G.I.A.T

“Adalah mustahil menulis persoalan besar tanpa hidup dalam persoalan besar itu, menjadi pemimpin agung tanpa menjadi manusia agung. Manusia harus menemukan dalam dirinya sendiri rasa tanggung jawab yang besar terhadap dunia, yang berarti tanggung jawab terhadap sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri” (Vaclav Havel : Mantan Presiden Republik Chek)

Sang maestro motivator jaman kiwari Mario Teguh pernah berkata: “kenapa ulat menggeliat dan melangkah pindah saat kena panas?? itu karena ulat tidak bisa mengeluh. Yah … mengeluh adalah perbuatan yang tak menghasilkan apa-apa. Pemimpin banyak mengeluh bercampur aduk dengan mudah marah tak akan mampu mengubah anak bangsa yang sedang susah, rakyat mengeluh meski keluhan campur teriakan maka khafilah tetap lah berlalu.  “Setiap hari sikap diam telah menelan para korban. Memilih cuma berdiam diri adalah penyakit yang mematikan.”(Natalia Ginzburg), maka bergerak bergeliatlah untuk terus bergerak dalam roda-roda sejarah karena  “Siapa saja yang menggunakan tangannya untuk menghentikan roda sejarah, jari-jemarinya akan hancur.” (Lech Walesa)

Dalam roda-roda sejarah Indonesia, lima belas tahun pertama abad-20 telah menjadi starting point bagi masa depan bangsa Indonesia. Giat geliat anak bangsa kaum bumiputera telah membangunkan ibu pertiwi yang tertidur lelap dan ternina bobokan oleh Nederlander, dari kepala inlander keluar gagasan-gagasan membangunkan, dari tangan mereka lahirkan tulisan-tulisan mencerahkan, dari retorika mereka buahkan pergerakan-pergerakan dan dari actie-actie mereka bebaskan penjajahan bangsa asing dan memberikan harapan atas nama kemerdekaan.

Pada tahun 1913,  Ki Hajar Dewantara menulis sebuah artikel yang  berjudul  “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kutipan tulisan tersebut antara lain:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. (ref)

Pada tahun 1916H.O.S Tjokroaminoto pimpinan Syarekat Islam telah menggugah kesadaran bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah, dalam pidatonya saat kongres pertama di Bandung , ia berkata:
”Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang disebabkan hanya karena susu. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya adalah penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri… tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita, mengatur hidup kita tanpa partisipasi kita.”

Selanjutnya Hos Tjokro menyatakan : “…merupakan tugas Syarekat Islam untuk memprotes kata-kata dan perbuatan yang bermaksud merendahkan ‘de Inlandsche onderdanen’ …rakyat yang berdiam di desa-desa atau kampung-kampung terus menerus di sebut de kleine man (wong cilik), apakah sebutan ini sesungguhnya tepat?” “Tidak!, ucapan seperti itu atau pandangan –pandangan yang demikian sudah tidak pantas lagi didengar oleh suatu bangsa yang sedang mulai berevolusi dan yang sedang mulai meningkatkan dirinya!

Dalam sebuah pidatonya disebuah vargedering di Semarang, Tjokro bercerita mengenai maksud pendirian SI sebagai sebuah perkumpulan yang dipertalikan agama. Lebih jauh ia mengungkapkan:

“Dengan alasan agama itu, kita akan berdaya upaya menjunjung martabat kita kaum bumi putera dengan jalan yang syah. Menurut dalil dari kitab (kita lupa dalilnya dan namanya kitab tadi, red), orang pun mesti menurut pada pemerintahan rajanya. Siapakah sekarang yang memerintahkan pada kita, bumi putra? Ya, itulah kerajaan Belanda, oleh sebab itu menurut syara agama islam juga, kita harus menurut kerajaan Belanda. Kita mesti menepi dengan baik-baik dan setia wet wet dan pengaturan belanda yang diadakan buat kerajaan belanda. “ Setelah itu ia berkata dengan nada lantang“ lantaran diantara bangsa kita banyaklah kaum yang memperhatikan kepentingannya sendiri dengan menindas pada kaum yang bodoh. Maka kesatriaan kaum yang begitu sudah jadi hilang dan kesatriaannya sudah berbalik jadi penjilat pantat

Satu keberhasilan generasi bangsa Indonesia di paruh pertama abad 20 adalah keberhasilan dalam pendidikan politik, keberhasilan dalam mencetak kader-kader pemimpin bangsa. Pendidikan politik yang mencerdaskan meski dalam ruang-ruang ideologi politik yang beragam.

Pada masa perjuangan kemerdekaan  dan para the founding fathers (para pendiri bangsa) masih dapat menyaksikan buah yang mereka tanam sebelumnya. Para pemimpin pada masa ini tidak hanya mampu memberi visi, inspirasi, semangat kepada rakyat, tetapi juga teladan dan arah yang nyata untuk mengabdikan dirinya demi kepentingan bangsa. Ucapan para pemimpin meresap ke dalam hati, bahkan masih diingat dan dikutip oleh rakyat di pelosok yang paling jauh sekalipun.

Perang melawan Belanda dimenangkan bukan karena keunggulan senjata juga bukan karena kecerdasan bangsa ini, tetapi lebih ditentukan oleh keuletan dan kekuatan mental pemimpin dan rakyat yang telah ditempa dalam berjuang di medan gerilya dan di meja perundingan di bawah suluh moral kebangsaan dan kerakyatan, sekalipun dalam serba berkekurangan.

“Percaya dan yakinlah bahwa kemerdekaan satu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa, harta benda dari rakyat dan bangsanya tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapa pun juga.” Jenderal Sudirman (1916-1950), Panglima Besar Tentara Republik Indonesia

Setelah satu abad … krisis melanda bangsa Indonesia, susah mencari pemimpin yang menjadi guru di “gugu dan ditiru”. Pendidikan politik tak lagi mencerdaskan malah menyesatkan, bangunan ideologis semakin rapuh diterjang tsunami dan gempa pragmatisme. Maka seolah diingatkan kembali akan kata-kata H.O.S Tjokroaminoto : “lantaran diantara bangsa kita banyaklah kaum yang memperhatikan kepentingannya sendiri dengan menindas pada kaum yang bodoh. Maka kesatriaan kaum yang begitu sudah jadi hilang dan kesatriaannya sudah berbalik jadi penjilat pantat”.

Berpikir Indonesia Alternatif , adalah berpikir harapan, cita dan asa anak negeri karena “Yang tua sedang sekarat, sementara yang baru belum lagi selesai tumbuh,” maka :

“Cita-cita bukanlah takdir, tapi sebuah penunjuk arah. Ia bukan perintah, tapi komitmen. Ia tak menentukan masa depan, melainkan wahana untuk menggerakkan sumber daya dan energi bagi usaha membangun masa depan.” (Peter F Drucker)

G.I.A.T menggeliat, G.I.A.T dengan peluh bukan keluh … G.I.A.T adalah Gerakan untuk Indonesia Alternatif Transformatif … dari kepala buahkan gagasan brilian dari tangan lahirkan tulisan mencerahkan dan dari actie tebarkan harapan masa depan. G.I.A.T adalah perlawanan cerdas bukan perampokan brankas, G.I.A.T adalah terrorist kata bukan terrorist senjata, G.I.A.T  adalah keringat usaha  karena “Tidak ada hal hebat yang tercipta dalam sekejap.”

Siapa saja yang menggunakan tangannya untuk menghentikan roda sejarah, jari-jemarinya akan hancur.” Maka biarkan kami membuat sejarah tentang diri kami , tentang anak bangsa yang meyakini bahwa syurga ada di telapak kaki ibu pertiwi, meski bapak kami telah tiada tapi cita-cita senantiasa ada. Di telapak kaki ibu pertiwi, anak bangsa letakan tangan rebahkan badan mohon restu buat Indonesia maju.

Buat seluruh anak bangsa, kita melihat realita yang sama, kita mendengar jeritan yang sama, kita merasakan kesusahan yang sama maka biarlah isi hati kita tetap tersembunyi tersimpan dalam dada sanubari tapi mari suarakan nyanyian yang sama tentang “Padamu Negeri”.

……………………..

Berilah aku kesempatan

Yang akan membuatku tak akan lagi menyesal seumur hidup

Yang akan membuatku memperoleh barang seserpih rasa bangga

Karena telah merasakan jantungmu berdegup keras

Saat rakyatmu tak lagi makan

(Puisi Anak Indonesia, Shohibul Anshor Siregar)

Selamat datang anak bangsa yang ber-G.I.A.T menggapai cita dan asa.

Salam revolusi cerdas abad 21

*gambar : alvienrizki.com

33 respons untuk ‘G.I.A.T

Add yours

    1. Historically, Zhuge Liang was also known as Zhuge Kong Ming (ZKM). He was nicknamed “The Hidden Dragon” due to the fact that people around him underestimated his capacity to achieve great things. Other translations of his nickname were “Crouching Dragon” and “Sleeping Dragon.”

      In modern China, Zhuge Liang is considered to be the most popular statesman and strategic general in Chinese history. Most people learned of the historical achievements of Zhuge Liang through the many stories and plays written about him.

      Hatur tararengkyu 😉

  1. kang, saya berencana membuat taman bacaan di daerah saja, dan didalamnya juga saya berusaha membuat kegiatan-kegiatan positif, demi menyelami Gerakan untuk Indonesia Alternatif Transformatif … mohon do’anya, saya dan sahabat di Republik IPA Tilu masih dalam tahap musyawarah mufakat nih…

    ————–
    Kopral Cepot : Sok ah kang … di do’akan .. selangkah yang kita lakukan hari ini adl investasi masa depan .. smoga sukses 😉 n sekedar usul nami taman bacaana “G.I.A.T BACA” 😀

  2. artikel yg ga berbobot dan urakan, yg objektif kopral, kekanak2an, hmm aku lah sang kebenaran!

    —————–
    Kopral Cepot : Hatur tararengkyu atas apapun penilaian bapak yang terhormat 😉 … salam kenal dan tararengkyu telah membaca artikel “ngak berbobot ini”

  3. Pak Kopral,

    Soal ‘Sikap diam…’, kalau nggak salah ada pepatah yang bunyinya begini :

    “Sikap Diam Adalah MENIMBUN Emas”

    ada satu lagi : ‘sikapsamin MENIMBUN Derita’
    (uih…karunya pisaaan si samin)…

    Salam…Diam

    —————
    Kopral Cepot : Dalam “ke-diam-an” sikapsamin xlalu ada pergerakan … Salam Diam juga 🙂

  4. Pak Kopral Cepot.

    Tulislah barang sedikit tentang sulitnya kita “sebagai Indonesia merdeka” berubah dan bangkit karena Belanda pernah buat 3 hukum di sini (utk Belanda, Untuk Timur Asing dan untuk boemipoetra). Mungkin akan sangat bermanfaat untuk memahami Indonesia di tangan SBY, Mega, Gus Dur, Habibie, Soekarno.

    Jangan-jangan para legislator itu menanganggap lembaganya sedang berhadapan dengan Belanda, maka secara gerilya dan dengan politik boemi hangus berusaha membocorkan anggaran sebanyak yang dapat diambil. Aneh sekali. Mereka berunding mencari legitimasi untuk membelanjakan anggaran besar melancong ke luar negeri. Rakyat akhirnya menyebut itu melancong karena setelah sekian lama memang tak lebih dari pelancongan belaka. Hari ini mungkin sdh sah mereka disebut white collar crimers. Legislator itu buikan tidak tahu, dan mungkin karena mereka tahu maka muncullah kecemburuan agar tidak Presiden bersama staf ekskutifnya saja yang habiskan anggaran. Begitulah terpuruknya Indonesia, namun SBY masih beri renumerasi setelah bagi-bagi mobil untuk menteri yang amat banyak (Amerika cuma punya 16 kementerian), ditambah lagi dengan wakil menteri. Apa tak besar anggaran Menko? Menko itu apa? Menko itu kakak para menteri yang posisinya antara menteri dan presiden hingga presiden bisa can do no wrong saja; dan jika tak cakap, jika malas, dan jika cuma suka feodal, memang menkolah jawabannya. Itu besar sekali biayanya dan jujurlah, apa sih kerjanya. Tahukah banyaknya lembaga yang dibentuk? Jika pun Anda tahu dan dapat menyebut satu persatu personalnya, kuyakin Anda tidak mampu menjelaskan keterangan filosofis mengapa itu harus ada semua.

    Kepolisian mencatat sejarah. Paling banyak merebut pewartaan. Mengapa ya? Selama ini polisi sdh diplesetkan “(sudah) pol, isi (lagi). Hingga kini sdh sah jika orang sebut hanya 2 polisi yang baik (patung polisi dan polisi tidur). Kemaren dan kemeren-kemarennya mereka belajar ke Australia dan didapatkanlah cara membunuh efektif dan menyebar perasaan takut. Media mendukung mereka sepenuhnya untuk mengesahkan tindakan-tindakan yang makin lama makin tidak dibenarkan oleh rakyat. Sudah tahu kan Kopassus kita akan “main” dengan SAS untuk sesuatu (lagi) dan….. kini sudah untuk kesekian kalinya BHD mewarnai masa akhir jabatannya sebagai kapolri dengan pemaparan-pemaparan tentang teror dan ingin disebut brilliant dalam prestasi. Salah satu kebanggaannya itu ialah menahan Abu Bakar Ba’asyir yang sudah renta itu.

    Aku suka JK berkata kepada Amerika “What can I do for you?”. Aku tak suka, malah aku benci kepada siapa saja orang Indonesia yang berkata kepada Amerika “America is my second country”. Jangankan Amerika dan Australia, PBB pun dilawan oleh Bung Karno dan memilih hengkang dari lembaga itu. Itu atas nama sebuah harkat, martabat, dan kedaulatan. Tata dunia yang lebih adil memang ada diteriakkan oleh Soeharto setelah amat aman untuk memberi teriakan itu. Ingat Soeharto menjadi big boss negara non blok saat blok sudah sirna dengan berakhirnya era perang dingin? Bung Karno mesti dilahirkan kembali di Bandung, di Sumenep, di Papua, di Jeneponto, di Sipiongot, di Sibulan-bulan, dan itu semua Indonesia. Bung Karno yang bukan ayah Megawati, maksud saya. Megawati memang berhak menenggerkan “Soekarno” (tambah putri) di belakang namanya, dan biarlah sampai di situ saja dan jangan berlebih karena memang tak boleh berlebih (jia ia tahu).

    Telah kupikirkan dalam-dalam. SBY harus memberi contoh terbaik sebagai negarawan dan bukan sebagai pemilik Partai Demokrat, apalagi sebagai orang Jawa. (1) Berhenti berpikir dan bertindak tak substantif (2) menjelaskan kepada diri sendiri, keluarga, group-group dan gerombolannya bahwa (a) amat diperlukan membangun kembali, dalam bentuk kemoderenan, identitas dan simbol-simbol ekspresif nasional dan kebangsaan yang modern. Tak mengapa orang lahir sebagai orang Jawa, Sumedang, Batak, Minang, Acheh, Manado, Papua, Ujung Pandang. Tetapi ia harus menjadi Indonesia kemudian dan selamanya, tak usah balik lagi memusuhi dirinya sebagai Indonesia karena ia sudah Indonesia dan harus setiap hari bersyukur sebagai Indonesia sambil selalu menikmati beeing process Indonesia (b) bagaimana cara memperoleh legitimasi kekuasaan, tidak dengan rampok, tipu, sogok merendahkan dan cara-cara barbar (c) bagaimana memandang dan memobilisasi seluruh alat-alat kekuasaan negara dengan terukur dan untuk diri sendiri (bangsa), pantangkan untuk kepentingan Obama dan teman-teman dia yang lain, karena ia belum tentu baik untuk Indonesia meskii cakapnya baik-baik dengan pilihan kata yang membuat otak bodoh ketipu dan ketipu (d) sistem-sistem sumber dan distribusinya secara adil karena adil itu jalan kemakmuran, tidak seperti diajarkan oleh teman-teman Boediono dan Sri Mulyani dan para Mafia Berkley “beri perut si orang istimewa itu asupan sebanyak-banyaknya hingga ia kentut, muntah dan keringan dan dari kentut, muntahan dan keringatnya itulah kita dapat mengais (trickle down effect). Kusarankan sekeran-kerasnya: berhentilah SBY berpikir tentang citra, karena rakyat tak perlu itu.

    Kemanren kutuliskan sesuatu dan kuulangi disini dengan maksud aku bukan cuma sedang berbicara kepada Kopral Cepot, Sikapsamin, Christmas Day Gift, Gunawan Maryanto, alamendah, Kangus, dan Zhuge Liang; tetapi juga kepada SBY, Abu Rizal Bakri, Megawati, Amien Rais, Sudi Silalahi, Yusril Ihza Mahendra dan siapa-siapa lagi yang siap-siap saling bertengkar atau sedang berteriak-teriak keadilan untuk memperdaya rakyat agar tidak tahu bahwa teriakan itu untuk pelurusan kepentingan diri sendiri:

    “….seseorang terpercaya dengan kewibawaan yang tak dibuat-buat mencatatkan dengan tegas//sambil bertanya kepada dunia//kau tahukah mengapa Tuhan mengabadikan Fir’aun dalam kitab suci?//dan kini aku mampu menirukan//jawaban yang kuterima darinya//itu supaya kau tak gentar menggebrak Fir’aun versi zamanmu”.

    Harapan Kopral Cepot seolah dapat kulukiskan begini:
    “janganlah kau menjadi Fir’aun juga, sebab kau kawanku.
    Tetapi jika kau akan menjadi Fir’au juga,
    maka aku hanya akan berteman dengan cacing
    dengan dedaun
    dengan Sianbung yang sedang batuk
    dengan debu Galungung yang nanti menghampar.

    Hatur Taratengkyu, all.
    Shohibul Anshor Siregar
    Koordinator Umum ‘nBASIS

  5. “Pemimpin banyak mengeluh bercampur aduk dengan mudah marah tak akan mampu mengubah anak bangsa yang sedang susah, rakyat mengeluh meski keluhan campur teriakan maka khafilah tetap lah berlalu”.

    Menarik sekali Kang. Tadi pagi saya baca Rehat Republika, mengutip JK,”Pemimpin perlu jelaskan soal ideologi”. Kemudian dikomentari : ” Yang penting jangan suka ngeluh dan curhat.”

    Memang di antara kita banyak yang suka ngeluh, curhat, dan mengutamakan pencitraan diri.

    Saya suka dengan Tjokroaminoto, pernah ditulis di sini lebih detil ?
    Terima kasih.

    Salam dari Cianjur.

    ———————–
    Kopral Cepot : Tentang Tjokroaminoto sudah banyak ditulis disini … hatur tararengkyu n salam dari mBandunk 😉

  6. saya setuju satu hal dengan sikapsamin, ga nyamin ga rame, nimbun emas2 di jawa kebanyakan, cenderung mubazir, toh buktinya ada2 yg nangis2 di depan koordinator pengumpul emas u beli pesawat seulawah

    1. Hehehe…bisé ajé bang toyib,

      …’ga nyamin ga rame’…

      pengen tahu rahasié ramuannyé bang?
      -adé Asinnyé ;
      -adé Manisnyé ; terakhir…
      -adé Pedesnyé.

      Sedep nggak bang..?

      Salam…Nano-Nano bang toyib

  7. Semoga bangsa ini akan terus belajar dari setiap kondisi yang terjadi. Jika rakyat belum enak makan dan enak tidur wajib bagi pemerintah untuk mencari solusi alternatif.

  8. dik,kamu jurusan apa? cuma ngingetin aja hati2 yo kalo lihat film2 barat seperti matrix, stargate, babylonia 5, men in black(terutama yg di akhir film memperlihatkan suatu mahluk yg memegang kantong berisi kelereng berdefinisi galaksi yg berisi kehidupan berbagai mahluk), film sci fi, sihir, dllnya. Kerancuan atau pemahaman tauhid yg kurang antara sifat2 Pencipta dan yg dicipta akan bakal membuat dirimu akan terombang ambing dalam berbagai i deologi, ajaran, atau agama, dllnya. riba dilarang tapi tidak diajarkan proses apa yg membuat riba dilarang(hanya sekilas dan tidak membuat kita berpikir kenapa hal tsb dilarang, justru setelah mengalami s endiri baru bisa disadari), mungkin ini artinya adalah semua pasti kena fitnah riba dan efeknya dalam rezim dollar ini, terkadang saya baru menyadari kenapa disunahkan berdoa (makbul) ketika khotib duduk, mungkin mengisi ruang/waktu fokus kita beribadah(khusus, kalo ibadah umum dilakukan oleh semua manusia muslim dan nonmuslim, ganjarannya berbeda dan bagi nonmuslim ganjarannya adalah di dunia), terkadang saya baru menyadari efek dari sholat jamaah(saya sedang dalam kondisi ‘takut’ aja jadi sering tidak), inilah sarana komunikasi dan interaksi ulama dan umat islam dalam berbagai aspek kehidupannya, sosial, ekonomi, dllnya; bahkan ini bisa menjadi senjata yg sangat ampuh u melawan propaganda2 musuh dalam media2 modern audio, visual, dllnya) bagi ulama yg menyadari, islam memang telah lengkap dgn segala persenjataannya. terkadang baru kusadari mengapa Al Qur’an harus tetap dihapalkan, mungkin karena selama manusia masih ada maka Al Qur’an tak kan dapat dihancurkan kecuali membunuh seluruh muslim), islam tidak lembek dan juga keras, islam adalah tengah dan yg terakhir. masih banyak hal2 yg baru kusadari, tapi biarlah, saya yakin akan muncul generasi tauhid yg dipimpin ulama2 mengajarkan ilmu2 dengan proses, dengan tidak membawa pengikutnya dalam perdebatan(perdebatan u orang2 berilmu terutama masalah agama), mengajarkan pemahaman tauhid dalam memahami kondisi jaman yg berubah2). Pencipta tdk terikat oleh apapun termasuk yg diciptakanNya, jika waktu adalah perputaran bumi dan matahari. HANYA PENCIPTA lah yg MAHA BERKENDAK BEBAS. film2 hollywood menganggap Pencipta hanyalah spesies yg lebih tinggi krn pemahaman berdasarkan ajaran2, agama, dongeng, atau perasaan pemikiran khayal mereka, sudah merasa berilmu terkadang menganggap langit ketujuh dgn membagi lapisan atmosfer seperti itu(benar tujuh lapisan ga ya atmosfer?hahaha) sehingga menganggap Pencipta adalah alien, duh hakekat hakekat! bahkan dari seorang pemeluk agama budha aku dapat informasi bagaimana terdesaknya mereka di rrc dan jepang, ketika digerus oleh agama fashion atau trend, anak2 mudanya banyak yg beragama fashion ini tanpa pemahaman terhadap apa yg dianutnya, mungkin ini artinya disuruh membaca 10 ayat pertama al kahfi? menaiki keledai putih yg jarak antara kedua telinganya 40 hasta?semoga kau cepat lulus dan kiprahnya menjadi berkah bagi yg di sekelilingnya!

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: