatif, dianggap tahayul atau klenik ini bisa dimengerti dan dipahami dengan benar sampai ke dasar falsafahnya. Sehingga Ngelmu Urip Orang Jawa bisa menjadi tonggak pegangan dalam mengarungi era globalisasi tanpa harus kehilangan jati diri dan karakter ke-Jawa-annya (Jawan).

    Telah terbit buku Ngelmu Urip – Bawarasa Kawruh Kejawen penulis Ki Sondong Mandali, Ketua Umum Yayasan Sekar Jagad.
    ISBN: 978-602-98012-0-0
    Ukuran: 14 x 21 cm
    Tebal isi: 278 halaman
    Harga Rp. 30.000,-/eksemplar
    Ditambah biaya ongkos kirim, harga buku di dalam Pulau Jawa Rp. 40.000,- di luar Pulau Jawa Rp. 50.000,-
    Pembayaran harus sudah diterima mendahului pengiriman paket buku.
    Pemesanan lewat SMS di nomor. 081390478229; 08157611019; 08179522629; 08882572343 atau lewat email ke mandalisondong@ymail.com dengan menyebutkan:
    * nama lengkap pemesan
    * alamat pemesan lengkap dengan kode pos wilayah
    * jumlah pesanan
    Dana yang terkumpul dari hasil penjualan buku akan digunakan untuk pembangunan Pusat Studi Jawa, sebuah kerja nyata dalam revolusi kebudayaan Nusantara.
    Jumbuh dengan SUMPAH BUDAYA 2009 yang telah dicanangkan rekan-rekan muda:
    1. Menghidupkan kembali budaya daerah sebagai dasar pengembangan budaya Nusantara.
    2. Menjadikan budaya daerah sebagai dasar pijakan ide-ide kreatif pembangunan.
    3. Mengembangkan kearifan budaya daerah sebagai nilai-nilai Pembangunan Nasional.

    ———————
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu infonyah mas tommy

  13. broooow sangat aneh ya, para blackbery army komplain, mereka berpedoman, 1. blackberry tak pernah salah, 2 kalo salah lihat pasal 1. lihat trend black bery banyak terjadi negara mana aja?apakah di rrc atau di asia timur seperti itu?ataukah di eropa seperti itu?di rusia?coba tanya kenapa rrc dgn berbagai cara coba usir google dan support baidu?apakah kalian tak tahu server google ada dimanakah?apakah kita akan menaruh dan mempercayakan memori kolektif bangsa ini di luar negeri?untuk menyimpan setiap profil semua wni di luar negeri?mampukah kita melakukan verifikasi dan validasi suatu informasi yg tersaji di google?facebook seperti agama atau negara kalo dicoba untuk dikritisi?atau nabi bermata satu/layar lcd?

  14. bagaimana kalo rangkaian informasi diintercept proses penyampaian data yg sebenarnya oleh negara penyimpan informasi?bagaimana nih para agen deplu, apakah tidak melakukan monitor respon wn di tempat penugasan atas trend atau fashion global di negara tertentu, respon kebijakan pemerintahnya?

  15. kemana aja Kang
    kunjungan rutin, pengobat rindu padamu
    salam sukses..

    sedj

    —————–
    Kopral Cepot : Maaf’s mas … banyak hal dan yang pasti ngak kemana-mana. Hatur tararengkyu n tetep salam sukses 😉

  16. Assalaamu’alaikum Warahmatullaah

    Kang, semalam saya menyaksikan AKI Malam, terus ada peniliti dari Bakor Pakem Depag yang menyatakan bahwa penggasan NII berwasiat bahwa ijtihadnya itu salah dan menyuruh seluruh pengikutnya untuk kembali ke NKRI. Nah, pertanyaan saya, apakah benar beliau berwasiat begitu? adakah dimana saya bisa dapatkan bukti bahwa beliau menuliskan wasiat, di sini ada nggak? saya belum obrak abrik semua nih. Hahaha. Oh, ya, juga soal pesantran itu apakah benar dilindungi oleh sebuah partai besar sejak zaman orde baru?

    duh, tiba-tiba kok jadi kepingin tahu jelas soal NII. Hahaha

    terima kasih

    ————-
    Kopral Cepot : Klo ijtihadnyah salah .. mungkin ngak akan berlama-lama di”jibal” .. klo masalah pesantren udah banyak yg ngulas, bahkan yg empunya dah bilang….. btw Kang Usup termasuk dari sekian orang yang jadi korban “iklan di tv”, semangkin diberitakan semakin penasaran he he he he he … “Allohumma Ihdinas Shiratal Mustaqiem

    1. Hahahaha

      wah, iya nih. media emang bagai menghipnotis. ckckkckc…

      baiklah. setuju : “Allohumma Ihdinas Shiratal Mustaqiem“

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: