“Jujur-Adil-Tegas” : begitulah coretan Pong Hardjatmo yang diukir di atas Gedung “Kura-Kura” DPR di Senayan, beberapa hari lalu. Pro kontra terhadap aksi yang dilakukan Pong tersebut, kini menyeruak dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang menyatakan bahwa aksi Pong ini sekedar nyari sensasi. Tapi ada juga yang mengaitkan nya dengan kekecewaan seorang Pong, salah seorang Tim Sukses Sby tahun 2004, terhadap kepemimpinan Sby yang selama ini berlangsung. Akibat nya wajar jika kemudian banyak pihak yang berpandangan bahwa aksi corat-coret di DPR yang dilakukan Pong, ditengarai ada muatan-muatan politis nya. Yang jelas, terlepas dari motivasi apa pun yang berada di dalam nurani seorang Pong, coretan Pong yang hanya tiga kata diatas, sudah sepantas nya menjadi catatan khusus bagi para wakil rakyat dan Pemerintah dalam menjalankan roda Pemerintahan nya.

“Jujur-Adil-Tegas” , betul-betul menjadi dambaan dan harapan segenap warga bangsa terhadap penyelenggara negara yang selama ini telah di beri amanah oleh rakyat guna mengelola bangsa dan negeri tercinta. Coretan Pong Harjatmo di atas Gedung “Kura-Kura” DPR tersebut, boleh jadi mewakili apa yang selama ini menjadi bahan perbincangan masyarakat luas. Makna “jujur” seolah-olah semakin tersisihkan dalam berbagai aspek kehidupan. Kejujuran seperti nya sudah menjadi barang langka. Lebih sedih lagi adalah tatkala terekam fenomena dalam kehidupan sehari-hari, betapa sulit nya kita menemukan warga bangsa yang masih berani untuk jujur, baik terhadap diri sendiri atau pun orang lain.

Begitu pun dengan istilah adil. Dalam konteks kekinian rasa nya sulit kita menemukan suasana keadilan dalam sebuah kehidupan yang sesungguh nya. Rasa adil cenderung hanya mengemuka menjadi sebuah wacana. Dalam rangka meraih keadilan, rupa nya kita masih membutuhkan perjuangan yang cukup keras dan serius untuk mewujudkan nya. Keadilan tidak mungkin akan terwujud jika kita hanya bergelut dengan wacana. Keadilan harus direbut dan tidak boleh dibiarkan mengambang terkendali. Tugas kita bersama lah sebagai bangsa guna menggapai nya.

Sikap tegas, tentu saja sangat diperlukan. Kita adalah bukan bangsa yang “playa-pleye”. Kita juga bukan dikenal sebagai bangsa yang tidak memiliki pendirian. Kita tidak ditakdirkan untuk tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang tidak berkarakter. Apalagi menjadi bangsa yang tidak berani mengambil resiko. Sebagai bangsa pejuang, kita tidak pernah gentar menghadapi segudang tantangan. Demi meraih sebuah cita-cita kita rela mengorbankan nyawa sekali pun.

Ini terbukti dengan menggema nya jargon : Merdeka atau Mati, demi tercapai nya Indonesia Merdeka. Kita juga dikenal sebagai bangsa yang gagah perkasa, gagah berani dan gagah dalam merebut kemerdekaan. Kita selalu memegang motto : “berani karena benar dan takut karena salah”. Kita juga tidak pernah mau mengambangkan sebuah masalah. Setiap persoalan segera harus diselesaikan. Buat apa kita menunda-nunda masalah, jika memang dapat dituntaskan dalam tempo yang sesegera mungkin. Itulah sikap kita yang tegas, dan berani bertanggungjawab.

“Jujur-Adil-Tegas”, bukan sebuah slogan. Atau kata-kata yang tanpa makna. Tidak juga sekedar kata-kata manis. Kata-kata itu, sudah seharus nya menjadi bahan renungan kita bersama. Tidak ada satu pun bangsa di dunia yang mendambakan ketidak-jujuran, ketidak-adilan dan ketidak-tegasan dalam menjalani kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat nya. Semua warga dunia sepakat bahwa dalam mewujudkan suatu Pemerintahan yang amanah sangat dibutuhkan kejujuran, keadilan dan ketegasan. Itulah sebab nya, corat-coret nya Pong Hardjatmo di atas Gedung “Kura-Kura” DPR tersebut, penting dicermati untuk selanjut nya dijadikan bahan untuk mengaji diri kita masing-masing.

Terlepas dari apa pun motivasi yang menyebabkan Pong Hardjatmo beraksi sedikit nekad itu, namun bila kita amati apa sebetul nya yang sekarang ini di dambakan rakyat, maka boleh jadi saja, coretan Pong Hardjatmo itu bisa dianggap mewakili rakyat banyak. Apa yang diungkap Pong, sejalan dengan apa yang dinantikan masyarakat. Rakyat tampak sudah jenuh melihat perilaku orang-orang yang cuma pandai bicara tapi tidak cakap bekerja. Rakyat juga sudah bosan “menggugat” berbagai kebijakan yang dinilai kurang pro rakyat. Dan rakyat tentu bakalan marah besar jika banyak program yang digelar Pemerintah, justru semakin meminggirkan nasib dan kehidupan rakyat.

Dihadapkan pada kondisi yang demikian, tentu sangat diperlukan ada nya sebuah “terobosan” yang diharapkan mampu menghilangkan sikap arogan, sikap ingin menang sendiri, sikap yang sinis, melecehkan orang lain, termasuk mereka yang sudah narcis pola kehidupan nya. Terobosan yang diambil, sudah sepantas nya berbasis pada aspirasi rakyat. Terobosan itu harus mampu membawa “suara rakyat”, bukan hanya sekedar “suara pejabat”. Jangan biarkan rakyat semakin menderita. Jangan lestarikan kehendak untuk memarjinalkan masyarakat kecil.

Dan jangan lupa juga bahwa kita bersama memiliki semangat untuk menggelorakan “gerakan” bangga jadi petani, sebagai wujud dari penghormatan yang tulus terhadap profesi petani.

Merdeka….!!

Sumber tulisan suara rakyat