Oleh ASEP SALAHUDIN *

Islam Sunda dan Sunda Islam yang pertama kali dilontarkan Haji Endang Saefudin Anshari nyaris sudah menjadi jargon. Walaupun sesungguhnya kita belum membuktikan secara ilmiah relasi Islam-Sunda dan Sunda-Islam. Klaim dua nomenklatur yang sesungguhnya memiliki sejarah yang berbeda kita terima sebagai fakta keseharian masyarakat Sunda, tanpa merasa perlu mengecek aspek epistemologisnya.

Benarkah Sunda itu identik dengan Islam dan Islam itu identik dengan Sunda? Jawabannya, kalau merujuk kepada tesis Jakob Sumardjo, kita jangan cepat mengambil kesimpulan seperti itu. Interupsi Profesor Jakob dalam konteks ini benar-benar ditancapkan di atas pijakan argumen yang ajek.

Terlepas dari itu, sesungguhnya kalau kita mau mengkaji pemikiran pujangga, filsuf, dan ulama terkemuka Sunda, Haji Hasan Mustapa, akan kita dapati satu upaya untuk mengawinkan Islam dan Sunda tanpa satu sama lain saling menegasikan. Upaya kreatif ini minimal menjadi pintu masuk untuk meneguhkan bagaimana Islam musti ditafsirkan dalam napas penghayatan manusia Sunda, kalau agama itu memiliki hasrat untuk “menyatu” dengan budaya lokal. Tidak secara langsung, Haji Hasan Mustapa tengah berupaya mengislamkan Sunda dan menyundakan Islam.

Tidak tanggung-tanggung, ijtihad budayanya ini dijangkarkan kepada pijakan pokok pedoman hidup umat Islam, Alquran. Bagi haji Hasan Mustapa, Alquran itu tidak mesti dipahami dalam konteks ideologi dan geneologi pengetahuan Arab, tetapi justru harus dijangkarkan dalam tradisi lokal dalam hal ini semangat kebudayaan Sunda: ieu ditulis ku Kaula Kuranna, jeung ukuran jiwa Kaula.

Menjadi sangat dipahami pula ketika dia menginterpretasikan Alquran, pembaca tidak dibawa ke alam Timur Tengah, tetapi justru yang mengendap dalam layar bawah sadarnya adalah ingatan tentang alam dan kebudayaan Sunda. Yang tergambarkan bukan pedang, tetapi kujang. Yang teringat tidak fantasi padang pasir yang tandus, tetapi alam pasundan (dahulu) dengan gunung menjulang dan sawah yang hijau, sungai dengan air jernih mengalir. Yang muncul bukan manusia yang kepalanya dibulen serban, tetapi sosok-sosok yang kepalanya diikat iket, baik iket perengkos nangka, barangbang semplak, atau julang ngapak, porteng, talingkup, borongsong keong, udeng, kuda ngencar, bungkus peuyeum, dan babalian. Yang menjadi objek korespondensinya bukan jubah, tetapi baju kampret atau pangsi. Tidak juga terbayangkan suara gembus dan rebana dengan tari perutnya tetapi kecapi, suling, atau cianjuran, bandungan, dan cigawiran dengan tarian jaipong, ngibing dan ketuk tilunya.

Di sinilah terpilih susunan kata yang berbentuk dangding, guguritan, kinanti, asmarandana, dan atau gaya bahasa yang mendekati jangjawokan dan pantun yang memang hal ini sudah menjadi ruh dalam bahasa Sunda sebagaimana tampak dalam pantun tua Lutung Kasarung.

Bagi Haji Hasan Mustapa, Alquran bukan sekadar berisi akrobat logika memuaskan hasrat ilmiah intelektual, tetapi lebih penting dari itu adalah bagaimana firman Tuhan itu menyejarah menjadi bagian dari tindakan keseharian. Dalam ungkapannya, Alquran itu adalah kecap terusing nyata.

Iman menjadi identik dengan pendistribusian rasa aman kepada sesama, menjadi energi untuk selalu bersikap amanah, menjunjung tinggi toleransi, kejujuran, dan terbuka termasuk kesediaan berdialog dengan keyakinan yang tidak sama seperti dapat kita simak ketika beliau menafsirkan ayat ke dua surat kedua, “Sabab iman taya iman, karana ngaran iman teh wawanen; aman salamet amanat puraga jiwa ragana, tacan nelah lamun tacan kapilampah.”

Ijtihad budaya

Tentu saja ijtihad budaya relasinya dengan agama yang telah diretas pujangga sirna di rasa ini. Jangan sampai berhenti sebatas ini, tetapi harus ada upaya lebih jauh dari generasi di kemudian hari untuk mengembangkan tafsir keberagamaan yang mencerahkan (iluminasi), membawa perubahan ke arah kehidupan yang santun (transformasi), dan membebaskan dari setiap belenggu yang dapat mendangkalkan martabat kemanusiaan (liberasi) dengan tetap berpijak kepada gugusan tradisi kesundaan yang kokoh.

Tafsir seperti ini justru sangat penting ketika saat ini yang dominan dalam pemahaman keberagamaan masyarakat Sunda adalah interpretasi yang serbaharfiah, hitam putih dan cenderung mengabaikan budaya lokal. Tafsir serampangan yang pada gilirannya menciptakan ketegangan antara agama dan Sunda. Agamawan mencurigai penganut Sunda sebagai sesuatu yang harus “dimurnikan” karena sedari awal sudah dianggap jauh menyimpang dari otentisitas agamanya. Sementara itu, penggerak kelestarian budaya Sunda menebarkan asumsi tidak jauh berbeda, berpandangan agama sebagai “orang luar” yang tengah merusak tatanan dan pertahanan budaya leluhur.

Paradigma yang dibangun Haji Hasan Mustapa minimal memberikan jembatan emas bagaimana Islam dan Sunda dapat dipadukan dengan harmonis sehingga tafsir yang ditulisnya bukan hanya melampaui zamannya, tetapi juga memberikan wawasan baru yang kaya akan makna dengan berpijak dalam jantung kebudayaan Sunda.***

*Penulis, kandidat doktor Unpad Bandung, Wakil Rektor IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya.

Sumber tulisan surat kabar Pikiran Rakyat Kolom Opini 7 Agustus 2010

Sumber gambar ti jama’ah fesbukiyah

Tulisan lain tentang Sunda