Zulkifli Lubis Komandan Intelijen Pertama …

Soal Bambang Utoyo

Tidak betul saya mengancam mau menembak Bambang Utoyo. Mengapa saya menolak Bambang Utoyo, soalnya bukan karena Bambang Utoyo. Tapi karena soal kabinet Ali Sastroamidjojo. Terlalu mempolitisir keadaan. Soalnya, dengan Piagam Yogya. dihasilkan beberapa rumusan, termasuk personalia. Di situ disebutkan. orang yang sehat badan dan pikiran dan sehat wataknya. Dan berpengalaman.

Waktu itu saya menjadi penjabat KSAD. Bambang Sugeng sudah berhenti. Bambang Utoyo sebelumnya telah membuat surat untuk berhenti, minta pensiun karena sakit gula. Dia buat surat resmi minta berhenti, karena tidak tahan dengan penyakitnya itu. Sementara itu, memang Iwa Kusumasumantri ada minat untuk mengangkatnya jadi KSAD, termasuk Bachrun Panglima Jawa Tengah. Saya menantang Pak Iwa, karena dia seolah-olah seperti dagang sapi. Di sana janji, di sini janji. untuk jadi KSAD. Termasuk Bachrun dan Sudirman. Kemudian, Bambang Utoyo diangkat oleh A. K. Gani dari PNI. Bambang Utoyo (Panglima Teritorium Sumatera Selatan) datang ke Jakarta. Dia melapor. “Saya ditawari oleh A.K. Gani untuk jadi KSAD. Tapi saya tidak bisa menerimanya, Kolonel. Tidak mungkin,” katanya pada saya. Setelah dia kembali ke Palembang, dia membuat kawat pada saya bahwa dia tidak bisa menerima jabatan itu. Tapi kemudian, oleh Pak Iwa dan Ali, dia dipaksa menerima jabatan itu. Padahal, dia tidak mau menerima.

Jadi, yang saya hadapi bukan Bambang Utoyo-nya. Tapi kabinet Ali. Sungguhpun saat itu Bambang Utoyo tidak aktif jadi KSAD, kami beri lambang. Di situ disepakati – supaya jangan terlalu banyak ikut campur tangan politik – memang dibicarakan, jangan sampai Bambang Utoyo masuk ke MBAD. Dan Bambang Utoyo waktu itu diberi tahu. Bukan untuk dibunuh. Saya tidak pernah menggertaknya. Saya tidak suka tindakan itu.

Sebelumnya saya jelaskan pada Bung Karno selaku presiden. “Tidak bisa dipertanggungjawabkan, Bapak Presiden,” kata saya. “Yang bersangkutan sendiri tidak mau. Ini kawatnya. Kedua, kan Bapak Presiden sendiri menyetujui rumusan kami di Yogya. Ditambah juga soal gangguan keamanan. Bagaimana saya bisa mempertanggung awabkan? Jadi, kalau misalnya Bapak Presiden menghendaki juga, silakan pangkat saya ini dicabut. Silakan dicabut.”

Nah, di situ Bung Karno tidak sampai hati. Waktu saya bilang begitu, dia berdiri, lalu pergi. Waktu itu, Bung Karno dengan segala caranya. Dia pakai hadis dan segalanya untuk mempengaruhi saya. Tidak. Nah, setelah ada tuduhan di luar, seolah-olah saya yang mau. Tidak. Itu tidak mungkin. Yang saya usulkan yang lain. Termasuk Nasution.

Mula-mula memang saya tidak terpikir untuk mengusulkan Nasution, karena Nas sudah ke bidang politik. (Nasution mendirikan IPKI Red). Tidak terpikir. Tapi, waktu itu Harsono Tjokroaminoto, Wakil Perdana Menteri, memanggil saya. Lalu saya tanya kepada Nas. Tiga kali saya datang pada Nas. Waktu saya datang ketiga kalinya, baru Nas mau menerima. Saya bilang, “Pak Nas, terima sajalah,” kata saya. Nasution menjawab, “Boleh saya terima. Dengan syarat, semua panglima bisa menerimanya.” Saya bilang, “Tidak mungkin. Kalau semua panglima dianggap menerima, tidak mungkin,” kata saya. “Tapi saya yang akan bertanggung jawab. Saya akan menjaga untuk tidak terjadi apa-apa,” kata saya pada Nas. Baru dia terima. Baru saya ubah dan tambah, calon untuk jadi KSAD adalah Nasution. Malam itu juga sampai pada kabinet. Besoknya disetujui.

Peristiwa 17 Oktober 1952

Pada Konperensi Meja Bundar (KMB), ada yang menganut garis keras dan ada pula garis lunak. Kebetulan, yang menganut garis keras itu banyak yang berasal dari bekas Peta. Terutama ketika melihat kehadiran MMB Misi Militer Belanda. Kehadiran itu dianggap terlalu berlebih-lebihan. Termasuklah Bambang Supeno ini. Bambang Supeno melihat MMB ini terlalu mendalam peranannya. Kelihatannya dari pihak Siliwangi dan Nasution terlalu mendekat dengan mereka. Bambang Supeno menganggap MMB ini terlalu berlebihan gerakannya, sedangkan semestinya MMB itu hanya alat teknis sebagai penasihat. Itu tanggapan Bambang Supeno. Itu juga pendapat sejumlah bekas Peta.

Sedang kelompok Nasution dan Siliwangi menganggapnya tidak demikian. Dalam rangka ini, Bambang Supeno mengeluarkan pendapat-pendapat. Sementara itu, memang ada perubahan-perubahan jabatan di Angkatan Darat. Memang Nasution akan sekolah di luar negeri, rencananya. Tapi belum fixed. Pendapat Bambang Supeno itu, maunya ada perubahan begitu rupa, jangan sampai MMB itu terlalu berkuasa. Hendaknya gerak MMB itu dibatasi. Jangan semau-maunya dia. Kalau boleh dikatakan, unsur MMB bukanlah unsur yang paling utama, tapi unsur patriotisme yang paling diutamakan. Akibat pendapat Bambang Supeno itu, timbullah bermacam-macam guncangan. Ada pihak yang setuju, ada pula pihak yang tidak setuju.

Dalam hal ini, saya lihat, sikap Angkatan Darat terlalu keras. Kalau menurut saya, tidak memberi kesempatan untuk bisa omong. Bambang Supeno langsung diambil tindakan. Konflik memuncak sedemikian rupa, hingga muncul blok-blokan. Di sini, yang saya anggap tidak wajar, pihak Angkatan Darat mengambil hukuman, Bambang Supeno dinon-aktifkan. Setelah itu dikucilkan. Kasarnya, Bambang Supeno dikeroyok beramai-ramai.

Jadi, saya lihat, dalam keadaan begitu, saya anggap tidak adil untuk Bambang Supeno itu. Waktu itu, saya memang memihak pada Bambang Supeno. Pihak Angkatan Darat tidak senang pada saya. Waktu itu saya kepala intelijen BISAP, Biro Informasi Staf Angkatan Perang. Saya sempat bilang sama Simatupang, “Itu urusan Angkatan Darat. Sebaiknya kita jangan ikut campur sebagai Kementerian Pertahanan.” Tapi tidak bisa. Keadaan sudah memihak mereka. Saya tidak mau memihak mereka.

Bambang Supeno membuat surat ke mana-mana. Jadi, bukan semata-mata pada DPR. Dia memang sudah dikucilkan. Jadi, harus buat apa lagi? Dia sudah dinonaktiflkan. Sebelumnya, dia kan Kepala Staf Teritorium Jawa. Kasarnya, dia jadi perwira luntang-lantung. Setelah surat itu, Bambang Supeno diundang rapat, bukan untuk diajak diskusi, tapi seperti pesakitan diundang jaksa.

Zainul Baharuddin, keponakan saya, Ketua Seksi Pertahanan di DPR, mengajukan pada teman-teman lainnya. Gol, sampai ada mosi tidak percaya pada pimpinan DPR. Oleh Angkatan Perang, mosi itu dianggap terlalu jauh mencampuri. Rupanya, pihak mereka (Nas maksudnya – Red.) tahu Bung Karno memihak pada pihak yang emoh pada MMB itu. Dalam hati kecilnya, Bung Karno itu tidak seratus persen mengikuti MMB itu. Itu saya tahu. Bung Karno bersimpati pada sikap Bambang Supeno itu. Bung Karno memang suka garis keras, artinya revolusioner. Sedangkan Bung Hatta berpihak pada kelompok yang kompromistis, kelompok lunak. Maka, timbullah polarisasi.

Angkatan Darat, karena merasa penasaran, lalu mengusahakan gerakan massa, meminta bubar DPR itu. Sebelumnya memang saya tahu ada rapat yang dipimpin Gatot Subroto yang membuat pernyataan. Statement itu merupa kan suatu kehendak dengan suatu tekanan-tekanan kera Kalau boleh dibilang dengan ancaman halus, menuntu perubahan. Saya lalu memberitahukannya pada Bung Karno, melalui Pak Moerahardjo, ajudan Bung Karno Jadi, Bung Karno sudah siap-siap. Hal itu saya sampaikan pada Bung Karno pada malam sebelum kejadian itu.

Malamnya, sewaktu saya telepon Pak Moes, dia marah marah pada saya. Katanya dia sudah teken mati. Tap karena saya kenal baik dengan dia, waktu saya bilanl begitu, dia terpikir juga. Pak Moes sebenarnya sudal patah semangat untuk menggerakkan massa untuk esok pagi harinya. Massa itu memang direkrut oleh Pal Moestopo.

Waktu gerakan itu itu terjadi, orang-orang saya sempal masuk di antara mereka. Kasarnya, waktu itu massa dibawa untuk menakut-nakuti Bung Karno. Orang-oran saya itu saya tempatkan di antara massa itu. Sedangkan Bung Karno sudah tahu masalahnya, jadi dia tidak gugup menghadapinya. Nah, pada waktu Bung Karno keluar untuk menghadapi massa, mereka yang mestinya mengatakan, “Turun DPR . . .! Hantam DPR . . .!”, malah sebaliknya mereka berteriak, “Hidup Bung Karno . . .!” Kalau saya ingat kembali, saya jadi, … lucu … ha-ha-ha. Orang-orang saya berada di beberapa sudut, di antara massa itu, lalu mereka teriak, “Hidup Bung Karno …” Maka, massa yang masih muda-muda itu ikut semangat berteriak, Hidup Bung Karno. Jadi, berubah sama sekali . . . ha-ha-ha. Memang itu saya yang buat. Jadi, mereka jengkel sama saya . . . ha-ha (Zulkifli Lubis tak putus-putusnya tertawa terpingkal-pingkal menceritakan bagian ini ).

Kemal Idris memang yang menghadapkan meriam ke istana itu. Saya sejak dulu memang sahabat baik Kemal. Tapi pada peristiwa itu, kami berdua tidak bersahabat . . . he-he. Kami berbeda pendapat, karena Kemal terbawa oleh penjelasan dari kelompok Nasution dkk. Sungguhpun kemudian nantinya Kemal berubah. Waktu itu saya tidak ketemu Kemal.

Ada usaha-usaha untuk mem-pressure Bung Karno, saya tidak setuju dengan tindakan itu. Soalnya, ketahanan kita waktu masih lemah. Masih banyak person yang harus didudukkan. Saya anggap belum waktunya untuk berbuat begitu. Memang, karena saya membuat keadaan massa berubah sama sekali itu, saya dijadikan sasaran Nasution dkk. Saya kan mau ditangkap oleh kelompok Nasution hari itu juga. Saya kemudian lari. Waktu itu saya di rumah di Tosari. Saya lari ke tempat teman-teman saya. Saya memang mau diculik.

Waktu itu saya memang pro-Bung Karno. Saya lihat, waktu itu, sebenarnya Bung Karno itu orang yang terbuka. Sebenarnya dia itu orang yang demokrat. Terbuka dan tidak pendendam. Sungguhpun pada akhirnya Bung Karno banyak membuat tekanan pada saya, saya tetap mengaguminya. Dia orang yang bisa menanggapi pikiran-pikiran. Cuma, orang tidak berani omong sama dia. Dalam menghadapi kolonialis Belanda, saya memang sependapat dengan Bung Karno. Kita memang harus bersikap berani.

Nah, waktu saya lari mau diculik itu, kemudian BISAP dibubarkan oleh Simatupang. Yang saya dengar, Nasution oleh kelompok 17 Oktober ini dianggap kurang kuat. Itu yang saya dengar di luar. Terus, oleh kelompok di sendiri, Nasution dianjurkan untuk non-aktif. Dia menerima. Pimpinan angkatan darat lalu dipegang oleh Soetoko.

Timbulnya istilah Dokumen l.ubis itu, karena sebagai intelijen saya wajib memberikan laporan. Namanya Radep – Raport Departemental. Itu confidential. Waktu itu keadaan tegang. Intelijen kan tidak boleh diam saja. Saya harus membuat laporan tertulis. Semua apa yang saya dengar saya tulis. Lalu saya kirimkan pada Departemen Pertahanan. Namun, ada klasifikasinya. Apakah laporan itu bisa dipercaya atau tidak. Nilainya A,B,C, dan seterusnya, atau 1,2,3, dan seterusnya. Dalam dokumen itu, ada macam-macam berita.

Isu di luar memang menganggap Nasution dkk. mau menggulingkan pemerintah. Di luar punya tanggapan begitu. Memang, kalau dilihat aktualnya, memang masuk di akal. Gerakan massa lalu meriam mengarah ke istana. Itu kan seperti kejadian Nasser di Mesir sebelumnya. Iya to? Anggapan orang itu masuk di akal. Laporan saya pada Departemen Pertahanan itu masuk dalam klasifikasi: belum dapat dipercaya. Kalau tidak salah, nilainya 3 atau 4. Saya lupa nomornya. Laporan dokumen itu saya berikan pada sehari setelah kejadian 17 Oktober 1952 itu. Besok hannya. Laporan itu saya berikan pada Menteri Pertahanan, KSAP, lalu KSAD. Sifatnya rahasia.

Kemudian dokumen itu tersebar ke luar, itu bukan karena saya. Mungkin – karena saat itu ada kelompokkelompok – ada yang menyampaikannya ke luar. Saya tidak tahu. Mungkin Nasution mau memukul saya. Kalau Nasution menyebutnya Dokumen Lubis, itu tidak ada. Dokumen itu tidak pakai nama. Tidak ada tanda tangan saya. Radep memang biasa begitu, karena rutin. Walaupun tidak ada tanda tangan saya, mereka tahu dari saya, karena dari oranisasi saya. BISAP.

Sebagai intelijen, kami mendapat informasi dari luar. Saya beritahukan apa adanya pembicaraan di luar. Di luar mempunyai tanggap begitu. Kup. Itu saya sebut. Tapi kita sebut dalam nilainya, bahwa anggapan itu tidak kuat. Nilai itu dibuat di antara dua kurung. Di samping itu, kalau saya dikatakan Nas, bahwa saya tidak disiplin pada Simatupang, sekarang mari kita bertanya pada diri kita. DPR itu kan diakui oleh Undang-Undang Dasar. Iya to? Puncak kesetiaan disiplin adalah Undang-Undang Dasar. Sumpah prajurit mengatakan, bukan patuh pada Simatupang, atau pada Bung Karno. Tidak. Tapi patuh pada Undang-Undang Dasar. Jadi, ya, menuntut bubarnya DPR, di mana DPR diakui Undang-Undang Dasar, berarti melanggar sumpahnya. Hilang kewajiban massa untuk menurut. Hilang. Tapi kenapa Nasution menyebut begitu, memang masuk di akal. Karena didikan Belanda memang begitu. Patuh pada Ratu Wilhelmina. Patuh pada Ratu Juliana. Ada personifikasinya.

Kalau saya, tidak. Setia dan patuh pada Undang-Undang Dasar. Tidak ada disebut patuh pada atasan. Bukan berarti kalau atasan korup kita harus patuh dan setia. Tidak bisa begitu. Atasan itu harus menjadikan contoh. Jadi, kalau saya dikatakan melanggar disiplin, itu tidak betul. Karena puncak kesetiaan adalah pada Undang-Undang Dasar.

Di waktu itu, Nasution tidak ada bicara apa-apa tentang itu, karena dia kan dinon-aktifkan. Pembicaraan itu kan baru-baru ini saja. Malah saya ketemu dengan Nasution sesudah dia non-aktif. Ada kelompok Tapanuli Selatan, kami disuruh damai. Saya ketemu dengan Nas. Itu di rumah Aminuddin Lubis. Waktu kami bertemu, kami saling mengisi. Tidak berdebat. Tapi mungkin dia tidak mau berdebat karena tidak berkuasa lagi . . he-he. Jadi, tidak tegang-tegangan. Waktu itu saya juga sama-sama non-aktif, karena BISAP dibubarkan juga. Jadi, mungkin karena sama-sama non-aktif, buat apa main keras-kerasan, ha-ha-ha.

Laman: 1 2 3 4

15 respons untuk ‘Zulkifli Lubis Komandan Intelijen Pertama …

Add yours

  1. kang cepot, kalo yg beginian emang ok bgt.. dulu pernah teman bertanya dalam diskusi “apakah PRRI di Sumatera Barat kelanjutan dari PDRI (pemerintahan darurat ketika ibukota negara Jogja jatuh ke tangan NICA) mohon maaf kalo salah-salah, .. mohon pencerahannya

  2. sebatas apa isi blog ini bisa dipercaya sebagai karya ilmiah. karena tanpa refremsi, isi blog ini bisa menjadi ahistoris, sebtas teks saja.

    ———————–
    Kopral Cepot : Coba teliti membacanya, kami berupaya untuk slalu menampilkan referensinya. Ingat .. blog bukan “buku” dan kami tidak menganggap ini sebagai “karya ilmiah” tapi ini “karya anak negeri” … Ilmiah itu di mindset bung ..
    Hatur tararengkyu 😉

    1. kisah ini menemui kecocokan dengan buku Intel : Inside Indonesia’s Intelligence Service, karya Kenneth Conboy, yang diterjemahkan oleh Pustaka Primatama menjadi Intel:Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia. Jadi, menurutku, artikel ini cukup valid

  3. hebat banget dedikasi dan loyalitas terhadap nkri….engkau pemimpin besar yg harus jd contoh bg generasi muda bangsa ini….semoga engkau tenang di pelukan bumi pertiwi dan mendapat rumah megah di haribaan ALLAH SWT….smg ‘eyang jenggot’ bahagia disana dan bisa bertemu eyang kakung prabu…kalian telah meninggalkan sejarah tinta emas utk TNI koe…majjulah seperti yg di cita2kan para pendiri2 moe terdahulu…

  4. Sejarah Bpk.Zulkifli Lubis benar sekali, disamping beliau sahabat Ayahku, saya jg pernah bertemu. Beliau orangnya sangat sederhana di klasnya, kalau dibanding petinggi sekarang jauh langit dan bumi. Masih banyak sejarah yg belum dibukukan atau ditulis, disamping ybs tdk mau publikasi nanti di bilang pamrih, karena pada masa orba orang2 tsb menjadi incaran krn dianggap musuh, krn pro Sukarno. Saat ini (reformasi) beliau2 sdh pada mangkat. Jadi ya doa kita semua yg bisa diberikan….karena pahlawan sejati adalah tdk dikenal dan tdk butuh apapun kecuali sumbangsehnya bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara….

    Salam
    Mustiko

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: